Pelajari Tata Cara Shalat Dengan Benar

Ada yang mengatakan:
.
“Apabila hidupmu terasa hampa tidak teratur, maka mulailah dengan memperbaiki cara shalatmu & waktu shalatmu”
.
Ada benarnya juga karena cara shalat adalah cara kita menghadap kepada Allah, cara kita berinteraksi meminta dan memelas kepada Allah. Apabila caranya salah atau kurang tepat, tentu shalat kita kurang pahalanya.

Untuk menghadap raja, presiden dan pejabat saja, ada tatacara dan aturannya. Itu wajib diketahui oleh siapa saja yang akan menghadap, baik itu aturan baju, aturan waktu sampai posisi dan gesture tubuh ketika menghadap. Apa jadinya kalau kita menghadap raja atau presiden tidak pakai tata cara yang benar? Tentu kita ditolak bahkan bisa jadi diusir.

Mari kita menuntut ilmu dan belajar kembali tata cara shalat yang benar (sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Terutama bagi mereka yang baru hijrah atau mereka yang ingin memperbaiki hidupnya. Hendaknya kita tidak mengandalkan ilmu tata cara shalat ketika di bangku sekolah umum saja, tapi tetap sempurnakanlah

Kita diperintahkan shalat dengan tata cara yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻧِﻲ ﺃُﺻَﻠِّﻲ

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” [HR. Bukhari]

Kami pribadi di awal-awal mengenal sunnah (hijrah) sangat terketuk ingin memperbaiki tata cara shalat, salah satu buku yang pertama kami beli adalah buku “sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” buah karta syaikh Al-Albani rahimahullah. Buku yang sangat ilmiah dengan dalil dan menuntun kami semakin cinta dengan sunnah.

Ternyata cukup banyak kisah yang kami dengar bahwa banyak yang mengenal sunnah karena membaca buku beliau, misalnya syaikh Ali Hasan Al-Halabi, syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini dan beberapa ikhwah di Indonesia

Demikian juga cara memperbaiki shalat kita adalah dengan cara shalat tepat pada waktunya, tidak menunda-nunda karena urusan dunia yang sebenarnya bisa ditinggal sementara. Shalat tepat waktu adalah salah satu amalan yang paling Allah cintai karena menunjukkan prioritas utama kita kepada Allah.

Perhatikan hadits berikut,

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu , bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya:
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﺘﻬﺎ
“ Shalat pada waktunya .”
Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau ulangi dua kali, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab dengan urutan:
“ Berbakti kepada orang tua, kemduian berjihad fi sabilillah .” [HR. Bukhari & Muslim]

Apabila kita menunda-nundah shalat, maka amal serta kebaikan lain juga akan tertunda. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

إن الإنسان كلما تأخر عن الصف الأول والثاني أو الثالث (أي في الصلاة)
ألقى الله في قلبه محبة التأخر في كل عمل صالح والعياذ بالله.

“Tatkala manusia terlambat mendatangi shalat dari menempati shaf pertama, kemudian (shalat berikutnya) terlambat lagi shaf kedua, kemudian shaf ketiga (apalagi sengaja terlambat/ketinggalan shalat berjamaah), maka Allah buat hatinya suka mengakhirkan semua amal shalih.” [Syarah Riyadhus Shalihin 5/111]

Shalat yang benar dan khusyu’ memiliki banyak keutamaan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺻَﻼَﺓٌ ﻣَﻜْﺘُﻮﺑَﺔٌ ﻓَﻴُﺤْﺴِﻦُ ﻭُﺿُﻮﺀﻫﺎ ؛ ﻭَﺧُﺸُﻮﻋَﻬَﺎ، ﻭَﺭُﻛُﻮﻋَﻬَﺎ ، ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻛَﻔَّﺎﺭَﺓً ﻟِﻤَﺎ ﻗَﺒْﻠَﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗُﺆﺕَ ﻛَﺒِﻴﺮﺓٌ ، ﻭَﺫﻟِﻚَ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮَ ﻛُﻠَّﻪُ

“Tidaklah seorang Muslim di mana tiba shalat fardhu, lalu ia memperbagus wudhu, khusyuk dan rukuk dari shalatnya, melainkan itu (shalatnya) menjadi kaffarah penghapus dosa yang sebelumnya, selama dosa besar tidak ia langgar. Dan itu berlangsung sepanjang masa. [HR. Muslim]

Allah berfirman,

ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﴿١﴾ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺧَﺎﺷِﻌُﻮﻥَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” [Al-Mu’minun/23:1-2]

Apabila shalat kita benar, khusyu’ dan tepat waktu, maka akan mencegah kita dari perbuatan dosa dan maksiat yang merugikan diri kita sendiri.

Allah berfirman,

ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﺗَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻔَﺤْﺸَﺂﺀِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨﻜَﺮِ

“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Demikian semoga bermanfaat

@ Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar, kota Daeng

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia.

Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar.

Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Mari perhatikan hal-hal berikut:

Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

قال قتادة رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء

“Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim).

Asy Syaukani (w: 1281H) rahimahullah berkata,

أي: يستمرّون على تلاوته ، ويداومونها

“Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya”(Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir).

Dari manakah sisi tidak meruginya perdagangan dengan membaca Al Quran?

  1. Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan. عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ». “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660).
    Dan hadits ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya kemuliaan Allah Ta’ala itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk, baik orang Arab atau ‘Ajam (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.
  2. Kebaikan akan menghapuskan kesalahan.{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114]“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
  3. Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»“Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).
  4. Bacaan Al Quran akan bertambah agung dan mulia jika terjadi di dalam shalat.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْنَا نَعَمْ. قَالَ « فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.” (HR. Muslim).

Membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ »

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

Membaca Al Quran akan mendatangkan syafa’at

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang memotivasi seseorang untuk memperbanyak bacaan Al Quran terutama di bulan membaca Al Quran.

Dan pada tulisan kali ini hanya menyebutkan sebagian kecil keutamaan dari membaca Al Quran bukan untuk menyebutkan seluruh keutamaannya.

Dan ternyata generasi yang diridhai Allah itu, adalah mereka orang-orang yang giat dan semangat membaca Al Quran bahkan mereka mempunyai jadwal tersendiri untuk baca Al Quran.

عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَارِ…»

“Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).

MasyaAllah, coba kita bandingkan dengan diri kita apakah yang kita pegang ketika malam hari, sebagian ada yang memegang remote televisi menonton program-program yang terkadang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi mengandung dosa dan maksiat, apalagi di dalam bulan Ramadhan.

Dan jikalau riwayat di bawah ini shahih tentunya juga akan menjadi dalil penguat, bahwa kebiasan generasi yang diridhai Allah yaitu para shahabat radhiyallahu ‘anhum ketika malam hari senantiasa mereka membaca Al Quran. Tetapi riwayat di bawah ini sebagian ulama hadits ada yang melemahkannya.

عَنْ أَبِى صَالِحٍ رحمه الله قَالَ قَالَ كَعْبٌ رضى الله عنه: نَجِدُ مَكْتُوباً : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ فَظٌّ وَلاَ غَلِيظٌ ، وَلاَ صَخَّابٌ بِالأَسْوَاقِ ، وَلاَ يَجْزِى بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ ، وَأُمَّتُهُ الْحَمَّادُونَ ، يُكَبِّرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ نَجْدٍ ، وَيَحْمَدُونَهُ فِى كُلِّ مَنْزِلَةٍ ، يَتَأَزَّرُونَ عَلَى أَنْصَافِهِمْ ، وَيَتَوَضَّئُونَ عَلَى أَطْرَافِهِمْ ، مُنَادِيهِمْ يُنَادِى فِى جَوِّ السَّمَاءِ ، صَفُّهُمْ فِى الْقِتَالِ وَصَفُّهُمْ فِى الصَّلاَةِ سَوَاءٌ ، لَهُمْ بِاللَّيْلِ دَوِىٌّ كَدَوِىِّ النَّحْلِ ، مَوْلِدُهُ بِمَكَّةَ ، وَمُهَاجِرُهُ بِطَيْبَةَ ، وَمُلْكُهُ بِالشَّامِ

“Abu Shalih berkata: “Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami dapati tertulis (di dalam kitab suci lain): “Muhammad adalah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, tidak kasar, tidak pemarah, tidak berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan akan tetapi memaafkan dan mengampuni, dan umat (para shahabat)nya adalah orang-orang yang selalu memuji Allah, membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla atas setiap perkara, memuji-Nya pada setiap kedudukan, batas pakaian mereka pada setengah betis mereka, berwudhu sampai ujung-ujung anggota tubuh mereka, yang mengumandangkan adzan mengumandangkan di tempat atas, shaf mereka di dalam pertempuran dan di dalam shalat sama (ratanya), mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam, tempat kelahiran beliau adalah Mekkah, tempat hijranya adalah Thayyibah (Madinah) dan kerajaannya di Syam.”

Maksud dari “mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam” adalah:

أي صوت خفي بالتسبيح والتهليل وقراءة القرآن كدوي النحل

“Suara yang lirih berupa ucapan tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaaha Illallah), dan bacaan Al Quran seperti dengungannya lebah”. (Lihat kitab Mirqat Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih).

Salah satu ibadah paling agung adalah membaca Al Quran

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنَ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا ، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ ، ثُمَّ تَلاَ {فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}

“Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:

{فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}

“Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123) (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رضى الله عنه أَنَّهُ قَالَ: ” تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ “

“Khabbab bin Al Arat radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: ” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ “

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

وقال وهيب رحمه الله: “نظرنا في هذه الأحاديث والمواعظ فلم نجد شيئًا أرق للقلوب ولا أشد استجلابًا للحزن من قراءة القرآن وتفهمه وتدبره”

“Berkata Wuhaib rahimahullah: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al Quran, memahami dan mentadabburinya”.

*) Rabu, 10 Ramadhan 1432 H, Dammam KSA.

Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
Artikel Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html

Bersatulah dan Jangan Bercerai-Berai

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 11Shafar 1438 H.
Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Muhammad Al-Qasim
Penerjemah : Usman Hatim

 
Khotbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang mampu memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Selanjutnya.

Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba Allah – dengan sesungguhnya. Mendekatlah kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian.

Kaum muslimin!

          Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan Nabi Adam dan menugaskannya sebagai khalifah di bumi untuk beribadah kepadaNya.  Sepeninggal Nabi Adam, seluruh anak cucunya berada dalam ketauhidan dan kecintaan kepada Allah, lalu setan menggelincirkan dan membuat mereka menyimpang dari agama dan ketaatan kepada Allah sehingga bercerai-berai setelah sebelumnya utuh sebagai umat yang satu. Firman Allah dalam hadis Qudsi:

“خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم

“ Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu semuanya hunafaa’ (bersih dari kemusyrikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan-setan, lalu mereka disesatkan dari agama mereka” HR Muslim

Allah mencela mereka karena berpecah, maka ia mengutus para rasul kepada mereka untuk mempersatukan mereka kembali dan mempertemukan hati mereka pada kebenaran. Firman Allah :

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ [ يونس / 19 ]

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih, kalau sekiranya bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu , pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. Qs Yunus : 19

Allah memilih Bani Israel dengan mengutus beberapa para nabi dan rasul dari kalangan mereka, namun mereka melanggar dan mencampakkan Kitab ke belakang yang akhirnya mereka berpecah menjadi berbagai golongan dan kelompok. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ، وَاَفَترَقتِ النَّصَارَى عَلٰى اثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ، وَتَفْتَرِقُ إُمَّتِيْ عَلٰى ثَلاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ” رواه ابن حبان

”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, kaum Nashrani telah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”. HR Ibnu Hiban

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya perpecahan sebagaimana sabda beliau :

” وَإيَّاكمْ وَالفرْقة ” رواه الترمذي

“Jauhilah perpecahan” HR Tirmizi

Beliau mengabarkan sebagai warning bakal terjadinya perpecahan itu pada umat ini. Sabda beliau :

” فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثيْراً “

“Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian sesudah aku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.  HR Ahmad

Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang hamba-hambaNya berbecah. Firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران/ 103]

“Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Qs Ali Imran: 103

DijelaskanNya bahwa jalan Allah hanyalah satu; maka setiap jalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan setan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan manusia dari Tuhannya yang Maha Penyayang. Firman Allah:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/153]

“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. Qs Al-An’am : 153

Allah –subhanahu wa ta’ala- berpesan kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang Dia pesankan kepada para nabi, yaitu menegakkan agama karena Allah dan menjauhi perpecahan. Firman Allah:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [ شورى / 13]

“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kalian dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah”. Qs Syura : 13

Allah –subhanahu wa ta’ala- mencela perpecahan sekaligus pelakunya. Firman Allah:

” وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ” [ البقرة/ 176]

“ Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”. Qs Albaqarah : 176

Allah –subhanahu wa ta’ala- menggambarkan kondisi riel mereka dalam firmanNya:

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [ المؤمنون/ 53]

“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada masing-masing”. Qs Al-Mu’minun : 53

Bergelimang dalam kondisi yang demikian merupakan ciri-ciri orang-orang munafik.  Firman Allah:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة / 107]

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin”. Qs At-Taubah : 107

Itu menjadi watak mereka. Firman Allah :

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ [ الحشر/ 14]

“ Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. Qs Al-Hasyr : 14

Dan itu pula ciri khas tradisi Jahiliyah. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:

“مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه مسلم

“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan kelompok (kaum muslimin) lalu ia mati, maka matinya dalam kondisi jahiliyah.” HR. Muslim

Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang meniru dan menempuh jalan kaum yang suka berpecah belah. Firman Allah :

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [ آل عمران/ 105]

“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. Qs Ali Imran : 105

Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan terbebasnya Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dari kaum yang bercerai-berai itu. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ [ الأنعام / 159 ]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”. Qs Al-An’am : 159

Mereka menyempal dari ajaran Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan berseberangan dengan kaum muslimin. Firman Allah:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء / 115]

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Qs An-Nisa : 115

Perpecahan yang paling berat adalah berpaling dari Tauhid (peng-Esaan) kepada Allah Tuhan semesta alam. Firman Allah :

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [ يونس/ 106]

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian),  maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Qs Yunis : 106

Sebagaimana halnya perbuatan mengada-ada dalam beragama merupakan penyimpangan pula dalam meneladani sebaik-baik Rasul. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ” متفق عليه

 “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. Muttafaq alaihi

Menyempal dari para pemimpin dan penguasa, demikian pula merebut kekuasaan dari pemiliknya merupakan kerusakan besar. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:

” مَنْ نَزَعَ يَدًا مَنْ طَاعَةِ اللهِ ،  فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مَفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه أحمد

“Barangsiapa yang mencabut tangannya dari mentaati imam, maka dia kelak hari kiamat tidak memiliki argumen. Dan barangsiapa mati dalam kondisi memisahkan diri dari kelompok kaum muslimin, maka ia mati dalam kondisi Jahiliyah”. HR Ahmad

Para Ulama adalah teladan baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu tertolaknya kehadiran mereka.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Muaz dan Abu Musa Asy’ari –radhiyallahu anhuma- ketika beliau mengutus mereka ke Yaman :

” يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ” متفق عليه

“Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, jangan kalian takut-takuti. Bekerjasamalah, janganlah berselisih”. Muttafaq alaihi

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – melarang kita berpecah-belah dalam kebenaran. Sabda beliau :

” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا ” متفق عليه

“Bacalah Al-Qur’an selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah”. Muttafaq alaihi

Bercerai-berai dan tidak bersatu dalam melaksanakan shalat merupakan buah dominasi setan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ” رواه أبو داود

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah mendominasi mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang mencar”. HR Abu Dawud

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan ketidak sukaannya terhadap sikap cerai-berai ketika menunggu shalat. Jabir Bin Samurah –radhiyallahu anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- datang menemui kami. Jabir menuturkan : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- melihat kami saling mengelompok, lalu berkata :

” مَا لِى أرَاكُمْ عِزيْنَ – يَعْنِى مُتفرقين ” رواه مسلم

“Mengapa kalian aku lihat saling mengelompok, artinya saling memencar ?”. HR Muslim.

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang membuat perselisihan shaf-shaf dalam shalat. Beliau memperingatkan keras kepada para pelakunya akan perpecahan mereka dalam haluan. Menurut beliau hal itu akan mengakibatkan perselisihan hati mereka. Sebab perselisihan di permukaan akan membawa perselisihan dalam batin mereka. Sabda nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:

” لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ” رواه مسلم

“Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara haluan kalian.” HR. Muslim

Berselisih dengan Imam dalam shalat adalah bentuk perselisihan dan perpecahan yang dilarang oleh Islam. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا علَيْهِ ” رواه البخاري

“Seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih dengannya”. HR Bukhari

Sebagaimana perpecahan dalam urusan agama dilarang, Islam-pun melarang perpecahan dalam urusan duniawi; Oleh karenanya, berkumpul mengerumuni makanan dapat mendatangkan keberkahan, sedangkan bercerai-berai ketika makan dapat menghinlangkan keberkahan makanan.

          Ada sekelompok orang mengadu kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kata mereka : “Kami semua makan tetapi tidak merasa kenyang”. Sabda beliau : “Mungkin kalian memencar”. Jawab mereka, “Ya, benar”. Beliau bersabda : “Mengumpullah kalian di depan hidangan kalian, dan sebutlah nama Allah ketika makan, maka kalian mendapatkan keberkahan pada makanan itu”. HR Abu Dawud.

Ketika dalam bepergian, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- anggap memencar dari rombongan sebagai langkah menempuh jalan setan. Sabda beliau:

” إنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِيْ هَذِهِ الشِّعَابِ وَ الأوِدِيَةَ إنَّما ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ” رواه أبو داود

“Sesungguhnya berpencarnya kalian ke bukit-bukit dan lembah-lembah merupakan langkah setan”. HR Abu Dawud

Dalam hubungan dengan sesama dalam masyarakat, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap saling tidak menegur dan saling memutuskan hubungan antara kaum muslimin. Sabda Nabi :

” لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ ” متفق عليه

“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; saat keduanya bertemu yang ini berpaling dan yang lain juga berpaling. Namun yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq alaihi

Dalam sabdanya, beliau mengabarkan :

” إنَّ أبْوَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الاثنَيْنِ وَيَوْمَ الخَمِيْسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٌ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَه وَبَيْنَ أخِيْهِ شَحْنَاء فيُقالُ: أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، ” رواه مسلم

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dirinya dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah  kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.” HR Muslim

Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap fanatisme golongan dan yel-yel jahiliah. Ada seorang lelaki Anshar memanggil : “Wahai kebanggaanku kaum Anshar”, lalu di pihak lain-pun memanggil, “Wahai kebanggaanku kaum Muhajirin”. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berseru :

” مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ، دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ ” متفق عليه

 “Mengapakah masih ada yel-yel Jahiliyah, tinggalkanlah karena semua itu telah membusuk”. Muttafaq alaihi.

          Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menyukai dan tidak meridhai perpecahan  pada hamba-hambaNya dalam urusan agama dan duniawi. Tidaklah muncul suatu perpecahan di antara mereka melainkan datang dari selain Allah. Dasar-dasar syariat menunjukkan larangan setiap faktor yang dapat menimbulkan perpecahan dan persengketaan. Itulah hikmah yang dimaksudkan dalam pelarangan menurut agama yang dibawa oleh para rasul. Oleh sebab itu, setiap faktor yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dilarang; seperti berburuk sangka, mendengki, memata-matai, mengadu-domba, praktek riba, menjual suatu barang yang telah dibeli orang lain, meminang atas peminangan saudara sesama muslim, mengintip aurat sesama dan melakukan penipuan.

          Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan berkata yang manis, dan melarang ucapan yang kotor demi keutuhan dan persatuan serta mencegah kebalikannya. Firman Allah :

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ [ الإسراء / 53]

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan  itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”. Qs Al-Isra’ : 53

Faktor terbesar yang menyebabkan perpecahan adalah menyekutukan Allah. Itulah pencetus perselisihan dengan memunculkan berbagai macam sesembahan selain Allah. Firman Allah :

وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا [ الروم/ 31-32]

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan”. Qs Al-Rum : 31-32

Sementara itu, kaum muslimin semenjak Allah menciptakan Adam –alaihissalam- sampai hari kiamat tidaklah menyembah kecuali kepada Tuhan yang Esa. Demikian pula berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan jalan mulus bagi munculnya perpecahan dan persengketaan. Maka orang-orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya adalah kelompok orang-orang yang bercerai-berai hingga hari kiamat.

Setiap manusia yang meninggalkan sebagian perintah Allah, akan muncul di antara mereka permusuhan dan perpecahan. Maka orang yang mengamalkan sebagian isi Al-Qur’an dan meninggalkan sebagian lainnya, dapat diserupakan dengan orang-orang yang disindir oleh Allah dalam firmanNya :

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [ المائدة/ 14]

“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang terlah diperingatkan kepada mereka itu; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian  sampai hari kiamat. Qs Al-Maidah : 14

Mengikuti teks-teks suci yang tergolong mutasyabihat (mengandung multi makna) berpotensi menyimpang bagi pengikutnya, dan itu merupakan ujian bagi manusia. Firman Allah :

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ [آل عمران/ 7]

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya”. Qs Ali Imran : 7

Memasuki pintu syubhat dan mengikuti kemauan hawa nafsu merupakan penyakit yang merusak umat dan memecah-belah generasi muslim. Firman Allah :

كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالا وَأَوْلادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [التوبة/ 69]

“Seperti keadaan orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat dari pada kalian, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya kalian. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagian mereka, dan kalian membicarakan (hal yang batil) sebagaimana mereka membicarakannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka adalah orang-orang yang merugi”. Qs At-Taubah : 69

Mengikuti jalur setan akan berujung pada perpecahan, sebagaimana firman Allah:

وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/ 153]

“Dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya”. Qs Al-An’am: 153

Tidak ada suatu kaum yang arogan melainkan mereka terpecah. Firman Allah :

وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ[آل عمران/ 19]

“Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka”. Qs Ali Imran : 19

Apapun perbedaan yang muncul dari hawa nafsu, fanatisme, arogansi, sikap mengekor, kepongahan dan keberpihakan, sesungguhnya adalah jalan menuju perpecahan yang harus dihindari.

          Persaingan urusan duniawi menyebabkan permusuhan dan kebencian. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ ” متفق عليه

“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun bersaing dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa, sebagaimana telah membinasakan mereka”. Muttafaq alaihi

          Kehidupan masyarakat yang terpecah-belah selalu terpencar. Setan mengalami frustrasi untuk disembah oleh para penyembahnya di Jazirah Arab, tetapi dia merasa puas dengan memprofokasi antar mereka. Sebab bagi setan sangat sulit menguasai suatu kaum kecuali setelah mereka terpecah belah. Itulah sebabnya, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan :

“عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ” رواه الترمذي

“Berpegang-teguhlah pada kelompok kaum muslimin dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu  menyertai orang yang sendirian, sedangkan pada dua orang ia lebih jauh”. HR Tirmizi

Prajurit Iblis yang kedudukannya paling dekat kepadanya adalah setan yang paling mampu memecah-belah umat. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” إنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ ” رواه مسلم

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus pasukannya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling lihai cara menggodanya. Datanglah salah seorang di antara pasukannya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali belum berbuat apa-apa”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak membiarkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat setan seperti engkau”. HR Muslim

Perselisihan dalam beragama, tunduk pada hawa nafsu dan pendapat yang menyesatkan dapat menghambat jalan Allah dan agamaNya, berikut menyimpang dari jalan para nabi dan pandangan hidup mereka. Semua para Nabi diperintahkan untuk menegakkan agama karena Allah dan bersatu-padu membela kebenaran, jauh dari perpecahan.

Jika terjadi perselisihan, maka rusaklah agama para pelakunya, pesan Al-Qur’an terabaikan, hawa nafsu menguasai mereka, dan hilanglah otoritas ilmu dan petunjuk. Akibat perpecahan, hati mereka berselisih dan ikatan persaudaraan terputus. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :

” وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ” رواه أبو داود

“Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian akan berselisih pula.”. HR Abu Dawud.

Perpecahan menyebabkan permusuhan dan kebencian. Firman Allah :

وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ [ آل عمران/ 103]

“Dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian  ketika kalian dahulu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian”. Qs Ali Imran : 103

Bilamana terjadi perpecahan, maka terpampanglah beban yang memberatkan, berikut meletuslah peperangan dan pertumpahan darah. Firman Allah :

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا[البقرة / 253]

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, setelah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih”. Qs Albaqarah: 203

Tidak ada suatu kaum yang berpecah-belah melainkan mereka akan nista dan lemah. Firman Allah :

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]

“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. Qs Al-Anfal : 46

Bilamana perpecahan telah terjadi pada suatu umat, itu pertanda turunnya kemurkaan Allah terhadap mereka. Firman Allah :

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ” [ الأنعام / 65]

“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan (yang saling bertentangan) dan  merasakan kepada sebahagian kalian  keganasan sebahagian yang lain”. Qs Al-An’am 65

          Menurut Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- itu adalah “hawa nafsu dan perselisihan”. Hukuman dosa perpecahan yang disegerakan adalah dominasi musuh. Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan kepada Nabi-Nya :

” أَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا ” رواه مسلم

“Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang kelompok mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” HR. Muslim

Persengketaan, perselisihan dan perpecahan, berakibat hilangnya kebenaran, hancurnya sendi-sendi agama, munculnya peyerupaan terhadap kaum musyrikin, merajalelanya kesesatan dan komentar-komentar tanpa dasar ilmu yang dapat mengalihkan seseorang dari pengamalan agama, pengkajian ajarannya dan penyebaran dakwahnya, disamping dapat melumpuhkan simbul-simbul agama yang nampak, seperti beramar makruf dan nahi mungkar (kontrol sosial). Akibat perpecahan pula nikmat yang merupakan karunia Allah menghilang.

          Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah diperlihatkan tentang nikmat Lailatul-Qadr, lalu beliau keluar untuk memberitahukan hal itu. Namun ada dua lelaki di antara kaum muslimin yang adu mulut (cekcok), maka beliau bersabda :

” إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ” رواه البخاري

“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang anugerah Lailatul-Qadr, namun karena si Fulan dan si Fulan saling memaki, maka ditariklah kembali anugerah itu”.HR Bukhari.

          Petaka akibat perpecahan adalah kehancuran. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:

” لَا تَخْتَلفُوْا ، فَإنَّ مَنْ كَانَ قَبلكم اخْتلفوا فَهَلكوْا ” رواه البخاري

“Janganlah kalian berselisih! Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” HR. Bukhari

Di akhirat kelak wajah-wajah orang yang berpecah belah itu terlihat hitam. Firman Allah :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ [ آل عمران/ 106]

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam  muram  mukanya (kepada mereka dikatakan): “kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu”. Qs Ali Imran: 106

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :

 “Wajah-wajah ahlus-Sunnah wal Jama’ah nampak putih, sedangkan wajah-wajah pelaku bid’ah dan perpecahan terlihat hitam”. Tangan Allah menggandeng orang-orang yang bersatu. Barangsiapa memencar, maka ia akan terpencar di neraka”.

Kaum muslimin sekalian!

          Perpecahan adalah kenistaan, persengketaan adalah kejahatan, perselisihan adalah kelemahan, dan perceraian adalah kerusakan urusan agama sekaligus dunia. Semua itu akan membuat musuh senang, melemahkan kekuatan umat, menghambat laju dakwah kepada Allah, menghalangi upaya penyebaran ilmu, menyempitkan dada, membuat hati gelap, mempersulit penghidupan, merampas waktu, mengalihkan perhatian seseorang dari beramal kebajikan dan berbuat aniaya terhadap generasi yang akan datang akibat tidak tersedianya sarana yang berguna bagi mereka.

          Orang yang cerdas adalah orang yang meninggalkan persengketaan dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta melakukan perbaikan untuk dirinya dan orang lain.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا [ النساء/59]

“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kakalian. kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah  kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wilnya”. Qs An-Nisa’ : 59

Semoga Allah mencurahkan keberkahan bagiku dan kalian semua berkat Al-Qur’an yang agung ….

============

Khotbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbinganNya dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai sikap pengagungan terhadap urusanNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan RasulNya. Semoga Allah selalu menambah curahan rahmat dan salam kepada beliau beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.

Kaum muslimin sekalian!

          Termasuk tujuan Islam terpenting ialah menyatukan kaum mulimin dan memadukan hati mereka serta mendamaikan persengketaan di antara mereka. Kondisi suatu umat tidak akan baik kecuali ketika mereka bersatu padu dalam kebenaran dan Islam. Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan pentingnya persaudaraan kaum mukminin sebagaimana firmanNya:

”  إنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ ” [ الحجرات / 10]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. Qs: Al-Hujurat: 10

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan gambaran tentang keberadaan orang-orang beriman dalam sabda beliau.

” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ” رواه مسلم

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. HR. Muslim

Dan sabda beliau :

” الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ” متفق عليه

 “ Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. Muttafaq alaihi

Itulah nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah dan kemurahan dariNya. Firman Allah :

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ [ الأنفال/63]

“Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun  kamu membelanjakan semua (kekayaan) di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” Qs Al-Anfal : 63

Maka, kewajiban seorang muslim adalah menjaga nikmat itu dengan lapang dada dan mencintai sesama serta selalu memberi nasihat kepada orang lain.

Ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian bershalawat dan salam kepada Nabi-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang penuh hikmah :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب/ 56]

 “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat dan salamlah kalian kepadanya dengan sesungguhnya”. Qs Al-Ahzab: 56

== Doa Penutup ==

sumber: https://firanda.com/1709-bersatullah-dan-jangan-bercerai-berai.html

(Petuah Abu Qilabah), Balasan Karena Tingkahmu Sendiri

Ketahuilah bahwa perilaku seseorang terhadap diri kita dalam setiap aspek kehidupan adalah balasan atas perilaku kita sendiri. Jika kita sering berperilaku baik kepada orang lain, maka kita pun akan diperlakukan demikian. Ketika kita sering mempersulit orang lain, maka begitu pula kita akan sering mendapati kesulitan. Jika tingkah kita sering menipu atau suka melalaikan amanat, maka demikianlah orang lain akan bersikap pada kita.

Abu Qilabah, salah seorang ulama’ berpetuah:

البِرُّ لاَ يَبْلَى وَالذَّنْبُ لاَ يُنْسَى وَالدَّيَّانُ لاَ يَمُوتُ، اعْمَلْ مَا شِئْتَ كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

“Kebajikan itu tak kan pernah usang, dosa tak kan pernah dilupakan, sedangkan Allah Maha Pembalas tak kan pernah mati. Lakukanlah apa yang engkau suka. Sebagaimana engkau berperilaku, maka demikianlah balasan yang akan engkau rasakan.”

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozaq dan Al Baihaqi dalam Az Zuhud dari Abu Qilabah secara mursal. Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud dari Abu Qilabah dari Abud Darda secara mauquf, yaitu perkataan sahabat Abud Darda. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 11/169, Asy Syamilah.

Saatnya mengintrospeksi diri …

Faedah di pagi hari, 17 Rajab 1431 H (30/06/2010)

Artikel www.rumaysho.com

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/1112-petuah-abu-qilabah-balasan-karena-tingkahmu-sendiri.html

Mengobati Mandul Kok Pergi Ke Dukun?

#IndonesiaBertauhid

Praktek ini tidak sedikit, beberapa dari pasangan suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak pergi ke dukun untuk berobat atau minimal meminta “keajaiban” dari dukun tersebut agar punya anak segera.

Bagi mereka yang punya akal sedikit saja tentu merasa aneh dan tidak logis, berobat mandul kok ke dukun? Tapi bagi mereka yang kurang imanya atau sudah mendapat doktrin bahwa dukun bisa melakukan yang aneh-aneh dan ajaib-ajaib tentu mereka percaya dukun bisa melakukannya.

Berikut pertanyaan yang diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi)

Pertanyaan:

س2: سماحة الشيخ: أنا الآن يبلغ عمري 35 عاما، وأنا متزوج ولي 15 سنة، وإلى الآن ليس لي أولاد، نرجو منكم أن تدعو لي بأن يرزقني الله بالذرية أم ماذا أفعل؟ وإني لا أصدق المشعوذين الذين ينصحونني بأشياء شركية بأن أتبعها ويأتيني الأولاد علما بأن التحاليل الطبية سليمة، فهل أنذر لله صوما، أم ماذا أفعل؟

“Saya sekarang sudah berumur 35 tahun dan sudah menikah selama 15 tahun, sampai sekarang saya tidak mempunyai anak. Saya memohon agar engaku mendoakan agar saya diberi rezeki anak oleh Allah, apa yang harus saya lakukan? saya tidak percaya kepada dukun yang memberi masukan agar saya melakukan hal-hal yang syirik (misalnya kalau ingin punya anak harus memberika sesajen kepada selain Allah, pent). Saya tahu bahwa pemeriksaan kedokteran lebih selamat. Apakah saya perlu bernazar? Atau apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

ج2: نوصيك بالثبات على الحق، وعدم الذهاب إلى السحرة والمشعوذين، مع كثرة دعاء الله سبحانه، والإلحاح في ذلك، فإن الله قريب مجيب، ولا حرج عليك أن تستعمل شيئا من الأدوية

“Kami menasehati agar tetap berada dalam kebenaran, tidak perlu pergi ke dukun atau tukang sihir, tetap banyak berdoa kepada Allah, meminta dengan sangat karena sesungguhnya Allah Maha dekat lagi Maha mengabulkan doa, tidak mengapa engkau menggunakan obat-obatan (yang mubah).” ([1] Fatawa Al-Lajnah no. 10311 24/437, syamilah)

Dukun dan tukang sihir sudah diperingati oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallambahayanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230)

Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi no 135)

Berikut Usaha-Usaha Yang Bisa Ditempuh Agar Bisa Mengobati Kemandulan

>>memahami bahwa anak juga merupakan rezeki

Mungkin ada yang hanya memahami rezeki itu hanya harta, tetapi rezeki itu lebih luas termasuk di dalamnya harta, jodoh, ilmu, anak dan lain-lain. Bisa diperhatikan doa ketika mengumpuli istri,

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”[HRBukhari no. 141, 3271, 3283, 5165, Muslim no. 1434]

Zainuddin Muhammad Al-Mad’u Al-Qohiri rahimahullah berkata menjelaskan hadist ini,

أي أبعده عنا (وجنب الشيطان ما رزقتنا) من الأولاد أو أعم… وفيه أن الرزق لا يختص بالغذاء والقوت بل كل فائدة أنعم الله بها على عبد رزق الله فالولد رزق وكذا العلم والعمل به

“Yaitu, menjauhkannya dari kami [jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami] berupa anak-anak .. kandungan dalam hadist ini bahwa rezeki tidak hanya khusus [terbatas] pada makanan saja, bahkan semua kenikmatan yang Allah berikan adalah rezeki dari Allah. Maka anak adalah rezeki, demikian juga ilmu dan mengamalkan ilmu.” [Faidhul Qadiir Syarh Al-jaami’ Ash-Shaagir5/306, Al-Maktabah At-Tijariyah, Mesir, Cet. Ke-1, 1356 H, Asy-syamilah]

Jadi, pemahaman dan pernyataan seperti, “saya kaya dan sudah dapat rezeki yang banyak, tetapi belum punya anak juga, percuma kekayaan ini”, adalah kurang tepat. Ini yang perlu diperbaiki bersama, sehingga sebaiknya mereka yang belum memiliki anak tetap melakukan usaha-usaha yang bisa mendatangkan rezeki, berupa sebabsyar’i dan sebab qadari.

>>Memahami sebab syar’i dan sebab qadari dalam rezeki

Sebab syar’i: sebab ditunjukkan dengan dalil A- Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadi penyebab. Walaupun tidak atau hanya belum terbukti secara ilmiyah, penelitian dan logika sebagi sebab sesuatu. Contohnya hadits,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

“Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya” [HR. Bukhari]

Dahulunya, kita hanya percaya penuh sebagai sebab syar’i saja karena hadits ini dengan penjelasan ulama tidak di-ta’wil maknanya, ia adalah makna yang sesungguhnya. kita beriman terhadap hadists dengan keimanan yang sempurna. Kemudian Alhamdulillah, ada berita bahwa sudah dilakukan penelitian bahwa hal tersebut benar, sehingga menjadi sebab syar’i dan qadari.

Sebab qadari: yaitu sunnatullah, pengalaman, logika dan penelitian ilmiah itu terbukti sebagai sebab memperoleh hasil. Dan sebab qodari ada yang dengan cara halal/benar dan ada juga yang haram. Contohnya:

-sebab qadari yang halal/benar misalnya api itu membakar, rajin belajar bisa rangking satu

-sebab qadari yang haram: mencuri bisa membuat kaya

Dan kebanyakan manusia yang belum punya pemahaman, hanya mengambil sebab qadari saja dan jarang menempuh sebab syar’i.Begitu juga dengan mereka yang belum mempunyai anak.

>>Mengambil sebab syar’i memperoleh rezeki berupa anak

1. Berdoa dan tidak pernah merasa putus asa

Doa itu sempurna karena dialah inti dari ibadah yaitu memohon dan bergantung kepada Allah. Bahkan kita dianjurkan agar memohon kepada Allah segala sesuatu dalam hidup kita sampai perkara remeh sekalipun. Dan senantiasa selalu berdoa mememinta rezeki berupa anak di waktu dan tempat yang mustajab. Misalnya menjadikan doa yang selalu diucapkan ketika sholat lima waktu.

Kemudian jangan pernah berputus asa dan berhenti berdoa, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم.

“Doa para hamba akan senantiasadikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalamberdoa?. Beliau bersabda: “Orang yang berdoa ini berkata: Saya telahberdoa, Saya telah berdoa, danbelum pernah dikabulkan. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.” [HR. Muslim dan Abu Daud]

2. Perbanyak istigfar di manapun, kapanpun dan di sela-sela waktu senggang

Allah Ta’ala berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارا

“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.[Nuh: 10-12.]

Imam Al-Qurthubi rahimahullahmenukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya , bahwasanya ia berkata,

شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”

”Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”, yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlahkepada Allah!” yang lain lagi berkata kepadanya,”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan kamipun menganjurkan demikian kepada orang tersebut Maka Hasan Al-Bashri menjawab:”Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri.tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh [ayat 10-12].” [Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah]

Kemudian hadits shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” [HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh Hakim serta Ahmad Syakir]

Dan hendaknya bagi mereka yang menginginkan rezeki berupa anak memperbanyak istigfar sela-sela waktu, ketika naik kendaraan, ketika menunggu, ketika berjalan dan lain-lainnya.

3. Memperbanyak shadaqah

Dengan memperbanyak shadaqah khususnya rezeki kita berupa harta, maka diharapkan kita akan mendapatkan rezeki-rezeki yang lainnya. Salah satunya adalah anak. Sesuai dengan kaidah dalam agama kita,

الحزاء من جنس العمل

“Balasan sesuai dengan perbuatan”

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”. [ Al-Baqarah: 245]

4. Melakukan amalan-amalan lainnya yang bisa memperlancar rezeki

Berupa taubat, takwa, tawakkal kepada allah, menghadirkan hati di hadapan allah ketika beribadah, mengikutkan haji dengan umrah, silaturahim, memberi nafkah kepada seseorang yang menghabiskan waktunyamenuntut ilmu agama, berbuat baik kepada orang-orang lemah berhijrah di jalan allah. dan amalan ibadah yang lainya.

>>mengambil sebab qadarimemperoleh rezeki berupa anak

Kombinasi menempuh sebab syar’i dan sebab qadari kemudian disempurnakan dengan tawakkal, yaitu mengambil sebab dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, kemudian menerimanya dengan lapang dada.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:,

لو أنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لرزقتم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung-burung, pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [QS. Ath Tholaq: 3]

Kita harus yakin jika kita bertawakal maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kita, jika memang takdirnya anda belum mempunyai anak, bisa jadi Allah membuat hati dan hidup anda lebih berbahagia daripada mereka yang mempunyai anak. Hal ini sangat mudah bagi Allah, asal kita bertawakkal kepadanya.

Sebab qadari dengan thibbun nabawi dan cara tradisional

Kami tidak mempunyai basic mengenai hal ini. Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, ada anjuran agar mengkonsumsi ramuan madu asli habbatussauda, serbuk royal jelly, ginseng, bee propolis, fenugreek , serbuk bunga kurma madinah. sedangkan dengan cara tradisional, maka menawarkan banyak sekali ramuan jamu dan tanaman khas tradisional yang berkhasiat.

Silahkan melakukan usaha dengan langkah seperti ini, jika anda yakin dan telah melihat banyak buktinya. Mengenai hal ini, kami yang mempunyai basic kedokteran, usaha tersebut intinya adalah bagaimana agar sel telur bisa dibuahi oleh sperma. Setahu kami cara tersebut adalah cara umum dan kurang spesifik. Cara umum yang kami maksud adalah misalnya dengan mengkonsumsi ramuan tersebut, maka bisa meningkatkan stamina, energi, kebugaran, memperlancar peredaran darah, dan menyuburkan kandungan serta meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma.

sebab Sebab qadari dengan kodokteran modern

sesuai dengan basic ilmu kami, maka kami akan berpanjang lebar mengenai hal ini. Berikut beberapa usaha yang bisa ditempuh.

>>menerapkan pola hidup sehat

Ini adalah hal mutlak yang harus dilakukan, hal ini kami rasa tidak perlu dijelaskan dengan panjang lebar karena setiap orang minimal pasti tahu bagaimana dengan pola hidup sehat yang berkaitan dengan makanan, pekerjaan, istirahat, psikis, stress dan aktifitas.

Hanya saja yang perlu kami tekankan bahwa ada beberapa aktifitas dan pola hidup khusus yang bisa menghalangi kehamilan.

Misalnya pada pria:

-memakai celana dalam yang terlalu ketat

-bekerja sebagai sopir dan sejenisnya yang terlalu lama

-bekerja didaerah dengan radioaktif yang tinggi

Misalnya pada wanita:

-terlalu sering membersihkan kelamin dengan pembersih khsusus/ merk tertentu

-sangat banyak mengkonsumsi kafein, penelitiannya wallahu a’lam,bisa menekan produksi hormon dan mengurangi aliran darah ke alat reproduksi

Dan banyak hal lainnya. Silahkan anda mencarinya di sumber-sumber terpercaya.

>>Melakukan cara berhubungan yang ideal untuk mendapatkan anak

1. Berhubungan saat masa subur istri

sel telur yang matang hanya hidup selama 24 jam sedangkan sperma bisa hidup 48-72 jam dalam rahim.Oleh karena itu, sebaiknya berhubungan sebelum saat ovulasi atau melakukannya pada saat perkiraan waktu subur istri.

Masa subur istri dapat diperkirakan dengan salah satu cara yaitu dengan penanggalan. Masa subur istri adalah 14 hari setelah hari pertama menstruasi.

Misalnya:

Hari pertama menstruasi adalah tanggal 1 oktober. Maka perkiraan tanggal suburnya adalah tanggal 14 Oktober. Maka lakukanlah hubungan badan sehari sebelum dan sehari sesudahnya yaitu tanggal 13, 14 dan 15 Oktober.

Contoh lain:

Hari pertama menstruasi tanggal 5 Oktober, maka perkiraan hari subur adalah tanggal 19. . Maka lakukanlah hubungan badan pada tanggal 18, 19, dan 20 Oktober.

Kemudian dianjurkan bagi mereka yang terbukti memiliki kualitas dan kuantitas sperma yang rendah agar tidak melakukan hubungan badan 2-3 hari sebelum berhubungan pada saat masa subur. Jadi pada contoh diatas, sebaiknya menunda berhubungan badan tanggal 10, 11, dan 12 Oktober. Hal ini agar sperma yang yang keluar pada saat berhubungan di masa subur jumlahnya agak banyak dan lebih berkualitas.

Bagaimana dengan yang siklus haidhnya tidak teratur?

Bisa menggunakan metode lain untuk mengetahui masa subur yaitu:

–metode lendir yaitu wanita subur jika lendir vagina agak kental, cara mengetahuinya dengan memasukkan sedikit ibu jari dan telunjuk ke vagina, kemudian ada lendirnya dan merenggangkan ibu jari dan telunjuk. Jika lendirnya masih menyatu ketika dipisahan oleh kedua jari, berarti kental dan ini adalah waktu subur.

–metode suhu yang menyatakan bahwa wanita yang subur mengalami kenaikan suhu 0,5-1 derajat. Metode ini mengukur suhu setiap hari ketika bangun tidur dan mencatatnya dikalender kemudian akan menjadi sebuah pola.

2. Frekuensi berhubungan

ini sangat bergantung dengan banyak faktor, teorinya karena masa subur masih sekedar perkiraan, maka semakin sering berhungan semakin besar kemungkinan hamil. Akan tetapi tidak semua laki-laki mampu setiap hari atau ada laki-laki yang kualitas dan kuantitas spermanya rendah. Jika demikian, maka hendaknya tidak melakukan hubungan badan 2-3 hari sebelum berhubungan pada saat masa subur.

3. Usahakan istri mengalami puncak kepuasan

Jika seorang wantia mencapai puncak kepuasan, maka akan membentuk suasana basa pada vagina yang sebelumnya asam. Sperma lebih baik pada kondisi basa. Mengenai caranya anda lebih mengetahuinya, karena sebagimana penjelasan para ulama bahwa hal ini adalah tabiat dan naluri manusia sehingga tidak perlu di jelaskan dengan sangat rinci dan detail yang akhirnya mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas didengar bagi orang umum dan mereka yang belum layak.

Sedikit ilmu mengenai hal ini, berpegang dengan prinsip yang diajarkan oleh Islam. Yaitu kita jangan seorang laki-laki berhubungan dengan istrinya sebagaimana binatang, yaitu tanpa pemanasan/foreplay/mula’abah.Dan memang teori kedokterannya bahwa” wanita itu lama mencapai puncak dan lama juga merasakan nikmatnya ketika mencapai puncak”.Dan mula’abah seperti cumbuan dan rayuan diajarkan oleh Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Jabirradhiallahu ‘anhu ketika dia menikah dengan janda,

“فهلا بكراً تلاعبها وتلاعبك” (رواه الشيخان)، ولمسلم “تضاحكها وتضاحكك”

”Kenapa tidak gadis (yang engkau nikahi) sehingga engkau bisa mencumbunya dan dia mencumbumu?” [HR. Bukhari dan Muslim] dan dalam riwayat Muslim:”Engkau bisa mencandainya dan dia mencandaimu?”

4. Posisi berhubungan yang ideal
Yang kami maksud adalah posisi pada saat sperma ditumpahkan ke dalam vagina. Dan posisi idealnya adalah istri di bawah dan suami di atas. Adapun posisi saat berhubungan badan, maka terserah bagaimana saja asal masih manusiawi dan tidak memaksakan.

Allah Ta’ala berfirman,

نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم

“Para istri kalian adalah ladang bagi kalian. Karena itu, datangilah ladang kalian, dengan cara yang kalian sukai.” [Al-Baqarah:223]

Kemudian yang perlu kita perbaiki bersama, sekali lagi bahwa ulama menjelaskan bahwa hal ini adalh naluri dan tabiat manusia, tidak perlu dijelaskan dengan sangat rinci dan detail, menjelaskan posisi ini, posisi itu, menjelaskan bagaimana begini dan begitu. Kemudian menggunakan kata-kata yang kurang pantas didengar dan oleh orang yang masih belum layak mendengar. Walaupun sudah ditulis “bagi yang belum cukup umur, dilarang membaca”. Maka kita katakan bahwa sesuatu yang dilarang itu malah memancing orang untuk tahu. Sebagaimana pepatah Arab,

كل ممنوع مرغوب

“setiap yang dilarang umumnya diinginkan/dicari”

5. Sebaiknya Jangan banyak bergerak sesaat setelah berhubungan

Posisi istri hendaknya tetap berbaring sejenak sekitar 5-10 menit, kemudian lebih bagus lagi jika panggulnya disanggah dengan bantal. Hal ini bertujuan untuk memberi waktu sejenak untuk sperma berenang menuju rahim.

Sambil menunggu bisa digunakan untuk berbincang-bincang mesra dan hangat dengan istri dalam pelukan. Karena istri sangat tidak suka, jika selsai berhubungan langsung ditingal begitu saja sehingga terkesan [maaf] “dipakai kemudian dibuang”.

6. Jangan memakai pelumas

Karena pelumas umumnya bisa merusaka suasana vagina dan bisa mrusak sperma. Selain itu pelumas juga bisa menghalangi jalannya sperma menuju rahim.

>>Mengobati sebab dan penyakit yang menyebabkan infertilitas

Sebagaimana yang kami jelaskan sebelumnya bahwa ada beberapa penyebab dan penyakit yang bisa menyebabkan infertilitas.maka hal ini perlu diobati ke ahlinya baik dokter spesialis kandungan [obsgyn] atau dokter spesialis Andrologi [reproduksi pria] atau ke tabib tradisional yang sudah berpengalaman dan diakui ilmunya, selama tidak mengandung unsur ritual kesyirikan, tahayul dan mitos tidak jelas.

>>Terus berusaha selama masih subur walaupun sudah berumur

Ada teori kedokteran yang mengatakan bahwa kehamilan khususnya bagi wanita yang berumur di atas 35 tahun bisa beresiko dan dianjurkan agar tidak hamil. Sehingga keluarlah komentar seperti,

“saya sudah menyerah mendapatkan anak, saya sudah berumur 35 tahun lebih”

Kami kurang setuju dengan hal ini menurut ilmu yang ada pada kami. Pendapat ini kurang benar seutuhnya, yaitu tidak dianjurkan hamil ketika berusia 35 tahun lebih. Karena Allah menciptakan wanita bisa hamil sampai ia menopause. Dan usia menopause wanita umumnya 40-45 tahun. Tidak mungkin Allah menjadikan wanita bisa hamil sampai usia 40 tahun kemudian akan menyebabkan banyak resiko. Sedangkan Allah menciptakan dan mentakdirkan segala sesuatu yang disyariatkan pasti mengandung kebaikan dan kemashlahatan bagi hambanya. Dan kehamilan adalah sarana untuk melaksanakan anjuran syariat agar memperbanyak keturunan. Jadi selama belum berhenti kesuburan atau belum menopause, maka wanita layak dan bisa hamil.

Mengenai hal ini syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dirahimahullah berkata dalam risalahnya,

الدين مبني على المصالح

في جلبها و الدرء للقبائح

“agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan

Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,

ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف

“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf]

Memang usia yang menua seperti usia 40 tahun, badan tidak seperti muda lagi dan segar tetapi bukan berarti menjadi sebuah penghalang besar untuk tidak bisa hamil sehingga tidak dianjurkan. Kemungkinan teori kedokteran bahwa umur 35 tidak dianjurkan hamil karena disesuaikan dengan zaman ini dan pola hidup zaman ini, misalnya wanita yang ikut bekerja diluar menjadi wanita karir, sehingga tidak bisa menjaga kehamilan, mengalami kecapekan dan stress.

Kita bisa lihat bukti bagaimana orang-orang dahulu, misalnya nenek kita yang mempunyai anak 8-10 orang dimana jarak kehamilan bisa 15-20 tahun, yang berarti mereka hamil ketika usia 35 tahun ke atas. Namun mereka berhasil melahirkan anak dan tetap sehat. Hal ini karena pola hidup sehat mereka dan istirahat yang cukup ketika hamil karena tidak ada kantor/instansi yang memaksa masuk kerja. Maka saran kami hendaknya wanita yang hamil tidak bekerja diluar rumah jika beban kerja yang berat dan banyak tekanan.

>>Mengunakan obat medis penambah kesuburan

Mungkin ini bisa dibilang salah satu jalan terakhir. Setahu kami salah satu obat medis yang bisa menambah kesuburan laki-laki dan wanita adalah Clomifene Citratedengan berbagai merek dagang seperti Blesifen, Fensipros, Fertilphene, Fertin, Genoclom dan lain-lain.

Akan tetapi sebaiknya konsultasi kepada dokter sebelum menggunakan obat ini, karena obat ini akan digunakan jangka panjang, misalnya laki-laki akan mengkonsumsinya selama 40-90 hari. Akan berefek di ginjal dan hati yang memetabolisme obat tersebut. Jika hati dan ginjal tidak bermasalah maka obat ini bisa digunakan. Selain itu ada kontraindikasinya seperti kerusakan hati, kista, gangguan metabolisme bilirubin, disfungsi tiroid dan lain-lain. [lengkapnya lihat di MIMS]

Sekali lagi kami tegaskan bahwa tidak ada obat yang menjamin 100% pasti berhasil dan tidak ada obat yang tidak memiliki efek samping. Ini adalah pilihan, ada hasil pasti ada resiko. Sebagaimana dalam bisnis dan jual-beli, ada untung pasti ada resiko kerugian yang ditanggung. Selaras dengan kaidah fiqhiyah.

الغرم بالغنم

“kerugian itu dibalas dengan keuntungan”

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Pogung Lor, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadhan

Syaikh al-Fauzan pernah ditanya :

Bagaimanakah keadaan salafus shalih –radhiyallahu’anhum wa rahimahum– dalam menyambut bulan yang agung ini? Bagaimanakah bimbingan mereka? Bagaimanakah kebiasaan dan sikap mereka?

Bagaimanakah seorang muslim mempersiapkan dirinya agar bisa memanfaatkan waktu-waktu malam yang sekarang dijalani olehnya demikian pula siang harinya? Yaitu persiapan dalam hal ilmu dengan mengetahui hukum-hukum puasa, mengetahui hal-hal yang membatalkannya, mengenali hukum-hukumnya.

Karena sebagian orang lalai dari perkara-perkara ini, sehingga tidak mendalami hukum seputar puasa dan juga tidak berusaha memahami ilmu yang wajib dalam masalah puasa, apakah Syaikh hafizhahullah berkenan untuk memberikan nasihat berkaitan dengan hal ini?

Setelah membaca bismillah dan menjawab salam, beliau menjawab :

Keadaan salaf di bulan Ramadhan, sebagaimana hal itu telah tercatat dalam kitab-kitab yang diriwayatkan dengan sanad yang terpercaya bahwa para salaf senantiasa memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menyampaikan/mengantarkan mereka sehingga bisa menjumpai Ramadhan, yaitu sebelum masuknya bulan itu.

Mereka meminta kepada Allah supaya mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, karena mereka mengetahui bahwa di bulan itu terdapat kebaikan yang sangat besar dan kemanfaatan yang begitu luas.

Kemudian, apabila bulan Ramadhan sudah masuk mereka pun meminta kepada Allah untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka dalam beramal salih di bulan tersebut. Kemudian, apabila Ramadhan usai mereka juga memohon kepada Allah agar menerima amalan mereka itu, sebagaimana Allah jalla wa ‘ala firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang sanggup mereka persembahkan sementara hati mereka itu merasa takut; bagaimanakah kiranya keadaan mereka ketika dikembalikan kepada Rabbnya. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan mereka berlomba-lomba untuk meraihnya.” (QS. al-Mu’minun : 60-61).

Mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, kemudian setelah itu mereka dirundung oleh rasa cemas dan khawatir setelah beramal; apakah amalnya itu diterima ataukan tidak. Yang demikian itu dikarenakan mereka sangat mengetahui tentang agungnya kedudukan Allah ‘azza wa jalla dan bahwasanya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang ikhlas untuk mencari wajah-Nya dan amalan yang benar sebagaimana tuntunan/sunnah Rasul-Nya.

Oleh karena itu, mereka tidak menganggap dirinya suci, bahkan mereka merasa khawatir kalau-kalau amal-amal mereka itu terhapus/tidak diterima. Oleh sebab itulah mereka sangat berharap agar amalnya bisa diterima, dan hal ini jauh lebih membuat letih pikiran mereka daripada sekedar melaksanakannya. Karena sesungguhnya Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima -amal- dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Ma’idah : 27).

Dan adalah mereka itu dahulu berusaha untuk meluangkan waktunya untuk bisa menikmati ibadah di bulan ini -sebagaimana sudah kami sampaikan- dan mereka pun mengurangi/mempersedikit amal-amal/urusan dunia.

Adalah mereka -salafus shalih- itu memadati waktu-waktu mereka dengan duduk di rumah-rumah Allah ‘azza wa jalla. Mereka mengatakan, “Kami ingin menjaga puasa kami, kami tidak ingin menggunjing siapa pun.” Dan mereka pun menhadirkan mushaf-mushaf untuk dibaca, dan mereka saling mempelajari kandungan Kitabullah ‘azza wa jalla. Mereka senantiasa
berusaha menjaga agar waktunya tidak terbuang sia-sia.

Mereka tidak suka membuang-buang waktu dan menyia-nyiakannya sebagaimana keadaan yang ada pada banyak orang di masa sekarang ini. Akan tetapi, mereka -salafus shalih- berusaha menjaga waktu-waktu mereka; malam diisi dengan sholat malam, sedangkan siang hari diisi dengan puasa, membaca al-Qur’an, dzikir kepada Allah, dan berbagai amal kebaikan.

Mereka -salafus shalih- itu tidak mau menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadhan itu walaupun sedetik saja atau sekejap, kecuali mereka selalu berusaha untuk bisa mempersembahkan amal salih di dalamnya.

***

Sumber : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/9840

Penerjemah: Ari Wahyudi

Artikel Muslim.or.id

repost dari: https://muslim.or.id/25787-cara-salafus-shalih-menyambut-ramadhan.html

Kultum Persiapan Menjelang Ramadhan

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,

إِنّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin yang berbahagia,

Syukur Alhamdulillah kita haturkan ke hadhirat Allah, Sang Pemberi petunjuk, Yang menguasai dan mengendalikan seluruh hati manusia. Puji syukur kita haturkan pula kepada Allah, karena dengan rahmat dan hidayahnya, kita bisa merasakan nikmatnya ibadah dan ketaatan kepada-Nya.

InsyaaAllah beberapa hari lagi kita akan berjumpa dengan bulan ramadhan. Bulan mulia, yang penuh berkah. Para hamba dimotivasi untuk banyak mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itulah, selayaknya kita menyambut ramadhan dengan kegembiraan dan suka cita.

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabat akan datangnya ramadhan.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

Ketika datang ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabat akan datangnya ramadhan. Beliau bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa. Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat; di sana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa terhalangi untuk mendapat kebaikannya, berarti dia telah terhalangi untuk mendapatkan kebaikan.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadhirin yang kami hormati,

Secara umum, ketika kita menghadapi sebuah ibadah, ada 3 hal yang perlu kita pikirkan,

Pertama, apa yang harus kita persiapkan sebelum ibadah

Kedua, apa yang harus kita lakukan ketika beribadah,

Dan yang ketiga, apa yang harus kita lestarikan pasca-ibadah.

Di kesempatan kali ini, kita akan membicarakan, apa yang seharusnya dipersiapkan seorang muslim sebelum memasuki ramadhan.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan menjelang ramadhan

Pertama, memperbanyak berdoa

Berdoa memohon kepada Allah, agar Allah mempertemukan kita dengan ramadhan, dalam kondisi sehat jasmani rohani. Sehingga bisa maksimal dalam beribadah ketika ramadhan.

Kita meyakini bahwa satu-satunya yang kuasa mengendalikan diri kita hanya Allah. Dia yang memberi kemudahan bagi para hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Baik kemudahan dalam bentuk fisik, seperti kesehatan, kekuatan, dst. Termasuk yang paling penting adalah kemudahan dalam bentuk semangat untuk melakukan ibadah.

Kita tidak akan mampu beribadah, tanpa pertolongan dari-Nya. Karena itu, berdoa dan berdoalah. Memohon kepada Allah agar kita diberi kemudahan untuk mendapatkan kebaikan ramadhan.

Kita bisa simak semangat sahabat dan para tabi’in di masa silam. Mereka sangat antusias menyambut ramadhan. Sehingga mereka gunakan kesempatan doa mereka, untuk memohon kepada Allah agar bisa bertemu ramadhan.

Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin –,

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Diantara doa yang bisa kita tiru adalah doa yang diriwayatkan oleh Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in –, bahwa sebagian sahabat ketika mendekati datangnya Ramadhan mereka berdoa,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Satu harapan yang luar biasa. Betapa mereka menilai, Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Sehingga mereka tidak akan menjadikannya kesempatan yang sia-sia.

Kedua, Perbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah

Semoga istighfar kita bisa melebur dosa kita.

Dosa dan maksiat adalah sumber penyakit bagi hati. Dialah sumber noda bagi hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana bahaya dosa bagi hati manusia,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

Mulailah bertaubat untuk menghapus kesalahan kita. Jika kesalahan itu harus ditutupi dengan membayar kaffarah, kita siap membayarnya. Jika terkait dengan hak orang lain, kitapun siap dengan meminta maaf kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari satu perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa itu. (HR. Ibn Majah).

Dengan taubat, berarti kita menghilangkan penyakit hati berupa noda dosa dalam diri kita.

Ketiga, mulai membiasakan diri dengan kebaikan

Sesuatu yang dilakukan dengan mendadak, biasanya hasilnya tidak masksimal. Karena manusia jadi baik, tidak bisa dilakukan secara instan. Semuanya butuh proses.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفُّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

“Siapa yang melatih diri menjaga kehormatan maka Allah akan jaga kehormatannya, siapa yang melatih diri untuk bersabar, Allah jadikan dia penyabar. Dan siapa yang merasa cukup, Allah akan memberikan kecukupan.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan yang lainnya)

Umumnya, ketika kita memasuki ramadhan, ada 2 amalan besar yang akan dirutinkan masyarakat, berpuasa di siang hari, dan membaca al-Quran tadarusan. Dan keduanya butuh kesabaran.

Anda harus biasakan sejak sekarang. Mulai latihan bersabar dengan banyak membaca al-Quran.

Latihan sabar membaca al-Quran, akan memudahkan kita banyak membaca al-Quran ketika ramadhan. Setidaknya, dalam sehari kita bisa membaca satu juz.

Keempat, Tekad untuk untuk menjadikan ramadhan kesempatan untuk berubah

Kita harus punya target. Ramadhan tahun ini harus mengubah diri saya menjadi lebih baik.

Allah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk beribadah selama ramadhan.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Ketika datang ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. (HR. Muslim)

Pintu surga dibuka, artinya peluang besar bagi anda yang melakukan ketaatan, untuk diterima amalnya dan mengantarkannya ke dalam surga.

Pintu neraka ditutup, artinya kita berharap semoga kemaksiatan yang kita lakukan, segera diampuni dan tidak mengantarkan kita ke neraka.

Setan-setan dibelenggu, sehingga tidak mudah baginya untuk menggoda manusia. tidak sebagaimana ketika dia dalam kondisi lepas.

Artinya, itu kesempatan terbesar bagi kita untuk berubah. Target ramadhan tahun ini menjadi lebih berkualitas. Jika sebelumnya hanya membaca setengah juz, targetkan agar yang dibaca lebih banyak.

Kelima, Pahami fiqh ramadhan

Tidak ada ruginya orang yang belajar. Karena ilmu adalah pengarah bagi manusia. Dengan ilmu, orang memiliki panduan untuk bisa beramal dengan benar. karena itulah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memuji ilmu, diantaranya, ilmu akan menjaga kita. Ali radhiyallahu ‘anhu berpesan kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ .الْعِلْمُ يَحْرُسُك ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ

Ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu yang menjagamu dan harta kamu yang jaga. (Hilyah Auliya, 1/79)

Islam mengajarkan agar setiap muslim berbekal ilmu sebelum belajar. Memahami panduannya, sebelum beramal. Allah berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Pahamilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu. (QS. Muhammad: 19)

Kata imam Bukhari ketika beliau menjelaskan ayat ini,

باب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Penjelasan, bahwa ilmu harus didahulukan sebelum berbicara dan beramal.” (Shahih Bukhari, 1/130)

Beramal dengan ilmu, dalam arti berdasarkan dalil, akan membuat amal kita semakin meyakinkan.

Allahu a’lam.

Semoga Allah membimbing dan memudahkan kita untuk menjalankan ketaatan selama ramadhan…

Amiin..

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/27889-kultum-persiapan-menjelang-ramadhan.html

Muslim Harus Bergembira Menyambut Ramadhan


Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.
.
Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.
.
Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang.
.
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,
.
“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“[1]
.
Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.
.
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[2]
.
Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.
.
Syaikh Abdullah Al-Fauzan menjelaskan,
.
“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang shalih dengan datangnya Ramadhan.“[3]

.
Sumber:
https://muslim.or.id/29974-muslim-harus-bergembira-menyambut-ramadhan.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

Baca doa-doa berikut Ini agar mendapat pemimpin yang terbaik

# Berdoalah..! Mari kita doakan yang terbaik agar kita mendapat pemimpin yang terbaik pula

Pemimpin adalah komponen yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Jiak tidak ada pemimpin, maka kehidupan tidak akan teratur dan orang akan semaunya saja dalam bertindak. Dalam islam pemimpin dan perannya sangat diperhatikan. Bahkan doa terbaik sudah selayaknya ditujukan kepada pemimpin, tidak sedikit negeri yang makmur dan sejahtera karena diberikan anugrah pemimpin yang baik serta memiliki agama yang kuat

Seorang Ulama Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها إلا في الإمام قيل له: وكيف ذلك يا أبا علي؟ قال: متى ما صيرتها في نفسي لم تجزني ومتى صيرتها في الإمام فصلاح الإمام صلاح العباد والبلاد

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan doa tersebut kepada pemimpin.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa bisa demikian?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.”[1]

Doa pertama

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

(Allahumma inni a’udzubika min imratisshibyan was sufaha’)

“Yaa Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.”[2]

Doa kedua

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Allahumma laa tusallith ‘alainaa bidzunubinaa man laa yakhafuka fiinaa wa laa yarhamunaa)

“Yaa Allah -dikarenakan dosa-dosa kami- janganlah Engkau kuasakan (beri pemimpin) orang-orang yang tidak takut kepada-Mu atas kami dan tidak pula bersikap rahmah kepada kami.”

Doa ketiga

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Demikian semoga bermanfaat

@GYogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1] Hilyah Al-Auliya 8/91, Darul Kitab Al-Arabiy, Beirut, 1394 H, syamilah

[2]Shahih adabul mufrad (47/66)

Ia Tetap Bertahan Bersama-mu

Jangan sampai
Engkau kehilangan pasangan halal-mu
Yang telah tahu berbagai kekurangan-mu
Tapi ia memilih bertahan bersama-mu
SAMPAI KE SURGA ALLAH SELAMANYA
.
Ketika engkau terkaget 
Setelah menikah, tersingkaplah aib dan kekurangannya
Pasangan-mu pun juga bisa jadi terkaget
Karena engkaupun punya aib dan kekurangan
.
Tapi janganlah aib dan kekurangan terus yang teringat
Kebaikan pasanganmu sangat banyak
Coba ingat kembali janji dan tekad di awal pernikahan
Susah senang bersama
Baiknya dinikmati bersama dan saling berbagi
kurangnya saling mengisi dan saling menasehati
.
Mungkin kurangnya komunikasi
Tidak sempat ngobrol sejenak ba’da subuh
Tidak sempat saling berkisah dan bercurhat sebelum tidur
Waktu itu selalu ada
Sebelum mata terpejam dan sebelum tidur menyapa malam
Suami-istri bercengkrama hangat dan bercanda
Kepala istri bersandar nyaman di bahu suami
Lengan suami memeluk hangat bahu
Semua masalah dan penat
Terselesai-lah malam itu juga dengan izin Allah
.
Menikah adalah seni mengalah
Fokus menunaikan kewajiban masing-masing
Maka hak itu akan mengalir dengan sendirinya
.
Sudah saatnya intropeksi
Dahulu engkau memilihnya
Apakah utamanya karena Allah dan agama
Atau karena dunia saja (cantik, ganteng, kaya, jabatan)?
.
Engkau harus memilih ia karena Allah 
Jika tidak, segera ber-istigfar dan perbaiki niatmu sekarang
Masih ada waktu memperbaiki dan menjalani dengan indah
.
Karena …
.
ما كان لله أبقي
.
“Apa-apa yang karena Allah maka akan kekal”
.
Jangan hanya bercita-cita
Cinta berujung terbelah memisah
Ketika maut menjemput, 
Tetapi cinta karena Allah
Abadi berdua selamanya di surga
.
Bagi yang akan memilih, pilihlah ia karena Allah dan sesuai petunjuk syariat, yaitu agama dan akhlak yang utama
.
@ Di antara langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink Jogja-Jakarta

Penyusun: ustadz. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/ia-tetap-bertahan-bersama-mu.html