[Kitabut Tauhid 6] 44 Syafaat 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Syafa’at disisi Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam kehidupan akhirat nantinya memiliki tiga syarat :
  1. Izin Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada yang memberi syafa’at (Syâfi’).
  2. Keridhaan Allâh -‘Azza wa Jalla-  terhadap yang memberi syafa’at (Syâfi’).
  3. Keridhaan Allâh -‘Azza wa Jalla-  terhadap yang diberi syafa’at (Masyfu’ Lahu).
  • Syafa’at itu banyak jenisnya. Dari sisi dikabulkan atau tidak, syafa’at terbagi dua : [1] syafa’ah mutsbatah (syafaat yang ditetapkan) yaitu apabila terpenuhi persyaratannya, dan [2] syafa’ah manfiyyah (syafaat yang dinafikan) yaitu apabila tidak memenuhi persyaratannya. Dan jika dilihat dari tempat syafa’at itu terjadi, syafa’at juga terbagi menjadi dua : [1] syafa’at di dunia, dan [2] syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia terbagi lagi menjadi dua lagi : [1] dalam hal yang dimampui oleh hamba, dan [2] dalam hal yang tidak dimampui oleh hamba. Untuk syafa’at yang dimampui oleh hamba, syafa’at juga terbagi menjadi dua : [1] dalam hal yang halal, dan [2] dalam hal yang haram. Dan syafa’at di akhirat juga terbagi menjadi dua : [1] syafa’ah khaashah, yaitu syafa’at yang merupakan kekhususan bagi Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan [2] syafa’ah musytarakah yang bukan merupakan kekhususan bagi Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

                                    

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar