Rumah yg selalu berantakan oleh ulah anak, itu pertanda ayah dan ibu mereka baik dan istimewa.

Rumah yg selalu berantakan oleh ulah anak, itu pertanda ayah dan ibu mereka baik dan istimewa.

Tidak perlu heran, memang inilah perkataan para ahli pendidikan anak.

Jika Anda punya anak-anak, tapi rumah Anda selalu rapi, tertata, bersih, dan segala sesuatunya di tempatnya, maka itu pertanda bahwa Anda adalah ayah atau ibu yg tidak baik.

Karena rumah yg selalu rapi padahal ada anak-anak, itu berarti ada tindakan melarang, memaksa, dan tangan besi yang diterapkan kepada anak-anak.

Rumah yang selalu rapi itu menunjukkan masa kanak-kanak yang dirampas, daya khayal yg terpenjara, dan jiwa yang terinjak-injak.

Anak-anak kita itu lebih penting daripada kursi, meja, bunga, hiasan dinding, dan karpet yang ada di rumah kita.

Lalu memangnya kenapa kalau rumah menjadi kotor, pensil-pensil pewarna berceceran, dan kertas-kertas berserakan.. daripada kita melarang mereka sama sekali.. bukankah kita bisa membuat janji dengan mereka agar setelah bermain mereka membersihkan dan menata kembali ruangannya?!

Kertas-kertas yang berceceran dan tersobek-sobek adalah pertanda hidupnya masa kanak-kanak mereka.. itu pertanda bahwa Anda adalah ayah atau ibu yang baik dan hebat.. Anda mau membiarkan mereka tumbuh besar dengan selamat dan damai.

Rumah yang tidak ada anak-anaknya adalah kuburan yg berbentuk rumah.

Ajarilah mereka tentang aturan, dan didiklah mereka untuk tertib dg aturan itu… Jangan Anda putus sayap mereka, tapi biarkan mereka beterbangan dg baik dan indah.

[Dari pesan berbahasa arab, dengan beberapa penyesuaian].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

 

Sumber: postingan Facebook ustadz Musyafa ad Darini

3 Bekal Menyambut Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Tinggal menunggu hitungan hari kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah:

Pertama: Bekal ilmu.

Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an.

Kedua: Perbanyak taubat.

Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.

Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).

Catatan penting yang mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik.

Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah.

Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya.

Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah).

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).

Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Wallahu waliyyut taufiq.

Setelah shubuh di Panggang-Gunung Kidul, 29 Sya’ban 1432 H (31/07/2011)

sumber: 
https://rumaysho.com/1875-3-bekal-menyambut-ramadhan.html

Ujian Dan Cobaan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dibandingkan Nabi Yang Lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  Paling Tinggi derajatnya karena beliau adalah yanpaling berat ujiannya dan yang paling sabar.

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

 

Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”[HR. At-Tirmidzi no.2398, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir]

 

Mari kita tinjau ujian dan kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkinkita tidak membandingkannya dulu  dengan manusia biasa seperti ulama dan orang sholih atau para sahabat radhiallahu ‘anhum tetapi kita bandingkan dengan sesama para nabi ‘alaihimussalam . Sehingga beliau mendapatkan kedudukan lebih diatas para nabi yang lain. (bkan berarti juga para nabi yang lain kecil ujian dan cobaannya)

 

1.ketika nabi sulaiman ‘alaihimussalam berdoa dan memohon meminta diberi kerajaan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” [QS. Shad: 38]

 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memilih hidup sederhana sebagai hamba ketika ditawarkan kerajaan, hal iniagar menjadi contoh bagi semesta alam bahwa beliau tidak punya urusan yang banyak di dunia.

كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُ، أَنَّ اللهَ أَرْسَلَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلَكًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَعَ الْمَلَكِ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ عَزَّ جَلَّ يُخَيِّرُكَ بَيْنَ أَنْ تَكُونَ نَبِيًّا عَبْدًا، أَوْ نَبِيًّا مَلِكًا، فَالْتَفَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَالْمُسْتَشِيرِ، فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ أَنْ تَوَاضَعْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَلْ نَبِيًّا عَبْدًا»

 

“Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Allah pernah mengutus salah satu malaikat  bersama malaikat  Jibril ‘alaihissalam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian malaikat  tersebut berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla memberikan pilihan bagimu (Muhammad), apakah engkau mau menjadi sebagai seorang hamba dan Nabi, ataukah engkau mau menjadi sebagai seorang nabi dan raja?”. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada Jibril seolah-olah meminta pendapat beliau, maka Jibril memberi isyarat kepada Nabi agar beliau  tawadhu. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku ingin menjadi sebagai seorang nabi dan hamba”. [Mu’jam Kabir litthabrani no.10686, tahqiq Hamdi bin Abdul majid As-Salafi, Mu’jam Al-Aushoth no. 6937 dan Az-Zuhdi Al-Kabir lilbaihaqi no. 447]

 

2.ketika nabi Nuh ‘alaihissalamberdakwah kepada kaumnya dan tidak ada yang mau beriman kecuali sedikit sekali, maka nabi Nuh‘alaihissalam berdoa agar semua orang kafir tersebut dimusnahkan seluruhnya dari muka bumi dengan banjir besar:

وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّاراًْ وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّاراً

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.’ [surat Nuh: 26-27]

 

Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah ke Thoif sekaligus meminta perlindungan. Kemudian mereka menolak bahkan mengejek dan mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengusir melempar dengan batu sampaitubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sampai berdarah-darah. akan tetapi  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malahan mendoakan mereka:

أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun” [HR. Bukhari no. 3231]

 

Begitu juga ketika nabi Yunus ‘alaihissalam berdakwah kepada kaumnya dan kemudian menolaknya, maka beliau terlalu cepat meninggalkan kaumnya dan akhirnya beliau masuk ke perut ikan.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌْ لَوْلَا أَن تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاء وَهُوَ مَذْمُومٌْ فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh”. [Al-Qolam 48-50]

 

3.ketika nabi Ayyub alaihissalammenghadapi nusyuz [ketidakpatuhan] istrinya, maka beliau bersumpah akan memukulnya 100 kali, kemudian Allah Ta’ala dalam Al-Quran memberikan jalan keluar agar beliau tidak membatalkan sumpah dan tidak juga menyakiti istrinya.

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثاً فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِراً نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhan-nya) .” [Shaad:44]

 

Maka ketika semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamnusyuz [tidak patuh], maka tidak langsung marah, langsung main pukul ataupun langsung mengancam cerai. Tetapi beliau menjauhi semua istrinya selama sebulan. DanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalah dengan tinggal dikandang unta atau diriwayat lain di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah.tidak dengan mengusir mereka dari rumah beliau.

اِعْتَزَلَ نِسَاءَهُ شَهْرًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi istri-istrinya selama sebulan.”[HR. Muslim II/763 no 1084 dari Jabir bin Abdillah]

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi sebulan agar para istri tersebut bisa berpikir jernih tentang apa akibat yang mereka perbuat. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحاً جَمِيلاًْ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْراً عَظِيماً

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar.” [QS. Al-Ahzab:28]

 

  1. ketika nabi Musa ‘alaihissalam pulang dari bukit Thursina dan mendapati kaumnya membuat sesembahan sapi betina. Sedangkan saat itu Nabi Harun ‘alaihissalam yang merupakan teman seperjuangan nabi Musabersama mereka. Maka Nabi Musa langsung marah  [karena Allah]kepada Nabi Harun‘alaihissalam, kemudian melempar kitab suci Taurat dan menarik Nabi Harun ‘alaihissalam,baru kemudian nabi Harun ‘alaihissalam menyampaikan udzur/alasan, Al-Quran menceritakan:

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا * أَلا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي * قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

“Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”. Harun menjawab: “Hai putra ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israel dan kamu tidak memelihara amanatku” [QS. Thaha : 92-94].

 

Dan disurat yang lain:

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفاً قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِن بَعْدِيَ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُواْ يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاء وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu ? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”. [Al-A’raf:150]

 

maka ketika salah seorang teman seperjuangan beliau [sahabat] melakukan pembocoran rahasia penyerangan ke Mekkah kepada orang kafir di Mekkah. Ini adalah pengkhianatan besar, akan tetapi Beliau memaafkannya karena sahabat tersebut punya ‘uzdur/alasan. Sahabat tersebut adalah Hatib bin Balta’ah radhiallahu ‘anhu.

 

ketika Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhumenawarkan diri,

“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan bijak menjawab,
“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah Saya ampuni.”

 

Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.”

Kisah adalah Hatib bin Balta’ah radhiallahu ‘anhu diabadikan dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….”[Al- Mumtahanah: 1]

 

Demikianlah perbandingan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan para Nabi yang lain. Perlu diingat, ini bukan berarti nabi yang lain tidak sabar dan tidak berat ujiannya. Lihatlah bagaimana kisah cobaan berat nabi Ayyub ‘alaihissalam, kisah perjuangan berat dan panjang nabi Musa alaihissalam melawan Fir’aun dan kerasnya hati bani Israil, kisah kesabaran nabi Sulaiman yang tidak menggunakan kerajaannya untuk berlaku dzalim dan foya-foya.

 

Setelah mengetahui perbandingan  ini perlukah kita membandingkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan sahabat, para ulama dan orang-orang shalih?. Atau membandingkan dengan ujian dan cobaan serta kesabaran kita yang sedikit saja terkena ujian langsung berkeluh kesah?.

 

Kemudian bentuk ujian dan cobaan lebih berat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang lain:

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallamjika demam, maka jika sakit, beratnya dua kali lipat:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِك

“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat,Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammenjawab, “iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian [dua kali lipat]”, aku berkata, “oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, karena hal itu”.[HR. Al-Bukhari no. 5648 dan Muslim no. 2571]

 

– Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallamharus menanggung Sembilan istri.Lho bukannya enak istri banyak? Silahkan Tanya kepada meraka yang mempunyai hanya dua istri, bagaimana repot dan susahnya mengurus mereka dengan penuh keadilan dan tanggung jawab. Bagaimana membagi waktu, membagi perasaan. Terkadang bagi yang punya satu istri saja terkadang kelabakan mengurus dan mendidik satu istri terutama ketika “bengkoknya” datang atau sedang sensitif karena haidh.

 

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallamikhlas menjalankan takdirnya, menikah pertama kali dengan janda sebagai suami ketiga, dan beberapa istrinya telah bersuami dua kali sebelumnya. Mampukah kita demikian?,melawan rasa cemburu dengan suami-suami sebelumnya?. Dan sebagian istri beliau ketika menikah berumur diatas 40 tahun. Mampukah kita demikian, maukah kita menikah dengan wanita berumur [atau sekarang disebut –maaf- “tante-tante”].

 

Dan para istri Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallamsemuanya ridha dengan beliau. Malahan yang ada adalah banyak cerita bahwa istri-istri beliau yang menyusahkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. dan belau paling baik terhadap istri-istri beliau.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْخَيْرُكُمْلِأَهْلِهِوَأَنَاخَيْرُكُمْلِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

 

Dan komentar salah satu istri beliau, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

 

@Pogung Dalangan, Yogyakarta tercinta

penyusun:  Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/ujian-dan-cobaan-nabi-muhammad-shalallahu-alaihi-wa-sallam-dibandingkan-nabi-yang-lain.html

Motivasi Agar Segera Bertobat

Motivasi Agar Segera Bertobat

KHUTBAH JUMAT PERTAMA

الحَمْدُ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلاَ مُضِلَ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًا مُرْشِدًا ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .
أما بعد..

Jamaah sekalian, bertakwalah kepada Allah, Rabb kalian, bertobatlah kepada-Nya dari kemaksiatan dan kembali menuju ketaatan kepada-Nya. Kembali mendekat setelah menjauh dari-Nya. Kembali dan menuju kesucian setelah bergelimang dengan najisnya dosa. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersih lagi suci. Ketauhilah, bahwasanya Allah memerintahkan kita untuk bertobat kepada-Nya. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Q.s. At-Tahrim: 8).

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.s. An-Nur: 31).

Imam muslim meriwayatkan dalam sahihnya, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya 100 kali dalam sehari semalam.” Tobat dari dosa dan kemaksiatan merupakan suatu kewajiban berdsarkan perintah Allah dan rasul-Nya.

Jamaah sekalian, sesungguhnya perbuatan dosa dan kemaksiatan memberikan ke-mudharat-an yang banyak. Ia merupakan sebab musibah, bencana, dan malapetaka. Allah berfirman,

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.s. Asy-Syura: 30).

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.s. An-Nur: 63).

وَلاَيَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلَّ قَرِيبًا مِّن دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (Q.s. Ar-Ra’d: 31).

Tidaklah kesengsaraan yang terjadi di dunia dan akhirat kecuali disebabkan oleh dosa dan kemaksiatan. Apakah yang menyebabkan kaum Nuh tenggelam dengan air yang menenggelamkan gunung?! Apa pula yang menyebabkan kaum Hud ketika dibinasakan dengan angin, sampai-sampai mereka bergelimpangan bak tunggul pohon yang kosong?! Apa pula yang menyebakan kaum Tsamud dikirimkan suara yang memekakkan (petir) sampai-sampai jantung mereka putus dari dada-dada mereka?! Apa yang menyebabkan dibalikkanya desa kaum Luth, sehingga Allah menjadikan bagian atasnya ke bagian bawah kemudian mereka dihujani dengan batu hingga mereka binasa tak bersisa?! Apa yang menyebabkan Firaun dan kaumnya tenggelam?! Apa yang menyebabkan Qarun beserta harta dan keluarganya dibenamkan?! Apa pula yang menimpa Bani Israil, berupa serangan suatu kaum yang memiliki kekuatan besar yang merajalela di kampung-kampung Bani Israil, kemudian Allah menakdirkan kaum tersebut datang untuk kedua kalinya, supaya Bani Israil dibantai sehabis-habisnya?!

Sesungguhnya ‘ibadallah, sebab-sebab itu semua adalah dosa dan kemaksiatan. Allah berfirman,

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنبِهِ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا وَمَاكَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.s. Al-Ankabut: 40).

مِّمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُم مِّن دُونِ اللهِ أَنصَارًا

Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” (Q.s. Nuh: 25)

Ayyuhal Muslimun, kita menyadari, tidak seorang pun yang ma’shum bebas dari dosa kecuali orang-orang yang Allah jaga. Dalam Sahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikata kalian tidak berbuat dosa, maka Allah akan mengganti kalian dengan suatu kaum yang berdosa kemudian mereka bersegera bertobat kepada Allah. Allah pun langsung mengampuni mereka.”

Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pelaku dosa adalah mereka yang bertobat.”

Dengan demikian Allah melapangkan pintu tobat untuk mengabulkan tobat tersebut. Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَاتَفْعَلُونَ

Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangannya di waktu malam, untuk menerima tobatnya pelaku dosa di siang hari. Dan Dia juga membentangkan tangannya di waktu siang, untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari. Hal itu terus terjadi hingga matahari terbit dari sebelah Barat.”

Ayyuhal muslimun, sesungguhnya tobat adalah kembalinya seseorang dari kemaksiatan menuju ketaatan. Dan syarat diterimanya tobat ada tiga. Apabila tidak terdapat satu saja dari tiga poin ini, maka tidak diterima tobatnya. Syarat tersebut adalah:

  1. Seseorang harus berhenti dari maksiat yang ia lakukan dengan cara segera meninggalkan perbuatan maksiatnya.
  2. Menyesali perbuatannya. Tanda penyesalan tersebut tampak dengan kesedihannya atas apa yang luput darinya.
  3. Bertekat kuat selamanya tidak akan kembali lagi kepada kemaksiatan tersebut. Tanda kebenaran tekatnya akan tampak dengan mengisi dan memperbaiki hari-harinya dengan mengejar kembali apa yang ia lewatkan dari perbutan ketaatan.

Apabila kemaksiatan tersebut berkaitan dengan interaksi dengan orang lain, maka perlu ditambahkan syarat yang keempat, yaitu mengembalikan sesuatu yang semestinya menjadi hak orang tersebut atau meminta maaf pada orang yang pernah dizalimi.

Apabila melewatkan ibadah di masa lalu, maka dapat ia qadha dan apabila menzalimi orang lain, maka tunaikanlah haknya. Marilah kita semua bertobat kepada Allah ayyuhal muslimun dan jangan menunda-nundanya. Ketauhilah, bahwasanya tobat dapat menghapuskan dosa-dosa masa lalu, walaupun dosa tersebut adalah dosa besar. Karena Allah Dia-lah Yang Maha Menerima Tobat dan Maha Penyayang. Allah berfirman,

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosasemuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Q.s. Az-Zumar: 53)

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فَيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِكْرِ الحَكِيْم . أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلسَّائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

KHUTBAH JUM’AT KEDUA

الحَمْدُ للهِ غَافِرِ الذَنْبِ قَابِلِ التَوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ، ذِي الطَوْلِ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ المَصِيْر ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ البَشِيْرَ النَذِيْرَ ؛ صلى الله عليه وعلى آله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِي القَوْلِ وَالفِعْلِ وَالاِعْتِقَادِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا .
أما بعد

Ayyuhannas, bertakwalah kepada Allah, taati dan kerjakanlah perintah-Nya bukan malah bermaksiat kepada-Nya. Bersegeralah bertobat kepada-Nya sebelum pintu tobat tertutup rapat. Sesungguhnya Allah tidak menerima tobat seorang hamba apabila ruhnya telah menepi di tenggorokannya. Allah berfirman,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’” (Q.s. An-Nisa: 18).

Tidak pula diterima tobat seorang hamba, apabila matahari telah terbit di ufuk barat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Senantiasa tobat itu diterima hingga matahari terbit di ufuk barat. Apabila matahari telah terbit di ufuk barat, maka dicaplah setiap hati seseorang berdsarkan dengan apa yang ada di dalamnya.

Bertobatlah kepada Allah ayyuhal muslimun dan perbanyaklah amalan-amalan ketaatan yang semata-mata ikhlas mengharap pahala dari Allah dan sesuai dengan sunah rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang pintar adalah orang yang menundukkan dirinya agar beramal untuk bekal setelah mati. Dan orang yang pandir adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap kepada Allah sebuah angan-angan kosong.

Ucapkanlah shalawat dan salam untuk dia yang telah memberikan kabar gembira dan peringatan, seorang pelita yang menerangi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah Allah telah memuliakannya dalam kitab-Nya,

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.s. Al-Ahzab: 56)

Rasulullah pun telah menerangkan keutamaan shalawat tersebut dengan sabdanya,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Barangsiapa yang bershalawat kepadaku dengan satu shalawat, maka Allah akan bershalawat atasnya sebanyak 10 kali.”

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبُ المَقَامِ المَحْمُوْد وَالحَوْضِ المَوْرُوْد وَارضَ اللّهُمَّ عَن خُلَفَاءِهِ الرَّاشِدِيْنَ الهَادِيِّيْنَ المَهْدِيِّيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَن الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، واحم حَوْزَةَ الِإسْلَامِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اللّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمْتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ يَقُوْلُوْنَ بِالحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُوْنَ . اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ . اللّهُمَّ اغْفِر ذُنُوْبَ المُذْنِبِيْنَ وَتُبْ عَلَى التَائِبِيْنَ وَاكْتُبْ الصِحَّةَ وَالعَافِيَةَ لِلْحُجَّاجِ وَالمُعْتَمِرِيْنَ وَالمُقِيْمِيْنَ وَالمُسَافِرِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ .
اللّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ . اللّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا التِي فِيْهَا مَعَاشِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا التِي إِلَيْهَا مَعَادِنَا ، وَاجْعَلْ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍ . رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنِا الذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَارِ.
عباد الله : إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِالعَدْلِ وَالإحْسَان وَإِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَالنَهْيُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَلِيَ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ يَذْكُرُكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يِزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ وَاللهُ يَعَلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Download Naskah Khutbah Jumat

[download id=”56″]

Info Naskah Khutbah Jumat

Sumber: http://www.al-badr.net/web/index.php?page=lecture&action=lec&lec=296
Diterjemahkan oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com

repost: https://khotbahjumat.com/631-motivasi-agar-segera-bertobat.html

Untukmu yang harus keluar rumah .. untuk mencari nafkah

Jangan sampai lupa:

1. Membaca dzikir keluar rumah berikut ini:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda, barangsiapa membaca dzikir ini saat keluar rumah, maka dia akan di berikan petunjuk, dicukupi kebutuhannya, dan akan dilindungi (dari bahaya apapun). [HR. Abu Dawud: 5095, shahih].

2. Membaca doa singgah di suatu tempat ini:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقْ

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda: barangsiapa yg singgah di suatu tempat, dan dia baca dzikir ini, maka tidak ada sesuatupun yg bisa membahayakannya, sampai dia meninggalkan tempat itu. [HR. Muslim: 2708]

3. Membaca setiap pagi dan sore, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebanyak 3 kali.

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda: Bacalah Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain, saat pagi dan sore, sebanyak 3 kali, itu akan melindungimu dari segala sesuatu. [HR. Abu Dawud: 5082, Hasan].

4. Membaca dzikir saat melihat orang yg terkena bala’ ini:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكُمْ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda, barangsiapa melihat orang yg terkena bala’, dan membaca dzikir ini, maka dia akan diselamatkan dari bala’ itu. [HR. Attirmidzi: 3431, Hasan].

5. Bersedekah semampunya .. meski hanya sedikit.

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda, bahwa sedekah bisa menolak kematian yg buruk. [HR. Attirmidzi: 664, Hasan].

6. Melakukan usaha lahir (sebab kauni) yg bisa menjaga dan menyelamatkan diri dari bala’ dan musibah .. sebagaimana arahan ahli kesehatan, seperti: memakai masker, makan yg bergizi, istirahat yg cukup, dst.

7. Bertawakkal kepada Allah setelah melakukan semua usaha di atas .. serahkan semuanya kepada Allah, Dialah sebaik-baik penjaga dan penyelamat kita .. dan Dialah yg paling menyayangi para hamba-Nya yg patuh dan taat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman yg artinya: “Bertawakkallah kalian hanya kepada Allah, jika kalian benar beriman” [QS. Al-Ma’idah: 23]

Semoga Allah menjaga dan menyelamatkan kita semua, dari bala’ dan musibah yg ada, amin.

oleh ustadz. Musyaffa ad Dariny

Aku Tak Takut Corona, Aku Hanya Takut Allah?

Melalui tulisan ini kita berupaya meluruskan ucapan sebagian orang, di tengah wabah corona akhir-akhir ini.

“Aku ngga takut corona. Aku hanya takut kepada Allah..“

Pembaca yang dimuliakan Allah…

Di saat rombongan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu mengadakan agenda kunjungan ke negeri Syam, beliau mendapatkan kabar bahwa di Syam sedang tersebar wabah tho’un. Sehingga beliau pun mengurungkan rencana kunjungan tersebut.

Abu Ubaidah radhiyallahu ’anhu sebagai gubernur Syam ketika itu, menyayangkan batalnya kunjungan itu. Beliau berkata kepada Umar,

يا أمير المؤمنين، أفراراً من قدر الله؟

“Wahai Amirul Mukminin.. Mengapa anda lari dari takdir Allah?“

Lalu Umar radhiyallahu ’anhu menjawab dengan sangat hikmah,

لو غيرك قالها يا أبا عبيدة! نعم، نفرّ من قدر الله إلى قدر الله، أرأيت لو كانت لك إبل فهبطت واديا له عدوتان، إحداهما خصبة، والأخرى جدبة، أليس إن رعيتَ الخصبة رعيتَها بقدر الله، وإن رعيت الجدبة رعيتَها بقدر الله؟

“Aku berharap bukan Anda yang mengucapkan itu, ya Abu Ubaidah. Iya benar, kami sedang lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Seandainya kamu punya unta, kemudian ada dua lahan yang subur dan yang kering. Bukankah bila Anda gembalakan ke lembah yang kering itu adalah takdir Allah, dan jika Anda pindah ke lembah subur itu juga takdir Allah?!

“Iya benar…” Jawab sahabat Abu Ubaidah radhiyallahu ’anhu.

Umar pun takut pada wabah tho’un, kemudian berikhtiar menghindar. Padahal beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, Khalifahnya Rasulullah, orang yang Nabi pernah bilang, “kalau ada Nabi setelahku, maka Umar orangnya.” Sosok yang pernah Nabi ceritakan bahwa setan tidak berani melewati jalan yang dilewati oleh Umar. Kita siapa? Umar bukan? Nabi bukan? Rasul bukan? Shalih juga masih ragu-ragu? Kemudian petantang-petenteng?!

Ini menunjukkan bahwa, sebenarnya takut kepada Corona tidak bertentangan dengan takut kepada Allah.

Karena takut kepada makhluk yang bisa mendatangkan bahaya, tergolong takut yang sifatnya tabiat (thobi’i).

Allah Ta’ala memaklumi adanya takut seperti ini pada diri manusia. Karena itu bagian dari fitrah yang Allah tanamkan pada diri manusia. Sehingga tidak perlu dipertentangkan dengan takut kepada Allah.

Bahkan manusia yang mulian yaitu para Nabi, pun merasakan takut ini. Sebut saja Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,

فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya). Dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.” (QS. Al-Qashash: 21)

Saat Allah menunjukkan mukjizat Nabi Musa dihadapan para penyihir Fir’aun, ketika tongkat beliau berubah menjadi ular, Musa gelisah ketakutan.

وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ

“Lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut.” (QS. An-Naml: 10)

Lihatlah, Nabi Musa pun takut kepada ular. Apakah sekelas Nabi Musa yang kualitas takwa dan tauhidnya jelas terjamin baik; bayangkan beliau termasuk Nabi Ulul Azmi, melihat ular-ular itu kemudian berkata, “Saya ngga takut ular. Saya hanya takut kepada Allah. Sini ular saya cincang kalian.”?! Ternyata tidak, Allah Tuhan yang maha tahu isi hati manusia sendiri bahkan yang menceritakan dan tidak mengingkari adanya takut jenis itu pada diri Musa.

Saudaraku yang dimuliakan Allah…

Ketahuilah bahwa, takut kepada Allah harus didasari ilmu. Bukan bermodal semangat saja.

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyandingkan rasa takut kepadaNya dengan ilmu.

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ

“Hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Bisa pembaca rasakan, ungkapan di atas lebih di dasari ilmu atau semangat?

Sama jawaban kita, semboyan di atas hanya didasari semangat tanpa ilmu. Sehingga lebih pantas disebut nekad, bukan takut kepada Allah.

Bukti bahwa semboyan di atas tidak didasari ilmu adalah, hampir bisa dipastikan orang yang memegang semboyan itu adalah kalangan awam terhadap ilmu agama dan ilmu medis. Silahkan perhatikan, tak ada satupun ulama atau ustadz, yang mumpuni ilmu agamanya, apalagi dokter, yang berprinsip demikian. Rata-rata yang memegang prinsip itu adalah orang awam yang tidak punya kapasitas di bidang ilmu agama dan juga kesehatan. Atau, orang awam yang diustadzkan.

Silahkan, sekarang mau pilih ikut yang mana sahabat?

Kita hidup di bumi Allah teman. Maka harus patuh pada hukum Allah yang berlaku di bumi ini. Jangan membuat hukum sendiri di alam ini. Kecuali kalau punya alam sendiri. Allah tetapkan di dunia ini ada hukum sebab akibat. Anda mau dapat sesuatu, harus ada upaya (ikhtiyar). Anda tidak mengupayakan sebab, tak mungkin mendapatkan akibat atau hasil.

Maryam saja, sosok yang sudah jelas dicintai Allah, saat akan melahirkan Nabi Isa ‘alaihis salaam, untuk mendapatkan buah kurma, Allah perintahkan dia untuk melakukan sebab, yaitu menggoncang pohon kurma agar buah berjatuhan,

وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25)

Kita siapa brother? Tidak mau berusaha?! Maunya semua gratis? Kadang kita suka pede keterlaluan.

Orang yang seperti itu, sama saja dengan orang yang ingin punya anak tapi tidak mau nikah. Berdoa saja. Pengen dapat rizki tapi tidak usah kerja, yang penting doa saja.

Coba kepada orang yang berprinsip seperti itu, kita ajak ke kandang singa atau buaya. Tolong tinggal di situ satu atau dua jam saja, sambil lantang berteriak, “Woi singa… woi buaya.. kemari, aku ngga takut sama kalian. Aku takut kepada Allah.”

Berani menerima tantangan ini?! Kalau masih pikir-pikir berarti tidak konsisten dengan prinsip yang dia pegang.

 

Wallahua’lam bis showab…

Penulis: Ahmad Anshori

Artikel: Muslim.or.id

sumber: https://muslim.or.id/55371-aku-tak-takut-corona-aku-hanya-takut-allah.html

Manfaatkanlah 5 Perkara Sebelum Menyesal

Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara. Jika di masa muda, sehat, kaya, waktu senggang sulit untuk beramal, maka jangan harap selain waktu tersebut bisa semangat. Ditambah lagi jika benar-benar telah datang kematian, bisa jadi yang ada hanyalah penyesalan dan tangisan.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ghonim bin Qois berkata,

كنا نتواعظُ في أوَّل الإسلام : ابنَ آدم ، اعمل في فراغك قبل شُغلك ، وفي شبابك لكبرك ، وفي صحتك لمرضك ، وفي دنياك لآخرتك . وفي حياتك لموتك

“Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 387-388).

Semua itu kata Ibnu Rajab Al Hambali merintangi kita dalam beramal dan sebagiannya melalaikan kita seperti pada sebagian orang. Lihat saja ketika seseorang fakir dibanding ketika ia kaya, lihat pula ketika ia sakit, sudah menginjak masa tua atau bahkan mati yang tidak mungkin lagi beramal. (Lihat Idem, 2: 388).

Jika waktu muda sudah malas ibadah, jangan harap waktu tua bisa giat.

Jika waktu sehat saja sudah malas shalat, jangan harap ketika susah saat sakit bisa semangat.

Jika saat kaya sudah malas sedekah, jangan harap ketika miskin bisa keluarkan harta untuk jalan kebaikan.

Jika ada waktu luang enggan mempelajari ilmu agama, jangan harap saat sibuk bisa duduk atau menyempatkan diri untuk meraih ilmu.

Jika hidup sudah enggan bertakwa dan mengenakan jilbab, apa sekarang mau tunggu mati?

Lihatlah mereka yang menyesal,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 10-11).

Hanya Allah yang memberi taufik untuk memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara.

Saat Shubuh hari, 9 Safar 1435 H di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul

Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Disusun di Warak, Panggang, Gunungkidul, @ Pesantren Darush Sholihin, shubuh hari, 9 Safar 1435 H

sumber: 
https://rumaysho.com/5022-manfaatkanlah-5-perkara-sebelum-menyesal.html

Inilah Hikmah Di Balik Cobaan yang Belum Engkau Tahu

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah …

Ketahuilah … Allah Taala akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai, juga Allah akan menguji mereka dengan musuh mereka dari orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Ini semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama. Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap rasa capek yang mereka emban ketika berjalan dalam agama ini.

Sikap seperti di atas sangat berbeda dengan orang-orang yang ketika mendapat ujian merasa tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah. Sikap seperti ini malah akan membuat mereka mendapat musibah demi musibah.

Renungkanlah …

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Semoga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah merenungkan hadits-hadits di atas. Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah tersebut. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu -sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-, mereka malah memperoleh ujian lebih berat. Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut.

Al Manawi mengatakan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu.

Sumber Rujukan Utama : Syarh Qowaidil Arba, Syaikh Sholih bin ‘Abdillah Al Fauzan

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber:
https://rumaysho.com/27-inilah-hikmah-di-balik-cobaan-yang-belum-engkau-tahu.html

Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun

Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم

Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).

Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).

Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:

سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ

Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته

Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).

Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam.

 

Penulis: Yulian Purnama

Artikel: Muslim.Or.Id

sumber: https://muslim.or.id/39644-mintalah-kepada-allah-sampai-perkara-remeh-sekalipun.html

DAKWAH TUH TERNYATA BERAT SEKALI

🔴 Semoga ini bukan berkeluh kesah, juga bukan menyerah, apalagi menyesal. Namun seorang juru dakwah juga butuh tazkir, suplemen motivasi dan juga butuh teman seperjuangan yang meneguhkan langkahnya agar tetap tegar menghadapi setiap aral dan rintangan..

🔴 Ujian terberat ialah ikhlas. Saat ditentang, dimaki, dimusuhi, dihina, dituduh dan diperangi penentang dakwah, kadang nyali ciut, atau nafsu dendam menggelora, amarah dan kecewa membara..

🔴 Saat disanjung dan dipuji, dieluk-elukkan dan mendapat apresiasi atau imbalan, semangat berkobar, tersanjung, merasa berjasa, dan dadapun kadang membusung karena sombong mulai menggeliat dalam dada.

🔴 Saat ada juru dakwah lain, “pesilat baru” ada rasa sok lebih pengalaman dan lebih berilmu,  saat ada juru dakwah yang lebih tersyohor, lebih banyak muridnya, lebih pandai menjadikan air mata masyarakat bercucuran, ada saja semut semut iri, dengki dan hasad mulai menggerogoti. Apalagi bila “pesilat baru” tersebut adalah mantan murid, atau lebih muda, dan aroma ingusnya saja masih semerbak, mulailah asap asap iri dan dengki mulai mengepul.

🔴 Ikhlas, adalah jualan para juru dakwah, namun bisa jadi para juru dakwahlah yang paling terakhir memilikinya.

🔴 Penyakit hati adalah musuh bebuyutan para da’i yang selalu saja ia peringatkan ummat agar tidak terjangkiti olehnya, dan para juru dakwah selalu saja menjadi tabibnya, namun bisa saja mereka adalah orang yang paling kronis penyakitnya. Dan bisa jadi status yang sedang anda baca ini adalah bagian dari buktinya:

🔴 Kelak di akhirat, setelah para penghuni neraka masuk ke dalam neraka, akan ada lelaki yang diceburkan ke dalam neraka, hingga usus dan selurh isi perutnya tercerai berai, lalu ia berputar bagaikan batu penggilingan padi yang berputar. Spontan saja pemandangan ini menarik peratian para penghuni neraka, sehingga mereka segera mengerumuni lelaki tersebut, lalu mereka berkata kepadanya: Wahai fulan, bukankah semasa di dunia, engkaulah yang selalu memerintahkan kami agar menjalankan kebajikan dan melarang kami dari kemungkaran? Lelai itu menjawab: Betul, dahulu aku selalu memerintahkan kalian agar melakukan kabaikan dan meninggalkan kemungkaran, namun ternyata aku sendiri selalu melakukan kemungkaran tersebut. (Bukhari)

🔴 Ya Allah limpahkanlah keikhlasan kepada hamba-Mu ini, dan karuniakan istiqomah hingga akhir hayat, dan akhirilah hidup hamba-Mu ini dengan husnul khatimah.

_________________________

  • Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA.

sumber: https://shahihfiqih.com/artikel/dakwah-tuh-ternyata-berat-sekali/