[Kitabut Tauhid 5] 42 Istighasah kepada Selain Allah 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Doa yang diajarkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- : A’uudzu bi kalimaatillaahit taammaati min syarri ma khalaq (Aku berlindung dengan kalam Allâh -‘Azza wa Jalla- yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) adalah jaminan dari Allâh -‘Azza wa Jalla- melalui lisan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kepada siapa saja yang berlindung dengan kalimat-Nya, bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- akan melindunginya dari kejelekan makhluk-Nya.
  • Perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ (Tidak akan membahayakannya sesuatupun), kata ‘syai-un’ (sesuatu) disini adalah isim nakirah (kata in-definitif) dalam konteks an-nafyu (penafian, peniadaan). Dan kaidahnya : an-nakirah fii siyaaqi an-nafyi yufiidu al-‘umuum (kata in-definitif dalam konteks penafian memberikan konsekuensi umum). Itu artinya, tidak ada apapun dan sesuatupun yang bisa memudharatkannya. Tidak hanya setan dari bangsa jin saja, tetapi seluruh cintaan Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Namun jika kenyataannya pada sebagian kasus yang terjadi berbeda dengan apa yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebutkan, maka sebabnya adalah karena adanya faktor penghalang terealisasinya berita dan jaminan tersebut, dan bukan karena ketidakbenaran berita dan jaminan tersebut.

  • Hadits Khaulah Bintu Hâkim -Radhiyallâhu ‘Anhâ- [ tentang doa : A’uudzu bi kalimaatillaahit taammaati min syarri ma khalaq (Aku berlindung dengan kalam Allâh -‘Azza wa Jalla- yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan)] merupakan dalil bahwa kalamullah bukanlah makhluk tetapi sifat Allâh -’Azza wa Jalla-, karena Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak mungkin mengajarkan agar berlindung dengan makhluk-Nya, dimana telah dimaklumi bahwasanya berlindung dengan makhluk adalah kesyirikan.
  • Mungkin saja Allâh -‘Azza wa Jalla- memberikan “manfaat” duniawi kepada seorang hamba dengan sesuatu yang sebenarnya hal tersebut adalah kemaksiatan kepada-Nya, atau bahkan bagian dari kesyirikan. Dan “manfaat” yang di dapatkan tersebut hakikatnya bukanlah nikmat, bahkan istidraaj.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar