Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:
- Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan para hamba untuk beribadah kepada-Nya semata, dan melarang mereka dari mempersekutukan-Nya dengan apapun juga. Itu artinya, peribadahan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak akan terwujud kecuali dengan membersihkan diri dari kesyirikan. Dan membersihkan diri dari kesyirikan merupakan ungkapan lain dari menegakkan Tauhid. Karena Tauhid dan syirik merupakan dua hal yang saling kontradiktif, dimana yang satunya ada dengan ketiadaan lawannya.
- Firman Allâh -‘Azza wa Jalla- : Sembahlah Allâh saja dan janganlah Kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. ( QS. An-Nisâ’ : 36). Kata-kata شَيْئًا (sesuatu apapun) dalam ayat ini adalah kata nakirah (nama umum, tanpa ditentukan dzatnya secara khusus), dan kata tersebut dalam konteks larangan. Kaidahnya, nakirah dalam konteks larangan memberikan faidah keumuman.Sehingga mencakup segala sesuatu yang dijadikan tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla-. Baik berupa malaikat, nabi, wali, kuburan, tempat keramat, dan lainnya.
selanjutnya kita akan mempelajari Urgensi Tauhid bag. 17. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;
Play Video (Link Utama)
Link alternatif
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“