Manusia, Makhluk yang Banyak Berbuat Salah dan Dosa

“Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139)

Hadits di atas diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2499), Ibnu Majah (4251), ad-Darimi (2730), Ahmad di dalam musnadnya (3/198) dan dalam az-Zuhd halaman 96, ‘Abd bin Humaid dalam al-Muntakhob (1197), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (7/62), Abu Ya’la (2922), al-Hakim (4/244), ar-Ruyani dalam musnadnya (1366), al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5/420), Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (2/111), Ibnu ‘Ady dalam al-Kamil (5/1850), al-Mizi dalam tahdzibul Kamal (21/31), asy-Syajari dalam al-Amali (1/198) rahimahumullah jamii’andari jalur (riwayat) ‘Ali bin Mas’adah, Qatadah mengabarkan kepada kami dari Anas radhiyallahu ‘anhu secara marfu’.

Hadits di atas diperselisihkan hukumnya oleh para Ulama ahli hadits, karena hadits tersebut diriwayatkan dari jalur (riwayat) ‘Ali bin Mas’adah. Di antara para ulama ahli hadits ada yang mendha’ifkan dan ada yang menghasankannya. Inilah beberapa ungkapan mereka terhdap hadits di atas.

Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata:“Hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits ‘Ali bin Mas’adah dari Qatadah.”

Imam al-Baihaqi rahimahullah berkata:“diriwayatkan secara sendirian oleh ‘Ali bin Mas’adah.”

Imam al-Hakim rahimahullah berkata:“Sanadnya shahih dan keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Imam adz-Dzahabi membantahnya dengan ucapannya:“‘Ali layin (lemah hafalannya).”

Oleh sebab itu hadits di atas dihukumi dhai’f oleh sebagian ulama. Berdasarkan hal ini maka para Ulama pun berbeda pendapat dalam pemberian rekomendasi (pengesahan) maupun pen-dha’if-an terhadap ‘Ali bin Mas’adah.

Imam Ibnu Ma’in rahimahullah berkata:” (‘Ali bin Mas’adh) Shalih.”

Imam Abu Hatim rahimahullah berkata:“Laa Ba’sa bihi (tidak mengapa).”

Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah berkata dalam Bulughul Maram:“Sanadnya kuat.”

Imam al-Bukhari rahimahullah berkata:” Fiihi Nazhor (dirinya perlu ditinjau).”

Imam ِAbu Dawud rahimahullah berkata:” Dha’if (lemah).”

Imam an-Nasaai rahimahullah berkata:” Laisa bil Qawiy (Tidak kuat hafalannya).”

Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata:” Dia termasuk orang yang keliru (dalam periwayatan) padahal riwayatnya sedikit .” dan masih banyak lagi perkataan ulama yang lain.

Dan syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits tersebut hasan sebagaimana dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib dan Shahihul Jami’.

Sedangkan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam rahimahullah menyimpulkanbahwa hadits tersebut hasan sebagaimana dalam Taudhihul Ahkam syarh Bulughul Maram. Lalu beliau menukil perkataan al-Iraqi rahimahullah dalam Takhrij Ihyaa’ Ulumuddin, beliau berkata mengenai hadits tersebut:“Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan beliau mengatakan haditsnya gharib, al-Hakim dan beliau menshahihkan sanadnya dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu. Aku (al-’Iraqi) katakan:’ Di dalamnya ada ‘Ali bin Mas’adah dia didhaifkan oleh al-Bukhari. Akan tetapi sanadnya dinyatakan kuat oleh Ibnu Hajar, demikian juga Ibnu al-Qaththan mendukung penshahihan al-Hakim terhadapnya dan dia berkata:’Ibnu Mas’adah Shalihul hadits, dan gharibnya hadits hanyalah apabila dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits dari Qatadah.’”

Pelajaran dari hadits

Saya dan anda pasti pernah dan bahkan sering berbuat dosa dan berbuat salah, kurang dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya dan anda adalah bagian dari manusia dan bagian dari anak cucu Adam, dan tentu kita pun masuk ke dalam hadits tersebut yaitu banyak berbuat salah. Kita tidaklah hidup dalam kondisi yang terjaga dan bersih dari dosa, hal itu sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih:

( لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون فيغفر الله لهم ) صحيح مسلم [ 4936 ].

“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah benar-benar akan menghilangkan kamu, dan pasti akan mendatangkan suatu kaum yang mereka akan berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka”.(Shahih Muslim)

Saya dan anda adalah keturunan Adam, dan bapak kita Adam ‘alaihissalam juga pernah berbuat dosa dan salah namun beliau bertaubat, dan barangsiapa menyerupai bapaknya maka tidaklah dia berbuat zhalim.

Saya dan anda termsuk hamba yang lemah dan Rabb semesta alam memberitahukan kepada kita tentang kelemahan kita, Dia berfirman dalam hadits Qudsi:

( يا عبادي إنكم تخطئون في الليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفر لكم ) صحيح مسلم [ 4674 ].

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka minta mapunlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian.”(Shahih Muslim)

Saya dan anda tidak bisa selamat dari godaan-godaan syetan, was-was dan tipu dayanya. Inilah Nabiyullah Adam ‘alaihissalam syetan telah menguasainya (mempengaruhinya) dan membuat was-was kepadanya.

Saya dan anda adalah pelaku dosa dan kesalahan-kesalahan. Maka wahai saudara sekalian apa solusinya? Bagaimana jalan keluarnya? Wahai saudara sekalian apa obat dari kelemahan kita, dan kelalaian kita?

Sesungguhnya solusi dan obatnya ada dalam beberapa hal, di antaranya:

1. Tidak berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bergembiralah denganmaghfirah(ampunan Allah). Dia berfirman:
(( قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ))[الزمر:53].

“Katakanlah (Ya Muhammad):”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)

2. Tengadahkan tanganmu kepada Dzat Yang Maha Pengampun, dan ketahuilah bahwa Dia mengampuni seluruh dosa. Dia berfirman:

(( إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ))[النجم:32].

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.”(QS. An-Najm: 32)

3. Jauhilah segala sebab yang menjerumuskanmu ke dalam dosa, supaya tidak terulang olehmu dosa yang sama.

4. Bersedihlah akan dosamu, dan menangislah terhadap kesalahan-kesalahanmu, semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala melihat air matamu yang jujur, sehingga dia merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas.

5. Jadikan dosamu di hadapanmu, dan jadikan amalan-amalan kebaikanmu di belakang punggungmu (maksudnya ingat-ingat selalu dosamu dan lupakan amal kebaikanmu), supaya engkau tetap bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersegera dalam kebajikan.

6. Janganlah menyepelekan kemaksiatan sekalipun itu adalah ash-shaghaa’ir (dosa kecil), karena bisa saja hal itu menjadi al-kabaa’ir (dosa besar) di sisi Allah. Dia berfirman:

((وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ))[النور:15].

“Dan mereka menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia di sisi Allah adalah besar.”(QS. An-Nur: 15)

7. Duduklah seorang diri, introspeksi dirilah dan celalah dirimu (karena dosa-dosamu), semoga saja engkau bisa mengambil pelajaran dan takut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai ‘Umar bin al-Khaththabradhiyallahu ‘anhu ketika beliau berkata:

” حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا “.

“Hisablah (introspeksi) diri kalian, sebelum kalian di hisab (di akhirat).”

8. Jadilah orang yang seimbang dalam khauf (rasa takut) dan raja’ (berharap), dan jadikan rasa takutmu di dalam kehidupan ini lebih besar dari rasa berharapmu sebagaimana perkataan para Salaf (ulama terdahulu), supaya engkau bersungguh-sungguh dalam berbuat ketaatan dan meninggalkan dosa-dosa dan keburukan.

9. Waspadalah terhadap perilku ishraar (terus-menerus) dalam berbuat dosa. Karena terus-menerus dalam berbuat dosa membuatnya menjadi al-kabaa’ir (dosa-dosa besar), sekalipun dosa itu pada awalnya adalahshaghaa’ir (dosa kecil). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hamba-hamba-Nya yang bertakwa:

((وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا ))[آل عمران:135]

“Dan mereka tidak terus-menerus melakukan perbuatannya (perbuatan kejinya).”(QS. Ali-Imran: 135)

10. Jadikanlah dosamu seperti gunung di atas kepalamu yang engkau takut ia akan menimpamu dan janganlah kau jadikan dosamu seperti lalat yang hinggap di hidungmu kemudian ia pergi.

11. Bacalah sejarah kehidupan para Salaf rahimahullah (ulama terdahulu), dan bagaimana kehati-hatian dan kewaspadaan mereka terhadap dosa.

12. Bergembiralah dengan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) Allah kepadamu. Dan wajib bagimu untuk senantiasa beristighfar dan engkau akan mendapatkan taubat dan pengampunan dari AllahSubhanahu wa Ta’ala:

(( وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ ))[الشورى:25]

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.”(QS. Asy-Syuraa: 25)

(( وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى ))[طه:82].

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.”(QS. Thaha: 82)

Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahan (dosa) sekalipun banyak, dan menerima amalan shalih sekalipun sedikit. Mahasuci Allah, betapa penyayangnya Dia terhadap hamba-hamba-Nya, betapa lembutnya Dia terhadap orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya dan betapa dekatnya Dia dengan orang-orang yang berdo’a kepada-Nya.

Hendaklah dosa-dosa itu menjadi sarana untuk memberitahumu tentang hakekat dirimu yang kurang (dalam menjalankan perintah). Dan hendaklah ia menjadi pelajaran bagimu, bahwa engkau faqir (membutuhkan) kepada Rabbmu, tidak bisa lepas dari pengawasan, penjagaan dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’alakepadamu.
(( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ))[فاطر:15]
” Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji ” ( QS. Faathir : 15 )

Maka engkau (kita semua) adalah lemah, dan tak berdaya, dan engkau tidak memiliki daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pujian-Nya.

اللهم ارحم ضعفنا وتب علينا فإنا تائبون ومعترفون بذنوبنا (( رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ))[الأعراف:23].

Ya Allah rahmatilah orang lemah di antara kami, dan terimalah taubat kami, karena sesungguhnya kami bertaubat kepada-Mu dan kami mengakui dosa-dosa kami. “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Al-A’raaf: 23)

(Sumber تخريج حديث “كل بني آدم خطاء…”: dari http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3248, dan http://www.omaniyat.com/vb/showthread.php?t=14681. diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

repost dari: http://www.salamdakwah.com/hadist/51-manusia-makhluk-yang-banyak-berbuat-salah-dan-dosa

 

Dikhianati Sahabat sendiri

Apa rasanya dikhianati oleh sahabat yang telah puluhan tahun anda kenal? Apa yang dialami 3 pasien yang diceritakan oleh seorang dokter spesialis jantung ini mungkin bisa menggambarkannya.

👤Pasien 1. Seorang laki-laki muda,usia 40 tahun. Datang ke IGD karena rasa sakit didada bagian tengah. Keluhan Sudah terasa sejak 3 hari ini tapi berusaha untuk diacuhkan saja, pasien berusaha menghilangkan rasa nyeri dengan mengalihkannya dengan merokok. Tapi justru rasa sakit semakin menjadi-jadi sampai ia dilarikan ke RS. Tim IGD melakukan pemeriksaan Rekam jantung (EKG) dan Ia ternyata mengalami serangan jantung berat dan mesti segera dikateterisasi jantung. Dari hasil pemeriksaan kateterisasi tampak penyumbatan total disalahsatu pembuluh darah jantung, selain itu pembuluh darah lain tampak mulai tidak rata karena penyempitan dengan skala yang sedikit lebih ringan. Alhamdulillah pasien tertolong setelah dilakukan penyedotan bekuan darah dan pemasangan stent (cincin) dibagian pembuluh darah yang menyempit. Setelah tindakan, sang dokter bertanya kenapa ia yg masih muda ini bs terkena serangan jantung?ternyata ia merupakan perokok berat sejak mudanya, ia tak pernah percaya rokok berbahaya utk dirinya sampai ia merasakan sendiri pada saat itu. Iapun berjanji untuk segera berhenti dari rokok.

👤Pasien 2. Seorang laki laki 65 th. Datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada berat sejak 1 jam yg lalu. Nyeri dirasa saat beristirahat dirumah, karena rasa nyeri tidak hilang-hilang ia berinisiatif ke IGD RS terdekat. Baru sampai didepan IGD pasien pingsan dan kejang. Tim IGD segera melakukan pertolongan. Dari Rekam jantung tampak serangan jantung akut disertai gangguan irama jantung. Pasienpun segera menjalani tindakan kateterisasi jantung, saat akan dilakukan tindakan pasien tampak sangat kesakitan dan lemah. Untuk bicara saja tidak mampu. Bibirnya tampak gelap dan kuku jarinya kekuningan,khas perokok kronis. Alhamdulillah pasien tertolong, akan tetapi irama jantung masih tidak stabil dan perlu pengawasan ketat. Menurut keluarga pasien tersebut adalah perokok berat dan sangat sulit untuk dinasehati anak-anak dan istrinya. Sebelum dipindahkan keruangan rawat sang dokterpun menasehati pasien utk berhenti merokok,pasien mengiyakan dan tidak menolak nasehat tst. Apakah nasehat diikuti atau tidak wallahua’lam.

👤Pasien 3. Seorang laki-laki 50 tahunan. Datang dengan nyeri dada saat asik memancing. Ia biasa memancing sambil merokok sepanjang harinya. Sampai pada siang itu tiba tiba perut dan dadanya terasa sakit disertai muntah muntah. Keluarga mengira pasien menderita penyakit lambung sehingga dibawa ke IGD RS terdekat. Setelah direkam jantung ternyata pasien mengalami serangan jantung disertai komplikasi irama jantung. Pasien segera ditolong dengan tindakan kateterisasi dan pemasangan stent dipembuluh darahnya. Dokter tersebut kembali menasehati pasien tst utk berhenti merokok,pasienpun mengiyakan. Tampak wajah trauma diwajahnya,rasa hampir mati masih terasa bagi dirinya..

3 kasus diatas adalah contoh yg sering kami hadapi, serangan jantung yg dialami oleh para pecandu rokok. Efek rokok yang merusak pembuluh darah jantung secara pelan pelan sering diabaikan oleh para pecandunya. Sampai pada suatu ketika timbul serangan jantung akut akibat penyumbatan pembuluh darah jantung .

3 pasien diatas adalah orang yg beruntung, tidak jarang pasien serangan jantung langsung meninggal dunia ditempat atau pada saat dilakukan pertolongan. Tidak memandang umur muda atau tua. Ketika terjadi serangan jantung,kematian adalah resiko yg akan pasien hadapi.

Rokok bagi sebagian orang adalah sahabatnya, baik pada saat senang atau sedih,lapang atau sempit. Rokok yang terselip ditangannya merupakan teman sejatinya. Akan tetapi tanpa ia sadari, kandungan rokok secara perlahan merusak tubuhnya, tidak hanya paru-paru akan tetapi juga pembuluh darah tubuhnya.

Rokok adalah sahabat terburuk anda, saat ini anda berteman dengannya,suatu saat nanti ia akan mengkhianati anda. Sebagian orang beruntung menyadarinya dan memutus hubungan dengannya. sementara sebagian lagi tidak menyadari bahkan sampai kematian menjemput dirinya.

Jika anda ingat peringatan yang tertulis dibungkus rokok beberapa tahun silam: “Rokok dapat menyebabkan Serangan Jantung,Stroke,impotensi,gangguan kehamilan dan janin” maka itu adalah benar adanya.

Hanya kadang, propaganda iklan rokok,syubhat terkait rokok dan para pemuka masyarakaf yg juga merokok membuat kita tidak pernah yakin bahayanya sampai merasakannya sendiri.

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Fp Dokter Indonesia Bertauhid
IG DokterIndonesiaBertauhid

https://konsultasisyariah.com/13753-hukum-rokok-dalam-islam.html

https://muslim.or.id/29578-bunuh-diri-bukan-mengakhiri-kehidupan.html

Allahua’lam

#repost

Akibat Mencari Ridho Manusia

Di antara rasa takut yang tercela adalah jika sampai rasa takut membuat seseorang lebih mendahulukan ridho manusia dalam keadaan membuat Allah murka. Artinya yang ia cari asal manusia senang dan ridho dengan dirinya walau ketika itu melanggar aturan Allah. Ia pun sudah tahu kalau itu salah. Rasa takut semacam ini juga mengurangi tauhid seseorang, di samping akan mendapatkan akibat buruk nantinya. Walau manusia awalnya suka, Allah bisa membolak-balikkan hati mereka menjadi benci nantinya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hadits ‘Aisyah berikut ini.

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia yang meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.

Sebagaimana keterangan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 82), maksud hadits “Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” adalah Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya hingga menyakiti dan berbuat zholim padanya.

Beberapa faedah dari hadits ‘Aisyah di atas:

1- Wajib takut pada Allah dan mendahulukan ridho Allah daripada ridho manusia.

2- Hadits tersebut menunjukkan akibat dari orang yang mendahulukan mencari ridho manusia daripada ridho Allah.

3- Wajib tawakkal dan bersandar pada Allah.

4- Akibat yang baik bagi orang yang mendahulukan ridho Allah walau membuat manusia tidak suka dan akibat buruk bagi yang mendahulukan ridho manusia dan ketika itu Allah murka.

5- Hati setiap insan dalam genggaman, Allah yang dapat membolak-balikkan sekehendak Dia. (Lihat Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 267).

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk selalu mengedepankan ridho Allah daripada ridho manusia. Wallahul muwaffiq.

Faedah di sore hari @ Kamar 201, Mabna 27, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 30 Shafar 1434 H

sumber: 
https://rumaysho.com/3099-akibat-mencari-ridho-manusia.html

Wabah Virus Corona Sebuah Renungan

Oleh
Prof. DR. Syaikh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Akhir-akhir ini, pembicaraan dan pemberitaan tentang penyakit yang menakutkan mendominasi media. Orang-orang khawatir terhadap penyebaran penyakit tersebut dan takut terinfeksi. Pembicaraan tentangnya dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat, ada yang membicarakannya sambil bercanda dan menjadikannya bahan gurauan dan ada pula yang serius menjelaskan dengan tulus. Sebagai seorang Muslim, kita senantiasa ketika berhadapan dengan semua kejadian dan musibah, maka kita wajib berpegang teguh dan bersandar kepada Allâh Azza wa Jalla. Semua pembicaraan kita tentang hal-hal tersebut di atas atau tentang metode pengobatan dan terapinya harus berlandaskan syari’at dan kaidah yang benar serta dilandari rasa takut kepada-Nya dan senantiasa merasa dalam pengawasan-Nya Azza wa Jalla.

Berikut ini enam renungan/sikap seputar masalah yang menjadi perhatian serius dalam kehidupan manusia sekarang.

Renungan Pertama
Sebagai seorang Muslim, dalam semua keadaan, kita wajib berpegang teguh dan bersandar kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , bertawakal dan berkeyakinan bahwa semua urusan ada ditangan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allâh; dan Barangsiapa beriman kepada Allâh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. [at-Taghâbun/64:11]

Semua urusan ada ditangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allâh Azza wa Jalla yang mengatur dan memudahkannya. Semua yang Allâh kehendakai pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki pasti tidak ada serta tidak ada yang pelindung kecuali Allâh. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allâh jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allâh. [al-Ahzâb/33:17]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ

Jika Allâh hendak mendatangkan kemudharatan kepada-Ku, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allâh hendak memberi rahmat kepada-Ku, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya? [az-Zumar/39:38]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

Apa saja yang Allâh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allâh, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. [Fâthir/35 :2]

Dalam hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain kebaikan yang sudah Allâh tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya mereka tidak akan bisa menimpakan bahaya kepada kamu kecuali bahaya yang telah Allâh tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.[1]

Dalam hadits yang lainnya, beliau bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allâh telah menulis takdir semua makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi limapuluh ribu tahun.[2]

Juga bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَة

Sesungguhnya yang pertama Allâh ciptakan al-Qalam (pena) seraya berkata kepadanya: Tulislah! Dia bertanya: Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Maka Allâh berfirman: Tulislah takdir segala sesuatu hingga terjadinya kiamat.[3]

Berdasarkan ini semua, maka wajib bagi setiap Muslim untuk menyerahkan segala urusannya kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengharap, meminta dan bersandar serta bertawakal kepada-Nya. Tidak mengharapkan kesehatan, kesembuhan dan keselamatannya kecuali dari Rabbnya Azza wa Jalla , sehingga semua kejadian dan musibah yang melanda akan semakin menambah semangatnya untuk senantiasa berlindung dan berpegang teguh dengan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Barangsiapa berpegang teguh kepada (agama) Allâh, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [Ali Imrân/3:101].

Renungan Kedua.
Wajib atas setiap Muslim untuk menjaga Allâh Azza wa Jalla dengan menjaga ketaatannya kepada-Nya, baik dengan melaksanakan perintah-Nya maupun dengan menjauhi larangan-Nya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wasiat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu.

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah Allâh! Niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allâh! Niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu.[4]

Menjaga perintah Allâh Azza wa Jalla dengan melaksanakannya dan meninggalkan laranganya adalah sebab atau wasilah yang menyebabkan datangnya perlindungan dan keselamatan serta penjagaan Allâh di dunia dan akhirat. Jika dengan itu, dia tetap tertimpa musibah atau turun malapetaka, maka itu akan mengangkat keduduakannya disisi Allâh Azza wa Jalla . Dalan hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Alangkah menakjubkannya perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik dan tidak ada hal itu pada seorangpun kecuali pada seorang Mukmin. Apabila ditimpa kesenangan, dia bersyukur sehingga itu baik baginya dan bila tertimpa musibah maka dia bersabar dan itu kebaikan baginya.[5]

Seorang Mukmin dalam kelonggaran, kesempitan, krisis dan kesenangan berpindah dari kebaikan kepada kebaikan lainnya. Hal itu sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ.

Tidak ada hal itu pada seorangpun kecuali pada seorang Mukmin.

Renungan Ketiga
Sesungguhnya syariat Islam datang menyodorkan sarana-sarana dan anjuran serta mendorong untuk untuk berobat. Dan sesungguhnya berobat dan berusaha mencari kesembuhan itu tidaklah bertentangan dengan tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla .

Cara pengobatan penyakit yang dibawa oleh syariat Islam mencakup dua jenis terapi : terapi preventif (pencegahan) sebelum munculnya penyakit dan terapi kuratif (penyembuhan) setelah penyakit mewabah atau menimpa. Islam datang membawa syariat yang diantara isinya terdapat prinsip-prinsip pengobatan dan penyembuhan dan pedoman-pedoman berobat yang akan mendatangkan keselamatan dan kesehatan bagi seorang Muslim di dunia dan di akhirat.

Siapa saja yang menelaah buku ath-Thibbin Nabawi karya al-‘Allâmah Ibnul Qayyim rahimahullah , niscaya ia akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dalam pembahasan seputar petunjuk-petunjuk yang dibawa oleh syariat Islam dan hadits-hadits shahih yang berasal dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Tentang terapi pencegahan, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنَ اصْطَبَحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ، وَلَا سِحْرٌ

Barang siapa di pagi hari mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwa, niscaya tidak celaka oleh bahaya racun dan pengaruh sihir pada hari itu.[6]

Dan terdapat hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Siapa saja yang berkata pada setiap pagi hari dan setiap sore hari (sebanyak tiga kali):

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dengan nama Allah, yang tidak akan berbahaya dengan nama-Nya, segala sesuatu di bumi dan langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Niscaya dia tidak ada sesuatu pun yang akan mencelakainya.[7]

Dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga:

مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مَنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَتِهِ كَفَتَاهُ

Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari Surat al-Baqarah dalam suatu malam, niscaya itu akan mencukupinya.[8]

Maksudnya itu cukup untuk melindungnya dari mara bahaya, keburukan dan kejahatan.

Dalam hadits Abdullah bin Khubaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia berkata, “Pada suatu malam, saat hujan deras dan kegelapan yang pekat, kami mencari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami shalat kami. Kemudian aku menemukan Beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ucapkanlah!’. Namun aku tidak mengucapkan apa-apa. Kemudian Beliau berkata (lagi), ‘Ucapkanlah!’ Aku belum juga mengucapkan apa-apa. Beliau berkata (lagi), ‘Ucapkanlah’. Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku ucapkan?’Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُصْبِحُ وَحِينَ تُمْسِي ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bacalah Qul huwallahu Ahad, al-mu’awiidzatain ketika engkau berada di sore hari dan pagi hari tiga kali, itu akan cukup bagimu untuk melindungimu dari segala sesuatu.[9]

Dalam hadits Abdullah bin ‘Umar disebutkan bahwa Beliau tidak pernah meninggalkan doa-doa berikut ini ketika berada di pagi dan sore hari:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ.

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon maaf dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon maaf dan ke¬selamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta¬ku. Ya Allâh, tutupilah auratku (aibku) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allâh, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi)[10]

Doa ini memuat permohonan pemeliharaan, perlindungan yang sempurna bagi seorang hamba dari segala penjuru.

Dan dalam aspek terapi penyembuhan, telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam petunjuk-petunjuk agung dan arahan-arahan yang mulia, serta obat-obat penyembuh yang beraneka jenis, yang disebutkan dengan rinci dalam hadits-hadits Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun akan terlalu memakan tempat bila diuraikan ataupun disebutkan satu-satu. Tentang ini dapat dilihat uraian pembahasannya yang luas dalam kitab Zâdul Ma’âd, karya Ibnul Qayyim rahimahullah.

Renungan Keempat
Sebagai seorang Muslim, dia tidak boleh larut terbawa arus berita dusta. Karena sebagian orang, dalam kondisi seperti ini, terkadang menyebarkan atau menyebutkan perkara-perkara yang tidak benar dan tidak ada hakikatnya. Mereka hanya ingin menyebar ketakutan dan kegelisahan yang tidak ada dasarnya di tengah masyarakat. Maka tidak selayaknya seorang Muslim larut dengan berita dusta dan semacamnya. Mudah larut terbawa arus berita menyebabkan munculnya cacat pada kesempurnaan imannya, keyakinannya, dan kesempurnaan tawakalnya kepada Penguasanya Subhanahu wa Ta’ala.

Renungan Kelima
Semua musibah yang menimpa seorang Muslim, baik pada kesehatannya, keluarganya, anaknya, hartanya, bisnisnya atau lain sebagainya, jika dia menghadapinya dengan sabar dan mengharapkan pahala, maka hal itu akan mengangkat derajatnya di sisi Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [al-Baqarah/2:155-157]

Allâh Azza wa Jalla menguji hamba-Nya agar Dia mendengar pengaduan hamba-Nya, permohonannya, doanya, kesabarannya, dan ridhanya terhadap takdir-Nya.

Ketika musibah melanda manusia untuk menguji mereka, maka Allâh Azza wa Jalla melihat mereka. Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan rahasia yang disimpan di dalam hati manusia. Kemudian Allâh Azza wa Jalla akan memberikan pahala kepada setiap manusia berdasarkan niatnya. Oleh karena itu barangsiapa ditimpa musibah, berupa penyakit, bencana, kekurangan harta, atau semacamnya, dia harus mengharapkan pahala dari musibah itu di sisi Allâh, dan menyikapinya dengan kesabaran dan ridha, sehingga dia meraih pahala orang-orang yang bersabar. Dan barangsiapa diselamatkan dari musibah, maka hendaklah dia memuji Allâh Azza wa Jalla, sehingga meraih pahala orang-orang yang bersyukur.

Renungan Keenam
Sesungguhnya musibah paling besar (paling berbahaya-red) adalah musibah di dalam agama. Ini adalah musibah terbesar di dunia dan akhirat. Ini merupakan puncak kerugian yang tidak ada keuntungannya sama sekali, kegagalan yang tidak disertai harapan sama sekali. Ketika seorang Muslim ditimpa musibah pada kesehatannya atau hartanya, lalu dia mengingat bahwa musibah terbesar adalah musibah yang menimpa agama, dia akan memuji Allâh Azza wa Jalla atas keselamatan agamanya. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Syuraih al-Qâdhi rahimahullah, bahwa dia berkata, “Sesungguhnya aku (jika) ditimpa musibah, maka aku memuji Allâh empat kali atas musibah itu:

  1. Aku memuji-Nya, karena musibah itu tidak lebih besar dari musibah itu
  2. Aku memuji-Nya, karena Dia memberikan kesabaran kepadaku menghadapi musibah itu;
  3. Aku memuji-Nya, karena Dia membimbingku untuk istirja[11], karena aku berharap pahala dengannya
  4. Aku memuji-Nya, karena Dia tidak menjadikan musibah itu pada agamaku.”

Aku memohon kepada Allâh agar selalu menjaga kita semua, menganugerahkan ampunan dan keselamatan kepada kita, di dalam agama, dunia, keluarga, dan harta kita. Sesungguhnya Dia Maha mendengar, Maka Dekat, dan Maha mengabulkan.

*Artikel ini sudah dipublikasikan sebelumnya dengan judul “Wabah MERS Sebuah Renungan”  https://almanhaj.or.id/4226-wabah-mers-sebuah-renungan.html

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus 03-04/Tahun XVIII/1435H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma.
[2] HR Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhu
[3] HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu
[4] HR Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma
[5] HR Muslim dari Suhaib Radhiyallahu anhu
[6] HR al-Bukhari dan Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu anhu
[7] HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dll, dari Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu
[8] HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dll, dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu
[9] HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dll, dari Abdullah bin Khubaib Radhiyallahu anhu
[10] HR Abu Dawud, al-Bukhari di dalam Adabul Mufrad, dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma
[11] Mengucapkan: “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn

sumber: https://almanhaj.or.id/14175-wabah-virus-corona-sebuah-renungan.html

Musibah Dan Bencana Serta Solusinya Dari Perspektif Alquran Dan Sunah

Gempa, angin ribut, dan puting beliung, longsor, banjir bandang, wabah flu burung, flu babi, dan yang teranyar adalah Tomcat (semut beracun yang tadinya bersahabat dengan petani dalam membasmi hama, kini malah menyerang manusia). Inilah serangkaian buah dari benih dosa dan maksiat yang pernah kita tanam dengan tangan kita sendiri. Kita boleh lupa pernah menanam “benih terlarang” itu. Hanya saja Allah tak pernah lupa apalagi tidur walau sekejap.

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Dan segala sesuatu yang menimpa kalian (berupa adzab dan bala’) adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah banyak memaafkan kalian.” (QS. Asy-Syuura: 30)
Ada banyak ayat dalam Alquran yang menegaskan bahwa dosa dan maksiat, adalah biang kerok atas terjadinya musibah silih berganti yang menimpa peradaban manusia dari masa ke masa. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat: 751 H) mengatakan,

فَمَا الَّذِيْ أَخْرَجَ الأَبَوَيْنَ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارُ اللَّذَّةِ وَالنِّعْمَةِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إلَى دَارِ الآلَامِ والْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟

Apakah yang telah menyebabkan kedua orangtua kita (Adam dan Hawa) dikeluarkan dari surga, negeri (yang penuh dengan) kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan, menuju negeri penuh derita, kesedihan dan musibah?

وما الّذي أغرق أهل الأرض كلّهم حتّى علا الماء فوق رؤوس الجبال؟. وما الّذي سلّط الرّيح على قوم عاد حتّى ألقتهم موتى على وجه الأرض كأنّهم أعجاز نخل خاوية، ودمّرت ما مرّت عليه من ديارهم وحروثهم وزروعهم ودوابّهم حتّى صاروا عبرة للأمم إلى يوم القيامة؟

Apakah (penyebab) yang telah menenggelamkan segenap penduduk bumi (kaum Nuh), sampai-sampai air bah meninggi melampaui puncak gunung? Dan apakah yang telah menyebabkan angin membinasakan kaum ‘Aad sampai-sampai mereka mati bergelimpangan layaknya batang pohon kurma yang sudah lapuk? Dan menghancurkan segala yang dilaluinya di kampung mereka, tanaman mereka, peternakan mereka, sampai-sampai mereka menjadi ibrah (pelajaran) bagi seluruh umat sampai hari kiamat?

وما الّذي أرسل على قوم ثمود الصّيحة حتّى قطعت قلوبهم في أجوافهم وماتوا عن آخرهم؟

Dan apakah yang menyebabkan datangnya pekikan suara menggelegar bagi kaum Tsamud, hingga mencabik-cabik jantung hati yang ada dalam rongga tubuh mereka, lantas mereka semua binasa?

وما الّذي رفع قرى اللّوطيّة حتّى سمعت الملائكة نبيح كلابهم، ثمّ قلبها عليهم، فجعل عاليها سافلها، فأهلكهم جميعا؟ ثُمَّ أَتْبَعَهُمْ حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَمْطَرَهَا عَلَيْهِمْ

Dan apakah penyebab yang  telah mengangkat kampung Luth, sampai-sampai Malaikat mendengar lolongan anjing-anjing mereka, kemudian kampung tersebut dibalik, bagian atas menjadi bawah, lantas membinasakan mereka seluruhnya? Kemudian dilanjutkan dengan turunnya hujan batu dari langit terhadap mereka?

وما الّذي أغرق فرعون وقومه في البحر ثمّ نقلت أرواحهم إلى جهنّم، والأجساد للغرق، والأرواح للحرق؟

Dan apakah penyebab yang telah menenggelamkan Firaun dan kaumnya ke dasar lautan, kemudian arwah mereka dipindahkan ke neraka Jahanam. Jasad-jasad mereka binasa ditenggelamkan, sementara arwah mereka dibakar? (Al-Jawaabul Kaafi: 43)
Jawabannya ada pada satu ungkapan; “dosa dan maksiat”.
Syirik, Biang Kerok Bencana Nomor Wahid
Perlu digarisbawahi, bahwa maksiat yang paling berat di mata Allah adalah kesyirikan. Di samping beribadah kepada Allah, juga beribadah kepada selain-Nya. Di samping berdoa kepada Allah, juga berdoa kepada selain-Nya. Di samping berharap dan takut kepada Allah, juga berharap dan takut kepada selain-Nya. Di samping sholat di masjid, juga i’tikaf di kuburan orang shalih. Di samping menyembelih kurban, juga melayarkan sesaji ke lautan. Di samping mengimani Rasulullah, juga mempercayai dukun, ramalan zodiak, dan feng-shuiInilah hakikat kesyirikan sebagaimana yang didefinisikan oleh ulama Syafi’iyyah. Imam An-Nawawi Asy-Syaafi’i rahimahullah (wafat: 676 H) mengatakan dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (2/71, cet.-2 Daar Ihyaa’ at-Turaats, 1392 H):

الشِّرْكُ وَالْكُفْرُ قَدْ يُطْلَقَانِ بِمَعْنًى وَاحِدٍ وَهُوَ الْكُفْرُ بِاللهِ تَعَالَى، وَقَدْ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا فَيُخَصُّ الشِّرْكُ بِعِبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْمَخْلُوْقَاتِ مَعَ اعْتِرَافِهِمْ بِاللهِ تَعَالَى

“Syirik dan kufur terkadang disebut secara mutlak untuk satu makna yang sama, yaitu al-kufru (kekufuran) kepada Allah Ta’ala. Dan terkadang keduanya dibedakan, sehingga istilah syirik secara khusus (mengandung makna): peribadatan kepada berhala atau selainnya dari kalangan makhluk, bersamaan dengan pengakuan (mereka para hamba) akan Allah Ta’ala…”

Kesyirikan sejatinya adalah tujuan akhir syaitan dalam menyesatkan putra-putri Adam. Melakukan kesyirikan berarti mewujudkan sesuatu yang paling dicintai oleh syaitan, dan ini merupakan bentuk penyembahan terhadapnya yang bisa mengundang adzab Allah, sebagaimana diungkapkan oleh Ibrahim ‘alaihissalaam ketika mendakwahi bapaknya yang musyrik:

يا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطانَ إِنَّ الشَّيْطانَ كانَ لِلرَّحْمنِ عَصِيًّا (44) يا أَبَتِ إِنِّي أَخافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذابٌ مِنَ الرَّحْمنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطانِ وَلِيًّا

“Wahai Ayahku! Janganlah engkau menyembah syaitan, karena syaitan itu durhaka pada ar-Rahmaan. Wahai Ayahku! Aku takut engkau akan ditimpa adzab dari ar-Rahmaan, lantas engkau menjadi wali syaitan.” (QS. Maryam: 44-45)
Kebinasaan umat-umat terdahulu akibat adzab yang merata, tidak lain penyebabnya adalah penolakan mereka terhadap ajakan tauhid para Rasul, dan tetapnya mereka bergelimang dalam kesyirikan. Adzab Allah pun tak terhindarkan lagi untuk mereka. Puing-puing kehancuran peradaban mereka di muka bumi, masih bisa dilihat sampai detik ini. Sebagai pelajaran bagi generasi yang datang setelahnya. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِين

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah) itu, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (mereka binasa karena adzab).” (QS. An-Nahl: 36)
Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat: 774-H) menafsirkan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan seruan tauhid dalam ayat di atas dengan firman-Nya (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4:570):

دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا

“Allah meluluhlantahkan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima hal yang sama.” (QS. Muhammad: 10)
Telaah dan renungan terhadap ayat-ayat Alquran juga menyimpulkan bahwa adzab Allah yang datang secara mengejutkan dan menghentakkan, hanya menimpa orang-orang yang zalim. Allah berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ

Katakanlah!Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, Maka Adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?” (QS. Al-An’aam: 47)
Jika ayat di atas dikaitkan dengan firman Allah dalam QS. Luqman ayat 13, maka jelaslah bahwa kezaliman yang terbesar adalah kesyirikan:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.”
Tatkala Kemaksiatan Telah Menjadi Budaya
Kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan tanpa ada teguran apalagi penolakan, adalah tanda bahwa dosa sudah menjadi budaya hidup. Saat ini terjadi, maka tunggulah adzab Allah yang merata dalam beragam wujud dan bentuknya, yang akan menghancurkan sebuah peradaban tanpa pandang bulu, na’udzubillah.
Rasulullah r bersabda,

مَا ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ يُعْمَلُ بِهَا فِيْهِمْ عَلَانِيَةً إلَّا ظَهَرَ فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلَافِهِمْ وَمَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إلَّا مُنِعُوْا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا وَمَا بَخَسَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إلَّا أُخِذُوْا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ وَلَا حَكَمَ أُمَرَاؤُهُمْ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إلَّا سَلَّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ فَاسْتَنْقَذُوْا بَعْضَ مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ وَمَا عَطَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ إلَّا جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Tidaklah perbuatan keji merajalela pada suatu kaum, yang dipraktikkan secara terang-terangan di tengah-tengah mereka, melainkan pasti akan merebak wabah dan penyakit membinasakan yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya. Dan tidaklah suatu kaum menahan (tidak membayar) zakat, melainkan mereka akan dihalangi dari tetesan air dari langit, kalau saja bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Dan tidaklah suatu kaum (berbuat curang dalam jual beli dengan) mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka akan ditimpa kekeringan yang berkepanjangan dan dahsyatnya beban hidup, serta kejahatan penguasa. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka berhukum dengan hukum selain hukum Allah, melainkan Allah menjadikan musuh menguasai mereka dan merampas sebagian yang dikuasai oleh tangan-tangan mereka. Dan tidaklah mereka menolak (tidak mengamalkan) Kitabullah dan sunah Rasul-Nya, melainkan Allah akan menjadikan pertikaian atau permusuhan antara sesama mereka.” (Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib, no. 2187)

Solusi Syariat
Ketika Alquran dan sunah menjelaskan kepada kita penyebab-penyebab datangnya adzab dan bala’, ketika itu pula kita bisa menyimpulkan formula untuk menolak datangnya adzab dan bencana tersebut:
Pertama: Bertaubat Kepada Allah
Tindakan pertama yang harus segera kita lakukan adalah kembali dan bertaubat kepada Allah. Imam Ibnul  Qayyim rahimahullah (dalam Miftah Daris Sa’adah, 1:287) mengatakan,

وَمَا نَزَلَ بَلَاءٌ قَطُّ إلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ إلَّا بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah suatu bala’ turun melainkan karena dosa, dan tidaklah bala’ tersebut akan diangkat melainkan dengan taubat.” (Mausu’ah Nadhrotin Na’im, 1:18)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah (wafat: 671 H) mengatakan,

وَالِاسْتِغْفَارُ وَإِنْ وَقَعَ مِنَ الْفُجَّارِ يُدْفَعُ بِهِ ضَرْبٌ مِنَ الشُّرُورِ وَالْأَضْرَارِ

“Istigfar jika dipanjatkan oleh orang-orang bejat (sekalipun), bisa menolak terjadinya hal-hal yang buruk dan mampu menepis berbagai kemudaratan.” (Tafsir al-Qurthubi, 7:399)
Kedua: Menegakkan Tauhid, Menjauhi Syirik
Dengan tegaknya tauhid dan hilangnya kesyirikan pada suatu negeri, maka dijamin keamanan dan kemakmuran bagi negeri tersebut akan terwujud. Ini adalah janji Allah dalam firman-Nya,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. (Syaratnya) mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun” (QS. an-Nur: 55)
Ketiga: Menghidupkan sunah Rasulullah r dan Senantiasa Beristigfar
Menjadikan sunah Rasulullah sebagai praktik hidup yang mendarahdaging di tengah masyarakat kita adalah salah satu tameng paling ampuh untuk menolak adzab dan bencana. Allah berfirman,

وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka (orang-orang kafir di Mekah) sementara engkau (Wahai Muhammad) masih berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka selama mereka senantiasa ber-istigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)
Dalam ayat sebelumnya (QS. al-Anfal: 32), Allah mengabarkan perihal kafir Mekah yang menantang turunnya adzab dari langit, jika memang risalah yang dibawa Muhammad r adalah benar. Namun Allah tidak mengadzab mereka, karena keberadaan Nabi dan kaum mukminin yang masih tinggal di tengah-tengah mereka.
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ayat tersebut dengan ucapannya yang indah:

إذَا كَانَ وُجُودُ بَدَنِهِ وَذَاتِهِ فِيهِمْ دَفَعَ عَنْهُمْ الْعَذَابَ وَهُمْ أَعْدَاؤُهُ، فَكَيْفَ وُجُودُ سِرِّهِ وَالْإِيمَانِ بِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَوُجُودُ مَا جَاءَ بِهِ إذَا كَانَ فِي قَوْمٍ أَوْ كَانَ فِي شَخْصٍ؟، أَفَلَيْسَ دَفْعُهُ الْعَذَابَ عَنْهُمْ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى وَالْأَحْرَى؟

“Jika keberadaan Rasulullah r secara fisik di tengah-tengah mereka (kafir Mekah) mampu mencegah turunnya adzab atas mereka, padahal mereka adalah musuh-musuh beliau r, maka bagaimana kiranya jika keberadaan beliau pada diri seseorang atau pada suatu kaum, terwujud dalam bentuk cinta dan iman kepada beliau, serta dalam bentuk tegaknya apa yang beliau bawa (berupa sunah)? Bukankah yang demikian ini lebih utama dan lebih pantas untuk terhindar dari adzab?” (I’lamul Muwaqqi’in, 1:173, tahqiq: Muhammad Abdissalam Ibrahim)
Keempat: Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Jika sebuah komunitas ingin terhindar dari adzab Allah, maka orang-orang mukmin dalam komunitas tersebut harus saling nasihat-menasihati untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemaksiatan yang terjadi di sekitar mereka, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada pengingkaran dan usaha untuk merubah kemungkaran tersebut sebisa mungkin, tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat. Jika tidak, inilah yang bakal terjadi:

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لَا يُغَيِّرُونَ إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ

 “Tidaklah merebak pada suatu kaum praktik kemaksiatan, lantas mereka tidak menghilangkan kemaksiatan tersebut, padahal mereka mampu, melainkan sedikit lagi mereka akan ditimpakan oleh Allah adzab yang merata.” (Shahih, lih. Misykaatul Mashaabiih, 5142)
Allah juga berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan dan perbaikan.” (QS. Huud: 117)
Kelima: Berdoa dan Berharap Kepada Allah
Sebagaimana hanya Allah yang mampu menurunkan adzab kepada hamba-Nya, maka hanya Allah pula yang mampu mengangkat atau menolak adzab tersebut.
Rasulullah r bersabda,

إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ

Sesungguhnya doa itu bermanfaat pada apa-apa yang telah terjadi (berupa musibah, dll) dan bermanfaat pada apa-apa yang belum terjadi. Maka wajib atas kalian untuk berdoa wahai hamba-hamba Allah!” (Shahih at-Targhiib wat Tarhib, no.1634)
Dalam hadis yang lain, Rasulullah r menjelaskan bahwa doa mampu menolak sesuatu yang tidak diinginkan terjadi oleh hamba,

لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إلَّا الدُّعَاءُ

Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.” (Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib: 1638)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

وَالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ، وَهُوَ عَدُوُّ الْبَلَاءِ، يَدْفَعُهُ، وَيُعَالِجُهُ، وَيَمْنَعُ نُزُولَهُ، وَيَرْفَعُهُ، أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ، وَهُوَ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ

“Doa termasuk obat yang paling mujarab. Ia adalah musuh bagi bala’, yang menolaknya, yang memperbaiki dampak buruknya, yang mencegah turunnya, yang mengangkat bala’ tersebut, atau meringankannya jika ia telah turun, dan ia adalah senjata mukmin.” (Jawabul Kafir, 1:10)
Oleh sebab itu, segenap doa dan harapan agar negeri ini terhindar dari adzab Allah, hanya pantas dipanjatkan kepada-Nya. Inilah makna ucapan Ali bin Abi Thalib t,

لَا يَرْجُوَنَّ عَبْدٌ إلَّا رَبَّهُ وَلَا يَخَافَنَّ إلَّا ذَنْبَهُ

“Tidaklah seorang hamba berharap, kecuali hanya kepada Rabb-nya, dan tidaklah seorang hamba takut, kecuali pada dosa-dosanya.” (Al-Fatawa al-Kubra, 5:231, Ibnu Taimiyyah)
***

 

Penyusun:
Johan Saputra Halim (Ponpes Abu Hurairah Mataram, Lombok– NTB)

Artikel ini telah dibaca dan di-tash-hih oleh:
Ust. Zahid Zuhendra, Lc. & Ust. Jamaluddin, Lc. (Ponpes Abu Hurairah Mataram, Lombok-NTB)

sumber: https://pengusahamuslim.com/2878-musibah-dan-bencana-1530.html

Sebelum Pintu Taubat Tertutup

Renungkanlah kaum muslimin! Untuk apakah Anda diciptakan? Dan kemanakah akhir perjalanan hidup Anda? Seorang yang berpikir akan merenungkan apa yang sedang ia hadapi, apa yang akan terjadi padanya di masa mendatang. Dengan itu ia mempersiapkan apa yang akan terjadi padanya di masa mendatang.

Dunia ini adalah tempat melintas saja. Sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal. Dunia adalah tempat beramal. Dan akhirat adalah tempat menerima hasil bekerja. Karena itu, pahamilah keadaan Anda saat ini. Setiap orang merenungkan keadaan dirinya. Apa yang Anda persiapkan untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” [Quran Al-Kahfi:110]

Allah menurunkan sebuah surat yang pendek. Setiap Anda menghafalnya sampai anak-anak pun hafal. Yaitu surat Al-Ashr. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم: (وَالْعَصْرِ* إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ* إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)،

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Quran Al-Ashr: 3]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Seandainya manusia merenungkan surat ini, akan mencukupi mereka.”

Ayat ini hendaknya dijadikan manusia sebagai jalan yang mereka tempuh untuk selamat. Jalan yang mencukupi. Dalam arti memberikan jalan kemenangan dan jalan menuju kesuksesan. “Demi waktu”, Allah bersumpah dengan waktu, zaman, siang, dan malam. Karena waktu adalah tempat untuk beramal. Baik siang maupun malam. Waktu adalah tempat beramal. Mungkin seseorang mengisinya dengan kebaikan atau kebaikan. Tidak mungkin seseorang tidak melakukan sesuatu dalam waktunya. Pasti ia mengerjakan sesuatu. Pasti manusia melakukan sesuatu, kebaikan atau keburukan.

Ibadallah,
Perhatikanlah! Di kelompok manakah Anda?

إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.”

Setiap orang, tanpa terkecuali, penguasa atau rakyat biasa. Kaya ataupun miskin. Laki-laki maupun perempuan. Dari bangsa Arab atau non Arab. Setiap orang dalam keadaan rugi pada hari kiamat. Kerugian yang tidak bisa ditolak, kecuali bagi mereka yang disifati dengan empat sifat yang Allah sebutkan dalam surat al-Ashr ini.

Sifat pertama: Orang-orang yang beriman.

Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keimanan yang jujur. Keimanan yang tidak mengandung keraguan. Dan seseorang tidak dikatakan beriman kecuali memiliki ilmu. Karena iman itu cabang dari ilmu. Yakni ilmu syar’i. Adapun orang-orang yang tidak beriman, mereka tetap dalam kerugian. Setiap orang kafir dan setiap orang musyrik serta orang-orang yang belum mengerjakan amalan keshalehan, sungguh mereka tidak keluar dari kungkungan kerugian.

Sifat kedua: Beramal shaleh.

Iman dan amal adalah dua hal yang identik. Tidak cukup seorang dikatakan beriman tanpa adanya bukti yang terwujud dalam bentuk amal. Karena iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan anggota badan. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Inilah iman.

Adapun orang yang beriman, tapi ia tidak beramal, yang demikian ini tidak bermanfaat keimanannya. Iman tanpa amal tak berguna. Keimanan harus dibuktikan dengan amalan.

إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.”

Sifat ketiga: saling berwasiat dalam kebenaran.

Tidak cukup seseorang itu hanya menjadi shaleh untuk dirinya sendiri. Keshalehannya harus membuahkan ishlah (kebaikan) untuk orang lain. Hal ini ditempuh dengan cara berdakwah di jalan Allah. Mengajak orang kepada kebakan dan mencegah dari kemungkaran sekadar kemampuannya.

Orang-orang yang paling berhak diajak kepada kebaikan dan dicegah dari kemungkaran adalah kerabat. Lebih khusus lagi kerabat yang ada di dalam rumahnya. Karena seseorang diberikan tanggung jawab memimpin orang-orang di rumahnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَهَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [Quran At-Tahrim: 6].

Dengan cara apa Anda melindungi diri dan keluarga Anda dari neraka? Tentu dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada jalan selamat dari neraka kecuali dengan hal itu.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [Quran Tha-ha: 132].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ لسَبْعٍ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat dalam usia tujuh tahun dan pukullah mereka jika meninggalkan shalat dalam usia sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka (antara laki dan perempuan).”

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” [Quran Asy-Sy’ara: 214].

Karena itu, mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu. Dari kalangan lingkar dalam rumahmu. Istri, anak-anak, dan orang-orang yang ada di dalam rumahmu. Anda memiliki wewenang untuk mencegah kemungkaran dengan hati, lisan, dan tangan bagi orang-orang yang memaksiati Allah dan Rasul-Nya. Anda bertanggung jawab tentang hal-hal yang ada di rumah Anda.

Sifat keempat: Saling berwasiat dalam kesabaran.

Mengerjakan amal shaleh dan ketaatan adalah sesuatu yang berat. Butuh terhadap kesabaran. Jika seseorang tidak bersabar, maka ia akan berhenti mengerjakan ketaatan. Ia akan merasa malas dan sungkan. Padahal tidak boleh malas dalam permasalahan agama.

Tapi, kalau seandainya seseorang bersabar dalam ketaatan dan bersabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan, maka dia telah menyelamatkan dirinya. Dan tidak ada yang memutuskannya dari amal kecuali kematian. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” [Quran Al-Hijr: 99]

Beramal hingga akhir hayat dibutuhkan kesabaran. Demikian juga mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Berdakwah di jalan Allah membuat seseorang berhadapan dengna hal-hal yang tidak mengenakkan. Bisa jadi seseorang terbunuh karena melakukan hal ini. Bisa jadi mereka dipukuli atau diusir. Sehingga berbuat taat itu sangat butuh kesabaran.
Lihatlah apa yang terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Beliau mengalami berbagai gangguan dari kaumnya. Dan sebelum beliau, para nabi ‘alaihimussalam mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari kaumnya. Tapi mereka semua bersabar. Mereka tetap membawa misi dakwah dan terus menyampaikannya. Mereka tetap mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Inilah kesabaran.

Kesabaran terbagi menjadi tiga: (1) sabar dalam menaati Allah, (2) sabar dalam menjauhi larangan Allah, dan (3) sabar atas takdir dan ketetapan Allah yang tidak mengenakkan. Demikian juga apa yang terjadi pada Anda, hendaknya Anda bersabar. Jangan merasa marah dan murka terhadap apa yang Allah tetapkan. Tetaplah beramal dengan amalan yang menyelamatkanmu dari hukuman.

Bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini menjelaskan kepada kita jalan-jalan kebahagiaan. Tidakkan Anda merenungkannya?

Tidakkah kita ingin menjadikan empat hal ini sebagai jalan hidup kita?

Alquran semuanya. Demikian juga hadits-hadits. Menjelaskan surat ini dengan lebih rinci. Bagaimana Anda haru beramal, bagaimana Anda harus meninggalkan apa yang Allah larang. Apakah kita masih ragu menjadikan Alquran dan sunnah sebagai jalan hidup kita? Padahal keduanya begitu rinci menjelaskan tentang masalah hidup yang baik dan yang buruk. Akankah kita masih ragu mengamalkan apa yang Allah perintahkan dan apa yang Dia larang? Keduanya membentangkan jalan yang benar secara detil.

Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah. Selama Anda masih dalam kehidupan ini. Selama waktu masih memungkinkan.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: (حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمْ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ* لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلاَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” [Quran Al-Mukminun: 99-100].

Yaitu kuburan.

Kemudian kita akan dibangkitkan untuk dihisab dan menerima balasan.

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”

Kemudian kita dibangkitkan dari kubur. Menuju kemana? Menuju ke surga atau ke neraka. Hanya ada dua pilihan.

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah. Beramallah agar Anda selamat dari adzab Allah.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعنا بما فيه من البيان والذكر الحكيم، أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولي جميع المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنهُ هو الغفور الرحيم.

Kaum muslimin,

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Ketauhilah bahwasanya Allah telah membukakan pintu taubat dan ampunan untuk kalian. Dia memberikan kesempatan untuk beristighfar apabila terdapat kekurangan dalam amalan Anda sekalian. Dan ketika manusia jatuh dalam kemaksiatan. Karena itu, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Tapi, jangan pula Anda hanya mengandalkan harapan. Seperti perkataan sebagian orang “Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan penerima taubat. Nanti kita taubat setelah maksiat ini”. Ini perkataan yang tidak benar. Bersegeralah bertaubat jika melakukan kesalahan. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعا

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Quran Az-Zumar: 53].

Kepada siapa ampunan Allah itu? Kepada mereka yang memohon ampunan. Kepada mereka yang bertaubat. Artinya, kepada mereka yang meninggalkan perbuatan dosa dan menjauhinya. Serta berusaha sekuat tenaga tidak lagi mengerjakannya. Menyesali apa yang telah terjadi. Taubat itu bukan hanya di lisan, tanpa ada realisasi dalam perbuatan. Tanpa ada perbaikan.

إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا

“Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan.” [Quran Al-Baqarah: 160].

Harus ada upaya memperbaiki kerusakan maksiat yang telah dilakukan. Allah Jalla wa ‘Ala membukakan kesempatan untuk kita. Pintu taubat senantiasa terbuka. Pintu ampunan bisa diketuk siapa saja jika mereka bertaubat dengan taubat yang benar. Dan nanti, akan datang suatu masa pintu taubat itu ditutup. Kapan itu terjadi? Ketika seseorang tengah menghadapi sekarat.

Apabila saat sekarat, seseorang baru bertaubat, tidak diterima lagi taubatnya. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. رَوَاهُ التِرْمِذِي

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nafasnya berada di kerongkongan.” (HR. at-Turmudzi).

Yakni selama ruhnya belum berada di kerongkongan. Selama ruhnya belum ditarik dari jasadnya. Apabila dalam keadaan demikian, maka taubat tak lagi diterima. Dan tentu saja, setiap orang tidak mengetauhi kapan ia mati. Karena itu, wajib bagi setiap orang untuk senantiasa bertaubat. Karena kita tidak tahu kapan maut akan datang. Di siang hari ataukah malam. Jadilah seseorang yang senantiasa bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan jadi seseorang yang terombang-ambing dalam dosa. Perbanyaklah taubat. Perbanyaklah perbuatan taat dan amal shaleh. Jauhilah perbuatan dosa dan maksiat. Agar Anda selamat dari neraka.

Dunia Adalah Tempat Beramal

Sebuah ucapan indah dari sahabat Mulia Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu :

 

Beliau berkata : 
ارتحلت الدنيا مدبرة, و ارتحلت الآخرة مقبلة, ولكل واحدة منهما بّنون, 
فكونوا من أبناء الآخرة ولا  تكونوا من أبناء الدنيا,
 فإن اليوم عمل ولا حساب, و غدا حساب ولا عمل.

 

“Dunia akan segera berlalu dan akhirat akan segera datang.
Dan Keduanya  (dunia dan akhirat) memiliki anak-anak.
Maka jadilah anak akhirat dan jangan menjadi anak dunia.”

 

Sesungguhnya hari ini adalah hari untuk beramal bukan untuk di hisab sedangkan besok adalah hari untuk di hisab bukan hari untuk beramal”
( HR  bukhori )

 

Dari ucapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu diatas kita dapat mengambil sebuah  hikmah bahwa :

 

Dunia akan berlalu dan akhirat akan datang (dihadapi) maka sungguh mengherankan orang yang mendekat kepada apa-apa yang akan berlalu dan menjauh terhadap apa-apa yang akan dia hadapi ( fathul baarii jilid 11. Hal 236)

 

(lihat kitab At-Tuhaf karya syaikh Abdur Razzaq bin abdilMuhsin Al-Badr Hal : 7)

 

Marilah kita jadikan dunia untuk tempat beramal agar kita tidak menyesal di saat kita sudah meninggalkan dunia,

 

ingin kembali ke dunia hanya untuk beramal sebagai mana orang yang hidup sebelum kita.

 

Allah subhanahu wata’ala berfirman  :

 

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونْ *** لَعَـلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ . . .*** 
Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata “ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)  Agar aku dapat beramal sholih yang telah aku tinggalkan.
( QS : Al Mukminun : 99-100 )

 

Dimurajaah oleh : Abu Abdillah Imam

Penulis: Team fawaid Al Misk

sumber: https://almisk.or.id/diskusi-agama/fatwa-ulama/dunia-adalah-tempat-beramal/

Engkau Harus Bahagia di Rumah-mu

Seorang yang tidak bahagia di rumahnya
Sangat sulit untuk bahagia di luar rumahnya
Kalaupun bahagia, itu hanya sebentar saja
Bukan bahagia yang sesungguhnya

Surga dan bahagia itu ada di rumah [1]
Pasangan yang shalih dan baik [2]
Anak-anak yang shalih, lucu dan penurut

Sederhana saja
Menikmati sore yang sejuk
Atau malam yang indah
Berbincang-bincang hangat
Ditemani kopi hangat dan cemilan ringan
Sudah bahagia rasanya

Anak-anak berhamburan ke luar pintu
Menyambut ayah yang pulang
Membawa sedikit saja buah tangan
Kemudian bermain kuda-kudaan
Hilang lah letih dan penat
Kemudian mendengarkan
setoran hapalan Al-Quran anak-anak

Indahnya kebahagiaan di rumah
Di atas ketaatan kepada Allah
Rumah ku surga ku
Kelak akan masuk surga sekeluarga

Allah berfirman,

ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺀَﺍﺑَﺂﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻬِﻢْ

“Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk ke dalamnya BERSAMA-SAMA dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri- istri nya dan anak cucunya “. (Ar-Ra’du : 23)

Ya Allah jadikanlah
Anak keturunan dan istri
Sebagai penyejuk mata
Ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻨَﺎ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻨَﺎ ﻗُﺮَّﺓَ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa ” (QS. Al Furqan: 74).


@ Perum PTSC, Cileungsi, Bogor

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com



Catatan kaki:

[1] Inilah yang disebut oleh beberapa orang dengan (بيتي جنتي) Batiy Jannaty yaitu rumahku adalah surgaku


[2] Allah jadikan pasangan agar kita tenang dan bahagia,

Allah Ta’ala berfirman

ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺃَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢ ﻣِّﻦْ ﺃَﻧﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِّﺘَﺴْﻜُﻨُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢ ﻣَّﻮَﺩَّﺓً ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻵﻳَﺎﺕٍ ﻟِّﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri- istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (ar-Rum: 21)

sumber: https://muslimafiyah.com/engkau-harus-bahagia-di-rumah-mu.html

Usaha tanpa Doa itu Sombong Doa tanpa Usaha itu Omong Kosong

Corona bukan hanya momen untuk menguatkan Tawakkal, tapi juga kesadaran menggunakan Akal.
.
Ingatlah saudaraku.. Keadaan genting bukan berarti meniadakan ikhtiar, menggunakan akal untuk tidak berbuat onar di media sosial juga bentuk ikhtiar dalam menjaga ketenangan, selain tetap menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.
.
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’du 11)
.
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah, M.Ag.

repost dari bimbinganislam

KARENA APA ENGKAU MENANGIS…?

Menangis merupakan bukti yang menunjukkan ketakwaan hati, ketinggian jiwa, kesucian sanubari dan kelembutan perasaan…

Menangis karena Allah terjadi manakala seorang hamba melihat kelalaian pada dirinya, atau merasa takut akan kesudahannya yang buruk…

Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثَةٌ لاَ تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ: عَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللهِ, عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ, وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ

“Tiga golongan yang mata mereka tidak akan melihat Neraka, mata yang berjaga-jaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan oleh Allah”
(HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.1231)

Wahai Saudaraku…
Air mata apakah yang selalu menetes darimu…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut dan harap kepada Allah…?
Pernahkah air mata ini menetes karena sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan…?
Pernahkah air mata ini menetes karena takut orang tua nantinya diazab Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut akan su’ul khatimah…?
Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan siksa kubur…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan Surga dan Neraka Allah…?
Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diketahui…?
Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diamalkan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya harta yang dikeluarkan untuk sedekah…?
Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya hadir di berbagai majelis taklim…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat tahajjud di malam hari…?
Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat dua raka’at sebelum shubuh…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat berjamaah di masjid…?
Pernahkah air mata ini menetes karena melihat penderitaan kaum muslimin di tempat lain…?

Wahai Saudaraku…
Menangislah sebelum menyesal, sebab perjalanan sangatlah jauh dan bekal hanya sedikit…

Datangilah majelis tangis…majelis yang mengingatkan akan negeri akhirat…
majelis yang dapat menyuburkan iman dan takwa…
majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah…
majelis yang dibacakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…yang semua itu menyebabkan air matamu berlinang dan hati ini tunduk, bergetar serta takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

Tetapi janganlah engkau tertipu dengan tangisan pelaku kebid’ahan dan kesesatan, meskipun terlihat darinya kekhusyu’an dan banyaknya ibadah…

Imam al-Auza’i rahimahullah berkata :

بلغني أن من ابتدع بدعة ضلالة آلفه الشيطان العبادة، أو ألقى عليه الخشوع و البكاء كي يصطاد به، كما نقل عن الخوارج

“Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa yang melakukan sebuah bid’ah yang sesat, maka syaitan pun akan menjadikannya semangat beribadah, atau menjadikannya khusyu’ dan banyak menangis, agar syaitan bisa menjerat korban lain melalui orang tersebut (membelanya dan menjadi pengikutnya), sebagaimana telah diriwayatkan tentang keadaan kelompok Khawarij”
(Al-I’tisham I/22)

Ya Allah, jadikanlah tangisan kami di atas ridho-Mu yang dapat mendatangkan ampunan…

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

========================
Khamis 15 Ramadhan 1439 H / 31 Mei 2018

http://www.salamdakwah.com/artikel/4835-karena-apa-engkau-menangis