[Kitabut Tauhid 4] 40 Mencari keberkahan 32

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Orang yang baru saja hijrah dari kejahiliyahan, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya telah terbebas seutuhnya dari pola pikir dan prilaku jahiliyyah. Dan bahwa bahaya sering berinteraksi dengan kaum musyrikin beresiko mengakibatkan sebagian pemikiran m dan kebiasaan mereka tertanam di hati Kaum Muslimin.
  2. Mereka, yakni Para Shahabat yang baru saja masuk Islam -Radhiyallâhu ‘Anhum-melakukan hal itu (meminta dibuatkan Dzâtu Anwâth) dengan niat untuk mendekatkan diri (taqarrub) mereka kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena mereka beranggapan bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- menyukai perbuatan tersebut. Ini semua disebabkan semata-mata karena tidak-tahuan mereka, dan mereka belum melakukan perbuatan tersebut (bertawassul, bertabarruk dan bertaqarrub dengan Dzâtu Anwâth).
  3. Betapa buruknya kejahilan (kebodohan) dan  betapa pentingnya mempelajari ilmu-ilmu agama, terkhusus ilmu aqidah, karena tidaklah orang-orang musyrik itu terjerumus ke dalam kesyirikan kecuali karena kejahilan (kebodohan) mereka terhadap agama Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  4. permohonan Para Shahabat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- untuk dibuatkan Dzâtu Anwâth adalah syirik kecil, karena tujuan mereka hanya sekedar untuk mencari keberkahan bukan untuk menyembah pohon tersebut.
  5. Jika sebagian Shahabat Nabi saja ada yang tidak mengenali sebagian kesyirikan dan nyaris terjatuh padanya, tentu selain mereka lebih besar lagi kemungkinannya tidak mengetahuinya dan terjerumus padanya. Hanya saja ketidak tahuan tersebut hanya terjadi pada Para Shahabat yang baru mengenal Islam, adapun Shahabat-Shahabat yang senior mengetahui bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan. Karena, Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- adalah sebaik-baik generasi dari ummat ini, bahkan sebaik-baik generasi dari seluruh ummat yang pernah ada dan akan ada di muka bumi. Dan mereka adalah teladan bagi generasi setelahnya di dalam ilmu dan amal.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar