Pelajaran dari Menyertai Orang-orang Shalih

Pada suatu hari, Syaqiq al-Balkhi –beliau termasuk salah seorang dokter hati- berkata kepada muridnya, Hatim al-Asham, “Apa yang telah engkau pelajari dariku sejak menyertaiku (selama 30 tahun)?”

Hatim al-Asham menjawab, “Ada enam hal:

Pertama, saya melihat orang-orang masih ragu mengenai rezeki. Tidak ada di antara mereka melainkan kikir terhadap harta yang ada di sisinya dan tamak terhadap hartanya. Lantas saya bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan firman-Nya:

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Karena saya termasuk makhluk bergerak, maka saya tidak peru menyibukkan hatiku dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Dzat yang Maha Kuat dan Kokoh.”

Beliau berkata, “Engkau benar.”

Kedua, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai teman yang menjadi tempat baginya untuk membuka rahasia dan mencurahkan isi hatinya. Akan tetapi mereka tidak akan menyembunyikan rahasia dan tidak mampu melawan takdir. Oleh karena itu, yang saya jadikan sebagai teman ialah amal shalih agar dapat menjadi pertolongan bagiku pada saat dihisab, mengokohkanku di hadapan Allah Azza wa Jalla, serta menemaniku melewati shirath.

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Ketiga, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai musuh. Lalu saya merenung. Ternyata orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan pula orang yang berbuat zhalim kepadaku, dan bukan pula orang yang berbuat buruk kepadaku. Sebab, dia justru memberi hadiah kepadaku dengan amal-amal kebaikannya dan memikul perbuatan-perbuatan burukku. Akan tetapi, musuhku ialah sesuatu yang pada saat saya melakukan ketaatan kepada Allah, dia membujukku berbuat maksiat kepada-Nya. Hal tersebut adalah iblis, nafsu, dunia, dan keinginan. Oleh karena itu, saya menjadikan hal tersebut sebagai musuh, saya menjaga diri, dan saya mempersiapkan diri untuk memeranginya. Maka, saya tidak akan membiarkan salah satu dari semua itu mendekati saya.

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Keempat, saya memandang bahwa setiap orang hidup adalah orang yang dicari sedangkan malaikat Maut adalah pihak yang mencari. Oleh karena itu, saya mencurahkan diri saya untuk bertemu dengannya. Sehingga, ketika dia telah datang, saya dapat bersegera berangkat dengannya tanpa rintangan.”

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Kelima, saya melihat orang-orang saling mencintai dan saling membenci. Saya melihat orang yang mencintai tidak memiliki sedikit pun terhadap orang yang dicintainya, lalu saya merenungkan sebab cinta dan benci. Saya tahu bahwa sebabnya ialah keinginan dan dengki. Saya menyingkirkannya dari diri saya dengan menyingkirkan hal-hal yang menghubungkan antara diri saya dengannya, yaitu syahwat. Oleh karena itu, saya mencintai seluruh kaum muslimin. Saya hanya ridha kepada mereka sebagaimana saya ridha terhadap diri sendiri.

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Keenam, saya memandang bahwa setiap orang yang bertempat tinggal pasti meninggalkan tempat tinggalnya dan sesunguhnya tempat kembali setiap orang yang bertempat tinggal ialah alam kubur. Oleh karena itu, saya mempersiapkan semua amal perbuatan yang mampu saya lakukan yang dapat membuatku gembira di tempat tinggal yang baru yang di belakangnya tidak lain adalah surga atau neraka.

Kemudian Syaqiq al-Balkhi berkata, “Itu sudah cukup. Lakukanlah semua itu sampai mati.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

sumber: https://kisahmuslim.com/3068-pelajaran-dari-menyertai-orang-orang-shalih.html

Kesabaran Abdullah bin Hudzafah

Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.

Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata, “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab, “Silahkan saja!”

Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah, “Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.” Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (kuali) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun, Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Ketika mereka hendak melemparkannya beliau menangis. Kemudian mereka melapor kepada Raja, “Sesungguhnya dia menangis.” Raja mengira bahwasanya beliau takut, maka ia berkata, “Bawa dia kemari!” Lalu berkata, “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya, “Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.” Maka, Raja tersebut heran dengan jawabannya. Kemudian ia berkata, “Apakah engkau mau mencium keningku, kemudian akan kubebaskan engkau?” Abdullah menjawab, “Beserta seluruh tawanan kaum muslimin ?” Ia menjawab, “Ya.” Maka ia pun mencium kening raja tersebut dan bebaslah ia beserta seluruh tawanan kaum Muslimin. Para tawanan menceritakan kejadian ini kepada Umar bin Khattab. Maka, berkatalah Umar, “Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.” Kemudian Umar mencium keningnya. [Lihat Siyaru A’lami An-Nubalaa’, Adz-Dzahabi, 2/14 ; dan Al-Ishabah fi Tamyizi Ash-Shahabah, 2/269].

Ini adalah kedudukan yang agung lagi mulia karena Abdullah bin Hudzafah tetap teguh memegang agamanya dan tidak menerima agama selainnya walaupun ia diiming-imingi dengan kerajaan Kisra dan yang semisalnya untuk diberikan kepadanya dan seluruh kerajaan Arab. Kemudian ia tetap membenarkan atas Allah tidak takut terhadap para pemanah yang hendak memanahnya dalam keadaan tubuh sedang disalib. Ia juga tidak takut terhadap belanga yang berisi air yang mendidih ketika ia melihat salah seorang tawanan dilemparkan ke dalamnya hingga nampak tulang belulangnya. Bersamaan dengan itu ia berharap jika nyawanya sejumlah rambut di kepalanya yang disiksa di jalan Allah karena Allah semata. Maka ketika ia melihat kemashlahatan umum yaitu dibebaskannnya para tawanan, ia pun mau untuk mencium kening raja tersebut. Hal ini adalah merupakan suatu kebijakan yang amat agung. Maka, Allah pun ridha terhadap Abdullah bin Hudzafah dan iapun ridha kepada-Nya.

Dikutip dari Indahnya Kesabaran 
Penulis: Said bin Ali Wahf al-Qahthany, Pustaka At-Tibyan, Solo

sumber: https://kisahmuslim.com/807-kesabaran-abdullah-bin-hudzafah.html

Kisah Si Pemalas Dengan Abu Hanifah

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Dia mengeluh, “Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, sepertinya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi tadi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkonganku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang belas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik.”

Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Ketika dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi uang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Kemudian, si malang merasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas dia tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi uang dan secarik kertas yang bertulis, ” Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu terdengar lagi, “Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin,sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku”

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang ketika mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.

Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada secarik kertas lalu dibacanya, “Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian “malas” namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan….jangan berbuat demikian. Jika anda ingin senang, anda harus suka pada bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak disuruh duduk diam dan tidak seharusnya demikian pula tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Oleh sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah…carilah segera pekerjaan, saya doakan cepat berjaya.”

Sehabis dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sadar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.

Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti peraturan-peraturan hidup (Sunnah Allah) dan tidak lagi melupakan nasihat orang yang memberikan nasihat itu.

Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajarkan kita untuk maju ke depan dan bukan mengajarkan kepada kita diam di tepi jalan.

sumber: https://pengusahamuslim.com/267-kisah-si-pemalas-dengan-abu-hanifah.html

Ridha dengan Takdir yang Pahit

Dihikayatkan bahwa seseorang dari kalangan orang-orang shalih melewati seorang laki-laki yang terkena penyakit lumpuh separuh badan, ulat bertebaran dari dua sisi perutnya, lebih dari itu ia juga buta dan tuli. Lelaki lumpuh itu mengatakan, “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanmu dari cobaan yang telah dialami oleh banyak orang.” Lantas lelaki shalih yang lewat itu heran, kemudian bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku! Apa yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dirimu padahal saya melihat semua musibah, menimpa dirimu?” Ia menjawab, “Menyingkirlah kamu dariku hai pengangguran! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkanku karena Dia menganugerahkan kepadaku lisan yang selalu mentauhidkan-Nya, hati yang dapat mengenal-Nya, dan waktu yang selalu kugunakan untuk berdzikir kepada-Nya.”

Dihikayatkan pula bahwa ada seorang yang shalih yang apabila ditimpa sebuah musibah atau mendapat cobaan, selalu berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Pada suatu malam serigala datang memangsa ayam jagonya, kejadian ini disampaikan kepadanya, maka ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Kemudian pada malam itu pula anjing penjaga ternaknya dipukul orang hingga mati, lalu kejadian ini disampaikan kepadanya. Ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Tak berapa lama keledainya meringkik, lalu mati. Ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik, insya Allah.” Anggota keluarganya merasa sempit dan tidak mampu memahami mengapa ia mengucapkan perkataan itu. Pada malam itu orang-orang Arab datang menyerang mereka. Mereka membunuh semua orang yang ada di wilayah tersebut. Tidak ada yang selamat selain dia dan keluarganya. Orang-orang Arab yang menyerang tersebut menjadikan suara ayam jago, gonggongan anjing, dan teriakan keledai sebagai indikasi bahwa sebuah tempat itu dihuni oleh manusia, sedangkan semua binatang miliknya telah mati. Jadi, kematian semua binatang ini merupakan kebaikan dan menjadi penyebab dirinya selamat dari pembunuhan. Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.

Al-Mada’ini menceritakan,

“Di daerah pedalaman saya pernah melihat seorang perempuan yang saya belum pernah melihat seorang pun yang lebih bersih kulitnya dan lebih cantik wajahnya daripada dirinya. Lalu saya berkata, “Demi Allah, kesempurnaan dan kebahagiaan berpihak kepadamu.” Lantas perempuan tersebut berkata, “Tidak. Demi Allah, sesungguhnya saya banyak dikelilingi oleh duka cita dan kesedihan. Saya akan bercerita kepadamu. Dulu saya mempunyai seorang suami. Dari suami saya tersebut saya mempunyai dua orang anak. Suatu ketika ayah kedua anak saya ini sedang menyembelih kambing pada hari raya Idul Adha. Sedangkan anak-anak sedang bermain.” Lantas anak yang lebih besar berkata kepada adiknya, “Apakah kamu ingin saya beritahu bagaimana cara ayah menyembelih kambing?” Adiknya menjawab, “Ya.” Lalu si kakak menyembelih adiknya. Ketika si kakak ini melihat darah, maka ia menjadi cemas, lalu ia melarikan diri ke arah gunung. Tiba-tiba ia dimangsa oleh serigala. Kemudian ayahnya keluar untuk mencari anaknya, ternyata ia tersesat di jalan sehingga ia mati kehausan. Akhirnya saya pun hidup sebatang kara.” Lantas saya bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau bisa sabar?” Ia menjawab, “Apabila peristiwa tersebut terus-menerus menimpa saya, pasti saya masih merasakannya. Namun, hal itu saya anggap hanya sebuah luka, hingga akhirnya ia pun sembuh.”

Pada saat putranya meninggal dunia, Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Berkata, “Ya Allah! Jika Engkau memberi cobaan, maka sungguh Engkau masih menyelamatkanku. Jika Engkau mengambil, sungguh Engkau masih menyisakan yang lain. Jika Engkau mengambil sebuah organ, sungguh Engkau masih menyisakan banyak organ yang lain. Jika Engkau mengambil seorang anak, sungguh Engkau masih menyisakan beberapa anak yang lain.”

Al-Ahnaf bin Qais mengatakan,

“Saya mengadukan sakit perut yang saya alami kepada pamanku, namun ia malah membentakku seraya berkata, “Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengeluhkannya kepada seorang pun. Sesungguhnya manusia itu ada dua macam. Teman yang kamu susahkan dan musuh yang kamu senangkan. Janganlah engkau mengeluhkan sesuatu yang menimpa dirimu kepada makhluk sepertimu yang tidak mampu mencegah bila hal serupa menimpa dirinya. Akan tetapi, adukanlah pada Dzat yang memberi cobaan kepadamu. Dialah yang mampu memberikan kelonggaran kepadamu. Hai putra saudaraku! Sungguh, salah satu dari kedua mataku ini tidak dapat melihat semenjak empat puluh tahun lalu. Saya tidak memberitahukan hal ini kepada istri saya dan kepada seorang pun dari keluarga saya.”

Ada seorang yang shalih mendapat cobaan terkait putra-putranya. Ketika ia dianugerahi dua orang anak dan baru saja mulai beranjak besar sehingga membuatnya bahagia, tiba-tiba anaknya dijemput kematian. Ia ditinggalkan anaknya dengan penuh kesedihan dan patah hati. Akan tetapi, lantaran kuatnya iman, ia hanya dapat mengikhlaskan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar seraya berkata, “Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala – segala sesuatu yang telah Dia berikan. Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala pula segala sesuatu yang telah Dia ambil. Ya Allah! Berilah keselamatan kepadaku dalam musibah ini dan berikanlah ganti yang lebih baik lagi.” Allah pun menganugerahkannya anak yang ketiga. Setelah beberapa tahun, si anak jatuh sakit. Dan ternyata sakitnya sangat parah sampai hampir mati. Sang ayah berada di sisinya dengan air mata yang berlinangan. Kemudian ia merasakan kantuk dan tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi bahwa kiamat telah datang. Ketakutan-ketakutan pada hari Kiamat telah muncul. Lantas ia melihat shirath (jembatan) yang telah dipasang di atas permukaan Neraka Jahannam. Orang-orang sudah siap menyeberanginya. Laki-laki tersebut melihat dirinya sendiri di atas shirath. Ia hendak berjalan, tetapi ia takut terjatuh. Tiba-tiba anaknya yang pertama yang telah mati datang berlari-lari menghampirinya seraya berkata, “Saya akan menjadi sandaranmu wahai ayahku!” Sang ayah pun mulai berjalan. Akan tetapi, ia masih khawatir terjatuh dari sisi lain. Tiba-tiba ia melihat anaknya yang kedua mendatanginya dan memegangi tangannya pada sisi lainnya. Lantas lelaki tersebut sungguh-sungguh bergembira. Setelah ia berjalan sebentara, ia merasakan sangat haus, lalu ia meminta kepada salah satu dari dua anaknya tersebut agar memberinya minuman. Keduanya berkata, “Tidak bisa. Jika salah satu dari kita meninggalkanmu, niscaya engkau terjatuh ke neraka, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?” Salah satu dari kedua anaknya berkata, “Wahai ayahku! Seandainya ada saudara kami yang ketiga bersama kami, pastilah ia dapat mengambilkan minum untukmu sekarang.” Lantas lelaki tersebut terjaga dari tidurnya seraya ketakutan. Ia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia masih hidup dan Hari Kiamat belum tiba. Seketika ia melirik ke arah anaknya yang sedang sakit di sampingnya. Ternyata anaknya telah meninggal dunia. Kontan ia menjerit, “Segala puji bagi Allah.” Sungguh, saya telah mempunyai simpanan dan pahala. Kamu adalah pendahulu bagiku di atas shirath pada hari Kiamat kelak.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

sumber: https://kisahmuslim.com/3200-ridha-dengan-takdir-yang-pahit.html

KISAH INSPIRATIF: WANITA DI BALIK ISTANA

“Bergembiralah wahai suamiku, Allah telah menganugerahkan sebuah perbendaharaan kepadamu… …Seorang da’i yang mengajak kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya, dia mendakwahkan keduanya. Bangkitlah! Bantulah dia!”
————————————–

Itulah penggalan kalimat motivasi dari istri Muhammad bin Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi, yang berhasil merambat ke sanubarinya, melahirkan semangat juang dan optimis untuk menolong dakwah tauhid yang mulia. Sang istri tidaklah dikenal, namanya tidak disematkan pada nama kerajaan sebagaimana nama sang suami. Sejarawan tidak pula mencatatnya. Ia tersembunyi sebagaimana tersembunyinya putri Syu’aib ketika mengatakan kepada ayahnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai ayahanda ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Al-Qashash: 26).

Ia adalah wanita shalihah. Membantu suaminya ambil bagian dalam agama, bukan berjibaku dengan dunia yang fana. Dialah yang mendorong suaminya agar membantu Muhammad bin Abdul Wahhab mendakwahkan Alquran dan sunnah di tanah Arab hingga menjadi salah satu kerajaan terbesar di dunia. Dialah wanita shalihah di balik istana Saudi Arabia.

Rihlah Dakwah Seorang Da’i Muda

Pertemuan Muhammad bin Saud dengan Muhammad bin Abdul Wahhab didahului oleh rangkaian kisah panjang yang penuh tantangan. Dahulu, saat Arab Saudi belum bernama Arab Saudi. Saat tanah jazirah Arab itu masih berupa lautan padang pasir yang luas. Belum ada gedung-gedung tinggi. Belum diketemukan minyak bumi. Wilayah itu terbagi-bagi dan masing-masing wilayah memiliki penguasa sendiri-sendiri. Hadirlah seorang da’i muda bernama Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah menyerukan pemurnian agama. Mengingatkan umat dari kesyirikan di saat ia telah mendarah daging dalam budaya. Mengajak masyarakat meneladni sunnah dan menjauhi hal-hal yang bukan dari agama.

Muhammad bin Abdul Wahhab memulai dakwahnya di Huraimala. Kemudian sunnatullah bagi pemegang panji tauhid pun terjadi padanya, penduduk Huraimala mengusirnya. Persis seperti ucapan Waraqah bin Naufal ketika ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Apakah mereka akan mengusirku?” “Iya. Tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang engkau bawa, melainkan pasti akan mendapat cobaan, kalau seandainya aku menjumpai hari dimana kamu diusir, pasti aku akan membela serta menolongmu”. (HR. Bukhari no: 3 dan Muslim no: 160). Kemudian ia berpindah menuju Uyainah, kota kelahirannya.

Di Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab disambut oleh penguasa daerah tersebut, Utsman bin Nashir bin Muammar. Utsman sangat antusias menerima Muhammad bin Abdul Wahhab dan apa yang didakwahkannya. Sehingga dakwah pun begitu diterima dan ulama muda ini pun fokus kepada pendidikan dan pembinaan umat di sana.

Tidak lama, dakwah pun tersebar di Uyainah. Masyarakat berangsur-angsur paham akan tauhid dan bahaya syirik. Dahaga kebodohan mereka sirna dengan segarnya pemahaman sunnah. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak memulai dakwahnya dengan frontal dan tergesa-gesa. Ia memulainya dengan pendidikan dan pendekatan yang penuh hikmah. Setelah dakwah memiliki tempat di hati masyarakat, mulailah mereka sedikit demi sedikit diajak untuk menghilangkan simbol kesyirikan. 17 pohon keramat di Uyainah ditebang hingga hilang sama sekali tanpa bekas.

Proses penyebaran dakwah dan ilmu terus berlanjut. Semakin kokoh tauhid dan sunnah di hati masyarakat, maka berhala yang pamornya lebih tinggi dan lebih besar pun menjadi sasaran berikutnya untuk dihancurkan. Muhammad bin Abdul Wahhab meminta izin kepada amir Uyainah untuk menghancurkan berhala yang terbesar. Ia meminta Utsman bin Muammar agar menginstruksikan kaumnya merobohkan kubah besar di kubur Zaid bin al-Khattab di wilayah Jubail. Berangkatlah Ibnu Abdul Wahhab bersama 600 orang untuk menggusur berhala itu.

Rencana penghancuran kubah makam Zaid bin al-Khattab menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat. Karena kentalnya budaya syirik di masa itu, ketika kubah dihancurkan masyarakat khawatir akan turun hujan batu dari langit karena ‘kualat’. Lalu kubah makam pun dihancurkan dan tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada dakwah yang berjalan mulus tanpa tantangan. Hancurnya kubah makam Zaid al-Khattab mendatangkan kemarahan para pemuja kubur di Jazirah Arab. Mulailah ancaman-ancaman dilayangkan kepada penguasa Uyainah. Penguasa Ahsa mengirim nota protes kepada Ibnu Muammar dan menekannya agar mengusir Muhammad bin Abdul Wahhab dari Uyainah. Ibnu Muammar tak bergeming, nasihat dari Muhammad bin Abdul Wahhab tetap mengokohkan pendiriannya.

Hingga akhirnya datang seorang wanita dari dekat wilayah pembenci dakwah, mengaku telah berzina. Ia meminta untuk ditegakkan had untuknya. Akhirnya setelah 4 kali meminta, Muhammad bin Abdul Wahhab menegakkan had pada sang wanita. Pergolakan pun kian membesar. Kabilah-kabilah semakin meradang. Tuntutan agar Muhammad bin Abdul Wahhab diusir dari Uyainah menjadi gelombang besar di Jazirah. Jika ia tidak diusir, maka semua kabilah akan menyerbu Uyainah. Ibnu Muammar pun tunduk. Dan Muhammad bin Abdul Wahhab diminta meninggalkan Uyainah.

Pertemuan dengan Ibnu Saud dan Peranan Istri Shalihah

Ketika keluar dari Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mengetahui kemana lagi ia harus pergi. Tanah mana kira-kira yang akan menampungnya. Namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang ‘menolong’ agamanya. Ia berangkat menuju Dir’iyah.

Dir’iyah adalah sebuah kampung kecil yang hanya dihuni oleh 40 rumah saja. Sebuah desa yang sekarang terletak di Barat Laut wilayah Arab Saudi ini, dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Muhammad bin Saud.

Di kampung kecil ini, Ibnu Abdul Wahhab menginap di rumah salah satu muridnya sewaktu di Uyainah, Muhammad al-Uraini. Dan ternyata putra dari Muhammad bin Saud yang bernama Abdul Aziz juga merupakan murid Ibnu Abdul Wahhab semasa di Uyainah.

Berita kedatangan Muhammad bin Abdul Wahhab juga tidak luput dari Muhammad bin Saud. Kemudian ia, istri, dan anaknya, Abdul Aziz, datang menemuinya. Di sinilah keberkahan itu bermula. Istri Muhammad bin Saud berharap agar suaminya membantu dan menolong dakwah yang mulia ini. Ia sama sekali tidak ingin jika suaminya mengusir sang ulama sebagaimana para pemimpin sebelumnya telah melakukannya.

Ketika Muhammad bin Saud tengah bersama istrinya, sang istri mulai membuka pembicaraan. “Absyir (Bergembiralah wahai suamiku),” katanya. “Khairun. Basysyarakillahu bil Jannah (Kebaikan. Semoga Allah membuatmu bergembira dengan surga wahai istriku), balas Muhammad bin Saud.

Masya Allah.. alangkah indahnya ucapan dialog antara suami dan istri ini. Sebuah ungkapan yang menunjukkan cinta yang sejati. Mereka saling mendoakan kebaikan agar cinta mereka berkelanjutan hingga berada di surga yang abadi.

“Bergembiralah wahai suamiku, Allah telah menganugerahkan sebuah perbendaharaan kepadamu,” kata istri Muhammad bin Saud. “Apa itu?” tanyanya. “Seorang da’i yang mengajak kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya, dia mendakwahkan keduanya. Bangkitlah! Bantulah dia!”

Kemudian Muhammad bin Saud meminta agar Ibnu Abdul Wahhab didatangkan menghadapnya. Namun istri shalihah ini menasihati suaminya, “Andalah yang datang menemuinya sehingga masyarakat tahu bahwa Anda memuliakannya. Karena ilmu itu didatangi..” ujarnya.

Alangkah indahnya ucapan istri Muhammad bin Saud. Seorang istri shalihah yang tak gentar dengan risiko yang akan ia dan suaminya hadapi tatkala menolong Muhammad bin Abdul Wahhab, menolong agama Allah. Uyainah yang berpenduduk jauh lebih besar pun khawatir, namun kampung kecil dengan 40 rumah ini berani berdiri bersama sang da’i. Ia menyebut kedatangan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai kabar gembira untuk sang suami, padahal ketakutan telah dihadapi pemimpin lainnya. Ia teguhkan suaminya menyongsong kebaikan karena ia tahu Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah kenikmatan dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).

Lihatlah keberkahan istri shalihah, istri Muhammad bin Saud. Motivasinya agar sang suami menolong dakwah kepada Alquran dan sunnah, Allah balas dengan kokohnya kekuasaan di dunia dan pahala di akhirat insya Allah. Berangkat dari kampung kecil Uyainah, kini kabilah Saud menguasai 2,149,690 km2luas permukaan bumi dengan kekayaan minyak bumi yang melimpah. Mereka tetap langgeng dan tetap memegang spirit leluhur mereka mendirikan kerajaan. Yakni dengan memperjuangkan Alquran dan sunnah.

Wanita shalihah mereka meraih surga dengan mengabdi pada suami. Kemudian memotivasi suami-suami mereka pula agar menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi. Mereka menyenangkan hati dan membuat ridha suami. Akhlak mereka adalah inner beauty yang tidak tertandingi oleh kecantikan fisik yang lebih sering dihargai materi. Memang istri Muhammad bin Saud tidak merasakan kebesaran Arab Saudi saat ini. Ia pula tidak mendapat pamrih dengan nama yang abadi. Namun ia adalah ratu sejati di balik istana Saudi. Allah tidak menyia-nyiakan jasa orang yang berbuat kebaikan.

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90).

Rahimahumullah al-jami’…

Sumber:
– al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab wa ad-Daulah as-Su’udiyah; Durus wa ‘Ibar oleh Faisal bin Qazar al-Jasim.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
repost dari: https://kisahmuslim.com/4877-wanita-di-balik-istana.html

Musik Menyebabkan Runtuhnya Islam di Andalusia

Berbicara tentang penyebab musibah yang menimpa umat Islam, sering kita dapati para pakar dan para ahli hanya berbicara dalam tataran teknis atau lingkup yang ditangkap panca indera saja, padahal ada faktor non teknis yang bisa jadi tidak tertangkap oleh indera manusia tapi itulah penyebab utamanya, yaitu dosa. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa: 30)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Dan musibah tersebut tidak hilang melainkan dengan taubat.” (al-Jawabul Kafi, Hal. 87).

Sama halnya dengan kehancuran sebuah negeri, para pengamat dan sejarawan hanya berbicara pada permasalah pemimpin yang lemah, ekonomi yang morat-marit, bencana alam, dll. padahal ada penyebab yang utama yang menimbulkan penyebab-penyebab di atas, yaitu dosa-dosa yang dilakukan oleh penduduk negeri tersebut. Masyarakatnya adalah orang-orang yang berbuat kemaksiatan, bukan berdakwah dan melakukan perbaikan, mereka malah melupakan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)

Hal itu pula yang terjadi di Andalusia, peradaban Islam yang berusia kurang lebih 800 tahun itu akhirnya hancur dengan runtuhnya Kerajaan Granada. Penduduk Andalusia kala itu melupakan Allah, jauh dari ketaatan kepada-Nya, dan sibuk dengan memperebutkan singgasana.

Lalu, apa yang menyebabkan mereka melupakan aturan Allah? Mungkin tidak ada yang menyangka penyebab lalainya penduduk Andalusia ini, karena penyebab ini begitu akrab dalam kehidupan kita sehari-hari, penyebabnya ialah musik. Ya, penduduk Andalusia disibukkan dengan mendengar musik. Musik telah mengalahkan bacaan Alquran mereka, mengalahkan bacaan hadis-hadis mereka, dan melupakan dari menadabburi ayat-ayat Allah Ta’ala.

Orang yang membawa musik ke tanah Andalusia adalah Abu al-Hasan Ali bin Nafi’ (789-857) atau yang lebih dikenal dengan Ziryab.

Siapakah Ziryab?

Ziryab adalah seorang Persia atau Kurdi yang pada awalnya tinggal dan bekerja di Irak lalu tinggal di Andalusia selama 30 tahun. Ia seorang musisi, penggubah lagu, ahli kosmetik, kuliner, fesyen, dan juga menguasai beberapa cabang ilmu pasti. Orang-orang Eropa mengenal Ziryab sebagai bapak kebudayaan.

Kalau hari ini kita gambarkan Ziryab, maka ia layaknya seorang selebriti. Orang-orang memperhatikannya dalam hal mode pakaian, gaya rambut, dan tren kuliner. Ia membuat tren warna dan model pakaian harus mengikuti musim-musim tertentu. Hari ini kita lihat orang-orang meniru tren Ziryab dengan istilah pakaian musim dingin, musim panas, atau musim semi. Ziryab juga mengubah kebiasaan bagaimana sebuah makanan itu dihidangkan atau disantap. Tidak ada seorang pun di Eropa atau di Andalusia secara khusus yang peduli tentang penyajian makanan, dahulu orang-orang menyajikan semua makanan dalam waktu yang sama. Ziryab membaginya menjadi tiga bagian dengan menu-menu yang menyesuaikan. Hari ini kita kenal dengan istilah hidangan pembuka (appetizer), hidangan utama (main course), dan makanan penutup (dessert). Demikian juga dengan gaya rambut, ia membuat tren laki-laki tatanan rambutnya pendek dan rapi, sementara perempuan berambut lebih panjang dan berponi.

Sebagian dari kita mungkin menyangka tatanan modern dalam berpakaian, kuliner, dan gaya rambut masyarakat Eropa saat ini adalah budaya yang terlahir dari kebiasaan mereka sendiri. Kalau Anda menyangka demikian, maka itu adalah kekeliruan. Kebiasaan tersebut terlahir dari seorang muslim yang berasal dari Baghdad, yaitu Ziryab. Bahkan Ziryab mengajarkan masyarakat Eropa menggunakan deodoran, pasta gigi, dan shampo.

Mengajarkan Musik

Setelah menyebutkan nilai-nilai peradaban yang Ziryab ajarkan kepada masyarakat Eropa, ada hal lain yang ia sebarkan di tengah peradaban muslim Eropa dan masyarakat benua biru itu secara umum, yaitu musik. Ketika datang ke Spanyol, Ziryab mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Daulah Bani Umayyah II di sana. Lalu ia pun mendirikan sekolah musik di wilayah kerajaan tersebut. Ia sangat pandai memainkan alat-alat musik, baik alat musik tradisional Arab maupun tradisional daerah setempat.

Melihat sosok Ziryab yang mampu menghibur dengan musiknya, memiliki penampilan yang trendi, mengajarkan cara menikmati makanan yang lebih menyenangkan dll. membuat masyarakat saat itu kagum dan memiliki kecenderungan hati kepadanya. Jangankan orang-orang yang hidup saat itu, tatkala mendengar apa yang diajarkan Ziryab kepada masyarakat Eropa sehingga peradaban Eropa seperti sekarang ini, mungkin di antara kita mulai mengaguminya, padahal apa yang diajarkan Ziryab bukanlah sesuatu yang sifatnya darurat, artinya peradaban manusia tidak punah jika tidak mengetahui apa yang Ziryab ajarkan. Tidak sehebat apa yang ilmuan-ilmuan Islam lainnya ajarkan. Kekaguman tersebut membuat masyarakat mulai meninggalkan membaca Alquran atau berkurang dari biasanya, demikian juga membaca hadis, dan kisah-kisah para ulama yang shaleh. Mereka mulai sibuk dengan music tersebut.

Kebiasaan ini kemudian turun-temurun terwarisi hingga lemahlah umat Islam dan semakin tidak mengetahui ajaran agama mereka. Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam sejarah Islam di Andaluisa; berpecah-pecahnya Daulah Umayyah II yang dahulu menjadi satu-satunya kerajaan Islam di Spanyol menjadi Negara-negara kecil atau tha-ifah. Beberapa di antaranya kemudian dikuasai oleh Kerajaan Kristen Eropa. Puncaknya, musibah itu disempurnakan dengan runtuhnya Kerajaan Granada.

Apakah Mendengarkan Musik Berdosa?

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata,

الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.

“Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali. (Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 20: 127)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik…” (HR. Bukhari)

Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah, ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian. Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah. Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي سَمَاعِهِ ضَرَرٌ دِينِيٌّ لَا يَنْدَفِعُ إلَّا بِالسَّدِّ

“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11:567)

Penutup

Tentu ada dosa-dosa lainnya yang menyebabkan runtuhnya Islam di Spanyol, namun musik memiliki peranan penting yang menjauhkan umat dari agamanya. Umat Islam tidak tahu mana tauhid dan mana syirik karena mereka tidak mempelajari agamanya. Tidak tahu tata cara ibadah yang benar, dll.

Apakah benar musik melalaikan dari mengingat Allah, Alquran, hadis, dan mempelajari agama? Silahkan kita jawab dengan amalan kita sehari-hari, manakah yang lebih banyak kita dengar atau hafal? Nyanyian, Alquran ataukah hadis?

Banyak orang tertawa, merinding, terenyuh, bahkan menangis ketika mendengar musik, tapi sedikit yang merasakan hal yang sama ketika mendengarkan Alquran.

Sumber:
– Muqaddimah Ibnu Khaldun
http://www.saudiaramcoworld.com/issue/200407/flight.of.the.blackbird-.compilation.htm
– muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/saatnya-meninggalkan-musik.html

Oleh Nurfitri Hadi

sumber: https://kisahmuslim.com/4308-musik-menyebabkan-runtuhnya-islam-di-andalusia.html

SESEORANG ITU DIWAFATKAN DI ATAS APA YANG DICINTAINYA

Salah seorang Syaikh menceritakan sebuah kisah yang mengharukan :

Suatu saat aku mengisi kajian di sebuah masjid di kota fulan, datanglah imam masjid tersebut dan berkata : wahai Syaikh ! di kota ini, tepatnya 2 pekan yang lalu, telah terjadi suatu peristiwa yang sangat menakjubkan, aku balik bertanya : peristiwa apa yang terjadi ya akhi ? Maka Imam Masjid tersebut mulai bercerita: kami mendengar ada seorang pemuda yang tertabrak kereta api saat melintas di rel kereta api maka aku langsung pergi ke tempat kejadian tersebut dan aku dapatkan pemuda tersebut dalam keadaan sangat kritis, ususnya berhamburan keluar dari perutnya dan tangan kirinya juga telah putus.

Maka aku berkata kepadanya : wahai anakku ! Ucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah. Lalu pemuda itu memandang kepadaku, aku pun mengulang kembali perkataanku, wahai anakku ucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah ! Maka pemuda tersebut berkata : laa ilaaha illa Allahu kemudian nafasnya terhenti dan meninggal, lalu aku berusaha mencari kartu identitsnya di salah satu kantong di bajunya untuk mengetahui nama dan alamatnya.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah salib ditangannya, ternyata pemuda ini seorang nashrani, maka imam Masjid tadi berkata : kita akan pergi ke rumah pemuda tersebut untuk menyampaikan kisah ini kepada keluarganya, semoga bisa menjadi pelajaran bagi mereka.

Maka kami bersama dengan kaum muslimin yang lainnya, sekitar kurang lebih 2000 orang, berangkat menuju rumah keluarga pemuda tersebut untuk berta’ziah dan mengabarkan tentang keadaannya sebelum meninggal, ketika kami sampai di rumahnya, bapak pemuda tersebut berkata : sungguh anakku senang sekali mendengarkan Al-Qur’an dan berkehendak masuk Islam akan tetapi aku selalu melarangnya, maka kami pun bertakbir dan mengatakan : sungguh Allah telah memberikan taufiq kepadanya ketika melihat kejujurannya.

Hikmah dari peristiwa ini adalah :

Ketika seseorang jujur dengan Allah dan mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya maka Allah akan memberikan taufiq sesuai dengan apa yang diinginkan dan dicintainya. Nabi kita yang mulia telah bersabda yang artinya : “barang siapa mencintai sesuatu maka ia akan diwafatkan diatasnya”

Wahai saudaraku ! Kembalilah kepada Allah dan bertanyalah kepada dirimu sendiri, amal perbuatan apa yang paling engkau cintai? Apakah amal tersebut mendekatkan dirimu kepada Allah dan menjauhkanmu dari neraka atau malah sebaliknya, menjauhkan dirimu dari Allah dan mendekatkanmu kepada neraka?

Kita hanya bisa memohon kepada Allah husnul-khotimah, pungkasan yang terbaik bagi kehidupan kita di dunia sebelum di akherat.

By: Ust. Abu Sa’ad rahimahullah

sumber: https://www.kisahislam.net/2013/12/21/seseorang-itu-diwafatkan-di-atas-apa-yang-dicintainya/

Kesabaran yang Luar Biasa

Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “Ats-Tsiqat” kisah ini. Dia adalah imam besar, Abu Qilabah Al-Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Berikut kisahnya :

Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang berdoa,

“Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.” (QS. An-Naml: 19).

Aku melihat orang yang berdoa tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya. Beliau kehilangan anaknya, yang biasa  membantunya berwudhu dan memberi makan…

Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?”

Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah, seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, “Sungguh, sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku? (Anaknya inilah yang biasa  membantunya berwudhu dan memberi makan)

Maka aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk  mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini?  Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam.

Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.

Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?”

Aku katakan, “Benar.”

Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?”

Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”

Dia menjawab, “Ya.”

Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat dengannya?”

Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya.”

Aku katakan, ”Bagaimana dia  menyikapinya?”

Dia berkata, “Ayyub bersabar.”

Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?”

Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya.”

Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?”

Dia berkata, “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?”

Lalu aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit  pasir.”

Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.”

Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.

Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok mendatangiku.

Para perampok itu berkata, “Apa yang terjadi?” Maka aku ceritakan apa yang telah terjadi. Mereka berkata, “Bukakan wajahnya kepada kami!” Maka aku membuka wajahnya, lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya seraya berkata,  “Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.”

Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan menguburnya. Kemudian, aku kembali ke perbatasan. Lalu, aku tidur dan aku melihatnya dalam mimpi, beliau kondisinya sehat. Aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau sahabatku?” Dia berkata,” Benar.” Aku berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Dia berkata, “Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku, ‘Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.’” (QS. Ar-Ra’d: 24). “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Dari ceramah Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul Jannatu Ridha fit Taslim Lima Qadarallah wa Qadha

sumber: https://kisahmuslim.com/257-sebuah-kisah-ujian-kesabaran.html

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (15) dan al-Imam Muslim rahimahullah (44) meriwayatkannya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Adapun lafadz di atas adalah lafadz hadits riwayat al-Imam Muslim rahimahullah.

Untuk hadits ini, al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberikan judul Bab “Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda beriman”.

Adapun al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuat judul untuk hadits riwayat Muslim, Bab “Kewajiban untuk Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Melebihi Keluarga, Anak, Orang Tua, dan Seluruh Manusia”.

Siapakah yang disebutkan sebagai objek pembanding di dalam hadits? Anak, orang tua, harta, ataukah seluruh manusia? Seluruhnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul Bari, 1/81) menerangkan seluruh lafadz dari hadits di atas dari berbagai riwayat. Ksimpulannya, ketika seluruh lafadz hadits dikumpulkan, ternyata yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah harta benda, diri sendiri, anak, orang tua, dan siapa pun orangnya.

Mengapa beliau mengatakan “dan seluruh manusia” setelah menyebutkan “anak dan orang tua”?

Hal ini disebut dengan ‘athful ‘am ‘alal khas, menyebutkan yang umum setelah yang khusus. Cara mengartikan hadits di atas adalah ‘seorang hamba belum dikatakan sempurna imannya sampai ia lebih mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan siapa pun dan apa pun, termasuk ayah ibunya, anak, kerabat, harta benda, pangkat, dan segala hal yang ia cintai’.

Bagaimana halnya dengan kecintaan terhadap diri sendiri? Bahkan, terhadap diri sendiri sekalipun!

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, “Belum cukup! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai meski dibandingkan dengan dirimu sendiri!”

Sabda itu diucapkan karena Umar radhiallahu ‘anhu menyatakan, “Wahai Rasulullah, sungguh Anda lebih aku cintai dibandingkan semua hal, kecuali diriku sendiri.”

Lantas Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sungguh, sekarang demi Allah, sungguh Anda lebih aku cintai meski dibandingkan diriku sendiri.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْآ ن يَا عُمَرُ

“Sekarang ini (barulah benar), wahai Umar!” (HR . al-Bukhari no. 6632) 

Lukisan Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat adalah orang-orang yang telah membuktikan iman dengan selalu mendahulukan, mengutamakan, dan mengedepankan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segalanya.

Lihatlah bagaimana mereka rela mengorbankan harta benda dan jiwa raga untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah seperti apa mereka telah mencurahkan waktu dan tenaga demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakr radhiallahu ‘anhu sendirian menghadapi sejumlah orang Quraisy yang mengganggu Rasulullah radhiallahu ‘anhu. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu dengan mantap selalu membenarkan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun dianggap tidak masuk akal oleh kaum Quraisy. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu yang dengan setia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi apa pun. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu adalah contoh pembuktian cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pun demikian. Beliau yang beberapa kali mengatakan, “Izinkan aku memenggal leher orang itu, wahai Rasulullah!”, karena rasa cemburunya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula sikap Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqsah, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, dan sahabat lainnya radhiallahu ‘anhum. Setiap kali membaca kehidupan mereka, kita pasti menemukan besarnya cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul Bari, 1/81—82) berkata, “Termasuk dalam hal ini adalah menolong sunnahnya, membela syariatnya, dan menghadapi para penentangnya. Amar ma’ruf nahi mungkar juga termasuk di dalam hadits ini.”

Artinya, apa yang telah dilakukan oleh ulama ahli hadits menjadi bagian dari bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka meninggalkan kampung halaman, berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya, berpisah dengan keluarga bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun lamanya, menembus panasnya siang, melewati dinginnya malam, bahkan sakit pun seakan tidak terasa. Apalagi hanya lapar dan haus dahaga.

Sebut saja nama Syu’bah bin al-Hajjaj rahimahullah. Beliau berkeliling dari Kufah menuju Makkah, dari Makkah berlanjut ke Madinah, lalu berangkat ke Basrah dan kembali ke Kufah. Perjalanan itu ditempuh hanya untuk memastikan kebenaran sebuah hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ringkas kata, apa yang telah dilakukan oleh ulama ahli hadits menjadi bukti nyata pengamalan mereka terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Selalu dan siap berkorban apa pun demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni dengan memperjuangkan kemurnian ajaran-ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dan Cintanya kepada Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di masa kita, nama asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah haruslah dimasukkan dalam contoh dan teladan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai beliau buktikan dengan kegemaran dan kesenangannya membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang melebihi manisnya membaca kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, menurut beliau.

“Sungguh, dengan segala puji untuk Allah, saya sangat mencintai kitabullah dan Sunnah al-Gharra’. Apalagi dua kitab Shahih. Membaca dua kitab Shahih bagi saya adalah kenikmatan yang paling manis di dunia ini,” tulis asy-Syaikh Muqbil dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad.

Beliau melanjutkan, “Sungguh, ketika membuka Shahih al-Bukhari dan saya membaca, Qaalal Imamul Bukhaari rahimahullah, haddatsana Abdullah bin Yusuf, qaala haddatsana Maalik; Atau saya membuka Shahih Muslim lalu membaca, Qaalal Imam Muslim rahimahullah, haddatsanaa Yahya bin Yahya, qaalaqara’tu ‘ala Maalik.”

Ketika membaca demikian dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, apa yang beliau rasakan?

“Saya langsung lupa dengan seluruh kesibukan dan persoalan dunia,” lanjutnya.

Inilah puncak cinta! Saat semua kepenatan, kesulitan, dan kesusahan hidup menjadi hilang, pergi dan terhapus dengan membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap nama perawi yang disebut akan mengingatkan kita tentang sosok manusia-manusia penyabar, zuhud, qana’ah, bertakwa, dan bersyukur.

Setiap hadits yang dibaca pasti menjadi tuntunan dan pegangan hidup.

Setiap hadits yang ditelaah akan menjadi pelita penerang.

Hal ini ditanamkan betul kepada murid-murid beliau, yakni kegemaran untuk membaca kitab-kitab hadits. Hal ini terbukti dengan waktu pelajaran kitab hadits yang beliau berikan. Sejumlah kitab hadits beliau bacakan, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ at-Tirmidzi, Mustadrak al-Hakim, dan lainnya.

Barangkali, inilah salah satu rahasia cinta beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjaga cinta itu dengan selalu membaca dan menggali dalam-dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat sempurna.

 

Karya asy-Syaikh Muqbil dalam Bidang Hadits

Dengan membaca, melihat, dan meneliti karya-karya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, kita akan menyimpulkan betapa mendalamnya cinta beliau kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya adalah karya beliau yang diberi judul ash-Shahihul Musnad. Ini adalah sebuah karya yang menyuguhkan dengan apik hadits-hadits sahih yang berada di luar Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadits yang dimuat dipilih melalui syarat dan ketentuan yang sangat ketat. Sebuah karya monumental di bidang hadits dengan susunan musnad (diurutkan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits).

Lihatlah pula karya beliau yang lain, al-Jami’us Shahih. Inilah satu warisan di bidang hadits dengan mengurutkan bab demi bab berdasarkan judul pembahasan bab-bab fikih. Sebuah bukti kedalaman fikih beliau yang didasari oleh hadits-hadits sahih.

Ada pula al-Jami’us Shahih fil Qadar, karya beliau dalam pembahasan qadha dan takdir dengan menyebutkan riwayat sahih.

Kitab asy-Syafa’ah juga tidak boleh terlewatkan untuk disebut sebagai bukti kecintaan beliau kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab asy-Syafa’ah adalah karya beliau dalam pembahasan syafaat dengan menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang sahih maupun yang dhaif, disertai dengan keterangannya.

Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul adalah karya beliau dalam bidang tafsir dengan menyebutkan hadits-hadits sabab nuzul (sebab turunnya ayat al-Qur’an). Kitab ini merupakan komitmen beliau untuk memurnikan pembahasan sabab nuzul hanya pada hadits sahih. Kitab ini menjadi bahan skripsi beliau di Universitas Islam Madinah.

Terkait bukti-bukti kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan dan pesuruh Allah subhanahu wa ta’ala, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengumpulkan hadits sahih yang menerangkan mukjizat dan tanda kerasulan. Kumpulan hadits ini dituangkan dalam sebuah kitab dan diberi judul ash-Shahihul Musnad min Dalail an-Nubuwwah.

Ringkasnya, karya beliau sangat menekankan pada penyebutan hadits sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan syarat ketat dan seleksi yang cermat. Sebut saja sebagai contoh tambahan dalam hal ini adalah Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah, Dzammul Mas’alah, Syar’iyyatus Shalat fin Ni’al, dan Hukmul Jam’i baina ash-Shalatain fis Safar.

 

Asy-Syaikh Muqbil dan Sanad Hadits

Cinta asy-Syaikh Muqbil kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatanya benar-benar istimewa. Hal ini dibuktikan dengan semangat dan tekad beliau untuk selalu menyebutkan lafadz hadits secara lengkap. Tidak semata menyebutkan lafadz hadits, beliau pun selalu berusaha mengiringkannya dengan sanad hadits. Sanad hadits artinya mata rantai para perawi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada ulama yang menyampaikan hadits tersebut.

Coba baca dan teliti karya beliau yang tersebut di atas! Hampir semua hadits yang disebutkan selalu disertakan sanadnya. Apa alasan beliau?

Di dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, asy-Syaikh Muqbil rahimahullahmenerangkan, “Adapun alasan menyebutkan lafadz hadits secara lengkap, karena banyaknya faedah di sana. Adapun sebab mengiringkannya dengan sanad, karena para ulama kita tidak akan menerima sebuah hadits kecuali disertai oleh sanadnya.”

Setelah itu, beliau menukilkan pernyataan demi pernyataan ulama yang menekankan pentingnya sanad sebuah hadits. Di antara yang beliau nukilkan adalah pernyataan Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah, “Bagiku, sanad merupakan bagian dari beragama. Kalau sanad tidak ada, pasti semua orang bisa berbicara semaunya.”

Nah, di sinilah rahasia semangat asy-Syaikh Muqbil rahimahullah untuk selalu menyebutkan sanad hadits. Beliau mendidik dan menggembleng murid-muridnya— juga kita semua—agar tidak sembarangan dan tidak sesuka hati untuk berbicara atas nama agama, kecuali dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan menyebutkan sanad hadits, seseorang telah bertindak ilmiah.

Sikap keras asy-Syaikh Muqbil ditujukan kepada mereka yang secara sengaja dan yang mendasarkan sikap bermudah-mudahan untuk menghilangkan sanad hadits. Marilah membaca ucapan beliau dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul!

“Dengan demikian, mereka yang menghilangkan sanad dari karya tulisnya, menyebutkan hadits-hadits tanpa sanad, bisa dinilai telah berbuat buruk terhadap ilmu dan terhadap pendahulu kita yang saleh, yang telah berjuang keras untuk meneliti sanad dan rela melakukan rihlah (perjalanan panjang) demi mencari sanad hadits,” tulis asy-Syaikh Muqbil.

 

Asy-Syaikh Muqbil, Ilmu ‘Ilal dan Jarh wat Ta’dil

Siapa pun yang pernah berguru kepada asy-Syaikh Muqbil, walau sekali waktu; atau barangkali mendengar suara beliau melalui rekaman atau membaca tulisannya, pasti mampu menilai dan merasakan luasnya ilmu beliau dalam bidang ‘ilalul hadits dan al-jarh wat ta’dil.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah adalah salah satu keajaiban dalam menghafal nama perawi sekaligus biografinya. Seakan-akan ribuan perawi beliau kuasai. Beliau mempunyai keahlian mumpuni, ketajaman, dan kecermatan dalam hal menilai serta kepiawaian untuk menghukumi sahih atau dhaifnya sebuah hadits.

Bagaimana cara membuktikannya? Karya-karya beliau dalam bidang ‘ilalul hadits dan al-jarh wat ta’dil adalah bukti konkret. Contohnya adalah kitab beliau, Ahaditsu Mu’allah Zhahiruha ash-Shihhah. Kitab ini menghimpun hadits yang secara zahir dinilai sahih, tetapi ternyata menyimpan cacat yang memengaruhi kesahihan. Cacat yang dimaksud sifatnya khafiyyah (tersembunyi, samar, dan tidak terlihat). Akan tetapi, para ulama ahli hadits, kemudian asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, mampu menemukannya.

Contoh lain adalah Auhamul Hakim fil Mustadrak. Karya beliau ini sebenarnya berbentuk catatan kaki atau keterangan ringkas tentang kesalahan al-Imam al-Hakim rahimahullah dalam kitab al-Mustadrak yang terlewatkan oleh al-Imam adz- Dzahabi rahimahullah. Adz-Dzahabi sendiri telah berupaya menemukan kesalahan-kesalahan tersebut.

Secara khusus tentang ilmu rijalul hadits, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menyusun nama perawi al-Mustadrak karya al-Imam al-Hakim rahimahullah lengkap dengan biografi ringkasnya yang belum disebutkan dalam kitab Tahdzibut Tahdzib. Karya beliau ini diberi judul Tarajim Rijalul Hakim fi Mustadrakihi alladzina laisu fi Tahdzib at-Tahdzib.

Terdapat pula kitab Tarajim Rijal ad-Daruquthni, karya beliau mengenai biografi ringkas para perawi dalam Sunan ad-Daruqthni.

Karya beliau yang bisa disebut monumental adalah Tahqiq al-Ilzamat wat Tatabbu’, hasil penelitian beliau tentang hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang dikritik oleh ad-Daruquthni. Karya ini disebut monumental karena tidak semua orang dapat berbicara tentang kritikan terhadap hadits Shahihal-Bukhari dan Shahih Muslim.

 

Asy-Syaikh Muqbil dan Pujian Ulama

Selain karya yang membuktikan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah memang sangat pantas untuk menyandang gelar Muhadditsul Jazirah (ahli hadits dari Jazirah Arab), pujian dan pengakuan para ulama ahli hadits zaman ini pun menguatkan lagi.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah, ulama hadits paling terkemuka abad ini yang merupakan guru asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, menukil pendapat asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam bukunya, as-Silsilah adh-Dhai’ifah (5/95), ketika mendhaifkan sebuah hadits.

Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Para pakar dalam bidang hadits tidak akan ragu tentang dhaifnya hadits seperti ini. Lihatlah syaikh yang mulia, Muqbil bin Hadi al-Yamani, menyatakan dalam Takhrij ‘ala Ibni Katsir (1/513)—setelah berbicara tentang perawi sanadnya satu per satu, Hadits ini dhaif karena sanadnya terputus, dan Ubaidullah bin al-Walid al-Wushafi yang dhaif.”

Bukankah pernyataan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di atas adalah bentuk pengakuan akan keilmuan asy-Syaikh Muqbil? Pasti.

Berikutnya adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali yang menyatakan dalam takziyahnya sesaat setelah wafatnya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah. Di dalam takziyahnya, asy-Syaikh Rabi’ menyebut asy-Syaikh Muqbil dengan, “… Ahli zuhud, ahli wara’ yang saleh, juga seorang ahli hadits yang telah menginjak kehinaan dunia beserta seluruh keindahannya di bawah kedua telapak kakinya.”

Cukuplah bukti-bukti di atas untuk meyakini asy-Syaikh Muqbil rahimahullah sebagai seorang pakar hadits di abad ini.

Beliau rahimahullah adalah orang yang telah menghabiskan umur dan hidupnya berkhidmat untuk hadits-hadits sebagai tanda cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau rahimahullah adalah seorang hamba yang meyakini, “Membaca dua kitab Shahih—bagiku—adalah kenikmatan yang paling manis di dunia ini.”

Beliau rahimahullah pun seorang teladan yang saat membaca dan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku langsung lupa dengan seluruh kesibukan dan persoalan dunia.”

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Apa bukti cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

sumber: https://asysyariah.com/belajar-mencintai-ilmu-hadits-dari-asy-syaikh-muqbil/

Tawadhu’nya Para Ulama’

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Telah masyhur disebutkan para ‘ulama bahwa banyak sekali orang yang mengadiri majelisnya Imam Ahmad yang bertujuan untuk mempelajari dan menyaksikan sendiri bagaimana adab para ‘ulama. Alhamdulillah walaupun kita yang berada di Indonesia tidak dapat menyaksikan langsung adab mereka namun kita masih dapat mendengar perkataan atau membaca tulisan orang yang langsung berguru dan belajar kepada para ‘ulama. Salah satu ‘ulama besar di zaman kita adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy Rohimahullah.

Berikut kita nukilkan sebuah adab yang mulai jarang kita temukan saat ini. Adab yang kami maksudkan itu adalah tawadhu’/rendah hati.

Pertanyaan[1] :

Sebagian ahlu ilmu/’ulama[2] menyifati/memberi gelar kepada anda dengan sebutan Al Hafidz Al Albaniy. Ketika ditanyakan tentang hal itu, dia menjawab, ‘Maksudnya adalah sesungguhnya anda (Syaikh Al Albaniy) memahami atas apa yang tidak dipahami selain anda dari kalangan ahlu ‘ilmu/’ulama.

Beliau beralasan dengan apa yang dijadikan alasan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy tentang syaikhnya (gurunya) Al ‘Irooqiy bahwa sesungguhnya Al Hafdzu[3] adalah Al Ma’rifah (ilmu/pengetahuan). Sedangkan anda mengetahui sanad-sanad kitab-kitab matan. Maka bagaimana pendapat anda ?

Jawaban :

“Aku (Syaikh Al Albaniy) –dalam hal apapun- ,

Pertama Aku tidaklah ridho dengan gelar itu[4].

Kedua permasalahan gelar ini dikembalikan ke istilah yang dikenal di kalangan pengguna istilah tersebut (mushtholah hadits). Adapun yang dijadikan sandaran oleh anda (pemberi gelar) dengan apa yang disebutkan Al Hafidz Ibnu Hajar kepada gurunya Al Irooqiy adalah istilah yang khusus untuk mereka dan bukan istilah yang digunakan secara umum. Makna  Al Hafidz yang disebutkan dalam kitab-kitab mushtholah hadits, bahwa Al Hafidz adalah orang yang hafal ribuan hadits (beserta sanadnya), saya tidak menyebutkan batasan jumlahnya –saya berharap anda (syaikh ‘Ali) menyebutkannya- ?”

Saya (Syaikh ‘Ali) : “Seratus ribu hadits[5]”.

Syaikh Al Albaniy : “Ya seratus ribu hadits, inilah pengertian Al Hafidz menurut istilah mushtholah hadits secara umum. Adapun apabila maksud digunakan para ulama dahulu dengan al ma’rifah maka hal ini merupakan istilah secara khusus. Dan saya –dalam hal apapun- berlepas diri dari orang yang memberikan istilah (Al Hafidz) dengan istilah yang umumSesungguhnya saya –sebagaimana yang selalu saya sebutkan- adalah seorang tholibul ‘ilmi (penuntut ilmu)[6].

[Su’alaat ‘Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamiid Al Halabiy Al Atsariy lii Syaikhihi Al Imam Al ‘Allamah Al Muhaddits Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy hal. 75-76 ]

Maka lihatlah wahai kawan kalimat terakhir ini, jika beliau menganggap diri beliau dengan keilmuannya dengan sebutan tholibul ilmi maka bagaimana dengan kita yang teramat jauh sekali jika dibandingkan dengan beliau !!!???

Sigambal, setelah subuh

17 Syawal 1434 H / 24 Agustus 2013 M / Aditya Budiman bin Usman


[1] Penanya adalah Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah salah satu murid senior Syaikh Al Albaniy Rohimahullah. (ed.)

[2] Beliau adalah Syaikh Al ‘Allamah Said Syifa as Saluliy, termasuk diantara ‘ulama Mekkah Al Harom. Aku (Syaikh ‘Ali) bertemu dengan beliau Rohimahullah ketika mengajar di masjidil harom pada tahun 1402 H.

[3] Lihat ‘Inbaahu Al Ghumri bi abnaai al ‘umri oleh Ibnu Hajar hal. 296/I.

[4] Ini adalah bentuk ketawadhu’an guru kami Rohimahullah. Ini adalah kebiasaan beliau yang sudah dikenal. Tidak sebagaimana sebagian orang yang menganjurkan ketawadhu’an namun hal itu berbeda dengan penerapan nyatanya.

[5] Lihat Tadriibu ar roowiy hal. 43/I oleh As Suyuthi terbitan Dar Al ‘Ashimah.

[6] Mudah-mudahan Allah merahmati guru kami atas ketawadhu’an yang amat agung. Dengan sikapnya beliau telah menerapkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam “Barangsiapa yang tawadhu’ kepada Allah maka Allah akan angkat derajatnya”. (HR. Ahmad no. , Ibnu Hibban no. sanad hadits ini dinilai oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dhoif dan dinilai hasan karena banyak syahidnya oleh Al Albaniy dalam Ash Shohihah no. 2328)

sumber: https://alhijroh.com/adab-akhlak/tawadhunya-para-ulama/