Ikhwah fillah..
kembali tim HijrahApp sampaikan, mohon tidak bertanya perkara agama kepada admin di ruang chat HijrahApp. karena admin yang ada di ruang chat HijrahApp bukan ustadz/ustadzah. fungsi admin adalah untuk mengawasi ruang chat, menjawab pertanyaan teknis yang dapat ditangani melalui chat, memandu pengguna menggunakan aplikasi dan semisalnya. adapun perkara agama, subhanallah, admin tidak layak menjawabnya.
Namun demikian, HijrahApp telah menyediakan mesin pencari islami yang dapat di akses di beranda. ketuk icon search/cari yang ada di kanan atas dan tulis keyword pertanyaan antum kemudian ketuk enter. maka mesin pencari islami akan menampilkan hasil pencarian yang relevan yang bersumber dari berbagai tulisan asatidz yang dikenal kelurusan aqidah & manhajnya. dan ketahuilah, fitur ini umumnya dapat menjawab hingga 90% pertanyaan agama yang masuk ke ruang chat.


Ikhwah fillah…
saat ini hanya sebatas itulah fasilitas yang kami miliki & dapat kami beri. tim berupaya yang terbaik, dan yang terbaik yang dapat kami lakukan saat ini jika ada pertanyaan agama yang masuk adalah dengan “mengabaikannya”. jangan bilang ini mudah, bahkan menjawabnya menjadi godaan tersendiri yang harus kami redam setiap kali membacanya. semoga Allah sentiasa memberi kita taufiq untuk sadar akan kapasitas diri, namun tetap berusaha memantaskan diri.
oiya, adapun sisanya 10% yakni pertanyaan spesifik yang tidak ditemukan jawabannya di mesin pencari HijrahApp. maka artikel dibawah ini akan menjelaskan kepada kita tentang suatu kaedah bertanya perkara agama.
Bertanya Masalah Agama, Kepada Siapa?
Sebagian orang terkadang ketika bingung dalam suatu masalah agama, ia bertanya kepada teman-temannya, kepada teman kerjanya, kepada saudaranya, atau kepada sembarang orang. Benarkah metode seperti ini?
Seseorang bertanya kepada Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, “kepada siapa semestinya seseorang meminta fatwa dalam masalah fikih, sedangkan biasanya ada banyak khilaf ulama dalam jawaban-jawabannya? dan bagaimana kami mengetahui mana pendapat yang kuat?”.
Beliau menjawab:
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:
إذا أشكل عليك شي، فسأل من تثق بعلمه ودينه، وخذ بجوابه، ولا تسأل غيره لئلا يختلف عليك، فيحصل التشويش كما ذكرت، أسال لمن تثق بعلمه ودينه، خصوصا من عرفوا بالفتوى، وأسندت إليهم الفتوى أسال أحدهم، وإذا أفتاك فأقتصرعلى فتواهُ، ليست مكلف بالترجيح والخلاف.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil’alamin washallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.
Jika seseorang merasa bingung dalam suatu permasalahan agama, hendaknya ia bertanya kepada orang yang terpercaya keilmuannya dan terpercaya kebaikan agamanya, lalu menjalankan apa yang ia jawab. Janganlah anda bertanya kepada orang lain lagi karena bisa jadi jawabannya berbeda-beda. Sehingga menimbulkan kerancuan sebagaimana yang engkau sebutkan.
Jadi, bertanyalah kepada orang yang terpercaya keilmuannya dan terpercaya kebaikan agamanya, terutama orang yang dikenal ahli dalam berfatwa. Serahkanlah urusan fatwa kepada mereka, dan tanyalah salah seorang saja dari mereka. Jika salah seorang dari mereka telah memberi fatwa kepadamu, maka cukupkanlah diri dengan fatwa tersebut. Anda (yang belum menekuni ilmu agama dengan baik, pent.) tidak dibebani untuk melakukan tarjih (pemilihan pendapat yang terkuat) dan mengenal khilaf-khilaf.
***
Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15373
repost: https://muslim.or.id/26121-bertanya-masalah-agama-kepada-siapa.html