[Kitabut Tauhid 4] 26 Mencari keberkahan 18

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Kisah Dzâtu Anwâth menunjukkan bahwa tabarruk (mencari keberkahan) dengan mengusap pohon, menggantungkan senjata, pakaian, atau yang lain pada pohon tersebut adalah haram dan termasuk kesyirikan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa tabarruk dengan pohon, batu, dan yang semisalnya termasuk kebiasaan buruk dari umat-umat terdahulu yang sesat.
  • Zhahirnya bahwasanya kaum musyrikin terjerumus dalam syirik akbar bukan hanya sekedar dengan sebab bertabarruk dengan pohon Dzâtu Anwâth, akan tetapi karena disertai pengagungan terhadap pohon tersebut seakan-akan pohon tersebut ada ruhnya yang bisa mendekatkan mereka kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Musâ –‘Alaihissalâm- dan yang diminta oleh Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, tujuannya adalah untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena mereka menduga bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- mencintai perbuatan tersebut.
  • Perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pada Hadits yang mulia diatas merupakan salah satu tanda kenabian, karena persis seperti apa yang terjadi, dan hal ini jelas merupakan wahyu dari Allâh -‘Azza wa Jalla- yang tidak  diberikan kecuali kepada Para Nabi dan Rasul.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar