Islam Adalah Agama Yang Mudah

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Allah Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’: 107]

Allah menurunkan Al-Qur-an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]

Sebagai contoh tentang kemudahan Islam:

1. Menuntut ilmu syar’i, belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf adalah mudah. Kita dapat belajar setiap hari atau sepekan dua kali, di sela-sela waktu kita yang sangat luang.

2. Mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya adalah mudah.

3. Melaksanakan Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mudah, seperti memanjangkan jenggot, memakai pakaian di atas mata kaki, dan lainnya.

4. Shalat hanya diwajibkan 5 waktu dalam 24 jam. Orang yang khusyu’ dalam shalat, paling lama 10 menit, dalam hitungan hari ia melaksanakan shalatnya dalam sehari hanya 50 menit dalam waktu 24 x 60 menit.

5. Orang sakit wajib shalat, boleh sambil duduk atau berbaring jika tidak mampu berdiri.

6. Jika tidak ada air (untuk bersuci), maka dibolehkan tayammum.

7. Jika terkena najis, hanya dicuci bagian yang terkena najis, (agama lain harus menggunting pakaian tersebut dan dibuang).

8. Musafir disunnahkan mengqashar (meringkas) shalat dan boleh menjama’ (menggabung) dua shalat apabila dibutuhkan, seperti shalat Zhuhur dengan ‘Ashar, dan Maghrib dengan ‘Isya’.

9. Seluruh permukaan bumi ini dijadikan untuk tempat shalat dan boleh dipakai untuk bersuci (tayammum).

10. Puasa hanya wajib selama satu bulan, yaitu pada bulan Ramadlan setahun sekali.

11. Orang sakit dan musafir boleh tidak berpuasa asal ia mengganti puasa pada hari yang lain, demikian juga orang yang nifas dan haidh.

12. Orang yang sudah tua renta, perempuan hamil dan menyusui apabila tidak mampu boleh tidak berpuasa, dengan menggantinya dalam bentuk fidyah. [2]

13. Zakat hanya wajib dikeluarkan sekali setahun, bila sudah sampai nishab dan haul.

14. Haji hanya wajib sekali seumur hidup. Barangsiapa yang ingin menambah, maka itu hanyalah sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh al-Aqra’ bin Habis tentang berapa kali haji harus ditunaikan, apakah harus setiap tahun ataukah hanya cukup sekali seumur hidup? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

بَلْ مَرَّةً وَاحِدَةً فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ.

“Haji itu (wajibnya) satu kali, barangsiapa yang ingin menambah, maka itu sunnah.” [3]

15. Memakai jilbab mudah dan tidak berat bagi muslimah sesuai dengan syari’at Islam. Untuk masalah jilbab silahkan lihat kitab Jilbab Mar’ah Muslimah oleh Syaikh Imam Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullah.

16. Qishash (balas bunuh) hanya untuk orang yang membunuh orang lain dengan sengaja.[4]

Allah Azza wa Jalla menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan atas hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [Al-Baqarah: 185]

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu da-lam agama …” [Al-Hajj: 78]

Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah Azza wa Jalla menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum: 30]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَامِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [5]

Tidak mungkin, Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia, kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan beban kepada hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan, Mahasuci Allah dari sifat yang demikian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [Al-Baqarah: 286]

Tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” [6]

Orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit, hal tersebut hanya muncul karena:

1. Kebodohan tentang Islam, umat Islam tidak belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pema-haman Shahabat, tidak mau menuntut ilmu syar’i.

2. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu, hanya akan menganggap mudah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.

3. Banyak berbuat dosa dan maksiyat, sebab dosa dan maksiyat menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.

4. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti banyaknya pendapat orang. Jika ia mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah, niscaya ia akan mendapat hidayah dan Allah Azza wa Jalla akan memudahkan ia dalam menjalankan agamanya.

Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan beban dan belenggu-belenggu yang ada pada manusia, sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur-an:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“ (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam kitab Taurat dan Injil yang ada di pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membebaskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur-an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-A’raaf: 157]

Dalam syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi beban-beban berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Di antara beban berat itu ialah:

• Saling membunuh penyembah sapi. [7]
• Mewajibkan qishas pada pembunuhan baik yang disengaja ataupun tidak, tanpa memperbolehkan membayar diyat.
• Memotong anggota badan yang melakukan kesalahan.
• Melarang makan dan tidur bersama istrinya yang sedang haidh.
• Membuang atau menggunting kain yang terkena najis.

Kemudian Islam datang menjelaskan dengan mudah, seperti pakaian yang terkena najis wajib dicuci namun tidak digunting.[8]

Syari’at Islam adalah mudah. Kemudahan syari’at Islam berlaku dalam semua hal, baik dalam ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), baik tentang ‘aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, jual beli, pinjam meminjam, pernikahan, hukuman dan lainnya.

Semua perintah dalam Islam mengandung banyak manfaat. Sebaliknya, semua larangan dalam Islam mengandung banyak kemudharatan di dalamnya. Maka, kewajiban atas kita untuk sungguh-sungguh memegang teguh syari’at Islam dan mengamalkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا.

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” [9]

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]
_______
Footnote
[1]. Pembahasan ini diambil dari Kamaluddin al-Islami oleh Syaikh ‘Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim (hal. 42) dan Shuwarun min Samaahatil Islaam oleh DR. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali ar-Rabii’ah, cet. Darul Mathbu’aat al-Haditsah, Jeddah th. 1406 H, dan kitab-kitab lainnya.
[2]. Lihat Irwaa-ul Ghalil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabiil (IV/17-25) juga Shifat Shaumin Nabiy (hal. 80-85) oleh Syaikh Salim al-Hilaly dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, cet. Maktabah al-Islamiyyah, th. 1412 H.
[3]. HR. Abu Dawud (no. 1721), al-Hakim (II/293), an-Nasa-i (V/111), dan Ibnu Majah (no. 2886), lafazh ini milik Abu Dawud.
[4]. Lihat QS. Al-Baqarah 178-179.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 1358) dan Muslim (no. 2658), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[7]. Lihat surat al-Baqarah ayat 54.
[8]. Lihat Shuwarun min Samaahatil Islaam oleh Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdur Rahman bin ‘Ali ar-Rabii’ah.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 69, 6125), Muslim (no. 1734) dan Ahmad (III/131) dari Shahabat Anas z. Lafazh ini milik al-Bukhari.

repost dari: https://almanhaj.or.id/2219-islam-adalah-agama-yang-mudah.html

Di Antara Rahasia Keberhasilan Dakwah

Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa pada dasarnya jiwa manusia itu menyukai hal-hal yang buruk, yaitu hal-hal yang menyelisihi perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” (QS. Yusuf: 53). Jika demikian keadaannya, tentunya kebenaran adalah sesuatu yang teramat berat bagi jiwa manusia.

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi-Nya dengan membawa agama yang penuh dengan kemudahan. Dan ini merupakan bentuk kasih saying Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107). Keberhasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam menyampaikan kebenaran kepada manusia pastilah mempunyai rahasia yang agung dan patut kita pelajari.

Dakwah Butuh Kelembutan

Kebenaran yang pada asalnya susah untuk diterima oleh jiwa, ketika disampaikan dengan cara yang buruk, cara yang kasar, tentunya justru akan membuat orang semakin lari dari kebenaran. Oleh karena itulah, dakwah pada dasarnya harus disampaikan dengan cara lemah lembut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Faidah Berlemah Lembut di Dalam Dakwah

Para pembaca yang budiman, lemah lembut di dalam berdakwah mempunyai banyak sekali faidah. Salah satu di antaranya adalah dapat menyadarkan orang-orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Al-Fushshilat: 34)

Contoh Sikap Lemah Lembut Rasulullah di Dalam Berdakwah

Para pembaca yang budiman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok teladan bagi kita dalam hal akhlaq dan perilaku. Alangkah indahnya kisah beliau ketika menasihati seseorang yang hendak berbuat kemaksiatan. Kisah ini dituturkan oleh sahabat beliau, Abu Umamah. Beliau bercerita, “Sesungguhnya ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berbuat zina’. Lalu ada sekelompok orang yang mendatangi dan menegurnya, ‘Diam… Diam…!!’ Lalu beliau bersabda (kepada para sahabat beliau), ‘Dekatkan ia kepadaku.’ Lalu ia pun mendekati beliau. Setelah ia duduk, beliau bertanya, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai ibunya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai putrimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai putrinya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai saudarimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai saudarinya…’ Lalu beliau meletakkan tangannya kepada pemuda tadi sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya’. Setelah peristiwa itu, pemuda tadi tidak berfikir untuk berbuat zina lagi’. (HR. Ahmad, Shohih)

Catatan Penting

Para pembaca yang budiman, yang patut kita perhatikan adalah hendaklah bagi orang yang berdakwah meluruskan niat untuk ikhlas karena Allah Ta’ala semata. Yaitu dengan mengharap pahala dari Allah dan bermaksud untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain, serta agar mereka taat kepada Allah Ta’ala. Tidaklah dakwah kita itu bertujuan agar orang lain masuk ke organisasi kita dan tidak ke organisasi yang lain, masuk ke partai tertentu dan tidak ke partai yan lain ataupun tujuan duniawi lainnya. Apabila kita sudah berusaha di dalam berdakwah, ikhlas kepada Allah semata namun orang yang kita dakwahi belum atau tidak menerima dakwah kita, janganlah terburu-buru untuk memvonis bahwa orang yang kita dakwahi tersebut telah menolak kebenaran. Namun hendaknya kita selalu instrospeksi diri. Mungkin cara kita salah atau mungkin kita tidak sanggup untuk menjelaskannya dengan gamblang atau mungkin faktor-faktor yang lain. Akhirnya, semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua dan kita juga berdoa kepada Allah agar berkenan untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin serta membukakan hati-hati mereka untuk memerima kebenaran. Amin.

***

Penulis: Ibnu Ali Sutopo Yuwono

sumber: https://muslim.or.id/165-di-antara-rahasia-keberhasilan-dakwah.html

Mengapa Ghibah Disamakan Dengan Memakan Bangkai Manusia..?

Mengapa Ghibah Disamakan Dengan Memakan Bangkai Manusia..?

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang..” [QS. Al-Hujurat: 12]

Dalam ayat di atas, Allah ta’ala menyamakan orang yang mengghibah saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya tersebut. Apa rahasia dari penyamaan ini..?

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “Ini adalah permisalan yang amat mengagumkan, di antara rahasianya adalah:

Pertama, karena ghibah mengoyak kehormatan orang lain, layaknya seorang yang memakan daging, daging tersebut akan terkoyak dari kulitnya. Mengoyak kehormatan atau harga diri, tentu lebih buruk keadaannya..

Kedua, Allah ta’ala menjadikan “bangkai daging saudaranya” sebagai permisalan, bukan daging hewan. Hal ini untuk menerangkan bahwa ghibah itu amatlah dibenci..

Ketiga, Allah ta’ala menyebut orang yang dighibahi tersebut sebagai mayit. Karena orang yang sudah mati, dia tidak kuasa untuk membela diri. Seperti itu juga orang yang sedang dighibahi, dia tidak berdaya untuk membela kehormatan dirinya..

Keempat, Allah menyebutkan ghibah dengan permisalan yang amat buruk, agar hamba-hambaNya menjauhi dan merasa jijik dengan perbuatan tercela tersebut..” [Lihat: Tafsir Al-Qurtubi 16/335, lihat juga: I’laamul Muwaqqi’iin 1/170]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan, “Ayat di atas menerangkan sebuah ancaman yang keras dari perbuatan ghibah. Dan bahwasanya ghibah termasuk dosa besar. Karena Allah menyamakannya dengan memakan daging mayit, dan hal tersebut termasuk dosa besar..” [Tafsir As-Sa’di, hal. 745]

Wallahu a’lam..

Faidah ini didapat dari buku: Al-fawaidul majmu’ah fi syarhi fushul al-adab wa makaarimil akhlaq al-masyruu’ah. Karya Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan..

***

Penulis: Ustadz Ahmad Anshori
Artikel Muslim.Or.Id

Kakek ini Menangis Ketika Melihat Biaya Operasi

Seorang kakek berusia 70 tahun mengidap sebuah penyakit. Dia tidak dapat kencing. Dokter mengabarkan kepadanya kalau dia membutuhkan operasi untuk menyebuhkan penyakitnya. Dia setuju untuk melakukan operasi karena penyakit itu telah menimbulkan sakit yang luar biasa selama berhari-hari.

Ketika operasi selesai, dokter memberika tagihan pembayaran seluruh biaya operasi. Kakek tua itu melihat pada kuitansi dan mulai menangis. Meihatnya menangis, dokter pun berkata kepadanya bila biayanya terlalu tinggi, mereka dapat membuat pengaturan lain. Orang tua itu berkata,

”Aku tidak menangis karena uang itu, tetapi aku menangis karena Allah menjadikanku buang air tanpa masalah selama 70 tahun dan Dia tidak pernah mengirimkan tagihan.”[1]

 

Memang kenikmatan dari Allah sangat banyak dan kita tidak akan mampu menghitungnya bahkan kebanyakan kita lupa akan nikmat Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34

Salah satu contohnya adalah nikmat bisa BAK dan BAB, ini merupakan nikmat yang luar biasa dan sangat jarang kita syukuri. Karenanya doa keluar WC atau kamar mandi adalah meminta ampun:

غُفْرَانَكَ

 “Ghufranaka (Aku meminta ampunanmu Ya Allah)”.

Hikmahnya adalah Kita meminta Ampun kepada Allah karena kita Sering meremehkan nikmat Allah kepada kita yaitu kenikmatan bisa lancar buang Air kecil. BAB atau BAK yang lancar juga merupakan kenikmatan, yaitu perasaan lega dan rasa ringan di tubuh.

Syaik Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

والحكمة في ذلك والله أعلم أن الله سبحانه قد أنعم عليه بما يسر له من الطعام والشراب، ثم أنعم عليه بخروج الأذى، والعبد محل التقصير في الشكر فشرع له عند زوال الأذى بعد حضور النعمة بالطعام والشراب أن يستغفر الله، وهو سبحانه يحب من عباده أن يشكروه على نعمته

“Hikmah dari doa ini –wallahu a’lam- Allah telah memberikan kenikmatan berupa mudahnya bagi hamba makan dan minum. Kemudian Allah memberikan kenikmatan mudahnya kotoran keluar. Seorang hamba sering meremehkan bersyukur, maka disyariatkan baginya agar beristigfar meminta ampun ketika hilangnya kotoran setelah mendapat nikmat berupa makanan dan minuman. Allah Subhaanahu mencintai hambanya yang mensyukuri nikmatnya.”[2]

 

Demikian semoga bermanfaat

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/menangis-ketika-melihat-biaya-operasi.html

Sudahkah Allah “Mempekerjakan” Anda?

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ . فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ  يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ .

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”, beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal”.[1]

salah satu amal shalih adalah berdakwah , mengurus dan memikirkan dakwah. Sudahkan kita bekerja untuk dakwah? Sudahkah kita menggunakan nikmat ini untuk berdakwah? Sudahkah kita memikirkan bagaimana saudara kita mendapatkan nikmatnya beribadah? Merasakan manisnya iman? Sudahkah kita memikirkan bagaimana nasib kaum muslimin? Yang tertindas, yang membutuhkan pertolongan? Yang membutuhkan ilmu agama?

Atau kita sekedar hidup “mengalir saja”? bagaimana kita hanya kerja, makan, minum tidur, mencari uang, kemudian menikmati harta dan wanita kemudian mati? Jika hanya itu saja, Bukankah orang kafir juga seperti itu?

Tidak saudaraku, kita harus ikut memikirkan dakwah  dan agama ini dan mengemban amanah ini. Dakwah adalah pekerjaan yang sangat mulia dan terlalu banyak keutamaannya jika disebutkan, mulai dari pahala dengan sitem MLM, mendapat harta terbaik berupa “unta merah”, dan merupakan tujuan utama para Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak (manusia) kepada Allah (berdakwah( dan beramal salih, seraya mengatakan: Sesungguhnya aku ini termasuk golongan orang-orang yang pasrah/muslim” (Fushshilat: 33)

Kita sudah tahu bahwa dakwah adalah tugas para Nabi dan Rasul,

Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya untuk menegaskan dakwah merupakan jalan Beliau, dengan firman-Nya:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan).Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf:108).

Dan kita tahu bahwa Nabi dan Rasul adalah mereka yang mendapat ujian paling berat.

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

 

Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”[2]

Kita sudah tahu bahwa mereka mendapat ujian berat dalam hal apa? Ya, ujian dan cobaan baik masalah dunia maupun cobaan dan ujian dalam berdakwah. Memang ujian dan musibah dunia juga akan mengangkat derajat dan menghapuskan dosa seseorang akan tetapi ujian dan cobaan yang paling bisa mengangkat derajat seseorang adalah ujian dan cobaan yang dihadapi ketika ia berdakwah, memperjuangkan dan memikirkan agama Allah.

Kita sudah tahu bahwa Rasulullah yang paling berat ujiannya dan paling besar kesabarannya melebihi seluruh nabi yang lain sehingga kedudukannya tertinggi, kita sudah tahu bahwa Nabi Yahya dibunuh, Nabi Zakaria disembelih, Umar ditikam, Ustman disembelih, Ali dibacok kepalanya, dan berbagai pengorbanan yang lainnya, ada yang dikuliti, ada yang direbus dalam minyak panas ada yang dibelah menjadi dua bagian. Semuanya karena membela agama Allah

Lalu kita? Jika sekedar stres dan pusing saja karena ujian dan musibah masalah urusan dunia, maka orang kafir juga mendapat ujian yang sama, mereka ada yang miskin, mereka ada yang anaknya nakal, mereka ada yang suaminya selingkuh!

Tidak saudaraku, kita harus memikirkan dakwah ini, memperjuangkan agama ini. Tolonglah agama Allah ini insyaAllah Allah akan menolong kita.

Allah Ta’ala berfirman,

يا أيها الذين آمنوا إن تنصر الله ينصركم

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” ( Muhammad: 7).

Tolonglah Agama Allah insyaAllah Allah akan menolongmu di hari hari yang sulit, hari-hari di mana orang akan lari dari istrinya, anaknya dan keluarganya (karena memikirkan diri sendiri).

Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤)وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥)وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦)لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (٣٧)

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (Qs. ‘Abasa 34-37)

 

Pedulilah terhadap  agama Allah, maka Allah akan peduli kepadamu pada hari di mana,

يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

hari tiada naungan selain naungan-Nya[3] dan Allah menunjukkan kemarahan dan kebesarannya,

Perhatikanlah agama Allah maka Allah akan memperhatikanmu pada hari di mana orang-orang berngan-angan kembali hidup lagi ke dunia,

Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila telah  datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun: 99-100)

Pikirkanlah agama Allah, maka Allah akan memikirkan kita di hari di mana orang akan berkata, seandainya mereka adalah tanah,

وَيَقُوْلُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Dan orang kafir itu berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah saja.” (An-Naba: 40).

 

Tidak mesti menjadi ustadz dan ustadzah saudaraku,

Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”[4] 
sampaikan ketika ada yang anda ketahui, gunakan segala kenikmatan dan kelebihan anda untuk berdakwah, tidak semua orang jalan jihadnya menjadi ustadz. Jika anda dokter, jadilah dokter yang peduli terhadap agama, jika anda insyinyur, jadilah yang berguna bagi agama, jika anda seorang pengusaha jadilah pengusaha yang peduli agama.

Pikirkan bagaiaman solusi di sana banyak pemurtadan,  putar otak bagaimana syiah mulai mengerogoti akidah umat, renungkan bagaimana cara agar masyarakat bertauhid dan memiliki akidah lurus. Pikirkan bagaimana anda jika menjadi panitia kajian? Putar otak bagaimana uang anda bermanfaat untuk meredam pemurtadan, renungkan bagaimana negeri ini bersih dari kesyirikan dan khurafat.

Jalan memperjuangkan agama ini sangat banyak, dengan uang, pikiran, tenaga dan doa.

Wahai saudaraku. Inilah jalan kita, jika bukan kita, maka siapa lagi? Orang yang shalat berjamaah di masjid sudah sedikit, orang yang mendapat hidayah sudah sedikit orang yang peduli agama sudah sudah sedikit, jika bukan anda yang sudah dapat hidayah dan terketuk hatinya oleh Allah, maka siapa lagi?

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (An-Nahl: 125)

Dari kami yang sangat membutuhkan naungan dan taufik Allah untuk selalu bisa menerapkan ilmu yang didapat.

 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

@Pogung Lor, Yogyakarta tercinta

penyusun:   Ustadz. dr. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/sudahkah-allah-mempekerjakan-anda.html

Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa Kafan

Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.

Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,

هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك

“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqmaan: 33)

Allah juga berfirman,

ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Allah juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid: 20)

Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja.

Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu

1. Makanan yang kita makan

Makanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja

2. Pakaian yang kita pakai

Termasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan

3. Sedekah

Ini adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di dunia

Selebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta:
-Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja
-Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan
-Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat saja

Inilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tiga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ

“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)

Riwayat yang lain,

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ

“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)

Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/42115-mengenggam-dunia-ketika-meninggal-hanya-membawa-kafan.html

Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan Hidup

Orang yang berpikiran maju dan produktif akan paham bahwa kecanduan bermain game itu akan memusnahkan waktu mereka. Semua orang sudah tahu bahwa bermain game adalah suatu hal yang tidak baik. Orang tua tidak suka apabila anaknya kecanduan main game. Para guru dan pendidik pun selalu memperingatkan generasi muda akan kecanduan game. Berikut beberapa efek negatif kecanduan game, misalnya:

1. Lama-kelamaan akan menyebabkan kecanduan sehingga akan melalaikan dari tugas dan kewajibannya

2. Melakukan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat

3. Menghabiskan waktu di depan permainan game

4.Menjadi tertutup dan terbatas komunikasi dengan dunia nyata karena terlalu fokus dengan game

5. Ada beberapa madharat game pada umumnya semisal memperlihatkan aurat, lagu dan musik serta ungkapan dan kalimat yang dilarang syariat atau hal-hal yang memperlihatkan sesuatu yang tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dan fasik

Kecanduan game itu benar-benar melakukan hal yang sia-sia

Kita dianjurkan agar mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, apabila tidak, maka kita pasti akan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan hal yang negatif.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah menyebutkan sebuah kaidah emas,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal. 156)

Termasuk kebaikan bagi seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik dunia maupun akhirat, sedangkan bermain game umumnya tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan dalam islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi )

Kecanduan game berarti tidak menghargai waktu yang sangat berharga

Allah Ta’ala bersumpah dalam Al-Quran dengan menggunakan waktu beberapa kali dan beberapa surat Al-Quran. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ini sangat penting dan kita harus menyadari betul hal ini, sedangkan manusia secara umum lalai akan hal ini. Perhatikan hadits berikut,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Pepatah Arab yang menggambarkan pentingnya waktu,

اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ

“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”

Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhuberkata,

ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ

“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Lihat Miftahul Afkar)

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashrirahimahullah berkat,

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ

“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka” (Al-‘Umru was Syaib no. 85)

Hendaknya kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tugas kita sangat banyak sedangkan waktu ini sangat sedikit, tidak layak bagi seorang muslim menghabiskan waktu yang sangat berharga dengan bermain game yang tidak bermanfaat.

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: ustadz. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/45161-kecanduan-game-itu-memusnahkan-waktu-dan-keberkahan-hidup.html

Pembuktian Cinta Sejati Bunga Edelweis Abadi?

# Pembuktian Cinta Sejati Bunga Edelweis Abadi?

[Sekedar Sharing]

Cinta keabadian bunga edelweis?

Di puncak gunung rinjani pulau Lombok ada namanya bunga edelweis yang unik, tidak penah layu..
Biasanya pemuda-pemuda yang mendaki, mengambilberusaha untuk diserahkan sebagai tanda cinta sejati yang tidak pernah layu

Tetapi cinta sejati adalah cinta karena Allah karena
.
ما كان لله أبقي
.
“Apa-apa yang karena Allah maka akan kekal”

Sudah saatnya intropeksi dahulu memilih pasangan apakah utamanya karena Allah dan agama atau karena dunia (cantik, ganteng,kaya, jabatan)? jika tidak segera kita perbaiki

Jangan hanya bercita-cita cinta berujung terbelah memisah ketika maut menjemput, tetapi cinta karena Allah bisa abadi berdua selamanya di surga

Bagi yang akan memilih, pilihlah ia karena Allh dan sesuai petunjuk syariat, yaitu Agama dan akhlak

Penyusun: Raehanul Bahraen

Manfaat Teman yang Baik

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?

 

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28)

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94)

Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”

Ahli hikmah juga menuturkan,

يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ

“Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.”

Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ

Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435)

Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.

‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”

Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)

 

Manfaat Berteman dengan Orang Shalih

 

1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan.

Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut.

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).

 

2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan.

Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan,

“Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”

Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)

Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut,

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).”

Disebutkan dalam lanjutan hadits,

فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402).

Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti,

الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته

“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).

 

3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ »

“Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)

Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat.

Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016

Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://rumaysho.com/13311-manfaat-teman-yang-baik.html

Adab seorang muslim

Akhlaq (budi pekerti) dan adab (tatakrama) adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam menaruh perhatian yang sangat tinggi akan dua hal ini. Tidak mengherankan jika para ulama dahulu menasehati para penuntut ilmu untuk belajar adab sebelum belajar yang lainnya. Seorang muslim hendaknya selalu menjaga adab dan menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia dalam berinteraksi dengan siapapun. Akhlaq yang mulia menjadi tolok ukur kebaikan seseorang. Rasulullah bersabda
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا
“Sesungguhnya diantara yang terbaik dari kalian adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR Bukhari no. 3559 dan Muslim no. 2321).
Secara umum kalau dilihat dari objeknya maka adab seorang muslim dapat dibagi menjadi:
– adab terhadap sang Khaliq,
– adab terhadap RasulNya,
– adab terhadap diri sendiri,
– adab terhadap makhluq yang lain (orang tua, anak, kerabat, tetangga, sesama muslim, non-muslim dan adab terhadap makhluq lainnya).
1. Adab kepada Al Khaliq
Adab yang paling utama untuk kita jaga adalah adab kepada Al Khaliq, yaitu Allah yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta. Sungguh aneh jika seseorang menjaga adab dengan sesama makhluq tetapi dia tidak peduli dengan adabnya terhadap Dzat yang telah menciptakan dirinya. Berikut ini diantara adab kepada Allah:
a) Mensyukuri nikmatNya.
Allah telah memberi kita berbagai kenikmatan maka sudah selayaknya kita mensyukurinya, ini adalah bagian dari adab. Allah berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ
“Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl: 53)
b) Menjalankan syariatNya
Allah yang telah menciptakan kita dan Dia yang Maha Mengetahui akan kebaikan bagi kita maka sudah semestinya kita mengikuti aturan atau syariatNya. Tidak boleh menolak sedikitpun syariat yang telah diturunkanNya karena itu termasuk su’ul adab (adab yang jelek) pada Allah ta’ala. Sama saja menolak karena ingkar, sombong, ataupun karena menyepelekan.
c) Malu berbuat maksiat
Allah Maha Mengetahui dan selalu mengawasi apa yang kita lakukan maka sudah selayaknya kita malu berbuat maksiat kepadaNya. Malu untuk melalaikan ketaatan kepadaNya. Allah berfirman,
وَاللّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ
“Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.” (QS. An Nahl: 19)
d) Bersandar pada Allah dan mengharap rahmatNya
Allah Maha Mampu atas segala sesuatu dan Dia Maha Penyayang atas seluruh makhluqNya. Sudah semestinya kita bersandar kepadaNya dan mengharap rahmatNya. Allah berfirman,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raf: 156)
e) Takut kepada adzabNya
Allah adalah Dzat yang Maha Perkasa dan berat siksaNya, sedang manusia adalah makhluq yang lemah. Maka sudah sepantasnya kita takut akan adzabNya dengan berusaha semaksimal mungkin menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِ اللّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat. dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 4)
f) Berhusnudzan pada Allah dan sabar terhadap takdirNya
Allah mentakdirkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan hikmahNya. Allah menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ujian bagi manusia. Hendaknya kita bersabar atas apa yang Allah takdirkan dan selalu husnudzan padaNya. Barangsiapa beriman dan beramal shaleh Allah pasti akan memberi balasan terbaik baik di dunia maupun di akhirat, dan kita harus yakin akan janji Allah tersebut.
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)
g) Beradab terhadap Al Qur’an
Termasuk bagian dari adab terhadap Allah adalah beradab terhadap firmanNya, yaitu Al Qur’an. Kita baca, tadaburi dan amalkan apa yang ada dalam Al Qur’an. Kita benarkan berita yang terkandung di dalamnya. Allah ta’ala adalah Dzat yang paling benar perkataanNya maka wajib bagi setiap muslim membenarkan dan yakin dengan segala yang diberitakan Allah baik dalam al Qur’an ataupun lewat rasulNya. Termasuk su’ul adab (adab yang jelek) jika mendustakan atau ragu dengan apa yang Allah kabarkan.
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ حَدِيثاً
“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?” (QS. an Nisa: 87)
2. Adab terhadap RasulNya
Nabi Muhammad diutus sebagai rasul yang terakhir dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah mengutus beliau untuk mengajarkan petunjuk bagi manusia agar bahagia dunia akhirat. Allah juga mewajibkan manusia untuk mencintai dan mentaati beliau. Maka sudah selayaknya kita beradab pada beliau shallallahu alaihi wasallam. Allah juga mengajarkan beberapa adab terhadap beliau sebagaimana dalam surat Al Hujurat ayat 1-4. Diantara bentuk adab terhadap beliau:
a) Mentaati perintahnya.
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)
b) Mencintainya
Rasulullah bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicitainya dari anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 15)
c) Loyal terhadapnya dan terhadap orang yang mengikuti ajarannya serta berlepas diri dari orang-orang yang memusuhinya atau memusuhi ajarannya.
d) Mengagungkan beliau sesuai pengangungan yang semestinya dan bersalawat saat namanya disebut.
e) Membenarkan berita yang beliau sampaikan.
f) Menghidupkan sunnahnya dalam seluruh sendi kehidupan.
3. Adab terhadap diri sendiri
Salah satu kunci utama mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan beradab terhadap diri sendiri, mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbaiki kekurangan yang ada. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9-10). Setiap muslim hendaknya selalu berusaha menjaga ketaqwaan dirinya dan melakukan yang terbaik baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Rasulullah bersabda,
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertaqwalah kepada Allah dimana pun kamu berada, ikutilah setiap perbuatan jelek dengan kebaikan (pasti akan) menghapusnya dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)
Berikut ini diantara tahapan memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan kita:
a) Taubat
Yaitu dengan menyesali dan meninggalkan seluruh dosa dan kesalahan yang telah lalu. Taubat adalah sebab keberuntungan yang paling utama karena dengannya seseorang menyadari kesalahan dan kekurangan dirinya dan kemudian melakukan perbaikan. Allah berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)
b) Muraqabah
Merasa selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga berhati-hati dalam berbuat dan beramal. Orang yang menghadirkan pada dirinya muraqabatullah (adanya pengawasan dari Allah) akan menjadi orang yang muhsin (yang selalu berusaha melakukan kebaikan) dan ini adalah derajat agama atau keislaman yang paling tinggi. Allah berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun muhsin (mengerjakan kebaikan), dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus.” (QS. An Nisa’: 125)
c) Muhasabah
Selalu mengevaluasi dengan apa yang telah dilakukan karena yang namanya manusia tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Apakah kita telah melakukan segala sesuatu dengan semestinya? Baik itu dalam urusan dunia terlebih lagi dalam urusan akhirat. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. AL Hasyr: 18)
d) Mujahadah
Selalu bersungguh-sungguh dan mengupayakan yang terbaik dalam segala hal. Termasuk bermujahadah dalam mengalahkan nafsu diri kita sendiri karena itu adalah musuh yang paling berbahaya. Orang yang selalu bersungguh-sungguh maka Allah akan bukakan jalan-jalan kebaikan baginya. Allah berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut: 69)
4. Adab sesama makhluq
Adab sesama makhluq meliputi adab terhadap orang tua, anak, pasangan suami/istri, saudara, kerabat, tetangga, sesama muslim dan juga adab terhadap non-muslim. Bahkan juga ada terhadap mahluq Allah yang lainnya seperti hewan-hewan.
– Adab kepada orang tua
Hak kedua orang tua atas diri kita sangat besar karena lewat mereka kita ada di dunia ini. Mereka yang merawat kita dengan penuh kepayahan sampai bisa mandiri. Allah pun mewajibkan setiap muslim untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah berfirman,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra’: 23)
Maka sudah selayaknya beradab dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua kita, diantaranya dengan hal-hal berikut:
a) Mentaati mereka selama bukan dalam hal maksiat.
b) Menghormati dan memuliakan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Jangan pernah berbuat atau berkata kasar kepada keduanya karena itu dosa besar.
c) Berbakti kepada keduanya dengan semaksimal mungkin seperti dengan melayani dan mencukupi kebutuhan mereka.
d) Mendoakan mereka, menjaga kerhormatan keduanya, serta menyambung silaturahmi dengan kerabat dan orang-orang terdekat mereka.
– Adab kepada anak
Anak juga memiliki hak dari orang tuanya seperti nafkah, kasih sayang dan pendidikan yang layak. Orang tua harus beradab yang baik kepada anak-anak mereka karena itu bagian dari kasih sayang dan keteladanan. Mulai sejak lahir dipilihkan nama yang terbaik, diaqiqahi kemudian dididik sampai dewasa dan bisa mandiri. Bahkan jauh sebelum, hendaknya memilih pasangan hidup (calon suami/istri) yang baik agar kelak bisa maksimal dalam mendidik anak. Orang tua harus mengarahkan anak-anak mereka untuk menjalankan syariat Allah terutama sholat dan menegur jika lalai. sabda Rasulullah, “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah (jika melalaikannya) dalam usia sepuluh tahun, dan pisahkan diantara mereka dalam tempat tidur” (HR. Ahmad no. 6753, Abu Dawud no. 495, Hakim no. 951, Tirmidzi no. 407 dan Ibnu Khuzaimah no. 1002)
– Adab suami-istri
Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga maka suami-istri harus menjaga adab dan menunaikan kewajiban masing-masing. Diantara adab yang harus diperhatikan:
a) Amanah satu dengan yang lainnya, jangan berkhianat baik urusan besar maupun kecil.
b) Menjaga mawaddah wa rahmat (sikap lembut dan kasih sayang) diantara keduanya. Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar Ruum: 21)
c) Memberikan yang terbaik. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya” (HR. Tirmidzi 3904).
d) Menjaga adab-adab yang umum seperti saling menghormati dan menghargai, bersikap dan bertutur kata yang baik. Allah befirman yang artinya, “Dan pergauli mereka secara ma’ruf” (QS. An Nisa: 19)
e) Bagi seorang suami wajib memberikan nafkah baik lahir maupun batin, membimbing untuk menjalankan syariat Allah dan jika memiliki istri lebih dari satu wajib bersikap adil diantara mereka.
f) Wajib bagi seorang istri untuk taat kepada suaminya selama bukan dalam kemaksiatan. Tidak keluar rumah atau safar kecuali atas seizin suami. Mejaga harta dan kehormatan dirinya dan keluarga dengan sebaik-baiknya.
– Adab kepada saudara dan kerabat
Saudara dan kerabat adalah orang yang paling dekat kepada kita secara nasab maka sudah semestinya kita menjaga adab dan memperlakukan mereka dengan baik. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda dan saling membantu. Allah dalam ayatnya memerintahkan kita untuk silaturahmi dan membantu kaum kerabat. Diantaranya Allah berfirman,
وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An Nisa’: 1)
Allah juga berfirman,
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An Nahl: 90)
– Adab terhadap tetangga
Tetangga memiliki hak yang istimewa karena mereka adalah orang yang terdekat secara tempat tinggal. Islam mengarahkan setiap muslim untuk berbuat baik dan menjaga adab terhadap tetangga. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya” (HR. Muslim no. 74). Diantara adab terhadap tentangga:
a) Tidak mengganggu atau menyakiti. Jika kita diganggu atau disakiti hendaknya bersabar. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari no 6018 dan Muslim).
b) Berbuat baik terhadap mereka seperti membantu yang membutuhkan, memulai salam, dan menjaga komunikasi. Secara umum orang yang berbuat baik terhadap tentangga akan diperlakukan baik juga oleh tetangganya. Sehingga pada hakikatnya kebaikan akan kembali pada diri kita sendiri.
c) Memuliakan mereka. Jika memungkinkan sesekali memberi hadiah atau minimal memberikan makanan yang kita miliki atau kita masak. Seorang muslim harus peka terhadap tentanggannya. Jangan sampai dirinya serba berkecukupan ternyata tentangga sebelahnya penuh dengan kekurangan. Rasulullah bersabda, “Bukan seorang mukmin orang yang kenyang (penuh kecukupan) sedang tentangganya lapar disisinya.” (HR. Bukhari dalam adabul mufrad)
– Adab sesama muslim
Secara umum setiap muslim memiliki hak atas muslim yang lainnya. Jika hak-hak tersebut dijaga insyaallah akan tercipta suasana ukhuwah islamiah (persaudaraan Islami) dalam masyarakat muslim. Diantara adab seorang muslim terhadap muslim yang lainnya adalah:
a) Mengucapkan salam jika bertemu. Jika ada yang mendahului salam maka wajib menjawabnya.
b) Memenuhi undangannya,
c) Menasehati jika diminta atau diperlukan,
d) Mendo’akan “yarhamukallah” jika dia bersin dan memuji allah “Alhamdulillah”,
e) Menjenguk jika sakit,
f) Mengikuti pengurusan jenazahnya jika meninggal seperti mensholati, menguburkan dan lainnya.
Rasulullah bersabda tentang enam hak ini:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam. Beliau ditanya, apa itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Jika engkau menjumpainya maka ucapkan salam, jika ia mengundangmu maka penuhi, jika minta nasehat maka nasehati, jika dia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah maka jawab yarhamukallah, jika dia sakit maka jenguklah dan jika meninggal maka ikuti (pengurusan) jenazahnya.” (HR. Muslim no 2162)
g) Mencintai kebaikan untuk saudaranya.
Rasulullah bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai sesuatu bagi sendiri” (HR. Bukhari no. 13, Muslim no. 45)
h) Menolong mereka.
Rasulullah bersabda, “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya” (HR. Muslim no. 2699).
i) Tidak menganggu atau mendzolimi mereka dalam bentuk apapun baik dalam harta, jiwa maupun kehormatan.
Rasulullah bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. (HR. Muslim no. 2564)
j) Menghindari hal-hal yang dapat merusak ukhuwah seperti saling merendahkan, su’udzan, mencari-cari kesalahan, ghibah dan semisalnya. (Lihat QS. Al Hujurat ayat 11-13)
– Adab pada non muslim
Islam tidak melarang untuk berbuat baik dan berlaku adil bahkan terhadap non muslim sekalipun. Allah berfirman yang artinya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8). Tidak boleh kita mendzolimi mereka dan bahkan kita diperintahkan untuk membantu mereka untuk hal-hal yang sifatnya umum seperti memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang dalam bahaya dan lainnya.
– Adab terhadap makhluq yang lain
Agama Islam adalah rahmat untuk seluruh alam. Allah befirman yang artinya, “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107). Allah mewajibkan berbuat ihsan (yang baik) atas segala sesuatu. Termasuk terhadap hewan dan makhluq lainnya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya” (HR. Muslim no. 1955). Rasulullah juga bersabda, “Orang-orang yang mengasihi dirahmati oleh Ar-Rahman (Dzat yang Maha Pengasih), kasihilah yang ada di bumi nicaya Yang di langit akan mengasihi kalian” (HR Abu Dawud)”
(Insyaallah bersambung dengan pembahasan adab-adab islami seperti adab bergaul, adab bermajelis, adab makan dan minum dan lainnya.)
Tulisan ini banyak mengambil faedah dari kitab Minhajul Muslim karya syaikh Abu Bakar Jazairiy rahimahullah.
Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 16/12/1437H
| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |