Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Hidayah taufiq itu hanya milik Allâh -‘Azza wa Jalla- semata. Dia menganugerahkannya kepada siapa saja sebagai karunia dan rahmat-Nya, dan tidak memberikannya kepada hamba-Nya yang lainnya sebagai bentuk keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Dia -‘Azza wa Jalla- Maha Mengetahui, siapa yang berhak mendapatkannya dan siapa yang tidak.
- Hidayah dan kesesatan di tangan Allâh -‘Azza wa Jalla-, namun sebab dari hidayah dan kesesatan itu berasal dari usaha manusia. Dan Termasuk bagian dari hikmah-Nya, Allâh -‘Azza wa Jalla- mengikat antara sebab dengan akibat. Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak memberitahukan sebuah sebab kecuali Dia -‘Azza wa Jalla- telah menjelaskan dan memberitahukan bahwa di antara sebab-sebab itu ada yang disyariatkan dan ada yang diharamkan-Nya. Termasuk juga sebab-sebab mendapatkan hidayah. Dan diantara sebab-sebab untuk mendapatkan hidayah dari sisi Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah :
- Beriman kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan keimanan yang benar, sebagaimana keimanan pendahulu Kita yang shalih (Salafus Shâlih).
- Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam menegakkan ketaatan (melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan). Bahkan selalu bergantung dan bersandar kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan.
- Istiqamah (berpegang reguh, konsisten) dengan agama Allâh -‘Azza wa Jalla- secara kaafah (total) lahir dan batin.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“