Hijrah Bersama Karena Allah

Hijrah Bersama Karena Allah

Sobat, hijrah adalah jalan terbaik dalam meraih nikmatnya hidayah. Ketentraman, kebahagiaan, kelapangan, dan kesenangan akan anda peroleh. Bukankah hijrah itu nikmat? Apalagi kau landasi jalan hijrahmu karena Allah semata. Namun rasa berat untuk meninggalkan masa lalu yang kelam (dosa-dosa dan kebiasaan buruk) hanya berlaku bagi mereka yang tak melandasi hijrahnya karena Allah. Adapun bagi yang meninggalkan maksiat tersebut dengan jujur dan ikhlas karena Allah dari lubuk hati yang paling dalam, ia tidak akan mendapatkan kesusahan sama sekali, kecuali pada awalnya saja. Dan begitulah jalan kehidupan manusia. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪ

“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)

Balasan bagi orang yang hijrah

Bagi orang-orang yang jujur dan ikhlas dalam hijrahnya ia kan mendapat balasan kenikmatan, dengan tambahan rizki. Memang hijrah itu tidaklah mudah, sebab hal ini sebagai ujian baginya, apakah ia jujur dalam meninggalkan suatu keburukan karena Allah atau hanya pura-pura saja. Padahal, seandainya ia mau bersabar sedikit saja, kesusahan dan rasa berat itu akan segera mejadi lezat dan manis. Dengan hijrah ia mendapati bahwa rizki Allah itu luas dan bumiNya sangat luas. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.” (QS. An-Nisaa: 100)

Yang dimaksud مُرَاغَمًا dalam ayat diatas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Razi, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah ke negeri lain, niscaya akan mendapat di negerinya yang baru itu kebaikan dan kenikmatan yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuhnya yang berada di negeri asalnya. Sebab orang yang memisahkan diri dan pergi ke negeri asing, sehingga mendapatkan ketentraman di sana, lalu berita itu sampai kepada negeri asalnya, niscya penduduk asli negeri itu akan malu atas buruknya mu’amalah (perlakuan) yang mereka berikan, sehingga dengan demikian mereka merasa hina.” (At-Tafsirul Kabir, 11/15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5/407)

Sedangkan yang dimaksud, سَعَةً (keluasan), yaitu keluasan rizki. Inilah yang dikatakan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu dalam menafsirkan ayat ini. Juga dikatakan oleh Ar-Rabi’, Adh-Dhahhak, Atha dan mayoritas ulama. [Lihat Zadul Masir 2/179 Ruhul Ma’ani 5/127, Tafsir Al-Manar 5/359, Aisarut Tafasir 1/445]

Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah mengatakan, “Saya mendengar Syuraih bin Al Harits Al Qadhi bersumpah atas nama Allah, bahwa tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah kemudian ia menjadi benar-benar kehilangan. Tetapi pasti ia akan mendapatkan gantinya. Karena telah benar hadits yang menyatakan, ‘siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik baginya.’”

Adapun pengganti itu bentuknya bermacam-macam, yang paling berharga adalah rasa tenang dengan Allah, kecintaan kepada-Nya, ketentraman hati kekuatan dan semangat jiwa, kegembiraan dan keridhaan terhadap Rabbnya. Allahua’lam. (Al Fawaid karya Ibnul Qayyim)

Teladan hijrah Nabi dan para Sahabat

Walau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tiada namun perjalanan hijrah mereka dari dahulu dan sampai sekarang masih menyisakan hikmah yang sangat luar biasa. Orang yang hanya mengetahui sedikit tentang sejarah Islam pun sudah tahu akan peristiwa hijrahnya para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.

Lihatlah ketika para sahabat meninggalkan rumah-rumah, harta benda dan kekayaan mereka untuk hijrah di jalan Allah Ta’ala, Allah serta merta mengganti semuanya. Allah memberikan kepada mereka kunci-kunci negeri Syam, Persia dan Yaman. Allah berikan kepada mereka kekuasaan atas istana-istana negeri Syam yang merah, juga istana Mada’in yang putih. Mereka juga dibukakan pintu-pintu Shan’a, serta ditundukkan untuk mereka berbagai simpanan kekayaan Kaisar dan Kisra.Related Articles

Landasi hijrahmu dengan ilmu

Maka landasilah hijrahmu dengan niatan karena Allah Ta’ala semata. Untuk mencari ridhonya, niscaya kau akan dapati kenikmatan yang luar biasa.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363)

Doa dikuatkan dalam hijrah

Doa berikut ini sebaiknya sering kita amalkan dan sudah selayaknya kita hafalkan dalam setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah agar kita terjaga diatas hidayah dan agamaNya,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lanaa Min-Ladunka Rahmatan, innaka Antal-Wahhaab. (Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia).) (QS. Ali Imran: 8)

Dan doa ini,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya Muqallibal Quluubi Tsabbit Qalbiy ‘Alaa Diinika. (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.) (HR. At-Tirmidzi no. 3522, lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2792)

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Ruwaifi’ Saryanto, S.Pd.I. حفظه الله

sumber: https://bimbinganislam.com/hijrah-bersama-karena-allah/

Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia?

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.

Pertama, tidak ingkar melunasi hutang عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه

Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Muttafaqun ‘alaih

Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannyaعَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannyaعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: “Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 2603)

Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).

Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.” Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3312)

Keenam, yang memberikan makanan 
عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد

Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3318)

Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى

Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).

Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusiaعَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).

*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zain, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA

Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Sumber: https://muslim.or.id/8144-apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html

Hasil Quis Pekan 7 – kitabut Tauhid bag.2

catatan: sebelumnya tim mohon maaf, ada kesalahan teknis saat menginput soal. karenanya sebagian soal quis tidak berasal dari 5 materi terakhir yang telah dipelajari pekan ini. namun, mudah2an kesalahan yang sama tidak terulang kembali kedepannya. 🙏


Masyaallah walhamdulillah, apresiasi yang luar biasa kepada 225 perserta yang ambil bagian dari Quis pekan ke-7 kitabut tauhid bagian 2 ini. masyaallah terimakasih. kami kira ini akan menjadi evaluasi yang bermanfaat bagi antum, dan tentunya feedback yang berharga bagi kami.

langsung aja, mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan ekspetasi yaa👍


Ringkasan

https://docs.google.com/forms/d/1Kl3zRx_xymKKOOhLkxM3bJ3Gk6SBh0AmsUw7nvAoXL4/viewanalytics


Peringkat Pria/Ikhwan

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1rDHcWimcAtHiwSJhE4RL_S7jQFak6FmR5qO45Qr5rGw/edit?usp=sharing


Peringkat Wanita/Akhwat

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1k8vqjo8YdR_zs-q43hIjpHZIrIKsB79hkjlWa_NDfvU/edit?usp=sharing

Melawan Hawa Nafsu dan Meninggalkan Sebab-Sebabnya

KAJIAN TENTANG MELAWAN HAWA NAFSU DAN MENINGGALKAN SEBAB-SEBABNYA

11. BERUSAHA UNTUK SELALU MELAWAN HAWA NAFSU

Hendaknya seseorang berusaha untuk selalu melawan hawa nafsunya secara bertahap, sedikit demi sedikit. Sampai dia mendapatkan nikmatnya mengalahkan hawa nafsu. Karena dengan demikian kekuatannya akan menjadi mantap dan barangsiapa yang merasakan lezatnya mengalahkan hawa nafsu, maka ia akan merasakan bahwasanya itu adalah kelezatan yang sangat luar biasa. Dan dengan membiasakan diri untuk melakukan perbuatan-perbuatan atau amalan-amalan yang berat, maka seseorang akan terbiasa untuk melakukan amalan-amalan tersebut.

Dapat kita lihat orang-orang yang bekerja untuk mengangkat barang-barang dan pekerja-pekerja berat, kekuatan mereka terus bertambah. Sebaliknya orang-orang yang pekerjaannya sebagai tukang jahit atau semacamnya, maka kekuatan mereka tidak bertambah seperti orang yang memang bekerja berat. Barangsiapa yang meninggalkan kesungguhan untuk melawan hawa nafsu maka agamanya akan selalu berkurang dan syahwatnya akan menjadi kuat. Dan barangsiapa yang selalu membiasakan diri untuk melawan hawa nafsunya, ia akan menang atas hawa nafsunya kapanpun dia inginkan. Ini adalah terjemahan dari perkataan Ibnu Qayyim dan ini adalah faktor yang ke-11 yang dapat membantu seseorang untuk menjauhi perbuatan dosa dan maksiat.

Bermujahadah atau bersungguh-sungguh untuk mengalahkan godaan-godaan untuk berbuat maksiat. Karena sesungguhnya diantara keutamaan untuk bermujahadah,mengalahkan hawa nafsu dan setan adalah seseorang akan mendapatkan kekebalan untuk melawan hawa nafsu dan setan tersebut. Dan dengan selalu berusaha bersungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu dan setan, akan menjadi lemah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat dan akan mudah baginya untuk meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut[29]: 69)

Juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَيَزِيدُ اللَّـهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ..

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk…” (QS. Maryam[19]: 76)

Dan seorang muslim apabila selalu bermujahadah, bersungguh-sungguh melawan godaan-godaan setan, ajakan-ajakan hawa nafsu, ajakan-ajakan untuk berbuat maksiat, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan dia mendapatkan jalan hidayah. Sebaliknya orang yang menyerah terhadap godaan-godaan setan, menyerah dengan hawa nafsunya, maka ia akan lemah untuk melawan hawa nafsu tersebut bahkan ia akan menjadi tawanan dari syahwatnya.

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah, orang yang paling sempurna hidayahnya adalah orang yang paling kuat dalam bermujahadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Dan Jihad yang paling wajib adalah jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan diri sendiri, jihad melawan setan dan jihad mengalahkan nafsu dunia. Dan barangsiapa yang berjihad melawan empat hal ini, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya petunjuk kepada jalan-jalan yang Ia ridhai yang tentu jalan tersebut akan menyampaikan ia kepada surgaNya. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan ketinggalan, dia tidak akan mendapatkan petunjuk sebagaimana ia meninggalkan jihad dijalan-jalan yang kita sebutkan tadi.

12. MENAHAN DIRI DARI FIKIRAN-FIKIRAN BURUK

Apabila fikiran-fikiran buruk melintas difikiran seseorang dan dia hilangkan fikiran tersebut, tidak membiarkannya tinggal dalam kepalanya, maka fikiran tersebut akan hilang. Akan tetapi jika fikiran itu dibiarkan, maka fikiran tersebut akan berubah menjadi angan-angan. Dan angan-angan ini adalah modal orang-orang yang bangkrut.

Ketika fikiran-fikiran buruk tadi ada dalam hati seseorang, maka fikiran itu akan berubah menjadi angan-angan, kemudian berubah menjadi keinginan, kemudian keinginan menjadi keinginan yang lebih kuat lagi, sehingga setelah itu keinginan pun berubah menjadi perbuatan. Maka sungguh menolak atau menghilangkan fikiran buruk lebih mudah dari pada ketika seseorang telah terjatuh dalam perbuatan maksiat. Dan lebih berat ketika seseorang sudah terjatuh dan ingin mengulanginya lagi. Ini adalah terjemahan dari perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah dan ini adalah faktor ke-12 yang dapat membantu seseorang untuk menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. Yaitu memerangi atau menjauhi, meninggalkan fikiran-fikiran buruk yang mengajak seseorang untuk melakukan maksiat.

Sesungguhnya permulaan maksiat hanya sekedar fikiran yang melintas dalam hati seseorang. kemudian fikiran buruk tersebut berubah menjadi angan-angan kemudian angan-angan berubah menjadi keinginan yang tergerak dalam hati kemudian menjadi keinginan kuat sampai akhirnya menjadi perbuatan maksiat. Maka sungguh baik bagi seseorang untuk memutuskan fikiran-fikiran buruk tersebut ketika pertama kali muncul. Karena apabila fikiran-fikiran buruk tersebut dibiarkan, maka akan berubah menjadi maksiat dan ketika seseorang telah terjatuh kepada kemaksiatan, maka ia akan mudah untuk mengulangi maksiat itu kembali sampai ketika seorang telah terbiasa melakukan maksiat, hal itu menjadi biasa baginya.

Semoga Allah melindungi kita. Dan sungguh indah perkataan atau perumpamaan yang disebutkan oleh Imam Ahmad rahimahullah terhadap seseorang yang terjatuh dalam dosa-dosa. Yaitu seperti seorang yang berjalan di atas tanah yang penuh lumpur, kemudian orang tersebut berhati-hati untuk tidak terkena lumpur tersebut. Akan tetapi ketika kakinya sudah terlanjur tenggelam ke dalam lumpur tadi maka ia pun akan berjalan diatas lumpur dan tidak berhati-hati lagi. Begitu juga orang seorang hamba yang terlanjur terjatuh dalam suatu dosa. Apabila dia telah masuk, maka dia akan tenggelam dalam dosa tersebut.

13. MEMUTUSKAN SEGALA SEBAB-SEBAB YANG MENGAJAKNYA UNTUK MENGIKUTI HAWA NAFSUNYA

Dan bukanlah yang dimaksud disini yaitu seseorang tidak boleh mempunyai hawa nafsu sama sekali. Akan tetapi yang harus dilakukan yaitu memalingkan hawa nafsunya kepada hal yang bermanfaat baginya dan menggunakannya untuk melaksanakan apa-apa yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Karena dengan hal tersebut yang menggunakan hawa nafsunya dan dengan meninggalkan maksiat-maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia dan ia gunakan untuk Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah akan melindungi dia dari keburukan apa yang ia gunakan tersebut dari dirinya dan dari setan. Dan apabila dia tidak gunakan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia akan gunakan hal tersebut untuk dirinya dan hawa nafsunya.

Contohnya ilmu. Apabila ilmu tidak digunakan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dituntut untuk ikhlas pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka ilmu tersebut akan dituntut untuk hawa nafsu dan setan. Dan amal, apabila tidak dilakukan ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka amalan tersebut dilakukan untuk riya’ dan kemunafikan. Juga harta, apabila tidak diinfakkan dijalan Allah subhanahu wa ta’ala,maka harta tersebut akan dibelanjakan untuk jalan-jalan setan dan hawa nafsu. Kedudukan apabila tidak digunakan untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka orang yang mempunyai kedudukan tersebut akan menggunakan kedudukannya untuk hawa nafsunya dan keinginan-keinginan dia sendiri. Kekuatan, jika tidak digunakan untuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala maka kekuatan tersebut akan digunakan oleh orang yang memiliki kekuatan untuk bermaksiat kepadaNya.

Maka barangsiapa yang membiasakan diri untuk beramal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada yang lebih sulit baginya kecuali beramal untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya beramal untuk hawa nafsu dan dirinya sendiri, maka tidak ada yang lebih sulit baginya kecuali beramal ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ini masuk dalam semua bab-bab amalan. Tidak ada yang lebih berat dari orang yang terbiasa menggunakan hartanya dijalan Allah subhanahu wa ta’ala kecuali ia menginfakkan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu pula sebaliknya. Ini adalah faktor ke-13 yang dapat membantu seseorang untuk meninggalkan dosa dan maksiat. Yaitu memalingkan hawa nafsunya kepada apa yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam dunia ini banyak sekali hal-hal yang dapat membandingkan seseorang untuk melaksanakan kebatilan dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Maka wajib bagi seorang hamba untuk berusaha memutuskan segala sebab-sebab yang mengajak dia untuk melakukan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan bersungguh-sungguh untuk mengalahkan hawa nafsunya dan memalingkan hawa nafsu tersebut kepada hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang jihad apa yang paling afdhal, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan:

أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِي ذَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Engkau bermujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu) untuk meraih keridaan Allah subhanahu wa ta’ala” (HR. Abu Nu’aim. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1496)

Juga Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang tunduk terhadap hawa nafsu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّـهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّـهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿٢٣﴾

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah[45]: 23)

Berkata Qatadah rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini yaitu orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai illahnya. Yaitu tidaklah dia menginginkan sesuatu kecuali dia melakukannya karena dia tidak takut kepada Allah ‘azza wa jalla.

Berkata Ibnu Qayyim di dalam kitab beliau Raudhatul Muhibbin. Satu pembahasan ketika mencela tentang hawa nafsu, beliau menyebutkan 50 perkara yang dapat membantu seseorang untuk mengalahkan hawa nafsunya dan bagaimana cara dia menjadikan hawa nafsunya ikut terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala sesuai dengan apa yang diinginkan, dicintai dan diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan diakhir pembahasan tersebut dia mengatakan bahwa sesungguhnya tidak mengikuti hawa nafsu akan menyebabkan seseorang mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat dan akan mendapatkan kemuliaan yang dzahir dan yang batin. Adapun mengikuti hawa nafsu, akan membuat seseorang terjatuh derajatnya di dunia dan di akhirat dan dia akan hina secara lahir maupun secara batin.

sumber: https://www.radiorodja.com/45454-melawan-hawa-nafsu-dan-meninggalkan-sebab-sebabnya

5 Cara Mengendalikan Emosi dalam Islam

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,

لا تغضب ولك الجنة

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)

Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.

Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)

Kedua, DIAM dan jaga lisan

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.

Ketiga, mengambil posisi lebih rendah

Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,

“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.

Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.

Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.

Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.

Mengapa duduk dan tidur?

Al-Khithabi menjelaskan,

القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)

Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.(HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.

Mula Ali Qori mengatakan,

وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ

Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).

Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:

Hadis dari Ibnu Umar,

من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.

Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.

‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”

Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,

‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’

Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).

Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.

Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..

وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب

“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).

Kelima, Segera berwudhu atau mandi

Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.

Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,

Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,

‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’

Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,

‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,

الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل

Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.

Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.

(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).

Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.

Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).

Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,

إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه

Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).

Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,

يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي

Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.

(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)

اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah

[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]

Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina http://www.KonsultasiSyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html

Agar Aurat tidak Dilihat Jin

pertanyaan:

Salam

Seperti yang kita tahu, jin bisa melihat kita sementara kita tidak bisa melihat jin. Nah ketika kita butuh utk melepas pakaian, msal mandi atau buang air, berarti jin juga melihat aurat kita? Lalu apa mereka punya syahwat dg kita? Wah.. bgmn klo jin laki melihat daerah kewanitaan. Brarti bahaya dong klo jin nakal… Mohon bantuannya tadz. Makasih…

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Benar bahwa jin bisa melihat kita sementara kita tidak bisa melihat jin. Allah tegaskan dalam al-Quran,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ …

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs. Al-A’raf:27)

Ayat ini berlaku umum. Artinya, jin bisa melihat kita dalam semua keadaan, baik ketika kita memakai pakaian atau melepas pakaian. Sehingga jika dibiarkan, jin bisa melihat aurat manusia ketika dirinya tidak mengenakan pakaian.

Solusi Agar Aurat Tidak Dilihat Jin

Bagian dari kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, beliau ajarkan kepada mereka berbagai macam sunah yang akan menyelamatkan mereka dari bahaya dunia dan akhirat. Tak terkecuali bahaya jin yang berada di sekitarnya.

Cara yang beliau ajarkan, agar aurat kita tidak dilihat jin adalah dengan membaca basmalah ketika membuka pakaian.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِتْرُ ما بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَبَيْنَ عَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ ، إِذَا خَلَعَ الرَّجُلُ ثَوْبَهُ أَنْ يَقُولَ : بِسْمِ

Tabir antara pandangan mata jin dengan aurat bani adam (manusia) adalah apabila seseorang melepas pakaiannya, dia membaca:bismillah. (HR. Ibnu Adi, at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath – al-Mathalib al-Aliyah, al-Hafidz Ibnu Hajar, no. 37).

Demikian pula, ketika seseorang hendak masuk kamar mandi, dia dianjurkan untuk membaca basmalah, sebagai tabir auratnya dari pandangan jin. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ

Tabir antara pandangan mata jin dengan aurat bani adam (manusia) adalah apabila seseorang masuk kamar mandi, dia membaca:bismillah. (HR. Turmudzi 606, dan dishahihkan al-Albani).

Imam An-Nawawi mengatakan,

قال أصحابنا: ويستحبّ هذا الذكر سواء كان في البنيان أو في الصحراء ، قال أصحابنا رحمهم الله : يُستحبّ أن يقول أوّلاً: ” بسم الله ” ثم يقول: ” اللَّهُمَّ إني أعُوذُ بِكَ من الخُبْثِ والخَبائِثِ

Para ulama madzhab kami – syafiiyah – mengatakan, ‘Dianjurkan membaca basamalah ini, baik ketika buang air di dalam bangunan atau di luar rumah.’ Mereka juga menjelaskan, dianjurkan untuk membaca: ’Bismillah’ terlebih dahulu, kemudian membaca:

اللَّهُمَّ إني أعُوذُ بِكَ من الخُبْثِ والخَبائِثِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan segala sebab keburukan. (al-Adzkar, hlm. 26).

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina http://www.KonsultasiSyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/21983-agar-aurat-tidak-dilihat-jin.html

MALULAH KEPADA ALLAH WAHAI ORANG-ORANG YANG BERMAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 
Rasa malu yang paling tinggi kedudukannya, paling mulia keadaannya, dan yang paling utama untuk kita perhatikan adalah rasa malu kepada Allah tabaraka wa taala. Ya, rasa malu kepada Sang Pencipta alam semesta, rasa malu kepada Zat yang melihat kita di mana pun kita berada. Dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala yang kita lakukan. Allah ﷻ berfirman:
 
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى
 
“Tidaklah dia mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” [QS. Al-Alaq: 14]
 
Allah ﷻ juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
 
“Sesungguhnya Allah mengawasi kalian.” [QS. An-Nisa: 1]
 
Malulah kepada Allah dalam keramaian dan sepi. Malulah kepada-Nya saat engkau diawasi orang lain maupun dalam keadaan tersembunyi.
 
Rasa malu kepaa Allah ﷻ itu adalah akhak mulia yang bisa diperoleh dengan tiga cara:
 
Pertama: Melihat betapa banyak nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada kita.
 
Kedua: Melihat betapa kurangnya kita memenuhi hak-Nya dan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan-Nya kepada kita, baik melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya.
 
Ketiga: Kita mengetahui dan berusaha memunculkan kesadaran, bahwa Allah melihat setiap keadaan dan gerak-gerik kita di setiap saat dan di mana pun kita berada. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
 
Apabila perasaan ini telah terkumpul dalam hati sanubari seorang hamba, ia akan merasakan rasa malu yang begitu kuat kepada Allah tabaraka wa taala. Lalu dari sifat malu inilah muncul kebaikan-kebaikan lainnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
 
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
 
“Rasa malu itu hanya akan mendatangkan kebaikan.”
 
Apabila di dalam hati seorang hamba terdapat rasa malu kepada Allah Jalla wa ‘Ala, terjagalah dirinya dari akhlak rendah, muamalah yang jelek, dan perbuatan yang haram. Jiwa kita hanya akan terdorong melakukan kewajiban, memerhatikan akhlak yang mulia, dan adab yang indah.
Nasihat dari Tafsir As Sa’di rahimahullah:
موعظة من تفسير السعدي:
فَلْيَسْتَحِ المجرم من ربه أنْ تكون نِعَمُ اللهِ نازلة عليه في جميع اللحظات، ومعاصيه صاعدة الى ربه في كل الأوقات.
[تفسير سورة النحل الآيات: 45-47].
“Hendaknya orang-orang yang bermaksiat merasa malu kepada Rabb-nya.
Di mana nikmat-nikmat Allah selalu turun kepadanya di setiap saat,
Sedangkan kemaksiatan-kemaksiatannya selalu naik kepada-Nya di setiap waktu.” [Tafsir surat An Nahl: 45-47]

SEBAIK-BAIK TEMAN & TETANGGA

١٠٣ – خَيْرُ ْلاَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِه ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَاللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِه .

          “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang terbaik di antara mereka terhadap sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik di antara mereka terhadap tetangganya.”

          Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (1/353), Ad-Darimi (2/215), Al-Hakim (4/164), Ahmad (2/168) dan Ibnu Busyran dalam Al-Amali (143/1) dari Haiwah dan Ibnu Luhai’ah, keduanya mengatakan, “Syarahbil bin Syarik bercerita kepada kami bahwa ia mendengar Abu Abdurrahman Al-Habli, menceritakan dari Abdullah bin Amr secara marfu’.

          Demikianlah mereka semua mengeluarkan hadits tersebut dari keduanya. Kecuali At-Tirmidzi, tidak menyebutkan Ibnu Luhai’ah. Demikian pula Al-Hakim, hanya saja dia berbeda dalam isnadnya dimana dia mengatakan:

          “…Haiwah bin Syarih, bercerita kepadaku dari Syarahbil bin Muslim, dari Abdullah bin Amr.”

          Kemudian Al-Hakim menjadikan Syarahbil bin Muslim menjadi ganti Syarahbil bin Syarik, dan menggugurkan sanad dari Abu Abdurrahman Al-Habli. Semua itu karena adanya asumsi tertentu. Kemudian dia juga mempunyai dugaan lain, sehingga mengatakan:

          “Hadits ini sesuai dengan syarat Bukhari-Muslim”, penilaian itu juga disepakati oleh Adz-Dzahabi.

          Saya berpendapat: Asy-Syaikhain (Bukhari-Muslim) tidak mentakhrij Ibnu Muslim. Adapun Ibnu Syarik dibuat hujjah oleh Imam Muslim demeikian pula Ibnu Muslim. Dalam hal ini Ibnu Busyran, di penghujung hadits tersebut mengatakan: Hadits ini adalah shahih dan semua perawinya adalah tsiqah.

          Demikianlah Ibnu Busyran mengatakan. Sedangkan At-Tirmidzi menilainya lain:

          “Hadits ini hasan gharib.”

sumber: https://alquran-sunnah.com/kitab/Shahihah/SWBAIK%20BAIK%20TEMAN%20DAN%20TETANGGA.htm

Tidak Sengaja Tertidur Padahal Sudah Niat Shalat Malam

Pertanyaan: 

Bismillāh.

Assalāmu’alaikum warahmatullāh wabarakātuh…

Ana mau tanya soal ibadah shalat sehari semalam 40 rakaat yang terdiri dari 17 rakaat sholat fardhu, 12 rakaat rowatib, dan 11 rakaat tahajud ditambah witir. Jika suatu waktu bangun untuk sholat malamnya terlambat /mendekati waktu subuh sehingga kita cuma bisa melakukan 7 rakaat saja, apakah 4 rakaat itu bisa ditutup dengan shalat dhuha atau shalat mutlak atau shalat sunnah lainnya?
Syukron wa Jazākallāhu khairan

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Wajazakallahu khairan katsiran atas pertanyaan dan do’a yang antum sampaikan,

Jika tidak sengaja tertidur padahal sudah berniat kuat untuk shalat malam sebelas rakaat, namun tidak sengaja terlewat waktunya karena capek, ngantuk dan lain sebagainya berupa unsur ketidak sengajaan diluar batas kemampuan, maka sudah mendapatkan pahala penuh dari apa yang diniatkan sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

عن ابن عباس رضي الله عنهما، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه تبارك وتعالى قال: فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة، وإن هم بها فعملها كتبها الله عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة، وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة وإن هم بها فعملها كتبها الله سيئة واحدة

dari Ibnu Abbas radhiiallāhu ‘anhuma dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam berdasarkan apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya tabāraka wa ta’āla bersabda:Related Articles

“Barangsiapa memiliki keinginan melakukan kebaikan akan tetapi tidak dia lakukan (karena udzur) maka Allah menulis di sisiNya kebaikan penuh. Dan jika dia memiliki keinginnan melaukan kebaikan, lantas benar-benar dia lakukan, Allah tulis di sisiNya sepuluh kali kebaikan, hingga 700 kali kebaikan hingga berlipat sangat banyak. Dan jika dia memiliki keinginan melakukan keburukan, namun tidak jadi dilakukannya, maka Allah tuliskan di sisiNya satu kebaikan. Dan jika dia memiliki keinginan buruk, kemudian benar-benar dilakukannya, Allah hanya akan menulis di sisiNya satu keburukan”.

HR Muslim : 131

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله

sumber: https://bimbinganislam.com/tidak-sengaja-tertidur-padahal-sudah-niat-shalat-malam/

Quis Pekan 7 kitabut tauhid bag. 2

Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

link alternatif

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Ahad pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 5 materi terakhir