Inilah Kisah Ulama’ serta Bakti Mereka kepada Orangtua yang akan membuatmu meneteskan air mata

Wahai saudraiku, kini kan kuhadirkan untukmu nukilan kisah para ulama serta amalan bakti mereka kepada orangtuanya. Merekalah orang yang berilmu, lagi paling mengetahui hak-hak yang besar yang dimiliki orangtua atas diri-diri mereka. Betapa mereka sangat perhatian dengan hal ini, karena bakti mereka kepada orangtua adalah pembuka jalan menuju surga. Semoga nukilan kisah ini kan menjadi cerminan, bagaimana seharusnya kita memperlakukan orangtua, sebagaimana yang dilakukan para ulama.

1. Iyas bin Mu’awiyyah

Ketika ibu beliau meninggal, beliaupun menangis. Orang yang mengetahui hal itupun bertanya kepada beliau yang mungkin didorong rasa heran karena melihat seorang yang ‘alim di antara mereka tak mampu menahan airmatanya tatkala mendapati ibunya telah meninggal. “Mengapa Anda menangis?”. Maka Iyas bin Mu’awiyyah menjawab,”Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka untuk menuju surga, namun kini salah satunya telah terkunci.”

Wahai Saudariku, lihatlah betapa sedihnya salah seorang ulama kita ini ketika ibunya meninggal dunia. Lalu bagaimana kiranya dengan kita, adakah rasa sedih kehilangan pintu surga sebagaimana yang dirasakan Iyas bin Mu’awiyyah tatkala salah satu dari keduanya meninggal? Lalu tak lebih bersedihkah kita tatkala tak lagi mendapati dua pintu surga karena kedua orangtua kita telah tiada?

2. Abu Hanifah

Sesungguhnya ibu dari Abu Hanifah pernah bersumpah dengan satu sumpah, kemudian dia melanggarnya. Maka sang ibu pun meminta fatwa kepada anaknya, Abu Hanifah. Namun ternyata ibunya merasa tidak mantap dengan fatwa yang diberikan anaknya.
Ibunya berkata,”Aku tidak merasa ridha, kecuali dengan mendengar langsung fatwa dari Zur’ah Al-Qash!”
Maka Abu Hanifah pun mengantar ibunya untuk meminta fatwa kepada Zur’ah. Namun Zur’ah Al-Qash mengatakan,”Wahai Ibu, engkau meminta fatwa kepadaku, sementara di depanku ada seorang yang paling alim di kota Kuffah?!”
Abu Hanifah pun berkata dengan berbisik kepada Zur’ah, “Berilah fatwa kepadanya demikian dan demikian” (sebagaimana fatwa Abu Hanifah kepada ibunya), kemudian Zur’ahpun memberikan fatwa hingga ibu Abu Hanifah merasa ridha!

Wahai saudariku, inilah sikap bakti Abu Hanifah kepada ibunya. Rasa cinta dan baktinya kepada sang ibu tidaklah membuatnya merasa gengsi tatkala sang ibu menginginkan fatwa dari orang lain yang tingkatan ilmunya justru lebih rendah dari Abu Hanifah. Dan lihatlah, beliau sama sekali tak merasa sombong dan angkuh di hadapan ibunya meski orang lain telah mengakui kefaqihannya dalam memahami ilmu syar’i.

Dalam kisah yang lain, Abu Yusuf menyampaikan, “Aku menyaksikan Abu Hanifah rahimahullahu ta’ala menggendong ibunya naik ke atas keledai untuk menuju majelisnya ‘Umar bin Dzar, dikarenakan ia tak ingin menolak perintah ibunya.” Adapun yang dimaksud adalah Ibu Abu Hanifah menyuruh beliau untuk bertanya kepada ‘Umar bin Dzar tentang kepentingan ibunya.

3. Manshur bin Al-Mu’tamar

Muhammad bin Bisyr Al-Aslami berkata,”Tidaklah didapati orang yang paling berbakti kepada ibunya di kota Kuffah ini selain Manshur bin Al-Mu’tamar dan Abu Hanifah. Adapun Manshur sering mencari kutu di kepala ibunya, dan menjalin rambut ibunya.”

Wahai saudariku, perhatikanlah bakti Manshur kepada ibunya, yang menyempatkan dirinya untuk mencari kutu dan menjalin rambut sang ibu. Betapa amalan itu mungkin remeh di mata kita, namun begitu besar di mata Manshur. Bahkan perbuatannya tersebut tidaklah membuatnya merasa turun harga dirinya disebabkan beliau seorang laki-laki.

Lalu bagaimana denganmu wahai saudariku, yang tentu engkau lebih layak untuk mengerjakannya karena engkau adalah seorang wanita?
Tidakkah kau lihat rambut ibumu yang mulai kusut dan tak tertata karena tak mampu merawatnya, sementara engkau hanya diam terpaku membiarkannya begitu saja?

4. Haiwah bin Syarih

Suatu hari Haiwah bin Syarih –beliau salah seorang imam kaum muslimin- duduk dalam majelis beliau untuk mengajarkan ilmu kepada manusia. Lalu ibunya berteriak memanggil beliau, “Berdirilah wahai Haiwah, beri makan ayam-ayam itu!”
Lalu beliaupun berdiri dan meninggalkan majelisnya untuk memberi makan ayam.

Kembali kita bercermin kepada Haiwah bin Syarih, panggilan ibunya untuk memberi makan ayam tidaklah membuat beliau malu dan merasa turun derajatnya di hadapan murid-murid beliau. Justru saat itulah beliau memberikan keteladanan yang besar kepada murid-muridnya akan kewajiban berbakti kepada orangtua dan lebih mendahulukan orangtua dibandingkan dengan orang lain. Bagaimana seandainya hal itu terjadi pada dirimu wahai saudariku? Akankah engkau bergegas untuk menyambut perintah orangtuamu?

5. Muhammad bin Al-Munkadir

Muhammad bin Al-Munkadir pernah menceritakan, “’Umar (saudara beliau) menghabiskan malam dengan mengerjakan sholat malam, sedangkan aku menghabiskan malamku untuk memijat kaki ibuku. Dan aku tidaklah ingin malamku itu diganti dengan malamnya ‘Umar.”

Melalui nukilan ini, Muhammad bin Al-Munkadir telah memberikan petuah secara tak langsung kepada kita, bahwa bakti kepada orangtua itu lebih besar pahalanya dari pada mengerjakan amalan sunnah. Bahkan meskipun amalan sunnah itu adalah sholat malam yang dilakukan semalam suntuk yang engkau pasti tahu sholat malam merupakan sholat sunnah yang paling utama. Oleh karena itu, tatkala orangtuamu menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak melanggar aturan syariat, sementara engkau dalam keadaan melakukan amalan sunnah, maka segera sambut mereka, dan batalkan amalan sunnah tersebut untuk sementara.

6. Imam Ibnu ‘Asakir

Al-Imam Ibnu ‘Asakir pernah ditanya tentang sebab mengapa beliau terlambat dalam menuntut ilmu di Asbahan, maka beliau menjawab,”Ibuku tidak mengizinkanku.”

7. Imam Adz-Dzahabi

Beliau pernah mengisahkan bahwa beliau membaca Al-Qur’an kepada Syaikhnya yang bernama Syaikh al-Fadhili. Kemudian beliau berkata,”Ketika guru kami (Al-Fadhili) meninggal, sementara aku belum selesai membaca Al-Qur’an dengannya, akupun merasa sedih. Kemudian ada orang yang menyampaikan kepadaku bahwa Abu Muhammad Al-Makin Al-Asmar yang tinggal di Iskandariyah memiliki sanad yang lebih tinggi daripada Al-Fadhili.” Imam Adz-Dzahabi berkata,”Maka semakin bertambahlah kesedihanku karena ayahku tidak mengizinkanku melakukan safar ke kota Iskandariyah.

Adz-Dzahabi menyampaikan dalam biografi ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Latif Al-Baghdadi, “Aku merasa sedih ketika bepergian kepadanya, tidaklah aku menyeberangi jembatan, karena khawatir dengan ayahku. Sesungguhnya dia telah melarangku.”

Adz-Dzahabi pernah mengadakan perjalanan menuju salah seorang imam dan tinggal di tempat imam tersebut selama beberapa waktu, lalu beliau berkata,”Aku telah berjanji dan bersumpah kepada ayahku, bahwa aku tidak akan tinggal dalam perjalanan ini lebih dari 4 bulan, sehingga aku khawatir menjadi anak durhaka.”

Lihatlah bagaimana sikap Imam Ibnu ‘Asakir dan Adz-Dzahabi yang begitu perhatian dengan izin dari orangtuanya. Begitu beratnya mereka untuk pergi, bahkan untuk menuntut ilmu sekalipun, ketika orangtuanya tak memberikan izin kepada mereka. Betapa takutnya mereka menjadi anak durhaka, hanya karena melanggar sedikit dari janji yang sudah disepakati dengan orangtuanya.

Lalu, mari kita lihat keadaan di zaman ini. Betapa banyak kita dapati muslimah (kecuali mereka yang dirahmati Allah), pergi ke suatu tempat tanpa meminta izin dulu kepada orangtuanya. Berangkat tak pamit, pulang tak jelas jam berapa. Tidakkah mereka berpikir, betapa orangtuanya merasa gelisah kebingungan mencari anak gadisnya yang tak kunjung pulang?

Wahai saudariku, apa lagi yang engkau tunggu? Segeralah berbuat baik kepada kedua orangtuamu. Karena apabila engkau mengerahkan seluruh tenaga untuk berbakti kepada mereka, niscaya itu tidak akan mampu menyaingi kebaikan mereka ketika mendidik dan merawatmu saat masih kecil.

Bergegaslah untuk mengunjungi mereka andai engkau telah lama tak berjumpa. ..
Bergegaslah untuk menelepon mereka andai lama engkau tak mendengar kabarnya…
Mintalah mereka untuk menghabiskan masa tuanya bersamamu…
Rawatlah mereka dengan penuh ketulusan. Bersihkan kotoran yang melekat pada badan dan pakaian mereka dengan keikhlasan andai mereka telah renta…
Tatalah ruangan mereka, beri pencahayaan yang cukup, dan perhatikanlah kebersihan ruangannya.
Ciumlah kening mereka dengan penuh ketulusan dan harapkanlah pahala dari Allah atas segala baktimu. Perlakukan mereka sebagaimana hamba memuliakan raja dan ratu…
Janganlah sampai kau perlakukan mereka layaknya seorang pembantu yang bisa kau suruh untuk menbantu pekerjaan rumah tanggamu. Na’udzubillahi min dzalik.
Dakwahi dengan kelembutan serta akhlak yang baik andai mereka belum mendapatkan hidayah-Nya.
Segeralah meminta maaf andai engkau pernah mengucapkan kata-kata dan berlaku kasar yang membuat mereka tak ridha.
Saudariku, mungkin engkau tak akan lama lagi melihat wajah mereka.
Lihatlah kulit-kulit mereka yang mulai kisut…
Kening-kening mereka yang mulai mengerut…
Raga yang tak lagi kuat dan sebentar lagi kan menantang maut..
Adakah engkau telah membuat mereka bahagia?
Sudahkah engkau melukiskan tawa di bibir mereka?
Atau justru engkau telah membuat mereka menangis karena tingkahmu yang tak menyenangkan mereka??

Wahai saudariku, lekaslah redakan tangis mereka.
Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasehatkan hal demikian kepada salah seorang yang datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda,”Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis..” (HR. Imam Abu Dawud dan An-Nasa-i)

Ya Robbi, ampunilah dosaku dan ampunilah dosa kedua orangtuaku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.

Semoga kita dimudahkan untuk mempersembahkan bakti kepada kedua orangtua, sebagaimana bakti para ulama pada orangtuanya.. Aamiin..

Di Penghujung Rindu kepada Ayah dan Ibu,
Yogyakarta, 11 Dzulqo’idah 1432 H.

***
Penulis: Nunung Wulandari
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits
Sumber: https://muslimah.or.id/2716-meneladani-bakti-ulama-pada-orangtua.html

Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama

Saat ini, ilmu agama bukanlah prioritas utama bagi sebagian umat Islam. Tentu karena mereka tidak tahu harga dan hakikatnya. Para ulama, dari zaman sahabat Nabi ﷺ hingga saat ini, menunjukkan keseriusan yang begitu besar dan usaha yang begitu hebat untuk mempelajari agama. Usaha mereka ini, memberikan pemahaman kepada kita seberapa besar kedudukan ilmu agama menurut mereka. Seberapa mahal ilmu itu hingga layak dicurahkan usaha yang keras untuk mendapatkannya. Karena inilah ilmu tentang firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ.

Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwasaya Umar bin al-Khattab berkata, “Aku dan tetanggaku seorang Anshar (yakni Aus bin Khauli), seorang dari bani Umayyah bin Zaid, kami saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Ia datang pada suatu hari dan aku pada hari lainnya. Apabila aku yang menghadiri majelis, akan aku sampaikan kepadanya tentang wahyu dan penjelasan lainnya pada hari itu. Apabila ia yang datang, ia pun melakukan hal yang sama.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm 89).

Umat bergantian dengan tetangganya karena mereka meluangkan waktu antara belajar agama dan mencari nafkah. Kalau hidup di dunia yang fana ini butuh usaha untuk mencukupinya, tentu kehidupan akhirat yang kekal butuh usaha ekstra untuk bekalnya.

Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita tentang perjalannya mempelajari agama. Mengambil bagian dari warisan Rasulullah ﷺ. Ia berkisah, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang laki-laki Anshar, ‘Wahai Fulan, marilah kita bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi ﷺ, mumpung mereka masih banyak (yang hidup) saat ini’. ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah ﷺ sebagaimana yang kaulihat?’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Aku pun meninggalkannya. Aku mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Ternyata dia sedang tidur siang. Lalu aku rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai ia keluar.

Ketika ia keluar, ia terkejut dengan kehadiranku. Ia berkata, ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah ﷺ. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku.

‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku.

Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tadi) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih cerdas daripad aku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan kisah ini, kisah kesungguhannya belajar agama. “Aku pernah datang ke rumah Ubay bin K’ab. Saat itu ia sedang tidur. Kutunggu ia sambil tidur siang di depan pintu rumahnya. Kalau Ubay tahu, pasti dia membangunkanku, karena dekatnya kedudukanku (sepupu) dengan Rasulullah ﷺ. Tapi aku tidak suka mengandalkan hal itu”.

Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhuma menyatakan, “Aku mendekati tokoh-tokoh sahabat Rasulullah ﷺ dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Aku bertanya kepada mereka tentang peperangan Rasulullah ﷺ dan tentang ayat-ayat Alquran. Setiap sahabat yang kudatangi pasti senang dengan kedatanganku karena kedekatan nasabku dengan Rasulullah ﷺ. Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang dalam ilmunya. Aku bertanya tentang ayat-ayat Alquran yang turun di Madinah. Ia menjawab, ‘Di Madinah diturunkan 27 surat, dan selainnya di Mekah’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 2/371).

Asy-Sya’bi

Beliau adalah seorang ulama tabi’in. Ia pernah ditanya, “Dari mana kau peroleh seluruh ilmumu?” Ia menjawab, “Dengan cara tidak bersandar (bermalas-malasan). Bersafar ke berbagai daerah. Sabar, sebagaimana sabarnya keledai. Bersegera sedari pagi sebagaimana burung gagak”. (adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh, 1/81).

Imam asy-Syafi’i

Lihatlah bagaimana Imam asy-Syafi’i berlelah letih dalam belajar, hingga ia mencapai derajat yang kita ketahui saat ini. Beliau rahimahullah bercerita tentang proses belajarnya, “Aku telah menghafalkan Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal al-Muwaththa (buku hadits yang disusun Imam Malik) saat berusia 10 tahun.” (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/366).

Menurut sebagian orang, alangkah beratnya masa kanak-kanak Imam asy-Syafi’i. Namun apa yang ia capai di masa kecil melahirkan orang sekelas dirinya di saat dewasa. Melalui dirinya, Allah ﷻ memberikan manfaat kepada umat manusia. Kemanfaatan berupa ilmu. Tidak hanya untuk orang-orang di zamannya saja. Tapi manfaat tersebut terus terasa hingga jauh dari masa hidupnya. Hingga masa kita sekarang ini.

Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Ketika aku telah menghafalkan Alquran (30 juz), aku masuk ke masjid. Aku mulai duduk di majelisnya para ulama. Mendengarkan hadits atau pembahasan-pembahasan lainnya. Aku pun menghafalkannya juga. Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas (buku untuk mencatat). Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar, kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di tempaian yang kami miliki.” (Ibnu al-Jauzi dalam Shifatu Shafwah, 2/249 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 51/182).

Saat beliau mulai beranjak besar, antara usia 10-13 tahun, beliau butuh kertas untuk menulis apa yang telah dipelajari, tapi tidak ada uang untuk membeli kertas-kertas itu. Ia pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kertas yang telah terpakai di satu sisi halamannya. Separuh lembar yang kosong itu, beliau gunakan untuk mencatat ilmu (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/361).

Untuk apa usaha besar itu dilakukan oleh Asy-Syafi’i kecil, padahal ia masih terlalu muda? Jawabnya untuk ilmu yang menurutnya begitu berharga.

Ibnu Abi Hatim mendengar cerita dari al-Muzani, bahwasanya Imam asy-Safi’i pernah ditanya, “Bagaimana obsesimu terhadap ilmu?” Imam asy-Syafi’i menjawab, “Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”

Beliau juga ditanya, “Bagaimana semangatmu dalam mendapatkannya?” Ia menjawab, “Sebagaimana orang yang bersemangat mengumpulkan harta dan pelit membaginya merasakan kenikmatan terhadap harta.”

Beliau ditanya pula, “Bagaimana engkau menginginkannya?” “Aku menginginkannya sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidak ada yang dia ingin kecuali anaknya.” Jawabnya.

Kita bisa tahu, apa yang beliau ucapkan ini bukanlah omong kosong yang tak bermakna. Kalau bukan dengan obsesi sebesar itu, semangat sehebat itu, dan keinginan sekuat itu, tentu ia tidak menjadi seperti Syafi’i yang kita tahu.

Derajat imam (pemimpin) dalam ilmu itu tidak diperoleh dengan santai-santai. Banyak hal yang harus dikorbankan. Sebagaimana kata Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya kedudukan keimaman dalam agama hanya didapatkan dengan kesabaran dan keyakinan.” (Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa, 3/358).

Dan Allah ﷻ mengajarkan kita sebuah doa:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma maksud ayat ini adalah “Jadikan kami pemimpin-pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.” (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/439).

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel http://www.KisahMuslim.com

 

Hakekat Maqam Ibrahim

Ada Apa dengan Maqam Ibrahim?

Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran,

[1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

(ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125)

[2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا

“Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97)

Apa itu Maqam Ibrahim?

Kita simak beberapa keterangan ulama berikut,

[1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah,

الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام

Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163).

[2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ

Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim.

[3] Keterangan Ibnu Katsir

وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم

Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’

Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah,

ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى

Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117)

Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa:

  • Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu.
  • Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah.
  • Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya.
  • Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia.
  • Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim

Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang?

Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط

Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
sumber: https://konsultasisyariah.com/31912-hakekat-maqam-ibrahim.html

Mengenal Imam Ibnu Asakir

Nama dan Nasabnya

Nama Imam Ibnu Asakir adalah Ali bin al-Hasan bin Habbatullah bin Abdullah bin Husein ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (ulama madzhab Syafi’i). Kun-yahnya Abu al-Qasim. Ia dilahirkan pada bulan Muharram tahun 499 H/1105 M di Kota Damaskus.

Beliau belajar ilmu fikih sedari kecil di Kota Damaskus. Ayahnya, al-Hasan bin Habbatullah, adalah seorang guru yang shaleh, adil, cinta ilmu, teladan bagi para ulama, dan memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu agama, khususnya bidang fikih.

Lingkungan Masa Kecilnya

Shalahuddin al-Munjid dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu mengatakan, “Lingkungan pertumbuhan al-Hafizh Ibnu Asakir memiliki pengaruh besar yang mengarahkan beliau kepada ilmu dan menjadikannya seorang yang cerdas. Ia tinggal di rumah dimana perkara-perkara diputuskan, hadits-hadits dan fikih dikaji. Rumahnya dipenuhi dengan ulama-ulama besar dan hakim-hakim Damaskus. Sejak kecil Ibnu Asakir melihat para ulama dan mendapat pemahaman ilmu”.

Kakak Ibnu Asakir yang bernama Shainuddin Habbatullah bin al-Hasan (488 – 563H) adalah seorang ahli fikih, mufti, dan ahli hadits. Ia membaca Alquran dengan beberapa riwayat. Ia seorang yang fakih dan cerdas. Sang kakak pernah bersafar ke berbagai wilayah dan mempelajari banyak cabang ilmu, seperti ilmu-ilmu ushul dan nahwu. Ia berguru dengan Abu al-Hishn as-Sulmi. Di sela-sela kegiatan belajar, ia juga memberikan fatwa dan produktif menulis. Shainuddin adalah seorang imam yang tsiqah, kuat agamanya, dan wara’.

Saudara Ibnu Asakir yang lainnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin al-Hasan. Ia juga seorang hakim. Artinya ia adalah ulama. Anak-anak Abu Abdillah yang berjumlah enam orang juga seorang dai dalam ilmu dan hadits.

Ibu Ibnu Asakir adalah wanita keturunan Quraisy. Kakek dari pihak ibu adalah Yahya bin Ali bin Abdul Aziz al-Qurasyi. Seorang hakim dan fakih yang senior. Ia sangat pakar dalam bahasa Arab, tsiqah, dan menyampaikan ceramah dengan fasih. Ia belajar kepada Abu Bakr asy-Syasyi. Di Damaskus, ia belajar kepada al-Qadhi al-Marwazi dan al-Faqih Nashr. Ibnu Asakir meriwayatkan hadits dari kakeknya ini.

Pamannya dari pihak ibu adalah Muhammad bin Yahya. Seorang ulama yang menjabat hakim. Laki-laki Quraisy yang terpercaya dan bijak dalam memutuskan masalah. Sejumlah ulama di masanya belajar dan meriwayatkan ilmu darinya. Termasuk Ibnu Asakir. As-Sam’ani berkata tentangnya, “Ia adalah seorang yang terpuji. Perjalanan hidupnya baik. Penyayng dan terhormat. Juga seorang yang menarik penampilannya”.

Satu lagi paman dari pihak ibunya yang juga seorang ulama, Sulthan bin Yahya. Ia dijuluki zainul qudha, perhiasan para hakim. Seorang laki-laki Quraisy yang mulia.

Dengan lingkungan keluarga yang demikian, wajar Ibnu Asakir mulai mengkaji ilmu di usia dini. Saat berumur 6 tahun, ia sudah belajar dari ayahnya serta dua orang kakaknya. Kemudian Abul Qashim, Qawam bin Zaid, Sabigh bin Qirath, Abu Thahir al-Hanai, Abul Hasan bin Mawazini, dan juga ke majelis-mejelis ilmu lainnya.

Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Inilah lingkungannya. Ia bertemu dengan ahli hadits yang membantunya membuka potensi kecerdasan dan memenuhi keinginannya. Sehingga di kemudian hari Ibnu Asakir mencapai derajat seorang ahli sejarah Syam dan ahli hadits di zamannya”.

Perjalanan Belajar

Perjalanan Pertama: Ke Baghdad

Pada tahun 520 H/1126 M, saat itu Ibnu Asakir menginjak usia 21 tahun. Sambil terus belajar, ia juga mengisi waktunya dengan mengajar. Pengetahuannya yang luas tentang riwayat-riwayat hadits ia dapatkan ketika mengumpulkan matan-matan, sanad-sanad, menghafal, dan membaca. Kesungguhannya ini membuatnya mencapai derajat seorang ahli hadits dan ulama. Ia tidak berpuas diri hanya dengan mendapatkan ilmu Dari halaqah-halaqah, masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan para ulama di Damaskus. Ia berusaha untuk mendapat sesuatu yang lebih. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersafar keluar Damaskus. Belajar hadits dari ulama-ulama dan ahli fikih ternama.

Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Perjalanannya dalam belajar hadits dan mendengar dari banyak guru memiliki pengaruh yang signifikan. Tak seorang ahli hadits besar pun dalam perjalannya ia lewatkan. Sehingga ia memperoleh sanad yang tinggi. Pusat-pusat ilmu tersebar di wilayah-wilayah Islam. Banyak ulama dan ahli fikih yang membagi-bagi ilmu mereka. Saat itu halaqah-halaqah belajar dan diskusi digelar di madrasah-madrasah dan masjid-masjid oleh para ahli fikih, ahli hadits, dan ulama-ulama”.

Kota Baghdad di masa itu adalah surga dunia karena keindahan tata kotanya. Kota yang menjadi pusat ilmu. Dan banyak dikunjungi oleh orang-orang dari penjuru negeri. Walaupun banyak kota-kota ilmu fikih dan hadits di wilayah Islam, seperti: Mesir, Mekah, Madinah, Khurasan, Naisabur, Ashbahan, Hirah, Thus, dll. namun Baghdad tetap menjadi kota yang utama. Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang yang paling bersemangat dalam mempelajari dan menulis hadits. al-Khatib al-Baghdadi mengatakan, “Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang-orang intelektual dan teliti dalam meriwayatkan hadits dan adabnya. Mereka adalah orang-orang yang paling berhati-hati dalam meriwayatkannya. Mereka dikenal dengan sifat ini” (Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi)

Pada tahun 521 H, Ibnu Asakir pergi menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ia menggunakan kesempatan ini untuk mendengar riwayat hadits dari ulama-ulama Mekah, Mina, dan Madinah. Di antranya Abdullah bin Muhammad al-Mishri dan Abdul Khalaq bin Abdul Wasi’ al-Hawari.

Saat kembali ke Baghdad, orang-orang Irak kian takjub padanya. Mereka berkata, “Kami belum pernah melihat orang semisalnya”.

Setelah merasa cukup menimba ilmu dari tokoh-tokoh ulama Baghdad, Ibnu Asakir memutuskan untuk kembali ke Damaskus pada tahun 525 H/1131 M.

Perjalanan Kedua: Ke Negeri-Negeri non Arab

Debu-debu safarnya belum juga bersih, namun Ibnu Asakir telah berpikir untuk melanjutkan pencarian riwayat hadits. Ia berangkat ke Asbahan, Naisabur, Merv, Tabriz, Khosrowjerd, Bastam, Damghan, Ray, Zanjan, Hamadan, Herat, Sarakhs, Semnan, Abhar, Khuwi, Marand, dll.

Dalam perjalanan menuju Khurasan, di jalan-jalan Azerbaijan, tepatnya di Naisabur, ia berjumpa dengan as-Sam’ani. As-Sam’ani memuji Ibnu Asakir dengan mengatakan, “Abul Qasim seorang yang luas ilmunya dan banyak keutamaannya. Seorang penghafal yang kokoh hafalan dan agamanya. Baik akhlaknya. Ia seorang yang menggabungkan pengetahuan akan matan dan sanad dengan baiknya bacaan dan tulisan… …Ia mengumpulkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh selainnya –artinya ilmu beliau luas-. Ia masuk ke Naisabur satu bulan sebelumku. Aku meriwayatkan darinya dan dia juga meriwayatkan dariku. Ia menulis sebuah buku sejarah yang tebal untuk Damaskus” (Tadzhib Siyar Alam an-Nubala Jilid 3 Hal: 81).

Di Naisabur, Ibnu Asakir belajar dari Abu Abdullah al-Farawi. Ia bermulazamah beberapa waktu kepadanya. Al-Farawi mengatakan, “Ibnu Asakir datang. Ia membaca (meminta koreksi) di hadapanku 3 hadits lebih. Aku pun merasa berat. Muncul keinginan di hatiku agar menutup pintu untuknya”. Kemudian kata as-Sam’ani, “Di pagi harinya, ada seseorang datang kepadaku (dalam mimpi). Laki-laki itu berkata, “Aku adalah Rasulullah ﷺ”. “Marhaban bik –ya Rasulullah-”, kataku. Kemudian beliau berkata, “Temuilah al-Farawi dan katakan padanya, ‘Datang seorang laki-laki berkulit coklat dari Syam ke negeri kalian. Ia ingin meriwayatkan haditsku. Jangan kalian sia-siakan dia.” (al-Inayatu bi Thullab al-Ilmi Inda Ulama al-Muslimin oleh Abdul Hakim Unais)

Saat di Khurasan Ibnu Asakir sibuk mendengar hadits dari ulama-ulama negeri tersebut. Sedangkan di Asbahan dan Naisabur, selain menyimak, para ulama yang lebih senior darinya juga mendengar hadits-hadits darinya.

Perjalanannya di negeri non Arab berlangsung selama empat tahun. Ia habiskan waktu-waktu tersebut untuk bermulazamah kepada para ulama, ahli fikih, ahli hadits, meneliti hadits baik thuruq-nya, orang-orang yang meriwayatkan dan apa yang mereka riwayatkan, serta sanad-sanadnya. Karena inilah ia mencapai kedudukan yang tidak dicapai oleh orang selainnya. Setelah menyelesaikan perjalanan ini, ia kembali ke Baghdad kemudian ke Damaskus.

Dalam perjalannya ke negeri-negeri non Arab, Ibnu Asakir berhasil bertemu setidaknya 1300 ulama. 80an di antara mereka adalah perempuan. Banyak pelajaran yang ia dapatkan dari guru-gurunya. Dan ia pun berhasil menghafal banyak buku

Kembali ke Damaskus

Pada saat berumur 43 tahun, Ibnu Asakir kembali ke Damaskus dan menetap di kota tertua di dunia itu. Ia merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk fokus mengajar dan memberi kontribusi besar dalam membina umat. Ia berkata kepada salah seorang muridnya, Abul Mawahib, “Ketika aku sudah membulatkan tekad untuk menyampaikan hadits –demi Allah- sungguh aku tidak menginginkan kepemimpinan dan diunggulkan. Aku berkata, ‘Kapan aku akan meriwayatkan apa yang telah kudengar?’ ‘Faidah apa yang bisa aku tuliskan?’ Aku beristikhoroh kepada Allah, meminta izin guru-guruku, dan tokoh-tokoh masyarakat, kutemui mereka semua. Mereka berkata, ‘Siapa lagi yang lebih berhak darimu?’ Aku pun mulai menyampaikan hadits pada tahun 533 H/1138 M”.

Perjalanan menuntut ilmu ini adalah fase terpanjang dalam umur Ibnu Asakir. Ibnu Najjar mengatakan, “Mungkin di masanya, ia mencapai kedudukan yang tertinggi dalam hafalan, kekokohan ilmu, pengetahuan tentang ilmu hadits dan ke-tsiqah-annya, kecerdasan, dan tajwid.

Bahauddin berkata tentang ayahnya Ibnu Asakir, “Ayahku berkata kepadaku, ‘Saat ibuku mengandungku, ia melihat di dalam mimpinya ada seorang yang berkata, ‘Engkau akan melahirkan seorang anak laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi. Melalui dirinya, Allah memberkahimu dan juga kaum muslimin’.”

Benarlah mimpi sang ibu. Ia melahirkan seorang anak yang bergadang di malam hari untuk mempelajari agama yang mulia ini.

Karya-Karyanya

Setelah membekali diri dengan ilmu dengan riwayat perjalanan yang luar biasa, Ibnu Asakir mulai menuangkan buah pikirannya dalam tulisan-tulisan. Para sejarawan mengumpulkan dan menghitung karya-karya Ibnu Asakir lebih dari 60 buku. Sebagian besar tulisannya adalah tentang ilmu hadits dan sisanya tentang keutamaan amalan. Karya utamanya adalah Tarikh Dimasyq.

Kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir
Kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir

Di antara karya tulisanya adalah:

Tarikh Dimasyq, al-Ijtihad fi Iqamati Fardhi al-Jihad, al-Ahadits al-Khumasiyat wa Akhbar Ibnu Abi Dunya, al-Ahadits al-Mutakhayyirat fi Fadhail al-Asyrati fi Juzain, Amali fi al-Hadits, Tabyin Kadzabi al-Muftari fima Nasaba ila Abil Hasan al-Asy’ari, Tsawabu ash-Shabr ‘ala al-Mashaib bil Walad, Fadhlu Ashhabul Hadits, Kitab Fadhlu Makkah, Kitab Fadhlu al-Madinah, Kitab Dzammu Man La Ya’mal Bi’ilmihi, Kitab Fadhail ash-Shiddiq, dll.

Produktifitasnya ini menunjukan kesungguhannya dalam berdakwah dan sebelumnya membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang luas. Dengan karya-karyanya itu, namanya tetap abadi hingga kini.

Madrasah Darul Hadits An-Nuriyah

Madrasah Darul Hadits an-Nuriyah adalah sekolah negeri pada masa Dinasti Nuriyah. Sekolah ini seolah menjadi laboratorium bagi Ibnu Asakir. Karena, disinilah Ibnu Asakir banyak menelurkan buah pemikirannya: mengajar dan menulis. Ia jadi semakin sibuk dengan kegemarannya, ilmu dan ibadah. Dan semakin mengalihkannya dari kegemerlapan dunia.

Madrasah an-Nuriyah menunjukkan dekatnya hubungan ulama dan umara. Raja Nuruddin az-Zanki –Raja Dinasti Nuriyah- lah yang membangunnya untuk Ibnu Asakir.

Wafatnya Sang Imam

Ibnu Asakir rahimahullah wafat di malam senin 11 Rajab 571 H/1176 M. Sultan Shalahuddin al-Ayyubi turut serta menghadiri jenazahnya. Ia dimakamkan di sisi makam ayahnya. Pemakaman yang sama dengan jenazah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu dimakamkan.

Daftar Pustaka:

Al-Inayah bi ath-Thullab al-Ilmi Inda Ulama al-Muslimin oleh Abdul Hakim al-Unais.

Tahdzib Siyar A’lamu an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi ditadzhib oleh Ahmad Fayiz al-Humsha.

Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi

Islamstory.com

sumber: https://kisahmuslim.com/5652-mengenal-imam-ibnu-asakir.html