Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Ada dalil yang menyatakan bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- menetapkan kehidupan bagi orang yang mati syahid, dan ada dalil yang mengisyaratkan bahwa Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- telah meninggal, maka seakan-akan terdapat kontradiksi diantara dua sisi pendalilan tersebut. Ada kehidupan yang dinafikan namun ada pula yang ditetapkan. Namun sebagaimana diketahui bahwa ayat-ayat di dalam Al-Quran tidak akan mungkin kontradiksi satu dengan yang lainnya.
- Sehingga komprominya adalah kehidupan yang ditetapkan pada dalil yang menetapkan kehidupan berbeda dengan kehidupan yang dinafikan pada dalil-dalil akan kematian Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Oleh karena itu, para ulama mengatakan : Kehidupan yang ditetapkan dalam dalil-dalil tidak sama dengan kehidupan yang dinafikan oleh dalil-dalil.
- Adapun kehidupan yang ditetapkan di dalam dalil-dalil disebut dengan al-hayaah al-barzakhiyyah (kehidupan alam barzakh), sedangkan kehidupan yang dinafikan disebut dengan al-hayah ad-dunyaawiyyah yaitu kehidupan di alam dunia.
2. Dalil-dalil yang datang tentang kehidupan barzakhiyah hanya datang tentang dua jenis manusia yaitu syuhada’ dan Para Nabi. Adapun para syuhada berdasarkan QS Al-Baqarah : 154 dan QS Ali Imran : 169. Sedangkan kehidupan barzakhiyah bagi Para Nabi berdasarkan sabda Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Adapun kehidupan barzakhiyah bagi orang-orang shalih dan para wali Allâh -‘Azza wa Jalla- (selain Para Nabi dan para syuhada’) maka tidak ada dalilnya secara khusus.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“