Sumber Rujukan Dalam Menafsirkan Al-Qur’an

1. Kalamullah, yaitu Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al-Qur’an juga, karena Allah subhanahu wataallah yang menurunkannya maka Dia-lah yang paling mengetahui apa yang diinginkan, contohnya :
Allah ﷻ berfirman:

(وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا الطَّارِقُ)
“Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”
(QS. At-Tariq 86: Ayat 2)
At thoriq disini ditafsirkan oleh ayat selanjutnya, (النَّجْمُ الثَّاقِبُ)
“(Yaitu) bintang yang bersinar tajam,”
(QS. At-Tariq 86: Ayat 3)

2. Sabda Rasulullah ﷺ, yaitu Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-sunnah, karena Rasulullah ﷺ adalah manusia yang menyampaikan syariat dari Allah ﷻ kepada umat ini sehingga beliau ﷺ adalah orang yang paling mengetahui apa yang diinginkan Allah ﷻ, contohnya :
Allah ﷻ berfirman:
(لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ ۗ)
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya”
(QS. Yunus 10: Ayat 26)
Nabi ﷺ Menafsirkan az ziyadah (tambahannya) yaitu dengan melihat wajah Allah ﷻ berdasarkan hadits riwayat Muslim hadits shohih dari shuhaib bin sinan dari nabi ﷺ, sebuah hadits yang di dalamnya menyebutkan bahwa Allah ﷻ membuka hijab-Nya sehingga tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai daripada melihat wajah Allah ﷻ kemudian beliau ﷺ membaca ayat diatas.

3. Perkataan sahabat khususnya mereka yang berilmu dan mempunyai perhatian khusus dalam ilmu tafsir, karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka serta turun di zaman mereka dan merekalah orang yang paling jujur setelah nabi ﷺ dalam mencari kebenaran, orang yang paling selamat dari hawa nafsu serta paling bersih dari penyelisihan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Contoh :
Allah ﷻ berfirman:

( وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ)
” Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan,
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 43)
Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas bahwa dia Menafsirkan kata “menyentuh” dengan “bersetubuh”

4. Perkataan Tabi’in khususnya mereka yang berilmu dan mempunyai perhatian khusus dalam ilmu tafsir yang mereka ambil dari para sahabat karena tabi’in adalah manusia terbaik setelah sahabat dan paling selamat hawa nafsunya dibanding orang2 setelah mereka

5. segala sesuatu yang ditunjukkan oleh makna-makna syar’iyah atau lughawiyah yang sesuai dengan konteks kalimat
Apabila terjadi perbedaan antara makna syar’i dengan makna lughowi, maka diambil makna yang ditunjukkan oleh makna syar’i karena Al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan syariat dan bukan untuk menjelaskan bahasa kecuali apabila ada dalil yang menguatkan maknanya secara bahasa. Contoh
Allah ﷻ berfirman:
(وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا)
“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan sholat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik)”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 84)..
Disini sholat secara bahasa (lughowi) adalah doa tetapi menurut syariat adalah berdiri didepan mayit untuk mendoakannya dengan sifat tertentu (yakni sholat jenazah). Maka didahulukan makna syar’i yaitu sholat jenazah.

Sumber : kitab Ushulun fi at-Tafsiri karya asy- syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
sumber: surabayamengaji.com
Majelis Ta’lim & ​Media Dakwah Sunnah​​​​​

Tinggalkan komentar