Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya pada Orang Tua

Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.

Kisahnya adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ . قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ.

قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ

Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”

Uwais menjawab, “Iya.”

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ». فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.

Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.

Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”

Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

قَالَ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسٍ قَالَ تَرَكْتُهُ رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ».

Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” Umar pun mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.

فَأَتَى أُوَيْسًا فَقَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ لَقِيتَ عُمَرَ قَالَ نَعَمْ. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”

Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.

فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ

“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.” (HR. Muslim no. 2542)

Faedah dari kisah Uwais Al Qarni di atas:

1- Kisah Uwais menunjukkan mu’jizat yang benar-benar nampak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah Uwais bin ‘Amir. Dia berasal dari Qabilah Murad, lalu dari Qarn. Qarn sendiri adalah bagian dari Murad.

2- Kita dapat ambil pelajaran –kata Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.

Maksud di atas ditunjukkan dalam riwayat lain,

أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ

“Penduduk Kufah ada yang menemui ‘Umar. Ketika itu ada seseorang yang meremehkan atau merendahkan Uwais.”

Dari sini berarti kemuliaan Uwais banyak tidak diketahui oleh orang lain sehingga mereka sering merendahkannya.

3- Keistimewaan atau manaqib dari Uwais nampak dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Umar untuk meminta do’a dari Uwais, supaya ia berdo’a pada Allah untuk memberikan ampunan padanya.

4- Dianjurkan untuk meminta do’a dan do’a ampunan lewat perantaraan orang shalih.

5- Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais –seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.

6- Uwais adalah tabi’in yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya, dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2542). Ini secara tegas menunjukkan bahwa Uwais adalah tabi’in yang terbaik.

Ada juga yang menyatakan seperti Imam Ahmad dan ulama lainnya bahwa yang terbaik dari kalangan tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyib. Yang dimaksud adalah baik dalam hal keunggulannya dalam ilmu syari’at seperti keunggulannya dalam tafsir, hadits, fikih, dan bukan maksudnya terbaik di sisi Allah seperti pada Uwais. Penyebutan ini pun termasuk mukjizat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7- Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan pada ‘Umar,

أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

“Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.” Maksud perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi orang-orang lemah, menjadi fakir miskian, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. Jadi Uwais lebih suka hidup biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

8- Hadits ini juga menunjukkan keutamaan birrul walidain, yaitu berbakti pada orang tua terutama ibu. Berbakti pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.

9- Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.

10- Pelajaran sifat tawadhu’ yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab.

11- Doa orang selepas bepergian dari safar yang baik seperti haji adalah doa yang mustajab. Sekaligus menunjukkan keutamaan safar yang shalih (safar ibadah).

12- Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak. Sehingga mudah merendahkan orang lain. Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, malam 25 Jumadal Ula 1436 H di Masjid Jami’ Al Adha Darush Sholihin, Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/10538-kisah-uwais-al-qarni-dan-baktinya-pada-orang-tua.html

Menyesal Aku Kehilangan Hidayah

Zaman tempat kita hidup sekarang begitu dinamis. Begitu cepat berubah. Keadaan kemarin sangat berbeda dengan hari ini. Hari ini bisa jauh tertinggal dibanding esok. Tentu, perubahan-perubahan itu berpengaruh terhadap keadaan kita. Seseorang bisa tiba-tiba jadi kaya raya. Bisa juga dari mapan jatuh pailit dan bangkrut. Dampak lainnya juga terjadi pada kondisi hati. Pagi beriman, siapa sangka sore hari menjadi kafir. Pagi kafir, sore hari mendapat hidayah. Dulu, di zaman dimana perubahan dan efek yang ditimbulkannya tidak sedahsyat sekarang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbicara tentang cepatnya perubahan kondisi hati.

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانًا

“Sungguh hati anak Adam itu lebih cepat berubah daripada (getaran) ketel di saat mendidih.” (as-Sunnah oleh Ibnu Abi Ashim, No: 182).

Perhatikanlah teko saat air di dalamnya mencapai titik didih. Tutupnya bergetar. Bergeser dari posisinya semula. Uap air yang bergemuruh membuatnya bergetar. Bergerak dan terus berubah. Kondisi hati manusia lebih cepat lagi berubahnya dari keadaan tersebut.

Ada sebuah kisah yang menunjukkan betapa hati itu sangat mungkin berubah. Dalam Tarikh Dimasyq No. 74431, Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah kisah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada penguasa Kerajaan Ghassan, Jabalah bin al-Iham (al-Ayham) mendakwahkan Islam kepadanya. Jabalah menyambut seruan itu dan memeluk Islam. Ia membalas surat Rasulullah, berisikan pernyataan keislamannya. Tak lupa sebagai penghormatan, ia bawakan hadiah untuk beliau. Jabalah pun menjalankan keislamannya. Dan hidup sebagai seorang muslim.

Dalam riwayat al-Waqidi, Jabalah turut serta dalam Perang Yarmuk di barisan orang-orang Romawi. Setelah itu ia memeluk Islam di masa Umar bin al-Khattab.

Waktu terus berjalan. Jabalah masih setia dengan ikrar Islamnya. Hingga ada satu kejadian yang mengubah hidupnya. Saat ia berada di Pasar Damaskus, seorang laki-laki Badui dari Muzainah menginjak jubah mewahnya. Sontak Raja terakhir Kerajaan Ghassan ini menempelengnya. Kemudian si Badui mengadu kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Ditetapkanlah qishashuntuknya. Dibalas tempeleng oleh si Badui. Jabalah berkomentar, “Tidakkah kau lihat, wajahku ini sebanding dengan wajah kakekku.” Maksudnya, aku ini keturunan ningrat. “Sungguh agama ini keterlaluan jeleknya,” kata Jabalah mencela Islam. Ia pun murtad dan memeluk Nasrani. Kemudian lari bersama sekelompok pengikutnya menuju wilayah Romawi.

Ketika menafsrikan ayat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).

Syaikh Sa’id al-Kamali membawakan kisah Jabalah bin al-Iham. Kata beliau:

Jabalah bin al-Iham raja terakhir Kerajaan Ghassan datang menemui Umar. Umar bergembira dengan keislamannya. Kemudian ia tawaf di Ka’bah dan pakaiannya terinjak oleh seorang Badui bani Fazarah. Jabalah menempelengnya. Laki-laki itu mengadu kepada Umar, “Jabalah bin al-Iham menempelngku,” katanya. Kemudian Umar memanggil Jabalah, “Kau memukulnya?” tanya Umar. “Bayarlah tebusan atas pukulanmu. Jika tidak, kuperintahkan dia untuk membalasmu,” lanjut Umar.

“Bagaimana bisa demikian. Aku ini seorang raja sementara dia hanya orang pasar?” tanya Jabalah keheranan. “Islam menjadikan kalian berdua setara (di mata hukum),” jawab Umar.

Jabalah mengatakan, “Aku menyangka, setelah memeluk Islam aku lebih mulia dibanding di masa jahiliyah.”

Umar menjawab, “Tinggalkan itu semua. Tidak bermanfaat sama sekali. Bayar tebusan atau engkau dihukum setimpal.”

“Kalau begitu aku pindah agama Nasrani saja,” jawab Jabalah kesal.

“Kalau kau murtad menjadi Nasrani, kupenggal lehermu,” kata Umar.

“Jika demikian, biarkan aku. Aku akan memikirkan urusan ini nanti malam,” kata Jabalah.

Di malam harinya, ia bersama orang-orang yang setia dengannya pergi menuju wilayah Romawi. Lalu memeluk agama Nasrani.

Dialah Jabalah bin al-Iham, pernah berjumpa orang shaleh seperti Umar. Bahkan tawaf bersamanya mengelilingi Ka’bah. Tapi ia wafat memeluk agama Nasrani. Jika demikian, bagaimana orang-orang yang hanya pernah duduk-duduk di majelis ustadz. Dekat dan ngobrol bersama mereka. Tentu kita lebih berhati-hati lagi.

Di akhir hayat ia menyesal dan menggubah bait syair penyesalannya.

تنصرت الأشراف من عار لطمة *** وما كان فيها لو صبرت لها ضرر
تكنفني فيها لجاج ونخوة *** وبعت بها العين الصحيحة بالعور
فيا ليت أمي لم تلدني وليتني *** رجعت إلى القول الذي قاله عمر
ويا ليتني أرعى المخاض بقفرة*** وكنت أسيرا في ربيعة أو مضر
ويا ليت لي بالشام أدنى معيشة *** أجالس قومي ذاهب السمع والبصر

Aku menjadi Narani karena malu dari tamparan Padahal balasan itu tidak bahaya kalau aku bersabar
….
Aduh celaka sekiranya ibuku tidak melahirkan Aduh celaka, seandainya aku tunduk dengan apa yang dikatakan Umar
Aduh celaka coba kutahan sakitnya rasa melahirkan Atau menjadi tawanan di Rabiah atau Mudhar
Aduh celaka sekiranya aku tetap di Syam walaupun rendah kehidupan Bersama kaumku, pergi, melihat, dan mendengar

Pelajaran:

Pertama: Hati itu cepat berubah.

Kedua: Kesombongan dapat menghilangkan hidayah.

Ketiga: Pernah bertemu, bersama, berteman dengan orang shaleh tidak menjamin hidayah. Sebagaimana Abu Thalib tidak memeluk Islam, padahal sering bersama Nabi. Kebersamaan dengan orang shaleh hendaknya dimanfaatkan untuk menambah ketakwaan dan ilmu bukan untuk menjadi bahan cerita. Karena hal itu tidak bermanfaat menambah iman dan takwa.

Keempat: Strata sosial yang tinggi dan harta bisa menjadi penghalang hidayah.

Kelima: Hidayah Islam itu lebih nikmat dibanding nikmat kedudukan, harta, dan kesenangan dunia lainnya. Karena Jabalah merasakan kenikmatan dunia di wilayah Romawi, tapi ia tetap menyesal. Dan berharap mengulang kehidupan, tinggal di Syam walaupun menjadi orang biasa.

Keenam: Memperbanyak doa memohon kepada Allah agar memberikan ketetap hati.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

sumber: https://kisahmuslim.com/5981-menyesal-aku-kehilangan-hidayah.html

Zainal Abidin (Cicit Nabi) dengan Sedekah Rahasianya

Ada yang menyebut Zainal Abidin atau Zainul Abidin, nama aslinya adalah ‘Ali bin Al-Husain adalah anak cucu atau cicit baginda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal amat dermawan. Di antara bentuk dermawannya adalah ia rajin bersedekah namun tidak senang diketahui orang banyak. Ini beberapa cerita tentang beliau yang kami sarikan langsung dari kitab sejarah yaitu Siyar A’lam An-Nubala’ karya Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi rahimahullah.

‘Ali bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf. Ia disebut dengan Zainul ‘Abidin. Ia adalah Al-Hasyimi Al-‘Alawi Al-Madani, dengan kunyah Abul Husain, ada juga yang menyebut Abul Hasan, Abu Muhammad, Abu ‘Abdillah. Ibunya adalah ummu walad (budak wanita), namanya Sallamah Sulafah binti Malik Al-Faros Yazdajird.

Zainul Abidin lahir pada tahun 38 H. Abu Ja’far Al-Baqir mengatakan, “Ayahku hidup selama 58 tahun.” Kata Yahya saudara laki-laki dari Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan, ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia pada 14 Rabi’ul Awwal, malam Selasa, pada tahun 94 H. Ja’far Ash-Shadiq meriwayatkan pula kalau Zainul Abidin meninggal dunia pada tahun 94 H. Kuburnya berada di Baqi’, kata Imam Adz-Dzahabi.

Di antara sifat-sifat baik dari Zainul Abidin atau ‘Ali bin Al-Husain adalah semangatnya dalam bersedekah secara diam-diam.

Ibnu ‘Uyainah, dari Abu Hamzah Ats-Tsimaali, ia berkata bahwa ‘Ali bin Al-Husain rahimahullah biasa memikul roti (gandum) di atas punggungnya ke rumah-rumah orang miskin di tengah kegelapan malam. ‘Ali berkata,

إِنَّ الصَّدَقَةَ فِي سَوَادِ اللَّيْلِ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Sesungguhnya sedekah di tengah gelap malam itu akan meredam murka Rabb (Allah Ta’ala).”

Yunus bin Bakir, dari Muhammad bin Ishaq berkata,

كَانَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ المدِيْنَةِ يَعِيْشُوْنَ، لاَ يَدْرُوْنَ مِنْ أَيْنَ كَانَ مَعَاشُهُمْ، فَلَمَّا مَاتَ عَلِيٌّ بْنُ الحُسَيْنِ، فَقَدُوا ذَلِكَ الَّذِي كَانُوْا يُؤْتُوْنَ بِاللَّيْلِ

“Dulu penduduk kota tersebut hidup dan tidak mengetahui dari mana asal jatah roti tersebut. Ketika ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka tidak mendapatkan jatah roti itu lagi yang biasa mereka dapatkan tiap malam.”

Jarir bin ‘Abdul Hamid, dari. ‘Amr bin Tsabit, ia berkata,

لماَّ مَاتَ عَلِيٌّ بْنُ الحُسَيْنِ، وَجَدُوا بِظَهْرِهِ أَثَرًا مِمَّا كَانَ يَنْقُلُ الجُرُبَ باِللَّيْلِ إِلَى مَنَازِلِ الاَرَامِلِ

“Ketika ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka mendapati di punggungnya itu ada bekas karena seringnya memikul kantong kulit pada malam hari ke rumah-rumah orang-orang yang susah.”

Syaibah bin Na’aamah berkata,

لما مَاتَ عَلِيٌّ وَجَدُوْهُ يَعُوْلُ مِئَةَ أَهْلِ بَيْتٍ

“Ketika ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka dapati bahwa ‘Ali itu mencukupi nafkah seratu ahli bait.”

Imam Adz-Dzahabi berkata,

لِهَذَا كَانَ يَبْخَلُ، فَإِنَّهُ يُنْفِقُ سِرًّا وَيَظُنُّ أَهْلُهُ أَنَّهُ يَجْمَعُ الدَّرَاهِمَ

“Karena ini ia terkenal pelit. Padahal ia biasa berinfak diam-diam. Keluarganya mengira kalau ‘Ali bin Al-Husain terus saja menumpuk-numpuk dirham.”

Sebagian mereka mengatakan,

مَا فَقَدْنَا صَدَقَةَ السِّرِّ، حَتَّى تُوُفِّيَ عَلِيٌّ

“Kami tidak pernah tidak mendapati sedekah diam-diam sampai ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4:393-394).

Di samping ‘Ali bin Al-Husain adalah orang yang rajin sedekah, ia juga adalah orang yang rajin menolong orang lain dalam hal utang.

Hatim bin Abi Shaghirah, dari ‘Amr bin Dinar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Al-Husain masuk menemui Muhammad bin Usamah bin Zaid ketika ia sakit. Muhammad ketika itu menangis. Lantas ‘Ali bin Al-Husain bertanya, “Kenapa kamu?” Muhammad menjawab, “Aku memiliki beban utang.” ‘Ali bin Al-Husain bertanya lagi, “Berapa itu?” Muhammad menjawab,

بِضْعَةُ عَشَر أَلْفِ دِيْنَارٍ

“Ada sepuluh ribuan dinar.”

Lantas Ali bin Al-Husain menjawab,

فَهِيَ عَلَيَّ

“Biar utang tersebut aku yang menanggungnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4:394)

Doa ‘Ali bin Al-Husain yang amat bagus,

اللَّهُمَّ لاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي فَأَعْجَزَ عَنْهَا وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى المخْلُوْقِيْنَ فَيُضَيِّعُوْنِي

“ALLAHUMMA LAA TAKILNI ILAA NAFSII FA-A’JAZA ‘ANHA. WA LAA TAKILNII ILAAL MAKHLUUQIIN FA-YUDHOYYI’UUNII (artinya: Ya Allah janganlah menyandarkan—urusanku—pada diriku sendiri, lantas membuat diriku lemah; jangan jadikan diriku bergantung pada makhluk, karena mereka bisa menelantarkanku).” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4:396)

Semoga semangat sedekah dari Zainul Abidin, Ali bin Al-Husain bisa kita tiru dan ambil pelajaran. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

Siyar A’lam An-Nubala Adz-Dzahabi. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Sumber https://rumaysho.com/21165-zainal-abidin-cicit-nabi-dengan-sedekah-rahasianya.html

Kisah Itsar Para Salaf, Sudahlah Biarkan Dia Duluan!

Itsar itu apa? Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh.

Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan.

Contohnya dapat dilihat pada orang Muhajirin dan Anshar dalam ayat,

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Yang dimaksudkan ayat ini adalah ia mendahulukan mereka yang butuh dari kebutuhannya sendiri padahal dirinya juga sebenarnya butuh. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:229.

Dalam masalah dunia, kita bisa mendahulukan orang lain, itu memang yang lebih baik. Karena dalam masalah dunia, kita harus memperhatikan orang di bawah kita agar kita bise mensyukuri nikmat Allah.

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan penampilan, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari, no. 6490 dan Muslim, no. 2963)

Dari Abu Hurairah dan ‘Abdullah bin Hubsyi Al-Khats’ami, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya sedekah mana yang paling afdal. Jawab beliau,

جَهْدُ الْمُقِلِّ

Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR. An-Nasa’i, no. 2526. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kisah Itsar #01: Menyambut Tamu, Padahal Hanya Punya Makanan untuk Bayi

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ

Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air”.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.”

فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي

Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.”

فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا

Orang Anshar itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.

ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ

Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Anshar yang melayani tamu tersebut adalah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Istri Abu Thalhah adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha (Rumaysho atau Rumaisha).

Kisah Itsar #02: Abu Bakar Bersedekah dengan Seluruh Harta

Sifat ini juga dimiliki oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ia pernah bersedekah dengan seluruh hartanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya kepadanya,

« مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ ». قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قُلْتُ لاَ أُسَابِقُكَ إِلَى شَىْءٍ أَبَدًا

“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku titipkan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.” Umar bin Khattab lantas mengatakan, “Itulah mengapa aku tidak bisa mengalahkanmu selamanya.” Sebelumnya Umar bersedekah dengan separuh hartanya dan menyisakan separuhnya untuk keluarganya. (HR. Abu Daud, no. 1678 dan Tirmidzi, no. 3675. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kisah Itsar #03: Abu Thalhah Bersedekah dengan Kebun Kurma Terbaik

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia sukai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.”

Anas berkata, “Ketika turun ayat,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.

Pelajaran dari hadits:

  • Keutamaan menafkahi dan memberi sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua walau mereka musyrik. Sebagaimana Imam Nawawi membuat judul bab untuk hadits di atas dalam Syarh Shahih Muslim.
  • Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim. Abu Thalhah akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit.
  • Bersedekah kepada kerabat punya dua pahala yaitu pahala menjalin hubungan kerabat dan pahala sedekah.

Kisah Itsar #04: Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari Membagi Harta dan Istrinya pada ‘Abdurrahman bin ‘Auf

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab,

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ

“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.”

Lantas ditunjukkanlah kepada ‘Abdurrahman pasar lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada ‘Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” ‘Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika itu,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193)

Pelajaran dari hadits:

  • Boleh seorang imam bertanya tentang keadaan jamaahnya yang sudah lama tak terlihat.
  • Boleh seorang wanita memakai wewangian untuk suaminya, bahkan dianjurkan untuk tampil wangi di hadapan suami, lebih-lebih lagi di malam pertamanya.
  • Tidak masalah jika ada bekas wewangian istri ada pada baju suami kalau memang tidak disengaja walau yang terkena sebenarnya adalah syi’ar khas para wanita. Namun asalnya tetap tidak boleh laki-laki tasyabbuh (menyerupai) wanita.
  • Disunnahkan mendoakan berkah. Contoh, doa kepada pengantin.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberikan ucapan selamat pada seseorang yang telah menikah, beliau mendoakan,

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud, no. 2130; Tirmidzi, no. 1091. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

  • Yang dimaksud walimah adalah makanan yang disajikan ketika resepsi nikah. Walimah itu berarti berkumpul karena ketika itu kedua pasangan telah menyatu menjadi suami-istri.
  • Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum walimah. Ada yang mengatakan wajib dan ada yang sunnah. Menurut ulama Syafi’iyah sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah, hukum walimah adalah sunnah mustahab. Kata perintah dalam hadits ini dipahami sunnah (anjuran).
  • Sebagian ulama menyatakan bahwa walimah itu diadakan sesudah dukhul (jima’ atau malam pertama) seperti pendapat Imam Malik dan selainnya. Sedangkan sekelompok ulama Malikiyah menyatakan bahwa walimah diadakan ketika akad itu berlangsung.
  • Bagi orang yang mudah mengadakan walimah, maka tetaplah mengadakan walimah jangan sampai kurang dari seekor kambing. Namun untuk acara walimah tadi tidak ada batasan tertentu, bentuk makanan apa pun yang dibuat untuk walimah tetap dibolehkan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Shafiyyah, walimahnya tidak dengan daging. Ketika menikahi Zainab disediakan untuk walimah dengan roti dan daging. Yang tepat, semuanya disesuaikan dengan kemampuan pengantin.
  • Pelajaran dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari adalah saling mendahulukan yang lain (itsar). Lihatlah sikap Sa’ad yang sampai mendahulukan ‘Abdurrahman dalam hal harta dan dua istrinya.
  • ‘Abdurrahman mengajarkan pada kita tidak bergantung pada pemberian orang lain yang didapat secara gratis. Mendapatkan hasil dari bekerja walau dengan berdagang itu lebih baik.
  • Hendaknya mendoakan kebaikan kepada siapa saja yang ingin berbuat baik kepada kita.

Bagaimana kita bisa itsar?

  1. Memperhatikan kewajiban, anggap selalu kurang ketika melakukan yang wajib sehingga kehati-hatiannya ia mendahulukan orang lain walau ia pun butuh.
  2. Meredam sifat pelit.
  3. Semangat punya akhlak yang mulia karena itsar adalah tingkatan akhlak yang paling mulia. Sampai-sampai Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Diin menyatakan bahwa itsar adalah tingkatan dermawan (as-sakha’) yang paling tinggi. (Nudhrah An-Na’im fii Makarim Akhlaq Ar-Rasul Al-Karim, 3:630, 639)

Faedah dari Itsar

  1. Menunjukkan iman yang sempurna dan kebagusan Islam seseorang.
  2. Ini adalah jalan mudah untuk menggapai ridha dan cinta Allah.
  3. Akan timbul rasa cinta dan sayang antar sesama manusia.
  4. Menunjukkan begitu dermawannya seseorang karena sampai ia butuh pun dikorbankan.
  5. Punya sifat husnuzhan yang tinggi kepada Allah.
  6. Menunjukkan amalan yang baik di penghujungnya (husnul khatimah).
  7. Menunjukkan seseorang memiliki semangat yang tinggi dan terjauhkan dari sifat tercela.
  8. Itsar membuahkan keberkahan.
  9. Itsar memudahkan seseorang masuk surga dan terbebas dari neraka.
  10. Itsar mengantarkan kepada keberuntungan (falah) karena telah mengalahkan sifat pelit (syuhh).

Referensi:

Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.

Nudhrah An-Na’im fi Makarim Akhlaq Ar-Rasul Al-Karim. Dikumpulkan oleh para ahli dengan pembimbingan: Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (Imam dan Khatib Al-Haram Al-Makki). Penerbit Dar Al-Wasilah. 3:629-640.

Diselesaikan pada Jumat pagi, 23 Jumadal Ula 1439 H @ Darush Sholihin

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/17217-kisah-itsar-para-salaf-sudahlah-biarkan-dia-duluan.html

Sedekahnya Para Sahabat Nabi

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mulia yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya. Mereka adalah orang-orang yang menggabungkan ilmu dan amal dalam kehidupannya, mereka mengorbankan harta dan jiwa untuk Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu, merekalah tauladan kita setelah para Nabi dan Rasul.

Di antara teladan yang mereka berikan kepada kita adalah keteladanan dalam bersedekah. Demi Islam dan kaum muslimin, harta yang mereka yang mereka miliki seolah-olah tak berarti. Sebanyak apapun yang dibutuhkan untuk Islam dan kaum muslimin akan mereka berikan sesuai dengan apa yang mereka miliki. Bersamaan dengan itu, sedekah tersebut memiliki kualitas keikhlasan yang tak tertandingi. Semoga Allah meridhai mereka.

Berikut ini di antara sedikit dari amalan sahabat Nabi dengan keadaan zaman mereka yang sulit dan kemampuan finansial mereka yang masih terbatas.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu

Ketika Abu Bakar radhiallah ‘anhu berkeinginan membebaskan Bilal radhiallah ‘anhu dari perbudakan, Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas. Dan dengan segera Abu Bakar radhiallah ‘anhu langsung menebusnya.

1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
285,73 gr x Rp 400.000,00 = Rp 114.291.000,00

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu

Di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, karangan Ibnu Abdil Barr, menerangkan bahwa Umar radhiallah ‘anhu telah mewasiatkan 1/3 hartanya (untuk kepentingan Islam) yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi nilai 120.000 (dinar atau dirham). Jika dengan nilai sekarang, setara dengan) 510.000 gr emas = Rp 204.000.000.000,00

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu

Saat Perang Tabuk, beliau menyumbang 300 ekor unta,
300 ekor unta x Rp 12.000.000,00 = Rp 3.600.000.000,00
serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas
1000 dinar x 4,25 gr = 4250 gr x Rp 400.000,00 = Rp 1.700.000.000,00

Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Utsman radhiallah ‘anhu masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar

Di zaman Rasul perak memiliki kekuatan beli yang sangat tinggi
595 gram perak = 85 gram emas

100.000 dinar x 4,25 gr = 425.000 gr emas x Rp 400.000,00 = Rp 170.000.000.000,00
30.500.000 dirham x 85/595 = 4.357.143 dinar x 4,25 gr = Rp 18.517.857,8 x Rp 400.000,00
Rp 18.000.000 x Rp 400.000 = Rp 7.200.000.000.000,00 (Rp 7,2 Triliun)

Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu

Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas.
1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
200 uqiyah x 31,7475 gr emas = 6.349,5 gr x Rp 400.000,00 = Rp 2.539.800.000,00

Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah
100.000 dinar x 4,25 gr = 425.000 gr emas x Rp 400.000,00 = Rp 170.000.000.000,00
50.000 dinar = 85.000.000.000,00

Ini baru satu amalan dari sekian banyak sedekah lainnya yang mereka lakukan, belum lagi amalan selain sedekah. Inilah upaya mereka berniaga dengan Allah Ta’ala, membeli surga-Nya yang mahal harganya. 

BAGAIMANA DENGAN SAYA, DAN ANDA…….?

Ditulis oleh Ustadz Said Yai Ardiansyah dengan tambahan dari tim KisahMuslim.com

sumber: https://kisahmuslim.com/4089-sedekahnya-para-sahabat-nabi.html

Teladan Ulama: Terus Semangat dalam Belajar

Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor. Bagaimana teladan ulama dalam hal semangat belajar?

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).

Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194).

Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas:

1- Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.

2- Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut.

3- Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.

Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar.

Al Junaid rahimahullah,

ما طلب أحد شيئا بجد وصدق إلا ناله فإن لم ينله كله ناله بعضه

“Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.”

Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hambal masih usia beliau, terkadang ia sudah keluar menuju halaqoh para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan -sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.”

Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak!

Lihat pula bagaimana semangat Al Khotib Al Baghdadi ketika membaca kitab Shahih Al Bukhari hingga tuntas pada gurunya Isma’il Al Hiriy dalam tiga kali majelis. Bagaimana majelis tersebut? Majelis pertama dan kedua dibacakan kitab shahih tersebut mulai dari Maghrib hingga Shubuh. Majelis ketiga, shahih Bukhari dibacakan dari waktu Dhuha hingga Maghrib dan dilanjutkan terus hingga terbit fajar Shubuh.

Lihat pula semangatnya Abu Muhammad bin At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia ketika itu belajar dalam seluruh malam. Karena begitu sayang, ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dikira dirinya sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari.

Subhanallah! Luar biasa semangat Abu Muhammad rahimahullah dalam belajar. Bagaimana dengan kita yang terus malas-malasan bahkan mungkin tidak pernah mengenal begadang dalam menimba ilmu Islam?

Ibnu ‘Aqil ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung:

Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku,

Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang.

Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku.

Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar.

Referensi:

Ta’zhimul ‘Ilmi karya guru kami Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi, hal. 14-16.

Akhukum fillah,

Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

@ Nasmoco Sleman, Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1434 H

sumber: https://rumaysho.com/3725-teladan-ulama-terus-semangat-dalam-belajar.html

Kisah Hikmah: Jangan Dekati Zina, Zina adalah Hutang

Zina adalah utang…, taruhannya adalah keluarga anda. Lelaki yang berzina dengan wanita, sejatinya dia telah mencabik-cabik kehortaman semua lelaki kerabat wanita ini.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita awali dengan sebuah kisah. Kisah nyata yang memberikan pelajaran kepada kita bahwa kesalahan manusia tidak akan disia-siakan, semua tinggal menunggu balasan.

Tersebutlah dua orang pemuda…(sebut saja: Qird dan Kalb). Keduanya akrab karena sama-sama rajin maksiat. Saling membantu untuk berpetualang di dunia gemblung (dugem). Celakanya, keduanya telah menikah.

Suatu ketika, Qird melakukan perjalanan. Setelah berinteraksi dengan orang sekitar, dia berkenalan dengan seorang wanita. Terjadilah hubungan gelap diantara mereka. Qird berjanji, suatu hari akan menemui sang wanita, setidaknya bisa bermalam bersama.

Tiba saatnya untuk memenuhi janjinya. Suasana keluarga juga mendukung. Diapun pamit ke istrinya, karena ada tugas penting yang harus dia selesaikan. Dia memohon agar sang istri untuk tinggal sementara di rumah orang tuanya.

Berangkatlah sang istri yang malang ke rumah ortunya, dan berangkatlah serigala penipu untuk menjemput wanita simpanan idamannya.

Wanita itu berpesan: ‘Saya ingin kita ngobrol sebentar di taman, kemudian nanti baru ke rumah.’ ‘Oke, saya setuju.’ Sambut si Qird.

Sepulang dari taman, keduanya melaju ke rumah Qird yang telah dikosongkan penghuninya. Sesampainya di rumah, ‘Tunggu, tolong carikan makan – minum dulu.’ pinta si wanita.

Keluarlah Qird dengan penuh semangat menuju rumah makan. Setelah membeli beberapa makanan dan minuman, diapun bergegas pulang menuju rumah untuk melampiaskan kenangan indahnya. Segera melaju dengan mobilnya.

“Priii..tt” ternyata mobil Pak polisi telah menghadang.

“Permisi pak, anda melanggar lalu lintas. Anda melanggar lampu merah.” “Parkir mobil anda, dan ikut kami.”

Setelah sampai di kantor polisi, dia minta izin untuk menghubungi teman akrabnya. Berdirilah dia di sudut kantor, dan mulai menghubungi Kalb.

“Sudah… di rumah saya ada tamu istimewa… makan malamnya di mobil. Mobilnya ada di tempat X..” Lanjut, “Ambil makanan itu, antarkan ke rumahku…, dan lanjutkan rencana kita.” “Kalo kamu sudah selesai bersamanya, kembalikan dia ke rumahnya. Saya khawatir istri saya pulang ke rumah, dan terbongkar semua rahasia ini.”

“Siap, santai saja… selama di sana ada yang istimewa.” Jawab Kalb.

Berangkatlah Kalb, teman yang setia ke rumah Qird.

Setelah menjalani proses sidang yang rumit…, akhirnya Qird berhasil keluar kantor polisi. Dia bergegas melaju mobilnya dan menuju rumah..

Apa yang dia jumpai…?? Setelah dia pupus untuk mendapatkan impiannya.

Dia segera menggayuh pintu rumah dan memasukinya. Ternyata istrinya telah di rumahnya. Dan semalam dia bersama teman dekatnya, Kalb. Dia kaget setengah mati, “Kamu saya cerai tiga…, cerai empat…, cerai seribu kali..”

Apa yang bisa anda renungkan dari kisah ini…

Ya, karena zina adalah utang…, taruhannya adalah keluarga anda. Itulah yang dinasehatkan Imam As-Syafii.

Dalam Bait Syairnya beliau mengatakan,

عفوا تعف نساءكم في المحْرَمِ ****وتجنبـوا مـا لايليق بمسلـم

إن الزنـا دين إذا أقرضــته **** كان الوفا من أهل بيتك فاعلم

من يزنِ في قوم بألفي درهم **** في أهله يُـزنى بربـع الدرهم

من يزنِ يُزنَ به ولو بجـداره **** إن كنت يا هذا لبيباً فـافهـم

ياهاتكا حُـرَمَ الرجال وتابعـا**** طرق الفسـاد عشت غيرَ مكرم

لو كنت حُراً من سلالة ماجـدٍ**** ما كنت هتـّـاكاً لحرمة مسلمِ

Maaf, jaga kehormatan para wanita yang menjadi mahram kalian *** Hindari segala yang tidak layak dilakukan seorang muslim.

Sesungguhnya zina adalah utang. Jika kamu sampai berani berutang *** Tebusannya ada pada anggota keluargamu, pahami.

Siapa yang berzina dengan wanita lain dan membayar 2000 dirham *** bisa jadi di keluarganya akan dizinai dengan harga ¼ dirham

Siapa yang berzina akan dibalas dizinai, meskipun dengan tebusan tembok *** jika anda orang cerdas, pahamilah hal ini.

Wahai mereka yang merampas kehormatan keluarga seorang *** dan menyusuri jalan maksiat. Anda hidup tanpa dimuliakan.

Jika anda benar-benar bebas dari belenggu pengikat *** tak selayaknya engkau mencabik kehormatan seorang muslim.

sumber: https://kisahmuslim.com/3430-kisah-hikmah-jangan-dekati-zina-zina-adalah-hutang.html

Utsman bin Affan Bersahabat dengan Alquran

Para sahabat adalah generasi yang terdidik dengan Alquran. Allah turunkan kitab-Nya yang mulia di masa mereka. Dan Rasul-Nya ﷺ mendidik generasi mulia ini secara langsung. Menjelaskannya dalam perkataan dan perbuatan.

Di antara sahabat Nabi ﷺ yang terdidik dengan bimbingan Alquran itu adalah Dzu Nurain, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Kedua telinga Utsman mendengar langsung ayat Alquran yang dilantunkan oleh sayyidul anbiya wal mursalin. Ayat-ayat tersebut meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatinya. Terpraktikkan pada kepribadiannya. Menyucikan hatinya dan menahbiskan jiwanya. Kemudian mempengaruhi ruhnya. Jadilah ia manusia baru –karena memeluk Islam- dengan jiwa yang mulia. Tujuan hidup yang agung. Dan perangai yang istimewa.

Menjadikan Alquran Sebagai Sahabat

Dari Abi Abdurrahman as-Sulami, ia berkata, “Para pembaca Alquran –semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dll- bercerita kepada kami bahwa mereka belajar dari Rasulullah ﷺ 10 ayat. Mereka tidak menambahnya sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Alquran; memahaminya, sekaligus mempraktikkannya’. Oleh karena itu, para sahabat butuh beberapa waktu untuk menghafalkan satu surat. Semua itu karena Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).”

Dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari).

Di antara murid-murid Utsman bin Affan yang paling terkenal adalah Abu Abdurrahman as-Sulami, al-Mughirah bin Abi Syihab, Abu al-Aswad, dan Wazir bin Hubaisy (Tarikh al-Islami oleh Imam adz-Dzahabi, 1: 467).

Quote Utsman Tentang Alquran

Sejarah telah mencatat kalimat-kalimat penuh hikmah dari Utsman bertutur tentang Alquran. Ia berkata,

“Jika hati kita suci, maka ia tidak akan pernah puas dari kalam Rabb nya.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, bab al-Adab wa at-Tasawwuf).

Beliau juga mengatakan, “Sungguh aku membenci, satu hari berlalu tanpa melihat (membaca) Alquran.” (al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 10: 388).

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Bagian dunia yang kucintai ada tiga: (1) mengenyangkan orang yang lapar, (2) memberi pakaian mereka yang tak punya, dan (3) membaca Alquran”. (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 88).

Dalam kesempatan lainnya, Utsman berkata, “Ada empat hal ketika nampak merupakan keutamaan. Jika tersembunyi menjadi kewajiban. (1) Berkumpul bersama orang-orang shaleh adalah keutamaan dan mencontoh mereka adalah kewajiban. (2) Membaca Alquran adalah keutamaan dan mengamalkannya adalah kewajiban. (3) Menziarahi kubur adalah keutamaan dan beramal sebagai persiapan untuk mati adalah kewajiban. (4) Dan membesuk orang yang sakit adalah keutamaan dan mengambil wasiat darinya adalah kewajiban”. (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 90).

Utsman juga berkata, “Ada 10 hal yang disia-siakan: Orang yang berilmu tapi tidak ditanyai. Ilmu yang tidak diamalkan. Pendapat yang benar namun tidak diterima. Senjata yang tidak digunakan. Masjid yang tidak ditegakkan shalat di dalamnya. Mush-haf Alquran yang tidak dibaca. Harta yang tidak diinfakkan. Kendaraan yang tidak dipakai. Ilmu tentang kezuhudan bagi pencinta dunia. Dan usia panjang yang tidak menambah bekal untuk safarnya (ke akhirat).” (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 91).

Tidak jarang, Allah al-Hakim mewafatkan seseorang sedang melakukan kebiasaannya ketika hidup. Demikian pula yang terjadi pada Utsman. Ia amat dekat dan selalu bersama Alquran. Hingga ia wafat pun sedang membaca Alquran.

Dialah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Salah seorang khalifah rasyid yang diikuti sunnahnya. Persahabatanya begitu dengan Nabi yang mulia, Muhammad ﷺ. Ia adalah di antara sahabatnya yang paling istimewa. Dan ia pula laki-laki yang menikahi dua putri Rasulullah ﷺ. Cukuplah sebuah riwayat dari Sufyan bin Uyainah berikut ini untuk mengetahui kedudukan Utsman di sisi Rasulullah ﷺ.

Dari Sufyan bin Uyainah, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah ﷺ apabila duduk, maka Abu Bakar duduk di sebelah kanannya, Umar di sebelah kirinya, dan Utsman di hadapannya. Ia menulis rahasia Rasulullah ﷺ.” (Tarikh Dimasy oleh Ibnu Asakir, 26: 344).

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

sumber: https://kisahmuslim.com/4992-utsman-bin-affan-bersahabat-dengan-alquran.html

Kesabaran Sumaiyyah dalam Mempertahankan Iman (Wanita Pertama yang Syahid dalam Islam)

Sabar adalah salah satu sifat terpuji yang telah ditanamkan Islam kedalam hati para wanita mukminah dari kalangan para shahabiyat, dan menumbuhkannya dalam sanubari mereka, sehingga salah seorang diantara mereka pada saat menghadapi berbagai cobaan dan musibah bagaikan gunung yang kokoh tak bergerak, dan bagaikan singa di sarangnya, ia tidak takut dan tidak ragu.

Mereka telah mengalami berbagai siksaan lahir dan batin, mengalami sakit parah, kemiskinan yang mencekik, kehilangan orang-orang yang dicinati. Namun itu semua tidak menggoyahkan keimanan mereka, tidak membunuh semangat mereka, tidak menjadikan mereka berkeluh kesah, lemah dan gelisah.

Diantara shahabiyat yang mendapat anugerah tersebut adalah Sumaiyah, seorang wanita yang pertama kali mendapatkan syahid dalam Islam.

Kisahnya,….

Dalam ketegaran menghadapi siksaan, tampak sekali sikap Sumaiyah binti Khabbat, ibu Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sebagai contoh terdepan dan bukti yang sangat tepat dalam hal ini.

Abu Jahal, panglima kezhaliman memakaikan baju besi pada Sumaiyah, kemudian menjemurnya dibawah terik panas matahari yang membakar. Walaupun begitu ia bersabar dan mengharap pahala, ia tidak berharap sesuatu kecuali Allah dan Hari Akhir. Ketika sikap beliau ini mematahkan kesombongan Abu Jahal, dan mengobarkan kemarahan di hatinya, Abu Jahal melakukan apa yang dilakukan oleh para penguasa zhalim lagi jahat ketika tak mampu berbuat apa-apa. Karena ketegaran Sumaiyah radhiallahu ‘anha dalam agamanya, Abu Jahal mendekatinya, kemudian menusuknya dengan tombak hingga meninggal dunia.

Dalam kitab ‘Usdhu al-Ghabah’, al-Hafizh Ibnu hajar mengatakan, “Abu Jahal menusuk sumaiyah dengan tombak yang ada ditangannya pada kemaluannya hingga meninggal dunia. Beliau adalah orang yang mati syahid pertama dalam Islam, beliau dibunuh sebelum hijrah, dan beliau termasuk diantara orang yang memperlihatkan keislamannya secara terang-terangan pada awal datangnya Islam.”

Ini adalah merupakan pelajaran bagi setiap mukminah yang diinginkan oleh orang-orang yang brbuat dosa untuk dicopot dari agamanya, hendaknya ia meneladani ketegaran, keteguhan dan kesabaran Sumaiyah. Semboyannya adalah perkataan Abu Athiyah,

“Bersabarlah dalam kebenaran, engkau akan merasakan manisnya
Kesabaran demi kebenaran terkadang harus melalui kepedihan.”

Hal ini juga menunjukkan bahwa sabar itu tidaklah ada batasnya, sampai Allah mendatangkan keputusan dan ketetapan-Nya.

Sumber: Durus min Hayat ash-Shahabiyat, karya Abdul Hamid bin Abdurrahman as-Suhaibani. (alsofwah.or.id)

sumber:https://kisahmuslim.com/932-kesabaran-sumaiyyah-dalam-mempertahankan-iman-wanita-pertama-yang-syahid-dalam-islam.html

KISAH PEMUJA LGBT YANG BERAKHIR TRAGIS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KISAH PEMUJA LGBT YANG BERAKHIR TRAGIS

Penulis: Abu Ubaidillah Al-Atsariy

Maraknya isu-isu LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) akhir-akhir ini membuat kaum Muslimin terheran-heran. Mereka heran dengan para pengidap, pendukung, dan pemuja penyakit aneh ini. Seakan mereka lupa, bahwa mereka adalah manusia dan bukan hewan. Yang lebih aneh lagi adalah, ketika sebagian orang yang mengklaim dirinya atau diklaim sebagai tokoh cendekiawan, malah dengan ringan mengatakan, bahwa Islam tidak melarang LGBT. Maka berikut kami sajikan sebuah kisah nyata Nasib Tragis Pemuja Homoseksual (baca LGBT)

Pemuja LGBT Di Negeri Sodom

Kaum Nabi Luth adalah kaum yang tinggal di kota Sodom -di laut tengah- dan kota-kota sekitarnya di Yordania. Kota tersebut terletak di jalan menuju Syam, yang dikenal pada zaman sekarang dengan daerah Laut Mati atau Danau Luth. Mereka adalah orang-orang yang memiliki niat yang jahat, paling kafir dan manusia terburuk. Batin mereka dan jalan kehidupan mereka paling hina dan rendah. Mereka meninggalkan jalan yang benar, lalu menempuh jalan yang belum pernah diketahui ada manusia yang melakukan sebelumnya. Mereka melakukan perbuatan kemungkaran di tempat pertemuan mereka. Lebih dari itu, mereka tidak saling melarang dari apa yang mereka lakukan. Membuat kekejian baru yang tidak pernah dilakukan oleh anak Adam sebelumnya, yaitu mendatangi dan menggauli sesame kaum laki-laki untuk melepaskan syahwat -homoseksual-.

Mereka justru meninggalkan para wanita yang Allah ﷻ ciptakan untuk para hamba-Nya.

Ajakan Nabi Luth ‘alaihissalam

Datanglah Nabi Luth ‘alaihissalam untuk menyeru mereka, agar beribadah hanya kepada Allah, dan tidak ada serikat bagi-Nya. Beliau juga melarang mereka dari perbuatan haram, keji dan mungkar, serta menjijikkan ini. Namun kaum Nabi Luth tetap memilih kesesatan dan pelanggaran. Mereka terus menerus di atas dosa, kejahatan dan kekafiran, sehingga Allah ﷻ menimpakan kepada mereka hukuman dan siksaan yang tidak bisa dihindari.  Hukuman dan siksaan yang belum pernah terbetik di dalam benak dan hati manusia. Allah ﷻ jadikan mereka sebagai pelajaran bagi semua orang di alam ini. Allah ﷻ abadikan kisah mereka sebagai pelajaran dan petuah bagi yang masih memiliki akal. Oleh karena itu Allah ﷻ menyebutkan kisah mereka lebih dari satu tempat di dalam kitab-Nya yang nyata. Allah berfirman:

 

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala Luth berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (homoseksual), yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita. Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian Kami selamatkan Luth dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia (istri Luth – penj) termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu). Maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” [QS. Al A’raf: 80-84]

Allah ﷻ juga berfirman:

“Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal. Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar.

Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Subuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina. Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?”

Luth berkata: “Inilah putri-putriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), bagi orang-orang yang memerhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)” [QS. Al- Hijr: 61-76]

Di dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memeringatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku” [QS. Al Qamar: 34-39].

Penjelasan Alim Ulama

Para ahli tafsir menjelaskan, bahwa setelah para malaikat itu –Jibril, Mikail dan Israfil– beranjak pergi dari kediaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, maka mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di kota Sodom. Para malaikat itu berpenampilan sebagai para pemuda tampan rupawan. Dan ini dalam rangka memberikan ujian dari Allah ﷻ kepada kaum Nabi Luth dan menegakkan hujjah atas mereka. Para malaikat itu kemudian bertemu di rumah Nabi Luth. Peristiwa ini terjadi sesaat sebelum tenggelamnya matahari. Nabi Luth ‘alaihissalam khawatir bila ia tidak menerimanya sebagai tamu. Karena orang selain beliau dari kaumnya yang akan menerimanya sebagai tamu. Sementara  Nabi Luth ‘alaihissalam menyangka bahwa mereka adalah manusia biasa. Oleh karena itu disebutkan di dalam al-Quran:

سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

“….Nabi Luth merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit” [QS. Hud: 77].

Abdullah bin Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Muhammad bin Ishaq menyatakan:

Ini adalah ujian berat bagi Nabi Luth ‘alaihissalam. Hal ini karena beliau harus melindungi dan membela tamu-tamu itu pada malam tersebut. Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh beliau kepada tamu-tamu yang lain. Sementara kaum Nabi Luth berpesan kepada beliau agar tidak menerima seorang tamu pun berkunjung ke rumahnya. Namun Nabi Luth ‘alaihissalam memandang dirinya tidak bisa menghindarinya, mau tak mau beliau harus menerima dan melindungi tamu-tamu tersebut.

Qotadah rahimahullah menyebutkan, bahwa ketika para malaikat ini dating, Nabi Luth ‘alaihissalam sedang berada di ladang tempat beliau bekerja. Maka datanglah para malaikat yang berwujud manusia itu hendak bertamu kepada beliau. Namun Nabi Luth ‘alaihissalam merasa malu, yang akhirnya beliau berjalan di depan mereka belum mulai mengucapkan sesuatu yang mengisyaratkan agar mereka meninggalkan kota tersebut dan singgah di kota lain.

“Mereka itu adalah penduduk yang aku tidak mengetahui di bumi ini ada penduduk yang lebih buruk dan lebih keji dari mereka” demikian ujar Nabi Luth ‘alaihissalam kepada para tamunya. Kemudian Nabi Luth ‘alaihissalam berjalan dan mengulangi lagi ucapannya. Demikian diulang-ulang terus oleh Nabi Luth sebanyak empat kali.

Qotadah mengatakan “Malaikat itu diperintahkan oleh Allah agar tidak membinasakan kaum tersebut sehingga nabi mereka menyaksikannya”

Kedatangan Orang-Orang Dzalim Ke Rumah Nabi Luth ‘Alaihissalam.

Allah ﷻ berfirman:

وَجَاءَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira, (karena) kedatangan tamu-tamu itu” [QS. Al Hijr: 67].

Sebelumnya telah terdengar dari mulut ke mulut, bahwa di rumah Nabi Luth ‘alaihissalam ada beberapa pemuda berwajah tampan. Merekapun sangat senang karena di rumah tersebut ada mangsa untuk melampiaskan hawa nafsu mereka.

Pengungkapan dan penggambaran al Qur’an itu menunjukkan puncak kekejian, kejelekan, serta keburukan yang telah menguasai kaum Nabi Luth. Sungguh mereka telah mencapai puncak kekotoran, kejahatan, dosa, keganjilan, dan kelainan. Hal ini terungkap dari pandangan para penduduk kota tersebut yang datang secara berkelompok-kelompok bersuka cita dan bergembira siap mendatangi para pemuda dengan terang-terangan.

Terang-terangan Melakukan Maksiat

Sikap terang-terangan dalam mencapai puncak kemungkaran merupakan hal yang sangat keji dan kotor. Di mana akalpun hampir tak percaya dengan kejadian itu, jikalau kejadian tersebut tidak bisa dibuktikan.

Memang ada orang yang sakit lalu ingin berbuat kelainan dan keanehan. Namun ia akan berusaha menutup-nutupi atau menyembunyikan kekejiannya. Dia akan berusaha menikmati kekejian tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Dia akan merasa takut bila diketahui oleh orang lain, karena sesungguhnya fitrah yang masih suci dan lurus akan berusaha menyembunyikan kenikmatan jika itu tidak diinginkan oleh tabiat dan syariat. Bahkan sebagian hewan pun tidak akan melakukan perbuatan tersebut. Berbeda halnya dengan kaum Nabi Luth, mereka melakukannya terang-terangan dan dilakukan bersama-sama, bahkan mereka sangat bergembira dengan hal itu. Sungguh kondisi ini sangat ironi yaitu sebuah kondisi yang bertolak belakang dengan fitrah dan kewajaran. Di mana tidak ada seorang makhluk pun yang menyamai kondisi seperti ini.

Rasa Demam Pada Pengidap Penyakit Homoseksual

Allah ﷻ berfirman:

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas…”[QS. Hud: 78]

Nabi Luth ‘alaihissalam melihat sesuatu yang mirip dengan demam pada badan orang-orang yang tergopoh-gopoh datang ke rumahnya. Mereka mengancam diri Nabi Luth alaihisalam dengan ancaman kepada tamu dan anak-anak perempuannya. Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ  وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

“Dan sesungguhnya dia (Luth), telah memeringatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku” [QS. Al Qamar: 36-37].

Tindakan kejahatan dan sikap gegabah mereka telah mencapai puncaknya. Hal itu mendorong mereka memaksa Nabi Luth ‘alaihissalam untuk menyerahkan tamunya, yaitu para malaikat yang disangka pemuda tampan nan rupawan. Api gejolak syahwat mereka menyala-nyala, nafsu mereka semakin berkobar, nafsu aneh dan ganjil, syahwat keji lagi kotor, ingin dilampiaskan kepada para tamu Nabi Luth ‘alaihissalam.

Tak Ada Malu Lagi

Tanpa merasa risih dan segan, mereka telah menurunkan kehormatan nabi mereka yang telah memeringatkan mereka akan hukuman maupun balasan dari perbuatan ganjil, aneh, lagi keji, dan menjijikkan ini. Nabi Luth ‘alaihissalam berusaha membangkitkan fitrah suci lagi lurus mereka. Beliau mengarahkan mereka kepada lawan jenis lain, yang memang Allah ﷻ ciptakan untuk mereka:

قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُم

“Luth berkata: “Hai kaumku, inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagimu” [QS. Hud: 78]

Beliau membimbing mereka agar suka dan cinta terhadap para wanita. Para wanita itu adalah putri-putri beliau secara syari, karena kedudukan seorang nabi bagi umatnya, seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya. Demikian keterangan yang dibawakan oleh Mujahid, Sa’id Bin jubair, Ar Rabi bin Anas, dan Muhammad bin Ishaq. Dan pendapat inilah yang kami pilih.

Kenapa Bukan Wanita ?

Para wanita itu lebih suci dari segala sisi, baik dari sisi jiwa maupun fisik. Para wanita yang sesuai dengan fitrah yang suci dan bersih. Mereka memiliki kebersihan dan kesucian; kesucian fitrah, kesucian akhlak, hingga kesucian agama. Para wanita itu juga suci secara fisik, yaitu ketika Allah ﷻ menjadikan mereka dengan takdirnya sebagai seorang wanita tumbuh di dalam rumahnya. Demikian pula Allah ﷻ telah jadikan mereka suci lagi bersih. Nabi Luth mengatakan:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي

“Maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini” [QS. Hud: 78]

Beliau mengucapkan kalimat ini dalam rangka memancing kejantanan dan keberanian mereka. Juga dalam memancing adat kebiasaan Badui mereka yang selalu memuliakan tamu. Beliau juga membangkitkan keberanian manusiawi di dalam diri mereka.

Sementara itu Nabi Luth ‘alaihissalam mengetahui, bahwa jiwa-jiwa yang telah terbalik dan tertutup tidak akan menganggap perkara tersebut sebagai suatu keberanian dan kejantanan, tidak pula menganggapnya sebagai perasaan manusiawi yang bisa dibangkitkan lagi. Akan tetapi, walaupun susah dan sulitnya hal tersebut, Nabi Luth ‘alaihissalam tetap berusaha semampunya. Kemudian beliau mengatakan lagi:

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” [QS. Hud: 78].

Kenapa Nabi Luth Yang Disalahkan?

Dan sebagai ganti dari berkobar dan bergejolaknya syahwat mereka yang merendahkan kehormatan dan menghilang rasa malu itu, mereka pun membual dan membanggakan diri, lalu mereka menyalahkan Nabi Luth ‘alaihissalam yang telah menerima tamu dari laki-laki yang tampan rupawan. Seolah-olah Nabi Luth-lah yang bersalah. Seolah beliau, menurut mereka, telah menyebabkan terjadinya perbuatan dosa lagi jahat tersebut. Menurut mereka, Luth ‘alaihissalam telah menggelincirkan mereka ke dalam perbuatan keji itu. Padahal mereka sendiri telah memiliki nafsu membara yang tidak mampu mereka kuasai. Ini sama dengan bualan sebagian tokoh yang membela LGBT, dan menyalahkan orang yang memeringatkan mereka dengan ayat-ayat Allah. Sungguh sejarah yang berulang…

قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) siapa saja?” [QS. Al Hijr: 70]

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

“Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu telah tahu, bahwa kami tidak memunyai keinginan terhadap putri-putrimu. Dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki“. [QS. Hud: 79]

Ucapan mereka ini adalah isyarat keji untuk perbuatan keji. Nabi Luth ‘alaihissalam pun menyerah. Beliau merasa lemah dan tidak mampu untuk mencegah kaumnya. Beliau hanya seorang diri di hadapan kaumnya. Nabi Luth ‘alaihissalam jauh dari pengikutnya. Beliau adalah orang asing di sana dan beliau telah meninggalkan daerah asalnya. Kini beliau berada di tengah kaum yang beliau tidak memiliki keluarga yang bisa melindungi dirinya.

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ

“Luth berkata: “Seandainya aku ada memunyai kekuatan (untuk menolakmu), atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)“[QS. Hud: 80]

Situasi Pun Semakin Genting

Di dalam kesulitan dan situasi genting itu, Nabi Luth ‘alaihissalam merasa tidak memiliki apapun dan tidak pula siapapun untuk berlindung kepada keluarga yang kuat. Di saat seperti itu, Allah Dzat yang tidak pernah membiarkan para wali-Nya seorang diri, menenangkan dan meneguhkan Luth. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

“Rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ yang telah dicurahkan kepada Nabi Luth. Sungguh ketika itu Nabi Luth telah berlindung kepada keluarga yang begitu kuat“

Dalam kitab Al Bidayah Wan Nihayah,  Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengisahkan:

Para ahli tafsir dan selain mereka menyebutkan, bahwa Nabiyullah Nabi Luth ‘alaihissalam berusaha menghalangi kaumnya yang mendesak untuk masuk. Beliau berupaya mencegahnya, sementara itu pintu rumah masih dalam keadaan tertutup dan terkunci. Mereka semua menuntut agar pintu rumah tersebut dibuka. Mereka juga memaksa untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Nabi Luth ‘alaihissalam dari balik pintu memberikan nasihat dan melarang mereka.

Para ahli tafsir menyebutkan:

Di saat itulah Malaikat Jibril keluar menemui mereka. Jibril memukul wajah-wajah mereka dengan pukulan menggunakan ujung sayapnya, sehingga mata-mata terhapus. Mereka menjadi buta, sampai-sampai ada yang menyebutkan, bahwa mata mereka kering dan cekung. Bola mata mereka masuk ke dalam lobangnya, sehingga tempat mata bola mata dan juga bekasnya tidak terlihat lagi.

Akhirnya mereka kembali pulang dalam keadaan berusaha mencari-cari dinding dengan diraba untuk dijadikan jalan pulang. Sambil berjalan pulang, mereka mengancam utusan Ar Rahman, yaitu Malaikat Jibril, bahwa jika terjadi sesuatu pada mereka esok hari, maka Luth akan merasakan akibatnya”

Hancurnya Tujuh Kota Negeri Sodom

Malaikat pun kembali kepada Nabi Luth ‘alaihissalam, kemudian memerintahkan beliau ‘alaihissalam bersama keluarganya untuk berjalan di akhir malam. Mereka juga berpesan kepada Luth ‘alaihissalam dan keluarga, agar jangan sampai ada seorang yang menoleh ke belakang, ketika mereka mendengar suara azab yang menimpa kaumnya, kecuali istrimu. Dia akan ditimpa dengan musibah yang menimpa mereka, ketika waktu yang telah ditentukan tiba. Jibril ‘alaihissalam lalu mencabut dengan ujung sayapnya dari tempat mereka berdiri. Tempat-tempat itu terdiri dari tujuh kota, beserta umat-umat yang berada di tempat tersebut.

Para ulama menyebutkan, bahwa ketika itu jumlah mereka adalah 400 jiwa. Ada juga yang menyatakan, bahwa jumlah mereka 4000 orang. Tidak ketinggalan pula hewan-hewan dan daerah-daerah di sekitar tempat tersebut, baik berupa kota, negeri, atau sekumpulan kampong, diangkat pula oleh Malaikat Jibril.

Malaikat Pun Mendengar Kokok Ayam Kaum Sodom

Semua kota-kota itu diangkat oleh Malaikat Jibril hingga ke puncak langit. Sampai-sampai para malaikat lain yang berada di langit mendengar suara suara kokok ayam jantan, dan suara lolongan anjing-anjing penduduk. Setelah itu Malaikat Jibril membalik dan menghempaskan mereka  ke bawah. Jibril menjadikan bagian atasnya menjadi bagian bawah setelah itu:

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

“Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras” [QS. Hijr: 74].

Yaitu tanah yang begitu keras lagi kuat.

مَنْضُودٍ

“Dengan bertubi-tubi” [QS. Hud: 82]

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ

“Yang diberi tanda oleh Tuhanmu” [QS. Hud: 83].

Yaitu tertulis pada setiap batu tersebut, nama orang yang akan ditimpanya, sehingga batu tersebut menghancurkan kepalanya.

Azab Sesuai dengan Perbuatan

Allah tidak akan akan menzalimi hamba-Nya. Jika Allah mengazab mereka, maka itu sesuai dengan perbuatan mereka. Allah ﷻ berfirman:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih” [QS. An Naml: 56].

 

Mereka mengejek dengan ejekan, seolah-olah Nabi Luth dan pengikutnya mengaku suci dan bersih dari perbuatan kotor dan menjijikkan tersebut. Mereka mengingkari sikap Nabi Luth ‘alaihissalam sebagai bentuk menyucikan diri, disebabkan fitrah mereka telah menyimpang. Mereka tidak merasa, bahwa diri mereka telah menyimpang dari fitrah, dan lebih condong kepada perbuatan keji lagi menjijikkan tersebut. Sehingga mereka justru merasa sempit dan risih dengan sikap menyucikan diri yang sebenarnya. Makanya mereka tertekan bila Nabi Luth ‘alaihissalam mengharuskan mereka meninggalkan kelainan yang ganji lagi aneh itu.

Ketika mata hati mereka telah buta, mata Jibril pun membutakan pandangan mata mereka:

فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ

“Lalu Kami butakan mata mereka” [QS. Al Qamar: 37].

Dan ketika mereka memutar balik fitrah, maka Allah ﷻ membalikkan kota dan tempat tinggal mereka:

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا

“Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah” [QS. Al Hijr: 74]

Asy Syinqithi rahimahullah berkata:

“Ketika kaum Nabi Luth ‘alaihissalam memutar-balik hubungan seks dengan mendatangi kaum lelaki bukan kaum wanita, maka balasan dan hukuman pun sesuai dengan perbuatan mereka, yaitu Allah ﷻ kembalikan tempat tinggal mereka. Hanya Allah ﷻ yang mengetahui hakikat kebenarannya“.

Allah ﷻ berfirman:

وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَىٰ

“Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah” [QS. An Najm: 53]

Kota-kota mereka terbalik bagian atasnya menjadi bagian bawahnya.

Allah ﷻ berfirman:

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا

“Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah” [QS. Al Hijr: 74]

Ini adalah bentuk penghancuran total dan menyeluruh, yaitu membalikkan segala sesuatu dan mengubah bangunan serta menghancurkannya. Membalikkan bagian atas kota itu menjadi bagian bawah, adalah hal yang paling sesuai dan mirip dengan fitrah mereka yang telah terbalik dan rendah. Fitrah yang turun dari fitrah manusia kepada fitrah hewan rendahan, bahkan lebih rendah daripada hewan. Karena hewan masih tetap di atas fitrah hewani mereka.

Hujan batu itupun turun…

Allah ﷻ berfirman:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

“Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu). Maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu” [QS. An Naml: 58]

Mereka ditimpa oleh hujan yang mematikan dan membinasakan. Padahal hujan itu sebenarnya adalah menurunkan air yang menghidupkan dan menumbuhkan tanaman. Hujan yang mematikan ini setimpal dengan perbuatan mereka, yang meletakkan air kehidupan (air mani) bukan pada tempatnya, yaitu sebagai sumber dan demi kehidupan manusia.

Sehingga balasan pun sesuai dengan jenis amalan mereka. Mereka juga ditimpa dengan hujan yang disertai dengan angin ribut. Hujan yang menenggelamkan dan juga air yang membanjiri itu bertujuan untuk membersihkan muka bumi dari kotoran dosa yang mereka lakukan. Serta membersihkan tempat yang mereka tinggali.

Barang siapa yang melihat dengan pandangan mata, dan memerhatikan tanda-tanda yang ada pada mereka, maka lihatlah bagaimana Allah ﷻ mengubah negeri itu beserta penduduknya.

Bagaimana Allah ﷻ menjadikannya negeri tersebut sebagai negeri yang mati dan tidak memiliki kehidupan, setelah sebelumnya negeri yang makmur.

Bagaimana Allah ﷻ menjadikan tempat tersebut sebagai danau yang begitu busuk baunya.

Danau Yang Busuk

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

“Allah ﷻ menjadikan negeri mereka sebagai danau yang mengeluarkan bau busuk. Airnya tidak bisa dimanfaatkan. Begitu pula dengan daerah-daerah yang berbatasan dengan danau tersebut, juga tidak bisa dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena jelek dan buruknya kondisi danau tersebut. Maka danau tersebut sebagai pemberian pelajaran, hukuman, serta nasihat dan petuah.

Di samping itu juga sebagai tanda kekuasaan dan keagungan serta kekuatan Allah ﷻ ketika murka terhadap siapa saja yang menyelisihi maupun yang melanggar perintah Nya, serta mendustakan Rasul-Nya. Kemudian mengikuti hawa nafsunya, dan bermaksiat kepada pelindungnya, sehingga kebusukan mereka sesuai dengan busuknya bau danau itu“

Semoga ini bisa memberikan pelajaran bagi mereka yang berakal dan cerdas, menerima apa yang dibimbingkan oleh Rasulullah ﷺ. Dia menikahi pasangan yang dihalalkan oleh Allah ﷻ dan tidak mengikuti apa yang dibisikkan oleh setan yang durhaka, sehingga ia berhak mendapatkan ancaman azab, serta masuk ke dalam firman Allah ﷻ:

وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيد

“Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim“[QS. Hud: 83]

Demikian akhir kisah mengenaskan, memalukan, dan menghinakan dari pendahulu pemuja LGBT. Apakah masih ada orang yang mau mengikuti jejak mereka ?

________

 

*Diterjemahkan dan diringkas dari kitab: 100 Qishshah Min Nihayatidz Dzalimin dengan sedikit tambahan keterangan.

 

Sumber:http://abuubaidillah.com/kisah-pemuja-lgbt-yang-berakhir-tragis

repost: https://nasihatsahabat.com/kisah-pemuja-lgbt-yang-berakhir-tragis/