Alasan Medis Dan Syariat Mengapa Laki-Laki Harus Segera Menikah

Beberapa penelitian medis menunjukkan ternyata laki-laki juga memiliki “jam biologis” maksimal. Yaitu usia matang dan waktu terbaik untuk memiliki anak. Sehingga kesimpulan penelitian tersebut bahwa tidak baik secara medis laki-laki menunda untuk menikah dengan alasan:

-Tidak menikah kemudian bertumpuknya sperma juga merupakan faktor resiko dari kanker prostat

-Secara psikologis laki-laki yang tidak menikah lebih tidak tenang dan tidak dewasa serta kurang memiliki visi hidup ke depan sehingga perasaan kurang tenang serta pola hidup “single/jomblo” misalnya sering begadang larut malam, juga merupakan faktor yang bisa membuat kualitas kesehatan menjadi berkurang.

Alasan syariat

Mungkin alasan ini yang menjadi alasan utamanya agar laki-laki segera menikah. Karena penelitian secara medis bisa saja kurang tepat.

Alasan secara syariat adalah:

1.Anjuran syariat pemuda agar segera menikah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kemampuan hendaklah ia menikah. Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.”[1]

Bahkan beliau melarang (hukumnya) haram bagi laki-laki yang ingin atau berniat tidak menikah seumur hidup.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga pernah membantah sekelompok orang yang mengatakan: Orang pertama mengatakan, “aku akan shalat dan tidak tidur”. Yang kedua mengatakan, “Aku akan terus berpuasa dan tidak berbuka”. Orang ketiga mengatakan, “Aku akan meninggalkan perempuan dan tidak akan menikah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”.[2]

2.Fitnah wanita yang begitu Dahsyat di zaman ini

Terlalu banyak dalil bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi laki-laki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”[3]

Bahkan godaan wanita lebih dahsyat daripada godaan setan. Sebagian laki-laki mungkin bisa menahan godaan setan, akan tetapi bisa jadi ia lemah dengan godaan wanita.

Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً

“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” [An-Nisa’:76]

Tapi jangan pecaya diri dengan godaan wanita, karena Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim”[Yusuf:28]

3.Laki-laki bisa tidak tenang pikirannya akibat fitnah dahsyat wanita di zaman ini, walaupun agamanya sudah kuat atau stabil

Karena syariat menjelaskan bahwa fitnah wanita bisa membuat laki-laki yang sudah teguh beragama hilang akal sehatnya akibat wanita. Ini berdampak dari keefektifitas bahkan berdampak terhadap barakah umur dan kegiatannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[4]

Apalagi laki-laki lemah terhadap wanita

Allah Ta’ala berfirman,

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” [An Nisa: 2]

Lemah terhadap apa? Lemah terhadap wanita. Imam Al-Quthubirahimahullah berkata dalam tafsirnya ,

وَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ

“berkata Thowus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [5]

Diriwayatkah bahwa Imam Ahamd menganjurkan untuk menikah dan jika bisa berhutang untuk membayar mahar (yang saat itu kebiasaan mahar cukup tinggi). Untuk menjaga agama karena besarnya fitnah wanita di zaman Imam Ahmad.

Obat terbaik meredam fitnah ini adalah dengan menikah

Demikianlah wanita adalah pintu fitnah yang dimanfaatkan oleh setan dan obat terbaik meredam fitnah ini adalah dengan menikah.

Said bin Mussayyib rahimahullah,beliau berkata,

ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء

“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia) kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya)dengan wanita.”[6]

Semoga pemuda kaum muslmin dimudahkan jodoh dan proses menikah karena pemudi juga sudah banyak yang menunggu.

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Ustadz. dr. Raehanul Bahraen

[1] (HR. Bukhari dan Muslim

[2] HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad

[3] HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122

[4] HR. Bukhari no. 304

[5] Al-Jami’ liahkamil Quran 5/149, Darul Kutub Al-mishriyah,Kairo, cetakan kedua Asy-Syamilah

[6] Siyar A’lam An-Nubala’ 4/237, Mu’assasah Risalah, cet. III, 1405, syamilah

sumber: www.muslimafiyah.com

Sudah istighfar hari ini..?

Betapa merugi Iblis yg telah menggoda seseorang bertahun-tahun sehingga terjerumus dalam berbagai kemaksiatan, namun di akhir hayat orang tersebut bertaubat kepada Allah. Usaha Iblis selama ini akhirnya sia sia
.
Maka perbanyaklah taubat dan istighfar, jangan menunda-nunda untuk bertaubat, karena kita tidak tahu kapankah akhir hayat kita?. Iblis sangat ingin kita meninggal dalam kondisi belum sempat bertaubat…, diantara godaannya adalah agar kita menunda-nunda taubat sehingga kita dikagetkan dengan kematian yg datang tiba tiba
.
(Ustadz Dr. Firanda Andrija MA -hafizhahullah-)
.
📷 statusnasehat

Kisah Sepotong Roti

Dahulu..
.
Ada seorang lelaki yang beribadah selama 60 tahun lamanya.,lalu ia terfitnah oleh seorang wanita dan berzina dengannya selama enam hari, lalu ia sadar dan bertaubat kemudia ia pun pergi meninggalkan tempat ibadahnya lalu ia singgah di sebuah masjid dan tinggal di sana selama tiga hari tak ada makanan.
.
.
Suatu ketika, ada orang yang memberinya roti, ketika ia hendak memakannya.. ia melihat dua orang yang amat membutuhkan kemudian
ia pun memotong roti dan memberikannya kepada keduanya sementara ia tak makan.
.
.
Maka Allah memerintahkan malaikat untuk menimbang antara amalannya selama 60 tahun dan zinanya selama 6 hari. ternyata lebih berat zina selama 6 hari.
.
.
Lalu Allah memerintahkan menimbang zinanya 6 hari dengan dua potong roti
ternyata lebih berat dua potong roti.
.
.
Kisah ini di riwayatkan oleh Nadlr bin Syumail dari perkataan ibnu Mas’ud.
dan ibnu Abu Nuaim meriwayatkan juga kisah yang sama dari Abu Musa Al Asy’ari dengan sanad yang shahih.
.
.
Lihatlah..
.
ibadah 60 puluh tahun dikalahkan oleh zina 6 hari tidakkah menjadi takut hati kita untuk berbuat maksiat.
.
.
Lihat juga ternyata berinfak di saat kita butuh melebihi ibadah selama 60 tahun.
.
.
Namun..
itu tak mudah karena jiwa amat mencintai harta kecuali orang yang Allah berikan kekuatan padanya..
.
.
🌐 Sumber : SalamDakwahCom
.
.
 Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya 
.
.
Barakallah fikum

 Ditulis oleh :
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. حفظه الله تعالى

sumber: http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/kisah-sepotong-roti.html

copas dari: @polri_lovesunnah07

 

Terputusnya Amalan Selain Tiga Perkara

Ilmu agama yang bermanfaat, anak sholeh yang selalu mendoakan ortunya dan sedekah jariyah adalah di antara amalan yang bermanfaat bagi mayit walaupun ia sudah di alam kubur. Simak sajian singkat berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Faedah dari hadits di atas:

Pertama: Jika manusia itu mati, amalannya terputus. Dari sini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan sholeh sebelum ia meninggal dunia.

Kedua: Allah menjadikan hamba sebab sehingga setelah meninggal dunia sekali pun ia masih bisa mendapat pahala, inilah karunia Allah.

Ketiga: Amalan yang masih terus mengalir pahalanya walaupun setelah meninggal dunia, di antaranya:

a. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.

b. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.

c. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu ortunya masih mendapatkan pahala meskipun ortunya sudah meninggal dunia.

Keempat: Di antara kebaikan lainnya yang bermanfaat untuk mayit muslim setelah ia meninggal dunia yang diberikan orang yang masih hidup adalah do’a kebaikan yang tulus kepada si mayit tersebut. Do’a tersebut mencakup do’a rahmat, ampunan, meraih surga, selamat dari siksa neraka dan berbagai do’a kebaikan lainnya.

Kelima: Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “atau anak sholeh yang mendo’akannya”, tidaklah dipahami bahwa do’a yang manfaat hanya dari anak saja. Bahkan do’a kebaikan orang lain untuk si mayit tersebut tetap bermanfaat insya Allah. Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan melakukan shalat jenazah terhadap mayit lalu mendo’akan mayit tersebut walaupun mayit itu bukan ayahnya.

Keenam: Dalam hadits terdapat isyarat adanya keutamaan menikah, juga terdapat dorongan untuk menikah dan memperbanyak keturunan supaya mendapatkan keturunan sholeh (sehingga bermanfaat nantinya ketika kita telah meninggal dunia, pen).

Semoga sajian singkat ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

sumber : https://rumaysho.com/1663-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html

Merugi Sendiri: Bagi yang Suka Berdebat

Karena terlalu semangat berdakwah akan tetapi tanpa disertai ilmu. Maka ada sebagiankaum muslimin sering terjatuh dalam kebiasaan suka berdebat. Dan parahnya, ia baru hanya tahu hukumnya saja, tidak mengetahui dan menghapal dalil serta tidak tahu metode istidlal [mengambil dalil]. Jadi yang ada hanya berdebat saling “ngotot” tentang hukum sesuatu. apalagi mengeluarkan katakata yang kasar sampai mencaci-maki dan menyumpah-serapah.

Memang ada yang sudah hapal dalilnya dan mengetahui metode istidlal , akan tetapi ia tidak membaca situasi dakwah, siapa objek dakwah, waktu berdakwah ataupun posisi dia saat mendakwahkan.

Dan ada juga yang berdebat karena ingin menunjukkan bahwa ia ilmunya tinggi, banyak menghapal ayat dan hadist, mengetahui ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya.

Memang saat itu kita menang dalam berdebat karena manhaj ahlus sunnah ilmiyah. Akan tetapi tujuan berdakwah dan nasehat tidak sampai. Orang tersebut sudah dongkol atau sakit hati karena kita berdebat dengan cara yang kurang baik bahkan menggunakan kata-kata yang kasar. Hatinya tidak terima karena merasa sudah dipermalukan, akibatnya ia gengsi menerima dakwah. Padahal Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ،

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”.[HR. Muslim 55/95]

Yang dimaksud dengan nasehat adalah mengkhendaki kebaikan. Jadi bukan tujuannya menunjukan kehebatan berdalil dan menang dalam berdebat.

 

Mengenai suka berdebat para nabi dan orang shalih sudah memperingatkan kita tentang bahayanya. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepada anaknya:

 

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ ”

 

Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi, cetakan pertama, Darul Rusdi Riyadh, Asy-syamilah]

Mengenai berkata-kata kasar, maka ini tidak layak keluar dari lisan seseorang yang mengaku menisbatkan diri pada manhaj salaf. Renungkan firman Allah Ta’ala:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى ْ فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

 

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. [At-Thoha:43-44]

 

Kepada orang selevel Fir’aun saja harus berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kita akan mendakwahkan saudara kita seiman?. Maka gunakanlah kata-kata yang lembut dan bijaksana lagi penuh hikmah.

 

@masjid Ibnu Sina FK UGM, Yogyakarta tercinta

Penyusun: ustadz. dr. Raehanul Bahraen

Sumber: www.muslimafiyah.com

Ya Allah, Hisablah Aku dengan Hisab yang Mudah

Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih kemudaan saat dihisab di akhirat kelak.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ »

Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” [1]

Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu.

Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?” Ibnu Umar menjawab,

يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, “Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia berfirman lagi, “Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu.”[2]

Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan.

Moga Allah mudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab semacam ini di akhirat kelak saat hari perhitungan. Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’.

 

Referensi:

Syarh Do’a minal Kitab was Sunnah (Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc)

 

Riyadh-KSA, 8 Shofar 1432 H (12/01/2011)

http://www.rumaysho.com

ustadz. Muhammad Abduh Tuasikal


[1] HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan di mana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya.

[2] HR. Bukhari no. 6070.
sumber : https://rumaysho.com/1511-ya-allah-hisablah-aku-dengan-hisab-yang-mudah.html

Bersabarlah dengan Dunia

💎 °Bersabarlah dengan Dunia°.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖.
.
📍Saudaraku, masihkah kita ingat hadits berikut.
.
📚 Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
.
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392).
.
🔸 Jikalau kita terlalu fokus untuk dunia, maka ini akan merugikan kita. Membuat hati kita hasad kepada orang lain, atau bahkan terlalu sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat. Kemudian kita lalai dengan kehidupan sesungguhnya yaitu akhirat.
.
📚 Sebagaimana hadits berikut.
Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
.
“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
.
. ▪Lantas bagaimana agar kita tidak berlebih-lebihan memikirkan tentang perkara dunia❓. .
.
📚 Mari kita simak hadits berikut.
Rasulullah shalallahu alayhi wasallam bersabda.
.
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian” (HR. Muslim).
.
📌 Memang benar, jika kita melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kita tentang perkara dunia maka tidak ada habisnya, hanya membuat kita jauh dari sifat syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
.
📝 Hendaklah kita selalu berprasangka baik kepada Allah, dan tidak mengganggap dunia sebagai hal yang utama.
Serta bersabarlah wahai saudaraku dari penjara yang namanya “Dunia”.

Apa itu Islam?

Mohon jelaskan, apa itu islam? Kita muslim, namun banyak diantara kita yg mungkin tdk paham hakekat agamanya. Sebelumnya trima kasih..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Jika kita perhatikan dalam kamus, arti kata islam tidak keluar dari makna inqiyad (tunduk) dan istislam (pasrah). (al-Mu’jam al-Wasith, 1/446).

Diantara penggunaan makna bahasa ini, Allah sebutkan dalam al-Quran ketika menceritakan penyembelihan Ismail yang dilakukan Nabi Ibrahim,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ . وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ . قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا

Ketika keduanya telah pasrah dan dia meletakkan pelipisnya. Kami panggil dia, ‘Hai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi wahyu itu…(QS. as-Shaffat: 103)

Makna islam secara istilah tidak jauh dari makna bahasanya.

Imam Muhamad bin Sulaiman at-Tamimi mengatakan,

الإسلام هو الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة ، والبراءة من الشرك وأَهله

Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. (Tsalatsah al-Ushul, 1/189)

Mengapa harus berlepas diri dari syirik?

Jelas, karena tidak ada manfaatnya orang yang mengaku islam, namun dirinya masih berbuat kesyirikan atau kekufuran. Sementara keduanya adalah lawan bagi ajaran islam.

Nama dari al-Quran

Allah ta’ala sendiri memberi nama agama ini dengan islam. Allah berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang diterima Allah, hanyalah islam. (QS. Ali Imran: 19)

Dalil tentang nama ini juga disebutkan dalam ayat yang lain.

Allah juga memberi nama pengikut islam dengan kaum muslimin. Allah berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah)telah menamai kamu sekalian dengan kaum muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam al-Quran ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.. (QS. al-Hajj: 78)

Di Balik Nama Islam

Semua aliran dan semua agama punya nama. Dan jika kita perhatikan, hampir semua nama agama dan aliran itu kembali kepada sosok tertentu atau kelompok tertentu. Seperti nasrani, diambil dari nama bangsa Nashara, Yahudi diambil dari nama kabilah Yahudza, Budha diambil dari kata Budhis, dst.

Berbeda dengan islam. Nama ini tidak dikembalikan pada nama sosok atau tokoh tertentu atau suku tertentu. Karena nama ini menunjukkan isi ajarannya. Karena itulah, dalam sejarah agama, tidak dikenal istilah pencetus islam, atau pendiri islam. Disamping ajarannya lebih menyeluruh, bisa diikuti semua kelompok masyarakat.

(al-Islam: Ushul wa Mabadi, 2/105).

Islam Ada Dua

Dengan melihat definisi islam, yang intinya adalah pasrah dan tunduk pada semua aturan Allah, para ulama membagi islam menjadi dua,

Pertama, islam dalam arti umum

Yang dimaksud islam dalam arti umum adalah semua ajaran para nabi, yang intinya mentauhidkan Allah dan mengikuti aturan syariat yang berlaku ketika itu.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

الإسلام بالمعنى العام: هو التعبد لله بما شرع منذ أن أرسل الله الرسل إلى أن تقوم الساعة

Islam dalam arti umum adalah menyembah Allah sesuai dengan syariat yang Dia turunkan, sejak Allah mengutus para rasul, hingga kiamat. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Berdasarkan pengertian ini, berarti agama seluruh Nabi dan Rasul beserta pengikutnya adalah islam. Meskipun rincian aturan syariat antara satu dengan lainnya berbeda.

Diantara dalil mengenai islam dalam makna umum, dalam al-Quran, Allah menyebut Ibrahim dan anak keturunannya, orang-orang islam.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. al-Baqarah: 132).

Allah juga mengingkari klaim sebagian orang bahwa Ibrahim penganut yahudi dan nasrani,

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ

Kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” (QS. al-Baqarah: 140).

Kedua, islam dalam arti khusus

Islam dalam arti khusus adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syariat beliau menghapus syariat sebelumnya yang bertentangan dengannya .

Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan,

والإسلام بالمعنى الخاص بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم يختص بما بعث به محمد صلى الله عليه وسلم لأن ما بعث به النبي صلى الله عليه وسلم نسخ جميع الأديان السابقة فصار من أتبعه مسلماً ومن خالفه ليس بمسلم

Islam dengan makna khusus adalah islam setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khusus dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus semua agama sebelumnya. Sehingga pengikutnya adalah orang islam, sementara yang menyimpang dari ajaran beliau, bukan orang islam. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Pengikut para nabi terdahulu, mereka muslim ketika syariat nabi mereka masih berlaku. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, syariat mereka tidak berlaku, sehingga mereka bisa disebut muslim jika mengikuti syariat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai permisalan, ketika ada orang nasrani yang mengikuti ajaran Isa lahir batin. Dia komitmen dengan ajaran paling otentik yang disampaikan Isa, kecuali satu masalah, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, dia tidak mau mengikuti beliau, maka orang ini bukan muslim.

Andai orang ini hidup di zaman Isa, dia bisa jadi seorang muslim.

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

20 Cara Mengagungkan Ilmu

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Ilmu adalah harta yang paling berharga, ia adalah warisan para Nabi. Dengan ilmu tercapai kebahagian dunia dan akhirat. Bagian seorang hamba dalam ilmu selaras dengan pengagungan dan penghormataannya terhadap ilmu. Barangsiapa hatinya dipenuhi dengan pengagungan terhadap ilmu maka akan semakin mudah mendapatkan ilmu. Sebaliknya, semakin kurang pengagungannya terhadap ilmu maka akan sulit mendapatkan ilmu. Benarlah perkataan hikmah berikut,

من لا يكرمُ العلمَ لا يكرمه العلمُ

Barangsiapa tidak memuliakan ilmu maka ilmu tidak akan menjadikannya mulia…”

Berikut ini beberapa hal utama untuk meningkatkan pengagungan ilmu dalam diri kita:

  1. 1.       Membersihkan bejana ilmu – yaitu hati-

Hati yang bersih dan suci akan lebih mudah untuk didiami ilmu. Kesucian hati kembali pada dua hal penting yaitu:

–          bersih dari syubuhat (kerancuan pemikiran) dan,

–          bersih dari syahwat (nafsu).

 

  1. 2.       Mengikhlaskan niat

Niat yang benar dalam menuntut ilmu kembali pada 4 hal utama:

–          Raf’ul jahli an nafsihi (menghilangkan kebodohan dari diri sendiri)

–          Raf’ul jahli anil khalq (menghilangkan kebodohan dari orang lain)

–          Ihya’ul Ilmi (menghidupkan ilmu dan menjaganya)

–          Al ‘amalu bil ilmi (mengamalkan ilmu)

Seseorang akan mendapatkan ilmu sesuai dengan keikhlasan yang dia miliki. Menjaga lurusnya niat dalam menuntul ilmu memang bukan hal yang mudah. Sufyan Atsauriy berkata, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih sulit dari niatku, karena sungguh ia berbolak-balik.

 

  1. 3.       Mengumpulkan himmah (kemauan yang kuat)

Ilmu tidak akan didapatkan dengan bersantai-santai. Harus ada perjuangan dan pengorbanan untuk mencapainya. Setidaknya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan:

–          Bersemangat dalam hal-hal yang bermanfaat

–          Memohon pertolongan dari Allah

–          Tidak merasa lemah dan putus asa dalam menuntut ilmu.

Tiga hal diatas tercakup dalam sabda Rasulullah, “Bersemangatlah dengan apa-apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan Allah dan jangan merasa lemah” [HR Muslim]

 

  1. 4.       Menaruh perhatian besar pada Al Qur’an dan Sunnah

Seluruh ilmu yang bermanfaat kembalinya kepada Al Qur’an dan Sunnah. Keduanya adalah sumber ilmu yang sebenarnya, sedang ilmu yang lainnya adalah pelengkap atau wasilah saja. Jangan sampai kita sibuk dengan ilmu yang lainnya tetapi lalai dari mengkaji Al Qur’an dan Sunnah.

 

  1. 5.       Menempuh jalan untuk sampai pada ilmu

Segala sesuatu memiliki jalan untuk meraihnya, tak terkecuali juga ilmu. Hendaknya memulai dengan menguasai dan menghafal mutun (kitab-kitab dasar) dan belajar langsung dari seorang yang berilmu (‘alim rabbaniy). Jika belajar tanpa bimbingan seorang alim hanya akan menyia-nyiakan waktu dan bahkan bisa menjerumuskan pada pemahaman yang salah.

 

  1. 6.       Memulai dari yang terpenting lalu yang penting

Hendaknya seorang penuntul ilmu memulai dari yang paling penting seperti hal-hal yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari. Setelah itu hendaknya memulai dengan menguasai hal-hal yang dasar dari setiap cabang ilmu. Setelah memiliki bekal yang cukup dari setiap cabang ilmu lalu mulai mendalami bidang yang diminati atau dibutuhkan. Tidak selayaknya pemula penuntut ilmu sibuk dengan permasalahan-permasalahan pelik apalagi yang aneh. Imam Malik mengatakan “Jeleknya ilmu adalah hal yang aneh/tidak jelas, sedang baiknya ilmu adalah yang jelas yang telah diriwayatkan/disebarkan oleh manusia

 

  1. 7.       Mengoptimalkan masa kecil dan masa muda untuk belajar

Masa muda adalah masa keemasan untuk menuntut ilmu karena badan dan pikiran masih kuat dan belum disibukkan dengan banyak hal. Selain itu, menuntut ilmu diwaktu muda/kecil juga akan lebih membekas. Hasan Al Basri pernah mengatakan, “Ilmu di masa kecil seperti memahat dalam batu”.

 

  1. 8.       Perlahan dalam menuntut ilmu dan tidak tergesa-gesa

Tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu butuh proses. Perlu kesabaran untuk menempuh tahapan-tahapan dalam belajar. Mulai dari hal yang dasar lalu meningkat ke hal yang sulit. Jangan tergesa-gesa menelaah hal-hal yang sulit. Berkata syaikh Abdul Karim Rifa’I “Makanan orang dewasa adalah racun bagi anak kecil”. Benar perkataan beliau, jika ada bayi lalu diberi makanan orang besar seperti daging dan lainnya bisa saja langsung meninggal bayi tersebut meskipun makanan tersebut bergizi dan lezat. Begitu juga dengan ilmu.

 

  1. 9.       Sabar

Ilmu butuh kesabaran baik dalam mencarinya, mengamalkan dan mendakwahkan ilmu tersebut. Berkata Al Ashma’iyu, “Barangsiapa tidak pernah merasakan hinanya belajar barang sesaat maka ia akan berada dalam hinanya kebodohan selama-lamanya.”

 

  1. 10.   Menjaga adab

Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga adab dalam menuntut ilmu. Imam Malik pernah mengatakan pada seorang pemuda Quraisy, “Wahai saudaraku, belajarlah adab sebelum engkau belajar ilmu.

 

  1. 11.   Menjaga muru’ah (kehormatan)

Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga muruah. Jangan sampai seorang yang berilmu memiliki perilaku yang rendah.

 

  1. 12.   Mencari teman yang shalih dalam menuntut ilmu

Pengaruh seorang sahabat sangat penting bagi seseorang. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, hendaknya salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa berteman dekat” [HR Abu Dawud dan Tirmidziy]

 

  1. 13.   Menghafal, murajaah dan bertanya pada alim

Tiga aktifitas utama yang hendaknya dilakukan seorang penuntut ilmu:

–          Menghafal saat sendirian

–          Muraja’ah dan berdiskusi dengan teman

–          Bertanya pada guru atau seorang alim

 

  1. 14.   Menghormati orang yang berilmu

Salah bentuk menghormati ilmu adalah dengan menghormati ahlinya.  Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi orang yang kecil dan tidak mengetahui kedudukan/haq orang yang berilmu

 

  1. 15.   Mengembalikan permasalahan pada ahlinya

Salah satu jalan keselamatan adalah mengembalikan segala urusan pada ahlinya. Sebaliknya, salah satu sebab terjadinya fitnah adalah jika urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya.

 

  1. 16.   Menghormati majelis Ilmu

Majelis ilmu adalah majelis yang mulia karena didalamnya dibacakan kalamullah dan sabda rasul. Tidak berlebihan jika dikatakan “Majelis ulama adalah majelis para Anbiya’.” Karena mulianya majelis ilmu maka para salaf dahulu sangat menghormati majelis ilmu, mereka selalu menjaga ketenangan dalam majelis ilmu.

 

  1. 17.   Melakukan pembelaan terhadap ilmu

Salah satu usaha untuk menjaga agama adalah dengan melakukan pembelaan terhadap ilmu. Jika orang-orang yang menyimpang tidak dibantah maka akan membahayakan kaum muslimin.

 

  1. 18.   Menjaga etika bertanya

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam bertanya:

–          Memikirkan kenapa bertanya. Sesungguhnya jeleknya maksud akan menghilangkan keberhakan ilmu.

–          Bertanya pada hal-hal yang bermanfaat. Suatu saat Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang Ya’juj dan Ma’juj, apakah mereka muslim. Maka Imam Ahmad menjawab, “Apakah kamu telah menguasai ilmu (semuanya) hingga bertanya tentang hal ini??

–          Melihat kondisi syaikh yang mau ditanyai, jangan sampai bertanya saat ia sibuk dengan hal yang lain.

–          Mengemas pertanyaan dengan baik dan sopan.

 

  1. 19.   Memenuhi hati dengan kecintaan pada ilmu

Seorang yang menuntut ilmu dengan benar maka seharusnya hatinya dipenuhi kecintaan padanya. Hatinya tidak disibukkan dengan yang lainnya sehingga melalaikan dari ilmu.

 

  1. 20.   Menjaga waktu

Waktu adalah harta yang sangat berharga bagi seorang penuntut ilmu. Para salafus shalih dan ulama’ yang mengikuti mereka benar-benar menjaga waktu mereka. Bahkan sebagian mereka minta untuk dibacakan ilmu saat dia sedang makan atau bahkan saat buah hajat. Muhammad bin Abdulbaqiy Al Bazar rahimahullah mengatakan “Saya tidak menyia-nyiakan sesaat pun dalam usia saya untuk hal yang sia-sia maupun permainan.” Tidak mengherankan jika para ulama dahulu dapat melakukan hal luar biasa lainnya. Diantara mereka ada yang sampai dapat menulis 1000 jilid!! Ada juga yang sampai memiliki 7000 syaikh.

Sekian, semoga bemanfaat.

Disarikan dari kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syaikh Shalih bin Hamd Al Ushoimiy hafidzahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 26 Rabi’ul Awwal 1435H.

Direpost dari artikel : www.assunnahriyadh.com

Yang Tidak Engkau Sukai Bisa Jadi Lebih Baik

Terkadang seseorang tertimpa takdir yang menyakitkan yang tidak disukai oleh dirinya, kemudian dia tidak bersabar, merasa sedih dan mengira bahwa takdir tersebut adalah sebuah pukulan yang akan memusnahkan setiap harapan hidup dan cita-citanya. Akan tetapi, sering kali kita melihat dibalik keterputus-asaannya ternyata Allah memberikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak pernah ia sangka-sangka.

Sebaliknya, berapa banyak pula kita melihat seseorang yang berusaha dalam sesuatu yang kelihatannya baik, berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, tetapi yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dia inginkan.

Saudariku… Seandainya kita mau merenung dan sedikit berfikir, sungguh di setiap apa yang telah Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu, baik ketika itu kita telah mengetahui hikmah tersebut ataupun tidak. Demikian juga ketika Allah Ta’ala menimpakan musibah kepada kita, maka kita wajib berprasangka baik kepada-Nya. Sudah sepantasnya kita meyakini bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, baik untuk dunia kita maupun akhirat kita. Minimal dengan musibah tersebut, sebagian dosa kita diampuni oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, maka lihatlah takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat, dan bahwasanya Allah Ta’ala bisa jadi memberikan kita nikmat ini karena memang Dia sayang kepada kita.

Karena Allah Ta’ala pun telah berfirman,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Saudariku… Sungguh jika kita mau membuka kisah-kisah dalam Al Qur’an dan lembaran-lembaran sejarah, atau kita memperhatikan realitas, kita akan mendapatkan darinya banyak pelajaran dan bukti bahwa selalu ada hikmah di balik setiap apa yang Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya.

Maka lihatlah kisah Ibu Nabi Musa ‘alaihissalam ketika ia harus melemparkan anaknya ke sungai… bukankah kita mendapatkan bahwa tidak ada yang lebih dibenci oleh Ibu Musa daripada jatuhnya anaknya di tangan keluarga Fir’aun? namun meskipun demikian tampaklah akibatnya yang terpuji dan pengaruhnya yang baik di hari-hari berikutnya, dan inilah yang diungkapkan oleh ayat

واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Lihat pula kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika beliau harus berpisah dengan ayah beliau Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, ketika beliau harus dimasukkan ke dalam sumur dan diambil oleh kafilah dagang… Bukankah kita akan melihat hikmah yang begitu besar dibalik semua itu?

Lihat pula kisah Ummu Salamah, ketika suami beliau-Abu Salamah- meninggal dunia, Ummu Salamah radhiallaahu ‘anhaa berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintah oleh Allah,

إنّا للهِ وَ إنَّا إِليْهِ رَاجِعُوْنَ, اللهُمَّ أَجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَ أخلفْ لي خَيْرًا مِنْهَا

(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan berilah gantinya untukku dengan yang lebih baik darinya).” Ia berkata, “Maka ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, ‘Seorang Muslim manakah yang lebih baik dari Abu Salamah? Rumah (keluarga) pertama yang berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Kemudian aku pun mengucapkannya, maka Allah memberikan gantinya untukku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Renungkanlah bagaimana perasaan yang menghinggapi diri Ummu Salamah –yakni perasaan yang muncul pada sebagian wanita yang diuji dengan kehilangan orang yang paling dekat hubungannya dengan mereka dalam kehidupan ini dan keadaan mereka: Siapakah yang lebih baik dari Abu Fulan?!- maka ketika Ummu Salamah melakukan apa yang diperintahkan oleh syariat berupa sabar, istirja’, dan ucapan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah pun menggantinya dengan yang lebih baik yang belum pernah ia impikan sebelumnya.

Demikianlah seorang wanita yang beriman, tidak seharusnya ia membatasi kebahagiaannya pada satu pintu saja di antara pintu-pintu kehidupannya. Karena kesedihan yang menimpa seseorang adalah sesuatu yang tidak ada seorang pun yang bisa selamat darinya, tidak pula para Nabi dan Rasul! Yang tidak layak adalah membatasi kehidupan dan kebahagiaan pada satu keadaan ataupun mengaitkannya dengan orang-orang tertentu seperti pada laki-laki atau wanita tertentu.

Begitu pula dalam kehidupan nyata, kita pun sering melihat ataupun mendengar kisah-kisah yang penuh dengan hikmah dan pelajaran.

Oleh karena itulah, hendaknya kita selalu bertawakkal kepada Allah, mengerahkan segenap kemampuan untuk menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, dan jika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai, jendaklah kita selalu mengingat firman Allah Ta’ala,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Hendaklah ia mengingat bahwasanya di antara kelembutan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah: “Bahwasanya Dia menakdirkan bagi mereka berbagai macam musibah, ujian, dan cobaan dengan perintah dan larangan yang berat adalah karena kasih sayang dan kelembutanNya kepada mereka, dan sebagai tangga untuk menuju kesempurnaan dan kesenangan mereka” (Tafsir Asma’ al Husna, karya As-Sa’di).

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi nasihat untuk diri saya pribadi dan bagi orang-orang yang membacanya, karena barangkali kita sering lupa bahwa apapun yang telah Allah Ta’ala takdirkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hambaNya.

***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:

  • Qawaa’id Qur’aaniyyah, Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Markaz at-Tadabbur Li al-Isytisyarat at-Tarbawiyyah wa at-Ta’limiyyah. Dan terjemah, “50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an” terbitan Pustaka Daarul Haq.
  • Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim.

sumber: https://muslimah.or.id/3599-yang-tidak-engkau-sukai-bisa-jadi-lebih-baik.html