Kesombongan Menghalangi Hidayah

Berbagai macam cara dilakukan oleh para pemuka Quraisy untuk membendung dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mulai diplomasi melalui paman beliau, Abu Thalib yang selalu melindungi meskipun berbeda keyakinan, hingga menggunakan cara-cara kasar. Misalnya memberikan gelar-gelar buruk, sebagai penyihir, pendongeng, dan juga dituduh gila. Tujuan para pemuka Quraisy itu, tidak lain adalah ingin menjauhkan manusia dari dakwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mengapa mereka gigih melakukan permusuhan ini? Apakah karena mereka tidak mengetahui kebenaran al Qur`an, ataukah ada faktor lain? Di antara mereka sebenarnya ada yang mengetahui dengan fitrah mereka yang mengerti bahasa Arab, bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah sihir, juga bukan berasal dari tukang tenung. Ini bisa kita dapatkan dalam kisah berikut ini.

Kisah-kisah ini diangkat dari kitab Shahihus-Siratin-Nabawiyyah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hlm. 158-163

PERSAKSIAN AL WALID BIN AL MUGHIRAH
Ishaq bin Rahawaih meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas, bahwa al Walid bin al Mughirah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang kemudian oleh Rasulullah dibacakanlah al Qur`an kepadanya. Begitu mendengarnya, seakan-akan al Walid bersimpati padanya. Hingga akhirnya berita ini pun sampai ke telinga Abu Jahal. Maka, Abu Jahal pun mendatangi al Walid seraya berseru:

“Wahai, paman. Kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu!”

Al Walid bertanya,”Untuk apa?”

Abu Jahal menjawab,”Untuk diberikan kepadamu, karena engkau telah mendatangi Muhammad. Maka sungguh dakwahnya pasti akan terhalang.”

Al Walid berkata,”Kaum Quraisy sudah mengetahui, bahwa aku termasuk yang paling banyak hartanya.”

Abu Jahal menimpali,”Ucapkanlah tentangnya suatu ucapan yang menjelaskan kepada kaummu, bahwa engkau mengingkarinya.”

Dia (al Walid) bertanya,”Apa yang harus saya katakan? Demi Allah, tidak ada seorangpun di antara kalian yang lebih faham dariku tentang syi’ir-syi’ir. Tidak ada yang lebih faham dariku tentang rajaznya (irama sajak) juga qasidahnya, juga syi’ir jin. Demi Allah, perkataannya sama sekali tidak menyerupai semuai. Demi Allah, ucapan yang diucapkannya itu enak didengar dan indah. Sesungguhnya perkataannya itu, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya (akarnya) banyak airnya. Ucapannya itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta bisa menghancurkan semua yang berada di bawahnya.”

Abu Jahal berujar,”Kaummu tidak akan senang sampai engkau mengatakan sesuatu tentang al Qur`an.”

Al Walid menimpali,”Biarkan aku berpikir!” (Sehingga) setelah berpikir keras, dia pun berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang lain,” maka turunlah ayat :

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا ﴿١١﴾ وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا ﴿١٢﴾ وَبَنِينَ شُهُودًا

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia. [al Muddatstsir/74 : 11-13].

Demikianlah kisah yang diriwayatkan oleh al Baihaqi dari al Hakim dari Ishaq [1]. Riwayat ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam al Bidayah wan-Nihayah.[2]

Setelah membawakan riwayat ini, Syaikh al Albani rahimahullah mengatakan, bahwa tentang hal ini, Allah mengabarkan kejahilan dan kerendahan akal mereka :

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ

Bahkan mereka berkata(pula): “(Al Qur`an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan ia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mu’jizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus”. [al Anbiyaa`/21:5].

Orang-orang Quraisy itu kebingungan. Mereka tidak mengetahui, apa yang seharusnya mereka katakan tentangnya. Semua perkataan mereka bathil, karena semua yang keluar dari yang haq adalah salah.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). [al Israa`/17:48].

KISAH ‘UTBAH BIN RABI’AH
Imam ‘Abdu bin Humaid meriwayatkan dalam Musnad-nya, dengan sanad dari Jabir bin ‘Abdullah, dia berkata : Pada suatu hari kaum Quraisy berkumpul, lalu mereka berkata : “Perhatikan orang yang paling mengetahui di antara kalian tentang sihir, perdukunan dan syi’ir! Hendaklah dia mendatangi lelaki ini (yaitu, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) yang memecah-belah persatuan kita, mencerai-beraikan urusan kita dan mencela agama kita. Hendaklah ia mengajaknya berbicara dan menunjukkan bantahannya”.

Kata mereka,”Kami tidak mengetahui (orang seperti itu) selain ‘Utbah bin Rabi’ah,” mereka (pun) berkata: “Engkau, wahai Abul Walid (kunyah Utbah, Red.)”.

‘Utbah pun mendatangi Nabi n seraya berkata: “Wahai, Muhammad. Kamu yang lebih baik, ataukah ‘Abdullah?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam tidak menjawab. (Maka) ‘Utbah berkata lagi : “Engkau yang lebih baik, ataukah Abdul Mutthalib?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tetap) diam tidak memberikan jawaban. Kemudian ‘Utbah berkata: “Jika engkau meyakini bahwa mereka lebih baik darimu, maka (ketahuilah), mereka itu telah menyembah tuhan-tuhan yang engkau cela! Jika engkau yakin, engkau lebih baik dari mereka, maka jawablah agar kami bisa mendengar ucapanmu. Demi Allah, sesungguhnya kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih membuat kaumnya merasa bosan dari pada engkau. Engkau telah memecah pesatuan kami, engkau cerai-beraikan urusan kami, engkau cela agama kami dan engkau cemarkan nama baik kami di mata orang Arab. Sehingga tersebar berita di tengah mereka, bahwa di tengah kaum Quraisy ada seorang penyihir, ada tukang tenung. Demi Allah, kita tidak menunggu apapun kecuali seperti suara pekikan orang hamil, lalu sebagian di antara kita menghunus pedang kepada sebagian yang lain untuk saling membunuh. Wahai, lelaki (yang dimaksud adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Red.), jika engkau memiliki kebutuhan (kesusahan, Red.), kami akan mengumpulkan harta untukmu, sehingga engkau menjadi orang Quraisy yang terkaya. Jika engkau ingin menikah, maka pilihlah wanita manapun yang engkau inginkan, kami akan menikahkan engkau dengan sepuluh wanita.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,”Apakah engkau sudah selesai?”

‘Utbah bin Rabi’ah menjawab,”Ya,” lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat :

حم﴿١﴾تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿٢﴾كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

[Haa Miim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. [Fusshilat/41 ayat 1-3],

Sampai dengan ayat:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

[Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud”. [Fusshilat/41 ayat 13].

Kemudian ‘Utbah berkata,”Cukup! Apakah engkau tidak memiliki selain yang ini?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Tidak.”

Lalu ‘Utbah kembali ke kaum Quraisy. Mereka bertanya : “Ada apa denganmu?”
Dia menjawab,”Saya kira, saya telah menyampaikan semua ucapan yang hendak kalian ucapkan kepadanya”.

Mereka bertanya lagi: “Apakah dia memberikan jawaban?”

‘Utbah menjawab,”Ya,” kemudian, ia berkata: “(Oh) Tidak! Demi (Allah) yang menegakkan bukti. Saya tidak memahami apa yang ia ucapkan selain peringatannya kepada kalian tentang petir, seperti petir pada zaman ‘Ad dan Tsamud.”

Mendengar jawaban ‘Uthbah, orang-orang Quraisy keheranan, seraya berkata: “Celaka engkau! Lelaki itu (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) berbicara denganmu dengan bahasa Arab, dan engkau tidak mengerti maksudnya?”

Dia (‘Uthbah) menjawab,”Tidak, demi Allah, saya tidak memahami apapun dari ucapannya kecuali peringatan tentang petir.”

Imam al Baihaqi dan yang lainnya dari al Hakim, dengan sanadnya dari al Ajlah (tentang orang ini terdapat komentar [3] ) dan beliau menambahkan : “Jika engkau menginginkan kepemimpinan, maka kami berjanji akan setia kepadamu, sehingga engkau menjadi pemimpin selama engkau masih ada.”

Dalam riwayatnya ini diceritakan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah Azza wa Jalla :

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

[Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud”. [Fusshilat/41 ayat 13)].

‘Utbah memegang mulutnya serta meminta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar berhenti. Dan setelah kejadian itu, ‘Utbah tidak keluar menuju keluarganya. Dia mengasingkan diri dari mereka.

(Mengetahui hal ini), maka Abu Jahal berseru: “Demi Allah, wahai kaum Quraisy, saya memandang ‘Utbah sudah cenderung kepada Muhammad, dan perkataan Muhammad telah membuatnya ta’ajjub (kagum). Ini semua disebabkan oleh kesulitan yang menimpanya. Ayo kita kesana!”

Mereka pun mendatangi ‘Uthbah, lalu Abu Jahal berkata: “Wahai, ‘Utbah! Tidaklah kami mendatangimu, kecuali karena kecendrunganmu kepada Muhammad dan kekagumanmu kepadanya. Jika engkau memiliki kebutuhan, kami akan mengumpulkan harta-harta kami, sehingga harta itu bisa membuatmu tidak membutuhkan Muhammad.”

Mendengar (perkataan) ini, ‘Utbah marah dan bersumpah untuk tidak berbicara dengan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selamanya dan berkata:

Kalian sudah mengetahui, bahwa aku termasuk kaum Quraisy yang paling banyak hartanya. Aku sudah mendatanginya –kemudian dia menceritakan kisah pertemuannya dengan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dan dia memberikan jawaban dengan sebuah ungkapan. Demi Allah, ucapannya tidaklah termasuk sihir, juga syi’ir dan juga (bukan) perdukunan. Dia kemudian membacakan :

حم﴿١﴾تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿٢﴾كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

[Haa Miim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. [Fusshilat/41 ayat 1-3]

Sampai dengan ayat:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

[Jika mereka berpaling, Maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud”. [Fusshilat/41 ayat 13].

Lalu saya pegang mulutnya dan saya minta agar ia berhenti. Saya tahu, jika Muhammad mengatakan sesuatu, dia tidak pernah dusta. Saya khawatir adzab itu menimpa kalian.

Kisah Abu Jahal
Orang yang memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, sebenarnya meyakini yang dibawa Rasulullah itu benar. Namun kesombongan dan fanatik kepada jahiliyah telah menghalanginya dari hidayah. Akibatnya, dia mendapatkan adzab yang pedih dari Allah Azza wa Jalla , adzab yang tidak pernah berhenti.[4]

Al Baihaqi meriwayatkan dengan dengan sanadnya dari Mughirah bin Syu’bah : “Pertama kali aku mengetahui Rasulullah, yaitu saat aku dan Abu Jahal berjalan di gang-gang kota Mekkah. Tiba-tiba kami berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Jahal : “Wahai, Abul Hakam. Marilah menuju Allah dan RasulNya. Saya mengajakmu menuju Allah”.

Abu Jahal menjawab: “Wahai, Muhammad. Tidakkah engkau berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Apakah engkau menginginkan agar kami memberikan persaksian, bahwa engkau telah menyampaikannya? (Jika itu yang engkau inginkan, Red.), maka bersaksi bahwa engkau telah menyampaikannya. Demi Allah! Jika aku mengetahui yang engkau bawa itu benar, maka pasti aku telah mengikutimu.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu, dan Abu Jahal melihat ke arahku seraya berkata: “Demi Allah! Sesungguhnya aku mengetahui yang dibawanya itu haq. Akan tetapi, ada sesuatu yang menghalangiku (untuk mengikutinya)”.[5]

Tentang riwayat ini, Syaikh al Albani mengatakan: Perkataan ini adalah perkataannya la’anahullah, sebagaimana dikhabarkan oleh Allah Azza wa Jalla tentang orang ini dan orang-orang yang semisal dengannya:

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا﴿٤١﴾إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚ وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

[Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?” Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat adzab, siapa yang paling sesat jalannya. [al Furqan/25 ayat 41- 42].

Demikianlah kisah beberapa tokoh kafir Quraisy yang menolak dan menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal mereka mengakui ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu haq. (Nsd).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12//Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Syaikh al Albani berkata,”Hadits ini dibawakan oleh al Hakim dalam Mustadrak (2/506-507) dan beliau mengatakan shahih sesuai dengan syarat Imam Bukhari, dan disepakati oleh adz Dzahabi. Hadits ini, sebagaimana dikatakan oleh mereka, dibawakan juga oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (29/156), dari Ikrimah secara mursal dan dari jalur yang lain dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu.
[2]. Al Bidayah wan-Nihayah (3/60).
[3]. Syaikh al Albani berkata: “Dia adalah al Ajlah bin ‘Abdullah bin Hujaiyah al Kindiy. Dia termasuk orang jujur, Syi’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab at Taqrib. Dan gurunya dalam hadits ini adalah orang yang meriwayatkannya dari Jabir, yaitu Dziyal bin Harmalah al Asadi. As-Syaibani juga Hushain dan Hajaj bin Arath. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Ibnu Abi Hatim (3/451). Zhahirnya, orang ini terdapat dalam kitab Tsiqat karya Ibnu Hibban. Dan lewat jalur ini Abu Nuaim meriwayatkannya dalam Dalailun-Nubuwwah hlm. 75. Begitu juga al Hakim dalam kitab al Mustadrak (2/253), namun dengan ringkas. Beliau rahimahullah mengatakan, sanadnya shahih, dan ini disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.
[4]. Semoga Allah melindungi kita dari sifat sombong yang menghalangi kita menerima al haq, dan semoga Allah memelihara kita dari fanatik kepada yang bathil.
[5]. Syaikh al Albani berkata,”Sanadnya hasan.”
sumber: https://almanhaj.or.id/1256-kesombongan-menghalangi-hidayah.html

Bala’ dan Musibah Turun karena Dosa dan Terangkat karena Taubat

Sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab berbunyi,

ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة

“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”

Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap muslim, agar ia tidak terlalu mencari “kambing hitam” atas apa yang terjadi di dunia ini, akan tetapi hendaknya langsung introspeksi terhadap dirinya sendiri kemudian memperbaik dosa kesalahan tersebut serta mengiringi keburukan tersebut dengan segera melakukan kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺃَﺗْﺒِﻊِ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔَ ﺗَﻤْﺤُﻬَﺎ

“Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan kebaikan  akan menghapuskannya.”[1]

Semua musibah dan kesesahan yang menimpa kita adalah karena dosa dan maksiat yang kita lakukan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).

Oleh karena itu kita dianjurkan agar memperbanyak bertaubat dan beristighfar agar dosa dihapus oleh Allah dan tidak Allah turunkan kepada kita dalam bentuk bala’ dan musibah.

Istighfar adalah sumber kemudahaan hidup dengan izin Allah, karenanya kita sangat dianjurkan memperbanyak istigfar di manapun dan kapan pun. Istigfar adalah amalan yang sangat mudah karena hanya menggerakkan lidah dan menghadirkan hati.

Al-Hasan Al-Bashri berkata,

أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ، فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ

“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, meja-meja makan, jalan-jalan, pasar-pasar dan majelis-majelis kalian di manapun kalian berada, karena kalian tidak tahu kapan turunnya pengampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[2]

Luqman bepesan kepada anaknya,

يَا بُنِيَّ عَوِّدْ لِسَانَكَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، فَإِنَّ لِلَّهِ سَاعَاتٍ لَا يَرُدَّ فِيهَا سَائِلًا

“Wahai anakku biasakan lisanmu dengan ucapan: [اللهم اغفر لي] ‘Allhummafirli’  karena Allah memiliki waktu-waktu yang tidak ditolak permintaan hamba-Nya di waktu itu.”[3]

Dengan taubat kepada Allah maka bala’ dan musibah akan diangkat.

Imam Al-Qurthubi menukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya, bahwasanya ia berkata,

شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”

“Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

yang lain lagi berkata kepadanya, “Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

Dan kami pun menganjurkan demikian kepada orang tersebut.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri, tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh [ayat 10-12].”[4]

Dan dengan istigfar kita akan mendapatkan berbagai kemudahan, hati yang lapang dan rezeki

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

dan hendaklah kamu meminta ampun [istigfar] kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian),niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (Hud: 3)

Syaikh Muhammad Amin As-Syinqithi berkata menafsirkan ayat ini,

وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَتَاعِ الْحَسَنِ: سَعَةُ الرِّزْقِ، وَرَغَدُ الْعَيْشِ، وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَجَلِ الْمُسَمَّى: الْمَوْتُ

“Pendapat terkuat tentang yang dimaksud dengan kenikmatan adalah rezeki yang melimpah, kehidupan yang lapang, dan keselamatan di dunia dan yang dimaksud dengan waktu yang ditentukan adalah kematian.”[5]

Hendaknya kita renungkan sabda  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”[6]

Demikian semoga bermanfaat

@ Di antara Langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink, Perjalanan Yogyakarta – Medan

Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. Tirmidzi

[2] Jami’ Al-ulum wal hikam hal. 535, Darul Aqidah, Kairo, cet.1, 1422 H

[3] Kalamul Layaali wal Ayyaami libni Abid Dunya

[4]Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah

[5] Adhwa’ul Bayan 2/170, Darul Fikr, Libanon, 1415 H, Asy-Syamilah

[6] HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani

sumber: https://muslim.or.id/38223-bala-dan-musibah-turun-karena-dosa-dan-terangkat-karena-taubat.html

Sekedar Makanan Halal Dan Thayyiba Tidak Bisa Mencegah (Menjamin) Dari Wabah Penyakit

kami pernah membaca pendapat  atau pendapat yang disebarluaskan, yaitu jika ingin dihindarkan dari penyakit dan wabah menular dengan cara makan yang halal dan thayyiba, back to nature (tidak makan makanan pengawet, makanan “sampah). Pendapat ini sering dikampanyekan dan terkadang membawa-bawa nama Islam. Pendapat ini menyatakan menentang keras vaksinasi dan imunisasi, karena Islam sudah mengajarkan cara mencegah wabah penyakit, yaitu dengan menjaga makanan halal dan thayyiba. Bahkan seakan-akan menyatakan bahwa cara Islam mencegah wabah penyakit adalah dengan menjaga makanan halal dan thayyiba saja.

Pendapat ini kurang tepat,  karena  sekedar makanan halal dan thayyiba tidak bisa mencegah /menjamin dari wabah penyakit.

Jika kita menilik sejarah, kita bisa baca sejarah  bahwa sahabat Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu meninggal karena wabah tha’un di Syam, beliau adalah sahabat “Al-Asyarah Al-mubasysyarina bil jannah” yang sudah dijamin masuk surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ “

 

“Abu Bakr di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Aliy di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga” (HR. At-Tirmidzi no. 3747, shahih)
tentu kita yakin bahwa beliau pasti makan makanan yang halal dan thayyiba, saat itu tidakada makanan pengawet, serta beliau juga pasti menjaga perintah dan menjauhi larangan Allah.
Abu Ubaidah meninggal karena wabah tha’un

Imam Az-Dzahabi rahimahullah menceritakan wafatnya Abu Ubaidah Ibnul Jarrah karena Tha’un di Syam,

أن عمر كتب إلى أبي عبيدة في الطاعون: إنه قد عرضت لي حاجة، ولا غنى بي عنك فيها، فعجل إلي. فلما قرأ الكتاب، قال: عرفت حاجة أمير المؤمنين، إنه يريد أن يستبقي من ليس بباق.فكتب: إني قد عرفت حاجتك، فحللني من عزيمتك، فإني في جنمن أجناد المسلمين، لا أرغب بنفسي عنهم. فلما قرأ عمر الكتاب، بكى، فقيل له: مات أبو عبيدة؟ قال: لا، وكأن قد .قال: فتوفي أبو عبيدة، وانكشف الطاعون.

Umar bin Khattab menulis surat kepada Abu Ubaidah setelah mendengar ada wabah tha’un di syam:

“Aku memiliki hajat keperluan kepadamu saya butuh engkau maka segeralah menemuiku (ke Madinah)”

Tatkala Abu Ubaidah membaca surat tersebut, maka beliau berkata:

“aku mengetahui maksud Umar (Umar tidak ingin Abu Ubaidah terkena wabah),  ia tidak menginginkanku tetap tinggal di sini”

Maka beliau menulis surat kepada Umar:

“aku telah mengetahui hajat keperluanmu, tolong bebaskan aku  dari keinginanmu karena saya masih mempunyai tanggungan kaum muslimin (beliau adalah amirnya). “

Tatkala Umar membaca surat tersebut beliau menangis. Kemudian ada yang berkata padanya:

“apakah telah wafat Abu Ubaidah?

Umar berkata:

“sepertinya sudah”

Ubu Ubaidah meninggal dan diketahui karena wabah tha’un

[Siyar A’lam An-Nubala 1/19, Mu’assasah Risalah, 1405 H, syamilah]

 

Islam mengakui adanya penyakit menular dan wabah penyakit

Perlu diketahui ada dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa Islam juga mengakui adanya wabah penyakit menular.

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit (agar tidak menular).” (HR. Bukhari no. 5771 dan Muslim no. 2221)

Dan Sabda beliau,

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”. (HR. Muslim: 5380)

 

Jadi Islam mengajarkan agar kita berusaha mencegah penyakit menular dengan cara mengindari dan mencegahnya.

 

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/sekedar-makanan-halal-dan-thayyiba-tidak-bisa-mencegah-menjamin-dari-wabah-penyakit.html

Di Antara Sebab Wabah & Musibah Adalah Dosa & Maksiat

Jika kita melihat dari sudut pandang ilmiah/ilmu pengetahuan tentu saja kita akan mendapati berbagai jawaban tentang wabah yang kita dapati hari ini, itu bagus untuk menelaah kemudian untuk mengetahui cara menangani /mengobatinya.

namun disisi lain, kita juga perlu melihat dari sudut pandang islam. kenapa wabah ini baru ditimpakan sekarang. sehingga kita dapat meminimalisirnya di masa mendatang. kiranya artikel berikut ini mencerahkan kita.


Di Antara Sebab Wabah & Musibah Adalah Dosa & Maksiat

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan bahwa di antara sebab musibah dan bencana adalah dosa-dosa dan maksiat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ 

“Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah subhanahu wa ta’ala memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu).” (asy-Syura: 30)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa musibah apa pun yang menerpa seorang hamba, baik menimpa badan, harta, anak-anaknya, atau musibah yang menimpa segala yang dia cintai dan berharga; semua itu disebabkan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Bahkan, dosa-dosa yang Allah subhanahu wa ta’ala ampuni lebih banyak (daripada yang dibalas/dihukum). Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya, tetapi merekalah yang menzalimi diri merkea sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan 1/759)

Bahkan, secara spesifik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mengingatkan tentang akan terjadinya wabah penyakit berikut sebabnya. Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262)

Perhatikan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas. Beliau telah memperingatkan para sahabat dan umatnya bahwa apabila perbuatan fahisyah (perbuatan keji) telah menyebar dan dilakukan secara terang-terangan, wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah terjadi akan menyebar di tengah-tengah mereka. Penyakit dan virus yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui dalam ilmu kesehatan, tiba-tiba muncul dan menyebar dengan sangat cepat.

Penting untuk kita ketahui, apa saja yang termasuk perbuatan fahisyah? Di antara perbuatan fahisyah adalah zina. Allah subhanahu wa ta’ala befirman,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu “fahisyah” dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)

Perhatikan ayat di atas. Dengan jelas Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan zina sebagai perbuatan fahisyah (perbuatan keji).

Demikian pula, termasuk perbuatan yang digolongkan dalam kategori fahisyah adalah pebuatan lelaki mendatangi sesama lelaki untuk melampiaskan syahwatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (al-A’raf: 80)

Mari kita cermati ayat di atas. Dengan gamblang, Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan pula perbuatan kaum Nabi Luth sebagai fahisyah.

Renungan Tentang Fahisyah

Saudaraku, kaum  muslimin rahimakumullah.

Sekali lagi, kami mengajak untuk mencermati dan merenungi sabda Nabi di atas.

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan; kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.”

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Apakah kita tidak takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Belum tibakah saatnya kita bertobat? Sampai kapan kita bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa?

Ya Allah, ya Ghafur, ya Rahim. Wahai Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, kami memohon ampun kepada-Mu. Ya Allah, bantulah kami untuk meninggalkan maksiat dan hal-hal yang tidak Engkau ridhai.

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Sungguh, kita sendiri menyaksikan dan mengetahui, bagaimana perzinaan merajalela pada zaman ini. Media-media pornografi menyebar luas dan mudah diakses oleh semua kalangan; baik orang tua, dewasa, maupun anak-anak. Bahkan, pernah sampai ada ungkapan yang tersebar di tengah-tengah masyarakat bahwa “pornografi adalah pemersatu bangsa”, seolah “pengakuan” bahwa salah satu sarana fahisyah ini memang sudah maklum.

Nastaghfirullah wnatubu ilaih (Kami beristighfar dan memohon ampun kepada-Mu, ya Allah).

Sahabat Ka’ab bin al-Akhbar radhiyallahu anhu mengatakan,

إِذَا رَأَيْتَ الْوَبَاءَ قَدْ فَشَا فَاعْلَمْ أَنَّ الزِّنَا قَدْ فَشَا

“Apabila engkau menyaksikan wabah penyakit telah menyebar, ketahuilah bahwa (di antara sebabnya adalah) perzinaan telah merebak.” (Hilyatul Auliya 6/379)

Di sisi lain, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang perzinaan, perselingkuhan, pemerkosaan, tindak asusila, pelecehan seksual, transgender, dll. Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala befirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang senang apabila (berita) perbuatan fahisyah (perbuatan keji) tersiar di tengah-tengah orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (an-Nur: 19)

Lebih dari itu, perkembangan LGBT dengan segala macamnya juga terus meningkat. Penyuka sesama jenis sudah semakin berani mempertontonkan eksistensi mereka alias terang-terangan. Media pun berlomba-lomba meliput dan gencar menyebarkan hal-hal yang terkait salah satu perbuatan fahisyah ini. Bahkan, para transgender justru bangga dan tidak malu lagi untuk tampil. Tak mengherankan apabila salah seorang transgender menjadi trending karena tayangannya ditonton berjuta orang.

Yang lebih mengherankan lagi, ada pihak-pihak tertentu yang terus mempropagandakan LGBT dari berbagai sisi. Banyak dalih mereka kemukakan demi membela suatu perbuatan yang jelas-jelas mungkar. Mereka berjuang supaya kaum muslimin mendiamkan kemungkaran yang sangat besar ini, dengan dalih HAM atau alasan lainnya.

Sebenarnya, kami yakin bahwa masih banyak kaum muslimin yang hati nuraninya peduli tentang hal ini. Semoga tulisan ini bisa membuat kita kembali sadar tentang bahaya LGBT yang terus berkembang dan semakin memprihatinkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لَا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللهُ بِعِقَابِهِ

“Sungguh,  jika manusia melihat kemungkaran, tetapi mereka tidak mencegahnya, niscaya tidak lama lagi Allah subhanahu wa ta’ala akan meliputi mereka semua dengan azab-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 4005 dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu)

Ajakan untuk Bertobat dan Memperbanyak Istighfar

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita merenung sejenak. Luangkan waktu untuk muhasabah dan introspeksi diri. Tidak perlu mengarahkan jari telunjuk kepada orang lain. Arahkanlah semua nasihat ini kepada diri kita sendiri terlebih dahulu.

Adakah kewajiban agama yang belum kita kerjakan? Adakah perbuatan dosa yang kita belum bertobat darinya? Masihkah kita menzalimi saudara kita dan belum meminta maaf seraya mengembalikan haknya? Sudahkah kita menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, baik ketika sendiri maupun di keramaian?

Atau jangan-jangan, kita  masih terus dalam suatu kemaksiatan padahal kita mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak ridha dengan perbuatan kita? Adakah andil kita dalam perbuatan fahisyah, walau hanya sekadar ikut terlibat atau melihat media penyebar fahisyah? Sudahkah kita menjaga pandangan kita dari tayangan yang mengandung fahisyah?

Ya Allah, ya Ghafur, ya Rahim. Wahai Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, kami memohon ampun kepada-Mu. Ya Allah, bantulah kami untuk meninggalkan maksiat dan hal-hal yang tidak Engkau ridhai.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nasuhah (tobat yang terpenuhi syarat-syaratnya). (at-Tahrim: 8)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita bergegas menuju ampunan Allah. Belumkah datang saatnya untuk kalbu kita tunduk dan khusyuk bertobat dari segala kemaksiatan yang kita lakukan?

Sudahi… Hentikan…

Jangan tunda tobatmu… Jangan sampai terlambat.

Apakah kita harus menunggu nyawa sampai di tenggorokan, baru kita sadar dan mau bertobat?

Saaudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita memperbanyak istghfar. Luangkan waktu kita dalam sehari untuk khusyuk melafazkan istghfar disertai hadirnya kalbu. Semoga dengan kita memperbanyak istighfar, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat wabah dan bencana ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfiman,

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ

Dan tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Allah mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang beritighfar. Sebab, istighfar adalah penghapus dosa, sedangkan dosa adalah penyebab turunnya azab. Oleh karena itu, istighfar adalah penghilang azab.” (Majmu’ al-Fatawa, 8/163)

Nikmat Sehat Bisa Berubah Menjadi Sakit

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Hukuman) yang demikian itu karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah kenikmatan yang telah Dia karuniakan kepada suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfal: 53)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menafsirkan ayat di atas, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak akan mencabut lalu mengganti suatu nikmat yang telah Dia karuniakan kepada suatu kaum, baik nikmat yang bersifat agama atau duniawi. Lebih dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa melanggengkan nikmat tersebut, bahkan menambahnya. Hal itu akan terjadi apabila mereka mau menambah rasa syukurnya (kepada Allah). (Keadaan akan terus demikian) sampai ‘mereka sendiri yang mengubahnya’, yakni dengan sebab mereka sendiri meninggalkan ketaatan dan menggantinya dengan kemaksiatan.” )Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan 1/324) 

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Apabila engkau ingin nikmat yang ada padamu tetap langgeng, jagalah nikmat tersebut dengan mensyukurinya dan menggunakannya hanya untuk ketaatan kepada Allah. Jangan engkau gunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya, sehingga engkau akan menyesal ketika nikmat tersebut nantinya dicabut.

Manfaatkan nikmat sehat untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya, supaya Allah subhanahu wa ta’ala melanggengkan nikmat sehat tersebut kepadamu. Sebaliknya, jangan gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada-Nya, yang berakibat tercabutnya nikmat sehat tersebut.

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang pandai bersyukur atas setiap nikmat-Mu.

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita mendengar dengan saksama nasihat berikut. Syaikh Ubaid al-Jabiri mengatakan,

إأَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ،  دَلَّ كِتَابُ رَبِّنَا وَسُنَّةُ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنَّهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ، وَمَا رُفِعَ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ، فَاسْتَعِينُوا بِاللهِ عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ، وَسَارِعُوا إِلَى الطَّاعَاتِ مِنْ فَرَائِضَ وَمُسْتَحَبَّاتٍ، وَجَانِبُوا -أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ- الْمُحَرَّمَاتِ؛ فَإِنَّهَا مُجْلِبَةٌ لِلْمَسَاخِطِ وَعَظِيمِ الْعُقُوبَاتِ

“Wahai kaum muslimin, Al-Quran dan Sunnah Nabi menjelaskan bahwa tidaklah bencana/wabah penyakit/musibah itu terjadi, kecuali disebabkan oleh dosa; sedangkan (musibah tersebut) tidak akan diangkat kecuali dengan tobat. Oleh karena itu, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya dibantu untuk selalu berzikir mengingat-Nya, mensyukuri segala nikmat-Nya, dan senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada-Nya.

(Wahai kaum muslimin), bersegeralah menunaikan ketaatan kepada Allah, baik yang wajib maupun yang mustahab (sunnah). Demikan pula (wahai kaum muslimin), jauhilah semua hal yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan. Sungguh, kemaksiatan dan hal-hal yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan adalah penyebab kemurkaan (Allah) dan pedihnya hukuman. (Khutbah Jumat berjudul Ma Nazalal Bala illa bi Dzanbin wa Rufi’a illa bi Taubah, oleh Syaikh Ubaid al-Jabiri)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah-Nya, supaya kita bisa menjadi hamba-Nya yang bertobat dan memperbanyak istighfar.

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Arif

sumber: https://asysyariah.com/di-antara-sebab-wabah-musibah-adalah-dosa-maksiat/

Doa Meminta Perlindungan Dari Bala Yang Berat

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Ya Allâh, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah yang tak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa.  [Muttafaq ‘alaih]

[HR. Al-Bukhâri, kitab ad-Da’âwât bab at-Ta’awwudz min jahdil balâ’ 6/75, Dar Thauqin Najât dan Muslim, kitab adz-dzikr wa ad-du’â wa at-taubah wa al-istighfâr bab at-ta’awwudz min sû’il qadhâ’, no 2707 hlm. 1452 Darul Mughni KSA cet. 1 th. 1419 H/1998].

Fawa’id :  

  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari empat hal tersebut di atas
  2. Ketika seorang hamba meminta perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dan berdoa kepada-Nya berarti ia menampakkan betapa ia fakir, membutuhkan Allâh Azza wa Jalla dan hamba tersebut merendahkan diri kepada Rabbnya
  3. Berlindung dari ketentuan takdir yang berdampak buruk, tidak bertentangan dengan sikap ridha terhadap ketentuan takdir Allâh Azza wa Jalla . Karena meminta perlindungan dari ketentuan takdir yang buruk juga merupakan ketentuan takdir Allâhk . Allâh Azza wa Jalla bisa saja mentakdirkan suatu bala’ kepada seseorang, namun Allâh Azza wa Jalla juga mentakdirkan bahwa bila ia berdoa, Allâh akan hilang bala’ tersebut.
  4. Perlunya berlindung dari bala yang begitu berat. Karena di samping berat untuk ditanggung, kadang juga menyebab kelalaian terhadap sebagian perintah agama. Terkadang hatinya merasa tertekan menanggung cobaan ini, sehingga ia tidak bisa bersabar. Ini menyebabkan dosa.
  5. Kita juga diperintahkan agar berlindung dari datangnya sebab-sebab kebinasaan. Yaitu kepayahan yang begitu menghimpit dan mara bahaya yang berat; baik yang menimpa badan, keluarga atau harta. Kadang juga sebab-sebab kesengsaraan dalam urusan ukhrawi yaitu adanya siksa dan tanggungan di akhirat disebabkan dosa yang diperbuat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari hal tersebut karena itu adalah bala dan cobaan yang paling klimaks. Dan orang yang diuji dengan itu, seringkali ia tidak sabar, sehingga ia mendapatkan kesusahan di dunia dan siksa di akhirat.
  6. Ini termasuk doa yang lengkap. Karena hal yang dibenci manusia bisa dilihat dari sisi asal mulanya, yakni buruknya akibat dari apa yang ditakdirkan. Atau bisa dilihat dari sisi akhirat, yaitu tertimpa kebinasaan. Karena kesengsaraan akhirat sejatinya adalah kebinasaan hakiki. Atau dari sisi penghidupan. Hal ini bisa dari sisi orang lain, yaitu bergembiranya musuh atas musibah yang menimpa kita. Atau dari sisi dirinya sendiri, yaitu beratnya musibah yang melanda.

[Tuhfah adz-Dzâkirîn, asy-Syaukani Muassasah al-Kutub  ats-Tsaqafiyyah 1408/1988 hal 381;  Mir’âtul Mafâtîh Syaikh Ubaidullah Al-Mubarakfuri 8/214].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

sumber: https://almanhaj.or.id/6925-doa-meminta-perlindungan-dari-bala-yang-berat.html

Gunakan Cermin, Bukan Teropong

Sahabat-ku, mari kita
Belajar memperbaiki dan mengkritik diri sendiri
Karena memperbaiki dan mengkritik orang lain itu
Tidak perlu belajar

Gunakan cermin
untuk melihat kekurangan diri
Jerawat kecil di wajah kita sangat diperhatikan
Jangan gunakan teropong
Untuk melihat kesalahan kecil orang lain

Perhatikan perkataan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Adabul Mufrad no. 592, shahih)


Jika semua orang salah di mata
Berarti ada yang perlu diperbaiki pada hati
Karena sifat ini membuatnya
Tidak akan punya teman dan
Tidak akan merasakan nikmatnya persahabatan

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﺃﺧﺎ ﺑﻼ ﻋﻴﺐ، ﺻﺎﺭ ﺑﻼ ﺃﺥ

“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.” (Sya’bul Iman no. 7887)

Seseorang tidak boleh sudah merasa baik
Karena kalau sudah merasa baik
Sulit untuk diperbaiki dan memperbaiki

Inilah hakikat dari tawaadhu’
Selalu merasa diri belum baik
Dan merasa orang lain lebih baik dari dirinya

Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah.
Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.”
Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan,

“Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.”

Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’ 2/226]

Dengan merasa tidak lebih baik/mulia dari orang lain, seorang yang tawaadhu’ akan berusaha:

1. Memuliakan orang lain karena menganggap orang lain lebih baik serta ia tidak mudah meremehkan orang lain. Sikap ini akan memudahkan ia berinteraksi dan melahirkan ahklak yang mulia.

2. Berusaha terus memperbaiki dirinya dan meningkatkan kualitas diri karena ia merasa ada yang perlu ditingkatkan.

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/gunakan-cermin-bukan-teropong.html

Jika Doa Kita Tidak Dikabulkan

Mungkin ada di antara kita yang telah banyak menengadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh tetapi ternyata Allah subhanahu wa ta’ala tidak atau belum mengabulkan doanya. Padahal semua sebab-sebab dikabulkan doa telah dilakukannya, seperti:

  1. Ikhlas dan tidak berbuat syirik.
  2. Memulai dengan pujian dan salawat.
  3. Dengan sungguh-sungguh dan tidak lalai.
  4. Yakin akan dikabulkan oleh Allah.
  5. Memilih waktu dan tempat mustajab.
  6. Meninggalkan makanan, minuman dan pakaian haram.
  7. Meninggalkan maksiat dan bertaubat.
  8. Mengerjakan ketaatan dan bertawasul dengan nama-nama Allah, dan lain-lain.

Dia berkata, “Ada apa gerangan? Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah Allah Maha Kuasa dan mengabulkan doa-doa hamba yang berdoa kepada-Nya? Apakah Allah tidak sayang kepadaku? Bukankah Allah mengatakan:

{ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}

Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya untuk kalian.’ (QS Ghafir: 60).”

Sabarlah wahai Saudaraku sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

Tidak ada seorang pun yang berdoa dengan sebuah doa kecuali Allah akan mengabulkan apa yang dimintanya atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya, selama dia tidak berdoa yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.”1

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ.

Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari ketiga hal berikut: Allah akan mengabulkannya dengan segera, mengakhirkan untuknya di akhirat atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya.

Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa kami.” Beliau berkata, “Allah lebih banyak lagi.”2

Dari kedua hadits di atas kita dapat memahami bahwa seseorang yang telah benar-benar melaksanakan sebab-sebab dikabulkannya doa, insya Allah doanya akan dikabulkan oleh Allah. Jika tidak dikabulkan, maka akan diakhirkan atau diberikan kebaikan oleh Allah di hari kiamat atau Allah akan sengaja tidak mengabulkan doanya di dunia agar dia terhindar dari akibat buruk apabila doa tersebut dikabulkan dan Allah memalingkannya kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia minta.

Pada hadits kedua, kita dapat melihat semangat para sahabat dalam beribadah, mereka mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa kami.” Itulah yang seharusnya kita lakukan kepada Allah, yaitu memperbanyak doa kepada Allah.

Adapun perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah lebih banyak lagi”, para ulama menyebutkan beberapa makna dari perkataan tersebut, di antaranya:

  1. Allah akan lebih banyak mengabulkannya daripada banyaknya doa yang kalian minta.
  2. Allah akan lebih banyak memberikan karunia dan keutamaan daripada doa yang kalian minta.
  3. Allah tidak akan lemah dengan banyaknya permintaan kalian dan lain-lain.

Dengan melihat kedua hadist di atas dengan lafaz yang berbeda, maka tentu kita akan bertambah yakin bahwa Allah Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui seluruh hikmah dan Maha Sayang kepada hamba-hambanya.

Mudah-mudahan kita bisa terus bersabar menghadapi kehidupan di dunia ini dan mensyukuri seluruh apa yang Allah berikan kepada kita serta bisa selalu berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di dalam hadits qudsi Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan

(( أنا عندَ ظنِّ عبدي بي ، فليظنَّ بي ما شاء ))

Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Oleh karena itu, berprasangkalah terhadap-Ku sesuka hatinya.”3

Dan di dalam riwayat lain terdapat tambahan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

(( فلا تظنُّوا بالله إلا خيراً ))

Janganlah kalian berprasangka kepada Allah kecuali dengan prasangka yang baik.”4

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.

**

16 Dzul-qa’dah 1435 H/11 September 2014

Ma’had Imam Al-Bukhari, Karang Anyar, Jawa Tengah

 

Daftar Pustaka

  1. Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab Al-Hanbali.
  2. Tuhfatul-Ahwadzi Bisyarhi Jami’ At-Tirmidzi. Al-Mubarakfuri.
  3. Dan lain-lain sebagian besar tercantum di footnotes.

 

Catatan kaki

1 HR At-Tirmidzi no. 3381. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.

2 HR Ahmad 11133 dari Abu Said Al-Khudri. Sanad-nya dinyatakan jayyid oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk.

3 HR Al-Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675.

4 HR Ibnu Abid-Dunya dalam ‘Kitab Husni Dzhanni Billah’ no. 84.

Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

sumber: https://muslim.or.id/22599-jika-doa-kita-tidak-dikabulkan.html

“Mengalah” Dalam Debat yang Tidak Bermanfaat

Maksud “mengalah” pada judul adalah segera meninggalkan debat kusir tersebut. Dunia internet dan media sosial merupakan sarana yang mudah untuk berdebat. Perlu diketahui bahwa berdebat khususnya debat kusir sangat merugikan apabila kita lakukan. Terutama di media sosial, walaupun kita sudah berniat berdiskusi dengan baik akan tetapi diskusi di internet dan media sosial tetap sangat sulit dilakukan.

Mengalah dari debat kusir, karena “kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab“.

Mengalah dalam debat, sebagaimana sebuah ungkapan:

وما جادلني جاهلٌ إلا وغلبني

“Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah”

Berdebat (apalagi di media sosial) menimbulkan banyak kerugian:

 

Pertama, Membuang-buang waktu yang berharga
Waktu kita akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya.

 

Kedua, Mengeraskan hati karena sering sakit hati dan berniat membalas. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu menghendaki kebaikan pada saudaranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. [1]

 

Ketiga, Berdebat akan menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin, padahal kita diperintahkan agar menjadi saudara se-iman.

Nabi Sulaiman ‘alaihis sallam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [2]

 

Keempat, Mengalah yaitu meninggalkan debat (walaupun nanti akan dikira akan kalah) bukanlah kalah yang sesungguhnya.

Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda-kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna. Oleh karena itu mengalah dan meninggalkan perdebatan, pahalanya sangat besar.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” [3]

 

Kelima, Walaupun sebenarnya  kita bisa menang dalam berdebat akan tetapi, bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah, padahal dia mengakui kebenaran telah datang.
Terkadang dakwah ditolak bukan karena materinya yang salah atau orang yang menyampaikan, tetapi cara dakwah yang tidak dapat diterima. Salah satunya adalah dakwah dengan debat kusir yang tidak bermanfaat.

Sekali lagi dakwah itu untuk kebaikan dan berniat kebaikan, perhatikan betapa tawadhu-nya Imam Syafi’i, beliau berkata

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلا عَلَى النَّصِيحَةِ

“Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat.”[4]

Beliau juga berkata,

وَاللَّهِ ، مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ يُخْطِئَ

“Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru.” [5]

 

Semoga kita tidak terpancing ikut berdebat dan dihindarkan dari berdebat.

@ Masjid Al-Ashri Yogyakarta – Selagi menunggu hujan deras berhenti – 

 

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] HR. Muslim 55/95

[2] Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi

[3] Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138

[4] Adabu Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 69

[5] Tabyinu Kadzbil Muftari hal. 340

sumber: https://muslim.or.id/37204-mengalah-dalam-debat-yang-tidak-bermanfaat.html

3 Tanda Kebahagiaan

Sungguh, ini adalah 3 tanda kebahagiaan yang mesti setiap orang raih.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Wabilush Shoyyib mengatakan,

ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم الله سبحانه وتعالى المسؤول المرجو الإجابة أن يتولاكم في الدنيا والآخرة وأن يسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة وأن يجعلكم ممن إذا أنعم عليه شكر وإذا ابتلي صبر وإذا أذنب استغفر فإن هذه الأمور الثلاثة عنوان سعادة العبد وعلامة فلاحه في دنياه وأخراه ولا ينفك عبد عنها أبدا فإن العبد دائم التقلب بين هذه الأطباق الثلاث

Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Yang senantiasa diharapkan terijabahnya do’a. Semoga Allah melindungi kalian di dunia dan akhirat. Semoga Allah senantiasa melapangkan nikmat-Nya baik secara zhohir maupun batin. Semoga Allah pula menjadikan kalian menjadi orang-orang yang bersyukur tatkala diberi nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah dan segera memohon ampunan kepada Allah ketika terjerumus dalam dosa. Inilah tiga tanda kebahagiaan dan tanda keberuntungan seorang hamba di dunia dan akhiratnya. Seorang hamba senantiasa akan berputar pada tiga kondisi ini. (Al Wabilush Shoyib, hal.11, Asy Syamilah)

Inilah tiga tanda bahagia:

1. Bersyukur ketika diberi nikmat.

2. Bersabar ketika ditimpa musibah (cobaan).

3. Memohon ampun pada Allah ketika telah terjerumus dalam dosa.

Manusia akan selalu berputar dalam tiga kondisi ini. Pasti Anda pun ingin bahagia.

 

Faedah ilmu, Senin pagi, 4 Jumadits Tsani 1431 H

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/1029-3-tanda-kebahagiaan.html

7 Bahaya Hasad

Salah satu penyakit hati, dan ini merupakan penyakit sosial, adalah kedengkian terhadap saudara kita sesama muslim. Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya, sampai-sampai hampir tidak ada satu jiwa pun yang lepas dari penyakit dengki, atau yang dikenal dengan hasad. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim pernah berkata di dalam Majmu’ Fatawa,

أَنَّ الْحَسَدَ مَرَضٌ مِنْ أَمْرَاضِ النَّفْسِ وَهُوَ مَرَضٌ غَالِب فَلاَ يَخْلُصُ مِنْهُ إِلاَّ الْقَلِيل مِن النَّاسِ وَلِهَذَا يُقَالُ مَا خَلاَ جَسَدٌ مِن حَسَدٍ

Bahwasanya hasad adalah salah satu dari penyakit hati, dan dia penyakit yang mendominasi yang tidak ada manusia yang bisa lepas darinya kecuali hanya sedikit saja. Oleh maka itu ada ungkapan yang mengatakan tidaklah ada satu pun jasad yang bisa lepas dari hasad. (Majmu’ Fatawa, Juz;10)

Penyakit ini hampir menjangkiti siapapun, dari yang muda sampai yang tua, yang miskin sampai yang kaya, rakyat maupun penguasa, orang yang bodoh sampai pun alim ulama. Seorang pedagang hasad kepada temanya yang sesama pedagang karena pelanggan temannya lebih banyak. Seorang hasad dengan teman sekantornya hanya karena ia naik jabatan. Bahkan seorang ustadz hasad kepada ustadz yang lain karena merasa tersaingi dakwahnya.
Hakikat hasad atau dengki adalah tidak senang jika ada saudara atau temannya mendapatkan kenikmatan dari Allah. Apalagi jika dia berharap kenikmatan yang ada pada saudaranya tersebut hilang, maka inilah yang dinamakan hasad sejati.

Mengapa hasad ini sangat berbahaya?

Yang pertama, karena hasad ini adalah sifat asli daripada orang-orang kafir.

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

‏“Orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin tidak suka jika diturunkan kepada kalian kebaikan walaupun sedikit dari Rabb kalian.” (Al-Baqarah: 105)

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Begitu banyak ahlul kitab yang menginginkan agar kalian kembali kepada kekafiran setelah beriman, yang demikan itu disebabkan oleh penyakit hasad yang telah memenuhi diri-diri mereka setelah jelas bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)

Yang kedua, hasad adalah dosa yang pertama kali dilakukan oleh mahluk Allāh tabāraka wa ta’āla, yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam karena Allāh tabāraka wa ta’āla telah menciptakannya langsung dengan kedua tangan-Nya dan dengan penciptaan yang sempurna.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Allāh tabāraka wa ta’āla berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shaad: 75)

Yang ketiga, karena begitu bahayanya hasad ini, maka Allah perintahkan kita untuk berlindung dari bahaya kejahatan orang yang hasad kepada kita. Allāh tabāraka wa ta’āla berfirman;

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang-orang yang hasad ketika mereka hasad.” (Al Falaq:5)

Yang keempat, karena hasad dapat merusak ukhuwah islamiyah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan sahabat Abu Hurairah Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda;

لا تحاسدوا، ولا تناجشوا ولا تباغضوا، ولا تدابروا، وكونوا عباد الله إخواناً،

“Janganlah kalian saling hasad, berjual beli secara Najasy, janganlah saling membenci dan bermusuhan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allāh yang bersaudara.”

Yang kelima, karena hasad ini dapat mengurangi kadar kesempurnaan iman seseorang. Karena orang yang hasad ia tidak senang melihat apa yang ada pada saudaranya. Rasulullah ﷺ bersabda;

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

Dari Anas bin Malik, Dari Nabi ﷺ“Tidaklah salah seorang diantara kalian beriman (dengan iman yang sempurna) sampai ia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Yang keenam, karena hasad ini dapat mengurangi kadar keimanan seseorang terhadap takdir Allāh . Ketika saudaranya mendapatkan kenikmatan, sedangkan ia belum mendapatkan kenikmatan tersebut, maka sejatinya ini telah Allāh tetapkan di dalam takdirNya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allāh -lah yang memberi rezekinya, (Hud:6).

 

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allāh kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (An Nisaa: 23)

Yang ketujuh, karena hasad ini dapat menghancurkan kebaikan-kebaikan yang kita kumpulkan. Karena orang yang hasad maka jika ia tidak dapat menguasai hatinya, ia akan melakukan kemakasiatan-kemaksiatan yang lain untuk memenuhi rasa hasadnya tersebut, seperti memfitnah, ghibah, pergi ke dukun, dan sebagainya.
Maka benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

sebagaimana sabda beliau, “Jauhilah oleh kalian hasad karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu daud).

Inilah 7 bahaya hasad yang harus kita waspadai bersama, agar kita terhindar dari penyakit tersebut. Walaupun sangat sulit membebaskan diri dari penyakit ini, tapi kita harus tetap berusaha dan memohon pertolongan kepada Allāh tabāraka wa ta’āla agar senantiasa tidak ada rasa hasad di dalam diri kita.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr : 10)

Semoga tulisan 7 bahaya hasad ini bermanfaat, wa akhiru da’wanā anilhamdulillāhi  rabbil ālamīn

Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)

sumber: https://bimbinganislam.com/7-bahaya-hasad/