Dari Miras Sampai Zina (Khamar, Biang Kerusakan)

Minuman keras (miras), kita tahu adalah minuman yang berbahaya. Berbahaya bagi individu, juga berbahaya bagi masyarakat. Bahkan dapat dikata, khamar adalah biangnya kerusakan lainnya.

Jauhilah Khamar

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Ma-idah: 90-91)

Dalam ayat ini dari beberapa sisi kita dapat melihat keharaman khamar:

  1. Khamar dalam ayat tersebut dikaitkan dengan penyembahan pada berhala.
  2. Allah menyebut rijsun (kotor).
  3. Khamar termasuk perbuatan setan. Setan pastilah datang dengan membawa kejelekan dan hal yang kotor.
  4. Kita diperintahkan untuk menjauhi khamar.
  5. Seseorang yang menjauhinya akan mendapatkan keberuntungan. Jika seseorang malah mendekati khamar, malah termasuk orang yang merugi.
  6. Khamar dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian.
  7. Allah menutup dengan mengatakan (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ), berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dari sini, kita katakan miras (minuman keras) itu haram.

Khamar Dilaknat

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ

“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356)

Maksud khamar itu dilaknat oleh Allah, agar setiap orang menjauhi minuman haram tersebut. Bisa pula yang dimaksudkan dengan “Allah melaknat khamar” adalah melaknat memakan hasil upah dari penjualan khamar.  (‘Aun Al-Ma’bud, 10: 86)

Siksaan Akhirat bagi Pecandu Khamar

Pertama, pecandu khamar disamakan dengan para penyembah berhala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُدْمِنُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ

“Pecandu khamar seperti penyembah berhala.” (HR. Ibnu Majah, no. 3375. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Dalam Hasyiyah As-Sindi ‘ala Ibni Majah (6: 357), disebutkan bahwa Allah Ta’ala akan mengumpulkan peminum khamar dengan penyembah berhala karena Allah menyebutkan mereka satu dalam ayat ‘innamal khamaru wal maysiru …’ (surat Al-Maidah ayat 90). Begitu pula shalat keduanya tidak diterima. Orang kafir kalaulah ia shalat, shalatnya tidak diterima. Sama halnya dengan peminum khamar.

Wal ‘iyadzu billah …

Kedua, pecandu khamar diancam tidak masuk surga

Dari Abu Ad-Darda’, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ

“Pecandu khamar tidak akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 3376. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Khamar itu Biang Kerusakan

Hal ini memang benar adanya. Para pemabuk biasa membuat kerusakan. Mereka buat keonaran, buat kekacauan, saling bertengkar dan saling benci. Bahkan mabuk bisa jadi biang maksiat lainnya seperti zina, bahkan pembunuhan. Khamar memang biang kerusakan atau induk berbagai macam kejahatan.

Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran berikut ini.

Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan, “Jauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan).

‘Utsman bercerita,

Dahulu ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang biasa pergi ke masjid di antara orang-orang sebelum kalian dan ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan, “Kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.”

Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik (bahenol dan seksi dengan pakaian yang menantang) sambil membawa secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil.

Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundangmu agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini.” (Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku.’)

Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak.” Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Dan setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu.

Lantas ‘Utsman berkata,

فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ إِلا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ

Karena itu jauhilah khamar (miras), karena demi Allah, sesungguhnya iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya. (HR. An-Nasa’i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Ada hadits yang menyebutkan,

الخَمْرُ أُمُّ الخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Khamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang Jahiliyyah.” (HR. Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1854 menyatkaan bahwa hadits ini hasan)

Dan memang ada yang mati dalam keadaan mabuk … Bahkan ada yang kena penyakit kronis gara-gara jadi pecandu dulunya. Na’udzu billahi min dzalik.

Semoga kita bisa saling mengingatkan dan Allah memberi kita taufik untuk menjauhi dosa-dosa besar.

—

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat sore, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, 5 Rabi’uts Tsani 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/12762-dari-miras-sampai-zina-khamar-biang-kerusakan.html

Dunia Hanya di Tangan, Tidak di Hati

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dunia hanya di tangan, tidak di hati

Seperti itulah dunia di mata para sahabat… sehingga mereka menjadi manusia yang paling zuhud, mekipun mereka memiliki kekayaan yang sangat banyak.

Ibnul Qoyim mengatakan,

والأصل هو قطع علائق الباطن ، فمتى قطعها لم تضره علائق الظاهر ، فمتى كان المال في يدك وليس في قلبك لم يضرك ولو كثر ، ومتى كان في قلبك ضرك ولو لم يكن في يدك منه شيء

Prinsipnya adalah memutus hubungan dengan batin. Ketika orang telah berhasil memutusnya, kondisi lahiriyah tidak akan mempengaruhinya. Sehingga selama harta itu hanya ada di tanganmu, dan tidak sampai ke hatimu, maka harta itu tidak akan memberikan pengaruh kepadamu, meskipun banyak. Dan jika harta itu bersemayam di hatimu, maka dia akan membahayakan dirimu, meskipun di tanganmu tidak ada harta sedikitpun. (Madarijus Salikin, hlm. 465).

Ibnul Qoyim menyebutkan riwayat dari Imam Ahmad,

Ada orang yang bertanya kepada Imam Ahmad,

أيكون الرجل زاهدا ، ومعه ألف دينار؟

Apakah seseorang bisa menjadi zuhud, sementara dia memiliki 1000 dinar?

Jawab beliau,

نعم على شريطة ألا يفرح إذا زادت ولا يحزن إذا نقصت ، ولهذا كان الصحابة أزهد الأمة مع ما بأيديهم من الأموال

Betul, dengan syarat, dia tidak merasa bangga ketika hartanya bertambah dan tidak sedih ketika hartanya berkurang. Karena itulah, para sahabat menjadi generasi paling zuhud, meskipun mereka memiliki banyak harta.

Pertanyaan semisal juga pernah disampaikan kepada Sufyan at-Tsauri,

أيكون ذو المال زاهدا ؟

Apakah orang yang kaya bisa menjadi zuhud?

Jawab Imam Sufyan,

نعم؛ إن كان إذا زيد في ماله شكر ، وإن نقص شكر وصبر

Betul, jika dia bisa menjadi orang yang apabila hartanya bertambah, dia bersyukur, dan jika hartanya berkurang, dia tetap bersyukur dan bersabar. (Madarij Salikin, hlm. 466).

Ibnul Qoyim melanjutkan,

Memutus hubungan agar dunia tidak berada di hatinya, akan semakin terpuji apabila itu dilakukan karena 2 alasan,

[1] Karena kekhawatiran itu bisa membahayakan agamanya.

[2] Ketika dia merasa tidak ada maslahat besar di sana.

Dunia yang Kita Butuhkan, Layaknya Toilet

Semua orang butuh toilet… butuh tempat buang air.. namun tidak ada orang yang mencintai toilet. Mereka hanya akan menggunakannya ketika mereka butuh, tanpa harus mencintainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

ثم ينبغي له أن يأخذ المال بسخاوة نفس؛ ليبارك له فيه، ولا يأخذه بإشراف وهلع؛ بل يكون المال عنده بمنزلة الخلاء الذي يحتاج إليه من غير أن يكون له في القلب مكانة

Hendaknya orang itu mengambil harta dengan jiwa yang tidak bernafsu, agar hartanya diberkahi. Dan tidak mengambilnya dengan menggebu-gebu dan perasaan takut kurang. Namun harta di sisinya seperti toilet, yang dia butuhkan, tanpa ada posisi sedikitpun di dalam hatinya. (Az-Zuhd wal Wara’, Syaikhul Islam, hlm. 75)

Belajar Zuhud Terhadap Dunia…

Zuhud itu amal hati. Belajar zuhud berarti mengendalikan suasana hati meniru kondisi manusia zuhud di masa silam… ada 3 hal yang bisa kita suasanakan,

Pertama, hendaknya seorang hamba lebih meyakini apa yang ada di tangan Allah, dari pada apa yang ada di tangannya.

Allah menjanjikan kebaikan dunia akhirat bagi mereka yang bertaqwa kepada-Nya. Sehingga ketika dia melihat dunia, dia tidak silau dan memandang janji Allah lebih hebat dibandingkan yang dia lihat…

Ketika Nabi Sulaiman ‘alaihis shalatu was salam menerima hadiah dari ratu Saba’, berupa harta yang sangat banyak, beliau sama sekali tidak terheran, dan beliau mengatakan,

قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آَتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آَتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

Sulaiman berkata, ‘Apakah kalian akan menyogokku dengan harta, padahal apa yang diberikan Allah kepadaku, lebih baik dibandingkan apa yang kalian berikan. Namun kalian merasa bangga dengan hadiah kalian.’ (QS. an-Naml: 36).

Sufyan bin Uyainah bercerita,

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik pernah menemui Salim bin Abdullah bin Umar.

Hisyam menawarkan, “Wahai tuan Salim, silahkan minta kepadaku apa yang anda butuhkan.”

Jawab Salim,

إِنِّي أَسْتَحِي مِنَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ أَسْأَلَ فِي بَيْتِ اللَّهِ غَيْرَ اللَّهِ

“Aku malu kepada Allah Ta’ala, untuk meminta di rumah-Nya kepada selain Allah.”

Lalu Salim keluar dari masjid dan diikuti oleh Hisyam.

Kata Hisyam,

الآنَ قَدْ خَرَجْتَ فَسَلْنِي حَاجَةً

“Sekarang anda sudah di luar baitullah. Silahkan minta kebutuhan anda kepadaku..”

Tanya Salim,

مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا أَمْ مِنْ حَوَائِجِ الآخِرَةِ ؟

“Kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?”

“Kabutuhan dunia.” Jawab Hisyam.

Jawab Salim,

أَمَا وَاللَّهِ مَا سَأَلْتُ الدُّنْيَا مَنْ يَمْلِكُهَا فَكَيْفَ أَسْأَلُ مَنْ لا يَمْلِكُهَا

“Demi Allah, aku tidak ingin meminta dunia kepada Dzat yang memilikinya, lalu bagaimana mungkin aku memintanya kepada orang yang tidak memilikinya?” (Masyikhah Ibn Jamaah)

Ini bisa dilakukan dengan membangun keyakinan mendalam tentang bagaimana Allah memberikan rizki kepada para hamba-Nya, serta janji besar yang Allah berikan kepada para hamba-Nya yang bertaqwa.

Kedua, hendaknya seorang hamba berusaha bersabar ketika mendapat musibah yang mengurangi hartanya atau peluang bisnisnya, dst. Dia mengharap kepada Allah dari musibah yang dia alami. Sehingga berkurangya sebagian dunianya, sama sekali tidak merasa kehilangan. Bagi dia, hartanya bertambah atau berkurang, itu sama saja…

Ketika para sahabat berhijrah ke Madinah, meninggalkan kota Mekah, diantara tantangan yang harus mereka hadapi adalah mereka harus siap jadi miskin. Disamping mereka tidak mungkin membawa banyak harta, orang musyrikin Quraisy tidak rela ketika kaum muslimin pergi meninggalkan Mekah dengan membawa banyak hartanya.

Tapi bagi para sahabat, itu konsekuensi membela iman… meskipun harus menerima kerugian dunia.

Ketiga, bagi dia, orang yang memuji maupun yang mencela dirinya adalah sama, selama dia di atas kebenaran.

Ini menunjukkan, dia tidak mencintai dunia. Karena karakter pecinta dunia, dia senang dipuji, dan berat jika dicela. Yang ini bisa  menjadi pemicu baginya untuk melanggar larangan Allah karena khawatir dicela. Atau melakukan maksiat, dengan harapan bisa mendapatkan perhatian dari manusia.

Ketika orang yang memuji dan mencela sama di hadapannya, berarti dia tidak mempedulikan apa komentar makhluk. Hatinya dipenuhi dengan mencintai Allah, dan berjuang menggapai ridha-Nya, apapun komentar manusia kepadanya.

(Dikutip dari buku Hakadza Kana as-Shalihun, Khalid Husainan, hlm. 46-47)

Allahu a’lam

sumber: https://pengusahamuslim.com/5879-dunia-hanya-di-tangan-tidak-di-hati.html

Hasil Ujian akhir – Rukun Rukun Iman

Alhamdulillah, total 1.013 peserta yang ambil bagian dalam ujian akhir kali ini. dengan jumlah Peserta lulus (skor ≥ 60%) berjumlah 462 peserta dengan rincian sebagai berikut:

Mumtaz Murtafi (skor 100%) = 5 peserta
Mumtaz (skor 90% – 99%) = 14 peserta
Jayyid Jiddan (skor 80% – 89%) = 80 peserta
Jayyid (skor 70% – 79%) = 98 peserta
Maqbul (skor 60% – 69%) = 265 peserta

Kami ucapkan selamat bagi peserta yang lulus, mudah-mudahan ilmu tersebut dapat diamalkan dan mudah-mudahan dapat istiqomah pada masa mendatang. pesan kami ingatlah bahwa ilmu bukanlah tujuan. namun yang menjadi tujuan kita adalah amal, adapun fungsi ilmu hanyalah sebagai wasilah supaya kita dapat beramal dengan baik dan benar. jadi siapa saja yang menjadikan ilmu sebagai tujuan dan berhenti sampai disitu sungguh ia telah tertipu..

Bagi saudara-saudari kami yang belum lulus, jangan putus asa, tetap semangat belajarnya.! adapun hasil ujian ini tidak mewakili apapun tentang antum. terimakasih telah mengikuti materi pelajaran ini kemudian mengikuti ujiannya. kami tidak akan menyerah membersamai antum dalam proses perbaikan ini. jadi mohon jangan berkecil hati, kami tetap disini mengusahakan yang kami bisa, yakni dengan menyusun program yang maksimal yang sesuai dengan kapasitas kami untuk menjadikan setiap konten di HijrahApp lebih bermanfaat kedepannya. jadi, tetap semangat yaa💪

*Bagi peserta yang lulus; Seluruh e-sertifikat TELAH kami kirim email antum. silahkan cek kotak masuk/spam. jika antum tidak menerimanya silahkan hubungi tim support kami melalui email dengan menyertakan informasi nama lengkap antum. buka menu tentang kami, kemudian pilih hubungi kami. terimakasih🙏

*Selanjutnya kita akan memulai materi baru, Kitabut Tauhid, yang akan dimulai Hari Senin 8 Maret 2021 mendatang.


Peringkat Pria/Ikhwan

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qWAkX54wV9e_GdGqgIVHZPdlCWJeWVqcSqprBGk4v9A/edit?usp=sharing


Peringkat Wanita/Akhwat

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1zo9Y4h1eqr3duINNZ4jJeHpjrIIRzppwQ9SY0zz72wE/edit?usp=sharing


Koreksi Jawaban Antum

hasil koreksi jawaban antum sudah kami kirimkan melalui email. silahkan cek email antum masing-masing. terimakasih 🙏

Nasehat Umar Bin Khathab Kepada Pasutri

Umar bin Khathab adalah sosok mukmin yang memiliki karakter tegas dan keras dalam membela kebenaran. Figur pemberani dalam membela kebenaran sekaligus hatinya penuh kelembutan ketika bermuamalah dengan istrinya. Menonjol jiwa kepemimpinannya tetapi tetap tawadhu’ serta bersabar dalam berinteraksi dengan pasangan hidupnya. Sungguh romantika kehidupan rumah tangganya penuh pesona dan bisa dijadikan teladan ketika timbul bibit-bibit persoalan rumah tangga. Sifatnya arif bijaksana dan beliaulah tipikal suami yang bertanggung jawab. Sungguh beruntung wanita yang memiliki suami ideal sebagaimana sosok menakjubkan seorang Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan bahwa seorang pria datang ke rumah Umar bin Khaththab hendak mengadukan keburukan akhlak istrinya. Maka ia berdiri di depan pintu menunggu Umar keluar. Lalu ia mendengar istri Umar bersuara keras pada suaminya dan membantahnya. Sedangkan Umar diam tidak membalas ucapan istrinya. Pria itu lalu berbalik hendak pergi sambil berkata, “Jika begini keadaan Umar dengan sikap keras dan tegasnya, dan ia seorang Amirul Mu’minin, maka bagaimana keadaanku?”.

Umar keluar dan melihat orang itu berbalik (pergi) dari pintunya. Maka Umar memanggilnya dan berkata, ”Apa keperluanmu wahai pria?”. Ia menjawab “Wahai Amirul Mu’minin semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka akupun kembali sambil berkata, ”Jika demikian keadaan Amirul Mu’minin bersama istrinya maka bagaimana dengan keadaanku?”.

Umar berkata, ”Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku. Dia yang memasakkan makananku, yang membuat rotiku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anakku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram karena itu aku bersabar atas sikapnya”.

Pria itu berkata, ”Wahai Amirul Mu’minin demikian pula istriku”. Berkata Umar, ”Bersabarlah atas sikapnya wahai saudaraku...” (Lihat kitab Al-Kabair oleh Adz-Dzahabi, hal 79 cetakan Darun Nadwah Al Jadidah).

Dari episode indah Umar bin Khathab dalam bermuamalah dengan pasangannya, ada faidah penting yang bisa dijadikan acuan bagi keharmonisan pasutri.

Pertama: Suami hendaklah mampu menahan diri

Sikap diamnya Umar bukan berarti ia tak membela diri, justru sebaliknya. Inilah sikap mulia seorang suami sekaligus sebagai pemimpin rumah tangga ia telah memberikan teladan dalam kebaikan akhlak. Bukan pula ia membiarkan kesalahan istri, tapi saat situasi memanas, sama sekali tak kondusif untuk menasehati istri. Terlebih lagi ketika ia segera membalas kemarahan istri, maka yang terjadi adalah perang mulut dimana ledakan emosi-emosi negatif akan menjadikan keduanya terjebak dalam pertengkaran, masing-masing mengemukakan alasan. Disinilah, sosok suami shalih harus mampu mengendalikan diri, menjaga keadaan tetap stabil sehingga tak membuka kesempatan sekecil apapun bagi setan untuk masuk dan mengacaukan suasana. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian adalah yang paling baik pergaulannya terhadap istri” (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari seluruh jalannya (2/472)

Kedua: Senantiasa mengingat kebaikan pasangan

Ketika suami melihat kekurangan atau keburukan istri, hendaklah ia segera mengingat-ingat kelebihan dan kebaikan istrinya. Ini kiat praktis agar suami tidak fokus pada kekurangan yang menyebabkan terjerumus pada penyesalan dan menumbuhkan kebencian. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Tidak sepantasnya seorang suami benci pada istrinya. Karena kalaupun ia membenci sebagian akhlak istrinya, di sisi lain ia akan menyukai akhlak-akhlaknya yang lain” (HR. Muslim).

Ketiga: Kesabaran berbuah manis

Salah satu kunci lestarinya pernikahan adalah sabar dalam berinteraksi dengan pasangan ketika ada perkara-perkara yang membuatnya kurang berkenan. Ketika sebuah sikap atau perbuatan masih bisa ditoleransi sebatas tidak bertentangan dengan syariat maka berlapang dadalah dan terimalah keadaan dengan berbaik sangka. Jadilah orang yang mudah beradaptasi dan lembut demi keharmonisan pernikahan.
Ingat pesan bijak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Wanita itu seperti tulang rusuk yang bengkok. Bila engkau luruskan maka patah dan apabila engkau bernikmat-nikmat dengannyapun dapat engkau lakukan. Tetapi padanya terdapat kebengkokan” (HR. Bukhari [5184] dan Muslim [1091] dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Meskipun demikian seorang suami harus terus menerus membina istri, bagaimana menjadi figur wanita shalihah dan seorang istri hendaknya berjuang agar mampu menunaikan hak-hak suami sebatas kemampuan yang dia miliki. Ketika keduanya mampu menjalani petunjukNya insyaallah biduk rumah tangga akan bahagia.

Referensi :
– Romantika Pergaulan Suami Istri, Syaikh Musthofa Al-‘Adawi (terjemah) Media Hidayah Pustaka Haura , Yogyakarta 2002
– Majalah Nikah edisi 02/II 2003

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

sumber: https://muslimah.or.id/11854-nasehat-umar-bin-khathab-kepada-pasutri.html

Jangan Sembunyikan Ilmu

Oleh 
Ustadz Abu Ismail Muslim Atsari

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq. Dan merupakan kewajiban para Rasul untuk menyampaikan agama kepada umat mereka masing-masing. Demikian para ulama pewaris para Nabi, mereka berkewajiban menjelaskan isi kitab suci kepada umat, tanpa menyembunyikannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

Dan (ingatlah), ketika Allâh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya!” [Ali-‘Imrân/3:187]

Oleh karena itu menyembunyikan ilmu menyelisihi perjanjian ulama dengan Allâh, bahkan merupakan dosa besar sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, karena pelakunya akan mendapatkan laknat. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memasukkan perbuatan menyembunyikan ilmu di dalam kitabnya, Al-Kabâir , dalam urutan dosa besar ke 38.

NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TIDAK MENYEMBUNYIKAN ILMU 
Oleh karena itu, sebagai panutan umat, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyembunyikan ilmu sama sekali. Para sahabat Beliau banyak memberikan kesaksian tentang hal ini, bahkan orang-orang dekat Beliau. Inilah ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma Ummul Mukminin, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersaksi untuk Beliau:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَدْ كَذَبَ وَاللَّهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْآيَةَ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata: “Barangsiapa menceritakan kepadamu bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari wahyu yang telah diturunkan oleh Allâh kepada Beliau, maka dia telah berdusta, Karena Allâh Azza wa Jalla berfirman ‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu’ al-ayat  (Al-Mâidah/5:67). [HR. Bukhâri, no. 4612]

Demikian juga, sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, pembantu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kesaksiannya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ يَشْكُو فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ وَأَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ قَالَ أَنَسٌ لَوْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَاتِمًا شَيْئًا لَكَتَمَ هَذِهِ 

Dari Anas, dia berkata: “Zaid bin Haritsah datang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Beliau bersabda kepadanya: “Bertakwalah kepada Allâh dan tahanlah terus isterimu”. Anas  berkata: “Seandainya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu (dari al-Qur’an) pasti beliau telah menyembunyikan ini”. [HR. Bukhâri, no. 7420]Baca Juga   Awas, Zina Dosa Besar

MENYEMBUNYIKAN AL-HAQ ADALAH SIFAT AHLI KITAB 
Di dalam kitab suci al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla mencela ahli kitab atas sikap mereka yang suka menyembunyikan al-haq, Dia berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya? [Ali-‘Imrân/3:71]

Di antara kebenaran yang mereka sembunyikan adalah tentang berita akan datangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di dalam kitab suci mereka. Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Mengetahui membongkar perilaku mereka dengan firman-Nya:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ  ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. [Al-Baqarah/2:146]

BAHAYA MENYEMBUNYIKAN ILMU 
Ilmu merupakan cahaya dan petunjuk, maka jika ilmu disembunyikan, berarti manusia berada di dalam kegelapan dan kesesatan. Karenanya Allâh Azza wa Jalla melaknat orang-orang yang menyembunyikan ilmu dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ ﴿١٥٩﴾ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Allâh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati.  Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah/2:159-160]

Karena khawatir terhadap ancaman yang terkandung di dalam ayat ini, maka Abu Hurairah giat menyebarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [HR. Al-Bukhâri, no. 118]

Selain itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahaya menyembunyikan ilmu agama yang harus disampaikan kepada umat sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلَّا أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ 

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang hafal suatu ilmu, namun dia menyembunyikannya, kecuali dia akan didatangkan pada hari kiamat dengan keadaan dikekang dengan tali kekang dari neraka”. [HR. Ibnu Majah, no. 261; Syaikh al-Albani menyatakan tentang hadits ini ‘Hasan Sh a h î h )

Di dalam riwayat lain disebutkan:Baca Juga   Hasil Usaha Maksiat Celaka Dunia Dan Akhirat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia mengetahuinya, namun dia menyembunyikannya, maka dia akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat”. (HR. Tirmidzi, no. 2649; Abu Dawud, no. 3658; Ibnu Majah, no. 264; disha h îhkan oleh Syaikh al-Albani)

Perkataan di dalam hadits di atas ‘Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia mengetahuinya’, yaitu ilmu yang dibutuhkan oleh penanya dalam urusan agamanya; ‘namun dia menyembunyikannya’, dengan tidak menjawab atau dengan menghalangi kitab/penulisan ilmu; ‘maka dia akan diberi tali kekang’, yaitu di mulutnya diberi kekang/kendali, karena mulut itu adalah tempat keluarnya ilmu dan perkataan;    ‘dengan kekang dari neraka’, sebagai balasan baginya karena dia mengendalikan dirinya dengan diam. Dia diserupakan dengan hewan yang diatur dan dihalangi dari niatnya yang dia kehendaki, karena kedudukan seorang ‘alim adalah mengajak menuju al-haq.

As-Sayyid mengatakan: “Ini adalah di dalam ilmu yang harus diajarkan, seperti orang kafir yang meminta penjelasan tentang agama Islam; orang baru masuk Islam bertanya tentang tata cara sholat  yang telah datang waktunya; dan seperti orang yang meminta fatwa tentang halal dan haram; di dalam semua perkara ini wajib dijawab. Bukan pertanyaan dalam masalah ilmu-ilmu nafilah (yang tidak wajib), yang tidak darurot /mendesak (maka tidak wajib dijawab-pen)”. [Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi , hadits no. 2649]

PENUTUP 
Dengan penjelasan singkat ini, maka kita mengetahui bahwa orang yang berilmu agama berwajiban menyebarkan ilmunya dan tidak boleh menyembunyikannya. Jika dia melanggar hal ini, maka dia dilaknat oleh Allâh dan makhluk-Nya. Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Â m î n .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

sumber: https://almanhaj.or.id/9448-jangan-sembunyikan-ilmu.html

Iman: Keyakinan, Ucapan, dan Amalan

Dalam keyakinan yang benar yaitu keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sesuai pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, iman itu tidak cukup keyakinan dalam hati, tetapi harus diucapkan di lisan dan dibuktikan dalam amal perbuatan anggota badan. Jadi, ada tiga komponen di dalam iman. Jika seseorang mengucapkan laa ilaha illallah, namun tiada amalan dalam hidupnya, seperti enggan untuk shalat sama sekali, maka pengakuannya sebagai muslim hanyalah pengakuan yang dusta.

Dalam hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Cabang Iman

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah perkataan di lisan, keyakinan dalam hati, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Disebutkan dalam hadits di atas bahwa cabang iman yang tertinggi ialah kalimat ‘laa ilaha illalah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Kalimat tersebut adalah pokok Islam dan Iman. Kalimat tersebut merupakan rukun pertama dari Islam dan yang bisa membuat seseorang masuk Islam.

Sedangkan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, yang dimaksud di sini adalah menyingkirkan setiap gangguan apa pun. Sedangkan meletakkan gangguan di jalanan termasuk sesuatu yang terlarang. Semisal memarkir mobil di tengah jalan dan mengganggu kendaraan yang lalu lalang, ini termasuk meletakkan gangguan di jalan. Mengalirkan air sehingga mengganggu orang lain di jalan, ini pun termasuk yang terlarang. Begitu pula meletakkan batu sehingga mengganggu di jalan, ini pun terlarang. Apalagi jika sampai meletakkan bom di jalanan, meskipun disebut sebagai jihad! Jika seseorang menyingkirkan gangguan-gangguan tadi dari jalanan, itu menunjukkan keimanannya.

Malu pun termasuk cabang iman. Seseorang yang memiliki sifat malu, maka dirinya akan semakin mempesona dengan akhlaknya yang mulia tersebut. Malu ada dua macam sebagaimana dijelaskan oleh guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan:

  1. Malu yang terpuji: Malu yang bisa mengantarkan pada kebaikan dan mencegah dari kejelekan.
  2. Malu yang tercela: Malu yang menghalangi seseorang dair berbuat baik, dari menuntut ilmu dan malu bertanya dalam perkara yang dibingungkan.

Cabang iman sebenarnya amatlah banyak, sebagaimana disebutkan ada 60 atau 70 sekian cabang. Bahkan Imam Al Baihaqi memiliki karya tulis dalam masalah cabang-cabang iman ini, yaitu dalam kitab Syu’abul Iman dan kitab ringkasannya pun sudah ada yang tercetak (dalam versi Arabic).

Beberapa Keyakinan dalam Masalah Iman

  1. Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Iman adalah keyakinan dalam hati, perkataan dalam lisan dan amalan dengan anggota badan.
    Dalil yang menunjukkan keyakinan ahlus sunnah adalah hadits Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas. Perkataan ‘laa ilaha illallah’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalanan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati. Inilah dalil yang menunjukkan keyakinan ahlu sunnah di atas. Sehingga iman yang benar jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan (3) amalan dengan anggota badan. Secara jelas keyakinan Ahlus Sunnah mengenai iman termaktub dalam perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah di mana beliau berkata,فَصْلٌ : وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ .“Fasal: Di antara pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa agama dan iman terdiri dari: perkataan dan amalan, perkataan hati dan lisan, amalan hati, lisan dan anggota badan. Iman itu bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat.”
  2. Murji’ah: Iman adalah keyakinan dalam hati dan ucapan di lisan saja.
  3. Karomiyah: Iman adalah ucapan di lisan saja.
  4. Jabariyyah: Iman adalah pengenalan dalam hati saja.
  5. Mu’tazilah: Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan dan amalan anggota badan. Namun ada sisi yang membedakan Mu’tazilah dan Ahlus Sunnah. Mu’tazilah menganggap bahwa pelaku dosa besar hilang darinya cap iman secara total dan kekal di neraka. Sedangkan Ahlus Sunnah, pelaku dosa besar masih diberi cap iman, akan tetapi ia dikatakan kurang imannya dan tidak kekal dalam neraka jika memasukinya.

Pembahasan akidah berikutnya yang akan Muslim.Or.Id ulas adalah bahasan iman itu bertambah dan berkurang. Tidak seperti keyakinan sebagian kalangan bahwa iman itu hanya terus ajeg (tetap).

Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami iman dengan benar.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

  • Syarh Al Ushul Ats Tsalatsah, -guru kami- Syaikh Sholih Al Fauzan, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1427 H.
  • Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, -guru kami- Syaikh Sholih Al Fauzan, terbitan Darul Ifta’, cetakan kedelapan, 1429 H.

—

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 8 Jumadal Akhiroh 1434 H

—

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://muslim.or.id/14768-iman-keyakinan-ucapan-dan-amalan.html

Keutamaan Shadaqah

Krisis demi krisis, musibah demi musibah datang silih berganti menguji keimanan kaum muslimin Indonesia Raya. Belum terlupakan krisis ekonomi, datang berikutnya gelombang Tsunami Aceh, kemudian banjir datang menenggelamkan beberapa daerah, dan berbagai musibah yang datang tiada hentinya silih berganti menghantam kaum muslimin di Indonesia. Kejadian-kejadian dan musibah seperti ini, dan lainnya terkadang membuat kepala pusing tujuh keliling dalam mencari solusinya. Solusi yang paling utama –setelah seluruh lapisan masyarakat mengoreksi diri, dan bertaubat untuk kembali kepada Islam yang benar (tauhid dan sunnah)-, Allah tawarkan, yaitu ber-infaq dan ber-shadaqah.

Oleh karena itu, Allah banyak menganjurkan shadaqah di dalam Al-Qur’an, karena ia merupakan solusi jitu dalam mengatasi musibah dan krisis sebagaimana hal ini telah dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para sahabat. Allah -Ta’ala- berfirman dalam menuntun kaum muslimin untuk mengeluarkan shadaqah,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 177)

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”. (QS. Al-Baqarah: 280)

Menafkahkan harta yang dicintai

Diantara sifat seorang mukmin yang terdapat pada ayat-ayat al-qur’an yaitu menafkahkan harta yang dicintainya, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ٨:٣

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Al-Anfal: 3)

Yakni, rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka lalu mereka mengeluarkannya.

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud “menafkahkan” disini, yaitu sebagai berikut:

1. Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan “nafkah” yang dikeluarkan itu adalah zakat wajib.

2. Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan “nafkah” tersebut adalah sedekah tathawu’ atau sukarela.

3. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah hak-hak yang ada dalam harta selain zakat, karena Allah subhanahu wa ta’ala ketika menyebutkannya, berbarengan dengan shalat, maka nafkah tersebut menjadi wajib, dan ketika tidak disebutkan berbarengan dengan shalat maka yang fardhu hanya shalat, sedangkan nafkah tersebut tidak fardhu.

4. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “nafkah” tersebut adalah nafkah dalam makna umum, dan inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, karena infak tersebut menempati posisi “terpuji” jika dilakukan sebagian harta yang diberikannya kepada mereka dan infak hanya dapat dilakukan dari rezeki yang halal. Maksud ayat tersebut adalah, “Mereka mengeluarkan sesuatu yang telah ditetapkan oleh syari’at berupa zakat atau yang lainnya, yang terkadang muncul pada beberapa keadaan, dan mereka dianjurkan untuk melakukan semua itu” [Al-Jami’ (1/125) oleh Al-Imam Qurthubi dan Tafsir Al-Qur’an al-Azhim (1/42) oleh Al-Imam Ibnu Katsir]

Dahulu, ada pepatah yang sering diucapkan: “tidak berhak dilahirkan orang yang hidup hanya untuk kepentingan dirinya sendiri”

Tentunya seorang mukmin tidak bisa hidup tanpa kerabat dekat (famili/keluarga), para tetangga, dan teman sejawat, dan tentu disana ada orang yang kaya dan yang muskin, yang kuat dan yang lemah, yang berkecukupan dan yang kekurangan.

Seorang mukmin akan selalu berpacu memberikan sedekah kepada setiap orang yang membutuhkannya, baik yang dekat maupun yang jauh, yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya.

Sedekah yang kita berikan tidak terbatas, baik kecil atau besar, karena maksud dari sedekah adalah memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan dan mengeluarkan diri dari sikap pelit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Pada suatu hari yang terik, ada seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Si pelacur lalu membuka sepatunya dan mengisinya dengan air sumur tersebut lalu diberikan kepada anjing tersebut. Wanita itu dimapuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

Perhatikanlah, bagaimana sedekah yang jumlahnya sedikit telah menjadikan rahmat dan maghfirah (ampunan) Allah tercurah kepada wanita tunasusila tersebut, bahkan kalimat thayyibah (kata-kata yang baik) yang keluar dari mulut Anda akan dicatat disisi Allah sebagai rangkaian sedekah yang anda telah lakukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Jauhilah api neraka meskipun hanya (bersedekah) dengan separoh kurma. Jika kamu tidak menemukannya, maka (cukup) dengan kata-kata yang baik.” [HR. Bukhari (6023), Muslim (7/101), Ahmad, (4/256), Nasa’i (5/75), Darimi (1390), Baihaqi (1/390) dalam kitabnya sunan kubra]

Semua ini mengajak kita untuk menjadi orang yang dermawan. Maka janganlah Anda pelit terhadap orang lain, meskipun hanya dengan memberi sepotong pakaian, sesuap makanan, atau seteguk minuman.

Maka, mari kita memperhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:

“‘Setiap muslim bersedekah.’

Para shahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, bagaimana jika tidak mampu?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bekerjalah dengan tangan sendiri sehingga bermanfaat bagi dirinya, lalu ia bersedekah.’

Para shahabat bertanya, ‘Bagaimana jika tidak mampu?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Menolong orang yang mempunyai kebutuhan dan yang sedang susah.’

Para shahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana jika dia tidak dapat melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Memerintahkan berbuat baik atau berbuat makruf.’

Para shahabat bertanya lagi, ‘Jika dia tidak dapat melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Menahan diri dari berbuat buruk, maka hal itu merupakan sedekah bagi dirinya.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Diantara contoh indah yang diteladankan orang-orang terdahulu kepada kita dalam berinfak adalah seperti tertulis dalam kisah berikut;

Abu Thalhah Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, adalah orang Anshar di Madinah yang tergolong paling banyak hartanya, dan harta yang paling dicintainya adalah Bairuha (Nama tempat di Madinah, sejenis kebun), yang letaknya berhadapan dengan Masjid Nabawi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan pernah meminum airnya yang segar. Setelah ayat berikut ini turun,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ٣:٩٢

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imraan: 92)

Kemudian, Abu Thalhah pergi menuju tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam Kalam-Nya, “Kamu belum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,..” (Ali ‘Imraan: 92) dan diantara harta saya yang saya cintai adalah Bairuha, maka ia akan saya jadikan sedekah bagi Allah Ta’ala. Saya mengharapkan semoga ia akan menjadikan kebajikan dan amalan saya disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ia kuserahkan kepada engkau (yaa, Rasulullah) dan terserah kepada siapa ia akan engkau berikan!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah keberuntungan, itulah keberuntungan, itulah keberuntungan. Dan aku telah mendengar apa yang telah engkau katakan. Itu lebih baik engkau sedekahkan kepada keluarga terdekat(mu)” (HR. Bukhari dan Muslim). Lalu, Bairuha dibagi-bagikan kepada kerabat dekat Abu Thalhah dan kepada anak-anak pamannya.

Wahai saudara seaqidahku, jika Anda memiliki sifat-sifat terpuji yang telah disebutkan diatas, maka anda adalah seorang mukmin yang sejati sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ٨:٤

“Itulah orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia” (Al-Anfaal: 4)

Karena shadaqah dan infaq merupakan solusi jitu, maka dalam risalah ini perlu dibawakan beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan dan pentingnya shadaqah agar orang-orang yang memiliki kelebihan harta bisa tergerak hatinya untuk bersedekah dan berinfaq, entah kepada tetangga, fakir-miskin, masjid, sekolah, majelis ta’lim, majalah, buletin, dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Di antara keutamaan shadaqah:

Mendapatkan Pahala yang Berlipat Ganda

Yang mana dengan shadaqah tersebut Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memuliakan kaum muslimin, menyucikan harta mereka, serta memberikan ganjaran bagi mereka dengan ganjaran yang berlipat ganda dan menuliskannya disisi-Nya sebagai kebaikan yang sempurna. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”. (QS. Al-Baqarah: 245)

Tanda Ketaqwaan

Shadaqah adalah tanda dan ciri ketaqwaan seorang muslim.Allah -Ta’ala- berfirman,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka“. (QS. Al Baqarah : 2-3)

Shadaqah Bekal Menuju Akhirat

Akan tiba masa yang tidak ada lagi jual beli, dan tidak bermanfaat persahabatan. Oleh karena itu, sebelum tiba masa itu hendaknya seseorang mempersiapkan perbekalan yang bisa membantunya yaitu dengan banyak-banyak bershadaqah. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang Telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim“. (QS. Al Baqarah : 254)

Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,

“Ini merupakan kelembutan Allah terhadap para hamba-Nya, karena Allah memerintahkan mereka untuk mempersembahkan sesuatu yang Allah berikan kepada mereka, berupa shadaqah wajib (zakat), dan shadaqah mustahab (tidak wajib) agar hal itu menjadi tabungan, dan pahala yang banyak bagi mereka pada hari orang-orang yang beramal butuh kepada setitik kebaikan; tak ada lagi perniagaan di hari itu. Andai seorang menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi dari siksaan pada hari kiamat, maka tak akan diterima darinya; tak akan bermamfaat baginya seorang kekasih, dan sahabat, baik itu karena kedudukannya atau syafa’atnya. Itulah hari yang merugi para pelaku kebatilan di dalamnya, dan akan terjadi kehinaan bagi orang-orang yang zhalim”.

[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 110)]

Shadaqah Adalah Perisai Dari Neraka

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَوْبِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Handaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”. [HR. Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]

Shadaqah Penghapus Kesalahan

Setiap anak cucu adam tidak lepas dari kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab yang dengannya bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan dari anak cucu adam dan sebab tersebut adalah dengan bershadaqah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ

“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

Shadaqah Pelindung Di Padang Mahsyar

Ketika manusia menanti keputusan di padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing. Manusia pada saat itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Matahari didekatkan dengan jarak satu mil, pada saat itulah seseorang sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia“. [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]

Shadaqah Pemadam Panas Di Alam Kubur

Tentunya seorang mukmin apabila dia mati maka dia mendambakan kuburnya adalah termasuk taman di antara taman-taman surga dan jauh dari panasnya api neraka. Rasulullah yang sangat sayang kepada umatnya telah memberikan tuntunan yang bisa menyelamatkan umatnya dari panasnya api neraka yaitu bershadaqah. Beliau bersabda :

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ القُبُوْرِ

“Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panasnya kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir, dan Al-Baihaqiy. Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]

Shadaqah Adalah Sebab Malaikat Mendo’akan Seseorang

Sungguh suatu kemuliaan tersendiri bila seseorang dido’akan oleh makhluk yang dekat dengan Allah yaitu para malaikat, tentu do’a tersebut adalah do’a yang mustajab. Maka dengan bershadaqahlah bisa menjadi sebab seseorang dido’akan oleh para malaikat. Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العَبْدُ فِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَ يَقُوْلُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq”.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]

Tujuh Golongan yang Dinaungi

Padang Mahsyar merupakan tempat pengadilan. Allah akan mengadili dan memutuskan segala urusan dan perkara setiap hamba-hamba-Nya, baik itu berkaitan dengan hak Rabb-nya, orang lain, ataupun dirinya sendiri. Hari itu merupakan hari yang amat mengerikan dan menakutkan sehingga semua makhluk tunduk dan pasrah kepada Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Allah Rabb alam semesta.

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا يَ

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”.(QS.An-Naba’: 38)

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jatsiyah: 28)

Belum lagi matahari didekatkan dengan sedekat-dekatnya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, Ketika itulah para hamba menunggu dan mengharapkan perlindungan dan naungan dari Rabb-nya. Diantara golongan yang mendapatkan naungan saat itu, orang yang ikhlas bershodaqoh. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِِعِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِيْ المَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ يَمِيْنُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan Allah….seseorang yang bershadaqoh dengan suatu shadaqoh yang ia rahasiakan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah dishadaqohkan oleh tangan kanannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)]

Sungguh agung dan besar keutamaan berhadaqah, akan tetapi suatu amalan tidak akan menjadi agung, tanpa disertai dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Semoga Allah memudahkan kita untuk bershadaqah baik shadaqah berupa materi, tenaga, pikiran maupun berupa ucapan. Amin…

Sumber :

– Amal yang dibenci dan yang dicintai Allah: panduan untuk muslimah, Majdi Fathi Sayyid, Nabhani Idris, Gema Insani, 1998, Hal 92-97

– Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 15 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp). Link: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=768 

Artikel Belajar Islam: http://belajarislam.or.id/archives/523

sumber: https://pengusahamuslim.com/1108-keutamaan-shadaqah.html

Sibukkanlah Dirimu dalam Amal Shalih

Para salaf rahimahumullahu Ta’ala banyak menyampaikan perkataan dan nasihat untuk orang-orang yang tidak menyibukkan dirinya dalam berbagai macam amal ketaatan atau amal ibadah. Juga tidak memiliki perhatian dalam beramal kebaikan.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

مثل علم لايعمل به كمثل كنز لاينفق منه في سبيل الله عز و جل

“Permisalan ilmu (agama) yang tidak diamalkan itu seperti tabungan harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah.” [1]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya tentang seseorang yang memperbanyak menulis hadits, beliau berkata,

“Sepatutnya dia memperbanyak amal dengan hadits sekadar dengan peningkatan (tambahan) hadits yang dia dapatkan.”

Kemudian beliau berkata lagi,

سبل العلم مثل سبل المال، إن المال إذا ازداد ازدادت زكاته

“Jalan (untuk mendapatkan) ilmu itu seperti jalan (untuk mendapatkan) harta. Jika harta bertambah, bertambah pula zakatnya.” [2]

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah berkata,

“Sebagaimana harta itu tidak bermanfaat kecuali dengan dibelanjakan, demikian pula ilmu itu tidaklah bermanfaat kecuali bagi orang yang mengamalkannya, dan memperhatikan kewajibannya. Maka hendaklah seseorang itu memperhatikan dirinya sendiri dan memanfaatkan waktunya. Karena sesungguhnya tempat tinggal kita di dunia hanyalah sebentar, kematian kita sudah dekat dan jalan itu sungguh menakutkan. Mayoritas manusia tertipu dengan dunia dan masalah (nasib di akhirat) adalah masalah yang besar. Adapun yang mengawasi kita adalah Dzat Yang maha melihat, Allah Ta’ala senantiasa mengawasi kita, dan kepada Allah-lah tempat kembali.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“Barangsiapa yang beramal seberat semut kecil berupa kebaikan, dia pun akan melihat hasilnya. Dan barangsiapa yang beramal seberat semut kecil berupa keburukan, dia pun akan melihat hasilnya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8) [3]

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

أنزل القرآن ليعمل به؛ فاتخذ الناس تلاوته عملا

“Al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Sedangkan manusia menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai amalnya.”

Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan perkataan Hasan Al-Bashri di atas dengan mengatakan, “Maksudnya, sesungguhnya manusia hanya mencukupkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan meninggalkan beramal dengan Al-Qur’an.” [4]

Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.’ (QS. Ghafir [40]: 60)

Apa pendapatmu ketika kami berdoa namun tidak dikabulkan?”

Ibrahim pun berkata kepada orang tersebut, “Ini disebabkan oleh lima perkara.”

Orang tersebut bertanya, “Apa itu?”

Ibrahim bin Adham menjawab, “(1) Engkau mengenal Allah, namun Engkau tidak menunaikan hak Allah (yaitu ibadah, pen.). (2) Engkau membaca Al-Qur’an, namun Engkau tidak mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. (3) Kalian mengatakan, ‘Kami mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, namun kalian tinggalkan sunnah-sunnah beliau. (4) Kalian mengatakan, ‘Kami melaknat iblis’, namun kalian justru mentaatinya. (5) Kalian tinggalkan aib-aib (kekurangan) kalian, dan kalian sibuk dengan aib orang lain.” [5]

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hazim [6] yang mengatakan,

رضي الناس اليوم بالعلم و تركوا العمل

“Hari ini manusia puas dengan ilmu dan mereka meninggalkan amal.” [7]

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya seorang hamba jika mencari ilmu untuk mengamalkannya, maka ilmu akan masuk ke dalam hatinya (sehingga membuahkan amal, pen.). Jika dia menuntut ilmu untuk selain tujuan tersebut, maka dia akan semakin bertambah maksiat atau semakin sombong (dengan ilmunya).” [8]

Termasuk perkataan yang paling indah dalam masalah ini adalah perkataan Sufyan rahimahullah ketika ditanya, “Dikatakan kepada beliau, manakah yang lebih Engkau cintai, menuntut ilmu ataukah beramal?”

Sufyan menjawab,

إنما يراد العلم للعمل، فلا تدع طلب العلم للعمل، ولا تدع العمل لطلب العلم

“Sesungguhnya ilmu itu hanyalah dimaksudkan untuk diamalkan. Maka janganlah Engkau meninggalkan menuntut ilmu dengan alasan sibuk beramal. Namun janganlah Engkau meninggalkan beramal dengan alasan sibuk menuntut ilmu.” [9]

Artinya, dua hal ini (menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu), haruslah dilaksanakan secara seimbang.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. [10]

[Selesai]

***

@Bornsesteeg NL 6C1, 17 Ramadhan 1439/ 2 Juni 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Catatan kaki:

[1]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’ (hal. 12). Al-Albani berkata, “Sanadnya mauquf dan tidak masalah.”

[2]     Idem., hal. 148.

[3]     Idem., hal. 20.

[4]     Talbis Ibliis, hal. 137.

[5]     Jami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1220.

[6]     Beliau adalah Salamah bin Dinar Al-A’raj, yaitu seorang ahli ibadah yang tsiqah.

[7]     Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-‘Ilal (2659).

[8]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’ (hal. 31, 32, 33). Al-Albani berkata, “Sanadnya mauquf dan tidak masalah.”

[9]     Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 7/12.

[10] Disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 41-45.

sumber: https://muslim.or.id/41889-sibukkanlah-dirimu-dalam-amal-shalih.html

Luangkan Waktumu untuk Membaca Al-Qur’an!

Penulis: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Saudariku…
Jangan karena kesibukan dan banyaknya kegiatan menjadikan kita lupa untuk membaca dan mentadaburi al-Qur’an. Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman dapat diperoleh dari Al-Qur’an.

Hal ini berdasarkan firman Alloh, “Ingatlah hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)

Dari Abdullah bin Mas’ud radiallohu ‘anhu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.”
 (Shahih HR.Tirmidzi)

Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,

“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, “Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)

Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,

“Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya.

Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana  dia  dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.”

Wahai saudariku, jangan sampai waktu kita tidak ada sedikitpun untuk membaca atau membaca Al-Qur’an. Berusahalah, walaupun sedikit waktu tersisa.

***

sumber: https://muslimah.or.id/565-luangkan-waktumu-untuk-membaca-al-quran.html

Apa Maksud Doa Anak Soleh?

Apa Maksud Doa Anak Soleh?

Ada hadis bahwa amal para hamba terputus kecuali 3 hal, salah satunya, anak soleh yang mendoakannya. Apa maksud anak soleh yang mendoakannya? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Hadis yang anda maksud diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya. (HR. Ahmad 9079, Muslim 4310, Abu Daud 2882 dan yang lainnya).

Siapa Anak Soleh itu?

Dalam kitab Aunul Ma’bud, Syarh Sunan Abi Daud, disebutkan dua keterangan ulama tentang makna anak soleh dalam hadis ini,

[1] Anak soleh adalah anak muslim yang menjalan kewajiban agama dan menjauhi dosa besar.

Kemudian dibawakan keterangan Ibnu Malik, yang mengatakan,

قيد الولد بالصالح لأن الأجر لا يحصل من غيره

Anak ini diberi sifat soleh, karena pahala tidak akan diperoleh dari selainnya.

[2] Anak soleh dalam hadis maksudnya adalah anak yang mukmin. Ini merupakan keterangan Ibnu Hajar al-Makki.

Dan inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran, insyaaAllah. Hanya ikatan iman, yang akan abadi sehingga doa anak bisa sampai ke orang tuanya.

(Aunul Ma’bud, 8/62)

Apakah hanya Doa Anak yang Sampai?

Doa setiap muslim kepada muslim yang lain bisa sampai, meskipun dia telah berpisah alam. Yang satu masih hidup, yang satu sudah meninggal. Allah ajarkan doa dalam al-Quran,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

Ayat ini menganjurkan agar kaum muslimin generasi setelah para sahabat, untuk mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin generasi pendahulunya. Memohon ampunan untuk mereka yang masih hidup dan untuk mereka yang sudah meninggal.

Ini dalil bahwa doa sesama muslim bisa sampai kepada mereka yang telah meninggal, meskipun tidak ada hubungan keluarga.

Lalu mengapa dalam hadis ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut anak soleh yang mendoakan orang tuanya?

Ada dua penjelasan ulama dalam hal ini,

[1] Tujuannya dalam rangka memotivasi anak agar rajin mendoakan orang tuanya

Kata al-Munawi,

وفائدة تقييده بالولد مع أن دعاء غيره ينفعه تحريض الولد على الدعاء

Tujuan disebutkan doa anak, padahal doa selain anak juga bisa sampai ke mayit adalah memotivasi anak untuk rajin mendoakan orang tuanya. (Aunul Ma’bud, 8/62).

[2] Bahwa semua amal anak bisa sampai ke orang tuanya, sekalipun anak tidak mendoakannya. Sebagaimana sedekah jariyah bisa mengalirkan pahala selama apa yang dia sedekahkan dimanfaatkan masyarakat, meskipun orang yang memanfaatkannya tidak pernah mendoakannya. (Syarh Sunan Ibn Majah, as-Suyuthi, hlm. 22).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/26254-apa-maksud-doa-anak-soleh.html