Cabang-Cabang Iman

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarh/penjelasan:

Kata “bidh’” (lebih) di sini adalah bilangan antara tiga sampai Sembilan sebagaimana yang dikuatkan oleh Al Qazzaz.

Kalimat “ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih,” adalah syak atau keraguan dari perawi dalam riwayat Muslim dari jalan Suhail bin Abi Shalih dari Abdullah bin Dinar. Para pemilik sunan yang tiga meriwayatkan dari jalan yang sama, dimana mereka menyebutkannya dengan tanpa ragu, yaitu tujuh puluh cabang lebih. Namun Imam Baihaqi lebih menguatkan riwayat Imam Bukhari (enam puluh cabang), karena Sulaiman (salah satu rawinya) tidak ragu-ragu. Demikian pula Ibnu Shalah, ia menguatkan jumlah yang paling sedikit, karena itulah yang yakin.

Kata “cabang” maksudnya bagian atau perkara.

Al Qadhiy ‘Iyadh berkata, “Jamaah para ulama membebani diri mengumpulkan cabang-cabang iman tersebut melalui jalan ijtihad. Menghukumi bahwa yang disebutkan itulah maksudnya adalah hal yang sulit. Dan ketidaktahuan mengetahui semua itu secara tafsil (rinci) tidaklah menodai keimanan.”

Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, “Bahwa para ulama yang menyebutkan cabang-cabang itu tidaklah sepakat dalam menyebutkannya dalam satu macam, yang paling mendekati kebenaran adalah jalan yang ditempuh Ibnu Hibban, akan tetapi kami tidak mengetahui penjelasan ucapannya, dan saya telah meringkas dari apa yang mereka sebutkan seperti yang akan saya sebutkan, yaitu bahwa cabang-cabang ini terbagi menjadi amal yang terkait dengan hati, amal yang terkait dengan lisan, dan amal yang terkait dengan anggota badan. Amal yang terkait dengan hati itu ada yang berupa keyakinan dan ada yang berupa niat. Ia terbagi dua puluh empat perkara, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah, termasuk di dalamnya beriman kepada Dzat-Nya, sifat-Nya, tauhid-Nya, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya, serta meyakini barunya segala sesuatu selain-Nya,
  2. Demikian pula beriman kepada malaikat-Nya,
  3. Beriman kepada kitab-kitab-Nya,
  4. Beriman kepada rasul-rasul-Nya,
  5. Beriman kepada qadar-Nya yang baik maupun yang buruk,
  6. Beriman kepada hari Akhir, termasuk di dalamnya beriman kepada pertanyaan di alam kubur, kebangkitan, penghidupan kembali, hisab, mizan, shirat, surga, dan neraka.
  7. Mencintai Allah,
  8. Cinta dan benci karena-Nya.
  9. Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meyakini kemuliaannya. Termasuk di dalamnya bershalawat kepadanya dan mengikuti sunnahnya.
  10. Berniat ikhlas, termasuk di dalamnya meninggalkan riya’, dan kemunafikan.
  11. Bertobat.
  12. Khauf (rasa takut kepada Allah).
  13. Raja’ (berharap kepada Allah)
  14. Bersyukur
  15. Memenuhi janji
  16. Bersabar
  17. Ridha terhadap qadha’ Allah
  18. Bertawakkal (menyerahkan urusan kepada Allah)
  19. Bersikap rahmah (sayang)
  20. Bertawadhu’, termasuk di dalamnya menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.
  21. Meninggalkan sombong dan ujub.
  22. Meninggalkan hasad.
  23. Meninggalkan dendam
  24. Meninggalkan marah.

Amal yang terkait dengan lisan itu ada tujuh perkara, yaitu:

  1. Melafazkan tauhid
  2. Membaca Al Qur’an
  3. Mempelajari ilmu
  4. Mengajarkannya
  5. Berdoa
  6. Berdzikr, termasuk di dalamnya beristighfar.
  7. Menjauhi perkataan sia-sia (laghwun).

Amal yang terkait dengan anggota badan itu ada tiga puluh delapan perkara, di antaranya ada yang terkait dengan orang-perorang, ia ada lima belas perkara, yaitu:

  1. Membersihkan, baik secara hissi (inderawi) maupun maknawi. Termasuk di dalamnya menjauhi najis.
  2. Menutup aurat.
  3. Melaksanakan shalat baik fardhu maupun sunat.
  4. Zakat juga demikian.
  5. Memerdekakan budak.
  6. Bersikap dermawan. Termasuk di dalamnya memberikan makan dan memuliakan tamu.
  7. Berpuasa, yang wajib maupun yang sunat.
  8. Berhaji dan berumrah juga demikian.
  9. Berthawaf.
  10. Beri’tikaf.
  11. Mencari malam Lailatul qadr.
  12. Pergi membawa agama. Termasuk di dalamnya berhijrah dari negeri syirk.
  13. Memenuhi nadzar.
  14. Memeriksa keimanan.
  15. Membayar kaffarat.

Yang terkait dengan yang menjadi pengikut, ia ada enam perkara, yaitu:

  1. Menjaga diri dengan menikah.
  2. Mengurus hak-hak orang yang ditanggungnya.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, termasuk pula menjauhi sikap durhaka.
  4. Mendidik anak.
  5. Menyambung tali silaturrahim.
  6. Menaati para pemimpin atau bersikap lembut kepada budak.

Yang terkait dengan masyarakat umum, ia ada tujuh belas cabang, yaitu:

  1. Menegakkan pemerintahan dengan adil.
  2. Mengikuti jamaah.
  3. Menaati waliyyul amri (pemerintah).
  4. Mendamaikan manusia, termasuk di dalamnya memerangi khawarij dan para pemberontak.
  5. Tolong-menolong di atas kebaikan, termasuk di dalamnya beramr ma’ruf dan bernahi munkar.
  6. Menegakkan hudud.
  7. Berjihad, termasuk di dalamnya ribath (menjaga perbatasan).
  8. Menunaikan amanah.
  9. Menunaikan khumus (1/5 ghanimah).
  10. Memberikan pinjaman dan membayarnya, serta memuliakan tetangga.
  11. Bermu’amalah dengan baik.
  12. Mengumpulkan harta dari yang halal.
  13. Menginfakkan harta pada tempatnya, termasuk di dalamnya meninggalkan boros dan berlebihan.
  14. Menjawab salam.
  15. Mendoakan orang yang bersin.
  16. Menghindarkan bahaya atau sesuatu yang mengganggu dari manusia.
  17. Menjauhi perbuatan sia-sia dan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.

Sehingga jumlahnya 69 perkara, dan bisa menjadi 79 jika sebagiannya tidak disatukan dengan yang lain, wallahu a’lam. (Lihat Fathul Bari juz 1 hal. 77)

Dalam hadits di atas juga menunjukkan, bahwa tingkatan iman berbeda-beda, yaitu dari sabda Beliau, “Yang paling utama adalah ucapan Laailaahaillallah, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Maraji’: Makbatah Syamilah versi 3.45, Fathul Bari(Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani), dll.

***

Penulis: Ust. Marwan Hadidi, S.Pdi.

sumber: https://muslimah.or.id/6020-cabang-cabang-iman.html

Untuk Apa Kita Diciptakan Di Dunia Ini?

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari pembalasan

Masih ada segelintir orang yang muncul dalam dirinya pertanyaan seperti ini, bahkan dia belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. “Untuk tujuan apa sih, kita diciptakan di dunia ini?”, demikian pertanyaan yang selalu muncul dalam benaknya. Lalu sampai-sampai dia menanyakan pula, “Kenapa kita harus beribadah?” Sempat ada yang menanyakan beberapa pertanyaan di atas kepada kami melalui pesan singkat yang kami terima. Semoga Allah memudahkan untuk menjelaskan hal ini.

Saudaraku … Inilah Tujuan Engkau Hidup Di Dunia Ini

Allah Ta’ala sudah menjelaskan dengan sangat gamblangnya di dalam Al Qur’an apa yang menjadi tujuan kita hidup di muka bumi ini. Cobalah kita membuka lembaran-lembaran Al Qur’an dan kita jumpai pada surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Saudaraku … Jadi, Allah tidaklah membiarkan kita begitu saja. Bukanlah Allah hanya memerintahkan kita untuk makan, minum, melepas lelah, tidur, mencari sesuap nasi untuk keberlangsungan hidup. Ingatlah, bukan hanya dengan tujuan seperti ini Allah menciptakan kita. Tetapi ada tujuan besar di balik itu semua yaitu agar setiap hamba dapat beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya[?] ” (Madaarijus Salikin, 1/98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).

Imam Asy Syafi’i mengatakan,

لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

Ulama lainnya mengatakan,

لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1/98)

Bukan Berarti Allah Butuh pada Kita, Justru Kita yang Butuh Beribdah pada Allah 

Saudaraku, setelah kita mengetahui tujuan hidup kita di dunia ini, perlu diketahui pula bahwa jika Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, bukan berarti Allah butuh pada kita. Sesungguhnya Allah tidak menghendaki sedikit pun rezeki dari makhluk-Nya dan Dia pula tidak menghendaki agar hamba memberi makan pada-Nya. Allah lah yang Maha Pemberi Rizki. Perhatikan ayat selanjutnya, kelanjutan surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman,

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari makhluk dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 57-58)

Jadi, justru kita yang butuh pada Allah. Justru kita yang butuh melakukan ibadah kepada-Nya.

Saudaraku … Semoga kita dapat memperhatikan perkataan yang sangat indah dari ulama Robbani, Ibnul Qoyyim rahimahullah tatkala beliau menjelaskan surat Adz Dzariyaat ayat 56-57.

Beliau rahimahullah mengatakan,“Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut. Akan tetapi, Allah Ta’ala Allah menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka. Hal ini sama halnya dengan perkataan seseorang, “Jika engkau berbuat baik, maka semua kebaikan tersebut akan kembali padamu”. Jadi, barangsiapa melakukan amalan sholeh, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri. ” (Thoriqul Hijrotain, hal. 222)

Jelaslah bahwa sebenarnya kita lah yang butuh pada ibadah kepada-Nya karena balasan dari ibadah tersebut akan kembali lagi kepada kita.

Apa Makna Ibadah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dalam ibadah itu terkandung mengenal, mencintai, dan tunduk kepada Allah. Bahkan dalam ibadah terkandung segala yang Allah cintai dan ridhoi. Titik sentral dan yang paling urgent dalam segala yang ada adalah di hati yaitu berupa keimanan, mengenal dan mencintai Allah, takut dan bertaubat pada-Nya, bertawakkal pada-Nya, serta ridho terhadap hukum-Nya. Di antara bentuk ibadah adalah shalat, dzikir, do’a, dan membaca Al Qur’an.” (Majmu’ Al Fatawa, 32/232)

Tidak Semua Makhluk Merealisasikan Tujuan Penciptaan Ini

Perlu diketahui bahwa irodah (kehendak) Allah itu ada dua macam.

Pertama adalah irodah diniyyah, yaitu setiap sesuatu yang diperintahkan oleh Allah berupa amalan sholeh. Namun orang-orang kafir dan fajir (ahli maksiat) melanggar perintah ini. Seperti ini disebut dengan irodah diniyyah, namun amalannya dicintai dan diridhoi. Irodah seperti ini bisa terealisir dan bisa pula tidak terealisir.

Kedua adalah irodah kauniyyah, yaitu segala sesuatu yang Allah takdirkan dan kehendaki, namun Allah tidaklah memerintahkannya. Contohnya adalah perkara-perkara mubah dan bentuk maksiat. Perkara-perkara semacam ini tidak Allah perintahkan dan tidak pula diridhoi. Allah tidaklah memerintahkan makhluk-Nya berbuat kejelekan, Dia tidak meridhoi kekafiran, walaupun Allah menghendaki, menakdirkan, dan menciptakannya. Dalam hal ini, setiap yang Dia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terwujud. Jika kita melihat surat Adz Dzariyat ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Tujuan penciptaan di sini termasuk irodah diniyyah. Jadi, tujuan penciptaan di sini tidaklah semua makhluk mewujudkannya. Oleh karena itu, dalam tataran realita ada orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Tujuan penciptaan di sini yaitu beribadah kepada Allah adalah perkara yang dicintai dan diridhoi, namun tidak semua makhluk merealisasikannya. (Lihat pembahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 8/189)

Dengan Tauhid dan Kecintaan pada-Nya, Kebahagiaan dan Keselamatan akan Diraih

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Tujuan yang terpuji yang jika setiap insan merealisasikannya bisa menggapai kesempurnaan, kebahagiaan hidup, dan keselamatan adalah dengan mengenal, mencintai, dan beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Inilah hakekat dari perkataan seorang hamba “Laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah)”. Dengan kalimat inilah para Rasul diutus dan semua kitab diturunkan. Suatu jiwa tidaklah menjadi baik, suci dan sempurna melainkan dengan mentauhidkan Allah semata.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, 2/120)

Kami memohon kepada Allah, agar menunjuki kita sekalian dan seluruh kaum muslimin kepada perkataan dan amalan yang Dia cintai dan ridhoi. Tidak ada daya untuk melakukan ketaatan dan tidak ada kekuatan untuk meninggalkan yang haram melainkan dengan pertolongan Allah.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا دَائِمًا إلَى يَوْمِ الدِّينِ .

***

Selesai disusun di Wisma MTI, 29 Jumadits Tsani 1430 H (Selasa, 23-06-2009)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/342-untuk-apa-kita-diciptakan-di-dunia-ini.html

Mengenal Nama dan Sifat Allah

Pembaca yang budiman, ilmu tentang mengenal Alloh dan Rosul-Nya merupakan ilmu yang paling mulia. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan, “Kemuliaan sebuah ilmu mengikuti kemuliaan objek yang dipelajarinya.” Dan tentunya, tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia, paling agung dan paling utama adalah pengetahuan tentang Alloh di mana tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Dia semata, Robb semesta alam.

Ilmu Tentang Alloh Adalah Pokok dari Segala Ilmu

Ilmu tentang Alloh adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Alloh, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang jahil tentang Robb-nya, niscaya dia akan lebih jahil terhadap yang selainnya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Al-Hasyr: 19). Ketika seseorang lupa terhadap dirinya, dia pun tidak mengenal hakikat dirinya dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan ia lupa dan lalai terhadap apa saja yang merupakan sebab bagi kebaikan dan kemenangannya di dunia dan di akhirat. Maka, jadilah dia seperti orang yang ditinggalkan dan ditelantarkan, yang berstatus seperti binatang ternak yang dilepas dan dibiarkan pergi sekehendaknya, bahkan mungkin saja binatang ternak lebih mengetahui kepentingan dirinya daripadanya.

Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah seorang yang beribadah kepada Alloh dengan semua nama dan sifat-sifat Alloh yang diketahui oleh manusia”. Beliau juga berkata, “Yang jelas, bahwa ilmu tentang Alloh adalah pangkal segala ilmu dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba akan kebahagiaan, kesempurnaan dan kemaslahatannya di dunia dan di akhirat.” (Miftaah Daaris Sa’aadah).

Hampir Setiap Ayat Dalam Al-Qur’an Menyebutkan Nama dan Sifat Alloh

Alloh telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Alqur’an yang kita baca selalu berakhir dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Alloh atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, firman Alloh yang artinya, “…Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 5) dan juga firman-Nya yang artinya, “…Dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 17)

Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seorang yang mengetahui-Nya, hingga ia selalu merasa terawasi oleh Alloh dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, sempurnalah rasa malunya dari bermaksiat kepada Alloh.

Yang Paling Takut Kepada Alloh Adalah yang Paling Mengenal Alloh

Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba kepada Robb-nya, maka ia akan semakin takut kepada-Nya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (Faathir: 28)

Orang yang paling mengenal dan paling mengetahui Alloh adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau senantiasa dalam keadaan takut dari perbuatan durhaka terhadap Robb-nya, dan tentu kita telah mengetahui siapa beliau. Karena Alloh telah memerintahkannya untuk mengatakan, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Robbku’.” (Al-An’aam: 15)

Sebab, ahli tauhid yang benar-benar mengenal Alloh memandang bahwa kemaksiatan itu, meskipun kecil, ibarat sebuah gunung yang sangat besar. Karena mereka mengetahui keagungan Dzat (Rabb) yang Maha Esa serta Maha Kuasa dan mengenal hak-hak-Nya, oleh sebab itu, mereka menjadi orang-orang yang paling takut kepada-Nya di antara manusia.

Kebodohan Akan Keagungan Alloh Adalah Induk Kemaksiatan

Dari Abul ‘Aliyah, beliau pernah bercerita bahwa para Shahabat Rosululloh mengatakan, “Setiap dosa yang dikerjakan seorang hamba, penyebabnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir, dengan sanad yang shahih)

Imam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Setiap pelaku kemaksiatan adalah seorang jahil dan setiap orang yang takut kepada-Nya adalah seorang alim yang taat kepada Alloh. Dia menjadi seorang yang jahil hanya karena kurangnya rasa takut yang dimilikinya, kalau saja rasa takutnya kepada Alloh sempurna, pastilah dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya.”

Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalannya terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh ‘alaihis salaam mengajak kaumnya (kepada tauhid) lalu mereka menolaknya, maka beliau pun mengetahui bahwa penolakan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Alloh. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Alloh?” (Nuuh: 13). Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui beberapa jalan yang saling menguatkan)

Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan, karena seandainya manusia mengenal Alloh dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Alloh dengan sesuatu. Sebab, segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya?

Nama Alloh Semuanya Husna

Nama-nama Alloh semuanya husnaa, maksudnya, mencapai puncak kesempurnaannya. Karena nama-nama itu menunjukkkan kepada pemilik nama yang mulia, yaitu Alloh Subhaanahu wa Ta’ala dan juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada cacat sedikit pun ditinjau dari seluruh sisinya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Hanya milik Alloh-lah nama-nama yang husna.” (Al-A’roof: 180)

Kewajiban kita terhadap nama-nama Alloh ada tiga, yaitu beriman dengan nama tersebut, beriman kepada makna (sifat) yang ditunjukkan oleh nama tersebut dan beriman dengan segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut. Maka, kita beriman bahwa Alloh adalah Ar-Rohiim (Yang Maha Penyayang), memiliki sifat rahmah (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu dan menyayangi semua hamba-Nya.

Nama dan Sifat Alloh Tidak Dibatasi Dengan Bilangan Tertentu

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam“Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, shahih). Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Alloh dan menjadi perkara yang ghaib.

Adapun sabda beliau, “Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk syurga.” (HR. Bukhari-Muslim) tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Alloh dengan bilangan sembilan puluh sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Alloh yang 99 itu, mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menghafal dan memahaminya akan masuk syurga.

Demikianlah, semoga kita benar-benar mengenal Alloh dengan sebenar-benar pengenalan dan mengagungkan Alloh dengan sebenar-benar pengagungan sehingga bisa menyelamatkan kita dari berbuat syirik kepada-Nya.

***

Penulis: Abu Ibrohim M. Saifudin Hakim

sumber: https://muslim.or.id/113-mengenal-nama-dan-sifat-allah.html

Membenci dan Mengolok-olok Syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kewajiban seorang muslim adalah taat dan patuh kepada semua ajaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Dia meyakini bahwa syariat Islam diturunkan untuk maslahat umat manusia, meskipun dia mungkin belum bisa memahami hikmah di balik syariat tersebut. Hal ini karena syariat Islam telah Allah Ta’ala tetapkan berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna. Oleh karena itu, termasuk pembatal keislaman jika seseorang justru membenci syariat tersebut dan lebih dari itu, dia mengolok-olok syariat Islam, meskipun satu jenis saja. Tindakan ini mungkin dianggap remeh bagi sebagian orang, padahal di sisi Allah Ta’ala, perkaranya sangatlah serius.

Membenci Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Barangsiapa yang membenci satu saja dari syariat atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun dia mengamalkannnya, maka dia telah kafir. Allah Ta’ala befirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (9)

“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad [47]: 8-9)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebencian terhadap syariat yang Allah Ta’ala turunkan merupakan sifat kekafiran yang terbesar, sehingga hapuslah pahala amal kebaikan mereka disebabkan kekafiran yang mereka kerjakan. Ayat ini adalah dalil yang sangat jelas tentang masalah ini.

Jika kebencian itu ditampakkan secara terang-terangan, diucapkan dengan jelas, meskipun dia mungkin mengamalkan syariat tersebut, maka hal ini termasuk kufur i’tiqadi (kafir karena keyakinan yang rusak).

Misalnya, seseorang mengatakan, “Aku membenci hukum potong tangan bagi pencuri, aku benci (tidak suka dengan) hukum cambuk atau hukum rajam bagi pezina”, maka hal ini adalah kufur i’tiqadi.

Jika kebencian itu adalah kebencian di dalam hati, tidak ditampakkan secara terang-terangan, meskipun dia sendiri mungkin mengamalkan syariat tersebut, maka ini adalah kufur karena nifaq (kemunafikan). Hal ini karena orang tersebut secara lahiriyahnya menampakkan bahwa dia adalah seorang yang beragama atau mengamalkan Islam, namun dia menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya. Ini adalah contoh kufur karena nifaq.

Hal ini jika seseorang membenci ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri.

Adapun jika seseorang tidak suka terhadap suatu tindakan tertentu (yang termasuk dalam hukum syariat), karena dia tidak sanggup (tidak kuat) melihatnya, maka hal ini bukanlah kekafiran. Misalnya, seseorang tidak suka (tidak ingin) melihat eksekusi hukuman potong tangan, bukan karena dia membenci hukuman tersebut, namun semata-mata karena dirinya tidak sanggup melihatnya, dalam kondisi dia menerima dan mencintai hukum Allah Ta’ala tersebut sepenuhnya, maka kasus semacam ini tidak termasuk kekafiran.

Contoh lainnya, seorang wanita yang tidak ingin suaminya menikah lagi, karena dia sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat suaminya menikah lagi, bukan karena dia membenci syariat ta’addud (poligami) yang telah Allah Ta’ala tetapkan, maka hal ini tidak termasuk kekafiran. Adapun jika yang dia benci adalah syariat ta’addud itu sendiri, maka hal ini termasuk kekafiran (pembatal Islam).

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk membedakan antara membenci syariat Islam semata-mata karena syariat itu sendiri atau karena faktor eksternal (faktor luar), bukan karena syariat itu sendiri. Misalnya, karena takut melihat eksekusi hukuman potong tangan, hukum cambuk, dan sebagainya.

Jadi tidak tepat ucapan seorang suami kepada istrinya, “Jika Engkau tidak suka aku menikah lagi, maka Engkau kafir.” Ini adalah ucapan yang tidak tepat dan sangat berbahaya bagi yang mengucapkannya.

Seorang muslim, hendaklah dia mencintai dan mengagungkan syariat Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun dia belum bisa melaksanakan dengan sempurna sesuai tuntutan syariat. Hal ini mencakup semua ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk di dalamnya syariat memakai cadar bagi wanita muslimah, memanjangkan jenggot bagi kaum lelaki, tidak memanjangkan kain melebihi mata kaki, poligami (ta’addud),  syariat adzan ketika masuk waktu shalat, syariat berpuasa di bulan Ramadhan, dan syariat-syariat yang lainnya.

Diselesaikan ba’da isya’, Rotterdam NL, 16 Rajab 1439/4 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1]   Disarikan dari: Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 38-39.


Bagian 2

Menghina, Mengejek atau Mengolok-olok Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Perkara berikutnya yang harus kita perhatikan adalah seseorang yang menghina, mengejek atau mengolok-olok ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika seseorang mengetahui bahwa sesuatu tersebut termasuk dalam ajaran (syariat) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menghina atau mengejeknya termasuk tindakan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Barangsiapa yang menghina Al-Qur’an, mengolok-olok kandungan (isi) Al-Qur’an, mengejek ajaran agama, atau menghina dan merendahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun hanya mengejek satu saja dari sifat (karakter) beliau, ini semua adalah kekafiran yang bisa mengeluarkan seseorang dari agama. Misalnya, seseorang yang menghina dan mengejek jenggot yang lebat, padahal dia mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki (memelihara) jenggot. Jika seseorang mengatakan, “Jenggot itu kotor (jelek), tidak cocok dengan peradaban modern, yang memeliharanya hanyalah orang-orang kuno dan kampungan”, padahal dia mengetahui jenggot itu termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini termasuk kekafiran.

Demikian pula orang-orang yang menghina, mengejek atau sekedar bersenda gurau dengan adanya surga, neraka, atau mengolok-olok kenikmatan di surga seperti bidadari, atau mengejek jenis adzab (hukuman) tertentu di neraka, ini juga termasuk kekafiran.

Semua tindakan ini tidaklah muncul dari seseorang yang di dalam hatinya terdapat pengagungan terhadap Allah Ta’ala, terhadap Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga pengagungan terhadap agama dan syariat Allah Ta’ala. Kekafiran ini termasuk kekafiran yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Allah Ta’ala berfirman,

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu (yaitu dengan menampakkan kemunafikan mereka, pen.)” (QS. At-Taubah [9]: 64).

Mereka (orang-orang munafik) mengolok-olok agama Allah Ta’ala, mengejek Al-Qur’an, Rasul-Nya, dan kaum muslimin, meskipun mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Tindakan ini tetap saja terlarang, sehingga mereka pun diancam, bahwa Allah Ta’ala akan menyingkap apa yang ada dalam hati mereka dan Allah Ta’ala mengetahui keadaan mereka ketika bersama dengan setan-setan mereka, yaitu mengolok-olok agama Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala ancam mereka bahwa Allah Ta’ala akan menampakkan kemunafikan yang mereka sembunyikan,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja” (QS. At-Taubah [9]: 65).

Yaitu, ketika ditampakkan kemunafikan mereka yang mengejek agama Allah Ta’ala dengan sembunyi-sembunyi, mereka berkilah, “Kami tidak berkeyakinan seperti itu, kami ini orang-orang beriman (mukmin), kami hanya ngobrol bersenda gurau dengan teman-teman kami, hanya bermain-main dan bersenang-senang saja.”

Apakah alasan mereka Allah Ta’ala terima? Tidak. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ . لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’  Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa” (QS. At-Taubah [9]: 65-66).

Allah Ta’ala tidak menerima alasan mereka, namun Allah Ta’ala akan menerima taubat mereka, dengan hilangnya kemunafikan dari dalam hati mereka.

Ketika dalam perang Tabuk, ada seseorang yang berkata, Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya, dan lebih pengecut dalam peperangan.

Maksudnya, orang tersebut mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang ahli baca (menghapal) Al-Qur’an.

Salah seorang sahabat, ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata kepadanya, “Yang kamu katakan itu dusta. Bahkan kamu adalah orang munafik. Niscaya akan aku beritakan kepada  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hal ini karena para sahabat mengetahui bahwa ucapan seperti ini tidaklah keluar dari seseorang yang beriman secara lahir dan batin.

Lalu pergilah ‘Auf bin Malik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau.

Tetapi sebelum dia sampai, telah turun wahyu Al-Qur’an kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu ayat dalam surat At-Taubah yang kami sebutkan di atas).

Kata ‘Abdullah bin Umar, “Aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata,

إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

“Sebenarnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? [1]

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا

Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan” (QS. Al-Kahfi [18]: 56).

Ini adalah di antara sebab kekafiran orang-orang kafir. Yaitu, mereka menjadikan ancaman dan peringatan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya hanya sebagai olok-olokan saja.

Ayat-ayat di atas adalah di antara dalil tegas bahwa barangsiapa yang mengejek, menghina dan mengolok-olok satu saja dari ajaran (syariat) Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallammaka dia telah membatalkan keislamannya dan telah menampakkan kemunafikan dari dalam hatinya.

Demikian pula, ketika dia menghina orang-orang shalih karena agamanya, ini juga termasuk kekafiran. Misalnya, seseorang menghina orang lain yang memanjangkan jenggotnya, dia hina jenggotnya (yaitu, perbuatan memanjangkan jenggot), dan dia mengetahui bahwa memanjangkan jenggot termasuk ajaran agama, maka tindakan ini juga termasuk kekafiran. Juga termasuk kekafiran ketika menghina wanita muslimah yang mengenakan jilbab atau cadar.

Adapun jika yang dihina adalah orangnya, bukan agama (perbuatan) yang ada pada orang tersebut, maka ini kefasikan (dosa besar), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar)” [2]

Orang-orang yang mentauhidkan Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya, tentu dia akan mengangungkan apa yang Allah Ta’ala agungkan dan mencintai apa yang Allah Ta’ala cintai. Dia akan benar-benar mengagungkan dan mencintai Allah Ta’ala, Rasul-Nya, syariat-Nya, dan juga mencintai orang-orang shalih yang melaksanakan syariat tersebut. Oleh karena itu, tidaklah mungkin orang seperti ini, yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, akan menghina, mengejek, dan mengolok-olok syariat-Nya. Perbuatan seperti ini hanyalah muncul dari orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat dan hadits di atas. [3]

[Selesai]

***

Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL, 17 Rajab 1439/4 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1]     HR. Ibnu Jarir (X/119, 120), Ibnu Abi Hatim (IV/64) dari Ibnu Umar. Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad berkata, “Sanad-sanad Ibnu Abi Hatim adalah hasan.”

[2]     HR. Bukhari no. 48, 6044, 7076 dan Muslim no. 64.

[3]     Disarikan dari: Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 40-41.

sumber: https://muslim.or.id/38336-membenci-dan-mengolok-olok-syariat-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam-bag-2.html

Menyikapi Karikatur Nabi: Pembelaan terhadap Rasul yang Terpilih

catatan: Terkait sikap kita terhadap oknum yang menggambar karikatur nabi yang membuat darah kita mendidih, nasehat ulama adalah kita tetap menunjukkan sikap marah dan tidak ridha, tetapi tetap tenang bertindak sesuai arahan syariat. berikut adalah artikel lama terkait kejadian baru-baru ini


Pembelaan terhadap Rasul yang Terpilih

Oleh: Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ. أَمَّا بَعْدُ

Media massa, baik surat kabar ataupun yang lainnya, telah menyebarkan berita-berita menyedihkan dan melukai (umat), yang bersumber dari musuh-musuh Islam yang dengki dan terputus dari kebaikan, yang menyudutkan agama dan Nabi Islam.

(Yaitu) perbuatan yang mengandung celaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelek-jelekkan risalahnya, yang muncul dari individu maupun organisasi Nasrani yang menyimpan kedengkian. Juga dari sebagian penulis yang dengki dan orang yang tidak peduli, seperti para karikaturis sebuah surat kabar Denmark, Jylland Posten, di mana para karikaturisnya menghina sebaik-baik manusia dan Rasul paling sempurna, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, bumi tidak pernah mengetahui ada seseorang yang lebih cerdas dan lebih mulia daripada beliau dalam hal akhlak, keadilan, dan kasih sayang. Serta tidak pernah diketahui satu risalah pun yang lebih sempurna, lebih menyeluruh, lebih adil, dan lebih kasih sayang daripada risalah beliau. Risalah ini mengandung keimanan terhadap seluruh Nabi dan Rasul, menghormati mereka dan menjaga mereka dari tikaman dan penghinaan serta menjaga/ memelihara hakekat sejarah mereka. Dan di antara para rasul tersebut adalah ‘Isa dan Musa ‘alaihimassalam. Maka barangsiapa yang kafir terhadap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinanya berarti ia telah kafir terhadap para rasul dan menghina mereka seluruhnya.

Dan sungguh orang-orang rendahan dan buas itu telah mengolok-olok beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka telah membuat beragam karikatur, berjumlah 12 karikatur yang sangat menghina. Salah satunya, menampilkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan sorban yang menyerupai bom di atas kepalanya.

Maka kami katakan kepada orang-orang jahat itu dan yang di belakang mereka dari kalangan pendengki baik di Eropa maupun Amerika, yang “telah melemparkan kotorannya lalu ia lari”1:

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para khalifahnya yang terbimbing, dan para shahabatnya yang mulia tidak pernah membuat pabrik-pabrik senjata, meskipun itu persenjataan kuno sekalipun, baik pedang maupun tombak. Lebih-lebih bom atom dan rudal antarbenua, serta semua jenis senjata pemusnah massal. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membuat satu pabrik pun, karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta dan pemberi petunjuk bagi seluruh manusia kepada agama yang menggembirakan mereka di dunia dan akhirat. Dan agar mereka dapat memberikan hak Pencipta mereka yang telah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya. Maka barangsiapa menolak hal itu, berarti dia seorang penjahat yang berhak mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat dari Rabb semesta alam, Pengatur dan Pencipta alam semesta ini.

Adapun kalian wahai orang-orang Barat yang sok mengaku modern, kami nyatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya kalian memiliki aturan dan perundang-undangan yang menghancurkan akhlak dan membolehkan berbagai perkara yang haram. Di antaranya zina dan penyimpangan seksual. Di antaranya juga riba, yang menghancurkan ekonomi umat. Juga menghalalkan makan bangkai dan daging babi yang mengakibatkan sifat dayyuts, sehingga seorang lelaki tidak akan merasa cemburu terhadap istrinya, saudara wanitanya, dan anak perempuannya. Kemudian wanita-wanita itu berzina dan mencari pasangan kumpul kebo semaunya. Dan ini adalah sarana-sarana penghancur yang diharamkan oleh semua risalah para rasul.

Adapun bom dan seluruh persenjataan pemusnah serta sarana-sarananya baik berupa pesawat tempur, tank-tank, rudal jelajah, maka sesungguhnya kalianlah para insinyur dan produsennya. Semua itu dengan akal setan kalian, yang tidak berpikir kecuali dalam rangka permusuhan, kedzaliman dan kekerasan, melampaui batas dan menguasai seluruh jenis manusia serta memperbudak mereka, menumpahkan darah dan merampok kekayaan mereka. Dan tidak berpikir kecuali untuk menghancurkan orang yang menentang dan menghalangi kemauan kalian, serta menghalangi sikap permusuhan kalian. Semuanya itu dipoles dengan nama kemajuan, membela hak asasi manusia, kebebasan, dan keadilan.

Dan semua orang yang berakal mengetahui adanya hal itu pada diri kalian. Sejarah hitam kalian juga penuh dengan tindakan-tindakan buas dan teror. Itulah sejarah kalian yang telah ditulis oleh musuh maupun teman kalian sendiri. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui hal itu, silahkan membaca sejarah penjajahan kalian terhadap bangsa-bangsa, dan mempelajari paling tidaknya sejarah dua perang dunia yang kalian lancarkan serta akibat-akibatnya. Yang di antaranya adalah bahwa jumlah korban yang terbunuh pada Perang Dunia I di Eropa mencapai lebih dari 10 juta jiwa, yang mereka itu adalah generasi muda di negeri mereka. Dan berlipat dari jumlah itu, yang terluka dan harus hidup dalam keadaan cacat sampai akhir hayatnya. Lihat buku At-Tarikhul Mu’ashir Urubba minats Tsaurah Al-Faransiyyah ilal Harbil ‘Alamiyyah Ats-Tsaniyah, hal. 505.

Dan pada Perang Dunia II, jumlah korban terbunuh mencapai 17 juta jiwa dari militer dan 18 juta penduduk sipil. Mereka telah terbunuh dalam kurun waktu 5,5 tahun. Para pengamat mengatakan bahwa dana militer saja yang dikeluarkan telah mencapai 1.100 miliar dolar. Adapun kerugian yang diakibatkan oleh perang tersebut mencapai 2.100 miliar dolar. Ditambah lagi kota-kota yang hancur porak-poranda, tanah-tanah yang terbakar, kebun-kebun yang terendam air, pabrik dan sumber daya alam yang terhenti aktivitasnya. Belum lagi adanya potongan tubuh hewan yang berceceran. (Al-Harbul ‘Alamiyyah Ats-Tsaniyah, karya Ramadhan Land, hal. 448-449)

Bom Atom Hiroshima

Penulis kitab Al-Harbul ‘Alamiyyah Ats-Tsaniyah, pada hal. 446-447 mengatakan: Barangkali saat ini tepat bagi kita mengulas bom atom yang pertama ini. Kami akan menyebutkan apa yang telah disampaikan melalui kesaksian seorang Jepang dalam perbincangannya bersama Marcel Junod, yang mewakili Palang Merah, tentang hakekat ledakan yang dahsyat itu.

Ia berkata:

“Tiba-tiba muncul sinar berwarna merah muda kehitaman yang kuat sekali di langit, diiringi goncangan yang dahsyat. Kemudian langsung disusul dengan gelombang panas yang mematikan, hembusan angin yang keras, dan meluluh-lantakkan semua yang dilewati. Dan hanya dalam hitungan detik, terbakarlah ribuan manusia yang tengah berjalan atau duduk-duduk di jalanan umum di tengah kota itu. Banyak dari mereka tewas karena udara yang amat panas yang menyebar di setiap tempat. Adapun yang lain yang masih tersisa, mereka menjerit kesakitan, sementara tubuh mereka mengalami luka bakar yang mematikan.

Semua yang berdiri di atas lokasi ledakan baik tembok, rumah, pabrik-pabrik dan bangunan-bangunan lain telah hancur sama sekali. Dan serpihan-serpihannya terlempar ke angkasa dengan cara yang mengerikan. Trem listrik terlepas dari rel-rel besinya dan terlempar seolah-olah kehilangan bobot dan keseimbangannya. Kereta-kereta api dengan sendirinya terhempas laiknya kumpulan mainan anak-anak. Kuda, anjing, dan hewan-hewan lain juga mengalami seperti yang dialami manusia. Semua yang hidup kehilangan kehidupannya dengan kondisi yang sangat mengenaskan, yang sulit untuk diungkapkan. Pepohonan pun musnah terbakar, hilang dalam jilatan api dan sirna kehijauannya. Rumput-rumput yang hijau pun terbakar sebagaimana terbakarnya rumput yang kering.

Adapun daerah di luar tempat kejadian dalam radius 10 km, rumah-rumahnya roboh dan menjadi tumpukan papan-papan kayu, genteng, dan tiang-tiang batu. Telah hancur segala sesuatu, ibarat hancurnya rumah-rumah karton. Sementara orang-orang yang selamat, mereka mendapati diri mereka terkepung api. Sedangkan sedikit orang yang mampu berlindung di tempat tersembunyi, mereka mati setelah 20 atau 30 hari karena sakit yang disebabkan radiasi sinar gamma yang mematikan. Dan di sore harinya, api mulai mereda sehingga mati, karena tidak mendapatkan lagi apa yang akan dilalap. Hiroshima telah tiada.”

Inilah sebagian tanda-tanda ‘kemajuan’ kalian, yang kalian nyanyikan, kalian banggakan, dan dengannya kalian lancang terhadap Islam dan Nabi Islam. Dan terus saja kalian menambah beragam kedzaliman, perusakan dan menciptakan alat-alat pemusnah dan penghancur. Dan itu, demi Allah, adalah puncak kebuasan dan sifat kehewanan. Allah berfirman:

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ أَوْ يَعْقِلُوْنَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيْلاً

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan: 44)

Maka jadikanlah bom-bom kalian, di antaranya bom atom Hiroshima dan yang lainnya, sebagai tameng bagi kalian dan para pemimpin kalian. Dan jadikanlah seluruh senjata pemusnah massal itu sebagai taring dan cakar kalian untuk memangsa binatang-binatang dan manusia.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُوْنَ

“Dan niscaya orang-orang yang dzalim akan mengetahui ke mana tempat kembali mereka.” (Asy-Syu’ara`: 227)

Ditulis oleh: Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (28 Dzulhijjah 1426 H)

1 Dalam pepatah Indonesia: lempar batu sembunyi tangan.

sumber: https://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/04/mensikapi-karikatur-nabi-pembelaan-terhadap-rasul-yang-terpilih/

Tauhid Kunci Ampunan

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa-dosa lain di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ اَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايًا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَاتُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Ad-Da’awat [3540], dihasankan olehnya dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut:

  • Orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar atau tidak bertaubat darinya, maka dia pasti masuk neraka.
  • Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih terkotori dengan syirik kecil, sementara kebaikan-kebaikannya ternyata lebih berat daripada timbangan keburukannya maka dia pasti masuk surga.
  • Orang yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik besar namun masih memiliki syirik kecil sedangkan keburukan atau dosanya justru lebih berat dalam timbangan, maka orang itu berhak masuk neraka namun tidak kekal disana. (lihat Al-Jadid fi Syarh Kitab At-Tauhid, hal. 44)

**

Disalin dari buku “Tauhid: Kunci Kebahagiaan yang Terlupa”, Abu Mushlih Ari Wahyudi, hlm. 12-13, Pustaka Muslim, Yogyakarta.

Dipublikasikan ulang dengan beberapa penambahan oleh Muslimah.Or.Id

sumber: https://muslimah.or.id/7610-tauhid-kunci-ampunan.html

Iman dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Pembicaraan tentang masalah iman merupakan salah satu perkara penting yang mendasar. Bahkan ini merupakan dasar aqidah seorang muslim. Salah dalam memahami keimanan bisa menyebabkan seseorang terjerumus dalam keharaman, kebid’ahan, bahkan bisa berujung kekafiran. Semoga sekelumit pembahasan masalah iman ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

[Definisi Iman]

Para ulama mendefinisikan iman yaitu ucapan dengan lisan, keyakinan hati, serta pengamalan dengan anggota badan,  bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Inilah makna iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mayoritas Ahlus Sunnah mengartikan iman mencakup i’tiqad (keyakinan), perkataan, dan perbuatan.

Imam Muhammad bin Isma’il bin Muhammad bin al Fadhl at Taimi al Asbahani mengatakan : “ Iman menurut pandangan syariat adalah pembenaran hati, dan amalan anggota badan”.

Imam Al Baghawi mengatakan : ” Para sahabat, tabi’in, dan ulama ahlis sunnah sesudah mereka bahwa amal termasuk keimanan… mereka mengatakan bahwa iman adalah perkataan, amalan, dan aqidah

Al Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitab Al Umm : “ Telah terjadi ijma’ (konsesus)  di kalangan para sahabat, para tabi’in, dan pengikut sesudah mereka dari yang kami dapatkan bahwasanya iman adalah perkataan, amal, dan niat. Tidaklah cukup salah satu saja tanpa mencakup ketiga unsur yang lainnya

Al Imam Al Laalikaa-i meriwayatkan dari Imam Bukhari : “ Aku telah bertemu lebih dari seribu ulama dari berbagai negeri. Tidak aku dapatkan satupun di antara mereka berselisih bahwasanya iman adalah ucapan dan perbuatan,bisa  bertambah dan berkurang “

Kesimpulannya menurut  definisi syariat tentang iman bahwasanya iman mencakup perkataan dan perbuatan. Perkataan mencakup dua hal : perkataan hati, yaitu i’tiqad (keyakinan) dan perkataan lisan. Perbuatan juga mencakup dua hal yati perbuatan hati, yaitu niat dan ikhlas, serta perbuatan anggota badan. Sehingga tidak ada perbedaan makna dari ucapan para ulama di atas, yang ada hanya sebatas perbedaan istilah saja.[1]

[Iman Mencakup Keyakinan, Perkataan, dan Perbuatan]

Berikut dalil-dalil yang menjelaskan bahwa iman mencakup keyakinan hati, perkataan, dan perbuatan.

Dalil tentang keyakinan hati :

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (Al Hujurat:14)

الْإِيمَانَ قُلُوبِهِمُ فِي كَتَبَ

Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka” (Al Mujaadilah:22)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ

Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya”[2]

Dalil tentang perkataan lisan :

Firman Allah Ta’ala :

قُولُوا ءَامَنَّا بِاللهِ وَمَآأُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآأُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَاْلأَسْبَاطِ وَمَآأُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَآأُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وِنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ {136}

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Al Baqarah:136)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّى مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka barangsiapa yang mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka sungguh dia telah menjaga harta dan jiwanya dari (seranganku) kecuali dengan hak Islam, dan hisabnya diserahkan kepada Allah”[3]

Dalil tentang amalan anggota badan :

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ … {143}

dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu)” (Al Baqarah:143)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia berzina”[4]

Dan masih banyak dalil-dalil lain dari al Quran dan hadist yang menunjukkan bahwa iman mencakup keyakinan, perkataan, dan perbuatan[5]

[Iman Bisa Bertambah dan juga Berkurang]

Di antara keyakinan yang benar tentang iman adalah bahwasanya iman dapat bertambah dan juga dapat berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

فَزَادَهُمْ إِيمَانًا

maka perkataan itu menambah keimanan mereka” (Ali Imran :173)

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ {4}

supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (Al Fath:4)

Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً

akan keluar dari neraka, orang yang mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illaahu (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) ‘, dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji sawi”[6]

Dalam hadist di atas nabi menjelaskan bahwa iman bertingkat-tingkat. Jika sesuatu bisa mengalami penambahan, maka bisa juga berkurang, karena konsekuensi dari penambahan adalah sesuatu yang diberi tambahan itu lebih kurang daripada yang bartambah.[7]

Iman dapat bertambah disebabkan karena bebrapa hal :

1.      Mengenal Allah Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, keimanannya semkain bertambah.

2.      Memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat-ayat kauniyah maupun ayat syar’iyah. 

3.      Banyak melakukan ketaaatan.

4.      Meninggalkan kemakisatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah

Adapun ha-hal yang dapat mengurangi keimanan di antaranya :

1.      Berpaling dari mengenal Allah dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya

2.      Tidak mau memperhatikan ayat-ayat kauniyah dan syar’iyah

3.      Sedikitnya amal shalih

4.      Melakukan kemaksiatan kepada Allah[8]

[Iman Memiliki Banyak Cabang]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, Laa illaaha illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.”[9]

Hadist ini diantara dalil yang menunjukkan bahwa iman mencakup keyakinan hati dan amalan hati, perkataan lisan, dan juga perbuatan anggota badan .Selain itu, hadist ini juga menunjukkan bahwa iman itu memiliki cabang-cabang.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “ Pokok keimanan memiliki cabang yang banyak. Setiap cabang adalah bagian dari iman. Shalat adalah cabang keimanan, begitu pula zakat, haji, puasa, dan amalan-amalan hati seperti malu, tawakal… Di antara cabang-cabang tersebut adacabang  yang jika hilang maka akan membatalkan keimanan seperti cabang syahadat. Ada pula cabang yang jika hilang tidak membatalkan keimanan seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Di antara dua cabang tersebut terdapat cabang-cabang keimanan lain yang bertingkat-tingkat. Ada cabang  yang mengikuti dan lebih dekat ke cabanag syahadat. Ada pula yang mengikuti dan lebih dekat ke cabang menyingkirkan gangguan dari jalan. Demikian pula kekafiran, memiliki pokok dan cabng-cabang. Sebagaimana cabang iman adalah termasuk keimanan, maka cabang kekafiran juga termasuk kekafiran. Malu adalah cabang iman, maka berkurangnya rasa malu merupakan cabang dari kekafiran. Jujur adalah cabang iman, sedangkan dusta adalah cabang kekafiran. Maksiat seluruhnya adalah cabang kekafiran, sebgaiaman semua ketaatan adalah cabang keimanan”[10]

[Keimanan Betingkat-Tingkat]

Syaikh Ibnu Baaz ketika mengomentari perkataan Imam at Thahawi “ Iman adalah satu kesatuan dan pemiliknya memiliki keimanan yang sama” mengatakan : “Perkataan Imam at Thahawi ini perlu ditinjau lagi, bahkan ini merupakan perkataan yang batil.  Orang yang beriman tidaklah sama dalam keimanannya. Justru sebaliknya, mereka memiliki keimanan yang bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang mencolok. Iman para rasul tidaklah dapat disamakan dengan iman selain mereka. Demikian pula iman para al khulafaur rasyidin beserta para sahabat yang lain, tidaklah sama dengan yang lainnya. Iman orang-orang yang betul-betul beriman juga tidak sama dengan iman orang yang fasik. Hal ini didasari pada perbedaan yang ada dalam hati, berupa pengenalan terhadap Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan segala yang disyariatkan bagi hamba-Nya. Inilah pendapat Ahlus sunnah wal jama’ah, berbeda dengan pendapat murjiah dan yang sepaham dengan mereka.Wallahul musta’an “[11]

Permasalahan ini sangat jelas jika kita melihat dalil-dalil yang ada dalam al Quran dan as Sunnah serta realita yang terjadi bahwa keimanan itu bertingkat-tingkat.

Allah melebihkan sebagian rasul dibandingkan rasul yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman :

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ … {253}

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. …” (Al Baqarah:253)

Pemberian keutamaan sebgaian rasul dibandingkan yang lain disebabkan perbedaan tingkat keimanan mereka.  Demikian pula di antara para rasul ada yang termasuk ulul ‘azmi. Mereka adalah rasul-rasul yang memiliki kedudukan yang paling agung dan derajat yang paling tinggi. Para rasul tidak sama semua kedudukannaya di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ … {35}

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul …” (Al Ahqaf:35)

Demikian pula keimanan para sahabat. Keimanan mereka berbeda-beda. Keimanan yang paling tingggi adalah keimanan yang dimiliki oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah sahalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Seandainya keimaanan seluruh umat ditimbang dengan keimanan Abu bakar, maka keimanan Abu Bakar lebih berat”. Abu Bakar Su’bah al Qaari berkata : “Tidaklah Abu Bakar mendhaului kalian dengan banyaknya sholat dan shodaqoh, namun dengan iman yang menancap di hatinya”[12]

[Pelaku Dosa Besar Tetaplah Seorang Mukmin]

Termasuk pembahasan penting dalam masalah iman adalah dalam menghukumi pelaku dosa besar. Pada dasarnya, seorang mukmin yang melakukan kemaksiatan yang tidak sampai derajat kekafiran tetap dihukumi sebagai seorang mukmin. Inilah madzab ahlus sunnah wal jama’ah. Di antara dalilnya  yaitu ayat qishos dalam firman Allah :

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءُُ فَاتِّبَاعُ بِالْمَعْرُوفِ

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik” (Al Baqarah:178). Mereka (pelaku maksiat) tetap dianggap saudara seiman dengan kemksiatan yang mereka lakukan. Allah juga berfirman :

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ {9} إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ … {10}

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu” (Al Hujurat:9-10). Dalam ayat ini Allah menyifati dua kelompok yang berperang dengan predikat mukmin walaupun mereka saling berperang. Allah juga memberitakan bahwa mereka adalah saudara, dan persaudaraan tidaklah terwujud kecuali antara sesama kaum mukminin, bukan antara mukmin dan kafir.

Adapun orang-orang fasik yang berbuat kemakisatan, keimanan mereka tidak hilang secara total Dalil-dalil syariat terkadang menetapkan keimanan pada mereka, seperti firman Allah :

وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ

(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya (budak)  yang beriman” (An Nisaa’:92). Budak beriman yang dimaksud termasuk juga budak yang fasik.

Terkadang juga dalil-dalil syariat menafikan keimanan pada mereka, seperti dalam hadist:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia berzina”[13]

Madzab ahlussunnah dalam menyikapi pelaku maksiat adalah tidak mengkafirkannya, namun juga tidak memutlakkan keimanan pada diri mereka. Oleh akarena itu kita katakan sebgaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “ Mereka (orang-orang fasik) adalah mukmin dengan keimanan  yang kurang (tidak sempurna), atau bisa juga dikatakan mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya. Mereka tidak mendapat predikat iman secara mutlak, tidak pula hilang keimanan (secara total) dengan dosa besarnya”[14] (Matan al ‘Aqidah al Washitiyah)

[Antara Iman dan Islam]

Apa perbedaan antara iman dan islam? Kata iman dan islam terkadang disebutkan bersamaan dalam satu kalimat, namun terkadang disebutkan salah satunya saja. Jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup makna keduanya. Dan bila disebutkan kedua-duanya, maka iman dan islam memiliki makna yang berbeda. Jika disebutkan iman saja, maka tercakup di dalamnya makna iman dan islam. Demikian pula sebaliknya. Namun, jika desebutkan iman dan islam, maka masing-masing memilki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup malan-amalan hati, sedangkan islam mencakup amalan-amalan lahir.

Imam Ibnu Rajab al Hambali menjelaskan : “Jika masing-masing islam dan iman disebutkan secara sendiri-sendiri (disebutkan iman saja atau islam saja) maka tidak ada perbedaan di antara keduanya. Namun, apabila disebutkan secra bersaamaan, di antara keduanya ada perbedaan. Iman adalah keyakinan hati, pengakuan dan pengenalan. Sedangkan islam adalah berserah diri kepada Allah, tunduk kepadan-Nya dengan melakukan amlan ketaatan “[15]

[Kadar Minimal Rukun Iman]

Pokok-pokok keimanan terdapat dalam rukun iman yang enam, sebagaimana diterangkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Jibril :

قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” [16]

Masing-masing rukun iman memiliki kadar minimal sehingga dikatakan sah keimanan seseorang terhadap rukun tersebut. Secara umum, kadar minimal untuk keenam rukun iman tersebut adalah sebagai  beikut

Iman kepada Allah:

–          Beriman dengan wujud Allah

–          Beriman dengan rububiyah Allah

–          Beriman dengan uluhiyah Allah

–          Beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah

Iman kepada para malaikat Allah:

–          Beriman dengan keberadaan para malaikat Allah

–          Mengimani secara rinci nama-nama malaikat yang kita ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Mengimani secara rinci sifat-sifat mereka yang kita ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Mengimani secara rinci tugas-tugas  mereka yang kita ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

Iman kepada kitab-kitab Allah :

–          Mengimanai bahwa seluruh kitab berasal dari Allah

–          Mengimani secara rinci nama-nama kitab Allah yang kita ketahui dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Membenarkan berita-berita yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut

–          Beramal dengan hukum-hukum yang ada di dalamnya selama belum dihapus

Iman kepada para rasul Allah :

–          Mengimani bahwa seluruh risalah para rasul berasal dari Allah

–          Mengimani secra rinci nama para nabi dan rasul Allah yang kita ketahui dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui

–          Membenarkan berita yang shahih yang datang dari mereka

–          Beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita (yaitu Muhammad shalallhu ‘alaihi wa sallam)

Iman kepada hari akhir :

–          Beriman dengan hari kebangkitan

–          Beriman dengan hari perhitungan dan pembalasan  (al hisaab wal jazaa’)

–          Beriman dengan surga dan neraka

–          Beriman dengan segala sesuatu yang terjadi setelah kematian

Iman kepada takdir Allah :

–          Beriman bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi

–          Beriman bahwasanya Allah telah menetapkan segala sesuatu di Lauh mahfudz

–          Beriman bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah

–          Beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan makhluk Allah[17]

Barangsiapa yang tidak mengimani pokok-pokok yang ada pada kadar minimal rukun iman, maka batal rukun iman tersebut. Dan barangsiapa yang batal salah satu rukun iman, maka batal pula seluruh keimanannya.

[Hukum Mengatakan “ Saya Mukmin InsyaAllah”]

Bolehkah mengucapkan perkataan “Saya mukmin InsyaAllah?”. Perkataan ini diistilahkan oleh para ulama dengan al istisnaa’ fil iman (pengecualian dalam keimanan). Manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam masalah ini. Ada yang mengharamkannya secara mutlak, ada yang membolehkannya secara mutlak, dan ada yang merinci hukumnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum perkataan : Saya mukmin Insya Allah”. Beliau menjelaskan : “ Perkataan seseorang ‘Saya mukmin Insya Allah’ diistilahkan oleh para ulama dengan al istisnaa’ fil iman (pengecualian dalam keimanan). Masalah ini perlu perincian :

1.      Jika istisna’ muncul karena ragu dengan adanya pokok keimanan maka ini merupakan keharaman bahkan kekafiran.. Karena iman adalah sesuatu yang pasti (yakin) sedangkan keraguan membatalkan keimanan.

2.      Jika istisna’ muncul karena khawatir terjatuh dalam tazkiyatun nafsi (menyucikan diri), namun tetap disertai penerapan iman secara perkataan, perbuatan, dan keyakinan,  maka hal ini sesuatu yang wajib karena adanya rasa khawatir terhadap sesuatu yang berbahaya yang dapat merusak iman.

3.      Jika maksud istisna’ adalah bertabaruk dengan menyebut masyiah (kehendak Allah) atau untuk menjelaskan alasan, dan iman yang ada dalam hati tetap tergantung kehendak Allah, maka hal ini diperbolehkan. Dan penjelasan untuk penyebutan alasan (bayaani ta’lil) tidaklah meniadakan pembenaran iman. Telah terdapat penjelasan hal ini seperti dalam firman Allah :

َتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَآءَ اللهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لاَتَخَافُونَ …{27}

… bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut…” (Al Fath :27). Dan juga dalam do’a Nabi ketika ziarah kubur :

وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ “ dan kami insya Allah akan menyusul kalian”[18]

Dengan penjelasan di atas, maka tidak boleh memutlakkan hukum dalam masalah al istisna’ fil iman. Yang benar adalah merinci masalah ini[19].

Demikian beberapa penjelasan mengenai permasalahan iman. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimus shaalihaat

Penulis: Adika Mianoki

Artikel www.muslim.or.id

Catatan kaki

[1]. Lihat Nawaaqidul Iman al I’tiqodiyyah wa Dhowabitu Takfiir ‘inda as Salaf I/35-37

[2]. H.R Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi. Dishahihkan Albani dalam Shohihul Jaami’ VI/308

[3]. H.R Muslim22

[4]. H.R. Muslim 57

[5]. Lihat dalil-dalil yang lebih lengkap dan penjelasannya dalam Nawaaqidul Iman I/38-54

[6]. H.R Muslim 193

[7]. Syarh Lum’atil I’tiqad 57, Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin

[8]. Diringkas dari Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah 594-596, Syaikh ‘Utsaimin. Kumpulan Ulama.

[9]. H.R Muslim 58

[10]. Dinukil dari Nawaaqidul Iman I/55-56

[11]. Ta’liq Syaikh Ibnu Baaz terhadap al ‘Aqidah at Thahawiyah. Dalam Jaami’us Syuruh al ‘Aqidah ath Thahawiyah II/488. Cet. Darul Ibnul Jauzi.

[12]. Lihat Syarh al ‘Aqidah at Thahawiyah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh. Dalam Jaami’us Syuruh al ‘Aqidah ath Thahawiyah II/488

[13]. H.R. Muslim 57

[14]. Matan al ‘Aqidah al Washitiyah

[15]. Jaamiul ‘Ulum wal Hikam 63, Ibnu Rajab Al Hambali.

[16]. H.R. Muslim 8

[17]. Silakan simak pembahasan lengkapnya dalam Syarh Ushul Iman, Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin.

[18]. H.R Muslim 974

[19]. Alfaadz wa Mafaahim fii Mizani as Syar’i wa ad Diin 28-29, Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin.

sumber: https://muslim.or.id/5478-iman-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

Menggapai Ketentraman Hakiki Dengan Tauhid

Ketentraman, sesuatu yang sangat diinginkan oleh setiap insan. Tanpanya hidup akan terasa tersiksa, sempit dan diliputi kekalutan. Apalagi jika kekalutan itu menyebabkan penderitaan yang tiada akhirnya. Sungguh menakutkan. Lalu ketentraman manakah yang diharapkan oleh seorang hamba selain ketentraman hati di dunia dan selamat dari jilatan api neraka di akhirat kelak. Allah ta’ala yang Maha bijaksana dan Maha mengasihi hamba-hamba-Nya telah menunjukkan bagaimanakah cara supaya ketentraman hakiki bisa diraih oleh seorang hamba. Marilah kita buka lembaran Al Qur’an, niscaya permasalahan ini sudah ada jawabannya.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)

Siapakah Mereka ?

Di dalam ayat ini Allah memberikan janji yang sangat menggiurkan. Setiap insan tentu merasa ingin mendapatkan apa yang dijanjikan-Nya itu. Keamanan dan ketentraman, dan juga karunia petunjuk. Allahu akbar, adakah nikmat yang lebih manis dan lebih lezat daripada keduanya ? Akan tetapi sadarilah nikmat agung ini hanya akan diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang memenuhi kriteria yang diberikan oleh-Nya, mereka bukan sembarang hamba. Ingatlah, yang akan meraihnya adalah “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman.”

Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan tidak menodai tauhidnya dengan kesyirikan. Mereka itulah yang mendapatkan keamanan. Sedangkan keamanan itu ada dua macam: Keamanan Mutlak dan Keamanan Muqayyad. Yang pertama itu ialah keamanan dari tertimpa azab. Keamanan ini diperuntukkan bagi orang yang meninggal di atas tauhid dan tidak terus menerus berkubang dalam dosa-dosa besar. Adapun yang kedua berlaku bagi orang yang meninggal di atas tauhid akan tetapi dia masih dalam keadaan berkubang dalam dosa-dosa besar. Maka dia akan memperoleh keamanan dari hukuman kekal di dalam neraka.” (Ibthalu Tandiid, hal. 19).

Dengan demikian, seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid (ini juga berarti dia tidak melakukan pembatal keislaman, red) dan tidak berkubang dalam dosa-dosa besar niscaya akan meraih keamanan mutlak. Yaitu terbebas dari siksaan. Sedangkan seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid akan tetapi bergelimang dalam dosa-dosa besar maka nilai keamanan yang akan diperolehnya lebih rendah dari keamanan yang pertama. Kalau yang pertama dia terbebas dari siksa, sedangkan yang kedua ini dia tidak akan disiksa terus-menerus alias akhirnya juga akan masuk surga. Jadi dia tidak akan kekal di dalam neraka, kalau Allah menyiksanya.

Bukankah Ayat Ini Umum ?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al An’aam: 82). Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ (QS. Luqman: 13). Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.’” (HR. Al Bukhari (32), Muslim (124), Imam Ahmad (6/69/3589) cet. Ar Risalah, dikutip dari Ibthaalu Tandiid, hal. 19-20).

Inilah bukti kedalaman pemahaman para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum terhadap bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab, apabila terdapat suatu kata benda yang nakirah (indefinitif, bertanwin) dalam konteks kalimat negatif (pe-nafian) seperti kata zulmin (kezaliman) di dalam ayat alladziina lam yalbisuu iimaanahum bizulmin (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman) ini maka kata tersebut berlaku umum mencakup segala bentuk kezaliman. Baik kezaliman terhadap diri sendiri, kepada orang lain maupun kezaliman terhadap hak Pencipta. Sehingga wajar apabila turunnya ayat itu terasa berat bagi para sahabat, bukan karena mereka tidak mau melaksanakan isi ayat itu. Akan tetapi karena mereka menyangka syarat untuk bisa mendapatkan keamanan dan hidayah adalah harus bersih dari segala bentuk kezaliman. Sehingga merekapun merasa tidak ada seorangpun diantara mereka yang sanggup memenuhi syarat tersebut. Dengan spontan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?”

Namun kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan kepada mereka bahwa yang dimaksud kezaliman dalam ayat tersebut adalah syirik. Beliau pun berdalil dengan sebuah ayat yang menceritakan perkataan Luqman kepada puteranya “Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.” Hal itu beliau lakukan supaya mereka mengerti bahwa bukanlah syarat untuk bisa meraih ketentraman dan hidayah itu seseorang harus membersihkan dirinya dari semua bentuk kezaliman. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimas salaam saja pernah melakukan kezaliman dan berdo’a kepada Allah menyesali kezaliman mereka. Mereka berdua berdo’a “Rabbanaa zalamnaa anfusanaa wa inlam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin.” (Wahai Rabb kami. Sesungguhnya kami ini telah berbuat zalim terhadap diri kami. Dan apabila paduka tidak mengampuni dosa kami dan tidak merahmati kami niscaya kami tergolong orang-orang yang merugi). (lihat QS. Al A’raaf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hal yang membuat para sahabat merasa berat ialah karena mereka menyangka bahwa kezaliman yang dipersyaratkan harus dihilangkan di sini adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri. Mereka mengira bahwa keamanan dan petunjuk tidak akan bisa diraih oleh orang yang menzalimi dirinya sendiri. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerangkan kepada mereka bahwa di dalam Kitabullah syirik juga disebut sebagai kezaliman. Sehingga rasa aman dan petunjuk tidak akan diperoleh orang-orang yang mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman jenis ini. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman ini (syirik) maka dia termasuk orang-orang yang berhak memperoleh keamanan dan petunjuk…” (Fathul Majiid, hal. 34).

Sehingga dari sini kita juga bisa memetik sebuah kaidah tafsir “An Nakiratu fi siyaaqi nafyi tufiidul ‘umuum” (kata benda nakirah dalam konteks kalimat negatif memberikan makna umum) (lihat Al Qawa’id Al Hisan karya Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah, hal. 22-23). Bagaimana kaidah ini bisa diambil dari kisah tersebut, bukankah Nabi menolak penafsiran para sahabat?! Benar, Nabi memang menolak penafsiran mereka terhadap maksud zalim di dalam ayat ini. Akan tetapi beliau tidak menolak kaidah mereka (kaidah bahasa Arab). Apa yang beliau lakukan ialah memberikan tambahan informasi bahwa yang dimaksud oleh ayat ini bukanlah keumuman lafaznya sebagaimana lafaz umum lain yang ada di dalam ayat atau hadits, akan tetapi yang dimaksud adalah salah satu kandungannya saja. Beliau tidak mengatakan, “Kaidah kalian itu salah” akan tetapi beliau mengatakan “Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka… Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.” Lafaz semacam ini di dalam istilah ilmu ushul fiqih disebut dengan al ‘umum urida bihi al khushush(lafazh umum tetapi maksud yang disimpan di baliknya ialah makna yang khusus).

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan, “Di dalam ayat ini, kata zalim dalam keadaan nakirah dan berada di konteks kalimat negatif, yaitu firman Allah ta’ala, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan.’ Ini menunjukkan kepada seluruh macam kezaliman. Akan tetapi apakah lafaz umum di sini yang dimaksud adalah lafaz umum yang mengalami pengkhususan (umum al makhsush) ataukah ia termasuk lafaz umum tetapi makna yang dikehendaki adalah makna khusus (umum uriida bihi al khushush). ….” Kemudian beliau mengatakan bahwa yang dimaksud oleh penulis Kitab Tauhid tatkala membawakan ayat ini adalah umum uriida bihi al khushush. Kemudian beliau berkata, “Memang benar, kata zalim dalam ayat ini adalah nakirah dalam konteks pe-nafian (yaitu dengan adanya kata lam yang artinya tidak), sehingga ia menunjukkan makna umum. Namun ia termasuk lafaz umum yang menyimpan maksud makna khusus. Ia khusus hanya meliputi salah satu macam kezaliman yaitu syirik. Dengan demikian, letak keumumannya beralih kepada seluruh makna yang tercakup dalam macam-macam syirik, bukan pada segala bentuk kezaliman. Sebab kezaliman itu meliputi:

  1. Kezaliman hamba terhadap dirinya dengan berbuat maksiat,
  2. atau kezalimannya terhadap orang lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hak orang lain,
  3. dan termasuk juga di dalamnya kezaliman hamba terhadap hak Allah jalla wa ‘ala yaitu dengan melakukan syirik terhadap-Nya.

Nah, (syirik) inilah yang dimaksud dengan lafaz umum ini. Oleh karenanya lafaz tersebut bersifat umum mencakup semua jenis kesyirikan… Sehingga makna dari ayat ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka.’ ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24).

Demikianlah tafsiran yang diberikan oleh para ulama salaf terhadap ayat ini. Imam Ibnu Jarir membawakan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Anas bahwa yang dimaksud iman di sini adalah ikhlash (memurnikan ibadah) untuk Allah saja. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Mereka tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. Mereka itulah yang akan merasakan keamanan pada hari kiamat serta memperoleh hidayah di dunia maupun di akhirat.” (lihat Fathul Majiid, hal. 34).

Pentingnya Peranan Rasulullah Dalam Menjelaskan Ayat

Dari sini kita bisa memahami betapa pentingnya kedudukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas kandungan ayat-ayat Al Qur’an. Seandainya diantara para sahabat tidak ada beliau niscaya ayat ini akan sangat sulit dimengerti oleh orang-orang. Namun inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Allah tidak membiarkan akal-akal mereka bebas (liberal) menafsirkan Al Qur’an menurut pemahaman mereka sendiri-sendiri. Akan tetapi Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka guna menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Adz Dzikra (wahyu) supaya engkau menjelaskan kepada manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl: 44). Inilah salah satu peranan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penafsir ayat Al Qur’an. Dengan demikian batillah dakwaan kaum yang mengaku hanya berpedoman dengan Al Qur’an tanpa Al Hadits, mereka itulah yang disebut Al Qur’aniyyuun atau di dalam negeri lebih kita kenal dengan nama Ingkarus Sunnah. Mereka racuni pemikiran para pemuda dengan tafsiran ala mereka sementara di sisi lain mereka mencampakkan tafsiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, subhaanallah. Adakah tindakan congkak yang melebihi kelakuan mereka ini?! Wallahul musta’aan.

Sempurnakan Tauhid, Niscaya Balasannya Juga Sempurna

Tauhid yang sempurna hanya bisa diraih dengan membersihkan diri dari segala bentuk kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan (lihat Fathul Majiid, hal. 56). Inilah yang disebut dengan tahqiq tauhid (merealisasikan tauhid). Namun bukan berarti orang seperti ini tidak pernah berbuat dosa. Orang yang berhasil mentahqiq tauhid adalah yang apabila terjatuh di dalam dosa dia segera bertaubat dan kembali mentaati Allah subhanahu wa ta’ala. Dia bekerja keras mengikis segala bentuk maksiat, karena baginya kemaksiatan itu akan mengurangi kemurnian tauhidnya. Dia memandang dosa laksana sebuah gunung besar yang akan roboh menimpa dirinya. Demikianlah sifat seorang mukmin sejati. Dia tidak memandang kecilnya dosa. Akan tetapi yang selalu diperhatikannya ialah keagungan dan kebesaran Dzat yang dosa itu tertuju kepadanya. Sehingga pantaslah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah 70 kali sehari bahkan dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Inilah sosok manusia terbaik di muka bumi, inilah sosok pen-tahqiq tauhid terhebat sepanjang zaman. Lalu bagaimanakah dengan kita yang mengaku sebagai pengikut Nabi, bahkan mengaku salafi? Sudahkah istighfar dan taubat menghiasi lisan dan hati kita? Ataukah hati dan lisan kita justru telah pekat dengan rasa dengki dan kata-kata kotor lagi menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan daripada tindakan melahap bangkai saudaranya? Wahai jiwa, telitilah dirimu sendiri dahulu…

Syaikhul Islam mengatakan, “Barangsiapa bisa menyelamatkan dirinya dari ketiga macam kezaliman: berbuat syirik, menzalimi sesama hamba dan menzalimi diri sendiri selain syirik maka dia berhak memperoleh rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna (al amnu al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq). Sedangkan orang (bertauhid) yang tidak bisa menyelamatkan dirinya dari perbuatan zalim terhadap dirinya sendiri maka dia hanya akan memperoleh rasa aman dan petunjuk sekadarnya (tidak sempurna, disebut juga muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’, red). Dalam artian dia pasti akan masuk surga. Sebagaimana hal itu telah dijanjikan oleh Allah di dalam ayat lain. Dan Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang lurus yang pada akhirnya juga akan mengantarkannya menuju surga. Rasa aman dan petunjuk itu akan berkurang berbanding lurus dengan penurunan iman yang terjadi karena perbuatan zalimnya terhadap dirinya sendiri.”

Beliau melanjutkan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya (yang dimaksud zalim dalam ayat) itu adalah syirik’ itu bukan berarti barangsiapa yang tidak berbuat syirik akbar pasti akan meraih rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Sebab terdapat banyak sekali hadits serta nash-nash Al Qur’an yang menerangkan bahwa para pelaku dosa besar dihadapkan dengan cekaman rasa takut. Mereka tidak bisa memperoleh keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna; dua karunia yang bisa membuat mereka mendapatkan hidayah menempuh jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat Allah, tanpa sedikitpun siksa yang harus mereka terima. Akan tetapi mereka itu memiliki pokok petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus ini. Mereka juga memiliki pokok kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, sehingga mereka juga pasti akan merasakan masuk surga.” (Fathul Majiid, hal. 35).

Kemudian beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Apabila yang dimaksud dengan sabda Nabi, ‘Sesungguhnya yang dimaksud di sini adalah syirik’ adalah syirik akbar saja maka maksudnya ialah barangsiapa yang tidak melakukan syirik akbar maka dia kelak akan mendapatkan rasa aman dari siksaan dunia dan akhirat yang dijanjikan Allah untuk orang-orang musyrik (karena dengan terbebas dari syirik akbar dia bukan termasuk golongan orang musyrik, red). Dan apabila yang beliau maksud adalah jenis kesyirikan, maka perbuatan hamba dalam menzolimi dirinya sendiri seperti bersikap kikir karena demikian besar cintanya kepada harta sehingga tidak mau menunaikan kewajiban berinfak juga tergolong syirik ashghar. Begitu pula kecintaannya kepada sesuatu yang dibenci oleh Allah ta’ala sampai-sampai membuatnya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsunya di atas kecintaan kepada Allah juga termasuk syirik ashghar, dan lain sebagainya. Maka golongan orang semacam ini akan semakin kehilangan unsur keamanan dan petunjuk sesuai dengan banyaknya syirik ashghar yang dilakukannya. Berdasarkan sudut pandang inilah para ulama salaf dahulu juga mengkategorikan perbuatan-perbuatan dosa (selain syirik) ke dalam jenis syirik ini.” Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah.” (lihat Fathul Majiid, hal. 35).

Ketika mengomentari jawaban Nabi terhadap kemusykilan yang dilontarkan oleh para sahabat, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menambahkan, “Jawaban ini, demi Allah merupakan jawaban yang sangat memuaskan. Sesungguhnya kezaliman mutlak lagi sempurna adalah kezaliman yang ada pada perbuatan syirik. Sebab kesyirikan merupakan tindakan menempatkan ibadah bukan pada tempat yang semestinya. Sedangkan keamanan dan petunjuk yang mutlak mencakup keamanan di dunia dan akhirat serta petunjuk meniti jalan yang lurus. Maka kezaliman yang mutlak lagi sempurna itulah yang menjadi sebab terangkatnya rasa aman dan petunjuk yang mutlak lagi sempurna. Hal ini tidaklah menafikan adanya kezaliman yang bisa menjadi sebab seorang hamba meraih sekedar rasa aman (muthlaqul amn) dan sekedar petunjuk (muthlaqul huda). Maka cermatilah hal ini. Sekedar balasan (rasa aman dan petunjuk) tetap akan didapatkan oleh orang yang masih memiliki iman (tauhid yang tidak tercampuri syirik). Sedangkan balasan istimewa (yaitu rasa aman dan petunjuk yang sempurna) akan didapatkan oleh orang yang istimewa pula (yaitu yang tauhidnya bersih dari berbagai kezaliman).” Dinukil secara ringkas. Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah. (lihat Fathul Majiid, hal. 36, dengan sedikit penyesuaian redaksional).

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa kata zalim yang dimaksud oleh Nabi tatkala menyebutkan ayat tersebut adalah kesyirikan. Sehingga makna ayat tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh bahwa makna “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka” ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24). Ketentraman dan hidayah inilah yang disebut dengan al amn al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq (lihat Al Qaul Al Mufid I/35-36). Artinya seorang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik pasti memperoleh hidayah dan rasa aman. Hidayah di dunia dengan ditunjuki meniti jalan yang lurus (mendapat taufik untuk memeluk dan mengamalkan Islam sampai mati dan tidak melakukan pembatal keislaman). Sedangkan hidayah di akhirat berupa bimbingan untuk masuk surga. Adapun rasa aman di dunia berupa rasa tentram di dalam hati dan tidak bersedih karena selain Allah. Dan akhirnya adalah rasa aman di akhirat, yaitu diselamatkan dari terus menerus dalam siksaan api neraka (lihat At Tamhiid, hal. 25 dan Al Qaul Al Mufid, hal. 35-36) Inilah balasan yang akan didapatkan oleh semua orang yang bertauhid.

Perbedaan Kadar Rasa Aman dan Petunjuk

Sementara apabila dilihat dari sudut pandang balasan yang didapatkan hamba, maka rasa aman dan petunjuk itu ada dua macam:

Pertama; rasa aman dan petunjuk yang sempurna, atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang maksimal. Balasan ini hanya akan didapatkan orang-orang khusus di kalangan orang-orang yang bertauhid. Keistimewaan mereka dibandingkan sesama muwahhid lainnya adalah karena mereka bisa membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik, bid’ah dan maksiat. Karena di dalam bid’ah dan maksiat itu sendiri juga terkandung unsur syirik yaitu ketika pelakunya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsu di atas kecintaan kepada aturan Allah. Maka apabila yang dimaksud rasa aman ialah rasa aman yang sempurna maka makna kezaliman yang tepat ialah yang mencakup segala macam kezaliman, bukan hanya syirik. Sehingga semakin sempurna tauhid dalam diri seorang hamba maka semakin sempurna pulalah ketentraman dan hidayah yang didapatkannya. Sebaliknya, apabila semakin banyak kezaliman yang dilakukannya maka semakin berkuranglah kadar ketentraman dan hidayah yang bisa diraihnya.

Kedua; rasa aman dan petunjuk yang sekadarnya. Atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang minimal. Inilah yang disebut dengan muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’. Balasan ini akan didapatkan oleh setiap hamba yang bertauhid, meskipun dia mati dalam keadaan masih berkubang dengan dosa-dosa besar (selain syirik). Yang demikian itu dikarenakan dia masih memiliki modal dasar keimanan atau tauhid yang lurus, sehingga dia tetap berhak untuk menikmati surga di akhirat kelak. Oleh karena itu apabila yang dimaksud dengan rasa aman adalah terbebas dari kekal di neraka maka makna kezaliman yang tepat ialah kesyirikan dan dosa-dosa lain yang setingkat dengannya. Dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat dan diterangkan Nabi kepada para sahabat.

Dengan penjelasan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya tidak terdapat pertentangan antara mereka yang menafsirkan zalim dalam ayat ini dengan syirik maupun yang tetap membiarkannya berlaku umum meliputi semua macam kezaliman. Tergantung dari sudut pandang mana mereka menafsirkannya. Sebab pada dasarnya mereka semua sepakat semua ahli tauhid pasti masuk surga, dan pelaku dosa-dosa besar mendapatkan ancaman siksa di dalam neraka meskipun mereka juga bertauhid. Seorang muwahhid yang terjerumus dalam syirik kecil juga akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak kesyirikan yang dilakukannya. Sebagaimana seorang muwahhid yang berbuat maksiat akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak maksiat yang dilakukannya. Sebagaimana seseorang yang mengeluarkan dirinya dari barisan kaum muwahhidin kelak akan merasa menyesal karena telah kehilangan seluruh rasa aman dan petunjuk dari-Nya. Lalu sekarang siapakah yang akan merasa aman dan membusungkan dada seraya berkata “Inilah saya, seorang muwahhid!”

Bahkan tinta sejarah dan pena wahyu telah membuktikan fenomena sebaliknya yang sangat mengagumkan dan luar biasa. Sehingga Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pun menorehkan ayat ini di dalam Bab Al Khauf minasy Syirk (merasa takut terjerumus dalam syirik) dalam Kitab Tauhid beliau. Inilah perkataan seorang pengibar bendera tauhid kelas satu, Ibrahim ‘alaihis salaam“(Tuhanku) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan arca-arca. Duhai Tuhanku, sesungguhnya mereka itu telah menyesatkan banyak manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36). Lalu bagaimanakah rasa takut yang seharusnya menghinggapi hati orang yang kelasnya jauh di bawah Ibrahim? Sehingga salah seorang tokoh generasi tabi’in Ibrahim At Taimi rahimahullah mengatakan sesudah membaca ayat ini, “Lantas, siapakah orangnya yang merasa aman dari bencana (syirik) setelah Ibrahim?!!” (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana tercantum dalam Ad Durr Al Mantsur 5/46, dinukil dari At tamhiid, hal. 50).

Allahumma inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima la a’lam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

***

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi

Ketentraman, sesuatu yang sangat diinginkan oleh setiap insan. Tanpanya hidup akan terasa tersiksa, sempit dan diliputi kekalutan. Apalagi jika kekalutan itu menyebabkan penderitaan yang tiada akhirnya. Sungguh menakutkan. Lalu ketentraman manakah yang diharapkan oleh seorang hamba selain ketentraman hati di dunia dan selamat dari jilatan api neraka di akhirat kelak. Allah ta’ala yang Maha bijaksana dan Maha mengasihi hamba-hamba-Nya telah menunjukkan bagaimanakah cara supaya ketentraman hakiki bisa diraih oleh seorang hamba. Marilah kita buka lembaran Al Qur’an, niscaya permasalahan ini sudah ada jawabannya.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)Daftar Isisembunyikan1. Siapakah Mereka ?2. Bukankah Ayat Ini Umum ?3. Pentingnya Peranan Rasulullah Dalam Menjelaskan Ayat4. Perbedaan Kadar Rasa Aman dan Petunjuk

Siapakah Mereka ?

Di dalam ayat ini Allah memberikan janji yang sangat menggiurkan. Setiap insan tentu merasa ingin mendapatkan apa yang dijanjikan-Nya itu. Keamanan dan ketentraman, dan juga karunia petunjuk. Allahu akbar, adakah nikmat yang lebih manis dan lebih lezat daripada keduanya ? Akan tetapi sadarilah nikmat agung ini hanya akan diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang memenuhi kriteria yang diberikan oleh-Nya, mereka bukan sembarang hamba. Ingatlah, yang akan meraihnya adalah “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman.”

Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan tidak menodai tauhidnya dengan kesyirikan. Mereka itulah yang mendapatkan keamanan. Sedangkan keamanan itu ada dua macam: Keamanan Mutlak dan Keamanan Muqayyad. Yang pertama itu ialah keamanan dari tertimpa azab. Keamanan ini diperuntukkan bagi orang yang meninggal di atas tauhid dan tidak terus menerus berkubang dalam dosa-dosa besar. Adapun yang kedua berlaku bagi orang yang meninggal di atas tauhid akan tetapi dia masih dalam keadaan berkubang dalam dosa-dosa besar. Maka dia akan memperoleh keamanan dari hukuman kekal di dalam neraka.” (Ibthalu Tandiid, hal. 19).

Dengan demikian, seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid (ini juga berarti dia tidak melakukan pembatal keislaman, red) dan tidak berkubang dalam dosa-dosa besar niscaya akan meraih keamanan mutlak. Yaitu terbebas dari siksaan. Sedangkan seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid akan tetapi bergelimang dalam dosa-dosa besar maka nilai keamanan yang akan diperolehnya lebih rendah dari keamanan yang pertama. Kalau yang pertama dia terbebas dari siksa, sedangkan yang kedua ini dia tidak akan disiksa terus-menerus alias akhirnya juga akan masuk surga. Jadi dia tidak akan kekal di dalam neraka, kalau Allah menyiksanya.

Bukankah Ayat Ini Umum ?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al An’aam: 82). Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ (QS. Luqman: 13). Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.’” (HR. Al Bukhari (32), Muslim (124), Imam Ahmad (6/69/3589) cet. Ar Risalah, dikutip dari Ibthaalu Tandiid, hal. 19-20).

Inilah bukti kedalaman pemahaman para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum terhadap bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab, apabila terdapat suatu kata benda yang nakirah (indefinitif, bertanwin) dalam konteks kalimat negatif (pe-nafian) seperti kata zulmin (kezaliman) di dalam ayat alladziina lam yalbisuu iimaanahum bizulmin (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman) ini maka kata tersebut berlaku umum mencakup segala bentuk kezaliman. Baik kezaliman terhadap diri sendiri, kepada orang lain maupun kezaliman terhadap hak Pencipta. Sehingga wajar apabila turunnya ayat itu terasa berat bagi para sahabat, bukan karena mereka tidak mau melaksanakan isi ayat itu. Akan tetapi karena mereka menyangka syarat untuk bisa mendapatkan keamanan dan hidayah adalah harus bersih dari segala bentuk kezaliman. Sehingga merekapun merasa tidak ada seorangpun diantara mereka yang sanggup memenuhi syarat tersebut. Dengan spontan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?”

Namun kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan kepada mereka bahwa yang dimaksud kezaliman dalam ayat tersebut adalah syirik. Beliau pun berdalil dengan sebuah ayat yang menceritakan perkataan Luqman kepada puteranya “Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.” Hal itu beliau lakukan supaya mereka mengerti bahwa bukanlah syarat untuk bisa meraih ketentraman dan hidayah itu seseorang harus membersihkan dirinya dari semua bentuk kezaliman. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimas salaam saja pernah melakukan kezaliman dan berdo’a kepada Allah menyesali kezaliman mereka. Mereka berdua berdo’a “Rabbanaa zalamnaa anfusanaa wa inlam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin.” (Wahai Rabb kami. Sesungguhnya kami ini telah berbuat zalim terhadap diri kami. Dan apabila paduka tidak mengampuni dosa kami dan tidak merahmati kami niscaya kami tergolong orang-orang yang merugi). (lihat QS. Al A’raaf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hal yang membuat para sahabat merasa berat ialah karena mereka menyangka bahwa kezaliman yang dipersyaratkan harus dihilangkan di sini adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri. Mereka mengira bahwa keamanan dan petunjuk tidak akan bisa diraih oleh orang yang menzalimi dirinya sendiri. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerangkan kepada mereka bahwa di dalam Kitabullah syirik juga disebut sebagai kezaliman. Sehingga rasa aman dan petunjuk tidak akan diperoleh orang-orang yang mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman jenis ini. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman ini (syirik) maka dia termasuk orang-orang yang berhak memperoleh keamanan dan petunjuk…” (Fathul Majiid, hal. 34).

Sehingga dari sini kita juga bisa memetik sebuah kaidah tafsir “An Nakiratu fi siyaaqi nafyi tufiidul ‘umuum” (kata benda nakirah dalam konteks kalimat negatif memberikan makna umum) (lihat Al Qawa’id Al Hisan karya Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah, hal. 22-23). Bagaimana kaidah ini bisa diambil dari kisah tersebut, bukankah Nabi menolak penafsiran para sahabat?! Benar, Nabi memang menolak penafsiran mereka terhadap maksud zalim di dalam ayat ini. Akan tetapi beliau tidak menolak kaidah mereka (kaidah bahasa Arab). Apa yang beliau lakukan ialah memberikan tambahan informasi bahwa yang dimaksud oleh ayat ini bukanlah keumuman lafaznya sebagaimana lafaz umum lain yang ada di dalam ayat atau hadits, akan tetapi yang dimaksud adalah salah satu kandungannya saja. Beliau tidak mengatakan, “Kaidah kalian itu salah” akan tetapi beliau mengatakan “Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka… Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.” Lafaz semacam ini di dalam istilah ilmu ushul fiqih disebut dengan al ‘umum urida bihi al khushush(lafazh umum tetapi maksud yang disimpan di baliknya ialah makna yang khusus).

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan, “Di dalam ayat ini, kata zalim dalam keadaan nakirah dan berada di konteks kalimat negatif, yaitu firman Allah ta’ala, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan.’ Ini menunjukkan kepada seluruh macam kezaliman. Akan tetapi apakah lafaz umum di sini yang dimaksud adalah lafaz umum yang mengalami pengkhususan (umum al makhsush) ataukah ia termasuk lafaz umum tetapi makna yang dikehendaki adalah makna khusus (umum uriida bihi al khushush). ….” Kemudian beliau mengatakan bahwa yang dimaksud oleh penulis Kitab Tauhid tatkala membawakan ayat ini adalah umum uriida bihi al khushush. Kemudian beliau berkata, “Memang benar, kata zalim dalam ayat ini adalah nakirah dalam konteks pe-nafian (yaitu dengan adanya kata lam yang artinya tidak), sehingga ia menunjukkan makna umum. Namun ia termasuk lafaz umum yang menyimpan maksud makna khusus. Ia khusus hanya meliputi salah satu macam kezaliman yaitu syirik. Dengan demikian, letak keumumannya beralih kepada seluruh makna yang tercakup dalam macam-macam syirik, bukan pada segala bentuk kezaliman. Sebab kezaliman itu meliputi:

  1. Kezaliman hamba terhadap dirinya dengan berbuat maksiat,
  2. atau kezalimannya terhadap orang lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hak orang lain,
  3. dan termasuk juga di dalamnya kezaliman hamba terhadap hak Allah jalla wa ‘ala yaitu dengan melakukan syirik terhadap-Nya.

Nah, (syirik) inilah yang dimaksud dengan lafaz umum ini. Oleh karenanya lafaz tersebut bersifat umum mencakup semua jenis kesyirikan… Sehingga makna dari ayat ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka.’ ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24).

Demikianlah tafsiran yang diberikan oleh para ulama salaf terhadap ayat ini. Imam Ibnu Jarir membawakan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Anas bahwa yang dimaksud iman di sini adalah ikhlash (memurnikan ibadah) untuk Allah saja. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Mereka tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. Mereka itulah yang akan merasakan keamanan pada hari kiamat serta memperoleh hidayah di dunia maupun di akhirat.” (lihat Fathul Majiid, hal. 34).

Pentingnya Peranan Rasulullah Dalam Menjelaskan Ayat

Dari sini kita bisa memahami betapa pentingnya kedudukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas kandungan ayat-ayat Al Qur’an. Seandainya diantara para sahabat tidak ada beliau niscaya ayat ini akan sangat sulit dimengerti oleh orang-orang. Namun inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Allah tidak membiarkan akal-akal mereka bebas (liberal) menafsirkan Al Qur’an menurut pemahaman mereka sendiri-sendiri. Akan tetapi Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka guna menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Adz Dzikra (wahyu) supaya engkau menjelaskan kepada manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl: 44). Inilah salah satu peranan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penafsir ayat Al Qur’an. Dengan demikian batillah dakwaan kaum yang mengaku hanya berpedoman dengan Al Qur’an tanpa Al Hadits, mereka itulah yang disebut Al Qur’aniyyuun atau di dalam negeri lebih kita kenal dengan nama Ingkarus Sunnah. Mereka racuni pemikiran para pemuda dengan tafsiran ala mereka sementara di sisi lain mereka mencampakkan tafsiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, subhaanallah. Adakah tindakan congkak yang melebihi kelakuan mereka ini?! Wallahul musta’aan.

Sempurnakan Tauhid, Niscaya Balasannya Juga Sempurna

Tauhid yang sempurna hanya bisa diraih dengan membersihkan diri dari segala bentuk kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan (lihat Fathul Majiid, hal. 56). Inilah yang disebut dengan tahqiq tauhid (merealisasikan tauhid). Namun bukan berarti orang seperti ini tidak pernah berbuat dosa. Orang yang berhasil mentahqiq tauhid adalah yang apabila terjatuh di dalam dosa dia segera bertaubat dan kembali mentaati Allah subhanahu wa ta’ala. Dia bekerja keras mengikis segala bentuk maksiat, karena baginya kemaksiatan itu akan mengurangi kemurnian tauhidnya. Dia memandang dosa laksana sebuah gunung besar yang akan roboh menimpa dirinya. Demikianlah sifat seorang mukmin sejati. Dia tidak memandang kecilnya dosa. Akan tetapi yang selalu diperhatikannya ialah keagungan dan kebesaran Dzat yang dosa itu tertuju kepadanya. Sehingga pantaslah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah 70 kali sehari bahkan dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Inilah sosok manusia terbaik di muka bumi, inilah sosok pen-tahqiq tauhid terhebat sepanjang zaman. Lalu bagaimanakah dengan kita yang mengaku sebagai pengikut Nabi, bahkan mengaku salafi? Sudahkah istighfar dan taubat menghiasi lisan dan hati kita? Ataukah hati dan lisan kita justru telah pekat dengan rasa dengki dan kata-kata kotor lagi menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan daripada tindakan melahap bangkai saudaranya? Wahai jiwa, telitilah dirimu sendiri dahulu…

Syaikhul Islam mengatakan, “Barangsiapa bisa menyelamatkan dirinya dari ketiga macam kezaliman: berbuat syirik, menzalimi sesama hamba dan menzalimi diri sendiri selain syirik maka dia berhak memperoleh rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna (al amnu al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq). Sedangkan orang (bertauhid) yang tidak bisa menyelamatkan dirinya dari perbuatan zalim terhadap dirinya sendiri maka dia hanya akan memperoleh rasa aman dan petunjuk sekadarnya (tidak sempurna, disebut juga muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’, red). Dalam artian dia pasti akan masuk surga. Sebagaimana hal itu telah dijanjikan oleh Allah di dalam ayat lain. Dan Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang lurus yang pada akhirnya juga akan mengantarkannya menuju surga. Rasa aman dan petunjuk itu akan berkurang berbanding lurus dengan penurunan iman yang terjadi karena perbuatan zalimnya terhadap dirinya sendiri.”

Beliau melanjutkan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya (yang dimaksud zalim dalam ayat) itu adalah syirik’ itu bukan berarti barangsiapa yang tidak berbuat syirik akbar pasti akan meraih rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Sebab terdapat banyak sekali hadits serta nash-nash Al Qur’an yang menerangkan bahwa para pelaku dosa besar dihadapkan dengan cekaman rasa takut. Mereka tidak bisa memperoleh keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna; dua karunia yang bisa membuat mereka mendapatkan hidayah menempuh jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat Allah, tanpa sedikitpun siksa yang harus mereka terima. Akan tetapi mereka itu memiliki pokok petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus ini. Mereka juga memiliki pokok kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, sehingga mereka juga pasti akan merasakan masuk surga.” (Fathul Majiid, hal. 35).

Kemudian beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Apabila yang dimaksud dengan sabda Nabi, ‘Sesungguhnya yang dimaksud di sini adalah syirik’ adalah syirik akbar saja maka maksudnya ialah barangsiapa yang tidak melakukan syirik akbar maka dia kelak akan mendapatkan rasa aman dari siksaan dunia dan akhirat yang dijanjikan Allah untuk orang-orang musyrik (karena dengan terbebas dari syirik akbar dia bukan termasuk golongan orang musyrik, red). Dan apabila yang beliau maksud adalah jenis kesyirikan, maka perbuatan hamba dalam menzolimi dirinya sendiri seperti bersikap kikir karena demikian besar cintanya kepada harta sehingga tidak mau menunaikan kewajiban berinfak juga tergolong syirik ashghar. Begitu pula kecintaannya kepada sesuatu yang dibenci oleh Allah ta’ala sampai-sampai membuatnya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsunya di atas kecintaan kepada Allah juga termasuk syirik ashghar, dan lain sebagainya. Maka golongan orang semacam ini akan semakin kehilangan unsur keamanan dan petunjuk sesuai dengan banyaknya syirik ashghar yang dilakukannya. Berdasarkan sudut pandang inilah para ulama salaf dahulu juga mengkategorikan perbuatan-perbuatan dosa (selain syirik) ke dalam jenis syirik ini.” Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah.” (lihat Fathul Majiid, hal. 35).

Ketika mengomentari jawaban Nabi terhadap kemusykilan yang dilontarkan oleh para sahabat, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menambahkan, “Jawaban ini, demi Allah merupakan jawaban yang sangat memuaskan. Sesungguhnya kezaliman mutlak lagi sempurna adalah kezaliman yang ada pada perbuatan syirik. Sebab kesyirikan merupakan tindakan menempatkan ibadah bukan pada tempat yang semestinya. Sedangkan keamanan dan petunjuk yang mutlak mencakup keamanan di dunia dan akhirat serta petunjuk meniti jalan yang lurus. Maka kezaliman yang mutlak lagi sempurna itulah yang menjadi sebab terangkatnya rasa aman dan petunjuk yang mutlak lagi sempurna. Hal ini tidaklah menafikan adanya kezaliman yang bisa menjadi sebab seorang hamba meraih sekedar rasa aman (muthlaqul amn) dan sekedar petunjuk (muthlaqul huda). Maka cermatilah hal ini. Sekedar balasan (rasa aman dan petunjuk) tetap akan didapatkan oleh orang yang masih memiliki iman (tauhid yang tidak tercampuri syirik). Sedangkan balasan istimewa (yaitu rasa aman dan petunjuk yang sempurna) akan didapatkan oleh orang yang istimewa pula (yaitu yang tauhidnya bersih dari berbagai kezaliman).” Dinukil secara ringkas. Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah. (lihat Fathul Majiid, hal. 36, dengan sedikit penyesuaian redaksional).

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa kata zalim yang dimaksud oleh Nabi tatkala menyebutkan ayat tersebut adalah kesyirikan. Sehingga makna ayat tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh bahwa makna “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka” ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24). Ketentraman dan hidayah inilah yang disebut dengan al amn al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq (lihat Al Qaul Al Mufid I/35-36). Artinya seorang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik pasti memperoleh hidayah dan rasa aman. Hidayah di dunia dengan ditunjuki meniti jalan yang lurus (mendapat taufik untuk memeluk dan mengamalkan Islam sampai mati dan tidak melakukan pembatal keislaman). Sedangkan hidayah di akhirat berupa bimbingan untuk masuk surga. Adapun rasa aman di dunia berupa rasa tentram di dalam hati dan tidak bersedih karena selain Allah. Dan akhirnya adalah rasa aman di akhirat, yaitu diselamatkan dari terus menerus dalam siksaan api neraka (lihat At Tamhiid, hal. 25 dan Al Qaul Al Mufid, hal. 35-36) Inilah balasan yang akan didapatkan oleh semua orang yang bertauhid.

Perbedaan Kadar Rasa Aman dan Petunjuk

Sementara apabila dilihat dari sudut pandang balasan yang didapatkan hamba, maka rasa aman dan petunjuk itu ada dua macam:

Pertama; rasa aman dan petunjuk yang sempurna, atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang maksimal. Balasan ini hanya akan didapatkan orang-orang khusus di kalangan orang-orang yang bertauhid. Keistimewaan mereka dibandingkan sesama muwahhid lainnya adalah karena mereka bisa membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik, bid’ah dan maksiat. Karena di dalam bid’ah dan maksiat itu sendiri juga terkandung unsur syirik yaitu ketika pelakunya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsu di atas kecintaan kepada aturan Allah. Maka apabila yang dimaksud rasa aman ialah rasa aman yang sempurna maka makna kezaliman yang tepat ialah yang mencakup segala macam kezaliman, bukan hanya syirik. Sehingga semakin sempurna tauhid dalam diri seorang hamba maka semakin sempurna pulalah ketentraman dan hidayah yang didapatkannya. Sebaliknya, apabila semakin banyak kezaliman yang dilakukannya maka semakin berkuranglah kadar ketentraman dan hidayah yang bisa diraihnya.

Kedua; rasa aman dan petunjuk yang sekadarnya. Atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang minimal. Inilah yang disebut dengan muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’. Balasan ini akan didapatkan oleh setiap hamba yang bertauhid, meskipun dia mati dalam keadaan masih berkubang dengan dosa-dosa besar (selain syirik). Yang demikian itu dikarenakan dia masih memiliki modal dasar keimanan atau tauhid yang lurus, sehingga dia tetap berhak untuk menikmati surga di akhirat kelak. Oleh karena itu apabila yang dimaksud dengan rasa aman adalah terbebas dari kekal di neraka maka makna kezaliman yang tepat ialah kesyirikan dan dosa-dosa lain yang setingkat dengannya. Dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat dan diterangkan Nabi kepada para sahabat.

Dengan penjelasan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya tidak terdapat pertentangan antara mereka yang menafsirkan zalim dalam ayat ini dengan syirik maupun yang tetap membiarkannya berlaku umum meliputi semua macam kezaliman. Tergantung dari sudut pandang mana mereka menafsirkannya. Sebab pada dasarnya mereka semua sepakat semua ahli tauhid pasti masuk surga, dan pelaku dosa-dosa besar mendapatkan ancaman siksa di dalam neraka meskipun mereka juga bertauhid. Seorang muwahhid yang terjerumus dalam syirik kecil juga akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak kesyirikan yang dilakukannya. Sebagaimana seorang muwahhid yang berbuat maksiat akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak maksiat yang dilakukannya. Sebagaimana seseorang yang mengeluarkan dirinya dari barisan kaum muwahhidin kelak akan merasa menyesal karena telah kehilangan seluruh rasa aman dan petunjuk dari-Nya. Lalu sekarang siapakah yang akan merasa aman dan membusungkan dada seraya berkata “Inilah saya, seorang muwahhid!”

Bahkan tinta sejarah dan pena wahyu telah membuktikan fenomena sebaliknya yang sangat mengagumkan dan luar biasa. Sehingga Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pun menorehkan ayat ini di dalam Bab Al Khauf minasy Syirk (merasa takut terjerumus dalam syirik) dalam Kitab Tauhid beliau. Inilah perkataan seorang pengibar bendera tauhid kelas satu, Ibrahim ‘alaihis salaam“(Tuhanku) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan arca-arca. Duhai Tuhanku, sesungguhnya mereka itu telah menyesatkan banyak manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36). Lalu bagaimanakah rasa takut yang seharusnya menghinggapi hati orang yang kelasnya jauh di bawah Ibrahim? Sehingga salah seorang tokoh generasi tabi’in Ibrahim At Taimi rahimahullah mengatakan sesudah membaca ayat ini, “Lantas, siapakah orangnya yang merasa aman dari bencana (syirik) setelah Ibrahim?!!” (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana tercantum dalam Ad Durr Al Mantsur 5/46, dinukil dari At tamhiid, hal. 50).

Allahumma inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima la a’lam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

***

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi

sumber: https://muslim.or.id/228-menggapai-ketentraman-hakiki-dengan-tauhid.html

Memupuk Rasa Takut Kepada Allah

Pernahkah kita tersadar bahwa lancangnya kita melakukan hal-hal yang dilarang agama, meninggalkan perintah agama, dan meremehkan ajaran-ajaran agama itu semua karena betapa minimnya rasa takut kita kepada Allah. Bahkan kita terkadang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah Ta’ala. Padahal Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44).

Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

Sifat Orang Yang Bertaqwa

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).

Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah

Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)

Ya, karena para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Demikian, sehingga tidaklah heran jika sahabat Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, sahabat Nabi yang alim lagi mulia dan stempel surga sudah diraihnya, beliau tetap berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang berkata: ‘Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja’. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 138)

Yaitu karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam.

Orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu’alahi Wasallam, Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, beliau ulama di kalangan para sahabat, yang tidak perlu kita ragukan lagi keutamaannya, beliau pun menangis ketika sekarat menghadapi ajalnya dan berkata: “Aku tidak menangis karena urusan dunia kalian. Aku menangis karena telah jauh perjalananku, namun betapa sedikit bekalku. Sungguh kelak aku akan berakhir di surga atau neraka, dan aku tidak mengetahi mana yang diberikan padaku diantara keduanya” (HR Nu’aim bin Hammad dalam Az Zuhd, 159)

Maka orang-orang yang lancang berbuat maksiat, yang mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah, adalah karena kurangnya ilmu mereka terhadap agama Allah serta kurangnya ma’rifah mereka kepada Allah Ta’ala.

Memupuk Rasa Takut

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana kita memupuk rasa takut kepada Allah Ta’ala?

  1. Mengingat betapa lemahnya kita, dan betapa Allah Maha PerkasaSadarlah betapa kita ini kecil, lemah, hina di hadapan Allah. Sedangkan Allah adalah Al Aziz (Maha Perkasa), Al Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al Matiin (Maha Perkasa), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba).Betapa lemahnya hamba sehingga ketika hamba tertimpa keburukan tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah. Ia berfirman (yang artinya) : “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri” (QS. Al An’am: 17)Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai kita durhaka kepada Allah, sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)Dengan semua kenyataan ini masihkah kita tidak takut kepada Allah?
  2. Memupuk rasa cinta kepada AllahDua orang yang saling mencintai, bersamaan dengan itu akan timbul rasa takut dan khawatir. Yaitu takut akan sirnanya cinta tersebut. Demikian pula rasa cinta hamba kepada Allah. Hamba yang mencintai Allah dengan tulus, berharap Allah pun mencintainya dan ridha kepadanya. Bersamaan dengan itu ia akan senantiasa berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang dapat membuat Allah tidak ridha dan tidak cinta kepadanya.
  3. Adzab Allah sangatlah pedihJika kedua hal di atas belum menyadarkan anda untuk takut kepada Allah, cukup ingat satu hal, bahwa adzab Allah itu sangatlah pedih yang disiapkan bagi orang-orang yang melanggar aturan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)Pedihnya adzab Allah sampai-sampai dikabarkan dalam Al Qur’an bahwa setan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfal: 48)Dan hendaknya kita takut pada neraka Allah yang tidak bisa terbayangkan kengeriannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6)

Jangan Merasa Aman

Sebagian orang merasa sudah banyak beramal, sudah banyak berbuat baik, merasa sudah bertaqwa, merasa dirinya suci, sehingga ia pun merasa Allah tidak mungkin mengadzabnya. Hilang darinya rasa takut kepada Allah. Allah berfirman tentang manusia yang demikian (yang artinya) : “Apakah kalian merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada orang yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 99).

Bagaimana mungkin seorang yang beriman merasa percaya diri dengan amalnya, merasa apa yang telah ia lakukan pasti akan membuatnya aman dari adzab Allah? Sekali-kali bukanlah demikian sifat seorang mukmin. Adapun orang beriman, ia senantiasa khawatir atas dosa yang ia lakukan, tidak ada yang ia anggap kecil dan remeh. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhuberkata: “Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya bagai ia sedang duduk di bawah gunung yang akan runtuh, ia khawatir tertimpa. Sedangkan orang fajir (ahli maksiat), melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya” (HR. Bukhari 6308)

Tapi Jangan Putus Asa

Seorang mukmin senantiasa memiliki rasa takut kepada Allah. Namun bukan berarti rasa takut ini menyebabkan kita putus asa dari rahmat-Nya, sehingga kita merasa tidak akan diampuni, merasa amal kita sia-sia, merasa pasti akan masuk neraka dan bentuk-bentuk keputus-asaan lain. Ini tidak benar. Keimanan yang sempurna kepada Allah mengharusnya kita memiliki keduanya, rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja’). Dengan berputus-asa terhadap rahmat Allah seakan-akan seseorang mengingkari bahwa Allah itu Ar Rahman (Maha Pemberi Rahmat), Ar Rahim (Maha Penyayang), dan Al Ghafur (Maha Pengampun). Ingatlah nasehat Nabi Yusuf ‘alahissalam kepada anak-anaknya: “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87).

Al Hasan Al Bashri berkata: “Raja’ dan khauf adalah kendaraan seorang mukmin”. Al Ghazali pun berujar: “Raja’ dan khauf adalah dua sayap yang dipakai oleh para muqarrabin untuk menempati kedudukan yang terpuji”.

Demikian sedikit yang dapat kami paparkan. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa takut kepada-Nya, sehingga dengan itu kita engga mengabaikan segala perintahnya dan enggan melanggar segala larangannya.

(Penulis mengambil banyak faidah dari tulisan Syaikh DR. Falih bin Muhammad As Shughayyir berjudul “Al Khauf Minallah”)

Penulis: Yulian Purnama

sumber: https://muslim.or.id/11168-memupuk-rasa-takut-kepada-allah.html

Buah Mengimani Takdir

Di antara rukun iman yang wajib kita imani adalah iman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan perkara yang disepakati kaum muslimin, sampai akhirnya muncullah kelompok bid’ah Qadariyah yang menyempal dari akidah kaum muslimin dalam hal takdir.

Dua orang tabi’in pernah menghadap seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Keduanya mengadu kepada beliau tentang munculnya beberapa orang yang memiliki pemikiran bid’ah dalam masalah takdir, yakni menolak takdir.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Jika engkau bertemu mereka, kabarkan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, jika salah seorang memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu menginfakkannya, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir.” (Lihat Shahih Muslim no. 1)

Karena pentingnya masalah ini, para ulama pun memasukkan masalah ini dalam kitab-kitab akidah. Semua kitab Ahlus Sunnah yang membahas akidah pasti menyebutkan prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah takdir dan membantah kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti Qadariyah dan Jabriyah serta orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Dalil-Dalil Wajibnya Mengimani Takdir

Dalil-dalil yang menunjukkan masalah ini sangatlah banyak. Kami hanya menyebutkan sebagian kecil darinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam salah satu ayatnya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (al-Qamar: 49)
Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu yang masyhur ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir baik buruknya.” (HR. Muslim)

Ucapan Sahabat, Tabi’in, dan Ulama Setelah Mereka

Di antara ucapan sahabat yang telah sampai kepada kita adalah ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Kabarkan kepada mereka (yakni kepada orang-orang yang menolak takdir). Aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku.” (Shahih Muslim)

Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Tulislah!’ Dia menjawab, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat!’.”

Ubadah berkata, “Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي

‘Barang siapa yang meninggal tidak dalam keyakinan seperti ini, dia tidak termasuk golonganku’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Demikian pula sahabat yang lain, mereka telah berbicara keras mengancam orang-orang yang tidak mau meyakini takdir. Dari Ibnu Dailami rahimahullah, “Aku pernah mendatangi Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhudan aku katakan, ‘Ada satu ganjalan pada diriku tentang masalah qadar. Sampaikanlah kepadaku satu hadits, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan ganjalan tersebut dariku.’

Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Walaupun engkau berinfak emas sebesar Uhud, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala tak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir. Engkau meyakini bahwa apa yang ditetapkan menimpamu tak akan meleset dan sesuatu yang ditetapkan meleset maka tiada akan pernah mengenaimu. Jika engkau mati dalam keadaan tidak di atas akidah ini, engkau masuk neraka’.”

Ibnu Dailami rahimahullah berkata, “Kemudian aku menemui para sahabat yang lain: Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit g. Mereka semua menyampaikan hal yang sama kepadaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud dan lainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Thawus rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan tiga ratus sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala’.”

Dalam Shahih Muslim, Thawus rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan manusia dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu terjadi dengan takdir’.”

Orang yang Mengingkari Takdir Bukan Orang Bertauhid

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Semua atsar menegaskan masalah ini dan menjelaskan bahwa barang siapa tidak beriman kepada takdir berarti telah lepas dari tauhid dan mengenakan pakaian kesyirikan, bahkan tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak mengenal-Nya.”
(Lihat Tanbihatus Saniyah syarah al-Aqidah al-Wasithiyah)

Tingkatan Mengimani Takdir

Iman kepada takdir ada empat tingkatan.

  1. Ilmu

Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu secara global dan rinci, azali (terdahulu) dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba-Nya.

  1. Kitabah (penulisan)

Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat semuanya di Lauhul Mahfuzh.
Dalil dua masalah di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Haj: 70)

  1. Masyi’ah (kehendak)

Meyakini bahwa semua yang terjadi, terjadinya dengan masyi’atullah (kehendak Allah subhanahu wa ta’ala), baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk.

Allah lberfirman tentang perbuatan-Nya:

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu. Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (al-Qashash: 86)

  1. Al-Khalq (penciptaan)

Meyakini bahwa semua yang terjadi adalah makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala: benda (zat), sifat, dan pergerakannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

(ash-Shaffat: 96)

(Lihat Syarah Tsalasatul Ushul, hlm. 111—112)

Buah Iman Kepada Takdir

Faedah yang akan didapat ketika seorang beriman kepada takdir sangatlah banyak. Para ulama Ahlus Sunnah telah menyebutkannya, kami hanya menukilkan sebagian yang mereka sebutkan. Di antara faedah iman kepada takdir adalah:

  1. Menumbuhkan sifat ridha dan yakin dengan apa yang terjadi. Dengan sebab itu pula, dia akan mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)

  1. Menjadi sebab dihapuskannya dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ مَرَضٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمَّ يُهِمُّهُ إِلَّا يُكَفِّرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang muslim baik berupa sakit, rasa capai, kesedihan, maupun rasa gundah yang menimpanya melainkan pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan menghapus dosanya dengan sebab itu.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. Menjadi sebab mendapat balasan yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala.
    Dalil yang menunjukkan masalah ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)

  1. Menjadi seorang yang kaya hati (senantiasa merasa cukup dengan pemberian Allah subhanahu wa ta’ala).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta, namun kaya yang hakiki adalah kaya hati.”

  1. Tidak sombong ketika mendapatkan kesenangan dan tidak sedih ketika musibah.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)

  1. Menumbuhkan keberanian
  2. Tidak takut terhadap kejahatan manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Jika umat manusia berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat kepadamu sedikit pun melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. at-Tirmidzi)

  1. Tidak takut mati

Dia meyakini bahwa umurnya telah ditetapkan sejak ia masih di perut ibunya, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu.

  1. Tidak bersedih karena sesuatu yang luput darinya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah, masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah dalam mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Jika menimpamu satu perkara, janganlah kamu berkata, ‘Kalau aku lakukan ini, niscaya akan terjadi demikian dan demikian’, tetapi ucapkanlah, ‘Qadarullah wa masya’a fa’ala’, karena ucapan (kalau/berandai-andai) akan membuka amalan setan.” (Muttafaq alaih)

  1. Bersandar hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika melakukan sebab (ikhtiar) sehingga tidak bersandar kepada sebab-sebab semata, karena segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Mendatangkan ketenteraman dan mendapatkan ketenangan jiwa.
    Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yakni, engkau tak akan mendapatkan dan merasakan tenangnya iman sampai engkau meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu. Itulah iman kepada takdir. Jika dia mengimani takdir, akan lapang hatinya dan mengamalkan apa yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Kitabut Tauhid, asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah)

Lihat Taujihul Muslimin ila Thariqin Nashr wat Tamkin (hlm. 5—7) dan syarah Tsalatsatul Ushul karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

Sebagai penutup, kami ingin mengingatkan satu masalah yang disebutkan oleh asy-Syaikh Hafizh al-Hakami rahimahullah bahwa iman kepada takdir akan sempurna dengan menafikan enam perkara berikut ini, karena enam perkara ini telah dinafikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Menafikan tathayur

Tathayur adalah beranggapan akan terjadinya kesialan dengan terbangnya burung ke arah tertentu, atau dengan sesuatu yang dilihat atau didengarnya, atau dengan hari dan bulan tertentu.

  1. Menafikan nau’

Nau’ adalah keyakinan jahiliah bahwa bintang mempunyai pengaruh atau menjadi sebab dari peristiwa-peristiwa di bumi.

  1. Menafikan ‘adwa

‘Adwa adalah keyakinan jahiliah tentang adanya penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa takdir Allah.

  1. Menafikan ghul

Ghul adalah keyakinan jahiliah tentang adanya jin yang jahat. Yang dinafikan adalah keyakinan jahiliah bahwa jin tersebut berkuasa untuk memberi manfaat dan mudarat, sehingga orang-orang jahiliah sangat menakutinya dan meminta perlindungan kepada mereka (jin).

  1. Menafikan hamah

Hamah adalah keyakinan jahiliah tentang adanya burung yang mendatangkan kesialan.

  1. Menafikan shafar

Ada dua penafsiran tentang shafar. Ada yang mengatakan, maknanya adalah sejenis cacing yang diyakini bisa menular dengan sendiriya. Adapun menurut penafsiran yang lain, shafar adalah beranggapan sial dengan bulan Shafar.
(Lihat Ma’arijul Qabul, Fathul Majid, dan al-Qaulul Mufid)

Seorang muslim hendaknya menjauhkan dirinya dari enam perkara tersebut sehingga menjadi sempurnalah keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tathayur, tidak ada hamah dan shafar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lafadz Muslim:

وَلَا نَوْءَ وَلَا غُولَ

“Tidak ada nau’, tidak pula ghul.”

Asy-Syaikh Hafizh al-Hakami berkata, “Menafikan enam perkara ini dan yang semakna dengannya adalah bentuk tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Pencipta kebaikan dan kejelekan, yang hanya di tangan-Nya lah manfaat dan mudarat. Sebaliknya, meyakini satu dari enam perkara tersebut berarti menafikan tauhid atau mengurangi kesempurnaannya serta membatalkan tawakalnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala darinya.” (Lihat Ma’arijul Qabul)

Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat, bisa menambah iman dan amal kita semua.

Walhamdulillah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata

sumber: https://asysyariah.com/buah-mengimani-takdir/