Sikap yang Tepat dalam Mendidik Anak

Mendidik anak bukan urusan sepele dalam agama ini. Salah bersikap terhadap anak bisa menimbulkan dampak yang tidak ringan. Alih-alih menjadi anak baik, anak justru lari berbalik. Karena itu, penting adanya bimbingan orang-orang alim dalam perjalanan kita mendidik anak.

Bersikap terhadap anak harus sesuai dengan tingkatan usianya. Setiap tingkatan usia membutuhkan metode tersendiri. Adakalanya kita menghadapi kanak-kanak, praremaja, atau anak-anak yang telah baligh. Yang kanak-kanak membutuhkan belaian kasih sayang, sementara yang lebih dewasa membutuhkan pendidikan.

Ada ahli hikmah mengatakan, “Jika anakmu masih kecil, luruskanlah dia! Jika anakmu berangkat remaja, temanilah dia. Jika anakmu telah dewasa, arahkanlah dia!”

Tiga tahapan usia ini seyogianya diperhatikan oleh setiap orang tua dalam menentukan metode pendidikan bagi anak-anaknya.

Usia Kanak-Kanak

Anak-anak dalam usia ini hendaknya diajari adab. Pengajaran ini harus dilakukan dengan cara yang baik. Sebab, apabila anak—terutama pada masa sekarang ini—disikapi keras, terkadang justru semakin jauh dari orang tuanya. Ia semakin jauh dari kebenaran yang sedang diajarkan, semakin jauh pula dari ketaatan. Ia pun enggan untuk patuh, enggan untuk menjalankan shalat.

Sebaiknya orang tua memberikan pengajaran adab dengan cara yang tidak menimbulkan kebencian anak terhadap amalan ketaatan. Untuk anak di bawah usia tamyiz, orang tua hendaknya tidak mewajibkan hal-hal yang belum diwajibkan bagi anak.

Misalnya, masalah aurat anak perempuan. Ada hukum-hukum tertentu pada anak di bawah usia tamyiz. Begitu pula anak antara usia 7—10 tahun, ada hukum-hukum tertentu pula dalam masalah auratnya.

Terkadang, orang tua bersikap terlampau ketat pada anak dalam urusan yang sebenarnya dibolehkan oleh syariat. Sikap seperti ini kadangkala tidak membawa kebaikan, justru bisa membuat anak-anak membenci kebaikan.

Usia Praremaja

Mendidik anak-anak dalam rentang usia ini membutuhkan ilmu. Oleh karena itu, hendaknya orang tua mencari tahu dan bertanya kepada ulama tentang cara mengajari anak-anak praremaja ini, baik terkait dengan masalah pakaian (yang sesuai dengan syariat –pen.), meminta izin keluar rumah, pergaulan, apa yang boleh dilihat dan apa yang tidak.

Semua ini diajarkan dengan metode yang bisa menumbuhkan rasa cinta dalam jiwa mereka terhadap kebaikan.

Kita harus menyadari, sebelum anak mencapai usia baligh, mereka mempunyai ke lapangan dalam beberapa hukum. Pembebanan syariat berlaku hanya setelah anak mencapai usia baligh.

Usia Baligh

Pada usia ini, orang tua hendaknya memberikan arahan kepada anak-anaknya untuk mengamalkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Arahan tersebut disertai dengan tindakan menutup semua jalan yang menuju kerusakan.

Jadi, orang tua harus berupaya memerintah putra-putrinya untuk selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka, di samping juga melarang mereka dari segala bentuk kemungkaran.

Seandainya anak melakukan kelalaian, hendaknya orang tua tidak melulu memberi hukuman fisik. Sebab, pada zaman sekarang, hukuman fisik terkadang tidak memberi banyak manfaat. Bahkan, yang terjadi adalah anak menjauh, enggan menerima kebenaran dan petunjuk. Oleh karena itu, orang tua harus lebih bijaksana dan penuh hikmah ketika memberi hukuman.

Orang tua semesti nya juga memberikan anjuran kepada anak untuk berbuat ketaatan. Di samping itu, orang tua berusaha menjauhkan mereka dari segala jalan kemungkaran, baik di rumah, di jalanan, maupun kemungkaran yang bersumber dari teman-teman mereka.

Hanya saja, semua ini tetap dilakukan tanpa kekerasan, tetapi dengan sikap yang bisa menumbuhkan penerimaan. Bisa jadi, dengan memberi targhib (anjuran) dan terkadang dengan tarhib (ancaman). Yang seperti ini tentu akan lebih memberi manfaat.

Di antara metode terbaik untuk mendidik anak berusia remaja ini adalah memilihkan teman yang baik. Dalam usia ini, anak tidak hanya membutuhkan hubungan dengan orang tua dan saudara-saudaranya semata. Mereka juga membutuhkan teman. Terkadang, dari teman inilah mereka justru bisa menerima saran atau bimbingan.

Manakala ada salah seorang teman mereka yang baik, saleh, dan bisa dipercaya, hendaknya orang tua mendorongnya agar mau berteman dengan si anak. Di sisi lain, anak pun diberi motivasi agar mau berteman dengannya.

Sikap-sikap seperti ini mestinya diperhatikan dan diterapkan oleh orang tua. Akan tetapi, kenyataannya hal-hal di atas sering terluputkan.

Sering didapati berbagai kerusakan terjadi dalam rumah tangga. Ternyata salah satu sebabnya adalah kelalaian orang tua terhadap kewajibannya terhadap anak. Mereka tidak berupaya membenahi keadaan anaknya, tidak pula berusaha menanamkan kecintaan si anak terhadap kebaikan. Setelah kerusakan terjadi, barulah mereka mengeluh.

Oleh karena itu, orang tua harus benar-benar menempuh jalan yang dituntunkan oleh syariat dalam menyikapi anak-anaknya. Jangan sampai ada penyesalan karena orang tua tidak menempuh jalan yang syar’i, hingga terjadi atau terlihat sesuatu yang tidak selayaknya terjadi.

Hendaknya orang tua benar-benar mempelajari bagaimana harus bersikap terhadap anak, bagaimana melaksanakan pendidikan anak, bagaimana upaya yang harus dilakukan, dan bagaimana cara memperbaiki kondisi anak.

Dengan semua itu, insya Allah pendidikan yang baik akan terwujud. Sikap orang tua terhadap anak pun akan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam syariat ini.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari tulisan Fadhilatusy Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah yangberjudul Ta’amul al-Mar’i Ma’a Auladihi yang dimuat di situs www.sahab.net)

sumber: https://asysyariah.com/sikap-yang-tepat-dalam-mendidik-anak/

Menjaga Perasaan Anak

Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan. Bahkan emosi anak berbeda-beda sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, bagaimanakah menjaga perasaan anak?

Menjaga perasaan anak dimulai sejak dini, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan. Oleh karenanya, perlu untuk menjaga kondisi emosi Ibu saat hamil, agar Ibu tidak mengalami stres, yang akhirnya berpengaruh terhadap janin.

Setelah anak lahir, menyusui adalah salah satu cara untuk menjaga perasaan anak. Dengan menyusui, membangun kedekatan antara ibu dan anak yang kemudian memunculkan perasaan tenang dan nyaman bagi anak. Anak dengan usia di bawah satu bulan belum bisa melihat dengan jelas, ada yang mengatakan bahwa anak dalam usia ini baru bisa melihat objek di sekitarnya secara vertikal. Sehingga, dalam fase ini suara-suara yang didengar menjadi suatu hal yang sangat penting. Bagi orang tua, hindari suara membentak. Adapun setelah anak bisa melihat, perlihatkanlah ekspresi yang menyenangkan bagi anak.

Dalam memahami emosi anak, perlu diketahui mengenai karakter anak yang berbeda-beda. Ada anak yang cenderung mudah beradaptasi dengan hal baru dan mudah bersosialisasi. Ada pula anak yang cenderung sulit beradaptasi dengan hal baru. Jika menangis, maka sulit ditenangkan. Dan ada pula yang berada di antara dua kategori ini.

Perlukah orang tua marah?

Marah bukan berarti tidak sayang, dan sayang bukan berarti tidak marah. Namun, terlalu sering marah-marah dengan alasan sayang, atau tidak pernah marah dengan alasan sayang juga bukanlah sikap yang bijak. Dalam pengasuhan anak, banyak hal yang mungkin dapat memicu kemarahan orang tua, tinggal bagaimana orang tua bisa menentukan kapan harus marah, dan dengan cara seperti apa.

Kita juga tidak mau digitukan

Perasaan anak pada dasarnya sama dengan adab kita dalam memperlakukan manusia pada umumnya. Sebagaimana kita yang tidak suka dibohongi, diancam, diabaikan, diremehkan, tidak suka jika orang lain fokus pada kesalahan kita, padahal banyak hal positif yang sudah diikhtiarkan. Kita juga tidak suka kesalahan kita diungkit-ungkit, tidak suka dihina atau direndahkan. Kita tidak suka jika orang lain marah dengan cara yang berlebihan, tidak suka dituntut berubah secara instan dan tidak suka bila tidak didengar. Kita tidak suka bila semua hal yang kita mau dilarang, dan akan lebih suka jika mendapat penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, dan alasan mengapa hal tersebut dilarang. Kita tidak suka dicurigai, kita tidak suka dibanding-bandingkan tanpa alasan, kita tidak suka diperlakukan dengan kasar, tentu manusia suka diperlakukan dengan penuh cinta. Begitulah seharusnya kita menjaga perasaan anak kita.

Kemudian juga penting memperlakukan anak dengan kacamata usia dan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka, bukan dengan kacamata status mereka dalam keluarga, apakah anak pertama, terakhir, tunggal, atau anak kembar. Ketika menggunakan kacamata apakah sulung, atau bungsu, dikhawatirkan misalnya orang tua masih menganggap anak sebagai anak “bungsu” di saat si anak sudah beranjak dewasa.

Bagaimana dengan sistem hukuman?

Terkadang hukuman ini bertahan tidak lama di anak. Bahkan anak yang cenderung punya agresivitas tinggi ketika mendapatkan hukuman cenderung melawan. Cara terbaik untuk anak jenis ini adalah dengan memberi hadiah. Jika perilaku negatif muncul, orang tua bisa mengabaikan atau mengambil kesenangan anak.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Syawal 1436 / 10 Agustus 2015

* Diadaptasi dan diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://andinavika.tumblr.com/post/124989715729/menjaga-perasaan-anak

sumber: http://tunasilmu.com/menjaga-perasaan-anak/

Nasehat Lukman pada Anaknya (7), Jangan Bertingkah Sombong

Masih melanjutkan nasehat Lukman pada anaknya. Dalam ayat selanjutnya, Lukman mengajarkan bagaimanakah akhlak mulia jika seseorang bercakap-cakap dengan yang lain, termasuk pula pada orang tua. Begitu pula diajarkan agar tidak berperilaku sombong. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).

Ayat ini mengajarkan akhlak yang mulia yaitu bagaimana seorang muslim sebaiknya bersikap ketika berbicara, di manakah pandangan wajahnya. Dalam ayat ini diajarkan agar seorang muslim tidak bersikap sombong. Inilah yang dinasehatkan Lukman pada anaknya.

Memalingkan Wajah Ketika Berbicara

Dalam ayat mulia di atas disebutkan,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia.” Yang dimaksud adalah janganlah engkau memalingkan wajahmu ketika sedang berbicara pada yang lain atau ada yang mengajak bicara. Ini menunjukkan sifat sombong pada mereka. Ketika berbicara arahkanlah wajahmu kepada lawan bicara. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

ولو أن تلقى أخاك ووجهك إليه مُنْبَسِط، وإياك وإسبال الإزار فإنها من المِخيلَة، والمخيلة لا يحبها الله

Jika engkau bertemu saudaramu, berwajahlah ceria di hadapannya. Waspadalah dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki karena perbuatan tersebut termasuk kesombongan. Namanya sombong tidak disukai oleh Allah.” (HR. Ahmad 5: 63).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata mengenai ayat tersebut, “Janganlah bersikap sombong sehingga membuatmu meremehkan hamba Allah dan wajahmu malah berpaling ketika mereka mengajakmu bicara.” Demikian diriwayatkan oleh Al ‘Aufi dan ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas.

Zaid bin Aslam pun berkata yang serupa, “Janganlah bercakap-cakap dengan yang lain dalam keadaan wajahmu berpaling dari lawan bicaramu.” Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Zaid bin Al Ashom, Abul Jauzaa’, Sa’id bin Jubair, Adh Dhohak, Ibnu Yazid dan lainnya.

Ibrahim An Nakho’i berkata bahwa yang dimaksud adalah cara berbicara yang keras.

Syaikh As Sa’di menjelaskan, “Janganlah berpaling atau bermuka cemberut ketika bercakap-cakap dengan yang lain karena sombong dan angkuh.”

Berjalan dengan Sombong

Dalam lanjutan ayat disebutkan,

وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” Maksud ayat ini adalah janganlah bersikap sombong dan angkuh. Janganlah melakukan hal tersebut karena dibenci oleh Allah. Oleh karenanya, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Syaikh As Sa’di berkata mengenai ayat ini, “Yang dimaksud adalah jangan bersikap sombong yaitu begitu bangga dengan nikmat dan akhirnya lupa pada pemberi nikmat. Dan jangan pula merasa ujub terhadap diri sendiri.”

Haramnya Isbal pada Pakaian

Adz Dzahabi  berkata dalam Al Kabair mengenai haramnya isbal. Beliau membawakan ayat,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh” (QS. Lukman: 18). Dan beliau menyertakan dengan hadits,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

Kain yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka” (HR. Bukhari no. 5787). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Allah tidak akan melihat (pada hari kiamat) orang yang menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki) dengan sombong” (HR. Bukhari no. 5788 dan Muslim no. 2087). (Dinukil dari Tafsir Al Imam Adz Dzahabi, 2: 602)

Berarti isbal itu terlarang lebih-lebih jika dengan sombong. Isbal adalah menjulurkan kain celana atau sarung di bawah mata kaki.

Wasiat Lukman ini mengajarkan kita beberapa akhlak mulia. Ketika berbicara dengan orang lain, hadapkanlah wajah kepada lawan bicara dan jangan bersikap sombong. Dalam bersikap jangan terlalu angkuh, sombong dan ujub. Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang demikian.

Ya Allah, anugerahkanlah pada kami akhlak yang mulia dan jauhkanlah dari kami akhlak-akhlak tercela.

Semoga Allah memberi hidayah demi hidayah.

Referensi:

  1. Tafsir Al Imam Adz Dzahabi, Su’ud ‘Abdullah Al Fanisah, terbitan Maktabah Al ‘Ubaikan, cetakan pertama, 1424 H.
  2. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
  3. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 28 Jumadats Tsaniyah 1433 H

sumber: https://rumaysho.com/2460-nasehat-lukman-pada-anaknya-7-jangan-bertingkah-sombong.html

Jangan Sampai Anak Kita Masih Belum Paham Adab Makan

Jangan sampai anak kita masih belum paham adab makan. Ada tiga hal yang diajarkan kali ini yaitu makan membaca “bismillah”, makan dengan tangan kanan, dan makan yang ada di dekat kita.

‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ غُلاَمًا فِى حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَتْ يَدِى تَطِيشُ فِى الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –

“Aku dahulu seorang ghulam (antara usia lahir hingga sebelum baligh) dalam pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tanganku berseliweran (mondarmandir) dalam baki (makan mulai dari pinggir). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu menegurku,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai bocah, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang di dekatmu.” ‘Umar bin Abi Salamah mengatakan,

فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Seperti itulah cara makanku setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 5376 dan Muslim, no. 2022. Lihat penjelasan dalam Fath Al-Bari, 9:522)

Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat,

« إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».

Jika seseorang di antara kalian makan, hendaknya ia makan dengan tangan kanannya. Jika minum, hendaknya juga minum dengan tangan kanannya. Ingatlah, setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020)

Ada riwayat lain lagi,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’–dia menolaknya karena sombong–. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim, no. 2021)

Pelajaran Penting yang Ayah Bunda Bisa Ambil

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa hadits ini jadi dalil beberapa sunnah ketika makan adalah:

  1. Membaca bismillah (tasmiyyah).
  2. Makan dengan tangan kanan.
  3. Makan yang ada di dekatnya. Jangan sampai kita makan pada tempat yang ada tangan orang yang jelek makannya dan ia tidak sopan (menyelisihi muruah), lebih-lebih ketika menyantap makanan berkuah.

Dalam Fath Al-Bari (9:522) disebutkan beberapa faedah dari hadits ini:

  1. Hendaknya tidak meniru perbuatan setan dan orang kafir.
  2. Setan itu punya dua tangan.
  3. Setan bisa makan, minum, mengambil, memberi.
  4. Boleh mendoakan jelek pada orang yang menyelisihi hukum syari.
  5. Hendaknya ada amar makruf nahi mungkar termasuk pula dalam makan.
  6. Dianjurkan mengajarkan adab makan dan minum.
  7. Hadits ini menunjukkan perangai terpuji pada ‘Umar bin Abi Salamah karena ia menjalankan perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terus menjalankan perintah beliau.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada anak-anak kita supaya bisa memahami adab saat makan.

Ustadz. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://ruqoyyah.com/684-jangan-sampai-anak-kita-masih-belum-paham-adab-makan.html

Kurikulum Pendidikan Anak dari Lahir sampai 18 Tahun

Kurikulum ini sangat membantu sekali dalam mendidik anak dalam ilmu agama. Kalau orang tua yang mengajarkan langsung itu lebih utama.

Umur 0-6 tahun

1. Belajar Huruf Hijaiyyah dan Membaca Alquran.

2. Belajar menghafal surat pendek

2. Belajar mengucapkan kalimat tauhid

3. Belajar Tata cara berwudhu dan tayammum

4. Belajar Tata cara shalat

5. Belajar Adab dan doa serta dzikir keseharian penting 

Umur 7-12 tahun

1. Memperlancar Bacaan Alquran 

2. Menambah hafalan Alquran secukupnya

3. Menambah hafal doa dan dzikir pagi dan petang

4. Belajar Adab bergaul

5. Belajar Mandi Junub

6. Belajar menulis Arab

7. Belajar Akidah Al Ushul Ats Tsalatsah (Tiga Landasan Akidah Islam) dan Qawaidul Arba’ (empat Kaidah Memahami Tauhid Dan Syirik)

Umur 13-15 

1. Mengkhatamkan hafalan Alquran jika mampu/ 15 juz Alquran 

2. Belajar Bahasa Arab, berbicara membaca.

3. Menghafal hadits Arbain Nawawi

4. Memperajari/menghafal Kitab Tauhid

5. Mempelajari Matan Al Ghayah Wat Taqrib (fikih Syafii)

Umur 16-18

1. Melanjutkan hafalan Alquran dan atau memperlancarnya

2. Menghafal Hadits Umdatul Ahkam

3. Melanjutkan mempelajari Matan Al Ghayah Wat Taqrib. (Fikih Syafii)

4. Mempelajari Al Aqidah Al Wasithiyyah.

Semoga Allah memudahkan segala niat baik.

Ini hanya usulan dan tidak baku, sesuai dengan kemampuan anak.

Wallahu a’lam bish showab 


Banjarmasin, Senin 8 Shafar 1441H

Oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, Lc.

sumber: https://ruqoyyah.com/634-kurikulum-pendidikan-anak-dari-lahir-sampai-18-tahun.html

Ajarkan Anak Agar Tidak Kencing Sembarangan

Yang sering kami perhatikan, anak diajarkan oleh bundanya sendiri beberapa hal terkait kencing:

  1. Kencing di muka umum
  2. Kencing mengganggu orang dengan bau dan najisnya
  3. Kencing di depan rumah sendiri

Hadits-hadits yang perlu diingat oleh ayah bunda

Pertama: Siksa kubur kebanyakan itu gara-gara kencing

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

اِسْتَنْزِهُوا مِنْ اَلْبَوْلِ, فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ

Sucikanlah diri kalian dari air kencing. Sesungguhnya kebanyakan siksa kubur itu terjadi karena kencing.” (HR. Ad-Daruquthni, 1:128)

Kedua: Tidak boleh kencing di tempat umum yang mengganggu orang lain

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِتَّقُوا اَللَّاعِنَينَ: اَلَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ اَلنَّاسِ, أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk (terlaknat), yaitu suka buang air di jalan umum atau suka buang air di tempat orang berteduh.” (HR. Muslim, no. 269)

Ketiga: Buang hajat itu jauh dari pandangan orang

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padaku, ‘Ambillah wadah itu.’ Lalu beliau pergi menjauh dari pandangan orang sampai aku tidak melihatnya lalu beliau buang hajat.” (HR. Bukhari, no. 363 dan Muslim, no. 274, 77)

Semoga Allah beri taufik pada ayah, bunda, dan anak-anak kita.

Selesai disusun di Darush Sholihin, Rabu siang, 15 Dzulhijjah 1441 H (5 Agustus 2020)

Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://ruqoyyah.com/1606-ajarkan-anak-agar-tidak-kencing-sembarangan.html

Ayah Harus Berubah

Ayah harus berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jelek.

1.   KENAPA HARUS BERUBAH?

Untuk menjadi ayah yang lebih baik, tentu harus berubah. Perubahan ini tentu saja berubah menjadi lebih baik, tak harus berubah menjadi orang lain. Untuk berubah ini harus punya pencapaian atau “goals”. Berubah lebih cepat tentu lebih baik.

Kita harus berubah karena:

a.     Umur kita terbatas.

b.     Agar dosa tak terus menumpuk.

c.     Agar hidup jadi lebih berkah.

d.     Agar tidak terus merugikan orang lain.

e.     Agar mendapatkan husnul khatimah.

2.   APA YANG HARUS DIUBAH OLEH AYAH?

Ada beberapa kebiasaan yang mesti diubah seperti:

a.     Kebiasaan nongkrong hingga tengah malam, melalaikan dari membantu istri yang sibuk begadang sendirian mengurus anak di rumah.

b.     Kebiasaan main “games” kesayangan dengan rekan dan teman hingga tak kenal waktu.

c.     Kebiasaan merokok, karena seorang ayah akan merugikan anak dan istri.

d.     Suka memukul dan memaki istri.

e.     Belum sadar agama, termasuk pula belum sadar shalat lima waktu, apalagi sadar shalat berjamaah di masjid.

f.      Masih berada dalam dosa syirik, dosa besar (selingkuh, judi, mabuk-mabukan), hingga melakukan amalan yang tidak ada tuntunan.

3.   CARA UNTUK BERUBAH

a.     Mendalami ilmu agama, belajar dari ahli ilmu, kyai, atau ustadz. Karena ingat, menuntut ilmu (yang benar) pasti akan mengantarkan pada kebaikan.

b.     Rutinkan shalat lima waktu, lalu jangan lupa belajar shalat yang benar sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

c.     Tinggalkan pergaulan dengan teman yang jelek.

d.     Tinggalkan kebiasaan merokok karena kebiasaan jelek ini hanya merugikan diri sendiri, bahkan juga merugikan istri dan anak. Ruginya adalah dari sisi kesehatan dan juga keuangan.

e.     Benar-benar menjaga waktu untuk hal-hal manfaat saja.

f.      Menjadi ayah baik agar bisa menjadi teladan bunda dan anak-anak di rumah.

g.     Banyak bersabar ketika menghadapi pertengkaran, termasuk juga bersabar ketika dipandang aneh saat berubah.

4.   JANGAN TUNDA-TUNDA UNTUK BERUBAH

Dalam sya’ir Arab disebutkan,

وَ لاَ تَرْجِ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِ

لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَ أَنْتَ فَقِيْدُ

Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok

Andai besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan

Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Semoga ayah segera berubah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Tulisan pada Jumat pagi, 17 Juli 2020, 26 Dzulqa’dah 1441 H

sumber: https://ruqoyyah.com/1574-ayah-harus-berubah.html