Segala puji bagi Allah sholawat dan salam atas nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat, keluarga, serta orang yang mengikutinya dengan baik sampai hari kiamat.
Jika kita perhatikan keadaan manusia sekarang ini, mereka sangat serius dalam memberikan perhatian terhadap masalah-masalah dhohir yang Nampak. Sementara masalah-masalah bathin (hati) mereka melalaikannya padahal permasalahan hati dan memperbaikinya adalah perkara yang sangat menentukan baik dan tidaknya keberadaan seseorang karena tidaklah keadaan seseorang menjadi baik kecuali dengan baiknya hati
Imam Bukhori dan Imam Muslim mengeluarkan hadits dari Nu’man bin Bashir radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ingatlah sungguh dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, dan jika daging itu buruk maka buruklah jasad seluruhnya dan ketahuilah daging itu adalah hati”
Suatu yang paling mulia dalam diri seseorang adalah hatinya karena di hatilah letaknya iman dan ketakwaan serta tempatnya pandangan atau penilaian Allah Azza wa jalla terhadap diri seseorang. Imam Muslim mengeluarkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh Allah Ta’ala tidak memandang pada rupa dan harta kalian namun Allah Ta’ala memandang pada hati dan amalan kalian”
Pangkal dari keimanan dan ketaqwaan adalah dihati, jika hati bagus maka amalan anggota badan manjadi bagus sebaliknya jika hati jelek maka menjadi jelek pula amalan anggota badannya. Tidak akan lurus keimanan seseorang kecuali dengan lurusnya hati. Karena menjadi keharusan setiap orang untuk senantiasa memperbaiki hatinya, menghiasi hatinya dengan taubat dan tawakkal kepada Allah Ta’ala. Mensucikan hatinya dari setiap perkara yang Allah benci berupa sifat takabbur, hasad, dengki, ujub (bangga diri), riya’ dan sebagainya.
Takkala iblis musuh Allah Ta’ala mengetahui pangkal dari ketakwaan seseorang adalah di hati maka dia menjadikan hati sebagai sasaran dari serangan-serangannya, dia membisikkan kepada hati manusia perkara jelek yang akan menghalangi manusia dari sebab-sebab mendapatkan taufik hingga hampir semua orang tidak selamat kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala di berikan keikhlasan dihatinya sehingga hatinya menjadi lurus dalam keimanannya sebagaimana Allah Ta’ala telah menggambarkan hal ini dalam kitabnya yang mulia: Iblis bersumpah “Demi kemuliaan-Mu pasti aku akan menyesatkan mereka semua kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas” (QS.Shod 82-83)
Kelak nanti suatu saat di hari kiamat setiap orang akan di bangkitkan dan di hidupkan kepada Allah Azza wa jalla pada hari itu tidaklah bermanfaat harta dan anak kecuali dia datang dengan hati yang salim. Sebagaimana Allah Azza wa jalla berfirman: “Hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang salim” (QS. Asy Syu’araa’ 88-89)
Maka perhatikanlah apakah hati kita termasuk hati yang salim ?
Diantara ciri hati yang salim adalah:
1-Hatinya senantiasa selamat dari mencintai segala yang di benci Allah selamatnya hati dari kesyirikan, hawa nafsu, kebid’ahan, maksiat baik kecil maupun besar, selamat dari riya’, bangga diri,khianat, hasad, dengki dan sebagainya
2-Hatinya tidak condong pada dunia dia menjadikan dunia ini hanya tempat untuk berlalu, mengambil dunia ini hanya untuk kebutuhannya saja agar bisa sampai ke kampung akhirat yang abadi sebagaimana wasiat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang menempuh perjalanan dan hitunglah dirimu sebagai seorang penghuni kubur (HR. Bukhori)
3-Hatinya tidak pernah lalai dari mengingat Allah, tidak merasa bosan dari berkhidmat kepada Allah, jika di bentangkan kapadanya kejelekan dia berlari meninggalkannya menuju ketaatan. Jika terlewatkan baginya satu ketaatan, maka dia merasa sakit dan menyesal melebihi sakit dan penyesalannya jika dia kehilangan hartanya. Dia sangat cinta dengan ketaatan kepada Robbnya sebagaimana rindunya orang yang lapar kepada makanan dan minuman
4-Jika dia melaksanakan sholat maka hilanglah kesedihan dan kegundahannya didunia hatinya merasa lapang dan nikmat. Sholatnya sebagai penyejuk jiwa dan kelapangan hati sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallambersabda: “Telah dijadikan Sholat sebagai penyejuk jiwaku”
Jika kita dapati orang yang bergelimang dosa dan maksiat berarti hatinya sedang sakit. Pengaruh dosa pada hati seperti pengaruh penyakit pada badan. Dosa adalah hama dan penyakit hati, maka obat dari hati yang sakit adalah dengan meninggalkan maksiat dan dosa kemudian dia berusaha mengobati hatinya dengan melakukan ketaatan dengan Robbnya diantaranya dengan cara:
1-Membaca Al-Quranul karim dengan mentaddaburi maknanya. Al-Qur’anul karim adalah penyejuk hati, obat yang ada dalam dada kehidupan bagi ruh, kalam Allah Ta’ala yang akan menerangi dalam kegelapan syubhat dan syahwat, penghibur dari musibah, obat bagi semua penyakit hati sebagaimana Allah Azza wa jalla berfirman: “Wahai sekalian manusia sungguh telah datang kepada kalian peringatan (Al-Qur’an) dari tuhanmu dan obat bagi apa yang ada dalam dada” (QS. Yunus 57)
2-Memiliki ilmu yang bermanfaat
Sungguh penyakit hati semuanya terlahir dari kebodohan terhadap ilmu syar’i yang bermanfaat. Tak ada kehidupan bagi bumi kecuali dengan hujan sebagaimana tak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan ilmu, ilmu bagi hati seperti air bagi ikan jika air kering maka ikan akan mati
3-Memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim.
Takkala ada seorang yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kerasnya hatinya maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang itu: “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka beri makanlah orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (Hadits Hasan riwayat Tharmidzi)
Sebuah kisah dari sahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwasanya sahabat tersebut memiliki hati yang salim yakni Sa’ad bin Abi Waqqas radhiallahu ‘anhu pergi mengasingkan diri dengan kambing dan untanya, jauh dari keramaian kota. Takkalah anaknya mendatanginya, maka anaknya berkata kepadanya: “Wahai bapakku, engkau rela tinggal bersama unta dan kambingmu dan engkau meninggalkan manusia yang berlomba merebut kekuasaan di madinah? Maka Sa’ad bin Abi Waqqas menepuk dada anaknya seraya berkata “Diamlah wahai anakku! Sungguh saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senatiasa mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang senantiasa merasa cukup, yang menyembunyikan amalnya” (HR Muslim)
Kisah lain, seorang sahabat Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam, jika diberikan tazkiyah (pujian), maka dia berkata: “Ya Allah janganlah engkau menyiksa aku dengan apa yang mereka katakan (memujiku) dan ampunilah aku dari apa yang mereka tidak ketahui” (HR. Muslim)
Bandingkanlah sikap sahabat tersebut ketika mendapatkan pujian dengan keberadaan kita di zaman sekarang ini, yang kebanyakan diantara kita melakukan suau amalan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan, gambaran dari kasih sahabat tersebut, menujukan bahwa ia memilki hati yang salim, berlari dari pujian manusia, takut pada siksaan Allah dengan pujian tersebut dan memohon ampun kepada Allah dari pujian tersebut. Tidaklah dia melakukan demikian kecuali karena hatinya telah tertanam kecintaan kepada Allah dan mengharap kerhidaanNya serta takut dari AzabNya
Demikianlah semoga Allah Azza wa jalla mengaruniakan kepada kita hati yang salim sampai kita menemuinya di akhirat kelak amiin
oleh Ustad Abu Bakar Ramli bin Haya
(Penulis banyak mengambil faidah dari kitab “Ishlaahul Quluub” oleh Syaikh Abdul Hady bin Hasan Wahby)
Kendari, Syawal 1430/oktober 2009
sumber: https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2009/10/17/menggapai-hati-yang-salim/