Tarbiyah yang Baik Adalah Perhatian dan Pengawasan

“Apabila anak dan ayah masuk surga, sedangkan kedudukan ayah lebih tinggi dari si anak, Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat anak tersebut menjadi sama dengan ayahnya agar ayah merasa tenteram dan sejuk matanya. Dengan demikian, anak akan menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, di dunia dan di akhirat.”

Ketahuilah, (kedudukan) anak-anak itu seperti harta. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Oleh karena itu, sebagaimana halnya diuji dengan harta, manusia juga diuji dengan anak-anak. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya: 35)

Jadi, Allah ‘azza wa jalla akan menguji kedua orang tua dengan anak-anak. Apakah mereka berdua berusaha memperbaiki dan mendidiknya di atas kebaikan, ataukah justru menelantarkannya dan bermudah-mudah tentang urusannya? Kedua sikap tersebut memiliki akibat yang berbeda, bisa jadi baik atau buruk.

Anak adalah tanggung jawab ayah. Dia akan diuji dengan anak, apakah dia peduli ataukah acuh tak acuh? Jika orang tua peduli dengan anak, anak akan menjadi penyejuk matanya di dunia dan di akhirat. Jika dia membiarkannya, anak akan menjadi penyesalan bagi dirinya. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَأَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ٨٥

        “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 85)

Kebaikan dan kerusakan anak, masing-masing ada sebabnya. Benar bahwa baik atau rusaknya anak telah ditakdirkan oleh Allah k, tetapi takdir tersebut memiliki sebab-sebab dari sisi hamba itu sendiri.

Apabila orang tua berusaha mentarbiyah anak-anaknya di atas kebaikan sejak kecil, mereka akan menjadi anak-anak yang saleh—dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Sebab, orang tua mereka telah berusaha menempuh sebabnya, dan Allah ‘azza wa jalla akan menolongnya untuk mewujudkannya.

Adapun jika orang tua membiarkan anaknya, tidak pernah bertanya tentang keadaan mereka, anak-anak akan tumbuh di atas pembiaran. Ketika itu, orang tua akan sulit mengembalikan mereka pada kebaikan.

Oleh karena itu, bersegeralah kalian mendidik anak kalian dengan baik—semoga Allah ‘azza wa jallamemberi taufik kepada kalian—dan jangan membiarkan mereka. Sebab, kalian berada pada sebuah zaman yang dipenuhi keburukan, syahwat, dan syubhat. Selain itu, banyak pula penyeru kesesatan dan kejelekan berikut tokoh-tokoh dan sarana yang mereka sebarkan.

Bertakwalah kalian dalam hal anak-anak kalian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Jadi, asal mula keadaan seorang anak adalah di atas fitrah, yaitu agama Islam. Firman Allah ‘azza wa jalla,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum: 30)

Apabila orang tua menjaga dan mengembangkan fitrah anaknya di atas kebaikan, dia akan memasuki masa muda, masa dewasa, dan seterusnya, di atas fitrah tersebut—dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, apabila orang tua merusak fitrah tersebut, akan rusaklah fitrah ini. Permisalannya seperti tanah yang bagus yang menumbuhkan kebaikan dan produktif, ketika dirusak, tanah tersebut tidak lagi produktif. Demikian pula halnya fitrah. Fitrah siap menerima kebaikan, arahkanlah menuju perbaikan dan kebaikan. Akan tetapi, jika ada gangguan yang merusaknya, fitrah pun akan rusak. Sebab yang merusaknya ialah orang tua.

Oleh karena itu, jagalah fitrah anak-anak kalian. Kembangkanlah fitrah tersebut di atas kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لسَبْعِ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian melakukan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) ketika berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Pengembangan fitrah anak ini dilakukan bertahap sejak usia tamyiz. Ketika berusia 7 tahun, anak diperintah untuk menunaikan shalat. Hal ini juga berkonsekuensi bahwa anak dibiasakan dan diajari berwudhu dan bersuci, tata cara shalat, hal-hal yang wajib dan yang sunnah dalam shalat, hingga terbiasa dan tumbuh di atasnya.

Setelah mencapai usia 10 tahun, bisa jadi anak mengalami ihtilam (mimpi basah) atau telah memasuki masa baligh, tarbiyah anak berpindah ke tahapan kedua,

وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ

“Dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) ketika berumur sepuluh tahun.”

Apabila si anak meremehkan urusan shalat, dia dipukul sehingga merasakan sakitnya hukuman. Dengan demikian, si anak akan menjaga urusan shalat dan senantiasa begitu. Demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita dalam hal mendidik anak, yakni kita bertahap sesuai dengan umur mereka.

Adapun opini yang tersebar sekarang bahwa mendidik anak, memukulnya[1], dan mengajarinya adab teranggap sebagai tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT); ini adalah pemikiran yang datang dari musuh kita dari kalangan Barat, para perusak.

Mereka ingin merusak diri kita, istri-istri, dan anak-anak kita. Mereka sebut tarbiyah ini sebagai KDRT. Justru inilah tarbiyah Islam yang telah menghasilkan sekian generasi yang baik dan mengadakan perbaikan. KDRT yang sesungguhnya ialah menelantarkan dan menyia-nyiakan anak dan istri. Inilah hakikat KDRT. Mengupayakan kebaikan bagi mereka, inilah kebaikan dan perbaikan sejati yang dibawa oleh agama kita.

Hak anak yang wajib ditunaikan oleh orang tua, sudah ada terlebih dahulu dan melekat pada diri orang tua. Sebagian orang mengatakan, “Saya memiliki hak yang harus ditunaikan oleh anak saya.”

Ya, benar bahwa Anda memiliki hak. Akan tetapi, anak Anda juga memiliki hak yang harus Anda tunaikan terlebih dahulu sebelum dia menunaikan hak Anda. Hak anak itu adalah Anda mendidiknya.

Oleh karena itu, ketika anak telah baligh dan menjadi orang yang saleh dengan sebab tarbiyah yang baik, sedangkan sang orang tua memasuki usia senja dan membutuhkan bakti dari anak, Allah ‘azza wa jalla pun memerintah si anak untuk mengatakan (sebagaimana firman-Nya),

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

“Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (al-Isra: 24)

Bagaimana halnya jika orang tua tidak mendidik anaknya sewaktu kecil? Pantaskah dia mengharap bakti dari anaknya? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan, seribu kali tidak.

Anak yang saleh menjadi penyejuk mata orang tuanya semasa hidup dan setelah matinya. Ketika orang tua masih hidup, si anak menunaikan bakti kepada orang tua, melayaninya, dan melakukan berbagai urusan demi kemaslahatannya, terkhusus apabila orang tua sudah lanjut usia.

Adapun setelah kematian orang tua, sang anak mendoakan orang tua, melaksanakan berbagai wasiat dan wakafnya. Anak yang saleh juga akan memikul berbagai urusan orang tua setelah kematiannya, menggantikan kedudukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الِإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, akan terputus amalannya kecuali dari tiga hal: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, dan (3) anak saleh yang mendoakannya.”

Akan tetapi, jika anaknya rusak, tidak saleh, dia justru mendoakan kejelekan bagi orang tuanya, bukan kebaikan. Ternyata, sebabnya ialah orang tua telah menelantarkan (membiarkan, tidak mendidik) anaknya sewaktu kecil. Akhirnya, sang anak pun durhaka ketika orang tua berusia lanjut, baik semasa hidup maupun setelah kematiannya.

Karena itu, bertakwalah kalian dalam urusan anak-anak kalian. Jangan kalian menelantarkan mereka. Ada orang yang menyangka bahwa mendidik anak ialah dengan cara memberinya harta, membelikan mobil, dan memenuhi segala keinginannya. Setelah itu dia berkata, “Demi Allah, aku tidak menyian-yiakan anakku.”

Ya, Anda tidak menyia-nyiakannya kecuali dalam hal ini. Justru inilah bentuk menyia-nyiakan dan menelantarkan. Harta yang Anda berikan kepadanya, mobil yang Anda belikan untuknya, inilah penyia-nyiaan terhadap anak.

إنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالِجدَه

مَفْسَدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيُّ مَفسَدَة        

Sungguh, masa muda, waktu luang, dan serba ada

         adalah kerusakan bagi seorang manusia, serusak-rusaknya

Anda telah memberinya sarana kerusakan. Anda penuhi sakunya dengan harta. Anda beri dia mobil yang akan membawanya kemana pun dia kehendaki. Jadi, hakikatnya justru Anda yang menjerumuskan anak pada kerusakan.

Ya, kita katakan, “Berilah anakmu (harta), nafkahilah dia, belikanlah dia mobil. Akan tetapi, awasi dan perhatikan perilakunya. Jangan sampai Anda lalai mengawasinya. Jangan sampai Anda lalai terhadap anak hingga mereka dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Selama anak belum baligh, dia menjadi tanggung jawab Anda. Anda akan ditanya tentangnya di hadapan Rabb Anda, tentang kerusakan dia yang disebabkan oleh Anda dan pembiaran yang Anda lakukan terhadapnya.”

Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan anak-anak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian.” (an-Nisa:  11)

Jadi, anak adalah beban yang dipikulkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada orang tua. Maka dari itu, orang tua hendaknya bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Anak adalah amanat yang dititipkan kepada orang tua. Karena itu, hendaknya orang tua bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam hal amanat tersebut.

Tidak diragukan lagi, (merawat dan mendidik) anak mendatangkan rasa lelah, membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak memiliki kesabaran dan tidak sabar menghadapi rasa lelah saat merawat anaknya, dia akan menelantarkan anaknya.

Ada orang yang berkata, “Aku tidak mampu. Hidayah di tangan Allah ‘azza wa jalla.”

Anda tidak bisa berkata seperti itu sementara Anda sendiri tidak berusaha sedikit pun. Apabila Anda menjadi sebab anak mencari hidayah, sungguh Allah Mahadekat dan Maha Mengabulkan. Akan tetapi, jika Anda tidak mengusahakan sebab-sebab hidayah, tentu saja Anda tidak akan mendapat hidayah. Anda justru mendapatkan yang sebaliknya.

Sebelum sebab-sebab yang lain, hendaknya orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak. Orang tua sendiri yang menjadi teladan. Bagaimana halnya apabila orang tua sendiri yang rusak dan biasa melakukan kerusakan? Menyia-nyiakan shalat; tertidur ketika waktu shalat tiba; tidak pulang ke rumah selain untuk makan dan minum…. Dia tidak pernah menanyakan keadaan anak-anaknya. Ini adalah orang tua yang seperti hewan, bukan orang tua yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla….

        Selain itu, doakanlah anak-anak. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata (sebagaimana firman Allah),

وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

        “Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Beliau juga menyertakan anak keturunan beliau dalam doa beliau,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

        “Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Doakanlah anak-anak kalian disertai dengan menempuh sebab-sebab kebaikannya, yakni dengan mendidiknya. Berdoalah agar Allah ‘azza wa jalla membantu Anda dan memperbaiki anak-anak Anda. Bersihkan rumah Anda dari berbagai sarana kerusakan dan media yang merusak, berupa lagu-lagu, alat-alat musik, dan gambar-gambar wanita telanjang. Jika tidak demikian, rumah Anda akan menjadi sarang kerusakan.

Jadikan rumah Anda bersih, sebagai tempat beribadah dan berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Tidak didengar di dalamnya selain zikir, bacaan al-Qur’an, ucapan yang baik, bagus, dan bersih. Ajari anak Anda sedikit dari al-Qur’an atau suruhlah dia menghafalnya sesuatu dari al-Qur’an.

Pilihkanlah untuknya tempat belajar yang baik berikut kepala sekolah, para pengajar, dan murid-muridnya. Pilihkanlah sekolah yang baik, lalu ikuti perkembangan belajarnya. Tanyakanlah (kepada sekolah) tentang keadaan anaknya. Bantulah dia belajar dan berilah motivasi.

Jika Anda memberi sesuatu kepada salah satu anak, berilah anak-anak Anda yang lain sesuatu semisalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.”

Kisahnya, seorang sahabat memberikan sesuatu kepada anaknya. Ibunya berkata, “Hingga engkau persaksikan (pemberian ini) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sahabat tersebut menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mempersaksikan pemberian terhadap anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah semua anakmu engkau beri semisal ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah orang lain untuk mempersaksikan pemberian ini. Sungguh, aku tidak bersaksi atas sebuah kezaliman.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau senang apabila bakti anak-anakmu kepadamu sama?”

Dia menjawab, “Ya.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, jangan.”

Maksudnya, jangan engkau beri sebagian anakmu dan tidak memberi yang lain.

Sampai pun dalam hal berbicara,Anda tidak boleh berbicara, tertawa, dan memuji hanya salah seorang anak. Perhatikan pula anak-anak Anda yang lain. Anda ajak bicara semuanya. Anda beri motivasi semua anak Anda. Doakan semua anak Anda, meskipun mereka tidak sebaik anak yang Anda kagumi. Bagaimanapun, mereka semua adalah anak Anda. Mereka semua memiliki hak yang harus Anda tunaikan. Perhatikanlah anak-anak Anda.

Akan tetapi, apa yang bisa kita katakan sekarang ketika ayah tidak lagi mengenali anak-anaknya? Bisa jadi karena sibuk mencari materi dan berbisnis, bisa jadi pula karena dia berada di tempat permainan, kelalaian, begadang di tempat hiburan atau tempat lain di luar rumah. Dia tidak pernah bertanya tentang keadaan anak-anaknya.

Demikian pula ibu yang keadaannya seperti sang ayah. Dia tidak berdiam di rumah, tetapi keluar untuk bekerja, kuliah, atau bertemu teman-temannya. Dia tinggalkan anak-anak di rumah.

Lantas di mana anak-anak? Di tempat penitipan anak. Mereka dididik oleh orang yang tidak menyayangi dan tidak berlemah lembut terhadap mereka. Mereka diasuh oleh orang yang tidak akan dimintai tanggung jawabnya tentang mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang dibayar. Ini serupa dengan orang yang menggembalakan sekumpulan domba untuk mendapatkan upah.

Mereka tidak perhatian terhadap akhlak dan agama anak-anak, itu adalah urusan orang tua. Yang bukan orang tuanya tidak akan peduli tentang baik atau rusaknya anak. Mereka hanyalah orang yang dibayar layaknya penggembala domba yang tugasnya hanya menjaga agar domba-domba itu tidak hilang….

Salah satu pengaruh tarbiyah yang buruk dan menelantarkan anak ialah berbagai perilaku buruk yang dilakukan oleh para pemuda yang kalian saksikan sekarang. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana menggeber mobil di jalanan, meski membahayakan diri dan orang lain. Berapa banyak kematian terjadi akibat kebut-kebutan? Berapa banyak harta yang terbuang sia-sia dan mobil yang hancur? Apa hasilnya?

Jika anak ingin sesuatu, dia akan melakukannya. Sebab, dia tidak disibukkan dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat. Dia hanya diberi sarana kerusakan lantas dibiarkan begitu saja…

Akhirnya, orang-orang mendoakan kejelekan bagi orang tua si anak, bahkan sampai-sampai ada yang mendoakan laknat. Melaknat orang tua yang membiarkan anaknya mengganggu dan membahayakan orang lain.

Perhatikanlah tembok rumah-rumah. Lihatlah bagaimana para pelajar membuat tulisan-tulisan jelek di sana. Tulisan yang menggambarkan bahwa jiwa penulisnya menyimpan kerusakan, yang lantas dituangkan ke tembok.

Semua tindak kriminalitas di atas dengan jelas menunjukkan pengaruh tarbiyah yang buruk. Pengaruh tersebut terlihat dengan jelas di masyarakat.

Lihatlah, orang-orang kafir pun mendidik anak mereka di rumah, meski dalam bentuk pendidikan duniawi. Anda tidak melihat mereka membiarkan anak mereka berkeliaran di jalanan membawa mobil, padahal mereka orang kafir. Bagaimana bisa kaum muslimin justru dalam keadaan yang buruk seperti ini?

Sekali lagi, perhatikan dan awasi anak-anak kalian. Sadarilah bahwa anak-anak adalah ujian bagi kalian, apakah kalian memperbaiki ataukah merusak mereka. Kalian akan ditanya di hadapan Allah ‘azza wa jallatentang mereka.

Apabila menjadi anak saleh, mereka akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua, sampai pun di surga kelak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١

        “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Para ahli tafsir berkata, “Apabila anak dan ayah masuk surga, sedangkan kedudukan ayah lebih tinggi dari si anak, Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat anak tersebut menjadi sama dengan ayahnya agar ayah merasa tenteram dan sejuk matanya. Dengan demikian, anak akan menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, di dunia dan di akhirat.

Buah karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(diterjemahkan dan diringkas dari http://www.alfawzan.af.org.sa/ node/14450)


[1] Perlu diingat bahwa dalam hal memukul anak, Islam memiliki aturan, sehingga tidak dibolehkan sembarangan memukul. Di antara aturannya ialah pukulan tersebut tidak keras. (-ed)

sumber: https://asysyariah.com/tarbiyah-yang-baik-adalah-perhatian-dan-pengawasan/

Orang Tua Wajib Bersikap Adil terhadap Semua Anaknya

Yang dimaksud dengan anak dalam pembahasan ini mencakup anak lelaki dan wanita. Hak anak sangatlah banyak. Yang terpenting adalah tarbiyah (memberikan pendidikan), yaitu mengembangkan agama dan akhlak mereka sehingga hal itu menjadi bagian terbesar dalam kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).

Salah satu hak anak adalah tidak mengistimewakan salah satu di antara mereka dibandingkan saudaranya yang lain, dalam hal pemberian dan hibah. Tidak boleh memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya sedangkan dia tidak memberikan kepada anaknya yang lain. Hal tersebut termasuk perbuatan curang dan zalim, padahal Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Perbuatan semacan itu akan menyebabkan kekecewaan anak yang tidak diberi dan menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan terkadang permusuhan terjadi antara anak yang tidak diberi dengan orang tua mereka.

Di dalam Shahihain (kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), terdapat riwayat dari Nu’man bin Basyir, bahwa bapaknya (yakni Basyir bin Sa’ad) telah memberikan kepadanya seorang budak sahaya. Kemudian ia memberitahukan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada Basyir, “Apakah seluruh anakmu engkau berikan sama seperti ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah!”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil kepada anak-anak kalian.”

Dalam lafal lain disebutkan, “Carilah saksi orang lain, karena aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan curang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sikap melebihkan salah satu anak dalam hal pemberian dengan istilah “perbuatan curang”. Perbuatan curang adalah kezaliman dan hukumnya haram.

Bila terjadi kondisi ketika orang tua perlu memberikan suatu barang yang dibutuhkan oleh seorang anak, namun orang tua tersebut tidak memberikan kepada anak yang lain karena anak tersebut tidak membutuhkannya — misalnya salah seorang anak membutuhkan alat tulis, berobat, atau menikah — maka dalam kasus seperti ini hukumnya tidak mengapa mengistimewakan salah seorang anak atas anaknya yang lain, karena hal ini sesuai dengan kebutuhan sehingga hukumnya sama seperti memberi nafkah.

**

Disarikan dari buku “10 Hak dalam Islam” (terjemahan), karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerbit Pustaka Al-Minhaj.

sumber: https://muslimah.or.id/7417-orang-tua-wajib-bersikap-adil-terhadap-semua-anaknya.html

Kasih Sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Anak Kecil

Kasih sayang dalam mendidik anak tentu sangat dibutuhkan. Terlebih lagi ketika anak tersebut masih dalam usia anak-anak.  Contoh teladan kita, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengajarkannya kepada kita semua. Beliau demikian kasih sayang terhadap anak-anak beliau, dan juga terhadap anak para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Berikut ini kami cantumkan beberapa hadits yang menunjukkan betapa beliau sangat sayang terhadap anak-anak.

Pertama, hadits yang diriwayatkan dari shahabiyah Ummu Khalid bintu Khalid radhiyallahu ‘anha,

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ فَقَالَ مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ فَسَكَتَ الْقَوْمُ قَالَ ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ فَأَخَذَ الْخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا وَقَالَ أَبْلِي وَأَخْلِقِي وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ فَقَالَ يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنَاهْ

“Didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah baju gamis kecil berwarna hijau. Lalu beliau bertanya, “Menurut kalian siapa yang (cocok) memakainya?” Para shahabat terdiam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Datangkan kemari Ummu Kholid.” Lalu aku pun dibawa sambil digendong. Kemudian beliau mengambil gamis tersebut dengan tangannya dan memakaikannya. Beliau kemudian berkata, “Mudah-mudahan (bajunya, pen.) awet.” Pada baju tersebut ada hiasan garis berwarna hijau atau kuning. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata, “Wahai Ummu Khalid, ini bagus.” (HR. Bukhari no. 5823)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian perhatian kepada anak-anak, sampai beliau pun mengerti kepada siapa baju tersebut bagus dikenakan. Demikian pula beliau sangat penyayang kepada anak-anak, karena pada hadits ini beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Ummu Khalid dengan bahasa daerah asalnya, yaitu bahasa Habasyah (Etiopia) dengan mengatakan (هَذَا سَنَاهْ). Ini juga menjadi perhatian bagi kita, bahwa di antara kiat mendekatkan diri kepada anak-anak adalah dengan menggunakan bahasa yang biasa mereka gunakan atau bahasa yang mereka pahami.

Kedua, hadits yang diriwayatkan dari shahabat Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diceritakan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ عَلَى ظَهْرِهِ وَعَلَى عُنُقِهِ فَيَرْفَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفْعًا رَفِيقًا لِئَلَّا يُصْرَعَ قَالَ فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَ بالْحَسَنِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَهُ قَالَ إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, dan ketika beliau sujud,  Al-Hasan (cucu beliau yang merupakan anak dari ‘Ali, pen.) melompat-lompat di atas punggung dan tengkuk beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dengan pelan agar tidak mengejutkannya. Beliau melakukan ini tidak hanya sekali.

Ketika shalat telah usai, para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang Engkau lakukan kepada Al-Hasan yang sebelumnya belum pernah kami lihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesugguhnya dia adalah penyejuk hatiku di dunia. Sesungguhnya cucuku ini merupakan seorang pemimpin (negarawan, pen.). Aku berharap kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki dua kubu kaum muslimin melaluinya.” (HR. Ahmad no. 20535. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih.)

Dalam riwayat Bukhari (no. 3749) dan Muslim (no. 2422) disebutkan bahwa beliau menggendong dan mendudukkan Al-Hasan di atas pundak beliau dan berdo’a, “Yaa Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengajaran bagaimana bersikap kasih sayang kepada anak-anak walaupun dalam keadaan shalat. Lihat betapa kasih sayangnya beliau kepada cucunya (Al-Hasan), sampai pun ketika shalat beliau tidak ingin mengejutkannya ketika hendak mengangkat kepala. Lebih lagi, kasih sayang tersebut beliau wujudkan dengan do’a yang baik kepada Al-Hasan. Ini salah satu sikap yang luar biasa.

Mungkin jika kita yang menghadapi kondisi demikian, dalam keadaan kita adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat, bisa jadi kita justru bersikap kasar atau bahkan memarahi sang anak. Padahal anak tersebut belum mengerti betul apa yang membuat kita marah. Namun satu hal yang harus diperhatikan ketika membawa anak ke masjid adalah jangan sampai niat kita untuk mengajari anak ke masjid justru mengganggu orang atau pun suasana ibadah di masjid.

Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَدْخُلُ الصَّلاَةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ

“Sesungguhnya aku sedang shalat dan sangat ingin memperpanjang shalat. Lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil. Maka aku pun meringankannya (memendekkannya), karena ibunya akan kesusahan, gelisah karena tangisannya.” (HR. Bukhari no. 709 dan Muslim no. 3430)

Lihatlah betapa besar kasih sayang dan perhatian beliau kepada anak kecil ini. Sehingga beliau mengurungkan niat untuk memanjangkan shalat disebabkan tangisan anak kecil ini.

Keempat, hadits tentang kisah taubat seorang wanita yang sangat luar biasa.

Ma’iz bin Malik datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah sucikanlah aku …” Lalu datang wanita dari suku Ghamid dari kabilah Al-Azdi dan berkata, “Wahai Rasulullah sucikanlah aku.” Lalu beliau menjawab, “Celakalah kamu, kembalilah, mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada Nya.” Lalu wanita itu berkata, “Apakah Engkau akan menolakku sebagaimana Engkau menolak Ma’iz bin Malik?” Beliau menjawab, “Kalau demikian ada apa?” Lalu perempuan tersebut mengatakan, “Sesungguhnya aku hamil dari hasil zina.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah Engkau … ?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِمَّا لاَ فَاذْهَبِى حَتَّى تَلِدِى

“(Jika kamu tetap ingin demikian), kembalilah setelah Engkau melahirkan bayi yang ada di perutmu.”

Ketika dia telah melahirkan bayi tersebut, maka dia pun datang kembali dan menggendong bayinya. Dia berkata, “Ini bayinya telah aku lahirkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

اذْهَبِى فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ

“Pergilah, susuilah dia hingga Engkau menyapihnya.”

Ketika dia sudah menyapih dan membawa bayi tersebut dengan memegang sepotong roti, dia pun berkata, “Ini, wahai Nabi Allah.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar digali lubang hingga setinggi dada dan memerintahkan orang untuk merajamnya.” (HR. Muslim no. 1695)

Lihatlah betapa kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada wanita ini dan juga anak yang dikandungnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda hukuman rajam selama hampir 3 tahun kepada wanita ini dengan sebab kasih sayangnya kepada bayi kecil tersebut. Sehingga wanita tersebut bisa terlebih dahulu menyempurnakan periode penyusuan anaknya tersebut.

Demikianlah beberapa contoh kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak kecil. Janganlah kita menjadi orang tua yang kaku, keras, atau bahkan kasar kepada anak kecil karena setiap anak akan menginginkan kasih sayang dari orang tuanya. Wallahu a’lam.

***

Diselesaikan ba’da isya, Medan 12 Robi’ul awwal 1439/ 30 November 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

sumber: https://muslimah.or.id/9921-parenting-islami-34-kasih-sayang-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-terhadap-anak-kecil.html

Bolehkah Memukul Anak?

Saudariku muslimah…permasalahan ini termasuk masalah yang wajib dipahami oleh setiap orangtua. Sikap yang diambil tentunya beragam sesuai dengan kesalahan yang dilakukan anak. Perlu diperhatikan apakah anak memahami kesalahan itu dan mengetahui dosa dan bahayanya ataukah tidak?

Keutamaan berlemah lembut

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَيَكُوْنُ فِيْ شَيْئٍ إِلَّا زَانَهُ وَمَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْئٍ إِلَّا شَانَهُ

“Tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasainya dan tidaklah dicabut darinya melainkan akan memperjeleknya ” (HR. Muslim 2594 dari ‘Aisyah radhiallahu’anha)

Sabda beliau shallallahu’aaihiw asallam,

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ يُحْرَمُ الخَيْر

“Siapa saja yang dihalangi dari kelemahlembutan maka dihalangi pula dari kebaikan” (HR. Muslim 2542 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu)

Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,

إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظُّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظُّهُ مِنْ خَيْرِالدُّنْيَاوَالأَخِرَة

“Sungguh orang yang telah diberi bagian kelembutan berarti ia telah diberi bagian kebikan dunia dan akhirat” (HR. Ahmad 6/159 dari ‘Aisyah radhiallahu’anha)

Dan beliau bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

“Jika Allah menginginkan kebaikan bagi sebuah anggota keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka” (HR. Ahmad 6/71, 6/104-105, hadits shahih)

Sabda beliau,

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan.” (HR. Muslim 2593 dari ‘Aisyah secara marfu’)

Nasehat lebih baik daripada memukul

Selama dalam perbaikan tidak memerlukan pemukulan maka janganlah memukul. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam sendiri bila harus memilih antara dua pilihan maka beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa. (HR. Bukhari 3560 dan Muslim 2327 dari ‘Aisyah secara marfu’)

Telah diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali, tidak kepada istri beliau ataupun pembantu beliau. Beliau hanya memukul ketika berperang dijalan Allah. (HR. Muslim 2328)

Maka kita sebaiknya menggunakan kata-kata nasehat jika ingin memperbaiki perilaku anak atau dengan menggunakan dorongan dan motivasi.
Bila kata-kata yang baik tidak berpengaruh maka kita gunakan kata-kata yang berisi teguran dan ancaman sesuai dengan kesalahan anak. Bila juga tidak bermanfaat maka saatnya memukul. Untuk itu kondisi tabiat anak berbeda-beda.

Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat mata untuk menghukum dan menegurnya. Isyarat mata ini memberikan pengaruh yang kuat pada dirinya dan menjadi sebab berhenti dari kesalahan yang ia lakukan.

Diantara mereka ada yang jika Anda membuang muka darinya maka dia segera paham maksud Anda dan berhenti dari kesalahannya.

Diantara mereka ada yang berubah dengan kata-kata baik. Maka gunakan kata-kata yang baik untuk anak yang seperti ini.

Dan diantara mereka tidaka ada yang membuatnya sadar kecuali harus dengan pukulan dan perlakukan keras. Maka untuk anak tipe seperti inilah kita lakukan pemukulan dan berlaku keras. Akan tetapi sesuai dengan kebutuhan saja serta tidak menjadikannya kebiasaan. Seperti halnya seorang dokter yang memberi suntikan kepada pasiennya walaupun suntikan itu menyakitkan akan tetapi suntikan itu sebatas kadar penyakitnya saja.

Orang tua diperbolehkan bersikap keras kepada anak bila anak malas beribadah

Adapun dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bolehnya memukul anak bila diperlukan karena anak tidak taat dalam hal yang ma’ruf atau karena mengabaikan perintah kebaikan atau berbuat maksiat, dzalim secara terus menerus diantaranya adalah

• Firman Allah Ta’ala,

وَاللهُ لَايُحِبُّ الفَسَادَ

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. AL-Baqarah: 205)

• Firman Allah Ta’ala,

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ القُرُوْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُوا بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الفَسَادِ فِى الأَرْضِ إِلَّا قَلِيْلاً مِمّنْ أنْجَيْنَا مِنْهُم

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan melarang dari mengerjakan kerusakan di bumi. Kecuai sebagian kecil diantara orang-orang yang telah Kami selamatkan diantara mereka.” (QS. Hud: 16)
Bila kerusakan dan kedzaliman yang timbul dari ulah si anak tidak dapat hilang kecuali dengan pemukulan maka saat itu juga dia harus dupukul.

• Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.”(HR. Abu Daud no 495 dengan sanad hasan)

• Sikap tegas Abdullah bin Umar kepada anaknya Bilal bin Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma
Dari abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Jangan kamu cegah istrimu kemasjid jika mereka izin kepadamu keluar menuju kesana.’”
Kemudian Bilal bin Abdullah bin Umar berkata, “Demi Allah aku akan mencegah mereka.”
Ibnu Umar menoleh kepadanya lalu mencela dengan celaan yang belum pernah aku (perowi) dengar sebelumnya dan berkata, “Aku kabarkan kepadamu hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kamu katakan,’Demi Allah aku akan cegah!.’”

• Tatkala melihat kecerdasan dan keunggulan Ikrimah yang saat itu masih kecil sehingga senang bermain dan lari-lari maka Ibnu Abbas mengikatnya dengan tali agar mau memperlajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Ikrimah berkata, “Ibnu Abbas pernah merantai kakiku ketika sedang mengajariku Al Qur’an dan Sunnah.” Dalam riwayat lain, “Ketika sedang mengajariku AlQur’an dan ilmu waris.”
Lantas bagaimana kondisi Ikrimah setelah mendapat hukuman itu? Dia menjadi salah seorang ulama besar ahli hadits yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari Ibnu Abbas dan menjadi ahli tafsir yang handal.

• Begitujuga sikap tegas Abu Bakar Ash Shidiq kepada ‘Aisyah radhiallahu’anhuma. Abu Bakar memukul putrinya karena menyebabkan pasukan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tertunda keberangkatannya dan karenanya sahabat lain mengeluh. Dan kisah lainnya sangatlah banyak sekali untuk disebutkan.

Larangan memukul wajah

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Jika salah seorang diantara kalian memukul saudaranya maka hendaknya dia menghindari memukul wajah.” (HR. Muslim 2616 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’).

***
Diringkas dari buku “Bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam Mendidik Anak” (Terjemahan dari kitab Tarbiyatul Aulad), Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah.
Artikel Muslimah.or.id

sumber: https://muslimah.or.id/2705-bolehkah-memukul-anak.html

Jagalah Anakmu Dari Api Neraka

Oleh: Ust. Aunur Rofiq Lc

Kebaikan anak dan keluarga sangat berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan   negara. Oleh karena itulah, agama Islam banyak memberikan perhatian dalam masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam ialah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan mereka menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allah Yang Mahakuasa berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrim: 6)

ALLAH ﷻ MEMUJI ORANG YANG BERIMAN

Firman Allah ﷻ (yang artinya): “Hai orang yang beriman,”  adalah hamba yang yang dicintai oleh Allah w\.

Abdullah bin Mas’ud a\ dan para ulama salaf berkata, “Jika engkau mendengar Allah w\ berfirman dalam al-Qur’an, ‘Hai orang-orang yang beriman,’ maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu. Karena itu hanyalah kebaikan yang Dia perintahkan kepadamu atau keburukan yang Dia melarangmu darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/80)

KIAT MENJAGA ANAK DARI API NERAKA

Orang yang beriman tidak cukup menjaga dirinya dari api nereka, tetapi harus menjaga anak dan keluraganya juga, sebagaimana keterangan ayat diatas, yang artinya, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Jika api di dunia berbahaya bagi diri dan keluarga kita, maka api di akhirat akan jauh lebih berbahaya, karena bahan bakarnya dari manusia dan batu. Tentu juga akan lebih panas. Lalu bagaimana kita menjaga diri kita dan anak kita dari api neraka?

Abdullah bin Abbas d\ berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allah w\ akan menyelamatkanmu dari neraka.”

Mujahid v\ berkata tentang firman Allah ﷻ, ‘Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,’ yaitu, “Bertakwalah kepada Allah, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allah w\.”

Qatadah v\ berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintah mereka untuk bertakwa kepada Allah dan melarang dari kemaksiatan kepada Allah w\, dan mengatur mereka dengan perintah Allah w\, memerintah mereka untuk melaksanakan perintah-Nya, dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allah, berarti engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu.” (Lihat semua riwayat di atas dalam Tafsir Ibnu Katsir, surat at-Tahrim ayat ke-6)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari v\ berkata, “Allah Yang Mahatinggi sebutannya berfirman yang artinya; ‘Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, ‘Peliharalah dirimu!,’ Yaitu maksudnya, ‘Hendaklah sebagian kamu mengajarkan kepada sebagian yang lain perkara yang dengannya orang yang kamu ajari bisa menjaga diri dari neraka, menolak neraka darinya, jika diamalkan. Yaitu ketaatan kepada Allah. Dan lakukanlah ketaatan kepada-Nya.’

Firman Allah, ‘dan keluargamu dari api neraka,’ maksudnya, ‘Ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allah yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka.’ Para ahli tafsir mengatakan seperti yang kami katakan ini.” (Tafsir ath-Thabari 23/491)

Imam al-Alusi v\ berkata, “Menjaga diri dari neraka adalah dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan. Sedangkan menjaga keluarga adalah dengan mendorong mereka untuk melakukan hal itu dengan nasihat dan ta’dib (hukuman). Yang dimaksukan dengan keluarga, berdasarkan sebagian pendapat, mencakup: istri, anak, budak lelaki dan budak perempuan.

Ayat ini dijadikan dalil atas kewajiban seorang laki-laki mempelajari kewajiban-kewajiban dan mengajarkannya kepada mereka.” (Tafsir al-Alusi 21/101)

Semakna dengan ayat ini, adalah firman Allah ﷻ:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Sedang akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)

Dan termasuk semakna dengan ayat ini adalah sabda Nabi ﷺ :

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan), serta pisahkan mereka di tempat-tempat tidur masing-masing.” (HR. al-Hakim, Ahmad dan Abu Dawud; disahihkan al-Albani dalam al-Irwa’)

Mengajari ibadah kepada anak-anak bukan hanya sebatas shalat, namun juga ibadah-ibadah lainnya. Imam Ibnu Katsir v\ berkata, “Para ahli fikih berkata, ‘Demikian juga (anak-anak dilatih) tentang puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, supaya dia mencapai dewasa dengan selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, dan Allah Yang Memberi taufik.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. at-Tahrim ayat ke-6)

ORANG TUA WAJIB MENDIDIK ANAKNYA 

Ayat di atas menjelaskan peran penting orang tua, yaitu harus menjaga dirinya dari perbuatan yang menjerumuskan kepada neraka, sebagaimana keterangan ahli tafsir di atas. Lebih dari itu, orang tua berkewajiban mendidik anaknya, karena orang tua menjadi pemimpin rumah tangga, baik dia sebagai bapak atau ibu. Dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari pembalasan, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّته

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin.” (HR. al-Bukahri: 5200)

Dalam hadits di atas, jelaslah Allah ﷻ telah menjadikan setiap orang pemimpin, baik skala bangsa, umat, istri dan anak-anaknya. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ingatlah, tanggung jawab anak dan istri sangat besar di sisi Allah. Hal ini dengan menjaga mereka dari api neraka dan berusaha menggapai kesuksesan di dunia dengan mendapatkan sakinah, mawaddah, rahmat dan di akhirat dengan masuk ke dalam surga. Inilah sesungguhnya target besar yang harus diusahakan untuk diwujudkan.

Oleh karena itu, Islam memberi perhatian khusus dan menetapkan kaidah yang kokoh dalam pembentukan keluarga muslim. Islam memberikan tatanan lengkap dimulai dari proses pemilihan istri hingga solusi bila rumah tangga tak dapat dipertahankan kembali.

Pembinaan keluarga ini semakin mendesak dan darurat bila melihat keluarga sebagai benteng terakhir kaum muslimin yang sangat diperhatikan para musuh. Mereka berusaha merusak benteng ini dengan berbagai serangan dan sekuat kemampuan mereka. Memang sampai sekarang masih ada yang tetap kokoh bertahan, namun sudah sangat banyak yang gugur dan hancur berantakan.

Demikianlah, para musuh Islam senantiasa menyerang kita dan keluarga kita. (QS. Al-Baqarah: 217)

Hal ini diperparah dengan keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberikan perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa ilmu agama yang jelas lebih penting. Ilmu yang menjadi benteng akhlak dan etika seorang muslim dalam hidup, dan menggunakan kemampuannya dalam mengarungi kehidupan yang dipenuhi gelombang ujian dan fitnah. Mereka lupa membina dirinya, keluarga dan anak-anaknya dengan syariat Islam yang telah membentuk para salaf kita menjadi umat terbaik di dunia.

Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Berapa banyak orang yang menyengsarakan anak dan buah hatinya di dunia dan akhirat dengan tak acuh dan tidak mendidiknya serta membantu mereka menumpahkan syahwatnya. Dengan itu, ia menganggap telah memuliakannya, padahal ia menghinakannya, atau telah mengasihinya padahal ia telah menzaliminya. Sehingga ia kehilangan (kesempatan) memanfaatkan anaknya (untuk bekal akhirat-edt) dan anaknya pun kehilangan bagiannya di dunia dan akhirat. Apabila engkau perhatikan baik-baik kerusakan pada anak-anak maka engkau dapati umumnya dari pihak bapak.” (Tuhafatul Maudud fi Ahkam al-Maulud hal. 242)

Beliau juga menyatakan, “Siapa yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya semua yang bermanfaat baginya dan meninggalkannya begitu saja, maka ia telah melakukan kejelekan yang paling besar padanya. Mayoritas datangnya kerusakan pada anak-anak, dari pihak bapak dan tidak perhatiannya mereka terhadap anak-anak serta tak mau mengajari anak kewajiban agama maupun sunnah-sunnahnya. Sehingga mereka telah menelantarkan anak-anak sejak masa kecil.

Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari diri sendiri, orang tua mereka pun tidak dapat mengambil manfaatnya ketika telah tua. Sebagaimana ada sebagian orang tua yang mencela anaknya yang durhaka lalu sang anak menjawab, ‘Wahai bapakku, engkau telah mendurhakasiku ketika aku kecil maka (sekarang) aku mendurhakaimu setelah engkau tua dan engakau telantarkan aku ketika aku masih kanak-kanak maka (sekarang) aku menelantarkanmu ketika engkau telah tua.’” (Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud hal. 229)

Sudahkah kita perhatikan anak-anak kita di rumah, berapa banyak perangkat ringan seperti handpono yang mereka mainkan sehingga mereka lupa apa yang menjadi kewajiban mereka menuntut ilmu syar’i, lupa membaca al-Qur’an dan hadits, serta lupa amal ibadah mereka yang wajib dan sunnah. Belum lagi pergaulan bebas muda mudi, siang malam, bukan cukup di jalan raya, di sekolah, bahkan di mana saja berada, rasanya sulit dibendungnya, kalau bukan orang tua mereka, siapa lagi yang mengurusi mereka?

Semoga keterangan yang singkat ini menjadi pelajaran buat kita sebagai orang tua, dan yang mewakilinya, dan semoga kita diberi kemudahan mendidik mereka. Amin….

sumber: https://artikel.alfurqongresik.com/jagalah-anakmu-dari-api-neraka/

Prinsip-prinsip dalam Mendidik Anak

Mendidik anak merupakan pekerjaan yang sulit, karena (dalam menghadapi) mereka membutuhkan kesabaran dan kecerdikan (untuk mengambil hatinya).

Termasuk di antaranya, ada anak yang butuh perlakuan lembut, ramah, tidak suka dibentak-bentak dengan keras. Dan jika diperlakukan dengan cara sebaliknya, niscaya ia akan membangkang. Ada pula anak yang perlu dikerasi, tapi tetap tidak melebihi batas kewajaran. Apabila sampai berlebihan maka akan menyebabkan anak sulit diatur dan tidak patuh terhadap nasehat kedua orang tuanya.

Kita memohon kepada Allah agar mengkaruniakan kebaikan kepada kita dan menjaga kita dalam (memikul) tanggung jawab yang besar sebagai orang tua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. “ (At-Tahrim: 6)

Dan dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar rodhiyallohu anhuma, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan ditanya tentang apa yang kalian pimpin, seorang imam adalah pemimpin dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang budak (pelayan) adalah pemimpin tentang harta majikannya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, ketahuilah karena kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya nanti tentang yang dipimpinnya.”

Sehingga harus ada upaya tolong menolong di antara suami istri dalam mendidik anak-anaknya. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini niscaya akan terjadi kekurangan pada sisi yang merupakan tanggung jawabnya kecuali Allah menghendaki yang lain.

Kemudian dalam mendidik anak harus sesuai dengan tingkat dan pemahamannya, berikut ini ada satu contoh di antaranya:

1. Membimbing anak mengucapkan lafadz Allah sambil memberi isyarat dengan telunjuknya ke langit.

2. Jika engkau memberinya sepotong roti atau lainnya berikanlah melalui tangan kanannya.

3. Jika makanan masih panas janganlah engkau meniupnya supaya dingin, karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam melarang bernafas dalam tempat makanan/ minuman. Seandainya si anak melihatnya, niscaya dengan cepat ia akan menirunya.

Demikian juga dalam perkara lainnya, dan semua ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Iyadh bin Himar, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi):

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus bertauhid, kemudian para setan menyeret mereka (untuk sesat).“

4.   Jika anak itu umurnya kurang lebih satu setengah tahun, bila ingin minum atau makan, bimbinglah dia untuk mengucapkan “bismillah”. Setelah itu dia akan terbiasa dengan perbuatan tersebut dan dengan sendirinya akan mengucapkan “bismillah”.

5.   Apabila engkau dapati dia sudah bisa mengerti rukun-rukun Islam dan Iman, maka ajarilah dia. Dan aku tidak membatasi pengajaran dengan ukuran umur karena kefasihan anak dan kecerdasannya berbeda-beda.

Mengenai rukun Islam terdapat dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma (yang masyhur adalah Ibnu Umar -ed), ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Islam dibangun di atas lima perkara bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhamad adalah utusan Allah, menegakkan shalat. mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah (Mekkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Muttafaqun ‘alaih.

Adapun Rukun Iman, (sebagaimana) diriwayatkan oleh Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Iman itu ialah kamu beriman kepada Allah. Malaikat, Kitab, Rasul-Nya dan beriman kepada Hari Kebangkitan.” Muttafaqun ‘alaih.

Dan Muslim telah menwayatkannya sendirian dari hadits Umar bin Al-Khaththab.

Sedangkan Rukun Ihsan ialah:

“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa Allah melihatmu.”

Telah berlalu takhrijnya dalam hadits sebelumnya.

6.   Ajarilah anak tersebut tata cara benvudhu.

7.   Apabila ia makan dari sebuah bejana maka katakan kepadanya hendaklah dia memakan apa yang lebih dekat kepadanya.

Di dalam Shahihain dari hadits Umar bin Abi Salamah ia berkata:

“Aku pernah makan sedangkan tanganku lari kesana kemari di dalam talam/tempat makan lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai anak muda bacalah basmalah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.”

8.   Biasakanlah dia kepada kebaikan, apabila umurnya telah mencapai tujuh tahun latihlah dia untuk melaksanakan shalat.

Telah berkata Abu Dawud rohimahulloh (1/495): “Telah bercerita kepada kami Muammal bin Hisyam yaitu Al-Yasykuri: “Telah bercerita kepada kami Ismail, ia berkata dari Sawwar Abu Hamzah telah berkata Abu Dawud yaitu Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukul mereka jika menolak ketika umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur di antara mereka.”

Dan hadits ini sanadnya hasan.

Muammal bin Hisyam adalah perawi yang tsiqah, sedangkan Ismail dia adalah Ibnu ‘Ulaiyah, seorang yang masyhur (telah dikenal) dan Sawwaar adalah perawi yang shaduq, dia punya beberapa kesamaran sebagaimana dalam At-Taqrib. Dan haditsnya bisa dijadikan hujjah selama tidak termasuk kesalahannya sedang perawi-perawi lainnya dikenal. Dan hadits ini punya jalan lain dari hadits Saburah dalam Sunan Abu Dawud no. 494.

9.   Memisahkan tempat tidur di antara anak-anak jika telah berumur sepuluh tahun sebagaimana hadits di atas.

10. Latihlah anak untuk berpuasa jika sudah mampu, dengan tujuan apabila telah menginjak dewasa dia sudah terlatih untuk melakukannya.

Dan Imam Bukhari telah membuat judul bab dalam Shahih-nya(4/200) bab, Puasanya Anak-anak: “Telah bercerita kepada kami Musaddad, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Bisyr bin Al-Mufadhdhal dari Khalid bin Dzakwan dari Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: “Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengutus (seseorang) pada pagi hari (di hari) Asyura ke kampung Anshar (untuk mengumumkan), barangsiapa pagi ini sudah makan maka hendaknya menyempurnakan sisa harinya (untuk berpuasa), dan barangsiapa yang pagi ini belum makan maka hendaknya ia berpuasa.” Ia (Ar-Rubayyi’) berkata: “Maka kami pun berpuasa dan anak-anak kami latih untuk berpuasa. Kami buatkan mainan dari bulu untuk mereka, jika salah satu dari mereka menangis minta makan, kami beri dia mainan itu sampai datang waktu berbuka.”

11. Ajarilah anakmu aqidah yang benar.

Dan katakanlah kepadanya seperti yang dikatakan Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas rodhiyallohu anhuma: “Sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di depanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan kemudharatan kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran catatan.”

12. Berilah wasiat kepada anakmu seperti Luqman memberi wasiat kepada anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabar terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan jangan kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 13-19)

13. Ajarilah dia jika hendak masuk untuk meminta izin lebih dahulu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Shubuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nuur: 58)

14. Berilahukan kepadanya tentang perkara-perkara yang dilarang agar menjauhinya.

Dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Al-Hasan bin Ali rodhiyallohu anhuma mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat) kemudian memasukkannya ke mulutnya. Lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Kikh, kikh, buanglah kurma itu, tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak makan makanan shadagah (zakat).”

15. Jelaskanlah padanya makna ayat atau hadits yang engkau bacakan kepadanya.

16. Ikatlah hatinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagian anak hatinya terikat dengan dunia dan tontonan-tontonan sehingga hatinya penuh dengan khayalan. Hal ini mengakibatkan dia takut pada bayangannya sendiri.

17. Utamakan hafalan AI-Qur’an, dan berilah anakmu hafalan yang ringan setiap harinya walaupun dengan satu ayat.

Karena orang-orang yang sibuk dengan Al-Qur’an adalah sebaik-baik manusia, sebagaimana terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an kemudian mengajarkannya.”

Dan dalam sebuah riwayat (yang lain dari) Al-Bukhari (dengan lafadz): “Seutama-utama kalian” sebagai ganti dari “Sebaik-baik kalian.”

Dan Nabi telah mewasiatkan kepada umatnya untuk memperhatikan dan mementingkan Al-Qur’an.

Berkata Al-Imam Al-Bukhari (9/5022): “Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Thalhah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa: “Apakah Nabi shollallohu alaihi wa sallam memberi wasiat?” Lalu ia menjawab: “Tidak”. Aku berkata: “Bagaimana mungkin Nabi tidak memberi wasiat, sedangkan beliau memerintahkan manusia untuk berwasiat.” Dia menjawab: “Beliau berwasiat dengan Kitabullah.”

Al-Hafidz berkata: “Yang dimaksud berwasiat dengan kitabullah adalah untuk menjaganya/ menghafalnya, mengikutinya melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta terus-menerus membaca dan mempelajarinya dan sebagainya.”

Dan Al-Qur’an itu akan memberi syafa’at bagi pembacanya. Al-Imam Muslim berkata (1/553): “Telah bercerita kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Hulwani. ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Abu Taubah yaitu Ar-Rabi bin Nafi’, ia berkata: “Mu’awwiyah yakni Ibnu Sallam ia berkata dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Salam berkata: “Telah bercerita kepada kami Abu Umamah ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Bacalah Al-Qur an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.”

Dan telah berkata Imam Muslim rohimahulloh (1/554): “Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Mansur, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Yazid bin Abdur Rabbih, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: “Dari Muhammad bin Al-Muhajir dari Al-Walid bin Abdurrahman Al-Jurasyi dari Jubair bin Nufair, ia berkata: “Aku mendengar An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi mengatakan: “Aku mendengar Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Didatangkan Al-Qur’an itu dan ahlinya yang mereka dulu mengamalkannya Akan datang padanya surat Al-Baqarah dan Ali Imran membela pembaca kedua surat tersebut.”

Hadits-hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan ahlinya:

Dari Aisyah rodhiyallohu anha, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang membaca Al-Qur an dengan mahir maka ia bersama kumpulan malaikat yang mulia dan suci, dan orang yang membacanya terbata-bata dan dia kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallohu anhu ia berkata: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah al-utrujah, baunya enak dan rasanya enak, dan permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur an seperti buah kurma tidak berbau tapi rasanya manis, dan permisalan seorang munafik yang membaca Al-Qur an seperti ar-raihanah, baunya enak tapi rasanya pahit, dan permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti al-handzalah, tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Umar[*] bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dengan kitab ini beberapa kaum dan merendahkan yang lain.” (HR. Muslim)

Dan dari Abdullah bin Amr bin Ash rodhiyallohu anhuma bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana dulu engkau membacanya dengan tartil selama di dunia karena sesungguhnya kedudukanmu pada ayat terakhir yang engkau baca.” [HR. Ahmad (2/192), Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dan At-Timiidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.”]

Dan hadits dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu anhuma, ia berkata: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang dianugerahi Al-Qur ‘an oleh Allah, kemudian ia membacanya siang dan malam, dan seorang lelaki yang dianugerahi harta kemudian dia menginfakkannya siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan yang sudah dihafal hendaknya selalu dijaga, kalau tidak ia akan hilang dengan cepat. Imam Bukhari mengatakan: “Telah bercerita kepada kami Muhammad: bin Al-’Ala, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Abu Usamah, ia berkata: “Dari Buraid dan Abu Burdah dari Abu Musa rodhiyallohu anhu dari Nabi beliau bersabda:

“Jagalah Al-Qur an ini karena demi yang jiwaku di tangan-Nya, Al-Qur an itu lebih cepat hilang daripada seekor onta dalam ikatannya.”

________

[*] Yang benar dalam Shahih Muslim adalah dari Umar bin Khaththab rodhiyallohu anhu.

18. Jangan biarkan anak-anakmu bergaul dengan anak-anak yang tidak terdidik/ bodoh, karena anakmu akan meniru omongan dan perbuatan mereka yang jelek sehingga akan meruntuhkan apa yang sudah diajarkan.

Seorang penyair mengatakan:

Seorang anak tentu akan menghafal apa yang diberikan kepadanya

_____ Dan tidak akan lupa

Karena Hatinya seperti permata yang bening

_____ Maka ukirlah di atas hatinya berita yang engkau kehendaki

Maka kelak ia akan mengungkapkan

_____ Dari hafalannya yang sempurna

Seorang anak pikirannya kosong dan siap menerima segala sesuatu, sebagaimana dikatakan (dalam peribahasa):

“Mengukir (belajar) di masa kecil seperti mengukir di atas batu.”

19. Jangan biarkan anakmu keluar rumah ketika sore hari (maghrib), karena sesungguhnya para setan berkeliaran pada saat itu, dan mungkin bisa membahayakan anakmu.

Imam Bukhari rohimahulloh berkata: “Telah bercerita kepada kami Ishaq, ia berkata: “telah mengabarkan kepada kami Rauh bin Ubadah, ia berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: “Telah mengabarkan kepadaku Atha’ ia berkata bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah rodhiyallohu anhuma berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Jika hari mulai malam atau kalian masuk pada waktu sore maka tahanlah anak-anak kecil kalian karena para setan sedang berkeliaran saat itu. Lalu jika telah lewat satu saat dari malam, bebaskan mereka dan kuncilah pintu-pintu serta sebutlah nama Allah karena sesungguhnya setan tidak akan membuka pintu yang terkunci.”

Dan dikeluarkan juga oleh Muslim.

20. Biarkan si anak sekali waktu untuk menyenangkan dirinya. Karena jika anak itu selalu dilarang bermain, dikhawatirkan akan membuat kepintarannya hilang dan membuatnya jemu atau bosan (karena selalu dilarang).

Maka jika kedua orang tua menginginkan kemuliaan anaknya, hendaknya keduanya bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya dengan tarbiyah Islamiyah dengan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Termasuk sebab tingginya derajat kedua orang tua di akhirat jika keduanya muslim, adalah do’a anaknya yang sholeh untuk mereka. Sebagaimana riwayat yang shahih dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seorang manusia lelah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya.”

Dan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang sholeh di surga, kemudian ia berkata: “Wahai Rabbku dari mana ini?” Maka Allah berfirman: “Dengan sebab istighfar dari anakmu.” Dan hadits ini terdapat dalam Ash-Shahihul Musnad.

Dan jika kedua orang tua itu adalah orang yang sholeh dan anak-anaknya sholeh, tapi si anak belum mencapai derajat seperti derajat kedua orang tuanya, maka Allah akan mengangkat derajat anak menyamai kedudukan ayah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur: 21)

Dan seorang anak kadang menjadi nikmat bagi kedua orang tuanya seperti mentaati keduanya dan berbuat baik kepada keduanya. Inilah yang diminta oleh orang-orang yang sholeh kepada Allah agar mengkaruniakan anak yang sholeh kepada mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang berkata: ” Ya Rahb kami. Anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

21. Bersemangatlah untuk mendudukkan anakmu pada orang-orang sholeh. 

Maka inilah ibu yang sholehah, Ummu Sulaim, dia membawa anaknya Anas kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Anas adalah pelayanmu wahai Rasulullah, maka do’akanlah ia.” Kemudian Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah ia di dalamnya.”

Dan Ummu Hudzaifah bertanya kepada anaknya yaitu Hudzaifah bin Al-Yaman, katanya: “Kapan engkau (terakhir kali) bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wa sallam?” Maka aku menjawab: “Aku tidak jumpa dengan beliau sejak (saat) itu.” Sehingga ibuku mencelaku, maka aku berkata kepadanya: “Biarkan aku menemui Nabi shollallohu alaihi wa sallam di saat aku shalat Maghrib bersama beliau dan memintanya untuk memintakan ampun bagiku dan bagimu.” Kemudian aku shalat Maghrib bersamanya sampai shalat Isya. dan setelah selesai beliau pergi dan aku mengikutinya. Ternyata beliau mendengar suaraku, lalu berkata: “Siapa itu? Apakah Hudzaifah?” Aku jawab: “Benar.” Beliau berkata: “Apa keperluanmu? semoga Allah mengampunimu dan ibumu.” Beliau (kemudian) bersabda: “Sesungguhnya malaikat ini tidak pernah turun ke bumi sebelum malam ini sama sekali. Dia meminta izin kepada Rabbnya untuk memberi salam kepadaku dan memberi khabar gembira kepadaku, bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga.” Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan disebutkan oleh Ayahanda di dalam Ash-Shahihul Musnad (1/214).

Selanjutnya kewajiban kedua orang tua untuk mencurahkan segala daya upaya dalam mendidik anak-anaknya. Dan hidayah itu di tangan Allah sedangkan manusia tidak mampu memberi hidayah pada dirinya sendiri apalagi memberi hidayah pada orang lain. Sebagai contoh nyata yaitu Nabi Nuh alaihissalam seorang Nabi di antara Nabi-Nabi Allah, tidak mampu memberi hidayah kepada anaknya. Padahal ia berharap anaknya ikut bersama mereka dan jangan ikut bersama orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. “Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 42-43)

Dan inilah Ibrahim alaihissalam memberi nasehat kepada ayahnya untuk meninggalkan kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa surat, tapi ayahnya tidak mau mendengarkan nasehat anaknya bahkan mengatakan:

“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Dan begitu juga Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengharapkan pamannya untuk masuk Islam tapi ia enggan dan mati di atas kesyirikan. Contoh-contoh lain masih banyak, dan ini terjadi sebagian besar generasi salaf.

Syu’bah bin Al-Hajjaj mengatakan: “Lahir seorang anakku dan aku beri nama Sa’ad tapi dia tidak (membuatku) bahagia ataupun selamat. Dan (suatu hari) ia pernah mengatakan kepada anaknya: “Pergilah kepada Hisyam Ad-Dustuwai (untuk belajar).” Tetapi anaknya menjawab: “Aku hendak melepas burung merpati.” Lihat Mizanul I’tidal (2/122).

Ismail bin Ibrahim bin Miqsam, seorang lelaki sholeh, di antara anak-anaknya ialah Ibrahim, seorang Jahmi tulen (yang berpamahaman Jahmiyah, pent), dan berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Maka hidayah itu memang milik Allah akan tetapi harus kita menjalankan sebab-sebabnya. Jika Allah menghendaki anak kita baik, maka ia akan mau mendengar nasehat-nasehat dan jika menghendaki selain itu, maka dia akan terus dengan apa yang diyakininya.

Seorang penyair mengatakan:

Jika memang tabi’atnya adalah tabi’at yang jelek

_____ Maka adab tidak akan bermanfaat

Dan tidak pula seorang yang beradab

Terkadang anak menjadi siksaan bagi kedua orang tuanya, karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)

Dan makna kata: من (di antara) di sini adalah untuk menunjukkan sebagian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Dan anak juga akan sengsara apabila kedua orang tuanya tergelincir dalam masalah agama dan sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak memperhatikan urusan agama. Dan di antara contohnya adalah:

1. Seorang bapak yang muslim ketika anaknya sakit, maka dia berusaha mencari obat untuk anaknya sampai ke ahli nujum dan dukun. Dan perbuatan ini adalah salah satu bentuk amalan kekufuran. Yang demikian itu karena ahli nujum/ dukun mengaku mengetahui yang ghaib, sedang ilmu ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.” (Ali Imran: 179)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

Maka dengan tindakan ini si bapak menjadi kufur karena sebab anaknya.

2. Di antara manusia ada yang kurang dalam menjalankan kewajiban karena mencari rizki untuk anaknya dan untuk menyenangkan mereka.

3. Di antara mereka juga ada yang memasukkan TV ke dalam rumahnya dengan tujuan untuk menyenangkan anaknya.

Sedangkan televisi diharamkan karena ia menyimpan banyak kerusakan, di antaranya gambar, alat permainan, musik, perempuan melihat lelaki dan sebaliknya dan mengikuti pemikiran musuh-musuh Islam serta hal-hal lainnya. Dan anak ini akan menjadi musuh bagi ayahnya dan tidak bermanfaat pada hari kiamat bahkan akan lari darinya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (‘Abasa: 34-37)

Maka barangsiapa yang diberi musibah dengan anak yang durhaka hendaknya ia berdo’a kepada Rabbnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Hendaknya kasih sayang orang tua harus dalam batasan syari’at dan tidak boleh melakukan perbuatan yang haram demi anak.

***

Disalin dari terjemahan kitab Nashihati lin Nisaa’, oleh Syaikhoh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh (putri Syaikh Muqbil al-Wadi’i rohimahulloh), Pustaka Sumayyah. Artikel ummushofi.wordpress.com.

sumber: https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/niswah/587-prinsip-prinsip-dalam-mendidik-anak?pid=lesson

Anak-anak Rusak karena Kelalaian Orang Tua

Dari sekian penyebab kerusakan pada anak dan generasi muda, penyebab utamanya adalah kelalaian orang tua dalam mendidik anak mereka, sehingga ketika anak rusak, nakal atau tidak sesuai harapan. JANGANLAH orang tua menyalahkan orang lain baik guru di sekolah atau yang dianggap merusak dan mempengaruhi anaknya, akan tetapi segera orang tua intropeksi diri mereka

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,

ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ

“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.” [1]

Orang tua terlalu sibuk atau malas mendidik anak mereka, serta tidak mengawasi dengan siapa anak-anak bergaul yang bisa mempengaruhi anak-anak. Inilah menjadi penyebab rusaknya anak-anak dan generasi muda. Padahal anak-anak lahir dengan kepolosan dan di atas fitrah. Tidak ada yang lahir kemudian langsung nakal atau rusak akhlaknya

Dua hal yang penting (dari sekian banyak hal yang harus diperhatikan):

1. Orang tua harus mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, adab islam dan akhlak mulia [2]
Jika tidak ada dasar agama, anak bisa jadi sukses dunia tetapi tidak memperhatikan bakti kepada kedua orang tua dan mempunyai adab yang buruk atau menelantarkan orang tua ketika mereka di usia tua
sebagaimana perkataan:

 ﻳﺎﺃﺑﺖ, ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ, ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ

“Wahai ayahku, sungguh engkau mendurhakaiku di waktu kecil maka aku pun mendurhakaimu dikala aku besar. Engkau menelantarkanku di waktu kecil maka aku

terlantarkan engkau di kala tua nanti.” [3]
Sedangkan anak yang baik agamanya ia akan berusaha berbakti kepada orang tua mereka 


2. Orang tua harus memperhatikan  baik-baik, dengan siapa anak-anak bergaul dan lingkungannya
Sebagian orang tua kaget, anak mereka baik di rumah tetapi menjadi rusak di luar rumah. Karena orang tua tidak melarang atau mengarahkan ketika anak-anak mereka ketika berada di lingkungan yang buruk atau teman-teman yang buruk. Anak-anak dan manusia secara umum sangat cepat terpengaruh teman dan lingkungan mereka
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang akan menjadi sahabat kalian ”. [4]

SANGAT PENTING memperhatikan lingkungan dan pertemanan anak-anak kita.
Hendaknya ayah sebagai kepala keluarga benar-benar memperhatikan hal ini. Intropeksi diri dan jauhi maksiat karena maksiat yang suami lakukan bisa berpengaruh buruk pada istri dan anak-anaknya
Sebagian ulama berkata,

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan anak-anakku serta hewan tungganganku.”
Demikian semoga bermanfaat

@Di antara bumi dan langit Allah, Pesawat express Air Yogyakarta-pontianak
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] kewajiban orang tua terutama bapak agar menjaga anak mereka dari api mereka yaitu dengan mengajarkannya,
Allah berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭًﺍ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taahrim:6)
Ar-Razi rahimahullahu menjelaskan ayat ini mengutip perkataan Muqatil rahimahullahu,
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣُﻘَﺎﺗِﻞٌ : ﺃَﻥْ ﻳُﺆَﺩِّﺏَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﺃَﻫْﻠَﻪُ، ﻓَﻴَﺄْﻣُﺮَﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻫُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸَّﺮِّ
“ seorang muslim mendidik dirinya dan keluarganya , memerintahkan mereka kebaikan dan melarang dari keburukan”. ( Mafaatihul Ghoib Tafsir Ar-Roziy 30/527 ,

Dar Ihya’ At-Turats, cet-ke-3, 1420 H, Asy- Syamilah)

[2] Tuhfatul Maulud hal. 387
[3] idem
[4] HR Abu Dawud no. 4833,dihasankan oleh syaikh Al-Albani.

sumber: https://muslimafiyah.com/anak-anak-rusak-karena-kelalaian-orang-tua.html

Bagaimana Mencetak Anak Shalih?

Bagaimana mencetak anak shalih? Semua orang yang telah menikah dan memiliki anak pasti menginginkan anaknya jadi shalih dan bermanfaat untuk orang tua serta agamanya. Karena anak jadi penyebab bagi orang tua untuk terus mendapat manfaat lewat doa dan amalannya, walau orang tua telah tiada. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shalih.” (HR. Muslim no. 1631).

Berarti keturunan atau anak yang shalih adalah harapan bagi setiap orang tua. Terutama ketika orang tua telah tiada, ia akan terus mendapatkan manfaat dari anaknya. Manfaatnya bukan hanya dari doa seperti tertera dalam hadits di atas. Manfaat yang orang tua perolah bisa pula dari amalan anak. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 4: 4, 6043, Tirmidzi no. 1358, dan Ibnu Majah no. 2290. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ada beberapa kiat singkat yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan kali ini.

1- Faktor Utama adalah Doa

Tanpa doa, sangat tak mungkin tujuan mendapatkan anak shalih bisa terwujud. Karena keshalihan didapati dengan taufik dan petunjuk Allah.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’rof : 178)

Karena hidayah di tangan Allah, tentu kita harus banyak memohon pada Allah. Ada contoh-contoh doa yang bisa kita amalkan dan sudah dipraktikkan oleh para nabi di masa silam.

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100).

Doa Nabi Zakariya ‘alaihis salaam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa] (QS. Ali Imron: 38).

Doa ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman),

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al-Furqan: 74)

Yang jelas doa orang tua pada anaknya adalah doa yang mustajab. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karenanya jangan sampai orang tua melupakan doa baik pada anaknya, walau mungkin saat ini anak tersebut sulit diatur dan nakal. Hidayah dan taufik di tangan Allah. Siapa tahu ke depannya, ia menjadi anak yang shalih dan manfaat untuk orang tua berkat doa yang tidak pernah putus-putusnya.

2- Orang Tua Harus Memperbaiki Diri dan Menjadi Shalih

Kalau menginginkan anak yang shalih, orang tua juga harus memperbaiki diri. Bukan hanya ia berharap anaknya jadi baik, sedangkan ortu sendiri masih terus bermaksiat, masih sulit shalat, masih enggan menutup aurat. Sebagian salaf sampai-sampai terus menambah shalat, cuma ingin agar anaknya menjadi shalih.

Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih, pen.).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

Bukti lain pula bahwa keshalihan orang tua berpengaruh pada anak, di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang yang shalih. Silakan lihat dalam surat Al-Kahfi,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih.” (QS. Al-Kahfi: 82). ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah, pen.), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

3- Pendidikan Agama Sejak Dini

Allah memerintahkan pada kita untuk menjaga diri kita dan anak kita dari neraka sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (7: 321), ‘Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah,

أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

“Ajarilah adab dan agama pada mereka.” Tentang shalat pun diperintahkan diajak dan diajarkan sejak dini. Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Tentang adab makan diperintahkan untuk diajarkan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada ‘Umar,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Bukan hanya shalat dan adab saja yang diajarkan, hendaklah pula anak diajarkan untuk menjauhi perkara haram seperti zina, berjudi, minum minuman keras, berbohong dan perbuatan tercela lainnya. Kalau orang tua tidak bisa mengajarkannya karena kurang ilmu, sudah sepatutnya anak diajak untuk dididik di Taman Pembelajaran Al-Qur’an (TPA) atau sebuah pesantren di luar waktu sekolahnya. Moga kita dikaruniakan anak-anak yang menjadi penyejuk mata orang tuanya. Al-Hasan Al-Bashri berkata,

لَيْسَ شَيْءٌ أَقَرُّ لِعَيْنِ المؤْمِنِ مِنْ أَنْ يَرَى زَوْجَتَهُ وَأَوْلاَدَهُ مُطِيْعِيْنَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.” (Disebutkan dalam Zaad Al-Masiir pada penafsiran Surat Al-Furqan ayat 74) Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi Utama:

Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarh An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fiqh 

Tarbiyah Al-Abna’. Cetakan tahun 1423 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab.

—

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin

Selesai disusun di hari Jumat, 18 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/12012-bagaimana-mencetak-anak-shalih.html

Parenting Islami: Jangan Mendoakan Keburukan Pada Anak

Setiap orang tua tentu tidak menginginkan keburukan pada anaknya. Ini merupakan fitrah yang Allah Ta’ala tanamkan sebagai salah satu tanda dari sifat rahmah Allah Ta’ala.

Terdapat dalam shahihain, dari ‘Umar bin Al–Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– بِسَبْىٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْىِ تَبْتَغِى إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِى السَّبْىِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِى النَّارِ ». قُلْنَا لاَ وَاللَّهِ وَهِىَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh banyak tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari mereka yang mencari bayinya dalam kelompok tawanan tersebut. Kemudian dia mengambil bayi itu, memeluknya kemudian menyusuinya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami, “Menurut kalian, apakah perempuan ini tega melemparkan anaknya itu ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Demi Allah, tidak akan melemparkannya ke api selama dia masih mampu untuk tidak melemparnya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada para hamba–Nya, melebihi kasih sayang perempuan ini terhadap anaknya.” (HR. Bukhari no 5999 dan Muslim no. 2754).

Demikianlah fitrah orang tua yang akan senantiasa menyayangi anaknya. Keselamatan sang anak menjadi suatu hal yang selalu terngiang di benaknya. 

Pada seri sebelumnya telah dipaparkan beberapa kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendoakan kebaikan untuk anak keturunan beliau secara khusus dan anak kaum muslimin secara umum. Kebalikan dari hal tersebut, wahai para orang tua, berhati-hatilah dan waspadalah dari mendoakan keburukan kepada anak-anak kita. Karena boleh jadi doa (atau ungkapan) buruk kita tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa. Sehingga doa buruk tersebut pun terkabul dan kita akhirnya akan memetik hasilnya.

Terkait hal ini terdapat sebuah hadits yang panjang di kitab Shahih Muslim. Berikut ini kami cuplikkan petikan kisah ringkasnya.

Ada seorang lelaki yang berucap kepada untanya,

شَأْ لَعَنَكَ اللَّهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « مَنْ هَذَا اللاَّعِنُ بَعِيرَهُ ». قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « انْزِلْ عَنْهُ فَلاَ تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ ».

“Hus (kalimat hardikan kepada unta agar jalannya cepat -pen), semoga Allah melaknatmu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang melaknat untanya itu?” Lelaki itu menjawab, “Aku, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Turunlah (dan turunkanlah barang-barangmu darinya -pen) [1] Janganlah Engkau menyertai sesuatu yang terlaknat. Janganlah Engkau mendoakan keburukan untuk dirimu sendiri. Janganlah Engkau mendoakan keburukan kepada anak-anakmu. [2] Jangalah engkau mendoakan keburukan pada harta-hartamu [3]. Agar (doa tersebut) tidak bertepatan dengan saat-saat di mana Allah memberikan dan mengabulkan doa dan permintaan kalian.” (HR. Muslim no. 3009).

Guru kami, Ustadz Aris Munandar hafizhahullah, menceritakan sebuah kisah berikut.

Perlu diketahui bahwa salah satu kebiasaan orang Arab yang mengenal agama Islam ketika mereka sedang marah besar, mereka sering mengucapkan ‘Allahu Yahdik’ (Semoga Allah Ta’ala memberikanmu hidayah). Kalimat ini secara bahasa tidak mengandung makna keburukan. Namun berdasarkan adat kebiasaan orang Arab, kalimat ini merupakan ungkapan kemarahan mereka.

Disebutkan bahwa salah satu sebab Syaikh Muqbil bin Hadi Al–Wadi’i rahimahullah menjadi seorang ulama besar ahlu sunnah adalah bahwa orang tuanya pernah marah besar kepadanya lantas mengucapkan, “Allahu Yahdik.” Kemudian Allah Ta’ala pun mengabulkan doa orang tua beliau sehingga kita mengenal beliau merupakan salah seorang ulama besar ahlu sunnah yang tidak tercemar lingkungan syi’ah zaidiyah.

Oleh karena itu, mari jaga lisan kita dari mengucapkan doa atau ungkapan keburukan pada anak keturunan kita. Marilah kita ganti doa keburukan tersebut dengan ucapan yang baik, walaupun kita sedang marah besar kepada anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ثَلَاثُ دَعْوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ المُسَافِرِ وَ دَعْوَةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ.

“Tiga doa yang akan dikabulkan dan tidak ada keraguan pada terkabulnya: doa orang yang dizhalimi, doa orang yang safar dan doa kebaikan orang tua kepada anaknya.” (HR. Muslim no. 3009).

Mudah-mudahan kita dapat mengamalkannya.

Disempurnakan menjelang isya, Rotterdam 5 Shafar 1438

***

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Sebagai hukuman bagi lelaki tersebut.

[2] Misalnya dengan mengatakan kepada anak kita,”Bodoh kamu!”

[3] Salah satu contoh doa keburukan pada harta adalah laknat pada kendaraan.

sumber: https://muslimah.or.id/9095-parenting-islami-5-jangan-mendoakan-keburukan-pada-anak.html

Memperlakukan Anak Dengan Lemah Lembut Tanpa Kekerasan

Sebuah tragedi memilukan dan susah untuk dipahami. Seorang anak kecil tewas terbunuh oleh orang tuanya sendiri, lantaran orang tua gregetan atas tangisan sang anak yang tidak segera berhenti. Sang ayah pun “memperlihatkan” kekuatannya, sehingga darah dagingnya tersebut menghembuskan nafas terakhir, di tangan orang tuanya sendiri.

Kisah memilukan semacam ini bukan imajinatif, tetapi pernah terjadi. Sebuah tindak kekerasan orang tua di lingkungan keluarga. Yang semua terjadi karena sikap emosi dan ketidak sabaran. Padahal, tubuh mungil itu seharusnya mendapatkan belaian kasih sayang. Karena kewajiban bagi orang tua untuk memberikan bimbingan bagi anak, sebagai implementasi amanah yang dibebankan kepada orang tua. Meski saat menghadapi sang anak, tak mustahil orang tua merasa kewalahan karena perilaku yang tidak menyenangkan dari si anak. Begitulah, anak yang merupakan amanah, tetapi juga bisa menjadi sumber cobaan.

ANAK MERUPAKAN AMANAH, SEKALIGUS SUMBER COBAAN 
Sebagai konsekuensi dari amanah, orang tua dituntut untuk memberikan perhatian, mencurahkannya kepada sang buah hati dengan penuh kesungguhan. Baik yang berbentuk material maupun psikis. Orang tua harus mempunyai kewajiban memberi bimbingan demi kebaikan dan keselamatan anak. Secara implisit, di dalam al Qur`an surat Tahrim ayat 6, Allah telah mengingatkan pentingnya hal ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” [at Tahrim : 6].

Setelah mengetengahkan ayat di atas, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengatakan: “Ibu, ayah, guru dan masyarakat bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak tentang pendidikan generasi penerus mereka. Jika mereka telah melaksanakan yang terbaik, niscaya sang anak dan mereka akan bahagia di dunia dan akhirat. Tetapi apabila melalaikan pembinaannya, niscaya akan celaka, dan dosa akan berada di pundak-pundak mereka”.[1]

Anak, selain berfungsi sebagai penyejuk mata orang tuanya, juga bisa berperan menjadi fitnah yang bisa menggoda, bahkan berpotensi menjerusmuskan orang tuanya menuju jurang kenistaan. Cobaan ini bisa terjadi, lantaran fitrah orang tua yang sangat mencintai anak-anaknya, sehingga terkadang apapun yang menjadi tuntutan kebutuhan sang anak, selalu berusaha dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan tanpa reserve ini bisa menjadi salah satu sumber fitnah ini, tak mustahil membebani kemampuan orang tua, sehingga tatkala tak terpenuhi, ia bisa menimbulkan intrik (masalah).

Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam al Qur`an memperingatkan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadapnya …” [at Taghabun : 14].

Syaikh as Sa’di menyatakan: “Ini merupakan peringatan Allah bagi kaum Mukminin agar tidak terjerumus oleh tipuan istri dan anak-anaknya. Sebab, sebagian mereka bisa berperan sebagai musuh. Dan musuh adalah sosok yang menginginkan kejelekan bagimu. Maka tugasmu adalah, mewaspadai anggota rumah tangga dari sifat tersebut. Sementara tabiat jiwa manusia berkecenderungan mencintai istri dan anak-anak…”[2]

KASIH-SAYANG MERUPAKAN PRINSIP ISLAM[3] 
Sifat rahmat dalam agama kita cakupannya meliputi dunia dan akhirat, manusia, hewan, bangsa burung dan lingkungan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmatku meliputi sagala sesuatu.” [al A’raf : 156].

Dalam ayat di atas, Allah menyifati diriNya dengan sifat rahmat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. [al Anbiya’ : 107].

Kata al ‘alamin dalam ayat di atas bersifat umum, menyangkut manusia, jin, hewan, burung, binatang-binatang penghuni daratan maupun lautan. Allah l memerintahkan (kaum Muslimin) bersikap kasih-sayang dalam segala hal dan tindakan. Semakin lemah seorang makhluk (manusia), maka curahan kasih dan sayang padanya mesti lebih besar, dan kelembutan kepadanya lebih dituntut lagi. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang menghardik anak yatim dan berbuat jahat kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

”Dan adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau bertindak sewenang-wenang”. [adh Dhuha:9].

Siapapun menyukai kelembutan dan sikap simpatik. Hal ini sudah menjadi tabiat manusia, mereka lebih menyenangi sosok-sosok yang penampilannya sejuk tidak angker. Cerminan implemenatsi kasih-sayang ini telah dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau mencela orang yang tidak mempunyai rasa kasih-sayang pada anak-anaknya.

Imam al Bukhari menuliskan sebuah judul, bab rahmatu al waladi wa taqbilihi wa mu’anaqatihi, (bab kasih-sayang pada anak, menciumi dan memeluknya). Dalam bab ini, Imam al Bukhari membawakan sebuah hadits yang menceritakan, bahwa suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan seorang sahabat yang bernama Aqra’ bin Habis. Ia melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mencium al Hasan (cucunya). Maka ia berkomentar: “Aku mempunyai sepuluh orang anak, (namun) aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak disayangi”.[4]

BUKAN KEKERASAN, TETAPI LEMAH-LEMBUT 
Di tengah keluarga, anak-anak juga mempunyai hak layaknya anggota keluarga lainnya. Terutama hak untuk meraih hangatnya kasih-sayang dari orang tua atau pun penghuni rumah yang lain. Anak-anak meruapakan bagian dari keluarga yang mendapatkan perhatian dan kasih-sayang penuh, supaya pertumbuhan jasmani dan psikisnya baik.

Semakin lemah seorang makhluk (manusia), maka curahan kasih dan sayang, sikap lemah-lembut kepadanya, semestinya lebih besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencurahkan perhatian ekstra terhadap anak-anak, wanita dan orang tua renta, atau orang yang belum tahu (jahil).

Sebagai contoh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencaci-maki orang badui yang kencing di masjid, juga tidak memukulnya. Sebab orang tersebut belum mengetahui hukum dan kondisi. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap kasar kepadanya, justru melarang sebagian sahabat yang berniat untuk menghentikan polahnya yang tidak terpuji di masjid.[5]

Demikian juga, saat mengomentari kesalahan sahabat Mu’awiyah bin Hakam as Sulami yang mendoakan orang yang bersin di tengah shalat. Usai shalat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menasihati : “Ini adalah shalat, tidak pantas di dalamnya diucapkan omongan-omongan dengan orang. (Yang dikerjakan) hanya mengucapkan tasbih, takbir dan membaca al Qur`an”.

Begitu melihat lembutnya teguran Nabi, maka ia pun berkata : “Aku tebus engkau dengan ayah dan ibuku. Aku tidak pernah melihat pendidik sebelum dan sesudah itu yang lebih baik cara mendidiknya dibandingkan beliau. Beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, (juga) tidak mencaci makiku”.[6]

Itulah karakter yang mendominasi pribadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi uswah (teladan) bagi seorang guru, pendidik ataupun orang tua. Sifat kelembutan dan kasih-sayang menjadi simbol, apalagi kepada anak-anak. 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Dan sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan mengingat Allah dengan banyak”. [al Ahzab : 21].

Apabila rasa cinta, kasih sayang orang tua (dan pendidik) kurang tercurahkan pada diri anak-anak, tak mustahil sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang berperi laku aneh di tengah komunitasnya, yaitu kawan-kawannya. Misalnya tidak pandai berinteraksi dengan orang luar, kurang memiliki kepercayaan diri, kurang memiliki kepekaan social, tidak mampu menumbuhkan semangat gotong-royong ataupun pengorbanan. Kelak, kadang-kadang ia tidak bisa menjadi seorang ayah yang penyayang, atau pasangan yang baik interaksinya, juga tidak bisa berperan sebagai tetangga yang enggan mengganggu tetangganya, dan efek negatif lainnya. Sebab itu, merupakan kewajiban bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan cinta dan kasih kepada anak-anaknya.[7]

KEZHALIMAN AKAN MENDAPAT BALASAN 
Islam memberlakukan juga cara mendidik anak dengan sanksi (iqab). Namun bentuk-bentuk sanksi itu merupakan pilihan terakhir, dan harus sesuai dengan rambu-rambu yang telah digariskan Islam. Orang tua (setiap muslim) tidak boleh bertindak aniaya kepada siapa saja, apalagi menjadikan anak-anak sebagai obyek pelampiasan kemarahan, kompensasi dari stress ataupun kejengkelan yang sedang menyelimuti kepala orang tua. Menghukum orang dewasa yang tidak bersalah saja dilarang keras oleh Islam, apalagi menghukum anak-anak yang masih kecil yang tidak berdosa dan tidak berbuat salah.

Tindakan semena-mena yang dilakukan oleh oknum orang tua, ibu atau ayah, baik yang bersifat fisik, emosi ataupun psikis, tetap saja termasuk dalam kategori kezhaliman, yang akan dimintai tanggung jawabnya kelak di Akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Maka, demi Rabb-mu, Kami pasti akan menanyai mereka semua”. [al Hijr : 92].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam hadits hasan riwayat an Nasa-i : “Sesungguhnya Allah akan menanyakan setiap penggembala (setiap orang yang diamanahi dengan tanggung jawab) tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya, apakah ia memeliharanya atau menyia-nyiakannya?”

Abu Mas’ud al Badri Radhiyallahu ‘anhu pernah mengisahkan:

كُنْتُ أَضْرِبُ غُلَامًا لِي بِالسَّوْطِ فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ فَلَمْ أَفْهَمْ الصَّوْتَ مِنْ الْغَضَبِ قَالَ فَلَمَّا دَنَا مِنِّي إِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَقُولُ اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ قَالَ فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِي فَقَالَ: اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ أَنَّ اللَّهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلَامِ قَالَ فَقُلْتُ لَا أَضْرِبُ مَمْلُوكًا بَعْدَهُ أَبَدًا. و في رواية : فَسَقَطَ مِنْ يَدِي السَّوْطُ مِنْ هَيْبَتِهِ

“Aku pernah memukul budak lelakiku. Kemudian aku mendengar suara dari belakang yang berbunyi : “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud,” aku tidak memahami suara itu karena larut dalam emosi. Tatkala orang itu mendekat, ternyata adalah Rasulullah. Beliau berkata : “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud. Sesungguhnya Allah lebih kuasa menghukummu daripada dirimu terhadap budak lelaki itu”. Ia kemudian berkata : “Setelah itu, aku tidak pernah memukul seorang budak pun”. Dalam riwayat lain : “Cambukku terjatuh dari tanganku karena kewibawaan beliau”.[8]

EFEK NEGATIF KEKERASAN PADA ANAK DALAM RUMAH TANGGA 
Orang tua yang sukses dalam mendidik anak harus menjauhi cara-cara hukuman fisik. Impian setiap pasangan adalah, anak-anak mereka tumbuh dan berkembang secara optimal, agar kelak menjadi manusia yang memiliki kepribadian matang.

Kekerasan, disamping merupakan tindakan itu sia-sia, hal itu juga berbahaya bagi pelaku dan obyeknya. Metode mendidik dengan tindakan fisik, seperti menampar, mencubit atau memukul tidak efektif memberikan penyadaran. Justru yang sangat mungkin akan menimbulkan luka batin, trauma, serta mengganggu pertumbuhan kepribadian anak. Dia akan menjadi pendiam dengan menyimpan kebencian karena karakternya sudah hancur oleh penghinaan dan ejekan [9]. Atau sebaliknya, sang anak menjadi hiperaktif atau dia justru mengalami depresi. Sangat mungkin pula terjadi, anak menjadi dendam saat beranjak dewasa nanti atas perlakuan orang tuanya yang menyakitkan.

Bahkan kemungkinan juga terjadi cacat fisik atau kematian. Pada saat itulah akan muncul penyesalan, namun nasi sudah menjadi bubur.

Layak untuk direnungkan perkataan Ibnu Khaldun : “Barangsiapa yang pola asuhannya dengan kekerasan dan otoriter, baik (ia) pelajar atau budak ataupun pelayan, (maka) kekerasaan itu akan mendominasi jiwanya. Jiwanya akan merasa sempit dalam menghadapinya. Ketekunannya akan sirna, dan menyeretnya menuju kemalasan, dusta dan tindakan keji. Yakni menampilkan diri dengan gambar yang berbeda dengan hatinya, lantaran takut ayunan tangan yang akan mengasarinya”.[10]

Oleh karenanya, untuk menjadi perhatian kita, bahwa : 
1. Berinteraksi dengan anak kecil harus dilandasi dengan sifat kasih sayang dan cinta. Kekerasan hanya akan menimbulkan efek yang negatif bagi anak. 
2. Islam melindungi hak-hak anak-anak. 
3. Setiap apa yang kita lakukan, termasuk kezhaliman, maka perbuatan seperti ini akan mendapat balasan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] 
________ 
Footnote 
[1]. Kaifa Nurabbi Auladana, hlm. 22. 
[2]. Taisiru al Karimi ar Rahman, hlm. 868. 
[3]. Pembicaraan tentang rahmat disarikan dari tulisan ar Rahimuna Yarhamuhu ar Rahman, Syaikh Dr. Muhamammad bin Musa bin Nashr, Majalah al Ashalah, edisi 21, Th. IV, Rabi’ul Akhir 1420H, secara ringkas, Ithafu al Khiayarari al Maharati fi Ma’rifati Wasaili at Tarbiyah al Muatstsirah, hlm. 6-61. 
[4]. Shahih al Bukhari, kitab al Adab, 18, bab Rahmatu al Waladi wa Taqbilihi wa Mu’anaqatihi; Muslim, kitab al Fadhail no (65). 
[5]. HR Muslim no. 285. 
[6]. HR Muslim no. 537. 
[7]. Lihat Ushul at Tarbiyah al Islamiyyah, karya Abdur Rahman an Nahlawi, hlm. 137. 
[8]. HR Muslim no. 3135. 
[9]. Kaifa Nurabbi Waladaka, hlm. 92. 
[10]. Al Muqaddimah, 540. Lihat pula Kaifa Nurabbi Waladaka, karya Laila bintu Abdir Rahman al Juraiba, hlm. 91.

sumber: https://almanhaj.or.id/2627-memperlakukan-anak-dengan-lemah-lembut-tanpa-kekerasan.html