Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
إِنَّالْـحَمْدَنَـحْمَدُهُ وَنَسْتَـعِيْنُهُ وَنَسْتَغْـفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّـئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِاللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْلَاإِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَـهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُـهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.
Nikmat yang Allah Karuniakan Sangat Banyak Tidak Terhingga
Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang tidak terhingga. Kalau kita mau hitung nikmat-nikmat Allah, maka kita tidak akan bisa dan tidak akan mampu menghitungnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [Ibrahim/14:34]
Kalau kita bandingkan antara nikmat-nikmat Allah yang kita peroleh dengan musibah, pasti yang banyak adalah nikmat. Adapun musibah hanya sebentar tidak lama.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada seluruh makhluk-Nya.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas semua nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat kepada-Nya.
Nikmat Allah yang Allah karuniakan kepada kita sangatlah banyak tidak terhingga. Semua yang ada pada kita, yang kita peroleh dan nikmati, dan yang diperoleh dan dinikmati oleh seluruh makhluk, semua datangnya dari Allah Rabbul ‘Aalamiin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [An-Nahl/16: 53]
Allah Tabaraka wa Ta’ala Menciptakan Manusia Untuk Memberikan Cobaan dan Ujian
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dan segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [At-Tiin/95:4]
Allah menciptakan manusia penuh dengan cobaan dan ujian yang akan manusia hadapi di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” [Al-Balad/90:4]
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Adam Alaihissallam dari tanah di Sorga dengan kedua tangan Allah yang mulia, kemudian Allah menciptakan manusia keturunan Adam dari setetes air mani. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا ﴿٢﴾ إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” [Al-Insaan/76:2-3]
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan Allah tunjuki manusia ke jalan yang membawa manusia kepada kebahagiaan dan yang membawa kepada celaka.
Imam Mujahid bin Jabr (wafat th. 104 H) rahimahullah mengatakan, “maksud dari ﱡ إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ ‘ Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus’, yang dimaksud adalah jalan celaka dan jalan bahagia” [1]
Di dalam ayat tersebut Allah menjelaskan jalan-jalan kebaikan dan jalan-jalan keburukan (kesesatan). [2]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“ Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” [Al-Mulk/67:2]
Makna “ …untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu ‘Ali! Apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar itu?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya amal apabila dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan apabila dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, maka tidak akan diterima hingga ia dilakukan dengan ikhlas dan benar. Yang dilakukan dengan ikhlas ialah hanya ditujukan untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala, sedangkan yang benar ialah sesuai dengan Sunnah.” [3]
Cobaan dan Ujian Merupakan Sunnatullah dalam Kehidupan
Hidup ini tidak bisa lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan Sunnatullah dalam kehidupan.
Hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan dan itu merupakan Sunnatullah yang tidak akan bisa berubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا
“(Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami.” [Al-Israa’/17:77]
سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” [Al-Ahzab/33:62]
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
“Karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu.” [Faathir/35:43]
Manusia akan diuji dengan segala sesuatu, baik dengan hal-hal yang disenanginya dan disukainya maupun dengan berbagai perkara yang dibenci dan tidak disukainya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” [Al-Anbiyaa’/21:35]
Tentang ayat ini, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan serta maksiat, petunjuk dan kesesatan.” [4]
Dalam riwayat lain darinya, “Dengan kesenangan dan kesulitan, dan keduanya merupakan cobaan.” [5]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” [Al-A’raaf/7:168]
Ibnu Jarirath-Thabari rahimahullah menafsirkan, “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam kehidupan, dan dengan kesenangan dunia serta kelapangan rizki. Inilah yang dimaksud dengan kebaikan-kebaikan ( الـحَسَنَاتُ ) yang Allah sebutkan (dalam ayat). Sedangkan yang buruk-buruk ( السَّيِّئَاتُ ) adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah, serta sedikitnya harta. Adapun ( لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ) “agar mereka kembali”, yaitu kembali taat kepada Rabb, agar kembali kepada Allah dan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat (yang mereka lakukan).” [6]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kami menguji mereka dengan kemudahan, kesulitan, kesenangan, rasa takut, ‘afiat, dan bencana.” [7]
Dari ayat-ayat di atas, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit itu merupakan bagian dari cobaan-cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, dan ia merupakan Sunnatullah yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmah-Nya.
Ketahuilah wahai saudaraku yang sedang terkena wabah, yang sedang sakit atau yang sedang tertimpa musibah, atau yang sedang mengalami kesulitan, kefakiran, kemiskinan, kelaparan dan lainnya, bahwa sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak menetapkan sesuatu, baik itu takdir kauni atau syar’i, melainkan di dalamnya terkandung kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya. Di dalam cobaan wabah virus Corona ini terkandung hikmah yang amat besar yang tidak mungkin bisa dinalar oleh akal manusia.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Andai kata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun, akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu semua makhluk akan sia-sia (tidak ada artinya) jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia (tidak ada artinya) di bawah sinar matahari. Dan ini pun hanya gambaran saja, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.” [8]
Berbagai cobaan, ujian, penderitaan, wabah, penyakit, kesulitan, dan kesengsaraan mempunyai manfaat dan hikmah yang sangat banyak.
Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan makhluk-Nya untuk memberikan cobaan dan ujian, lalu dia menuntut konsekuensi dari kesenangan, yaitu bersyukur dan konsekuensi dari kesusahan, yaitu sabar. Hal ini tidak bisa terjadi kecuali jika Allah membalikkan berbagai keadaan manusia sehingga peribadahan manusia kepada Allah menjadi jelas.
Jika seseorang benar-benar beriman, maka segala urusannya merupakan kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan ketika susah, ia bersabar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
“ Sungguh amat menakjubkan urusan orang Mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang Mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya .” [9]Baca Juga Wabah Virus Corona Sebuah Renungan
Orang yang Beriman Pasti Diberikan Cobaan dan Ujian oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al-‘Ankabuut/29:2-3]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) mengatakan, أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?”, ini adalah istifhaaminkariy (pertanyaan yang bersifat mengingkari). Maknanya, bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala harus menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang mereka miliki. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman di ayat yang lain,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ‘Imraan/3:142]
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ “Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”, Allah sudah menguji orang-orang sebelum mereka, yaitu orang-orang yang jujur dalam pengakuan keimanannya dari orang-orang yang dusta dalam perkataan dan pengakuannya. Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, apa yang belum terjadi seandainya terjadi dan bagaimana terjadinya. Ini merupakan sesuatu yang disepakati oleh para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. [10]
Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithiy rahimahullah (wafat th. 1393 H), “Makna ayat (di atas), bahwasanya manusia tidak akan dibiarkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala tanpa fitnah yaitu cobaan dan ujian, karena mereka berkata, ‘Kami beriman’. Bahkan apabila mereka berkata, ‘Kami beriman’, maka mereka pasti dicoba dan diuji dengan berbagai macam cobaan dan ujian, sehingga jelas dengan cobaan dan ujian tersebut siapa yang jujur dengan perkataan beriman dan siapa yang tidak jujur. [11]
Satu hal yang mustahil di dunia ada orang yang tidak diuji oleh Allah, kalau ada mestinya yang pertama kali adalah orang-orang yang dicintai Allah yaitu para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ . Seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ adalah orang-orang yang diuji oleh Allah dengan ujian yang berat, padahal mereka ma’shum [12] (terpelihara dari dosa).
Para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ Mereka Diuji oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan Ujian yang Berat
Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Ayyub, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi ‘Isa, dan Nabi Muhammad عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ . mereka semua diuji oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Nabi Nuh Alaihisshalatu wa sallam, Rasul yang pertama Allah uji dengan istrinya dan anaknya yang kufur, menentang Nabi Nuh dan tidak mau mengikuti agama Islam yang dibawa Nabi Nuh Alaihisshalatu wa sallam. Bagaimana Nabi Nuh Alaihisshalatu wa sallam melihat anaknya tenggelam di telan air bah dan ombak yang besar bersama orang-orang yang membangkang. Belum lagi ujian Nabi Nuh Alaihisshalatu wa sallam sebelum itu di ejek, dihina, dan diolok-olok oleh kaumnya.
Kemudian Nabi Ibrahim Alaihisshalatu wa sallam diuji oleh Allah dengan bapaknya yang membuat patung dan menyembah berhala, diuji juga dengan dilemparkan ke dalam api, diuji setelah menunggu lama kelahiran anaknya yang tercinta yaitu Ismail Alaihissalam agar anaknya disembelih atas perintah Allah, kemudian Allah ganti dengan domba yang besar, dan ujian-ujian yang lainnya, Nabi Ibrahim Alaihisshalatu wa sallam pun sabar atas cobaan dan ujian tersebut.
Kemudian Allah uji Nabi Musa Alaihisshalatu wa sallam dengan Bani Israil, Fir’aun, Samiri, dan ujian-ujian lainnya yang banyak sekali. Nabi Musa Alaihisshalatu wa sallam pun sabar atas cobaan dan ujian tersebut.
Dan orang Yahudi juga berusaha untuk membunuh Nabi Isa Alaihisshalatu wa sallam, kemudian usaha mereka digagalkan oleh Allah, Allah mengangkat Nabi Isa Alaihisshalatu wa sallam ke Langit.
Kemudian yang paling banyak cobaan dan ujiannya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mulai lahir sampai beliau wafat.
Bagaimana beliau di Mekkah dicela, diejek, dilempari kotoran binatang ketika shalat di depan Ka’bah, diusir, diboikot, diancam mau dibunuh beberapa kali, bahkan para shahabatnya Radhiyallahu anhum disiksa, dibunuh, diusir, dan lainnya.
Nabi Ayyub Alaihishalatu wa sallam diuji oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan Penyakit yang Parah
Penderitaan dan penyakit Nabi Ayyub Alaihissallam sungguh sangat berat. Nabi Ayyub Alaihissallam terkena penyakit yang amat parah selama 18 (delapan belas) tahun. Tidak hanya itu saja, bahkan Allah mewafatkan anak-anaknya yang ia cintai, begitu pula hartanya habis, ia menjadi orang yang fakir, ia hanya ditemani oleh istrinya dan dua orang temannya yang membantunya setiap hari. [13] Namun semua ujian dan cobaan itu diterima Nabi Ayyub Alaihisallam dengan sabar. Beliau Alaihisallam sabar dan ridha dengan takdir Allah yang pahit. Ia berkata dan berbuat dengan apa-apa yang diridhai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Allah Tabaraka wa Ta’ala memuji kesabaran Nabi Ayyub Alaihissallam di dalam firman-Nya,
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” [Shaad/38:44]
Nabi Ayyub Alaihissallam senantiasa berdo’a terus kepada Allah, memohon kepada Allah agar Allah mengampuninya dan mengangkat penyakitnya. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’” [Al-Anbiyaa’/21:83]
ﱠ ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
“(Allah berfirman), ‘Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’” [Shaad/38:42]
Dengan kesabaran Nabi Ayyub Alaihissallam dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, Nabi Ayyub Alaihissallam sembuh dari penyakit, seolah-olah belum pernah sakit sebelumnya, ia mendapatkan nikmat dari Allah. Allah memberikan kembali kekayaan yang dimilikinya dulu, bahkan lebih baik dan lebih banyak. Allah mengganti dengan lahirnya anak-anak sebagai ganti dari anak-anaknya yang sudah meninggal, bahkan jumlah anaknya lebih banyak, lebih baik, dan juga sholeh dan sholehah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
“Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” [Al-Anbiyaa’/21:84]
Semua ini berkat kesabaran Nabi Ayyub Alaihissallam dengan cobaan dan ujian yang berat yang Allah timpakan kepadanya, agar menjadi contoh bagi manusia tentang kesabaran dalam menghadapi penyakit, hartanya yang habis, menjadi fakir dengan sebab ujian tersebut, dan anak-anaknya semua meninggal dunia, dan lainnya. Beliau Alaihissallam terus berdo’a minta tolong kepada Allah bahwa tidak ada yang dapat menghilangkan atau mengangkat penyakit, bala’, wabah, kecuali hanya Allah semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Yunus/10:107]
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” [An-Naml/27: 62]
Ujian Manusia Bertingkat-Tingkat Tergantung Imannya
Manusia diberikan cobaan dan ujian oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tergantung kadar keimanan mereka.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اِشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَفِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.
“(Orang yang paling berat ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa .” [14]
Dari Abu Sa’idal-Khudri Radhiyallahu anhu beliau bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’, maka beliau bersabda,
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، قُلْتُ: يَارَسُوْلُ اللهِ، ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ، إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يُحَوِّيْهَا، وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُهُمْ بِالرَّخَاءِ.
“ Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi’, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian orang-orang sholeh. Sesungguhnya seorang dari mereka (dari orang-orang sholeh) diuji dengan kefakiran (kemiskinan), sehingga seorang dari mereka tidak mempunyai kecuali hanya satu pakaian saja yang dapat menutupi (auratnya). Dan sesungguhnya seorang dari mereka sungguh bergembira dengan bala’ (cobaan, ujian, musibah) yang menimpanya, sebagaimana seorang dari kalian bergembira di waktu lapang (kaya) . [15]Baca Juga Orang Yang Marah Bila Ditimpa Musibah
Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْـجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ ، وَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.
“ Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka (dengan cobaan). Barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah . [16]
Dalam hadits-hadits di atas menunjukkan bahwasanya ujian manusia itu bertingkat-tingkat, ujian orang-orang sholeh lebih berat, dan diantara kaum Muslimin yang ada sekarang ini belum lah sama ujian mereka dengan ujian orang-orang terdahulu. Ujian orang-orang terdahulu lebih berat, lebih sulit, dan bahkan banyak sekali memakan korban jiwa. Ujian berupa penyakit, kematian, kemiskinan, kelaparan, dan tantangan di medan dakwah. Ujian yang Allah berikan kepada kaum Muslimin pada zaman sekarang ini lebih ringan dibanding pada zaman dahulu. Misalnya dibunuhnya kaum Muslimin, pada zaman dahulu banyak kaum Muslimin yang disiksa, dibunuh, bahkan ratusan ribu kaum Muslimin yang dibunuh. Bahkan para Nabi banyak yang dibunuh, sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al-Baqarah/2: 61, Ali ‘Imraan/3: 21-22,112. Sedangkan seorang Nabi lebih mulia dari ratusan ribu manusia. Begitu pula ujian kelaparan, kefakiran, dan penyakit umat terdahulu lebih parah dibanding pada zaman sekarang. Seperti pada zaman dahulu ketika penyakit Tha’uun (wabah penyakit menular) menimpa para Shahabat, Tabi’iin dan seterusnya, yang membinasakan ribuan bahkan puluhan ribu kaum Muslimin yang meninggal. Sangat berat cobaan dan ujian mereka. Allahul Musta’aan . Allahumma Inna Nas-alukalal-‘Afwa wal ‘Afiyah.
Tujuannya Allah jadikan mereka sebagai contoh teladan bagi ummat Islam, bagaimana kuatnya iman mereka, tawakkal mereka kepada Allah, rasa harap mereka kepada Allah, dan yang paling penting lagi bagaimana kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan dan ujian. Dan Sorga disediakan bagi orang-orang yang sabar. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“ Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” [Az-Zumar/39:10]
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ ﴿٢٢﴾ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ ﴿٢٣﴾ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu ; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” [Ar-Ra’du/13: 22-24]
Wajib Beriman kepada Takdir Baik dan Buruk
Kondisi yang ada sekarang ini yang kita lihat, kita wajib mengimani tentang takdir yang buruk, takdir yang pahit, dan bahwasanya dengan adanya cobaan dan ujian wabah virus Covid-19, banyak kaum Muslimin yang meninggal dunia, banyak juga orang-orang kafir yang mati setiap hari. Adanya wabah virus Covid-19 ini dan adanya himbauan untuk di rumah saja, maka menimbulkan problem baru di masyarakat. Otomatis dengan adanya wabah virus Covid-19 ini roda perekonomian jadi lesu bahkan macet. Orang-orang miskin dan orang-orang yang susah tambah banyak, yang di PHK banyak, pengangguran pun tambah banyak. Yang seperti ini menimbulkan penyakit baru, yaitu penyakit stres, takut kena virus Corona dengan ketakutan yang berlebihan, sampai orang yang kena virus Covid-19 kemudian meninggal jenazahnya dibenci oleh masyarakat bahkan ditolak?? Sehingga jenazahnya tidak dishalatkan dan tidak bisa dikuburkan?? Apakah ini bukan kezhaliman? Atau masyarakat sudah hilang hati nurani dan akalnya?? Bagaimana yang meninggal dari keluarga kita kemudian diperlakukan seperti itu?? ini kondisi yang sudah sakit. Nas-alullaha as-Salaamatawal-‘Afiyah.
Begitu pula ketakutan yang berlebihan berkaitan dengan ibadah shalat di masjid, sampai tidak mau ke masjid untuk shalat berjama’ah, shalat Jum’at, tapi kerja masih jalan, masih suka ke pasar dan ke mall untuk belanja? Kenapa shalat berjama’ah di masjid ditempat yang bersih dan tidak kena wabah takut?? Shalat jum’at takut? Kenapa takut berlebihan?? [17] Ingat bahwa kematian merupakan satu kepastian. Kalo sudah datang ajalnya, kita pasti mati, bagaimanapun keadaannya. Kita wajib menjaga diri dan berhati-hati sesuai petunjuk dari pihak yang berwenang dan ahli dalam masalah ini.
Kemudian problem lain yang timbul akibat wabah Corona ini adalah timbulnya kerugian yang banyak dari para pengusaha kecil, pedagang-pedagang kecil, guru-guru dan lainnya. Membuat mereka tidak punya penghasilan, tidak punya uang, tidak bisa beli apa-apa, kelaparan, dan lainnya.
Inilah kehidupan, inilah cobaan, inilah ujian. Kita wajib melihat bahwa semua ini Allah yang menakdirkan dan Allah sudah tulis dalam Lauh Mahfuzh sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Kewajiban kita mengimani bahwa Allah yang menakdirkan semua ini, kita wajib meyakini bahwa Allah Maha Adil, Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya. Dan semua itu ada hikmahnya, dan apa yang Allah takdirkan semuanya baik.
Iman kepada takdir ada dua, sebagaimana di dalam hadits Jibril ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa itu iman? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ ، وَمَلَائِكَتِهِ ، وَكُتُبِهِ ، وَرُسُلِهِ ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
” Iman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul- rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk . ” [18]
Kita wajib mengimani takdir yang baik maupun takdir yang buruk, yang manis maupun yang pahit. Seluruh manusia tidak akan bisa menolak, ataupun menghindar dari takdir Allah. Semua berjalan menurut apa yang Allah sudah takdirkan, termasuk yang sekarang ini sedang menimpa kaum Muslimin. Apakah itu bentuknya ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa (banyak orang yang mati), dan kurangnya bahan-bahan makanan, buah-buahan dan lain sebagainya. Ini semua merupakan cobaan dari Allah.
Kalau semua terjadi di langit dan di bumi dan di alam semesta, dari hidup mati, senang susah, panas dingin, sehat sakit, kaya miskin, rasa aman takut, dan lainnya semua Allah sudah takdirkan, maka kewajiban kita dalam kondisi susah, sulit, fakir, sakit, ada yang meninggal dalam keluarga kita maupun masyarakat, kewajiban kita sabar, dengan mengimani dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Sayang. Kita sabar dengan melaksanakan perintah-perintah Allah, menjauhkan larangan-larangan-Nya, menjauhkan dosa-dosa dan maksiat. Dan sabar dengan tidak berkeluh kesah, tidak marah, tidak kesal terhadap takdir Allah. Berkeluh kesah, marah, bersedih, dan putus asa tidak dapat menghilangkan musibah, bencana, dan wabah yang sedang kita hadapi ini.
Bersambung ke bagian 2, dibawah
______
Footnote
[1] Tafsiirath-Thabari (XIV/251, no. 35767) cet. 1 Daarul A’lam-Jordan, th. 1423 H.
[2] Tafsiir Ibnu Katsiir (VIII/286) cet. III Daar Thaybah, th. 1426 H.
[3] Lihat Tafsiiral-Baghawi Ma’aalimut Tanziil (IV/435) cet. Daar Thaybah, dan al-‘Ubudiyyah (hlm. 84-85), tahqiqSyaikh Ali Hasan.
[4] Tafsiir ath-Thabari (X/35, no. 24590) cet. 1 Daarul A’lam-Jordan, th. 1423 H.
[5] Tafsiir ath-Thabari (X/35, no. 24587) cet. 1 Daarul A’lam-Jordan, th. 1423 H.
[6] Tafsiir ath-Thabari (VI/131). cet. 1 Daarul A’lam-Jordan, th. 1423 H.
[7] Tafsiir Ibnu Katsiir (III/498), tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah, cet. III Daar Thaybah, th. 1426 H
[8] Syifaa-ul ‘Aliil fii Masaa-ilil Qadaa’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’liil (III/1083) cet. II Daar ash-Shumai’iy, th. 1434 H/2013 H.
[9] Shahih: HR. Muslim (no. 2999) dan lainnya, dari Shuhaib Radhiyallahu anhu.
[10] Diringkas dari Tafsiir Ibnu Katsiir (IV/263), Tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah, cet. III Daar Thaybah, th. 1426 H.
[11] Adhwaa-ul Bayaan fii Iidhahil Qur’an bil Qur’an (VI/509), Isyraaf Syaikh Bakr Abu Zaid, cet, III Daar ‘Alamil Fawaa-id th. 1433 H.
[12] Ma’shum (terpelihara dari dosa), artinya kalau mereka salah langsung ditegur oleh Allah, mereka bertaubat, dan Allah menerima taubat mereka.
[13] Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 17).
[14] Hasan Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2398), Ibnu Majah (no. 4023), ad-Darimi (II/320), Ibnu Hibban (no. 699- Mawaarid ), al-Hakim (I/40,41), dan Ahmad (I/172, 174, 180, 185). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini Hasan Shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahihah (no. 143).
[15] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 4024) dan al-Hakim (IV/307). Al-Hakim berkata: Shahih menurut syarat Muslim, dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 144).
[16] Hasan : HR. at-Tirmidzi (no. 2396) dan Ibnu Majah (no. 4031). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash- Shahihah (no. 146).
[17] Himbauan untuk tidak shalat jama’ah dan jum’at di masjid itu berlaku ditempat yang terkena wabah menular saja, dan itu berlaku untuk sementara waktu saja. Adapun ditempat yang aman, tidak terkena wabah, dan bagi orang yang tidak sakit dan tidak takut, maka kembali kepada hukum asalnya, bahwa laki-laki wajib shalat berjama’ah dan Jum’at di masjid. Dan ini merupakan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib dilaksanakan (lihat Al-Baqarah/2:43, An-Nisaa/4: 102, At-Taubah/9: 18, dan Al-Jumu’ah/62:9). Mudah-mudahan dengan shalat dan do’a kaum Muslimin di masjid-masjid Allah, maka Allah angkat wabah virus corona ini. Aamiin.
[18] Shahih: HR. Muslim (no. 8), dari Shahabat ‘Umar biin Khattab Radhiyallahu anhu.
Bagian 2
Kabar Gembira Bagi Orang-Orang yang Sabar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innaa lillahi wainnaailaihiraaji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Baqarah/2:155-157]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H), menjelaskan ketika menafsirkan ayat ini. “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Ia pasti akan menguji para hamba-Nya dengan berbagai macam ujian. Tujuannya, agar jelas mana di antara hamba-Nya yang jujur dan dusta (dalam imannya), dan mana di antara mereka yang sabar dan tidak . Hal ini merupakan hukum Allah yang berlaku bagi para hamba-Nya. Karena, apabila kesenangan itu terus menerus menyertai orang-orang beriman dan tidak ada sedikitpun ujian, maka pasti akan terjadi percampuran (antara yang baik dan buruk), yang itu artinya adalah kerusakan.
Hikmah Allah mengharuskan adanya perbedaan antara orang yang baik dengan buruk, dan ini hakikatnya merupakan faedah dari ujian (yang diberikan). Ujian itu bukan untuk menghilangkan keimanan dan mengeluarkan seseorang dari agamanya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan hamba-Nya.
Oleh karenanya, pada ayat ini Allah mengabarkan bahwa Dia akan menguji para hamba-Nya ( dengan sedikit ketakutan ) dari musuh-musuh. ( Kelaparan ) maksudnya : Allah akan menguji dengan sedikit dari dua perkara tersebut. Kalau seandainya Allah uji mereka dengan keseluruhan rasa takut dan lapar, maka niscaya mereka akan binasa. Sedangkan ujian itu fungsinya untuk memilih (yang terbaik), bukan membinasakan.
( Dan sedikit dari kekurangan harta ) ini mencakup semua kekurangan yang menimpa harta seseorang, entah itu karena bencana dari langit, tenggelam, kehilangan, diambilnya harta oleh penguasa yang zhalim, perampok, dan lainnya.
( Dan kekurangan jiwa ) maksudnya: kematian orang-orang tercinta, seperti : anak-anak, kerabat, dan teman dekat. Juga, macam-macam penyakit yang menimpa seseorang atau menimpa orang yang ia cintai [1]
( Dan kekurangan buah-buahan ) maksudnya: biji-bijian, buah kurma dan pepohonan lainnya, juga sayur mayur. Baik itu karena terkena dingin yang sangat, embun, kebakaran, atau bencana seperti wabah belalang dan semisalnya.
Semua ini pasti akan terjadi. Karena Allah yang Maha mengetahui dan Maha teliti Sendiri yang mengabarkannya, maka pasti hal itu akan terjadi sebagaimana yang Allah kabarkan.
Ketika musibah itu terjadi, maka manusia terbagi menjadi dua : Orang yang berkeluh kesah (tidak sabar) dan orang yang sabar. Orang yang berkeluh kesah (tidak sabar) ia akan mendapatkan dua musibah. Pertama , ia kehilangan apa yang ia cintai, yaitu adanya musibah itu sendiri, dan kedua , kehilangan yang lebih besar dari (perkara pertama) yaitu : (kehilangan) pahala melaksanakan perintah Allah, yakni kesabaran. Orang ini mendapatkan kerugian, tercegah dari kebaikan, dan berkurang keimanannya. Selain itu, ia terluput dari sabar, ridha, dan syukur, sehingga ia mendapatkan kemurkaan Allah yang merupakan bukti akan kekurangan yang sangat besar.
Adapun orang yang diberikan taufik untuk bersabar ketika terjadinya musibah tersebut, ia menahan dirinya untuk tidak murka, baik itu dengan perkataan maupun perbuatan, ia juga mengharapkan pahalanya di sisi Allah, dan ia juga mengetahui bahwa ganjaran kesabaran yang ia dapatkan lebih besar dari musibah itu sendiri. Bahkan, musibah baginya merupakan nikmat, karena dengan musibah tersebut ia mendapatkan apa yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Orang yang seperti ini pada hakikatnya telah melaksanakan perintah Allah dan sukses mendapatkan ganjaran (pahala). Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ( Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar ) maksudnya : sampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan pahala tanpa batas. Orang-orang yang sabar mereka akan mendapatkan kabar gembira yang sangat besar dan pemberian yang banyak. Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati orang-orang yang sabar dengan firman-Nya:
( Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah ). Musibah adalah apa-apa yang membuathati atau badan sakit, atau keduanya secara bersamaan sebagaimana yang sudah diterangkan.
( Mereka berkata : Inna Lillah ) maksudnya : kami milik Allah dan berjalan di bawah perintah dan pengaturan-Nya. Kami tidak memiliki kuasa apa-apa atas diri dan harta kami. Jika Allah menguji kami dengan sesuatu dari hal tersebut (dalam ayat sebelumnya), maka pada hakikatnya Allah sedang berbuat dan mengatur milik-Nya dan tidak boleh ditentang. Bahkan, diantara kesempurnaan penghambaan seseorang yaitu pengetahuannya bahwa ujian yang terjadi datangnya dari Sang Raja yang Maha bijaksana, yang Dia lebih sayang terhadap hamba-Nya daripada hamba tersebut terhadap dirinya. Ketika pengetahuan tersebut sudah terpatri pada dirinya, maka hal itu akan mendatangkan rasa ridha terhadap Allah dan rasa syukur terhadap pengaturan-Nya yang itu baik buat hamba tersebut, meskipun ia tidak menyadarinya.
Meskipun kita milik Allah, maka kita tetap akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat. Allah akan memberi balasan pada setiap amal yang dikerjakan. Apabila kita sabar dan mengharap pahala, maka kita akan mendapatkan pahalanya di sisi Allah. Tetapi, apabila kita berkeluh kesah dan tidak sabar, maka bagian kita hanyalah kemurkaan dan hilangnya pahala. Masalah seorang hamba itu milik Allah dan akan kembali kepada-Nya merupakan sebab yang kuat untuk melakukan kesabaran.
( Mereka itulah ) yang disifati dengan kesabaran, ( Yang memperoleh shalawat dari Tuhannya ) maksudnya : pujian dan penyebutan tentang keadaan mereka, ( Dan rahmat ) yang sangat besar, dan diantara rahmat-Nya adalah pemberian taufik untuk melakukan kesabaran yang dengan sebab itu ia mendapatkan kesempurnaan pahala. ( Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ) yang mengetahui kebenaran – yang dimaksud di sini yaitu pengetahuan bahwa mereka milik Allah dan akan kembali kepada-Nya – dan mengamalkan kebenaran – maksudnya kesabaran mereka karena Allah -.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa yang tidak sabar, maka ia akan mendapatkan lawan dari apa yang didapatkan oleh orang yang sabar. Dia akan mendapatkan celaan dari Allah, siksa, kesesatan, dan kerugian.Sungguh, alangkah besarnya perbedaan antara dua kelompok tersebut. Sangat sedikit sekali keletihan yang menghinggapi orang yang sabar, dan alangkah banyaknya kesusahan yang didapatkan oleh orang yang tidak sabar.
Kedua ayat ini (Al-Baqarah/2: 155-157) mengandung persiapan yang matang bagi jiwa sebelum datangnya musibah agar ia bisa bersiap-siap dan jika musibah itu terjadi, maka akan terasa ringan dan mudah untuk dilalui. (diantara kandungannya) juga yaitu penjelasan tentang perkara yang dapat membantu untuk melakukan kesabaran dan pahala yang akan diterima oleh orang yang sabar. Ia juga dapat mengetahui tentang keadaan orang yang tidak sabar yang berlawanan dengan keadaan orang yang sabar. Ia juga dapat mengetahui bahwa ujian dan cobaan merupakan hukum Allah yang sudah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu. Ayat ini juga mengandung penjelasan tentang macam-macam musibah [2]
Apa yang Dimaksud dengan Sabar?
Sabar secara bahasa artinya menahan diri.
Yang dimaksud syari’at adalah menahan diri dan melawan hawa nafsu:
- Dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
- Dalam menjauhkan perbuatan yang diharamkan oleh Allah.
- Dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang pahit.
Menghadapi takdir yang pahit wajib sabar. Karena manusia hidup ini untuk diuji pada dirinya, istrinya, orang tuanya, anaknya, hartanya, dan juga wabah seperti sekarang ini, dengan penyakit-penyakit yang berat, kekurangan harta, kefakiran, kelaparan, kezhaliman penguasa, dan lainnya.
Wajib bagi seorang Muslim menahan dirinya, menahan lisannya tidak berkeluh kesah, tidak melaknat musibah, tidak melaknat dan mencaci maki wabah Corona. Menahan hatinya untuk yakin, berharap, takut, dan tawakkal hanya kepada Allah, tidak suuzzhan (berburuk sangka) kepada Allah. Menahan anggota tubuhnya tidak memukul-mukul wajah, pipinya, tidak merobek-robek baju, tidak melempar sesuatu karena marah dengan takdir Allah yang pahit. Seorang Muslim wajib menahan diri dari semua itu.
Musibah, Cobaan, dan Ujian Ada 4 (Empat) Keadaan:
Pertama: Marah, murka, tidak senang, dan lainnya.
Berkeluh kesah, marah dengan adanya wabah. Dia marah dengan adanya penyakit, marah dengan adanya bencana, musibah, wabah Covid-19, dia jadi tidak kerja, tidak dagang, tidak bisa keluar rumah, jadi sedikit penghasilannya, tidak laku dagangannya, tidak bisa sekolah, kuliah, tidak bisa aktifitas, dan lainnya. Dia marah dan menyalahkan semuanya. Dia marah dengan hatinya, dia marah dengan lisannya. Berkeluh kesah, mencaci maki, dan dia marah dengan adanya wabah ini, atau dia marah dengan anggota tubuhnya dengan memukul muka, pipi, merobek baju, dan lainnya. Orang yang murka ketika ada cobaan, ujian, musibah, wabah dan bencana, maka Allah pun murka kepadanya. Orang yang murka terhadap musibah, cobaan dan ujian, maka dia mendapatkan dua musibah, yang pertama musibah dalam agama, yaitu dia murka kepada takdir Allah, dan yang kedua dia tidak dapat pahala. Dia berdosa dengan sebab murka kepada takdir Allah dan juga musibah, penyakit, dan wabah itu tidak hilang dari dirinya, bahkan dia tambah sakit.
Kedua: Sabar atas musibah, cobaan, ujian, dan penyakit.
Yaitu dia menahan dirinya, dia tidak suka dengan musibah, dia tidak mencintainya, akan tetapi dia berusaha untuk menahan dirinya dari berkeluh kesah, marah, mencaci maki atau berbicara yang tidak baik. Dia menahan dirinya dan anggota tubuhnya dari berbuat apa-apa yang dimurkai oleh Allah. Dia sabar tapi hatinya tidak menyukai kejadian atau musibah tersebut.Baca Juga Apa Yang Selayaknya Dilakukan Seorang Muslim Terkait Dengan Wabah Corona?
Ketiga: Ridho. Seseorang ketika mendapatkan musibah, wabah, penyakit, kesulitan, kefakiran, kekurangan harta, dia ridho dengan musibah yang menimpanya tersebut. Bahwa ini Allah sudah takdirkan dan takdir Allah semuanya adalah baik buat dia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah ; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ” [At-Taghaabun/64: 11]
‘Alqamah [3] menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan,
هُوَ الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ الْمُصِيْبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ.
“ Yaitu seseorang yang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya). ” [4]
Dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ ، وَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.
“ Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka (dengan cobaan). Barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah . [5]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa besarnya ganjaran dan banyaknya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan dan ujian yang terjadi pada diri seorang hamba di dunia ini apabila dia bersabar dan mengharap pahala dengannya. Dan bahwasanya di antara tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah Dia akan memberikan cobaan kepadanya. Maka apabila hamba itu ridha dengan keputusan dan ketentuan dari Allah, mengharap pahala dan ganjaran serta berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan ridha dan memberikan pahala kepadanya. Akan tetapi jika ia marah dengan keputusan Allah dan berkeluh kesah dengan musibah yang menimpanya, maka Allah pun akan marah kepadanya dan akan menghukumnya. [6]
Keempat [7] : Bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut.
Seorang Muslim harus yakin bahwa apa yang Allah takdirkan untuknya itu yang terbaik, dia bersyukur karena dengan adanya musibah, cobaan, dan ujian tersebut akan menghapuskan dosa-dosanya, akan mengangkat derajatnya, bahkan dengan keridhoan dia kepada Allah terhadap cobaan, ujian dan musibah tersebut, maka Allah pun Ridho kepadanya.
Karena cobaan dan ujian itu merupakan nikmat, maka orang-orang shalih justru gembira sekiranya mereka mendapatkan cobaan itu, tidak bedanya jika mereka mendapat kesenangan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa cobaan para Nabi dan orang-orang shalih adalah penyakit, kemiskinan, dan lainnya. Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
… وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُهُمْ بِالرَّخَاءِ.
“… Dan sesungguhnya seorang dari mereka sungguh bergembira dengan bala’ (cobaan, ujian, musibah) yang menimpanya, sebagaimana seorang dari kalian bergembira di waktu lapang (kaya) . [8]
Bahkan yang lebih besar lagi dengan dia bersyukur dan memuji Allah atas musibah tersebut, maka Allah akan bangunkan rumah di Surga dengan nama Baitul Hamdi . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلَا ئِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ، فَيَقُوْلُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ، فَيَقُوْلُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُوْلُ اللهُ: اُبْنُوْا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الْجَنَّةِ وَسَمُّوْهُ بَيْتَ الْحَمْدِ.
“ Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah Ta’ala akan berkata kepada para Malaikat-Nya: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ para Malaikat menjawab: ‘Ya, benar.’ Setelah itu, Dia bertanya lagi: ‘Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka pun menjawab: ‘Ya.’ Kemudian, Dia berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu?’ Mereka menjawab: ‘Dia memanjatkan pujian kepada-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa Innaa ilaihi Raaji’uun).’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di dalam Surga dan namailah dengan Baitul Hamd (rumah pujian). ’” [9]
Faedah dan Manfaat dari Musibah, Cobaan, Ujian, Penyakit, Wabah dan Kematian:
- Untuk menguji iman kita, apakah iman kita benar, jujur, atau dusta.
- Untuk menguji iman kita, apakah kita beriman dan meyakini bahwa semua yang terjadi sudah Allah takdirkan 50000 (lima puluh ribu) tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.
- Cobaan dan ujian itu akan menghapuskan dosa-dosa kita, apabila kita sabar dan ridho.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ، إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا .
“ Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya bersamanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya .” [10]
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.
“ Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan,kegundah gulanaan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. ” [11]
- Apabila seorang sabar dan ridho dengan cobaan dan ujian, maka akan dicatat berbagai kebaikan untuknya dan akan diangkat derajatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُوْنُ لَهُ عِنْدَ اللهِ الْمَنْزِلَةُ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَمَا يَزَالُ اللهُ يَبْتَلِيْهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا.
“ Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa mengantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai pada kedudukannya itu .” [12]
- Apabila seorang sabar dan ridho dengan cobaan, ujian, penyakit dan kematian, maka Allah akan masukkan dia ke Surga. Seperti kisah seorang wanita hitam yang dijamin masuk Surga.
Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah berkata: “Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma pernah berkata kepadaku: ‘Maukah kutunjukkan kepadamu salah seorang wanita penghuni Surga?’ Saya jawab: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘(Yaitu) wanita yang hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi dan berkata: ‘Aku terkena penyakit ayan, dan auratku selalu terbuka (jika penyakitnya kambuh), maka berdo’alah untukku. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu adalah Surga. Dan jika engkau mau, aku akan berdo’a kepada Allah agar memberikan kesembuhan kepadamu.’ ‘Aku bersabar,’ jawab wanita tersebut. Lalu, ia berkata lagi : ‘Sesungguhnya aku takut auratku terbuka, maka berdo’alah kepada Allah bagiku agar auratku tidak terbuka.’ Maka, beliau berdo’a bagi wanita itu. ” [13]
- Hati dan Ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan, penyakit, dan musibah, agar dia memenuhi panggilan Allah, kembali kepada Allah dan ingat kepada-Nya yang membuat hati dan ruh menjadi hidup.
- Mengembalikan seorang hamba kepada Rabb-nya dengan musibah, cobaan, dan ujian, dia bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya. Penyakit, musibah, wabah, bencana, bisa membuka kesadaran hamba bahwa dia sangat butuh kepada Allah, dia memohon dan mengharap hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Akan membuat seseorang ingat kepada saudara-saudaranya yang sedang sakit, sulit, dan susah, yang sedang kelaparan dan lainnya. Sehingga terbuka hatinya untuk bersedekah dan membantu kaum Muslimin yang sedang mengalami kesulitan.
- Akan membersihkan hati dari kekerasan hati berupa kesombongan, keangkuhan, bangga, merasa hebat, kuat, dan lainnya. Dengan musibah, wabah, dia akan tahu bahwa dirinya sangat lemah dan hina. Yang Maha Kuat dan Maha Mulia hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Konsekuensi kesenangan adalah bersyukur, dan konsekuensi dari kesulitan, kesusahan, musibah, penyakit adalah dengan bersabar, dengan tetap melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
- Musibah, cobaan, ujian, wabah, penyakit, kematian itu adalah takdir Allah dan pilihan Allah untuk kita, Allah Maha Tahu tentang manfaat buat diri, keluarga, dan masyarakat, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Apa saja yang menimpa kita merupakan Kebijaksanaan sekaligus Rahmat Allah dan juga Allah mencintai kita kalau kita sabar dan ridho.
- Keluhan, teriakan, kemurkaan, penyesalan dan putus asa atas musibah, cobaan, ujian, tidak akan dapat mengubah takdir Allah, bahkan orang itu hilang pahalanya dan berdosa, bahkan Allah murka kepadanya.
- Musibah, cobaan, ujian, wabah, penyakit, itu tidak lama, In syaa Allah sebentar lagi wabah ini akan hilang, dan yang sakit akan sembuh, setiap kesulitan pasti ada kemudahan, setiap kesempitan pasti ada kelapangan, dan Allah akan ganti dengan yang lebih baik dari berbagai macam kenikmatan.
- Sabar adalah akhlak dan perangai yang mulia bagi orang-orang yang beriman.
- Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar, dan Allah Azza wa Jalla bersama orang-orang yang sabar.
- Orang yang sabar akan diberi ganjaran tanpa hisab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ﱠ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“…Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” [Az-Zumar/39: 10]
- Diantara faedah dan manfaat adanya cobaan, ujian, musibah, penyakit, dan lainnya, seorang hamba akan terus meminta dan berdo’a kepada Allah agar disembuhkan, diangkat penyakitnya, wabah yang menimpanya dan yang menimpa keluarganya.
- Tujuan hidup seorang mukmin adalah Surga, Surga merupakan puncak-cita-cita tertinggi bagi seorang mukmin, untuk bisa mencapai cita-cita itu harus diuji, supaya dengan cobaan dan ujian itu kita lulus dan masuk Surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Baca Juga Maksud Husnuzhan (Berbaik Sangka) Kepada Allah
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” [Al-Baqarah/2: 214]
- Kita semua milik Allah dan kita pasti kembali kepada Allah, kalau semua yang ada di langit dan di bumi maupun diantara keduanya Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki, Allah yang memberikan rezeki, Allah yang menghidupkan dan mematikan, maka kita adalah makhluk milik Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita diuji oleh Allah, agar kita tunduk dan pasrah total hanya kepada Allah.
- Dunia adalah kehidupan yang fana dan sebentar, dunia adalah tempat cobaan dan ujian, bukan tempat balasan. Tempat balasan adalah akhirat, ditempat ujian ini, kita wajib berlomba-lomba melakukan kebajikan-kebajikan sebanyak-banyaknya dengan ikhlas dan ittiba’, dan menjauhkan segala larangan-larangan Allah, agar kita mendapatkan balasan yang terbaik, yaitu keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga yang penuh dengan kenikmatan dan keabadian.
- Cobaan dan ujian akan menambah kuat keimanan dan keyakinan orang yang beriman. Cobaan dan ujian juga akan menambah istiqamah kita dalam ketaatan, serta kita pun akan bertambah kokoh dan tegar dalam menghadapi setiap tantangan dalam kehidupan.
Do’a-Do’a yang Ma’tsur dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [14]
- Do’a pada waktu melihat orang yang mengalami cobaan
اَلْـحَمْدُ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَ فَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلًا.
“ Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang Dia timpakan atasmu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku melebihi orang banyak .” [15]
- Do’a saat menghadapi kesulitan
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
“ Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Engkau semata, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk dari orang-orang yang zhalim .” [16]
اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.
“ Ya Allah, rahmat-Mu yang senantiasa aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku semuanya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau . ” [17]
- Do’a ketika mengalami kesusahan, kesedihan, dan penawar hati yang dirundung duka
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ.
“ Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb langit dan Rabb bumi, serta Rabb pemilik ‘Arsy Yang Mulia .” [18]
- Do’a berlindung dari kesengsaraan, kesusahan, dan hilangnya nikmat
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَـحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya ‘afiat (kesejahteraan dari-Mu, dari hukuman-Mu yang datang dengan tiba-tiba, dan dari seluruh kemarahan-Mu .” [19]
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ ، وَالْقِلَّةِ ، وَالذِّلَّةِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ.
“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan,kehinaan, serta aku berlindung kepada-Mu dari menzhalimi atau dizhalimi .” [20]
- Do’a diselamatkan dari kehinaan dan bencana
اَللَّهُمَّ إنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ اْلبَلَاءِ، وَدَرْكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ اْلقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.
“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala’ (bencana), tertimpa kesengsaraan, keburukan qadha’ (takdir), dan kegembiraan para musuh .” [21]
Senantiasa Terus-Menerus Berdzikir Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ingat, selalu berdzikir kepada Allah dalam semua keadaan, karena dengan berdzikir akan membuat hati tenang dan tenteram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﱠ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [Ar-Ra’du/13: 28]
Baca dzikir sesudah shalat lima waktu, baca dzikir pagi dan sore, perbanyak istighfar, minta ampun kepada Allah atas semua dosa dan selalu minta tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah/2: 153]
Minta tolong kepada Allah dengan Shalat, maka kita wajib mengerjakan shalat yang lima waktu. Kemudian kerjakan shalat-shalat sunnat, shalat sunat rawatib, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan kerjakan shalat lima waktu di masjid.
Mudah-mudahan dengan cobaan, ujian, musibah, wabah dan bencana yang kita alami ini kita lulus ujian, kita terima dengan sabar dan ridho, dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat wabah, bencana, penyakit, dan kesulitan yang sedang kita alami sekarang ini. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa kita, mengembalikan kita kepada Allah untuk selalu bertaubat atas semua dosa, menyadarkan kita untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan segala larangan-larangan-Nya, mengangkat derajat kita, dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam Surga-Nya. Aamin ya Rabbal ‘Alamiin .
Mudah-mudahan penjelasan tentang “ DUNIA INI ADALAH TEMPAT COBAAN DAN UJIAN ” ini bermanfaat bagi penulis dan kaum Muslimin.
Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya, dan orang-orang yang mengamalkan dan membela Sunnah beliau sampai akhir zaman.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Ahad, 18 Sya’ban 1441 H/ 12 April 2020
_______
Footnote
[1] Kekurangan jiwa, seperti yang kita lihat sekarang ini berkaitan dengan wabah virus Corona, banyak sekali orang-orang yang mati di setiap negara, ratusan bahkan sampai ribuan. Wabah seperti ini pernah terjadi pada zaman dahulu yaitu Tha’uun yang merupakan wabah penyakit menular yang mematikan puluhan ribu orang, dan ini semua berjalan atas kehendak Allah Yang Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bijaksana dan Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya.
[2] Taisiir al-Karimir Rahman fi Tafsiiri Kalamil Mannan (hlm. 72-73) cet. IV Daar Ibnul Jauzi, th. 1431 H.
[3] ‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama Tabi’in. Beliau dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan wafat pada tahun 62 H (681 M).
[4] Shahih: Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (juz 28/no. 34197-34200), al-Baihaqi (IV/66) dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab dalam Taisiirul Aziizil Hamiid fi Syarhi Kitaabit Tauhiid(II/892).
[5] Hasan : HR. at-Tirmidzi (no. 2396) dan Ibnu Majah (no. 4031). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash- Shahihah (no. 146).
[6] Al-Mulakhkhash fii Syarh Kitaabit Tauhiid (hlm. 283) karya Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan.
[7] Tentang empat tingkatan manusia ketika dapat cobaan dan ujian dan definisi sabar, dinukil dengan sedikit tambahan dan penjelasan dari penulis, dari kitab Syarah Riyadush Shalihiin (I/172-174) Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
[8] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 4024) dan al-Hakim (IV/307). Al-Hakim berkata: Shahih menurut syarat Muslim, dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 144).
[9] Hasan: HR. at-Tirmidzi (no. 1021) dan Ibnu Hibban (no. 726- Mawaarid ), dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu.
[10] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 5660) dan Muslim (no. 2571), dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu.
[11] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 5641), dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Radhiyallahu anhuma
[12] Shahih: HR. Abu Ya’la (no. 6069), Ibnu Hibban (no. 693- Mawaarid ), dan al-Hakim (I/344), ia berkata: sanadnya shahih.
[13] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 5652) dan Muslim (no. 2576).
[14] Do’a-do’a yang ma’tsur (yang diriwayatkan) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anda bisa baca di buku Do’a & Wirid; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Ke-34-Pustaka Imam Syafi’i-Jakarta.
[15] “Barangsiapa yang melihat orang lain yang tertimpa cobaan/musibah, kemudian ia (yang melihat) mengucapkan (do’a di atas), maka cobaan/musibah tersebut tidak akan menimpanya.” Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3431, 3432) dan Ibnu Majah(no. 3892). Lihat Do’a & Wirid; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 281-cet. Ke-34).
[16] Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3505), al-Hakim (I/505) dan lainnya.
[17] Hasan: HR. Abu Dawud (no. 5090) dan Ahmad (V/42).
[18] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 6345, 6346, 7426, 7431), Muslim (no. 2730) dan lainnya, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma.
[19] Shahih: HR. Muslim (no. 2739 (96)) dan Abu Dawud (no. 1545), dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[20] Shahih: HR. an-Nasaa-i (VIII/261) dan Abu Dawud (no. 1544) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[21] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 6347, 6616) dan Muslim (no. 2707) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
Kembali ke bagian 1
sumber: https://almanhaj.or.id/15047-dunia-ini-adalah-tempat-cobaan-dan-ujian1.html