Ikhwah fillah..
Sekiranya kita adalah orang yang bertauhid dengan sebenarnya tauhid, dan diantara cirinya yakni memiliki sifat menerima semua keputusan/takdir Allah. maka kita akan senantiasa merasa cukup dari apa yang Allah tentukan untuk kita. maka apa bedanya kita dengan raja dunia?
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Bukanlah kekayaan diukur dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati)”. (HR. al-Bukhari No. 6446 dan Muslim No. 1051)
Sebab kepuasan yang diperoleh sang raja dengan banyaknya harta juga kita peroleh dengan harta yang sedikit.
Ibnu Baththal -rahimahullah- berkata,
“Karena banyak orang yang dilapangkan hartanya oleh Allah ternyata jiwanya miskin, ia tidak menerima dengan apa yang Allah berikan kepadanya, maka ia senantiasa berusaha untuk mencari tambahan harta, ia tidak peduli dari mana harta tersebut, maka seakan-akan ia adalah orang yang kekurangan harta karena semangatnya dan tamaknya untuk mengumpul-ngumpulkan harta.
Sesungguhnya hakikat kekayaan adalah kayanya jiwa, yaitu jiwa seseorang yang merasa cukup (nerimo) dengan sedikit harta dan tidak bersemangat untuk menambah-nambah hartanya, dan nafsu dalam mencari harta. Maka seakan-akan ia adalah seorang yang kaya dan selalu mendapatkan harta”.
(lihat Syarh Ibnu Baththal terhadap Shahih al-Bukhari)
semoga setiap kita tidak melupakan pentingnya tauhid, senantiasa tergugah untuk mempelajarinya hingga akhir hayat. karena tauhid ini sangat berkaitan dengan keselamatan kita di dunia dan di akhirat nantinya.
al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- pernah berkata,
“Sesungguhnya di antara lemahnya imanmu, Engkau lebih percaya kepada harta yang ada di tanganmu daripada apa yang ada di sisi Allah”.
(lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam [2/147])
referensi: https://indonesiabertauhid.com/miskin-tetapi-kaya/